BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.7 Pengaruh Kebisingan pada Pendengaran
Bising adalah suara atau bunyi yang mengganggu atau tidak dikehendaki. Definisi ini menunjukan bahwa pengertian bising itu sebenarnya sangat subjektif, artinya tergantung masing-masing individu, waktu, dan tempat terjadinya bising. Sedangkan secara audiologi, bising adalah campuran bunyi nada murni dengan berbagai frekuensi.16
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemaparan kebisingan yaitu intensitas bising, frekuensi bising, lamanya waktu pemaparan bising, kerentanan individu, jenis kelamin, usia, dan kelainan telinga.19
Perubahan ambang dengar akibat paparan bising dapat berupa:19
1. Adaptasi
Telinga akan merasa terganggu pada saat pertama kali terpapar bising, namun lama-kelamaan telinga akan terbiasa karena proses adaptasi, sehingga suara yang terdengar tidak terasa begitu keras seperti pada awal pemaparan.
2. Peningkatan ambang dengar sementara
Terjadi kenaikan ambang pendengaran yang bersifat sementara, artinya dapat kembali seperti semula. Keadaaan ini berlangsung beberapa menit, beberapa jam, bahkan sampai beberapa minggu setelah pemaparan. Kenaikan ambang pendengaran sementara ini awalnya terjadi pada frekuensi 4000 Hz, tetapi bila pemaparan berlangsung lama maka kenaikan nilai ambang sementara ini akan menyebar pada frekuensi di sekitarnya. Semakin tinggi intensitas dan lama waktu pemaparan, semakin besar pula perubahan nilai ambang pendengarannya. Respon individu terhadap kebisingan tidak sama, tergantung dari sensitivitas masing-masing individu.
3. Peningkatan ambang dengar menetap
Peningkatan ambang dengar menetap ini terjadi setelah seseorang cukup lama terpapar kebisingan, terutama terjadi pada frekuensi 4000 Hz. Gangguan ini paling banyak ditemukan dan bersifat permanen, artinya tidak dapat disembuhkan. Kenaikan ambang pendengaran yang menetap dapat terjadi setelah 3,5 – 20 tahun terjadi pemaparan, namun ada pula yang mengatakan baru setelah 10 – 15 tahun setelah terjadi pemaparan. Penderita mungkin tidak menyadari bahwa pendengarannya telah berkurang dan baru diketahui setelah melakukan pemeriksaan audiogram.
Noise Induced Hearing Loss (NIHL) atau Gangguan
Pendengaran Akibat Bising (GPAB) diduga disebabkan oleh adanya stress mekanis dan metabolik pada organ sensorik auditorik bersamaan dengan kerusakan sel sensorik atau kerusakan total organ Corti di dalam koklea. Kehilangan sel sensorik adalah penyebab NIHL yang paling penting. Kepekaan terhadap stres pada sel rambut luar berada dalam rentang 0 – 50 dB, sedangkan untuk sel rambut dalam di atas 50 dB. Frekuensi yang sangat tinggi (di atas 8 kHz) mempengaruhi dasar koklea.
Beberapa proses mekanis yang dapat menyebabkan kerusakan sel rambut akibat pajanan terhadap bising meliputi:20
1. Aliran cairan yang kuat pada sekat koklea dapat menyebabkan robeknya membran Reissner sehingga cairan dalam endolimfe dan
perilimfe bercampur. Hal ini menyebabkan rusaknya sel rambut.
2. Gerakan membran basilar yang kuat dapat menyebabkan gangguan organ Corti dengan pencampuran endolimfe dan kortilimfe yang mengakibatkan kerusakan sel rambut.
3. Aliran cairan yang kuat pada sekat koklea dapat merusak sel rambut dengan melepaskan organ Corti atau merobek membran
Selain itu, terdapat pula proses metabolik yang dapat menyebabkan kerusakan sel rambut akibat pajanan bising, yakni:20 1. Pembentukan vesikel dan vakuol di dalam retikulum endoplasma
sel rambut serta pembengkakan mitokondria dapat menyebabkan robeknya membran sel dan hilangnya sel rambut.
2. Kelelahan metabolik akibat gangguan enzim yang esensial untuk pembentukan energi, biosintesis protein, dan pengangkutan ion dapat merusak sel rambut.
Tuli akibat bising mempengaruhi sel-sel rambut pada organ Corti di koklea. Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukan adanya degenerasi yang meningkat sebanding dengan intensitas dan lama paparan. Stereosilia pada sel-sel rambut luar menjadi kurang kaku sehingga respon terhadap stimulasi berkurang. Bertambahnya intensitas dan durasi paparan akan menyebabkan lebih banyak kerusakan seperti hilangnya stereosilia. Sel-sel rambut akan mati dengan hilangnya stereosilia dan digantikan oleh jaringan parut. Semakin tinggi intensitas paparan bunyi, sel-sel rambut dalam dan sel-sel penunjang juga akan rusak. Suara dengan intensitas tinggi juga dapat menyebabkan kerusakan stria vaskularis oleh karena penurunan atau bahkan penghentian aliran darah pada stria
vaskularis dan ligamen spiralis. Semakin meluasnya kerusakan pada
sel-sel rambut dapat menimbulkan degenerasi pada saraf yang dapat juga dijumpai di nukleus pendengaran pada batang otak.19
Daerah organ Corti sekitar 8 – 10 mm dari ujung basal (sesuai dengan daerah 4 kHz pada audiogram) dianggap sebagai daerah yang secara khas rentan terhadap kebisingan. Hal ini dikarenakan daerah 4 kHz mungkin lebih rentan karena inufisiensi vaskular akibat bentuk anatomis yang tidak biasa di daerah ini. Selain itu, amplitudo pemindahan di dalam saluran koklea mulai terbentuk di daerah 4 kHz
saat perambatan gelombang yang berjalan masih cukup tinggi dan struktur anatomi koklea menyebabkan pergeseran cairan pada daerah 4 kHz.19
Secara umum gambaran ketulian pada tuli akibat bising adalah:21
1. Bersifat sensorineural. 2. Bersifat bilateral.
3. Jarang menyebabkan tuli derajat sangat berat (profound hearing
loss). Derajat ketulian berkisar antara 40 s/d 75 dB.
4. Tidak dijumpai penurunan pendengaran yang signifikan apabila paparan bising dihentikan.
5. Kerusakan telinga dalam mula-mula terjadi pada frekuensi 3000 Hz, 4000 Hz, dan 6000 Hz, dimana kerusakan yang paling berat terjadi pada frekuensi 4000 Hz.
6. Ketulian pada frekuensi 3000 Hz, 4000 Hz, dan 6000 Hz akan tercapai akibat paparan bising yang konstan dalam 10 – 15 tahun.
Bising juga dapat menyebabkan efek pendengaran lain yang disebut tinitus (suara berdenging di dalam telinga). Tinitus biasanya timbul segera setelah pajanan terhadap bising dan dapat menjadi permanen jika pajanan terus berlangsung. Tinitus akibat pajanan bising biasanya bernada tinggi. Selain tinitus, bising juga dapat menyebabkan vertigo. Vertigo hanya timbul setelah mengalami pajanan yang amat kuat seperti suara mesin jet dan ledakan suara api.20
Bising juga dapat menyebabkan beberapa efek pada organ selain pendengaran. Meningkatnya kadar kebisingan dapat menimbulkan reaksi stres dengan variasi detak jantung, tekanan darah, pernapasan, gula darah, dan kadar lemak darah. Selain itu, bising juga dapat
menyebabkan bertambahnya motilitas saluran pencernaan dan tukak lambung.20