BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
H. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Pengaruh Kecerdasan emosional Terhadap Kinerja
berikut :
1. Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kinerja Pegawai Badan Pengelola Keuangan Daerah Kab. Pangkep
Menurut Labbaf (2011) Kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk memahami emosi dirinya sendiri dan emosi orang lain untuk membedakannya dan menggunakan informasi untuk mengarahkan pemikiran dan tindakan seseorang. Hasil pengujian terhadap variabel kecerdasan emosional menunjukkan bahwa nilai koefisien jalur (B) sebesar 0,411 kemudian nilai t–
hitung sebesar 3,179 > t–tabel 2,022 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,003 <
0,05. Kesimpulan dari hasil pengujian menunjukkan bahwa variabel kecerdasan emosional berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai Badan Pengelola Keuangan DaerahKabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Nilai
koefisien kepuasan kerja sebesar 0,376 berarti bahwa setiap terjadi kenaikan 1 skor kepuasan kerja, maka akan diikuti oleh kenaikan kinerja pegawai sebesar 0,376 satuan.
Hasil penelitian ini sesuai dengan kajian teori yang pernah disampaikan oleh Goleman (2005) menyatakan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain serta menggunakan perasaan – perasaan tersebut untuk memandu pikiran dan tindakan, sehingga kecerdasan emosional sangat diperlukan untuk sukses dalam bekerja dan menghasilkan kinerja yang menonjol dalam pekerjaan. Jika emosi karyawan didorong ke arah antusiasme maka kinerja akan meningkat, demikian pula sebaliknya.
Goleman menegaskan bahwa, “ emosi sangat penting bagi kehidupan manusia karena emosi merupakan penggerak prilaku (motivator) dalam arti dapat meningkatkan kinerja, namun sebaliknya apabila kecemasan yang ditimbulkan berlebihan akan dapat menghambat prestasi kerjanya”. Pendapat tersebut memperlihatkan bahwa terdapat dua sisi dari emosi yaitu emosi yang terkendali akan menjadi motivator terhadap peningkatan kualitas perilaku sedangkan emosi yang tidak terkendali terutama apabila menimbulkan kecemasan berlebihan akan menjadi penghambat prestasi. Oleh sebab itu seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik harus mampu mengelola dengan baik, sehingga menjadi motivator dan meningkatkan kinerja. Dengan adanya kemampuan emosional yang berkembang baik, seseorang kemungkinan besar ia akan berhasil dan akan bahagia dalam kehidupannya, karena ia menguasai suatu kebiasaan berfikir yang mendorong produktifitasnya. Sedangkan orang yang tidak dapat mengendalikan
kehidupan emosionalnya ia akan mengalami pertarungan batin yang merampas kemampuan mereka dalam memusatkan perhatian pada pekerjaan.
Pegawai Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan yang memiliki kecerdasan emosional yang baik akan membuatnya mampu membuat keputusan yang tegas dan tepat walaupun dalam keadaan tertekan. Kecerdasan emosional juga membuat seseorang dapat menunjukkan integritasnya. Orang dengan kecerdasan emosional yang baik mampu berfikir jernih walaupun dalam tekanan, bertindak sesuai etika, berpegang pada prinsip dan memiliki dorongan berprestasi. Kecerdasan emosional berarti menggunakan emosi secara efektif untuk mencapai tujuan dengan tepat, membangun hubungan kerja yang produktif dan meraih keberhasilan di tempat kerja. Oleh sebab itu dalam kesehariannya pegawai diharapkan memiliki kecerdasan emosional yang tinggi dalam rangka membentuk suatu jalinan kemitraan yang baik, baik ke dalam maupun ke luar perusahaan serta dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.
Untuk melaksanakan pekerjaan dibutuhkan juga kecerdasan emosional (emotional quotient) dari seorang pegawai atau karyawan karena seseorang yang
mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi mempunyai kemampuan untuk mengelola perasaannya antara lain dapat memotivasi dirinya sendiri dan orang lain, tegar menghadapi frustasi, sanggup mengatasi dorongan-dorongan primitif dan menunda kepuasan sesaat, mengatur suasana hati yang aktif dan mampu berempati dan mampu memberikan pelayanan yang lebih baik dibandingkan dengan orang lain.
Hasil analisis frekuensi menunjukkan bahwa nilai rata-rata yang tertinggi adalah KE4 (Saya senantiasa memperhitungkan resiko dalam mengerjakan pekerjaan) dengan nilainya mencapai 4,67, memperhitungkan resiko dalam mengerjakan pekerjaan adalah salah satu sikap Perilaku kerja prestatif khususnya kerja cerdas. Perilaku kerja cerdas ialah bahwa di dalam bekerja harus pandai memperhitungkan resiko, mampu melihat peluang, dan dapat mencari solusi persoalan yang ada dengan tepat dan benar sehingga dapat mencapai keuntungan yang diharapkan. Perilaku kerja cerdas dalam memperhitungkan resiko terhadap pekerjaan sangat dibutuhkan pegawai, sehingga dapat menimalisir kesalahan yang terjadi.
Sedangkan nilai rata-rata yang terkecil adalah KE10 (Saya berhubungan baik dengan orang lain yang memiliki latar belakang yang berbeda) dengan nilai mencapai 4,23. Berhubungan dengan pegawai lainnya merupakan istilah lain dari interaksi social dalam bekerja. Pegawai Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan masih perlu meningkatkan interaksi sosial dalam bekerja, hal ini sangat diperlukan dalam bekerja. Hubungan sosial sesama pegawai yang berlangsung dengan baik akan membantu pegawai mendapatkan rasa aman dalam bekerja sehingga dapat tercipta kinerja yang baik. Proses interaksi yang dilakukan dengan sesama rekan kerja berupa kontak sosial dan komunikasi berupa pembahasan mengenai masalah - masalah yang munculkan solusi-solusi meningkatkan kualitas kinerja pegawai. Hubungan yang harmonis dengan rekan kerja berupa interaksi yang efektif akan mampu memotivasi pegawai dalam bekerja untuk mendapatkan keberhasilan mencapai tujuan bersama.
Hasil penelitian ini juga sesuai dengan kajian empiris yang pernah dilakukan oleh Agus (2017) berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh kecerdasan emosional terhadap kinerja karyawan, menunjukkan dimana kecerdasan emosional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Hal ini memberikan makna bahwa kecerdasan emosional yang diukur berdasarkan indikator kecerdasan emosional dapat mempengaruhi kinerja karyawan yang diukur berdasarkan indikator kuantitas hasil kerja, kualitas hasil kerja, ketepatan waktu penyelesaian pekerjaan, kehadiran dalam bekerja, dan kerja sama dalam bekerja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kecerdasan emosional berdampak pada meningkatnya kinerja karyawan.
Penelitian Ni Luh Putu, dkk. (2016) menemukan bahwa aparatur sipil negara Biro Umum Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Utara sebagai responden tampaknya menyadari akan pentingnya kecerdasan emosional terhadap kinerja sehingga secara simultan dan parsial memiliki hasil yang signifikan atau berpengaruh positif terhadap kinerja. Hal ini dapat dilihat juga pada nilai skor rata-rata sebesar 226.8 dengan kriteria sangat setuju.
Penelitian Akhtar, et. al. (2017) menemukan bahwa Kecerdasan emosional memiliki dampak positif terhadap kinerja. Karyawan yang memiliki kecerdasan emosional memiliki keterampilan yang berbeda seperti (strategi manajemen konflik, kinerja adaptif, motivasi berprestasi dan komitmen organisasi) yang penting untuk kesuksesan di tempat kerja yang ada dan semua keterampilan ini dari tingkat kecerdasan emosional yang lebih rendah dengan tingkat pengalaman dan pendidikan yang sama.
2. Pengaruh Tingkat Pendidikan Terhadap Kinerja Pegawai Badan Pengelola Keuangan Daerah Kab. Pangkep
Menurut H. Fuad Ihsan (2005: 1) menjelaskan bahwa dalam pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan sebagai “Usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada didalam masyarakat dan kebudayaan”.Usaha-usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma tersebut serta mewariskan kepada generasi berikutnya untuk dikembangkan dalam hidup dan kehidupan yang terjadi dalam suatu proses pendidikan sebagai usaha manusia untuk melestarikan hidupnya.
Hasil pengujian terhadap variabel pendidikan menunjukkan bahwa nilai koefisien jalur (B) sebesar 0,534 kemudian nilai t–hitung sebesar 3,370 > t–tabel 2,022 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,002 < 0,05. Kesimpulan dari hasil pengujian menunjukkan bahwa variabel pendidikan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan. Nilai koefisien pendidikan sebesar 0,534 berarti bahwa setiap terjadi kenaikan 1 skor pendidikan, maka akan diikuti oleh kenaikan kinerja pegawai sebesar 0,534 satuan.
Hasil penelitian ini sesuai dengan kajian teori yang disampaikan Husaini Usman (2011: 489) menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan dan pengalaman kerja karyawan maka akan semakin tinggi kinerja yang ditampilkan.
Selain itu Hariandja (2002: 169) menyatakan bahwa tingkat pendidikan seorang karyawan dapat meningkatkan daya saing perusahaan dan memperbaiki kinerja perusahaan.
Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan dalam menjalankan kegiatannya memerlukan pegawai dengan pendidikan yang memadai guna memaksimalkan kinerja yang dimiliki dalam menjalankan kegiatan tersebut. Sebagaimana tujuan dari pendidikan itu sendiri adalah untuk memperbaiki kinerja pegawai yang dihasilkan melalui sumber daya manusia yang ada dalam suatu instansi baik kualitas kerja yang dihasilkannya.
Hasil analisis frekuensi menunjukkan bahwa nilai rata-rata yang tertinggi adalah PD1 (Responden diharusukan untuk memiliki ijazah sesuai dengan persyaratan jabatan), PD2 (Responden memiliki ijazah dengan persyaratan pekerjaan saat ini), dan PD4 (Latar belakang pendidikan responden membuat responden mampu menganalisis pekerjaan) dengan nilai masing-masing mencapai 4,70. Ketiga pernyataan ini merupakan pernyataan yang paling tinggi kontribusinya terhadap pendidikan pegawai Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Latar belakang pendidikan berkontribusi paling penting untuk memberikan hasil yang baik bagi pegawai dalam proses penyelesaian tugasnya, peningkatan kemampunannya, disiplin kerjanya, pengetahuannya dan ketrampilan-ketrampilannya diperlukan latihan.
Sedangkan nilai rata-rata yang terkecil adalah PD6 (Kesesuaian jurusan membuat saya bisa berprestasi dalam bekerja) dengan nilai mencapai 4,44. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa pegawai yang penempatan kerjanya tidak sesuai dengan kemampuan akademik yang dimilikinya. Kemampuan akademik memang bukanlah jaminan untuk berkinerja baik, namun kemampuan akademik sangat diperlukan dalam penyelesaian beberapa permasalahan yang ada.
Dengan menempuh tingkat pendidikan tertentu menyebabkan seorang pekerja
memiliki pengetahuan tertentu. Orang dengan kemampuan dasar apabila mendapatkan kesempatan-kesempatan pelatihan dan motivasi yang tepat, akan lebih mampu dan cakap untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik, dengan demikian jelas bahwa pendidikan akan mempengaruhi kinerja karyawan.
Hasil penelitian ini ternyata sesuai dengan hasil penelitian Secara empiris Penelitian Ketut, dkk. (2016) Penelitian Ketut, dkk. (2016) menggunakan desain penelitian kuantitatif kausal, Populasi dalam penelitian ini berjumlah 48 orang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu (1) kuesioner, dan (2) pencatatan dokumen, selanjutnya data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman kerja berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan pada PT. Mandiri Tri Makmur Cabang Singaraja.
Hasil penelitian Bhargava & Anbazhagan (2014) Studi tersebut menunjukkan bahwa kinerja yang dipamerkan oleh karyawan bervariasi karena kualifikasi pendidikan mereka. Kecenderungan umum adalah bahwa dengan meningkatnya kualifikasi pendidikan, kinerja karyawan akan menurun. Tapi, mereka yang hanya memiliki pendidikan menengah lebih tinggi berkinerja lebih baik daripada mereka yang hanya menyelesaikan pendidikan menengah dan ini adalah pengecualian terhadap peraturan umum di tengahnya.
Hasil penelitian ini ternyata bertentangan dengan Andreas dan Lucky (2015) dalam penelitiannya menemukan bahwa tingkat pendidikan memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap Kinerja Pegawai, dan pengaruhnya adalah negatif . Hal ini berarti ada hubungan namun kecil dari tingkat pendidikan terhadap kinerja pegawai.
3. Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Badan Pengelola Keuangan Daerah Kab. Pangkep
Robbins (2012) mendefinisikan kepuasan (satisfaction) merupakan suatu sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya. Kepuasan karyawan meliputi sikap individu terhadap pekerjaan, imbalan yang diterima dan yang diyakini seharusnya diterima baik yang berupa kompensasi finansial seperti gaji, maupun yang berupa kompensasi non finansial yang terdiri dari pengakuan dan peluang adanya promosi serta lingkungan psikologis seperti rekan kerja yang menyenangkan.
Hasil pengujian terhadap variabel kepuasan kerja menunjukkan bahwa nilai koefisien jalur (B) sebesar 0,376 kemudian nilai t–hitung sebesar 2,512 > t–
tabel 2,022 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,016 < 0,05. Kesimpulan dari hasil pengujian menunjukkan bahwa variabel kepuasan kerja berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Nilai koefisien kecerdasan emosional sebesar 0,411 berarti bahwa setiap terjadi kenaikan 1 skor kecerdasan emosional, maka akan diikuti oleh kenaikan kinerja pegawai sebesar 0,411 satuan.
Beberapa literatur teori telah menjelaskan mengenai pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja pegawai, literatur tersebut selanjutnya mendukung hasil penelitian ini misalnya Hasibuan (2013) kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi kerja. Selain itu Hartatik (2014; 26) mengatakan bahwa kepuasan kerja adalah suatu sikap umum seorang individu terhadap pekerjaannya. Pekerjaan menurut interaksi dengan rekan kerja, atasan,
peraturan dan kebijakan organisasi, standar kinerja, kondisi kerja, dan sebagainya.
Seorang dengan tingkat kepuasan tinggi menunjukkan sikap positif terhadap kerja itu. Sebaliknya, seseorang yang tidak puas dengan pekerjaannya menunjukkan sikap negatif terhadap kerja itu
Peran sumber daya manusia merupakan modal dasar dalam penentuan tujuan organisasi. Tanpa peran sumber daya manusia, kegiatan dalam perusahaan tidak akan berjalan dengan baik. Manusia selalu berperan aktif dan dominan dalam setiap kegiatan organisasi, karena manusia menjadi perencanan, pelaku, dan penentu terwujudnya tujuan organisasi (Hasibuan, 2013). Oleh karena itu menjaga kepuasan karyawan merupakan suatu hal yang sangat penting.
Setiap organisasi harus memonitor kepuasan karyawan karena hal itu akan mempengaruhi tingkat absensi, perputaran tenaga kerja, semangat kerja keluhan – keluhan dan masalah organisasi vital lainnya. Dengan terciptanya hubungan yang baik antara pegawai, maka akan tercipta suatu suasana yang kondusif dalam bekerja serta pengakuan akan keberadaan organisasi yang baik dari masyarakat, hal tersebut dapat memberikan suatu keuntungan bagi organisasi sehingga mempengaruhi kepuasan pegawai dimana dengan terciptanya kepuasan pegawai diharapkan dapat mempengaruhi kinerja.
Hasil analisis frekuensi menunjukkan bahwa nilai rata-rata yang tertinggi adalah KK2 (Pimpinan memberikan peluang untuk promosi jabatan/kenaikan pangkat kepada pegawai yang berprestasi), secara bersama-sama KK4 (Pekerjaan ini merupakan sesuatu yang sangat saya gemari karena sesuai dengan bidang keahlian saya) dengan nilai masing-masing mencapai 4,58. Promosi jabatan adalah hal yang menjadi impian setiap karyawan. Pegawai Badan Pengelola
Keuangan Daerah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan memandang promosi sebagai sesuatu yang paling menarik dibandingkan dengan kompensasi lain hal ini disebabkan karena promosi bersifat permanen dan berlaku untuk jangka waktu yang lama. Istilah promosi jabatan berarti kemajuan, dimana sebuah promosi dapat terjadi ketika seorang pegawai dinaikkan jabatannya dari posisi yang rendah ke posisi yang lebih tinggi. Kenaikan gaji dan tanggung jawab biasanya turut menyertai promosi jabatan.
Selain promosi jabatan menggemari pekerjaan karena sesuai dengan bidang keahlian pegawai merupakan hal lain yang besar pengaruhnya terhadap variabel kepuasan kerja. Pegawai Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan menyatakan bahwa dengan menggemari pekerjaanya atau mencintai pekerjaannya akan menumbuhkan komitmen positif dan inisiatif yang tinggi dalam bekerja. Bekerja tidak cukup dengan tekanan pimpinan ataupun beban kerja namun juga dibutuhkan rasa memiliki terhadap tugas pegawai.
Sedangkan nilai rata-rata yang terkecil adalah KK5 (Pekerjaan yang dibebankan tidak melebihi kemampuan pegawai.) dengan nilai mencapai 4,42.
Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa pegawai yang mengalami kelebihan beban kerja. Apabila sebagian besar pegawai bekerja sesuai dengan standar, maka tidak menjadi masalah. Sebaliknya, jika pegawai bekerja di bawah standar maka beban kerja yang diemban berlebih. Sementara jika pegawai bekerja di atas standar, dapat berarti estimasi standar yang ditetapkan lebih rendah dibanding kapasitas pegawai itu sendiri.
Hal ini harus menjadi perhatian kepada pimpinan agar membagi beban kerja kepada semua pegawai, sehingga tidak adanya kesan tumpang tindih dalam bekerja. Karena kelebihan beban kerja sering kali menyebabkan timbulnya tekanan pekerjaan, stress kerja, hingga keinginan seseorang untuk berpindah kerja. Kelebihan beban kerja juga dapat disebabkan oleh jumlah sumber daya manusia yang tidak memadai.
Hasil penelitian ini sependapat dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Muna (2017) berhasil membuktikan bahwa kepuasan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan dan kinerja karyawan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Shaju & Coimbatore (2016) dan Mahfudz (2017).
Secara empiris Penelitian Mahfudz (2017) menyimpulkan bahwa pengaruh kepuasan kerja mempunyai pengaruh yang dominan terhadap kinerja karyawan, hal ini menunjukan bahwa lingkungan yang baik adalah lingkungan organisasi yang memberikan rasa nyaman bagi karyawan untuk melakukan aktivitas pekerjaannya, sehingga pada akhirnya memberikan pengaruh positif terhadap kinerja yang dicapainya.
Hasil Penelitian Muna (2017) berhasil membuktikan bahwa kepuasan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan dan kinerja karyawan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja. Mengenai sifat hubungan, penelitian ini membuktikan bahwa kedua variabel tersebut memiliki pengaruh tidak langsung satu sama lain melalui faktor mediasi dan diakhiri dengan model yang menggambarkan hubungan sebab dan akibat siklus antara kedua variabel tersebut.
Selanjutnya Penelitian Shaju & Coimbatore (2016) hasilnya menunjukkan adanya korelasi positif antara dimensi kepuasan kerja dan kinerja karyawan pada tingkat pengawas dan pekerja yang bekerja di industri otomotif. Hasil penelitian tersebut ternyata bertentangan dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Aini & Susilo (2014) bahwa kepuasan kerja tidak berpengaruh terhadap kinerja perawat yang bertugas di ruang rawat inap di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.
100
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Kecerdasan Emosional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Pegawai yang mampu mengelola dengan baik kecerdasan emosional ia mampu berprilaku kerja cerdas khusunya dalam memperhitungkan resiko terhadap pekerjaan, hal ini sangat dibutuhkan pegawai, sehingga dapat menimalisir kesalahan yang terjadi. Prilaku seperti ini selanjutnya dapat meningkatkan kinerja pegawai.
2. Tingkat Pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Penempatan pegawai berdasarkan latar belakang pendidikan yang tepat dan memadai, membuat pegawai mampu menganalisis pekerjaan dengan baik, sehingga dapat meningkatkan kinerja sebagai pegawainya.
3. Kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Dengan adanya sikap pimpinan dalam memberikan peluang untuk promosi jabatan/kenaikan pangkat kepada pegawai yang berprestasi dan menempatkan pegawai pada jabatan yang sesuai dengan bidang keahlian maupun kegemarannya, maka akan memberikan keuntungan bagi