• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 PEMBAHASAN

5.3 Pengaruh Kemampuan Kerja terhadap Kinerja Kader

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara univariat kemampuan kerja kategori kurang baik sebanyak 16 orang (47,1%) (Tabel 4.10), hal ini memberikan gambaran bahwa kemampuan kerja kader meliputi; (kemampuan intelektual dan kemampuan fisik) dalam pelaksanaan kegiatan posyandu belum sepenuhnya baik.

Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan kader posyandu secara fisik maupun intelektual belum spenuhnya mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan posyandu lansia. Hal ini memberikan masukan bagi manajemen puskesmas karena kemampuan merupakan salah satu faktor penentu dalam mengelola dan menyampaikan pelayanan kepada masyarakat.

Hasil wawancara terhadap kader posyandu lansia bahwa mereka menyadari kemampuan baik secara fisik maupun intelektual masih kurang baik dari segi pengalaman dan keterampilan sebagai kader dalam mengelola dan menyampaikan pelayanan sewaktu kegiatan posyandu lansia berlangsung.

Hasil penelitian secara multivariat menggunakan uji regresi berganda menunjukkan variabel kemampuan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja kader dengan nilai p=0,044 (Tabel 4.21), artinya semakin baik kemampuan kerja maka kinerja kader posyandu lansia semakin optimal dalam pelaksanaan kegiatan posyandu lansia.

Salah satu unsur tokoh informal masyarakat terutama di wilayah pedesaan adalah para kader, disebabkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki serta kedekatan emosional yang dibangun dengan masyarakat setempat. Namun demikian, karena sifat pekerjaannya yang sukarela, maka keaktifan mereka sangat tergantung kepada dukungan tokoh agama dan tokoh masyarakat serta instansi yang menangani.

Menurut Depkes.RI (1998), keterampilan petugas adalah tehnik yang dimiliki oleh petugas dalam memberikan pelayanan berdasarkan kemampuan dan standar pelayanan yang telah ditetapkan. Keterampilan petugas posyandu merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam sistim pelayanan di posyandu, karena dengan pelayanan kader yang terampil akan mendapat respon positif dari lansia, sehingga terkesan ramah, baik, pelayanannya teratur hal ini yang mendorong lansia rajin ke

posyandu. Ketrampilan dalam hal ini dilihat dalam usaha melancarkan proses pelayanan di posyandu.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan intelektual dan kemampuan fisik adalah dengan memberikan pelatihan bagi kader posyandu. Menurut Mantra (2000) mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan kader dengan cara mengikuti kursus, pelatihan dan refreezing secara berkala dari segi pengetahuan, teknis dari beberapa sektor sesuai dengan bidangnya. Pengetahuan yang dimiliki oleh kader untuk usaha melancarkan proses pelayanan di posyandu. Proses kelancaran pelayanan posyandu di dukung oleh keaktifan kader.

Aktif tidaknya kader posyandu dipengaruhi oleh fasilitas (mengirim kader ke pelatihan kesehatan, pemberian buku panduan, mengikutkan seminar-seminar kesehatan) penghargaan, kepercayaan yang diterima kader dalam meberikan pelayanan mempengaruhi aktif/ tidaknya seorang kader posyandu. Penghargaan bagi kader dengan mengikutkan seminar dan pelatihan serta pemberian modul-modul panduan kegiatan pelayanan kesehatan. Dengan beberapa kegiatan tersebut diharapakan kader merasa mampu dalam memberikan pelayanan dan aktif datang di setiap kegiatan posyandu (Mantra, 2000).

Hasil penelitian ini didukung oleh hasil kajian Puspasari (2002) tentang kinerja Kader Posyandu menunjukkan bahwa kinerja Kader Posyandu dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti: rendahnya tingkat partisipasi pengguna posyandu,

terbatasnya dana untuk makanan tambahan, terbatasnya sarana dan prasarana, tidak adanya imbalan serta kurangnya supervisi dari petugas kelurahan dan kecamatan.

Penelitian ini juga sejalan dengan teori Robbins (2006) menyatakan bahwa kemampuan terdiri dari dua faktor, yaitu: (a) kemampuan intelektual (intelectual ability) merupakan kemampuan melakukan aktivitas secara mental, (b kemampuan fisik (physical ability) merupakan kemampuan melakukan aktivitas berdasarkan stamina kekuatan dan karakteristik fisik. Demikan juga dengan pendapat Gibson et al. (1996), bahwa secara individual kemampuan merupakan kondisi mental dan fisik seseorang dalam menjalankan suatu aktivitas atau pekerjaan.

Pembahasan variabel kemampuan untuk masing-masing indikator sebagai berikut:

a. Kemampuan Intelektual

Hasil penelitian tentang kemampuan kerja indikator kemampuan intelektual diketahui > 50% responden kadang-kadang melakukan aktivitas secara mental dalam pelaksanaan kegiatan posyandu (Tabel 4.9). Hal ini memberikan gambaran bahwa kemampuan secara intelektual kader posyandu belum baik dan terkait dengan lama kerja kader < 5 tahun sebanyak 55,9% (Tabel 4.1)

Hasil wawancara terhadap kader posyandu lansia bahwa kepala Puskesmas belum sepenuhnya melaksanakan pembimbingan, pembinaan dan pengarahan kepada kader posyandu lansia. Kepala Puskesmas memberikan pembimbingan, pembinaan dan pengarahan jika dirasa perlu. Menurut kader mereka perlu arahan atau bimbingan

dalam pelaksanaan kegiatan psoyandu lansia. Ketika dikonfirmasi kepada kepala Puskesmas pembimbingan, pembinaan dan pengarahan tetap diberikan, namun tidak rutin, karena kader juga sibuk dengan berbagai kegiatan, jadi kegiatan bimbingan dilakukan secara berkala.

Hasil penelitian Sukiarko (2007), menyimpulkan bahwa pembinaan kader merupakan sarana penting dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader dalam kegiatan Posyandu. Kader terampil akan sangat membantu dalam pelaksanaan kegiatan sehingga informasi dan pesan-pesan tentang lansia akan dapat disampaikan kepada masyarakat serta beberapa penyebab kurang berfungsinya posyandu karena lembaga-lembaga sosial dalam masyarakat kurang berfungsi, kemampuan kader di Posyandu yang masih rendah, tingkat kemampuan, ketelitian dan akurasi data yang dikumpulkan kader masih rendah, serta 90% kader membuat kesalahan. Salah satu kesalahan kader yang paling sering dijumpai adalah teknik penimbangan yang kurang tepat. Lebih jauh lagi, hanya 40,7% kader yang tahu manfaat Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk konseling.

b. Kemampuan Fisik

Hasil penelitian tentang kemampuan kerja indikator kemampuan fisik diketahui > 50% responden kadang-kadang melakukan aktivitas secara fisik dalam pelaksanaan kegiatan posyandu (Tabel 4.9). Hal ini memberikan gambaran bahwa dalam pelaksanaan kegiatan posyandu lansia kontribusi kegiatan fisik kader lebih

besar berperan dalam memberikan pelayanan dan terkait dengan umur kader 26-33 tahun sebanyak 55,8% (Tabel 4.1)

Hasil wawancara terhadap kader posyandu 52,9% tamat SLTA (Tabel 4.1) menyadari bahwa kegiatan secara fisik lebih sering dilakukan dalam kegiatan posyandu, namun kegiatan secara fisik juga belum optimal dilakukan karena keterbatasan kemampuan yang dimilki dalam kegiatan posyandu lansia. Petugas kesehatan yang menjadi pembina kader di Posyandu diharapkan lebih memperhatikan keterampilan kader dengan terlibat secara aktif dan menyeluruh dalam kegiatan Posyandu..

Hasil penelitian Sukiarko (2007), menyimpulkan selama ini kader telah memperoleh pelatihan dasar dan penyegaran tentang kegiatan pelayanan di Posyandu dengan pendekatan konvensional, yaitu pelatihan yang diberikan secara ceramah dan tanya jawab oleh pelatih. Salah satu kelemahan dari metode konvensional adalah hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi tidak meningkatkan keterampilan peserta latih.

Dokumen terkait