• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 PEMBAHASAN

5.2. Pengaruh Faktor Pendukung terhadap Partisipasi Tokoh

5.2.3. Pengaruh Kemudahan Mengakses terhadap Partisipas

Hasil uji multivariate dengan uji statistik regresi berganda menunjukkan variabel kemudahan mengakses berpengaruh (p<0,05) terhadap partisipasi tokoh masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana alam gempa bumi. Mengacu kepada hasil uji tersebut dapat dijelaskan bahwa kemudahan tokoh masyarakat dalam mengakses atau menggunakan sarana dan prasarana dalam pengurangan risiko bencana, sangat menentukan kemampuan tokoh masyarakat untuk berpartisipasi dengan aktif.

Sesuai penelitian Badri (2008), menyimpulkan bahwa secara bersama-sama ketokohan, intensitas pertemuan dengan pelaksana penanganan bencana dan

kekompakan kelompok berpengaruh nyata terhadap penyediaan hunian sementara. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa bila tokoh masyarakat banyak terlibat dalam penanganan bencana di lingkungannya, kemudian menjadi fasilitator sosial dan kompak dengan kelompoknya, maka proses penanganan bencana di lingkungannya relatif lebih cepat dan berhasil. Penanganan bencana merupakan kegiatan yang mensinergikan program pemerintah dan partisipasi masyarakat korban bencana, sehingga faktor-faktor tersebut berpengaruh terhadap keberhasilan program penanganan bencana di masyarakat. Peran tokoh masyarakat juga diperlukan dalam kegiatan penanganan bencana oleh lembaga non pemerintah yang biasanya cenderung partisipatif dan melibatkan banyak pihak dalam masyarakat.

Hasil kajian Julianto (2009), tentang peran tokoh agama dalam mengurangi resiko bencana alam, menyatakan bahwa tokoh agama berperan meningkatkan kesadaran moral masyarakat agar menjaga lingkungan. Ketika kesadaran itu muncul oleh para pemeluk agama yang berbeda-beda ini, mereka bisa berkarya bersama-sama secara nyata untuk menjaga kelestarian alam. Umat beragama, tidak sekadar berdoa sesuai dengan agamanya, tetapi juga mewujudkan doa itu antara lain melalui reboisasi di lahan kritis. Hingga saat ini sebagian aktivitas keagamaan masih sebatas berbagai hal yang menyangkut kegiatan normatif dan ritual, dan belum kepada tingkatan praktis. Ia mengemukakan, persoalan penanggulangan bencana dan dampak perubahan iklim berkaitan erat dengan kepentingan manusia, masyarakat, dan negara. Tindakan manusia dan pelaksanaan pembangunan, katanya, perlu dikaitkan dengan upaya mengurangi risiko bencana alam dan perubahan iklim. Ia menyatakan perlunya

tokoh lintasagama membuat rumusan dan langkah strategis dalam rangka pengurangan risiko bencana alam dan perubahan iklim

Sesuai pendapat Arga (2006), pada tahap awal penanganan pasca bencana gempa bumi terdapat beberapa kelemahan antara lain ketidakjelasan peraturan pemerintah, koordinasi penanganan bencana yang lemah, munculnya pertarungan aspirasi masyarakat lokal dengan pemerintah. Dari persoalan tersebut kemudian memunculkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Kebijakan pemerintah pusat yang tidak konsisten menjadi persoalan dilematis bagi pemerintah daerah. Kekecewaan warga korban bencana diluapkan kepada pemerintah daerah dengan protes dan aksi unjuk rasa. Pada posisi itulah pemerintah daerah harus lebih aspiratif mendengarkan suara masyarakat.

Demikian juga pendapat Wuryantari (2005) yang menyebutkan bahwa baik komunitas dan pihak berwenang di tingkat lokal harus diberdayakan dalam mengelola dan meredam resiko bencana dengan mempunyai akses terhadap informasi, sumber daya dan pihak berwenang yang diperlukan dalam melaksanakan aksi-aksi pengurangan risiko-risiko bencana. Komunikasi tokoh masyarakat ini dapat diberdayakan dengan menempatkannya sebagai penghubung komunikasi pelaksana penanganan bencana dengan masyarakat. Dengan pemberdayaan komunikasi tokoh masyarakat, penyampaian pesan-pesan pelaksana penanganan bencana kepada masyarakat dapat lebih efektif. Tokoh masyarakat juga berperan sebagai sumber informasi bagi pelaksana penanganan bencana, terutama untuk mendapatkan

informasi mengenai data kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat korban bencana.

Hasil kajian BRR NAD-Nias (2005), menyatakan pemahaman terhadap manajemen bencana selama ini terabaikan dan dianggap bukan prioritas karena bencana hanya datang sewaktu-waktu. Berdasarkan pengalaman tersebut maka pemerintah dan masyarakat perlu memiliki kesadaran membangun kerjasama dalam manajemen bencana melalui komunikasi yang efektif, terutama dalam penanganan pasca bencana.

Dalam Piagam Rakyat Berdaya dan Siaga (Raberdasi) disebutkan beberapa prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) Rakyat sebagai subyek, basis dan sumber dalam pengelolaan bencana; (2) Akses terhadap hak atas bantuan, informasi, dan pengambilan keputusan dijamin oleh undang-undang; (3) Berdaya dalam pengelolaan resiko bencana, saat dan sesudah bencana, dengan memperhatikan kesetaraan gender dan kearifan lokal; (4) Ekonomi kerakyatan dalam konteks pembangunan berkelanjutan sebagai inti pemberdayaan dalam penanggulangan bencana; (5) Risiko harus dikelola dengan mengedepankan penyediaan sumber daya yang memadai pada situasi normal sebelum bencana terjadi; (6) Demokratisasi dalam pengambilan kebijakan; (7) Advokasi untuk tranformasi struktur dan sistem nasional dan global yang memihak pada pembangunan yang berkelanjutan; (8) Solidaritas sosial yang saling menguatkan dan tidak diskriminatif dengan perhatian khusus kepada rakyat paling rentan; (9) Inisiatif dari rakyat harus menjadi prioritas dalam penanggulangan bencana.

Berdasarkan kajian tentang risiko bencana alam gempa bumi serta upaya mengurangi risiko bencana tersebut yang telah diuraikan diatas, maka dapat dijelaskan beberapa hal penting yaitu:

a. Uraian Risiko Bencana Alam Gempa Bumi

Getaran pada bumi terjadi akibat dari adanya proses pergeseran secara tiba- tiba (sudden slip) pada kerak bumi. Pergeseran secara tiba-tiba terjadi karena adanya sumber gaya (force) sebagai penyebabnya, baik bersumber dari alam maupun dari bantuan manusia (artificial earthquakes). Selain disebabkan oleh sudden slip, getaran pada bumi juga bisa disebabkan oleh gejala lain yang sifatnya lebih halus atau berupa getaran kecil-kecil yang sulit dirasakan manusia.

b. Upaya untuk Mengurangi Risiko Bencana Alam Gempa Bumi

Beberapa kebijakan sebagai upaya mengurangi risiko bencana gempa bumi antara lain:

(1) Pembentukan Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana (PRB) sejalan dengan Kerangka Aksi Hyogo 2005-2015.

(2) Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana (Planas PRB)

(3) Undang-Undang. Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. (4) Peraturan Presiden Nomor 8 tahun 2008 tentang Badan Nasional

Penanggulangan Bencana (BNPB).

c. Peran Tokoh Masyarakat untuk Mengurangi Risiko Bencana Alam Gempa Bumi

Peran tokoh masyarakat dalam mendukung pengembangan kemampuan masyarakat dalam pengurangan risiko bencana alam gempa bumi akan lebih berdayaguna apabila didukung sistem kelembagaan di masyarakat. Kelembagaan lokal di tingkat akar rumput dalam hal penanggulangan bencana sesungguhnya dapat menjadi aktor yang berperan vital dengan membentuk rangkaian jembatan yang berkonstruksi jaringan koordinasi lembaga-lembaga lokal. Keadaan ideal inilah yang merupakan pertanyaan apakah keterlibatan institusi lokal dapat membentuk rangkaian yang sinergis dan terkoordinasi atau lembaga tersebut berjalan sendiri-sendiri guna mendapatkan popularitas dan menambah modal. Sehingga tidak ada aktor pengorganisir lembaga dan bertanggung jawab atas penanggulangannya. Dengan adanya kelembagaan lokal sebagai kekuatan sumber daya masyarakat seharusnya hal ini dapat dimanfaatkan guna mengatasi bencana yang sering terjadi dan akan terjadi. Sehingga diperlukan sinergisme kelembagaan lokal masyarakat guna penanggulangan bencana yang terkoordinasi di tingkat kelembagaan komunitas akar rumput, baik itu sebelum bencana, saat bencana, dan setelah bencana.

Dokumen terkait