• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 PEMBAHASAN

5.2. Pengaruh Pola Konsumsi Pangan Keluarga terhadap Status GAKY

5.2.2. Pengaruh Konsumsi Sumber Yodium terhadap Status GAKY

geografis, musim dan cara memasaknya. Bahan makanan laut mengandung kadar yodium lebih banyak. Kadar yodium berbagai bahan makanan misalnya ikan tawar (basah) 30 μg/kg bahan, ikan tawar (kering) 116 μg/kg, ikan laut (basah) 812 μg/kg, ikan laut (kering) 3.715 μg/kg, cumi-cumi (kering) 3.866 μg/kg, daging (basah) 50 μg/kg, susu 47 μg/kg, sayur 29 μg/kg, cereal 47,7 μg/kg (Soehardjo,1990)

Hasil uji statistik menunjukkan bahwa konsumsi sumber yodium berpengaruh terhadap status GAKY anak SD (p=0,046). Hal ini menunjukkan bahwa anak SD yang sering mengonsumsi bahan makanan yang sarat akan yodium mempunyai kemungkinan lebih kecil terkena GAKY dibandingkan anak yang tidak mengonsumsi

pangan sumber yodium. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ritanto (2003) bahwa anak SD yang tidak mengonsumsi pangan sumber yodium 68,2% menderita GAKY.

Pada keadaan Iodine Deficiency Deases (IDD) endemik berat, kerugian keluarga dan masyarakat terutama karena adanya penderita cretin yang disertai hambatan mental dan intelektual. Cretin adalah akibat kekurangan yodium ketika hamil. Penderita bertubuh pendek (cebol) dan menderita berbagai tingkat hambatan mental, yaitu tingkat perkembangan mental itu tertinggal terhadap umur. Penderita berumur 15 tahun dapat mempunyai perkembangan mental seperti umur dua tahun (Kartono, 1995).

Yodium merupakan mikronutrien esensial yang dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk bahan pembuatan/mensintesis hormon tiroid. Hormon tiroid ini selanjutnya akan berperan dalam pembentukan kalori, metabolisme karbohidrat, protein, kolesterol, proses pertumbuhan dan maturasi serta kerja saraf, konsumsi oksiden dan tingkat metabolisme basal.

Mengingat bahan makanan sumber yodium umumnya berasal dari ikan laut dan sejenisnya, maka penduduk di pegunungan seperti Kabupaten Dairi diharapkan mengoptimalkan konsumsi makanan yang bersumber yodium, seperti ikan air tawar yang bersumber dari tambak/kolam ikan yang dikelola oleh keluarga, juga telur ayam yang diolah menggunakan garam beryodium.

Sebagaimana diketahui anak SD mengalami fase usia pertumbuhan fisik, fase proses pematangan organ reproduksi dan merupakan fase sensitif terhadap

kekurangan unsur yodium, di mana kebutuhan unsur Yodium relatif lebih besar, sehingga defisiensi yodium dalam fase ini mudah sekali menyebabkan terjadinya pembesaran kelenjar gondok, sebagai mekanisme kompensasi terhadap penurunan hormon tiroksin. Hormon tiroksin berperan pada metabolisme protein yang sangat penting bagi perkembangan sel otot dan tulang.

5.2.3. Pengaruh Konsumsi Sumber Goitrogenik terhadap Status GAKY Anak SD

Hasil regresi berganda menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan konsumsi sumber goitrogenik terhadap status GAKY anak SD dengan nilai p=0,000 (p<0,05). Proporsi responden dengan konsumsi goitrogenik jenis ubi dengan frekuensi 1 kali sehari 50,0%, kubis 49,5%, jengkol 30,8%, sawi 25,5% dan kentang 23,7%.

Goitrogenik adalah suatu zat yang menghambat produksi atau penggunaan hormon tiroid. Keberadaan zat goitrogenik akan menjadi nyata jika terjadi kekurangan yodium (Kartono, et al., 2004).

Makin tinggi tingkat kekurangan yodium yang dialami akan semakin banyak komplikasi atau atau kelainan yang ditimbulkan. Kelainan yang dimaksud seperti pembesaran kelenjar gondok (kelenjar tiroid) dan berbagai stadium sampai timbulnya bisa tuli dan gangguan mental akibat kretinisme. GAKY ini umumnya lebih banyak terjadi di daerah pegunungan di mana makanan setempat yang berasal dari tanaman yang tumbuh pada kondisi tanah dengan kadar yodium rendah (Kodyat, 1996).

Hasil penelitian Aritonang (2004) dari berbagai jenis bahan makanan yang dikonsumsi oleh pelajar berdasarkan bahan makanan tinggi kandungan yodium dan bahan makanan mengandung zat goitrogenik, diketahui bahwa konsumsi ikan laut segar sangat jarang sehingga intake yodium dari makanan laut sangat rendah. Keadaan ini juga diperberat dengan kondisi geografi dan topografi daerah yang berada di dataran tinggi di mana secara alami kandungan yodium pada lingkungan baik lingkungan air maupun lingkungan tanah sangat rendah. Hal ini juga dipengaruhi dengan seringnya masyarakat mengonsumsi makanan yang diduga mengandung zat goitrogenik seperti singkong, daun singkong, dan kol. Dari beberapa hasil penelitian pada kelinci percobaan diketahui bahwa famili kubis (kol) dapat menyebabkan pembesaran kelenjar gondok setelah diberi pada kelinci selama 60 hari. Konsumsi jengkol dan asam juga relatif sering melalui jenis masakan khas daerah yaitu arsik yang banyak menggunakan asam, sedangkan jengkol dan asam juga diketahui mengandung goitrogenik. Zat goitrogenik dalam proses pembentukan hormon tiroid menghambat pengambilan yodium oleh kelenjar tiroid atau menghalangi pembentukan ikatan organik antara yodium dan tirosin untuk menjadi hormon tiroid.

Hal ini menunjukkan bahwa pola konsumsi pangan pada pelajar anak SD tersebut kurang baik dalam arti jumlah dan kualitas makanan yang dikonsumsi relatif kurang. Bila dilihat salah satu dampak GAKY adalah menghambat pertumbuhan berdasarkan survey konsumsi pangan yang ditemukan dikonsumsinya ubi kayu yang mengandung goitrogenik setiap hari maka pertumbuhan pelajar tersebut relatif menjadi terhambat. Bahan makanan yang banyak mengandung zat goitrogenik justru

merupakan bahan makanan (sayur-sayuran) yang banyak tumbuh dan dibudidayakan di Kabupaten Dairi, sehingga secara umum menjadi sayuran utama yang dikonsumsi masyarakat. Untuk mengatasi kondisi tersebut diupayakan dalam penyediaan makanan keluarga mengurangi seminimal mungkin jenis sayuran yang mengandung zat goitrogenik.

Sesuai dengan hasil penelitian Murdiana, et al., (2001) tentang cara mengurangi kadar goitrogenik jenis tiosianat di daerah gondok endemik yaitu Pundong Yogyakarta dan Srumbung Magelang. Rata-rata kadar sianida bahan makanan mentah berkisar 2 – 38% dan bila ditumis berkisar 40 – 70%. Selain cara tersebut penurunan kadar sianida juga bisa dilakukan dengan fermentasi dan perendaman.

Goitrogenik pada umumnya berperanan sebagai penghambat transpor aktif ion yodida (I-) ke dalam kelenjar tiroid sehingga menghambat fungsi tiroid. Salah satu jenis goitrogenik ini adalah golongan tiosianat (SCN), Tiosianat akan berkompetisi dengan yodida ketika memasuki sel tiroid karena volume molekul dan muatannya sama. Tiosianat masuk ke dalam darah dan membentuk ion-ion goitrogenik dan akan mengikat ion-ion yodium, akibatnya yodida yang akan digunakan untuk pembentukan hormon T1 dan T2 sebagai frekusor hormon T3 dan T4 berkurang sehingga pembentukan hormon T3 dan T4 akan menurun.

Dokumen terkait