• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.3. Malaria Dalam Kehamilan

2.3.4. Pengaruh Malaria Terhadap Anemia Pada Ibu Hamil

Perempuan hamil yang memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi malaria adalah mereka yang primigravida atau kehamilan kedua, usia remaja, imigran/pengunjung dari area dengan transmisi malaria rendah, dan terinfeksi oleh HIV/AIDS. Malaria menyebabkan 2-15% anemia pada perempuan hamil (Sinaga dan Affandi, 2009).

Malaria bisa menyebabkan anemia pada ibu hamil. Meningkatnya risiko mortalitas maternal terjadi bila keadaan anemia menjadi berat. Penularan malaria terjadi ketika nyamuk yang mengandung plasmodium menyuntikkan air liurnya yang mengandung parasit ke dalam darah. Parasit itu kemudian berpindah ke sel-sel hati ibu hamil tersebut. Setelah 1-2 minggu, parasit kemudian memasuki aliran darah sehingga mulai menunjukkan gejala-gejala malaria antara lain demam, berkeringat, menggigil, mual, dan sakit kepala. Parasit tersebut kemudian menyerang sel-sel darah merah dan mulai mengonsumsi hemoglobin. Kerusakan sel darah merah ini menyebabkan anemia (Sinaga dan Affandi, 2009; Islamuddin, 2010).

Prevalensi anemia sangat tinggi antara minggu 16 dan 28 minggu masa kehamilan disertai dengan puncak terjadinya parasitemia. Wanita hamil yang non

imun akan mengalami anemia yang signifikan pada infeksi malaria. Sequestrasi eritrosit yang terinfeksi di limpa, hati, sumsum tulang serta plasenta juga menurunkan hematokrit. Sequestrasi dari eritrosit yang terinfeksi malaria berperan terhadap defisiensi asam folat dan anemia mikrositik (Islamuddin, 2010).

Berdasarkan beberapa faktor yang menyebabkan anemia pada ibu hamil, maka disusunlah konsep pustaka faktor-faktor yang berhubungan dengan anemia pada ibu hamil.

Gambar 2.1. Konsep pustaka faktor-faktor yang berhubungan dengan anemia pada ibu hamil (Disesuaikan dari : Kraemer and Zimmermann, 2007) Konsumsi makanan

BAB III

KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1. Kerangka Berpikir

Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dl pada trimester I dan III atau kadar hemoglobin kurang dari 10,5 g/dl pada trimester II. Anemia pada ibu hamil akan berpengaruh buruk terhadap kesehatan dan keselamatan ibu dan janin. Anemia dalam kehamilan ditimbulkan karena rendahnya asupan makanan sumber besi, kehilangan besi, dan peradangan.

Asupan zat besi yang rendah akibat ketidakseimbangan antara konsumsi bahan makanan sumber zat besi yang masuk kedalam tubuh dengan kebutuhan tubuh akan zat besi merupakan penyebab anemia defisiensi besi . Bahan makanan dengan bioavailabilitas yang rendah dan beberapa zat penghambat absorpsi (pitat, tanin dan polifenol) dalam makanan akan mengganggu absorbsi besi. Defisiensi ini dapat diatasi dengan mengkonsumsi suplementasi zat besi dan asam folat selain dari makanan, dimana faktor penting dalam menjamin peningkatan kadar hemoglobin ibu hamil adalah kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet besi yang diberikan.

Insiden infeksi yang dapat menimbulkan kehilangan zat besi dan malabsorbsi zat besi seperti malaria, cacing tambang, dan schistosomiasis dapat menimbulkan atau memperberat anemia. Malaria bisa menimbulkan anemia pada

ibu hamil, karena parasit malaria menyebabkan kerusakan sel-sel darah merah sehingga menyebabkan anemia.

Penyakit malaria, diare, penyakit pernapasan, dan penyakit menahun lainnya seperti tuberkulosis dan HIV/AIDS merupakan penyakit peradangan yang dapat mencegah penyerapan zat besi, mengurangi mobilisasi besi, mengurangi eritropoiesis, dan mengurangi retinol plasma sehingga menyebabkan anemia.

3.2. Konsep

Berdasarkan tinjauan pustaka maka disusun kerangka konsep penelitian yang menjelaskan variabel-variabel yang akan diteliti mengenai hubungan antara kepatuhan konsumsi tablet besi dan infeksi malaria dengan anemia pada ibu hamil di kota Ambon. Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Gambar 3.1. Konsep penelitian hubungan antara kepatuhan konsumsi tablet besi dan infeksi malaria dengan anemia pada ibu hamil trimester III di Kota Ambon

Anemia pada ibu hamil trimester III

Infeksi malaria Kepatuhan konsumsi

tablet besi

3.3. Hipotesis Penelitian

3.3.1. Ada hubungan antara kepatuhan konsumsi tablet besi dengan anemia pada ibu hamil trimester III di Kota Ambon.

3.3.2. Ada hubungan antara infeksi malaria dengan anemia pada ibu hamil trimester III di Kota Ambon.

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Study cross-sectional ialah suatu penelitian dimana pengukuran variabel-variabelnya dilakukan atau dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan. Bagan pengumpulan data dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1. Bagan Rancangan Penelitian 4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

4.2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kota Ambon Provinsi Maluku.

4.2.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari – Juni 2014.

Ibu Hamil Trimester III

4.3. Penentuan Sumber Data 4.3.1. Populasi

Populasi target dalam penelitian adalah seluruh ibu hamil trimester III di Kota Ambon, sedangkan populasi terjangkau adalah seluruh ibu hamil trimester III di Kota Ambon pada bulan April – Mei 2014 yang diperoleh melalui laporan register KIA di puskesmas.

4.3.2. Sampel

Dari populasi penelitian dipilih sampel yang akan diteliti. Pada penelitian ini sampel yang diambil adalah seluruh ibu hamil trimester III di Kota Ambon pada bulan April – Mei 2014.

4.3.3. Besar Sampel

Untuk menentukan besaran sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus Lemeshow, dkk (1990) dalam Sastroasmoro dan Ismael (2002).

Z2 P(1-P) n =

d2 Keterangan :

n = Jumlah sampel yang diperlukan

Zα = Koefisien reliabilitas ditentukan berdasarkan derajat kepercayaan 95%, ( = 0,05) = 1,96

P = Proporsi kepatuhan yang dapat diamati (0,30) d = Kesalahan absolut yang dapat ditoleransi (0,1) Sehingga didapatkan jumlah sampel sebagai berikut.

(1,96)2 0,30(1 - 0,30) n =

(0,1)2

n = 83

Jumlah sampel yang diambil berdasarkan perhitungan besar sampel adalah 83 sampel.

4.3.4. Teknik dan Prosedur Pengambilan Sampel

Prosedur pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu tahap pertama adalah dari lima kecamatan yang ada di Kota Ambon, dipilih dua kecamatan dengan cara purposive sampling yang dipilih berdasarkan angka kejadian anemia terbanyak. Tahap berikutnya adalah membuat daftar populasi ibu hamil dari dua kecamatan yang terpilih melalui laporan register KIA ibu hamil dari puskesmas yang berada dalam wilayah kecamatan yang terpilih. Berdasarkan daftar tersebut dipilih 83 sampel ibu hamil dengan cara acak sederhana.

4.4. Variabel Penelitian

4.4.1. Identifikasi variabel penelitian

Variabel dalam penelitian ini dapat didefinisikan secara garis besar terdiri dari :

4.4.1.1. Variabel independent (bebas) adalah kepatuhan konsumsi tablet besi dan infeksi malaria.

4.4.1.2. Variabel dependent (terikat) adalah anemia pada ibu hamil trimester III.

4.4.2. Definisi operasional variabel 4.4.2.1. Karakteristik Responden

a. Usia adalah umur ibu hamil dihitung berdasarkan tanggal, bulan dan tahun kelahiran ibu.

Alat ukur : Kuesioner

Hasil ukur : Usia dalam tahun dengan penggolongan : 1 = <20 tahun dan

>35 tahun, 2 = 20-35 tahun.

Skala pengukuran : Interval

b. Paritas adalah Jumlah kelahiran yang pernah di alami oleh responden.

Alat ukur : Kuesioner

Hasil ukur : Paritas dengan penggolongan : 1 = ≥3 orang, 2 = <3 orang.

Skala pengukuran : Interval

c. Jarak kelahiran adalah selang waktu antara mulai kehamilan sekarang dengan tanggal lahir anak terakhir.

Alat ukur : Kuesioner

Hasil ukur : Jarak kelahiran dengan penggolongan : 1 = <2 tahun, 2 = ≥2 tahun.

Skala pengukuran : Interval

d. Pendidikan adalah tingkat pendidikan formal terakhir yang berhasil ditempuh oleh responden.

Alat ukur : Kuesioner

Hasil ukur : Pendidikan dengan penggolongan : 1 = < SMA/sederajat, 2 =

≥ SMA/sederajat.

Skala pengukuran : Ordinal

4.4.2.2. Kepatuhan adalah ketaatan ibu hamil trimester III dalam mengkonsumsi tablet besi sesuai dengan jumlah yang seharusnya diminum, dengan konsumsi secara rutin 1 tablet/hari

Alat ukur : Kuesioner

Hasil ukur : Kepatuhan dengan penggolongan : 1 = Tidak patuh bila mengkonsumsi <90% tablet besi yang seharusnya, 2 = Patuh bila mengkonsumsi ≥90% tablet besi yang seharusnya.

Skala pengukuran : Nominal

4.4.2.3. Infeksi Malaria adalah ada tidaknya riwayat malaria dalam kehamilan dengan melihat catatan medis pada kartu atau buku pemeriksaan ANC ibu.

Hasil ukur : Infeksi malaria dengan penggolongan : 1 = ada infeksi malaria, 2 = tidak ada infeksi malaria.

Skala pengukuran : Nominal

4.4.2.4. Anemia pada ibu hamil adalah kadar hemoglobin dalam darah ibu kurang dari 11 g/dl selama kehamilan.

Alat ukur : Hemometer Digital (Easy Touch)

Hasil ukur : Kejadian anemia dengan penggolongan : 1 = anemia dengan kadar Hb <11 g/dl, 2 = tidak anemia dengan kadar Hb ≥11 g/dl.

Skala pengukuran : Nominal 4.5. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tentang karakteristik ibu hamil dan kepatuhan meminum tablet zat besi, medical record tentang infeksi malaria dan juga dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan hemometer digital (Easy Touch) untuk mengetahui kadar Hb responden.

4.6. Prosedur Penelitian

Untuk memperoleh data dalam penelitian yang dilakukan, maka peneliti menggunakan prosedur seperti berikut ini.

4.6.1. Peneliti mengajukan surat permohonan ijin penelitian dari institusi pendidikan kepada Badan Kesbanglitmas Provinsi Maluku, dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon.

4.6.2. Peneliti mengajukan surat permohonan kelaikan etik dari institusi pendidikan kepada Komisi Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Sanglah Denpasar.

4.6.3. Setelah mendapat persetujuan, peneliti mulai mengumpulkan data dengan menggunakan kuisioner mengenai hubungan kepatuhan mengonsumsi tablet besi dan infeksi malaria dengan kejadian anemia pada ibu hamil, kemudian dilakukan juga pemeriksaan hemoglobin.

4.6.4. Setelah mendapatkan data maka peneliti melakukan pengolahan data dengan menggunakan bantuan komputer.

4.7. Pengumpulan dan Pengolahan Data 4.7.1. Pengumpulan data

Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer yang meliputi karakteristik ibu hamil (usia, paritas, jarak kelahiran, pendidikan) dan kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet besi dikumpulkan dengan teknik wawancara oleh peneliti. Untuk kejadian anemia digunakan teknik pemeriksaan dengan hemometer digital. Data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini adalah infeksi malaria pada ibu hamil dengan melihat catatan medik pada kartu atau buku pemeriksaan ANC ibu.

4.7.2. Pengolahan data 4.7.2.1. Editing

Editing berfungsi untuk mengkaji dan meneliti kelengkapan data dalam lembar kuesioner.

4.7.2.2. Coding

Teknik koding ini dilakukan dengan pemberian kode dan pengklasifikasian pada data yang dilakukan untuk mempermudah dalam proses pengolahan data.

4.7.2.3. Tabulating

Merupakan proses pengolahan data yang telah didapatkan. Data yang diperoleh kemudian dikelompokkan dan diproses dengan menggunakan tabel-tabel distribusi. Pada penelitian ini tabulasi data awal secara manual terlebih dahulu, kemudian diproses menggunakan sistem komputer.

4.8. Analisis data

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan setiap variabel yang terdapat pada instrumen penelitian, antara lain meliputi karakteristik ibu hamil, kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet besi, infeksi malaria pada ibu hamil, dan kejadian anemia pada ibu hamil. Dengan melakukan analisis berupa distribusi tabel frekuensi berdasarkan semua variabel, persentase serta pembahasan tentang gambaran variabel yang diamati.

Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara satu variabel bebas dan satu variabel terikat yaitu kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet besi dan infeksi malaria terhadap variabel terikat kejadian

anemia pada ibu hamil. Uji statistik yang digunakan untuk menguji hubungan kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet besi dan infeksi malaria dengan kejadian anemia pada ibu hamil diuji dengan uji chi-square (2) pada tingkat kemaknaan 95% (α=0,05), untuk mendapatkan hubungan bermakna.

Analisis multivariat untuk mengetahui variabel bebas mana yang paling berperan berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil, uji statistik yang digunakan adalah Uji Regresi Logistik.

4.9. Etika Penelitian

Sebelum penelitian dilakukan peneliti mendapat ijin dari ketua Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana dan mendapatkan Ethical Clearance dari Unit Litbang FK UNUD/RSUP Sanglah Denpasar. Kemudian peneliti mendapat persetujuan dari pihak yang di teliti dengan tetap menekankan masalah etika yang meliputi :

4.9.1. Informed Consent

Lembar Informed Consent diberikan kepada subjek penelitian yang akan menjadi sampel dalam penelitian. Dilakukan dengan memberikan penjelasan maksud dan tujuan dari penelitian, jika responden bersedia diteliti maka mereka diminta menandatangani lembar persetujuan. Jika responden tidak bersedia maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya.

4.9.2. Anonimity

Dalam menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan nama responden pada lembar kuesioner, hanya diberikan nomor urut dan nomor kode tertentu.

4.9.3. Confidentiality

Informasi yang telah dikumpulkan dari responden tetap dijamin kerahasiaannya oleh peneliti.

BAB V

HASIL PENELITIAN

5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Kota Ambon mempunyai luas 377 km2 yang terdiri dari 5 kecamatan yaitu Nusaniwe, Sirimau, Teluk Ambon Baguala, Teluk Ambon, dan Leitimur Selatan.

Kelima kecamatan tersebut terdiri dari 20 kelurahan dan 30 desa/negeri yang terletak pada posisi antara 3o – 4o Lintang Selatan dan 128o – 129o Bujur Timur.

Batas wilayah administratif Kota Ambon adalah Sebelah Utara berbatasan dengan Petuanan Desa Hitu, Hila dan Kaitetu dari Kecamatan Leihutu Kabupaten Maluku Tengah, Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Banda, Sebelah Timur berbatasan dengan Petuanan Desa Suli dari Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah, dan Sebelah Barat berbatasan dengan Petuanan Desa Hatu dari Kecamatan Leihitu Barat Kabupaten Maluku Tengah.

Menurut data Dinas Kependudukan Catatan Sipil Kota Ambon pada tahun 2013 jumlah penduduk di Kota Ambon sebanyak 359.218 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 1.203 jiwa/km2.

Sarana kesehatan di Kota Ambon telah melayani masyarakat sampai ke tingkat desa, dengan jumlah sarana tercatat yaitu 2 buah Rumah Sakit Khusus, 8 Rumah Sakit Umum, 22 Puskesmas, 34 Puskesmas Pembantu dan 26 Pos Kesehatan Desa.

5.2. Karakteristik Responden

Pada tahap ini dilakukan analisis distribusi frekuensi presentase variabel tunggal yang termasuk karakteristik umum responden seperti : usia, paritas, jarak kelahiran, pendidikan, yang disajikan pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1. Distribusi Karakteristik Responden

Tabel di atas memberikan informasi bahwa responden sebagian besar yaitu 81,9% berada pada kelompok umur antara 20-35 tahun (kelompok tidak berisiko).

Rerata umur responden adalah 27,6 tahun (±6,27) dengan usia termuda 16 tahun dan usia tertua 39 tahun.

Paritas responden yang termasuk kelompok berisiko tinggi yaitu memiliki anak 3 orang atau lebih sebesar 19,3%. Rerata paritas adalah 1,5 kali (±1,34) dengan jumlah paritas maksimal 6 kali.

Responden sebagian besar memiliki jarak kelahiran lebih dari 2 tahun yaitu 50,6%. Rerata jarak kelahiran adalah 2,7 tahun (±2,64) dengan jarak kelahiran maksimal 9,6 tahun. Tingkat pendidikan terbanyak responden adalah SMA/sederajat atau lebih tinggi yaitu sebesar 60,2%.

5.3. Tingkat Kepatuhan Konsumsi Tablet Besi, Infeksi Malaria dan Status Anemia Pada Ibu Hamil Trimester III

Pada tahap ini dilakukan tabulasi variabel kepatuhan konsumsi tablet besi, infeksi malaria, dan anemia pada ibu hamil trimester III.

Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Tingkat Kepatuhan konsumsi tablet besi, Infeksi Malaria dan Status Anemia Pada Ibu Hamil Trimester III di Kota Ambon

Variabel f %

Tabel 5.2. memperlihatkan bahwa dari 83 sampel ibu hamil, sebagian besar ibu hamil tidak memiliki kepatuhan dalam mengonsumsi tablet besi sebesar 55,4%, dengan rerata jumlah tablet yang diminum adalah 50 tablet (±40,56), ibu hamil yang terinfeksi malaria dalam kehamilan sebesar 26,5% dan ibu hamil yang

menderita anemia sebesar 34,9%, dengan rerata kadar hemoglobin adalah 11,7 g/dl (±1,66).

5.4. Alasan Ketidakpatuhan Ibu Hamil Mengonsumsi Tablet Besi

Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi Alasan Ketidakpatuhan Ibu Hamil Mengonsumsi Tablet Besi di Kota Ambon

Alasan f %

Obat mengandung bahan kimia 5 10,9

Merasa tidak sakit 7 15,2

Takut darah naik 3 6,5

Sering lupa 6 13,1

Tidak suka rasanya 14 30,4

Mual 3 6,5

Obat dokter lebih bagus 8 17,4

Jumlah 46 100

Tabel di atas memperlihatkan bahwa alasan ketidakpatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet besi terbanyak adalah karena tidak suka rasa obat sebesar 30,4%, sementara ketidakpatuhan karena efek samping dari tablet besi yaitu mual sebesar 6,5%. Tabel di atas menunjukkan bahwa ketidakpatuhan ibu dalam mengonsumsi tablet besi lebih banyak bukan karena efek samping yang ditimbulkan oleh tablet besi.

5.5. Status Anemia Menurut Tingkat Kepatuhan Konsumsi Tablet Besi dan Infeksi Malaria

Tabel 5.4. Distribusi Anemia Menurut Tingkat Kepatuhan Konsumsi Tablet Besi dan Infeksi Malaria Pada Ibu Hamil Trimester III di Kota Ambon

Variabel independent

Anemia pada ibu hamil

Anemia Tidak anemia Jumlah

f % f % f %

Kepatuhan Konsumsi Tablet Besi

Tidak patuh 25 54,3 21 45,7 46 100

Patuh 4 10,8 33 89,2 37 100

Infeksi Malaria

Ada 19 86,4 3 13,6 22 100

Tidak ada 10 16,4 51 83,6 61 100

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa persentase anemia pada ibu hamil yang tidak patuh dalam mengonsumsi tablet besi lebih besar yaitu 54,3%

dari ibu hamil yang patuh dalam mengonsumsi tablet besi yaitu 10,8%. Status tidak anemia lebih cenderung pada ibu hamil yang patuh dalam mengonsumsi tablet besi sebesar 89,2% dibandingkan ibu yang tidak patuh dalam mengonsumsi tablet besi yaitu 45,7%.

Tabel di atas juga memperlihatkan bahwa persentase anemia pada ibu hamil yang terinfeksi malaria lebih besar yaitu 86,4% dari ibu hamil yang tidak terinfeksi malaria yaitu 16,4%. Persentase tidak anemia lebih cenderung pada ibu

hamil yang tidak terinfeksi malaria yaitu sebesar 83,6% dibandingkan ibu yang terinfeksi malaria yaitu 13,6%.

5.6. Hubungan Antara Kepatuhan Konsumsi Tablet Besi Dan Infeksi Malaria Dengan Anemia Pada Ibu Hamil Trimester III Di Kota Ambon

Analisis hubungan variabel ini, menggunakan Tabel 2 x 2, dan uji statistik yang digunakan adalah uji chi-square. Adapun variabel yang dianalisis hubungannya, disesuaikan dengan tujuan khusus penelitian yaitu kepatuhan konsumsi tablet besi dan infeksi malaria dengan anemia pada ibu hamil.

Tabel 5.5. Hubungan antara kepatuhan konsumsi tablet besi dan infeksi malaria dengan anemia pada ibu hamil trimester III di Kota Ambon

Variabel independen

Berdasarkan tabel di atas setelah dilakukan perhitungan chi-square ditemukan 2hitung > 2α=0,05 (17,099 > 3,841) dan p <0,05 (p = 0,001). Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kepatuhan konsumsi

tablet besi dengan anemia pada ibu hamil. Artinya semakin baik kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet besi semakin rendah risiko ibu hamil terkena anemia.

Berdasarkan hasil perhitungan chi-square untuk infeksi malaria, ditemukan

2hitung > 2α=0,05 (34,823 > 3,841) dan p <0,05 (p = 0,001). Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara infeksi malaria dengan anemia pada ibu hamil. Artinya adanya infeksi malaria dalam kehamilan pada ibu hamil semakin tinggi risiko ibu hamil terkena anemia.

5.7. Hasil Analisis Regresi Logistik Hubungan Kepatuhan Konsumsi Tablet Besi dan Infeksi Malaria Dengan Anemia Pada Ibu Hamil Trimester III

Uji regresi logistik bertujuan untuk mencari faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil trimester III di Kota Ambon.

Tabel 5.6. Hasil analisis regresi logistik hubungan kepatuhan konsumsi tablet besi dan infeksi malaria dengan anemia pada ibu hamil trimester III di Kota Ambon

Variabel OR 95%CI

Nilai p Lower Upper

Kepatuhan Konsumsi Tablet

Besi 4,570 1,174 17,788 0,028

Infeksi Malaria 20,216 4,773 85,620 0,001

Hasil analisis menunjukkan pada variabel kepatuhan diperoleh nilai OR 4,570, artinya ibu hamil yang tidak patuh mengonsumsi tablet besi memiliki peluang 4,6 kali menderita anemia dibandingkan yang patuh. Variabel infeksi

malaria diperoleh nilai OR 20,216, artinya ibu hamil yang terinfeksi malaria memiliki peluang 20,2 kali menderita anemia dibandingkan yang tidak terinfeksi.

Pada penelitian ini, variabel yang paling berhubungan dengan anemia pada ibu hamil adalah infeksi malaria.

BAB VI PEMBAHASAN

6.1. Hubungan Status Anemia Dengan Tingkat Kepatuhan Konsumsi Tablet Besi Pada Ibu Hamil

Hasil penelitian mendapatkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara status anemia dengan tingkat kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet besi, di mana kejadian anemia pada ibu hamil yang patuh mengonsumsi tablet besi lebih kecil dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak patuh yaitu sebesar 4,8% berbanding 30,1%. Semakin baik kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet besi semakin rendah risiko ibu hamil terkena anemia.

Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Hidayah dan Anasari (2012) yang mendapatkan bahwa ada hubungan antara kepatuhan ibu hamil mengonsumsi tablet besi dengan kejadian anemia dengan p = 0,005.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Wulandari (2010) di wilayah kerja Puskesmas Panti Kabupaten Jember yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kepatuhan mengonsumsi tablet tambah darah dengan anemia ibu hamil dengan p = 0,013. Juga sesuai dengan hasil penelitian Handayani dan Yuliastanti (2009) yang menemukan hubungan yang signifikan antara kepatuhan mengonsumsi tablet besi dan kejadian anemia pada ibu hamil dengan mendapatkan 2 hitung > 2 tabel (0,533 > 0,0039).

Nilai OR berdasarkan anemia pada ibu hamil adalah 4,570. Hal ini berarti bahwa ibu hamil yang tidak patuh mengonsumsi tablet besi menunjukkan

peningkatan odd kejadian sebesar 4,6 kali lebih besar terkena anemia dibandingkan dengan ibu hamil yang patuh. Dari nilai CI 95% dapat dilihat kemungkinan peningkatan odd di populasi dari mana sampel diambil sebesar 1,174 – 17,788.

Kehamilan menyebabkan terjadinya peningkatan volume plasma sebesar 30%, eritrosit sebesar 18% dan pertambahan hemoglobin sebesar 19%. Pada pertengahan kehamilan pertambahan volume plasma lebih besar daripada sel darah dan meningkat kembali pada akhir kehamilan (Hoffbrand, 2005).

Pengenceran darah (hemodilusi) mencapai puncaknya pada kehamilan 32-36 minggu. Bila hemoglobin ibu pada saat pra hamil 11 gr%, maka dengana adanya hemodilusi akan menimbulkan anemia kehamilan fisiologis dan hemoglobin ibu akan menjadi 9,5-10 gr% (Jafar, 2012).

Ibu hamil membutuhkan 1000 mg zat besi selama kehamilannya. Kebutuhan besi yang tinggi terus meningkat terutama pada trimester II-III kehamilan, yaitu sekitar 3,5 mg saat mendekati akhir trimester II dan 7 mg per hari pada trimester III. Jika kebutuhan tersebut tidak dapat terpenuhi melalui diet harian akan terjadi mobilisasi cadangan besi tubuh. Sebagian besar ibu hamil memiliki cadangan besi tubuh yang rendah sehingga rentan mengalami defisiensi besi atau anemia (Seri Ani, 2013).

Upaya Dinas Kesehatan Kota khususnya puskesmas untuk mendeteksi status anemia ibu hamil adalah melalui program pemeriksaan kadar hemoglobin pada ibu hamil. Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia pada ibu hamil dilakukan dengan pemberian tablet besi kepada setiap ibu hamil yang melakukan

pemeriksaan kehamilan. Suplementasi besi diperlukan ibu hamil selama masa

pemeriksaan kehamilan. Suplementasi besi diperlukan ibu hamil selama masa

Dokumen terkait