• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

5.3. Hasil Analisis

5.3.2. Pengaruh Manajemen Laba terhadap Kinerja Keuangan

Hipotesis lain dalam penelitian ini adalah manajemen laba berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Nilai Adjusted R Square diperoleh dari hasil pengolahan data dapat dilihat pada table 5.8 dibawah ini:

Tabel 5.8 Pengujian Kelayakan Model II

Model R R Square

Adjusted R

Square Std. Error of the Estimate

1 .071a .005 -.012 .2180494 a. Predictors: (Constant), Man.Laba

b. Dependent Variable: Kin.Keuangan

Dari tabel 5.8 diatas dapat disimpulkan sebagai berikut: Secara parsial pengaruh manajemen laba (DA) berpengaruh negatif terhadap CFROA dengan nilai

Adjusted R Square (0,12). Menurut Gujarati (2006), jika nilai adjusted R² negatif, maka nilai adjusted R² dianggap bernilai nol. Hal ini berarti 100% variabel kinerja keuangan yang proksikan dengan cash flow return on assets dijelaskan oleh faktor lain diluar model regresi.

Untuk melihat pengaruh manajemen laba terhadap kinerja keuangan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 5.9. Pengujian Kontribusi Pengaruh DA terhadap CFROA

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

Model B Std. Error Beta t Sig.

(Constant) .436 .031 14.128 .000 1

Man.Laba -.195 .358 -.071 -.545 .588

Dari tabel 5.9 diatas maka dapat disusun persamaan regresi sebagai berikut :

Y2 = 0,436 – 0,195 Y1 + 100

Model persamaan regresi sederhana diatas bermakna bahwa Manajemen Laba berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap Kinerja Keuangan dengan nilai koefisien berpengaruh sebesar (0,195), artinnya setiap pertambahan 1 Manajemen Laba akan mengurangi Kinerja Keuangan sebesar 0,097.

5.4. Pembahasan

Dari hasil pengujian diatas tidak ada satupun variabel independen yang berpengaruh signifikan terhadap varibel dependen, bahkan ada beberapa yang berpengaruh negatif seperti kepemilikan institusional terhadap manajemen laba, kepemilikan manajerial terhadap manajemen laba, proporsi dewan komisaris independen terhadap manajemen laba, dan manajemen laba terhadap kinerja keuangan artinya dari hasil penelitian ini tidak satupun hipotesis yang dapat diterima. Adjusted R square menunjukkan mekanisme Good Corporate Governance (GCG) berpengaruh kecil tehadap manajemen laba (DA = 4.4%), yang lainnya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Adjusted R Square menunjukkan manajemen laba berpengaruh negatif tehadap kinerja keuangan dengan nilai sebesar (0.012), yang berarti 100% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Hasil regresi menunjukkan bahwa variabel kepemilikan institusional berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap variabel discretionary accruals dengan

tingkat signifikan 5%. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan bahwa kepemilikan instutusional berpengaruh terhadap manajemen laba ditolak. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan Jensen dan Meckling (1976) ,Warfield et al., (1995), Dhaliwal et al., (1982), Morck et al., (1988) dan Pranata dan Mas’ud (2003) yang menemukan adanya pengaruh negatif. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan pandangan atau konsep yang mengatakan bahwa institusional adalah pemilik yang lebih memfokuskan pada current earnings (Porter, 1992 dalam Pranata dan Mas’ud 2003). Akibatnya manajer terpaksa untuk melakukan tindakan yang dapat meningkatkan laba jangka pendek, misalnya dengan melakukan manipulasi laba.

Variabel kepemilikan manajerial berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap discretionary accruals. Sehingga hipotesis kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap manajemen laba ditolak. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan Jensen dan Meckling (1976) ,Warfield et al., (1995), Dhaliwal et al., (1982), Morck et al., (1988), Pranata dan Mas’ud (2003) dan Cornett et al., (2006) yang menemukan adanya pengaruh negatif. Hasil ini menujukan bahwa kepemilikan manajerial tidak mampu menjadi mekanisme good corporate governance yang dapat mengurangi ketidakselarasan kepentingan antara manajemen dengan pemilik atau pemegang saham.

Variabel proporsi dewan komisaris independen berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap variabel discretionary accruals. Hipotesis yang menyatakan bahwa proporsi dewan komisaris independen berpengaruh terhadap manajemen laba

ditolak. Hasil penelitian mendukung penelitian yang dilakukan Dechow et al.,(1996), Klein (2002), Chtourou et al., (2001), Xie et al., (2003) dan Cornett et al., (2006) yang menemukan adanya pengaruh negatif. Hal ini dapat dijelaskan bahwa penempatan atau penambahan anggota dewan komisaris independen dimungkinkan hanya sekedar memenuhi ketentuan formal, sementara pemegang saham mayoritas (pengendali/founders) masih memegang peranan penting sehingga kinerja dewan tidak meningkat bahkan turun (Gideon, 2005). Kondisi ini juga ditegaskan dari hasil survai Asian Development Bank dalam Gidoen (2005) yang menyatakan bahwa kuatnya kendali pendiri perusahaan dan kepemilikan saham mayoritas menjadikan dewan komisaris tidak independen. Fungsi pengawasan yang seharusnya menjadi tanggungjawab anggota dewan menjadi tidak efektif.

Variabel komite audit berpengaruh positif (searah) tetapi tidak signifikan terhadap variabel discretionary accruals. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan bahwa komite audit berpengaruh terhadap manajemen laba ditolak. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Xie, et.al (2003) yang menemukan bahwa komite audit yang berasal dari luar mampu melindungi kepentingan pemegang saham dari tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh pihak manajemen.

Variabel discretionary accruals berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap cash flow return on assets. Sehingga hipotesis manajemen laba berpengaruh terhadap kinerja keuangan dalam penelitian ini ditolak. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan Pae (1999), Feltham dan Pae (2000)

dalam Gideon (2005), Theresia (2005) dan Gideon (2005). Lemahnya pengaruh tersebut dapat dikatakan bahwa cash flow return on assets merupakan salah satu pengukuran kinerja perusahaan dalam kategori cash flow measures yang dapat meniadakan pengaruh penggunaan perlakuan akuntansi yang berbeda terhadap suatu transaksi. Cash flow menunjukkan hasil yang dananya telah diterima tunai oleh perusahaan serta dibebani dengan beban yang bersifat tunai yang benar-benar sudah dikeluarkan oleh perusahaan (Pradhono, 2004).

Mekanisme Good Corporate Governance dalam hal ini kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris independen dan komite audit secara bersama-sama terhadap manajemen laba, teruji dengan tingkat pengaruhnya lemah, penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Boediono (2005), yang menguji tentang pengaruh mekanisme corporate governance dan dampak manajemen laba. Manajemen laba secara bersama-sama terhadap kinerja keuangan, teruji dengan tingkat pengaruh yang lemah.

Dalam penerapan Good Corporate Governance di perusahaan, pedoman yang mengatur bagaimana GCG di Indonesia baru diumumkan pada 17 Oktober 2006. Penelitian ini menggunakan data penelitian tahun 2006 – 2008, sebelum pedoman ini diberlakukan. Konteks pengaruh mekanisme Good Corporate Governanace, manajemen laba dan kinerja keuangan, faktor-faktor lain yang secara teoritis diduga turut mempengaruhi adalah leverage dan reputasi auditor dan latar belakang pendidikan komisaris independen dan komite audit. Faktor lain yang memungkinkan hipotesis penelitian ini tidak didukung adalah indicator GCG sebagai

variabel Independen hanya pada persentase saja, sementara ada hal lain yang dapat menentukan Komisaris Independen dan Komite audit seperti kemampuan, integritas, pendidikan dan persyaratan lain yang harus dipenuhi.

Masalah Kepemilikan Institutional dan Kepemilikan Manajerial juga harus diperhatikan, apakah dalam membeli saham ada banyak kepentingan pihak lain, sehingga apa yang diharapkan dengan lebih banyaknya kepemilikan institusi akan meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan tidak tercapai.

BAB VI

Dokumen terkait