• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1. Pengaruh Motivasi Perawat Terhadap Tindakan

Motivasi merupakan dorongan bagi seseorang berprilaku tertentu untuk mencapai keinginannya sehingga tercapai kesesuaian antara kebutuhan pribadi dengan tujuan organisasi. Kesesuaian akan dapat menimbulkan sinergi dalam mencapai kinerja organisasi. Hal ini juga tercermin di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Kota Medan tahun 2008, oleh sebab itu motivasi yang dinilai dalam penelitian ini adalah menyangkut 2 (dua) faktor yaitu faktor motivator dan higiene. Faktor motivator perawat meliputi: prestasi, tanggung jawab, dan pengembangan, sedangkan faktor higiene yang meliputi: kondisi kerja, status dan gaji.

5.1.1. Pengaruh Faktor Motivator Perawat Terhadap Tindakan Perawatan Pada Pasien Pasca Bedah di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Kota Medan tahun 2008

Faktor motivator berdasarkan teori Herzberg meliputi prestasi, tanggung jawab, dan pengembangan perawat. Faktor ini berasal dari diri individu, yang berhubungan dengan hasil yang berkaitan dengan isi tugas yang dilaksanakan.

5.1.1.1.Pengaruh prestasi terhadap tindakan perawatan di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Kota Medan tahun 2008

Faktor motivator pertama yaitu variabel prestasi. Dalam penelitian ini yang diukur dan menggambarkan prestasi perawat meliputi kebutuhan kenaikan jabatan,

pengaruh jabatan terhadap semangat kerja, dukungan untuk pencapaian prestasi, volume pekerjaan dan standar prestasi yang jelas.

Dari hasil penelitian menggunakan uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh prestasi terhadap pelaksanaan tindakan perawatan pada pasien pasca bedah.

Dari hasil ini menunjukkan bahwa, kenaikan jabatan bagi sebagian besar perawat akan mempengaruhi semangat kerja perawat tersebut. Akan tetapi di Rumah Sakit dr. Pirngadi Kota Medan, yang merupakan rumah sakit pemerintah, kenaikan jabatan perawat mempunyai tahapan-tahapan (prosedur) yang sudah ditetapkan. Pada ruang rawat inap bagian bedah jabatan tertinggi adalah kepala ruangan. Dalam pengawasan pekerjaan perawat, dilakukan oleh kepala ruangan dan CI (Clinical Instructor). Jabatan tersebut diperoleh tidak hanya berdasarkan prestasi perawat semata tetapi juga melalui pelatihan dan pendidikan yang harus diikuti perawat.

Dari pengamatan peneliti, di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Medan masalah jabatan merupakan masalah klasik, karena didapati perawat yang sudah bekerja >10 tahun masih bekerja sebagai perawat biasa, sedangkan yang baru bekerja <10 tahun sudah menduduki jabatan kepala ruangan. Hal ini menimbulkan kesenjangan yang akan mempengaruhi seseorang untuk berprestasi dan melaksanakan tindakan keperawatan dengan baik.

Prestasi kerja para pegawai merupakan bagian yang terpenting untuk proses organisasi dalam mengambil putusan tentang berbagai hal seperti identifikasi kebutuhan program pendidikan dan pelatihan, seleksi pegawai, imbalan untuk keseluruhan proses manajemen sumber daya manusia secara efektif (Siagian, 2006).

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Juliani (2007) yang menemukan bahwa prestasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perawat pelaksana di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Medan.

Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan Rohayati (2003) yang melakukan penelitian tentang hubungan motivasi kerja terhadap kinerja perawat dalam memberikan pelayanan untuk pasien didapat adanya hubungan yang signifikan antara prestasi dan kinerja perawat. Berdasarkan data deskriptif penelitian tersebut menunjukkan bahwa prestasi perawat dalam kategori baik dan lebih banyak yang menyatakan setuju terhadap pelaksanaan kerja (71,43%).

5.1.1.2.Pengaruh tanggung jawab perawat terhadap tindakan perawatan di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Kota Medan tahun 2008

Variabel tanggung jawab perawat yang diukur dalam penelitian ini meliputi pelaksanaan tindakan perawat tepat waktu sesuai dengan standar perawatan kebutuhan dan batas kemampuan, pelayanan keperawatan langsung berdasarkan proses perawatan dengan penuh tanggung jawab, pelaksanaan tugas sesuai dengan jadwal tugas yang diberikan, menata dan persiapan alat-alat di ruangan menurut fungsi agar siap dipakai, serta tugas dan tanggung jawab diberi sesuai dengan pendidikan.

Dari hasil penelitian menggunakan uji statistik menunjukkan bahwa terdapat pengaruh tanggung jawab terhadap pelaksanaan tindakan perawatan pada pasien pasca bedah. Perawat yang bertanggungjawab menganggap bahwa dengan melakukan tindakan sesuai dengan prosedur keperawatan pada pasien pasca bedah maka akan membantu proses kesembuhan pasien. Sedangkan perawat yang kurang bertanggungjawab dengan tindakan kurang baik, ini kemungkinan disebabkan penyusunan deskripsi pekerjaan yang tidak jelas, untuk itu sebaiknya perawat menyesuaikan pekerjaan agar tetap relevan dengan deskripsi pekerjaan melalui perbaikan secara periodik dan sistematis. Selain itu adanya anggapan sebagian perawat bahwa tanggungjawab perawat sebatas penyembuhan pasien tanpa memperhatikan prosedur pencegahan infeksi dengan benar dan komplikasi lainnya.

Pengamatan peneliti di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Medan bahwa tugas yang diberikan pada perawat sebagian masih tidak sesuai dengan tingkat pendidikan perawat tetapi berdasarkan lama bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Medan.

Sesuai dengan penelitian yang dilakukan Juliani (2007) adanya pengaruh tanggung jawab terhadap kinerja perawat pelaksana. Data deskriptif menunjukkan bahwa tanggung jawab terbesar dari perawat pelaksana adalah pelaksanaan perawatan untuk pasien.

Hal ini sesuai dengan pelaksana perawatan di ruangan adalah tenaga perawat profesional yang diberi wewenang untuk melaksanakan pelayanan keperawatan di ruangan dengan persyaratan berijazah pendidikan formal keperawatan, semua jenjang

yang disahkan oleh pemerintah atau yang berwenang. Pelaksana perawat bertanggungjawab secara administrasi fungsional kepada kepala ruangan, sedangkan secara teknis medis operasional bertanggungjawab kepada dokter ruang rawat / dokter penanggung jawab ruangan (Dep.Kes RI, 1994)

Sesuai dengan ciri dari praktek keperawatan profesional secara umum adalah memiliki otonomi, bertanggungjawab dan bertanggung gugat (accountability) menggunakan metode ilmiah berdasarkan standar praktek dan kode etik profesi dan memiliki aspek legal (Arwani, 2006).

Sesuai dengan Hidayat (2004) bahwa fungsi perawat merupakan suatu pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan perannya. Fungsi tersebut dapat berubah disesuaikan dengan keadaan yang ada. Dalam menjalankan perannya, perawat akan melaksanakan berbagai fungsi diantaranya: fungsi independen, fungsi dependen dan fungsi interdependen.

Tindakan keperawatan yang langsung diberikan kepada klien pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan, dengan metodologi proses keperawatan, berpedoman pada standar keperawatan, yang dilandasi pada kode etik. Keperawatan dalam lingkup wewenang serta tanggung jawab keperawatan (Arwani, 2006).

Berdasarkan hasil yang dilakukan peneliti, terlihat bahwa tanggung jawab merupakan faktor yang penting dalam pelaksanaan tindakan keperawatan pada pasien pasca bedah, karena perawat secara langsung memberi tindakan (asuhan keperawatan) kepada pasien. Jika perawat tidak bertanggungjawab terhadap pelaksanaan tindakan maka akan terjadi hal yang tidak diinginkan seperti terjadinya

infeksi nosokomial yaitu penularan infeksi yang terjadi di rumah sakit karena tindakan yang tidak sesuai dengan teknik steril, kecacatan pada pasien (malpraktik) sampai kehilangan nyawa pasien. Untuk itu kepala ruangan harus melakukan pengawasan melekat (waskat) pada bawahannya, agar tanggung jawab perawat dalam melaksanakan pekerjaan (tindakan keperawatan) terus meningkat. Salah satu langkah yang dapat ditempuh yaitu dengan menegakkan disiplin dan menerapkan sanksi bagi perawat yang menyalahi prosedur tindakan.

5.1.1.3.Pengaruh pengembangan perawat terhadap tindakan perawatan di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Kota Medan tahun 2008

Variabel pengembangan yang diukur dalam penelitian ini adalah meliputi perawat selalu mendapatkan informasi secara merata untuk menambah keterampilan perawat, adanya pengawasan dalam tindakan perawatan, rumah sakit dalam pengembangan keterampilan perawat memberikan kesempatan untuk dipromosikan dalam kenaikan pangkat dan jabatan, kesempatan pelatihan diberikan secara bergantian dan pelatihan diberikan pada tiap perawat, dan diberi izin untuk mendapatkan pendidikan dalam peningkatan keterampilan perawatan.

Dari hasil penelitian menggunakan uji statistik menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pengembangan terhadap pelaksanaan tindakan perawatan pada pasien pasca bedah. Umumnya perawat di ruang pasca bedah rawat inap Rumah Sakit Pirngadi Kota Medan tahun 2008 telah mampu melaksanakan tindakan perawatan pada pasien pasca bedah, tetapi tidak semuanya mampu melaksanakan dengan baik. Perawat akan mempunyai motivasi yang tinggi dan kreatif jika perawat diberikan peluang untuk berkembang, namun tidak semua perawat mendapatkan kesempatan untuk pengembangan..

Latihan dan pengembangan memiliki manfaat karir jangka panjang yang membantu karyawan, lebih besar di waktu yang akan datang. Pengembangan pendidikan adalah satu proses seumur hidup, oleh karena itu program latihan dan pengembangan karyawan harus bersifat kontinu dan dinamis (Handoko, 2001).

Hal ini sejalan dengan penelitian Sinamo (2002) bahwa pekerjaan akan mencapai sukses tertinggi bila pekerja memiliki kemauan yang terus menerus untuk belajar dan berubah untuk meningkatkan kemampuan.

Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Hidayat (2004), bahwa keperawatan merupakan pekerjaan sebagai profesi yang didasari ilmu serta keterampilan yang harus terus dikembangkan.

Penelitian Sihotang (2006) di Rumah Sakit Doloksanggul yang meneliti pengaruh motivasi terhadap produktivitas kerja perawat menunjukkan bahwa pengembangan perawat dinilai tidak jelas. Dari data terlihat bahwa menurut pegawai honor, yang mendapat kedudukan hanyalah yang sudah diangkat sebagai pegawai tetap.

Berdasarkan hasil penelitian, terlihat bahwa sebagian besar perawat berkembang dalam arti perawat diberikan kesempatan oleh rumah sakit mengikuti pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dalam tindakan keperawatan. Sesuai dengan keperawatan sebagai profesi, perawat dalam melakukan pekerjaan (asuhan perawatan) harus didasarkan perkembangan ilmu pengetahuan serta harus memiliki keterampilan dalam bidang keahliannya.

5.1.2. Pengaruh Faktor Higiene Perawat Terhadap Tindakan Perawatan pada Pasien Pasca Bedah di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Kota Medan Tahun 2008

Faktor higiene merupakan faktor ekstrinsik, jika faktor ini ada akan menimbulkan kepuasan seseorang, sebaliknya jika tidak ada akan menimbulkan ketidakpuasan. Hal ini juga tercermin di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Kota Medan tahun 2008 oleh sebab itu faktor higiene yang dinilai dalam penelitian ini adalah meliputi kondisi kerja, status dan gaji.

5.1.2.1.Pengaruh kondisi kerja terhadap tindakan perawatan di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Kota Medan tahun 2008

Variabel kondisi kerja yang diukur dalam penelitian ini adalah meliputi tersedia fasilitas dan perlengkapan yang mendukung untuk melayani pasien, keselamatan dan keamanan kerja terjamin, situasi lingkungan kerja baik dan menyenangkan, kemampuan bekerjasama antar sesame teman perawat, dan adanya perhatian rumah sakit pada perawat.

Dari hasil penelitian menggunakan uji statistik menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kondisi kerja terhadap pelaksanaan tindakan perawatan pada pasien pasca bedah.

Sesuai dengan penelitian dan wawancara mendalam diketahui bahwa suasana kerja di ruang rawat inap belum kondusif akibatnya pelaksanaan perawatan pada pasien tidak dapat dilaksanakan secara optimal.

Hasil ini sejalan dengan penelitian Ubaydillah dalam Anggraini (2007) menemukan bahwa rasa jenuh dan bosan terhadap pekerjaan jika pekerjaan itu monoton, merasa tidak bangga terhadap profesi atau pekerjaan, dan merasa kehilangan gairah dalam pekerjaan.

Penelitian Djokosoetono dalam Anggraini (2007) juga menemukan hasil yang hampir sama bahwa kondisi kerja berinteraksi dengan dorongan untuk berkembang, perasaan tanggung jawab terhadap hasil pekerjaan menghasilkan secara positif perasaan bahwa pekerjaan berarti.

Demikian juga dengan penelitian Darmayanti dalam Anggraini mengatakan bahwa motivasi dapat pula diciptakan dengan mengadakan pengaturan kondisi kerja yang sehat. Hal ini menimbulkan motivasi kerja sehingga keinginan seseorang untuk melakukan pekerjaan dalam bentuk keahlian, keterampilan, tenaga dan waktunya untuk melaksanakan pekerjaan.

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi kerja merupakan faktor yang penting bagi perawat dalam melaksanakan tindakan perawatan, karena dengan kondisi kerja yang baik maka dalam melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien pasca bedah juga akan menjadi lebih baik.

5.1.2.2.Pengaruh status kerja terhadap tindakan perawatan di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Kota Medan tahun 2008

Variabel status kerja yang diukur dalam penelitian ini adalah meliputi perawat memiliki sertifikasi resmi, jabatan sesuai dengan jenjang pendidikan, peraturan kerja telah ditetapkan rumah sakit jelas, mendapat kesempatan untuk posisi yang lebih tinggi, dan kesempatan kenaikan jabatan disesuaikan dengan prestasi.

Dari hasil penelitian menggunakan uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh status terhadap pelaksanaan tindakan perawatan pada pasien pasca bedah. Terlihat bahwa perawat yang berstatus kurang baik maupun yang baik lebih banyak melakukan tindakan perawatan pasien pascabedah kurang baik.

Pelayanan keperawatan profesional yaitu praktek keperawatan yang dilakukan oleh perawat didasarkan atas profesi keperawatan. Ciri dari praktek keperawatan profesional secara umum adalah memiliki otonomi, bertanggung jawab dan

bertanggung gugat (accountability) menggunakan metode ilmiah berdasarkan standar praktek dan kode etik profesi dan memiliki aspek legal (Arwani, 2006).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan terlihat bahwa status perawat di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Medan kurang baik, hal ini diduga karena jabatan yang diperoleh perawat tidak sesuai dengan jenjang pendidikan yang dimilikinya, seperti kepala ruangan berpendidikan D-III Keperawatan. Status perawat yang baik harus sesuai dengan standard keperawatan yaitu memiliki legalitas dan jenjang pendidikan serta keahlian (keterampilan) yang sesuai dengan pekerjaan.

5.1.2.3. Pengaruh gaji terhadap tindakan perawatan di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Kota Medan tahun 2008

Variabel gaji yang diukur dalam penelitian ini adalah meliputi besar gaji yang diterima perawat sesuai dengan pekerjaan dan jenjang pendidikan, gaji perawat sesuai waktu yang ditentukan pembayarannya, perawat mendapat insentif tambahan atas satu prestasi atau kerja ekstra dan diberikan secara merata, permasalahan gaji yang diterima dapat dilaporkan pada pihak rumah sakit, dan dilakukan penilaian pada perawat atas kerja yang dilakukan untuk mendapat pembedaan gaji atau barang, jasa atau kombinasi.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel gaji tidak dapat dilakukan uji Chi Square karena seluruh perawat menyatakan bahwa gaji kurang baik. Dari penelitian ini terlihat bahwa gaji yang diberikan oleh pihak rumah sakit umum dr. Pirngadi kurang membuat perawat termotivasi terbukti dengan perawat menjawab kurang baik pada penilaian gaji.

Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sihotang (2006) bahwa rendahnya kinerja perawat untuk melakukan pekerjaan akibat honor yang didapat sedikit, terlihat dari perawat selalu terpikir untuk mendapatkan pekerjaan di luar rumah sakit dalam mencukupi kebutuhan.

Berdasarkan hasil penelitian ini, terlihat bahwa gaji yang diperoleh perawat baik yang honorer dan pegawai negeri sipil dinilai kurang, baik untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari maupun kurang dalam sistem penggajian rumah sakit misalnya gaji yang diperoleh tidak sesuai dengan pekerjaan dan jenjang pendidikan perawat. Perawat menginginkan adanya insentif tambahan atas pekerjaan ekstra (misalnya mendapatkan imbalan untuk pekerjaan yang dilakukan di luar jam kerja) dan dibagi secara merata.

Dokumen terkait