• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

3. Model Summary

5.1.4. Pengaruh Motivasi terhadap Kinerja Bidan

Ishak dan Hendri (2003), mengatakan bahwa manfaat motivasi yang utama adalah menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas kerja meningkat. Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja dengan orang-orang yang termotivasi adalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat. Artinya pekerjaan diselesaikan

sesuai standar yang benar dan dalam skala waktu yang sudah ditentukan, serta orang senang melakukan pekerjaannya.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa hanya ada 1 (8.3%) dari 12 responden yang motivasinya tidak baik, memiliki kinerja baik. Sementara responden yang motivasinya baik, memiliki kinerja baik yaitu sebanyak 53 (91.4%) dari 58 responden. Setelah dilakukan analisis multivariat dengan uji regresi logistik, variabel motivasi berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja bidan dalam pelaksanaan program Jaminan Persalinan (Jampersal) di Kota Padangsidimpuan, dengan p-value=0.036 (p-value < 0.05).

Hasil penelitian tersebut senada dengan Surani (2007), dengan judul penelitian “Analisis Karakteristik Individu dan Faktor Instrinsik yang Berhubungan dengan Kinerja Bidan Pelaksana Poliklinik Kesehatan Desa dalam Pelayanan Kesehatan Dasar di Kabupaten Kendal. Penelitian ini merupakan penelitian analitik, dengan pendekatan belah lintang (cross sectional). Diperoleh hasil bahwa motivasi berhubungan secara signifikan dengan kinerja bidan (p-value =0,0001). Sementara hasil penelitian Darsiwan (2002), memperoleh hasil bahwa tidak ada hubungan secara signifikan antara motivasi kerja dengan kinerja bidan dalam Pertolongan Persalinan (p-value =0,626).

Beberapa hal yang membuat beberapa bidan kurang termotivasi terhadap Program Jampersal adalah karena program jampersal juga diberlakukan bagi ibu yang tergolong mampu. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Program Jampersal

memang berlaku untuk semua kalangan, baik kaya maupun miskin. Untuk mendapatkan pelayanan program tersebut cukup gampang, masyarakat cukup memberikan KTP saja dan tidak perlu memberikan keterangan surat kurang mampu, karena program tersebut berlaku untuk semua masyarakat baik kaya maupun miskin.

Menurut bidan, seharusnya Jampersal khusus untuk para ibu yang tidak mampu.

Sehingga bagi para ibu yang berkecukupan secara ekonomi, rasanya kurang tepat bila melayani pasien persalinan orang kaya menggunakan Jampersal, apalagi banyak permintaan. Sehingga persepsi bidan tersebut mempengaruhi kinerja bidan terhadap pelaksanaan program Jaminan Persalinan dalam pemberian pelayanan kesehatan.

Agar bidan tidak memiliki persepsi salah terhadap program Jampersal, maka program Jampersal harus lebih disosialisaikan lagi. Menurut Edward (1999), dimensi kemunikasi sangat menentukan dalam berhasilnya suatu program. Oleh karena itu penyampaian pesan merupakan hal yang mutlak harus diperhatikan. Persyaratan utama bagi implementasi yang efektif adalah bahwa para pelaksana kebijakan harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan, keputusan kebijakan harus disalurkan.

Komunikasi kebijakan memiliki beberapa macam dimensi, antara lain dimensi transformasi, kejelasan, dan konsistensi. Dimensi transformasi menghendaki agar kebijakan dapat ditransformasikan kepada para pelaksana, kelompok sasaran, dan pihak lain yang terkait dengan kebijakan. Dimensi kejelasan menghendaki agar kebijakan yang ditransmisikan kepada para pelaksana, target grup, dan pihak lain yang berkepentingan langsung maupun tidak langsung terhadap kebijakan dapat

diterima dengan jelas sehingga diantara mereka mengetahui apa yang menjadi maksud, tujuan, dan sasaran serta substansi dari kebijakan publik tersebut.

Selain masalah kepesertaan Program Jampersal yang berlaku untuk semua ibu tanpa memandang sosial ekonominya, dari hasil juga diketahui bahwa sebesar 37,1%

bidan mengatakan tidak tertantang untuk bekerja semaksimal mungkin melaksanakan tugas sebagai bidan dalam pelaksanaan program Jampersal. Bidan akan tertantang untuk bekerja maksimal bila layanan Jampersal di Kota Padangsidimpuan hanya diperuntukan bagi ibu hamil yang mempunyai resiko tinggi. Misalnya, umur si ibu kurang dari 16 tahun atau lebih dari 35 tahun, tingginya kurang dari satu meter, juga punya riwayat penyakit. Dengan adanya petunjuk seperti itu, diharapkan para ibu hamil yang mempunyai kondisi normal tidak lagi berbondong-bondong ingin melahirkan di tempat praktik bidan secara gratis serta memanfaatkan program Jampersal.

Di luar semua masalah yang berkaitan dengan motivasi bidan terhadap Program Jampersal, namun secara keseluruhan diketahui bahwa semua bidan memiliki tujuan ikut program Jampersal karena keinginannya untuk ikut serta dalam menurunkan angka kematian ibu dan anak, dan akan tetap memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien, meskipun ekonomi mereka tergolong mampu namun merupakan pasien Jampersal (70,0%), serta bekerja sesuai dengan standar pelayanan kebidanan agar program Jampersal dapat tercapai (100,0%).

Kecenderungan ini mendukung teori yang menyatakan bahwa jika seseorang

termotivasi, maka dia akan berusaha keras. Motivasi mempunyai arti mendasar sebagai inisiatif penggerak perilaku seseorang secara optimal, hal ini disebabkan karena motivasi merupakan kondisi internal, kejiwaan dan mental manusia seperti aneka keinginan, harapan, kebutuhan, dorongan dan kesukaan yang mendorong individu untuk berperilaku kerja untuk mencapai kepuasan atau mengurangi ketidakseimbangan (Gibson, 2000). Tangkilisan (2005), mengatakan bahwa keberhasilan implementasi kebijakan bukan hanya ditentukan oleh sejauh mana pelaku kebijakan mengetahui apa yang harus dilakukan dan mampu melakukannya, tetapi juga ditentukan oleh motivasi para pelaku kebijakan terhadap kebijakan yang sedang diimplementasikan.

Insentif merupakan salah satu cara memotivasi tenaga bidan agar bidan dapat memberikan kinerja terbaiknya, maka pemberian insentif yang sesuai dengan tarif yang ditetapkan Peraturan Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 2562/MENKES/PER/XII/2011 merupakan salah satu bentuk kebijakan dalam meningkatkan motivasi bidan agar memberikan kinerja yang baik dalam meningkatkan pelayanan yang berkaitan dengan pelaksanaan program Jampersal.

Dari hasil wawancara diketahui bahwa sebesar 55 (78,6%) bidan mengatakan bahwa insentif yang mereka terima akan dapat meningkatkan gairah kerja yang lebih tinggi.

Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa insentif dalam bentuk uang (finansial) dan non uang (non finansial) termasuk salah satu faktor motivasi ekstrinsik yang dapat meningkatkan kinerja provider bidan dalam pelaksanaan program Jampersal.

Kepuasan terhadap imbalan/uang insentif terkait dengan persepsinya terhadap

perbandingan antara apa yang diperolehnya dari pekerjaan berupa gaji/insentif dan upaya yang dicurahkannya dengan perbandingan yang sama diperoleh oleh orang lain (Gibson, 2000).

5.2. Pengaruh Faktor Organisasi terhadap Kinerja Bidan 5.2.3. Pengaruh Sumber Daya terhadap Kinerja Bidan

Sumber daya peralatan merupakan sarana yang digunakan untuk operasionalisasi implementasi suatu kebijakan Terbatasnya fasilitas yang tersedia, kurang menunjang efisiensi dan tidak mendorong motivasi para pelaku dalam melaksanakan kebijakan (Tangkilisan, 2005).

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa hanya ada 1 (7.1%) dari 14 responden yang memiliki sumber daya tidak baik, namun kinerjanya baik. Sementara responden yang sumber dayanya baik, memiliki kinerja baik sebanyak 53 (94.6%) dari 56 responden. Setelah dilakukan analisis multivariat dengan uji regresi logistik, variabel sumber daya berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja bidan dalam pelaksanaan program Jaminan Persalinan (Jampersal) di Kota Padangsidimpuan, dengan p-value=0.020 (p-value < 0.05).

Hasil penelitian tersebut sejalan dengan Setiawan (2007), memperoleh hasil bahwa sumber daya berhubungan secara signifikan dengan kinerja bidan dalam pertolongan persalinan (p-value = 0,001). Ketersedian sumber daya dalam bentuk sarana pelayanan sebagai salah satu faktor pendukung juga dikemukakan

Gitosudarmo, dkk., (2000), yang mengatakan bahwa faktor pendukung yang tidak boleh dilupakan adalah sarana atau alat dalam pelaksanaan tugas pelayanan, sarana pelayanan yang dimaksud disini adalah segala jenis peralatan, perlengkapan kerja dan fasilitas lain yang berfungsi sebagai alat utama/pembantu dalam pelaksanaan pekerjaan.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa masih ada bidan yang mengatakan bahwa sumber daya yang mereka miliki belum memadai dalam melakukan praktik kebidanan. Hal tersebut diketahui dari hasil kuesioner yang menunjukkan sebesar 18,6% bidan mengatakan bahwa transportasi tidak tersedia untuk merujuk ibu hamil dengan cepat jika terjadi kegawat daruratan ibu dan janin, sebesar 30,0% bidan mengatakan bahwa peralatan praktek tidak lengkap, sebesar 12,9% bidan mengatakan bahwa perlengkapan penting untuk memantau tekanan darah dan memberikan cairan IV (set infuse, Ringer laktat dan alat suntik sekali pakai) tidak tersedia, dan sebesar 12,9% bidan mengatakan bahwa obat anti hipertensi yang dibutuhkan untuk kegawatdaruratan (mis: Magnesium Sulfat, kalsium glukonas) tidak tersedia.

Hasil penelitian ini sejalan dengan teori motivasi yang dikemukakan oleh Herzberg dalam Luthans (2003), bahwa dengan didukungan oleh peralatan yang memadai, karyawan akan produktif dalam bekerja sehari-hari. Robbin (2006), menyatakan bahwa dimensi baru yang menentukan kinerja seseorang, yaitu kesempatan. Menurutnya, meskipun seseorang bersedia (motivasi) dan mampu

(kemampuan). Mungkin ada rintangan yang menjadi kendala kinerja seseorang, yaitu kesempatan yang ada, mungkin berupa lingkungan kerja tidak mendukung, dan peralatan yang belum memadai.

Menurut Timple (1992), fasilitas kerja berhubungan dengan penampilan kerja, dimana fasilitas diperlukan agar keterampilan petugas bisa dilaksanakan sehingga motivasi petugas meningkat yang akan meningkatkan kinerja petugas. Lebih lanjut Azwar (1996), menambahkan bahwa sarana/alat merupakan suatu unsur dari organisasi untuk mencapai suatu tujuan.

Dokumen terkait