Pelatihan loncat rintangan dengan variasi lari cepat adalah meloncat dengan posisi awalnya kedua kaki rapat, ditekuk dengan sudut kira – kira 1100, bedan condong ke depan, kedua lengan di samping badan, menolakkan kedua tungkai ke depan atas bersamaan dengan ayunan kedua lengan ke depan atas sejauh – jauhnya, saat mendarat lutut sedikit ditekuk seperti permulaan sebagai awalan untuk melakukan lompatan yang sama, lompatan dilakukan dari baseline sampai di net, selanjutnya dari net kembali ke baseline dengan cara berlari.
Pengaruh pelatihan terhadap otot sebagai berikut:
1. Pengaruh terhadap otot tulang
Otot yang terlatih pada umumnya menjadi lebih besar dan lebih kuat, dari pada otot yang tidak terlatih ukuran penampang lintangnya dan
volumenya menjadi lebih besar. Pelatihan loncat ke depan yang dilaksanakan dengan repetisi dan set sistem otot setempat dalam pelatihan banyak sekali pembuluh darah terkecil yang terbentuk baru, dengan meniadakan atau menutup pembuluh kapiler yang tidak bekerja. Fungsi pembuluh kapiler yang diantarkan persatuan waktu kepada sistem otot yang bekerja, demikian pula pengaruhnya pada tulang - tulang sistem kerangka dimana tulang-tulang itu menjadi lebih besar dan lebih berat karena pembentukan zat yang baru ( Sana,1993).
2. Kekuatan otot - otot
Kekuatan otot-otot kaki berfungsi sebagai penyangga berat tubuh, meloncat kelentukan sangat penting dan perlu dilaksanakan karena dapat memperbaiki keluwesan dan kekenyalan, mengembangkan aliran darah yang lebih efisien dalam jaringan kapiler untuk mengurangi cedera (Kosasih, 1996).
3. Daya tahan otot
Daya tahan otot adalah kemampuan otot skeletal untuk melakukan kontraksi atau gerakan berulang-ulang dalam jangka waktu lama dengan beban tertentu (Nala, 2002). Daya tahan otot banyak terjadi kombinasi antara anaerobik dan aerobik (Suharno, 1988). Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tahan otot adalah : (1) kehilangan glikogen otot (bahan bakar utama otot); (2) kehilangan cadangan lemak (bahan bakar skunder untuk otot); (3) rendahnya kadar gula darah yang biasa disebut hipoglikemia gula darah adalah sumber bahan bakar sekunder bahan bakar otot; (4) tidak adanya
oksigen yg disebut hipoksia; (5) penimbunan asam laktat, produk pemecahan pada waktu berlatih tanpa oksigen; (6) bertambahnya panas di dalam otot yang disebut hipertemia (Markin dan Haffman, 1984).
Ada dua jenis daya tahan otot yakni, daya tahan statis dan daya tahan dinamis. Pada daya tahan otot statis akan terjadi kontraksi otot isometrik (tonus otot meningkat tetapi panjang otot tetap tidak ada gerakan), sedangkan pada pada daya tahan dinamis akan terjadi kontraksi otot isotonik (tonus otot tetap sejak awal gerakan sampai akhir gerakan) dan isokenetik (kegerakan tetap) (Suharno, 1982).
Dalam tubuh manusia terdapat adenosin trifosfat (ATP), yaitu bentuk energi kimia yang dapat digunakan segera untuk berkontraksi otot yang ada dalam seluruh sel otot. Energi yang dibutuhkan untuk pembentukan atp berasal dari energi yang diabsorbsi selama pemecahan zat makanan atau bahan makanan dalam tubuh. Energi kontinyu atau penyediaan energi dalam suatu kegiatan dapat dibedakan menjadi empat katagori, masing-masing katagori tersebut adalah sebagai berikut:
Katagori I Apabila aktivitas yang memerlukan waktu 30 detik energi yang digunakan adalah dalam energi fosfagen.
Katagori II Aktivitas yang memerlukan waktu 30-90 detik sistem energi yang digunakan adalah ATP + PC dan asam lemak.
Katagori III Aktivitas yang memerlukan waktu satu, tiga, lima menit sistem energi yang digunakan adalah asam laktat dan aerobic.
Katagori IV Aktivitas yang memerlukan waktu lebih dari 3 menit system energi yang digunakan adalah sistem energi aerobic (fox, 1983).
4. Daya ledak otot
Daya ledak otot adalah kemampuan otot untuk melakukan kerja secara ledakan (tiba-tiba dan kuat). Tenaga ledak ini sangat dipengaruhi oleh kekuatan dan kecepatan reaksi otot (Nala, 2002). Daya ledak ini sangat diperlukan pada cabang-cabang olahraga yang memerlukan kekuatan tungkai, seperti : loncat tinggi, lompat jauh, sprint, dan lain-lain, untuk lengan seperti lempar lembing, smash bola voli, smash bulu tangkis, dan lain-lain, Gerakan ini dilakukan secara tiba-tiba dengan kekuatan penuh dan cepat.
Untuk mengukur tenaga ledak ini dipergunakan secara melompat ke atas tanpa awalan (vertical jump), satuannya adalah cm. Atau dengan lompat jauh tanpa awalan. Untuk meningkatkan daya ledak ini, maka pelatihan diarahkan pada peningkatan kekuatan dan kecepatan reaksi otot, terutama pada otot-otot tungkai dan lengan (Nala, 2002).
Dari definisi di atas dapat dinyatakan bahwa daya ledak adalah kemampuan otot untuk berkontraksi dengan kekuatan maksimal dalam waktu singkat.
2.4Teknik block
Pada saat melakukan bloking, sikap awal berdiri dengan kaki sejajar, badan menghadap pada jaring. Kedua tangan berada di depan dada. Untuk awalan tolakan maka lutut ditekuk agak dalam, togok dengan demikian menjadi condong kedepan. Setelah mengambilan posisi ini kemuduan diteruskan dengan tolakan-tolakan ke atas dengan kedua kaki secara eksplosip dan kuat. Begitu badan keseluruhan terangkat ke atas maka tangan dijulurkan ke atas. Jari-jari membuka dengan maksud agar kedua tangan merupakan satu bidang yang luas. Lengan dalam keadaan lurus dan condong ke depan.
Setelah melayang di udara maka pada saat bola dipukul oleh smasher, segeralah tangan dihadapkan kearah datangnya bola dan bloker berusaha menguasai bola tersebut. Pada saat perkenaan tangan dengan bola, pergelangan tangan digeserkan secara eksplosif agar tangan dapat menekan bola dari arah atas depan ke bawah secara kuat. Jari-jari kedua tangan pada saat perkenaan ditegangkan agar tangan da jari dalam keadaan cukup kuat untuk menerima tekanan bola yang berat.
Saat perkenaan yang baik adalah bila pada saat sebelum pukulan tangan bloker benar-benar telah dapat mengurung bola. Setelah bola mengenai tangan maka segera tangan ditarik dan posisi tangan berada pada posisi seperti pada saat persiapan. Selanjutnya mendarat kembali dengan tumpuan dua kaki. Setelah itu segeralah blocker mengambil sikap siap seperti pada saat sikap persiapan (Suharno, 1982). Untuk meninggkatkan tinggi loncatan block perlu adanya pelatihan.
2.5 Pelatihan
Pelatihan merupakan suattu gerakan fisik atau aktivitas mental yang dilakukan secara sistematis dan berulang-ulang ( repetitif) dalam jangka waktu (durasi) lama dengan pembebanan meningkat secara progresif, ( Nala, 2002). Pelatihan adalah aktivitas atau pelajaran untuk membiasakan atau memperoleh suatu kecakapan (Manuaba,1983). Pelatihan adanya pengulangan sesuatu yang dilakukan secara teratur dan berencana dengan takaran tertentu, sehingga menyebabkan terjadinya suatu perubahan baik itu perubahan fisik maupun perubahan lainnya. Sedangkan perubahan itu sendiri adalah jumlah rangsangan yang dilaksanakan pada jarak – jarak waktu tertentu dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi ( Jonath, 1989).
Pelatihan adalah suatu rangsangan yang dilakukan dengan teratur untuk meningkatkan kemampuan pelajaran untuk membiasakan atau memperoleh suatu kecakapan, misalnya gerak badan ( Poerwadarminta, 1990).
Pelatihan adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terus menerus dengan pembebanan yang meningkat secara nertahap sehingga menyebabkan perubahan (Harsono, 1982).
Berdasarkan pendapat di atas maka dapatlah disimpulkan yang dimaksud dengan pelatihan adalah sejumlah rangsangan yang dilakukan secara sistematis, berulang-ulang yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi. Pelatihan dalam tesis ini adalah ada perbedaan pelatihan loncat rintangan 50 cm dengan variasi lari cepat 5 meter 10 repetisi 3 set dan 5 repetisi 6 set terhadap ketinggian loncatan blok.
2.5.1 Takaran pelatihan
Takaran pelatihan merupakan ukuran untuk menentukan kuantitas dan kualitas suatu pelatihan. Takaran pelatihan meliputi: tipe dari aktivitas, intensitas (repetisi, set, beban , interval istirahat), lama pelatihan dan fase pelatihan, yaitu fase pemanasan, fase pelatihan dan fase pendinginan (Nala, 1986). Sesuai dengan bobot pelatihan fisik, maka takaran pelatihan meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Tipe pelatihan
Tipe pelatihan dipilih terlebih dahulu sebelum ditetapkan besara kecilnya takaran pelatihan berupa : intensitas, volume, densitas atau frekuensi. Tipe pelatihan yang akan dipilih disesuaikan dengan komponen biomotorik yang dibutuhkan pada cabang olahraga yang akan dilatih. Untuk meningkatkan daya ledak otot jenis pelatihan yang paling efektif adalah
pelatihan pelatihan loncat rintangan dengan variasi lari cepat 5 meter. Ini adalah latihan untuk mempertajam kekuatan otot tungkai, sehingga dapat mempengaruhi tingginya loncatan block.
2. Intensitas latihan
Komponen latihan menunjukan komponen kualitatif yang harus ditetapkan sebelum menentukan volume dan frekuensi suatu pelatihan. Derajad intensitas dapat diukur sesuai dengan tipe pelatihan atau aktivitas yang dilakukan (Nala, 2002). Tingkat intensitas berdasarkan kualitas yang menyangkut kecepatan atau kekuatan dari suatu aktifitas ditentukan oleh besar kecilnya persentase dari kemampuan maksimalnya, menurut Bompa (1993) terdiri dari intensitas rendah (30-50% kemampuan maksimum) sampai intensitas supermaksimal (100-105% dari kemampuan maksimal). Sedangkan intensitas berdasarkan atas dasar durasi atau lamanya aktivitas dan sistem energi yang dipergunakan, misalnya membagi intensitas berdasarkan frekuensi denyut nadi selama kerja yaitu intensitas rendah (120-150 denyut nadi per-menit), sedang (150-170 denyut nadi per-menit), tinggi (170-185 denyut nadi per menit) dan maksimal lebih besar dari 185 denyut nadi per-menit. Intensitas pelatihan yang digunakan dalam pelatihan ini adalah intensitas sub maksimal (80%) sesuai untuk pemula (Nala,2002).
3. Volume latihan
Volume pelatihan merupakan komponen takaran kuantitatif yang paling penting dalam setiap pelatiha. Unsur volume merupakan durasi atau lama pelatihan, jarak tempuh atau jumlah suatu aktivitas serta jumlah repetisi
dan set. Volume pelatihan merupakan jumlah seluruh aktivitas yang dilakukan selama pelatihan yang terdiri atas: durasi atau lama waktu ( dalam detik, menit, jam, hari, minggu atau bulan) pelatihan, jarak tempuh (meter), berat badan (kilogram), jumlah angka dalam satuan waktu (beberapa kilogram dapat diangkat dalam satu kesatuan waktu), dan jumlah repetisi, set atau penampilan unsur teknik dalam satu kesatuan waktu yaitu: beberapa kali ulangan dapat dilakukan dalam waktu satu menit (Nala,2002). Dalam penelitian ini volume latihan adalah eksperimen I 10 repetisi 3 set dengan waktu istirahat 1 menit tiap set, dilakukan pelatihan selama 6 minggu. Sedangkan eksperimen II 5 repetisi 6 set dengan waktu istirahat 1 menit tiap set, dilakukan pelatihan selama 6 minggu.
4. Repetisi dan set
Repetisi adalah jumlah ulangan yang menyangkut suatu beban. Jumlah ulangan yang dimaksud adalah gerak yang dilakukan salam satu seri pelatihan atau jumlah seri yang dilakukan selama pelatihan (Nala,2002). Sedangkan set adalah suatu rangkaian kegiatan dari suatu repetisi (Sajoto,2002). Penggunaan set amat penting dalam peningkatan kemampuan komponen biomotorik (Nala,2002). Pelatihan yang diterapkan dalam penelitian ini menggunakan volume 10 repetisi 3 set dan 5 repetisi 6 set. Pelatihan dengan menggunakan pengulangan yang tinggi akan menjadikan pelatihan tersebut menjadi sangat intensif dan hal ini akan sangat baik untuk mengembangkan serabut otot tipe cepat yang merupakan salah satu komponen yang mendukung daya ledak yaitu kecepatan dan kekuatan (Fox,
1983). Pelatihan yang dirancang dengan repetisi tinggi akan menghasilkan kecepatan lebih besar dari pada pelatihan yang menggunakan repetisi rendah (Pate,1984). Dengan demikian pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan tingginya loncatan block yang menggunakan repetisi lebih banyak akan lebih baik dari pada pelatihan yang menggunakan repetisi lebih sedikit dengan total volume yang sama.