• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

5.2. Pengaruh Pemberian Berbagai Kadar Koagulan Biji Kelor terhadap Kadar

Pemeriksaan kadar besi (Fe) dilakukan dengan Standard Method 19th ed. 1995

melalui alat Inductively Couple Plasma (ICP). Dimana kadar besi (Fe) awal yang

diperiksa adalah sebesar 0,76362 mg/l. Meskipun nilai ini di bawah baku mutu air

bersih yang telah ditetapkan yaitu Peraturan Menteri Kesehatan RI No

416/MENKES/Per/IX/1990. Namun dalam penelitian ini perlu dilakukan

pengolahannya yaitu melalui penggunaan koagulan biji kelor untuk menurunkan

kadar besi (Fe). Dimana dari hasil tersebut dapat diketahui seberapa besar persentase

penurunan kadar besi (Fe). Selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan perbandingan

untuk dapat menurunkan kadar besi (Fe) yang tinggi pada air sumur lain yang

diketahui memiliki kadar besi (Fe) yang lebih tinggi atau di atas baku mutu air bersih.

Biji kelor merupakan polimer organik yang memiliki daya koagulan dengan

sifat tidak beracun dan mudah terurai. Biji kelor mengandung zat aktif

rhamnosyloxy-benzil-isothiocyanate yang berfungsi sebagai protein. Adanya gugus-gugus amino

(-NH2) dan karboksilat (COOH) yang terikat menyebabkan biji kelor mempunyai

reaktifitas yang tinggi dan bersifat polielektrolit (Ndabigengesere dalam Risanto,

besi (Fe). Mekanisme yang mungkin terjadi dalam penggunaan biji kelor sebagai

koagulan untuk menurunkan kadar besi dapat dijelaskan sebagai berikut:

Saat koagulan biji kelor dilarutkan dalam air sumur tersebut, biji kelor

menghasilkan muatan-muatan positif yang banyak (Sutherland et al dalam Rambe,

2009). Selanjutnya partikel bermuatan positif tersebut tersebar ke seluruh air dan

berikatan dengan partikel-partikel bermuatan negatif dari koloid besi (Fe). Adanya

gaya tarik-menarik antar kedua partikel ini, menyebabkan destabilisasi

partikel-partikel penyebab keberadaan besi (Fe) dalam air. Setelah mengalami destabilisasi,

selanjutnya partikel-partikel tersebut akan membentuk partikel-partikel yang lebih

besar (flok) dan flok akan mengendap.

Penurunan kadar besi (Fe) pada sampel air sumur dapat terlihat dari hasil

pengukuran setelah air tersebut ditambahkan dengan koagulan biji kelor. Dari tabel

4.2 dapat dilihat bahwa rata-rata kadar besi yang paling tinggi adalah pada kontrol

(tanpa penambahan koagulan biji kelor) yaitu sebesar 0,76194 mg/l. Setelah

ditambahkan koagulan biji kelor, terjadi penurunan kadar besi (Fe) pada

masing-masing penambahan kadar koagulan biji kelor. Penurunan ini terjadi karena

destabilisasi partikel-partikel besi (Fe) oleh koagulan biji kelor. Partikel-partikel

koloid dari besi tersebut mengalami kontak antar partikel-partikel lainnya membentuk

partikel yang lebih besar dan mengendap. Penambahan 20 mg koagulan biji kelor

mampu menurunkan kadar besi (Fe) sebesar 90,9 %, kemudian persentase penurunan

kadar besi (Fe) berkurang dengan penambahan koagulan biji kelor sebesar 40 mg

yaitu 85,0 %. Kemudian berkurang lagi penurunan kadar besi (Fe) dengan

penambahan koagulan biji kelor sebesar 80 mg terjadi penurunan kadar besi (Fe)

sebesar 87,2 %. Dengan demikian dapat diketahui bahwa persentase penurunan kadar

besi (Fe) yang tertinggi adalah dengan penambahan koagulan biji kelor sebesar 20 mg

dan persentase penurunan terendah terjadi pada penambahan koagulan biji kelor

sebesar 60 mg.

Serbuk biji kelor dengan luas permukaan yang lebih luas mampu

mengkoagulasi partikel-partikel koloid dari besi (Fe) ini dengan baik. Dimana luas

permukaan koagulan ini sangat menentukan banyaknya ruang kontak antar partikel

tersebut. Ada kemungkinan pada penambahan koagulan biji kelor sebesar 40 mg dan

60 mg, lebih sedikit ruang kontak disebabkan koagulan yang ditambahkan memiliki

luas permukaan koagulan yang lebih kecil. Sementara pada penambahan koagulan

biji kelor sebesar 20 mg dan 80 mg, kemungkian ruang kontak lebih banyak

disebabkan luas permukaan dari koagulan tersebut lebih luas.

Penggunaan biji kelor sebagai koagulan dalam menurunkan kadar besi (Fe)

pada air juga harus menyesuaikan dengan jumlah air yang akan diolah. Semakin

banyak koagulan biji kelor yang ditambahkan, maka dapat menimbulkan kejenuhan

koagulan biji kelor. Dengan kejenuhan ini, maka reaksi koagulasi tidak akan berjalan

lagi. Dari hasil penelitian, penambahan koagulan biji kelor sebesar 20 mg mampu

menurunkan kadar besi (Fe) yang cukup baik. Namun saat dilakukan peningkatan

jumlah kadar koagulan biji kelor, penurunan kadar besi (Fe) masih lebih rendah

dibandingkan dengan penambahan 20 mg biji kelor. Dengan demikian, penambahan

koagulan biji kelor lebih dari 20 mg per 500 ml air menyebabkan kejenuhan pada

5.3. Pengaruh Pemberian Berbagai Kadar Koagulan Biji Kelor terhadap Kadar Mangan (Mn) Air Sumur

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, pemanfaatan biji kelor sebagai

koagulan menunjukkan peningkatan terhadap kadar mangan (Mn) sampel air sumur.

Hal ini dapat terlihat pada tabel 4.3, dimana rata-rata kadar mangan (Mn) pada

kontrol maupun pada perlakuan penambahan koagulan biji kelor tidak menunjukkan

adanya penurunan melainkan terjadi peningkatan. Pada kontrol diketahui bahwa

rata-rata kadar mangan (Mn) adalah 2,15286 mg/l. Begitu juga pada perlakuan

penambahan koagulan biji kelor untuk masing-masing kadar koagulan. Rata-rata

kadar mangan (Mn) nya dengan penambahn koagulan biji kelor 20 mg, 40 mg, 60

mg, dan 80 mg secara berurutan adalah 2,30891 mg/l, 2,31229 mg/l, 2,32776 mg/l,

dan 2,26810 mg/l. Angka ini tetap menunjukkan kadar mangan (Mn) yang berada di

bawah baku mutu air bersih berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No

416/MENKES/Per/IX/1990.

Terjadinya peningkatan kadar mangan (Mn) disebabkan oleh senyawa

karbohidrat berupa glukosa yang ada dalam biji kelor. Biji kelor yang matang, selain

mengandung protein juga mengandung karbohidrat. Ketika biji kelor ditambahkan

dalam sampel air tersebut, mangan teroksida akan bereaksi dengan glukosa seperti

reaksi di bawah ini:

C6H12O6 + 12MnO2 + 24H+ = 6CO2 + 12Mn2+ + H2O

Pada reaksi tersebut dapat dijelaskan bahwa, mangan teroksidasi berupa koloid MnO2

bereaksi dengan glukosa dalam suasana asam. Akibat reaksi ini, mangan tereduksi

valensi dua ini, maka bertambahlah konsentrasi mangan terlarut di dalam ini. Hal ini

yang menunjukkan bahwa pada reaksi koagulasi sampel air sumur terhadap biji kelor

terjadi peningkatan kelarutan mangan dalam air sampel tersebut.

5.4. Kadar Koagulan Biji Kelor yang paling efektif untuk Menurunkan Kadar

Dokumen terkait