BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.2 Pengaruh Pemberian Ekstrak Minyak Biji Kelor (M
37 untuk memisahkan pelarut dengan zat yang diekstrak. Dalam penelitian ini destilasi dilakukan agar minyak murni dari biji kelor terpisah dengan pelarut n-heksana yang digunakan. Setelah proses destilasi didapatkan hasil minyak murni sebanyak 5 ml dan minyak berwarna kuning keemasan.
Gambar 4.2 Hasil ekstrak minyak biji kelor Sumber: Dokumentasi pribadi
4.1.2 Pengaruh Pemberian Ekstrak Minyak Biji Kelor (M. oleifera) terhadap Kadar Glukosa Tikus (R. norvegicus)
Pemberian ekstrak minyak biji kelor (M. oleifera) terhadap kadar glukosa tikus setelah injeksi aloksan ini dilakukan selama 14 hari. Selama 14 hari semua tikus memperoleh perlakuan sesuai dengan kelompok uji masing-masing. Hasil data pengamatan kadar glukosa tikus tiap kelompok perlakuan dan tikus normal dapat dilihat sebagai berikut.
a. Kadar Glukosa Tikus Normal
Tikus yang berada di kelompok ini hanya diberi makan dan minum tanpa induksi aloksan dan injeksi ekstrak minyak biji kelor.
38 Hasil pengamatan kadar glukosa tikus hari ke-7 dan hari ke-14 dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 Kadar glukosa tikus normal
Tikus
Kadar glukosa (mg/dL)
Awal Hari ke-7 Hari ke-14
1 104 122 86 2 96 116 79 3 110 132 118 4 107 108 66 5 89 88 100 Rata-rata 101,2 113,2 89,8
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa rata-rata kadar glukosa tikus kelompok normal hari ke-7 sebesar 113,2 mg/dL dan hari ke-14 sebesar 89,8 mg/dL.
b. Kadar Glukosa Kelompok Kontrol
Tikus yang berada di kelompok ini hanya diberi perlakuan induksi aloksan sebanyak 150 mg/kg BB tanpa diinjeksi ekstrak minyak biji kelor. Hasil pengamatan kadar glukosa tikus setelah injeksi aloksan, hari ke-7 dan hari ke-14 dapat dilihat pada tabel 4.2. Tabel 4.2 Kadar glukosa kelompok kontrol
Tikus
Kadar glukosa (mg/dL) Awal Setelah
injeksi aloksan
Hari ke-7 Hari ke-14
1 114 129 115 116 2 96 128 109 126 3 105 352 354 189 4 124 200 600 600 5 119 137 346 474 Rata-rata 111,6 189,2 304,8 301
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa rata-rata kadar glukosa tikus kelompok kontrol setelah injeksi aloksan sebesar 129 mg/dL, hari ke-7 sebesar 175,8 mg/dL dan hari ke-14 sebesar 172 mg/dL.
39
c. Kadar Glukosa Kelompok 1 (dosis ekstrak minyak biji kelor 60 mg/kg BB)
Tikus yang berada di kelompok ini diberi perlakuan induksi aloksan 150 mg/kg BB dan injeksi ekstrak minyak biji kelor dengan dosis 60 mg/kg BB secara oral. Hasil pengamatan kadar glukosa tikus setelah injeksi aloksan, hari ke-7 dan hari ke-14 dapat dilihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.3 Kadar glukosa kelompok 1 dosis 60 mg/kg BB
Tikus Kadar glukosa (mg/dL) Awal Setelah injeksi aloksan Hari ke-7 pemberian ekstrak minyak Hari ke-14 pemberian ekstrak minyak 1 111 271 133 147 2 123 130 125 132 3 101 333 600 425 4 114 128 107 118 5 112 142 135 152 Rata-rata 112,2 200,8 220 194,8
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa rata-rata kadar glukosa tikus kelompok 1 (dosis ekstrak minyak biji kelor 60 mg/kg BB) setelah injeksi aloksan sebesar 83,4 mg/dL, hari 7 220 mg/dL dan hari ke-14 194,8 mg/dL.
d. Kadar Glukosa Kelompok 2 (dosis ekstrak minyak biji kelor 120 mg/kg BB)
Tikus yang berada di kelompok ini diberi perlakuan induksi aloksan 150 mg/kg BB dan injeksi ekstrak minyak biji kelor dengan dosis 120 mg/kg BB secara oral. Hasil pengamatan kadar glukosa tikus setelah injeksi aloksan, hari ke-7 dan hari ke-14 dapat dilihat pada tabel 4.4.
40 Tabel 4.4 Kadar glukosa kelompok 2 dosis 120 mg/kg BB
Tikus Kadar glukosa (mg/dL) Awal Setelah injeksi aloksan Hari ke-7 pemberian ekstrak minyak Hari ke-14 pemberian ekstrak minyak 1 106 223 337 435 2 118 129 118 121 3 105 161 105 112 4 111 296 600 336 5 98 142 124 118 Rata-rata 107,6 190,2 256,8 224,4
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa rata-rata kadar glukosa tikus kelompok 2 (dosis ekstrak minyak biji kelor 120 mg/kg BB) setelah injeksi aloksan sebesar 170,8 mg/dL, hari ke-7 sebesar 256,8 mg/dL dan hari ke-14 sebesar 224,4 mg/dL.
e. Kadar Glukosa Kelompok 3 (dosis ekstrak minyak biji kelor 180 mg/kg BB)
Tikus yang berada di kelompok ini diberi perlakuan induksi aloksan 150 mg/kg BB dan injeksi ekstrak minyak biji kelor dengan dosis 180 mg/kg BB secara oral. Hasil pengamatan kadar glukosa tikus setelah injeksi aloksan, hari ke-7 dan hari ke-14 dapat dilihat pada tabel 4.5.
Tabel 4.5 Kadar glukosa kelompok 3 dosis 180 mg/kg BB
Tikus Kadar glukosa (mg/dL) Awal Setelah injeksi aloksan Hari ke-7 pemberian ekstrak minyak Hari ke-14 pemberian ekstrak minyak 1 105 145 134 130 2 73 137 107 118 3 98 443 387 443 4 93 135 132 124 5 104 324 152 168 Rata-rata 94,6 236,8 182,4 196,6
41 Tabel 4.5 menunjukkan bahwa rata-rata kadar glukosa tikus kelompok 3 (dosis ekstrak minyak biji kelor 180 mg/kg BB) setelah injeksi aloksan sebesar 165 mg/dL, hari ke-7 sebesar 182,4 mg/dL dan hari ke-14 sebesar 196,6 mg/dL.
f. Kadar Glukosa Kelompok 4 (dosis ekstrak minyak biji kelor 240 mg/kg BB)
Tikus yang berada di kelompok ini diberi perlakuan induksi aloksan 150 mg/kg BB dan injeksi ekstrak minyak biji kelor dengan dosis 240 mg/kg BB secara oral. Hasil pengamatan kadar glukosa tikus setelah injeksi aloksan, hari ke-7 dan hari ke-14 dapat dilihat pada tabel 4.6.
Tabel 4.6 Kadar glukosa kelompok 4 dosis 240 mg/kg BB
Tikus Kadar glukosa (mg/dL) Awal Setelah injeksi aloksan Hari ke-7 pemberian ekstrak minyak Hari ke-14 pemberian ekstrak minyak 1 96 126 107 111 2 108 211 109 141 3 138 129 138 153 4 135 277 112 122 5 138 132 104 128 Rata-rata 123 175 114 131
Tabel 4.6 menunjukkan bahwa rata-rata kadar glukosa tikus kelompok 4 (dosis ekstrak minyak biji kelor 240 mg/kg BB) setelah injeksi aloksan sebesar 93,8 mg/dL, hari ke-7 sebesar 114 mg/dL dan hari ke-14 sebesar 131 mg/dL.
42 Hasil dari kadar glukosa rata-rata seluruh kelompok perlakuan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.7 dan grafik kadar glukosa rata-rata dapat dilihat pada gambar 4.3.
Tabel 4.7 Kadar glukosa rata-rata (mg/dL) dari seluruh kelompok perlakuan pada hari ke-7 dan hari ke-14
Waktu
Kadar glukosa rata-rata ± SD (mg/dL) Kontrol K 1 (60 mg/kg BB) K 2 (120 mg/kg BB) K 3 (180 mg/kg BB) K 4 (240 mg/kg BB) Setelah injeksi aloksan 189,2 ± 85,69 200,8 ± 85,05 190,2 ± 61,95 236,8 ± 125,59 175 ± 60,10 Hari ke-7 304,8 ± 203,48 220 ± 212,71 256,8 ± 214,57 182,4 ± 115,49 114 ± 13,72 Hari ke-14 301 ± 221,76 194,8 ± 129,37 224,4 ± 151,20 196,6 ± 139,11 131 ± 16,38
Gambar 4.3 Grafik penurunan kadar glukosa kelompok perlakuan hari ke-7 dan hari ke-14
Tabel 4.7 menunjukkan hasil kadar glukosa rata-rata pada 5 kelompok perlakuan. Pada kelompok kontrol kadar glukosa tetap tinggi karena tidak diberi perlakuan ekstrak minyak biji kelor, sehingga tidak memiliki efek menurunkan pada kadar glukosa. Jika dibandingkan dengan kelompok kontrol, penurunan kadar glukosa secara berturut-turut terjadi pada kelompok perlakuan dengan variasi pemberian dosis ekstrak minyak
43 biji kelor. Penurunan paling signifikan terjadi pada kelompok 4 dengan dosis 240 mg/kg BB. Angka pada standar deviasi merupakan selisih dari rata-rata dengan varian data, yang memiliki arti bahwa semakin besar angka standar deviasi maka data yang dimiliki semakin besar pula variasi datanya.
Hasil dari pengamatan dan perlakuan yang diberikan, didapatkan hasil penelitian berupa profil kadar glukosa akibat pengaruh pemberian ekstrak minyak biji kelor. Data ditampilkan dalam bentuk rata-rata ± standar deviasi. Kelompok tikus normal yaitu kelompok yang tidak diberi injeksi aloksan dan perlakuan ekstrak minyak biji kelor memiliki kadar glukosa pada hari ke-7 sebesar 113,2 ± 16,58 mg/dL dan hari ke-14 sebesar 89,8 ± 19,98 mg/dL. Berikutnya adalah kelompok kontrol yaitu kelompok yang hanya diberi injeksi aloksan memiliki kadar glukosa setelah injeksi aloksan sebesar 189,2 ± 85,69 mg/dL, hari ke-7 sebesar 304,8 ± 203,48 mg/dL dan hari ke-14 sebesar 301 ± 221,76 mg/dL. Pada kelompok kontrol terjadi kenaikan kadar glukosa sebesar 111,8 ± 136,07 mg/dL. Kadar glukosa tersebut didapatkan dari kadar glukosa setelah injeksi aloksan dikurangi kadar glukosa hari ke-14.
Kelompok 1 (K1) yaitu kelompok yang diberi injeksi aloksan dan mendapatkan perlakuan pemberian ekstrak minyak biji kelor dosis 60 mg/kg BB memiliki kadar glukosa setelah injeksi aloksan sebesar 200,8 ± 85,05 mg/dL, hari ke-7 sebesar 220 ± 212,71 mg/dL dan hari ke-14 sebesar 194,8 ± 129,37 mg/dL. Pada kelompok 1 terjadi penurunan kadar glukosa sebesar 6 ± 44,32 mg/dL.
44 Kelompok 2 (K2) yaitu kelompok yang diberi injeksi aloksan dan mendapatkan perlakuan pemberian ekstrak minyak biji kelor dosis 120 mg/kg BB memiliki kadar glukosa setelah injeksi aloksan sebesar 190,2 ± 61,95 mg/dL, hari ke-7 sebesar 256,8 ± 214,57 mg/dL dan hari ke-14 sebesar 224,4 ± 151,20 mg/dL. Pada kelompok 2 terjadi kenaikan kadar glukosa sebesar 34,2 ± 89,25 mg/dL.
Kelompok 3 (K3) yaitu kelompok yang diberi injeksi aloksan dan mendapatkan perlakuan pemberian ekstrak minyak biji kelor dosis 180 mg/kg BB memiliki kadar glukosa setelah injeksi aloksan sebesar 236,8 ± 125,59 mg/dL, hari ke-7 sebesar 182,4 ± 115,49 mg/dL dan hari ke-14 sebesar 196,6 ± 139,11 mg/dL. Pada kelompok 3 terjadi penurunan kadar glukosa sebesar 40,2 ± 13,52 mg/dL.
Kelompok 4 (K4) yaitu kelompok yang diberi injeksi aloksan dan mendapatkan perlakuan pemberian ekstrak minyak biji kelor dosis 240 mg/kg BB memiliki kadar glukosa setelah injeksi aloksan sebesar 175 ± 60,10 mg/dL, hari ke-7 sebesar 114 ± 13,72 mg/dL dan hari ke-14 sebesar 131 ± 16,38 mg/dL. Pada kelompok 4 terjadi penurunan kadar glukosa sebesar 44 ± 43,72 mg/dL.
Gambar 4.3 menunjukkan grafik penurunan kadar glukosa tikus dari 5 kelompok perlakuan. Hasilnya pada kelompok kontrol jika dibandingkan dengan kelompok tikus normal dan kelompok perlakuan ekstrak minyak biji kelor, menunjukkan peningkatan kadar glukosa dikarenakan pada kelompok kontrol tidak diberi perlakuan ekstrak minyak biji kelor. Kelompok perlakuan dosis 1 (K1), 2 (K2), 3 (K3) dan 4 (K4)
45 menunjukkan penurunan kadar glukosa setelah diberi ekstrak minyak biji kelor, namun penurunan kadar glukosa secara signifikan terjadi pada kelompok 4 dengan dosis 240 mg/kg BB.
Data tersebut selanjutnya dilakukan analisis statistik. Analisis statistik pertama yang dilakukan adalah uji normalitas menggunakan uji
Kolmogorov-Smirnov. Data dikatakan berdistribusi normal apabila p>0.05.
Hasil uji Kolmogorov-Smirnov didapatkan p= 0.000 yang menunjukkan bahwa data yang diuji tidak berdistribusi normal.
Uji statistik yang kedua adalah uji homogenitas menggunakan uji
One Way ANOVA. Data dikatakan homogen apabila p>0.05. Pada uji
homogenitas didapatkan nilai p= 0.000 yang menunjukkan bahwa data yang diuji tidak homogen. Maka selanjutnya data akan diolah menggunakan analisis statistik non parametrik.
Uji statistik selanjutnya adalah uji Kruskal Wallis. Pada uji Kruskal
Wallis didapatkan nilai p= 0.160 (p>0.05) artinya tidak terdapat perbedaan
kadar glukosa dari 5 kelompok perlakuan. Data dapat dilihat pada
Lampiran 4.
4.1.3 Analisis Kandungan Ekstrak Minyak Biji Kelor (M. oleifera)