BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.6. Pengaruh Penerapan Standar Nasional Pendidikan dengan
4.6.1. Keterserapan Lulusan Sebelum dan Sesudah Penerapan Standar Nasional Pendidikan
Berdasarkan hasil survei kepada 96 orang responden yang terdiri dari 46 orang responden yang dikategorikan sebelum penerapan standar nasional pendidikan dan 50 orang responden dikategorikan setelah penerapan standar nasional pendidikan, maka diperoleh hasil sebagaimana terlihat pada Tabel 4.13 di bawah ini.
Tabel 4.13. Daya Serap dan Peluang Kesempatan Kerja Lulusan SMK Negeri (Orang) Jumlah Responden Sebelum Sesudah Keterangan 2005 2006 Jmlh % 2007 2008 Jmlh % Usaha sendiri 2 2 4 8,70 4 1 6 10,00 Bekerja 14 14 28 60,90 18 16 33 68,00 Belum/tidak bekerja 7 7 14 30,40 3 8 11 22,00 Jumlah 23 23 46 100,00 25 25 50 100,00
Sumber: Data hasil survei, 2009
Tabel 4.13 di atas menunjukkan perbandingan daya serap dan peluang kesempatan kerja lulusan SMK Negeri sebelum dan sesudah penerapan, dari survei yang dilakukan diperoleh hasil dari responden yang telah bekerja sebelum penerapan standar nasional pendidikan sebanyak 60,90% sedangkan setelah penerapan standar nasional pendidikan sebanyak 68,00%, sedangkan yang membuka usaha sendiri sebelum penerapan sebanyak 8,70% dan sesudah penerapan sebanyak 10%, dan yang belum/tidak bekerja sebelum penerapan sebanyak 20,40% dan sesudah penerapan sebanyak 22%. Jadi kalau dibandingkan antara sebelum dan sesudah penerapan terjadi peningkatan daya serap lulusan yang membuka usaha sendiri sebesar 1,30% dan yang bekerja sebesar 7,10%. Sedangkan lulusan yang belum/tidak bekerja terjadi penurunan sebesar 8,40%.
Jika dilihat dari program keahlian/jurusan yang dipilih oleh siswa, maka peluang dan kesempatan kerja dapat dilihat pada Tabel 4.14 berikut ini:
Tabel 4.14. Daya Serap dan Peluang Kesempatan Kerja Lulusan SMK Negeri Berdasarkan Program Keahlian (Orang)
Sebelum Sesudah
Sekolah/Prog. Keahlian
US B BK ∑ US B BK ∑
a. Teknik Instalasi Tenaga Listrik
b. Teknik Kenderaan Ringan otomotif
c. T. Permesinan
d. Teknik Konstruk. Batu & Beton
e. T. Gambar bangunan f. T. Audio Video g. Teknik Las 1 1 - - 2 - - 9 14 3 - - - 2 7 4 1 - 1 1 - 17 19 4 - 3 1 2 2 1 1 - 1 1 - 3 20 1 1 6 - 2 2 3 2 - 3 - 1 7 24 4 1 10 1 3 Jumlah 4 28 14 46 6 33 11 50
Sumber: Data hasil survei, 2009
Ket :
US : Usaha Sendiri B : Bekerja BK : Belum Kerja
Berdasarkan Tabel 4.14 di atas program keahlian yang paling banyak menyerap tenaga kerja sebelum penerapan adalah Teknik kendaraan ringan otomotif yaitu sebesar 30,43% (14 orang dari 46 responden), begitu juga sesudah penerapan program keahlian Teknik kendaraan ringan otomotif juga paling banyak menyerap tenaga kerja yaitu sebesar 40,00% (20 orang dari 50 responden). Sedangkan yang membuka usaha sendiri sebelum penerapan yang paling besar adalah pada program keahlian Teknik gambar bangunan yaitu sebesar 4,35% (2 dari 46 responden) sedangkan sesudah penerapan adalah Teknik instalasi tenaga listrik yaitu sebesar 4,00% (2 dari 50 responden).
Dari seluruh responden yang bekerja ataupun membuka usaha tidak semuanya bekerja sesuai dengan program keahliannya atau kompetensi yang dimilikinya. Untuk
dapat melihat seberapa besar tingkat kesesuaian pekerjaan responden dengan kompetensi yang dimiliki dapat dilihat pada Tabel 4.15 berikut ini.
Tabel 4.15. Kesesuaian Jenis Pekerjaan dengan Program Keahlian Sebelum dan Sesudah Penerapan Standar Nasional Pendidikan
Responden yang Bekerja
Sebelum Sesudah Program Keahlian SS % S % TS % SS % S % TS % T. Instalasi Tenaga Listrik 3 33,33 3 33,33 3 33,3 3 - - - - 3 100 T. Kenderaan Ringan otomotif 1 7.14 4 28,57 9 64,2 9 6 30,0 10 50,0 4 20,0 Teknik Permesinan 1 33,33 2 66,67 - - - - 1 100 - -
T. Konstruk Batu & Beton - - - - - - - - 1 100 - - T. Gambar bangunan - - - - - - - - 5 83,33 1 16,6 7
Teknik Audio Video - - - - - - - - - - - -
Teknik Las - - - - 2 100 - - 2 100 - -
Sumber: Data hasil survei, 2009
Tabel 4.15 di atas menunjukkan bahwa dari 28 orang responden yang telah bekerja sebelum penerapan, yang menyatakan kesesuaian jenis pekerjaan dengan kompetensi yang dimiliki, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Dari 9 orang responden dengan program keahlian teknik instalasi tenaga listrik, jenis pekerjaan yang sangat sesuai dengan kompetensi yang dimiliki sebesar 33,33%, sedangkan yang sesuai sebesar 33,33% dan yang tidak sesuai sebesar 33,33%.
2. Dari 14 orang responden dengan program keahlian Teknik kenderaan ringan otomotif, jenis pekerjaan yang sangat sesuai dengan kompetensi yang dimiliki sebesar 7,14%, sedangkan yang sesuai sebesar 28,57% dan yang tidak sesuai sebesar 64,29%.
3. Dari 3 orang responden dengan program keahlian teknik permesinan, jenis pekerjaan yang sangat sesuai sebesar 33,33% dan yang sesuai sebesar 66,67% sedangkan yang tidak sesuai 0%.
4. Dari 2 orang responden dengan program keahlian teknik las, semuanya menyatakan jenis pekerjan tidak sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa lulusan yang tammat sebelum penerapan standar nasional pendidikan jenis pekerjaan yang sangat sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya adalah jurusan teknik instalasi listrik dan Teknik permesinan yaitu sebesar 33,33%. Sedangkan yang sesuai adalah teknik permesinan sebesar 66,67% dan yang tidak sesuai adalah teknik las yaitu 100%.
Sedangkan 33 orang responden yang telah bekerja sesudah penerapan standar nasional pendidikan menyatakan kesesuaian jenis pekerjaan dengan kompetensi yang dimiliki, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Dari 3 orang responden dengan program keahlian teknik instalasi tenaga listrik, semuanya menyatakan jenis pekerjaan tidak sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.
2. Dari 20 orang responden dengan program keahlian Teknik kenderaan ringan otomotif, jenis pekerjaan yang sangat sesuai dengan kompetensi sebesar 30,00%, sedangkan yang sesuai sebesar 50,00% dan yang tidak sesuai sebesar 20,00%. 3. Dari 1 orang responden dengan program keahlian teknik pemesinan, semuanya
4. Dari 1 orang responden dengan program keahlian teknik konstruksi batu dan beton, semuanya menyatakan jenis pekerjaan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.
5. Dari 20 orang responden dengan program keahlian Teknik gambar bangunan, jenis pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi sebesar 83,33%, sedangkan yang tidak sesuai sebesar 16,67%.
6. Dari 2 orang responden dengan program keahlian teknik las, semuanya menyatakan jenis pekerjaan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa lulusan yang tammat setelah penerapan standar nasional pendidikan jenis pekerjaan yang paling sangat sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya jurusan adalah Teknik Kenderaan Ringan Otomotif yaitu sebesar 30%, sedangkan yang sesuai adalah Teknik mesin dan teknik konstruksi batu dan beton sebesar 100% dan yang tidak sesuai adalah Teknik Instalasi Listrik yaitu sebesar 100%.
Untuk responden yang membuka usaha sendiri dengan jumlah responden sebanyak 4 orang sebelum penerapan dan 6 orang setelah penerapan, kesesuaian jenis usaha dengan kompetensinya dapat dilihat pada Tabel 4.16 di bawah ini:
Tabel 4.16. Kesesuaian Membuka Usaha Sendiri dengan Kompetensi Keahlian
Uraian Sebelum Sesudah
Sangat Sesuai - -
Sesuai 1 3
Tidak sesuai 3 3
Jumlah 4 6
Dari Tabel 4.16 di atas dapat dijelaskan bahwa dari 4 orang responden yang membuka usaha sendiri sebelum penerapan, yang menyatakan sesuai jenis usaha dengan kompetensi yang dimiliki sebesar 25% dan yang tidak sesuai sebesar 75%. Sedangkan sesudah penerapan standar nasional pendidikan, dari 6 orang responden yang menyatakan sesuai jenis usaha dengan kompetensi yang dimiliki sebesar 50% dan yang tidak sesuai juga 50%.
Tabel 4.17 berikut ini menunjukkan jumlah lulusan yang langsung bekerja pada tempat praktik setelah menammatkan sekolah bahkan belum tamat perusahaan telah meminangnya kesekolah.
Tabel 4.17. Jumlah Lulusan yang Langsung Bekerja pada Tempat Praktik Setelah Menamatkan Sekolah (Orang)
Keterangan Lulusan tahun Jumlah
Sebelum penerapan 2005 4 2006 3 Jumlah 7 Sesudah penerapan 2007 7 2008 6 Jumlah 13
Sumber: Data hasil survey, 2009
Lulusan yang langsung bekerja pada tempat magang sebelum penerapan sebanyak 7 orang atau 25% dari 28 orang jumlah keseluruhan yang telah bekerja dan 15,21% dari keseluruhan jumlah responden. Sedangkan sesudah penerapan sebanyak 13 orang atau 39,39% dari 33 orang responden yang telah bekerja dan 26% dari keseluruhan jumlah responden. Jika dibandingkan sebelum dan sesudah penerapan jumlah responden yang bekerja ditempat magang naik sebesar 14,39%.
4.6.2. Standar Nasional Pendidikan yang Paling Berpengaruh terhadap Kesempatan Kerja Lulusan
Untuk melihat mana yang lebih berpengaruh antara ketiga standar nasional pendidikan tersebut yaitu guru, kurikulum, sarana prasarana, maka dapat dilihat dari masing-masing variabel untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya. Untuk guru dapat dilihat pada Tabel 4.18 berikut ini:
Tabel 4.18. Crosstab Guru* Lulusan Sebelum dan Sesudah Penerapan Standar Nasional Pendidikan (Persentase)
Sebelum Penerapan Lulusan
Belum bekerja Bekerja Usaha Sendiri Jumlah Cukup Kompeten 0 8,70 2,17 10,87 Kompeten 28,26 39,13 6,52 73,91 Guru
Sangat Kompeten 2,17 13,05 0 15,22
Total 30,43 60,88 8,69 100
Sesudah Penerapan Lulusan
Belum Bekerja Bekerja Usaha Sendiri Jumlah Kurang Kompeten 0 2,00 2,00 4,00 Cukup Kompeten 0 8,00 6,00 14,00 Kompeten 18,00 46,00 4,00 68,00 Guru Sangat Kompeten 4,00 10,00 0 14,00 Total 22,00 66,00 12,00 100
Sumber: Hasil pengolahan data primer, 2009
Berdasarkan Tabel 4.18 di atas dapat dilihat bahwa sebelum standar nasional pendidikan diterapkan, guru yang cukup kompeten menghasilkan 8,70% lulusan yang bekerja dan 2,17% lagi menghasilkan lulusan yang membuka usaha sendiri. Sedangkan Guru yang kompeten menghasilkan 39,13% lulusan yang bekerja dan 6,52% membuka usaha sendiri. Kemudian guru yang sangat kompeten menghasilkan 13,05% lulusan yang bekerja.
Jika dibandingkan dengan sesudah penerapan standar nasional pendidikan diterapkan, guru yang kurang kompeten menghasilkan 2% lulusan yang bekerja dan 2% lagi membuka usaha sendiri, guru yang cukup kompeten menghasilkan 8% lulusan yang bekerja dan 6% membuka usaha sendiri. Berikutnya guru yang kompeten menghasilkan 46% lulusan yang bekerja dan 4% membuka usaha sendiri, dan yang terakhir guru yang sangat kompeten menghasilkan 10% lulusan yang bekerja.
Dengan uji Statistik Chi Squere diperoleh ÷²hitung sebelum = 5.507 lebih
kecil dari ÷²tabel 0,05 = 11.070, maka Ho diterima. Dengan diterimanya Ho berarti
tidak terdapat hubungan yang signifikan antara guru dengan kesempatan kerja lulusan Sedangkan ÷²hitung sesudah = 12.494 lebih kecil dari ÷²tabel 0,05 = 12.592, maka Ho diterima. Dengan diterimanya Ho berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara guru dengan kesempatan kerja lulusan. Artinya ada pengaruh antara guru dengan kesempatan kerja lulusan baik sebelum penerapan maupun sesudah penerapan standar nasional pendidikan tetapi tidak signifikan.
Selanjutnya pengaruh kurikulum terhadap kesempatan kerja lulusan dapat dibandingkan sebelum dan sesudah penerapan seperti terlihat pada Tabel 4.19 di bawah ini:
Tabel 4.19. Crosstab Kurikulum* Lulusan Sebelum dan Sesudah Penerapan Standar Nasional Pendidikan (Persentase)
Lulusan Sebelum Penerapan
Belum Bekerja Bekerja Usaha Sendiri Total
Cukup sesuai 19,57 17,39 6,52 43,48 sesuai 8,70 43,48 2,17 54,35 Kurikulum Sangat sesuai 2,17 0 0 2,17 Total 30,44 60,87 8,69 100 Lulusan Sesudah Penerapan
Belum Bekerja Bekerja Usaha Sendiri Total
Kurang sesuai 0 0 4,00 4,00 Cukup sesuai 18,00 26,00 6,00 50,00 Kurikulum sesuai 4,00 32,00 2,00 38,00 Sangat sesuai 0 8,00 0 8,00 Total 22,00 66,00 12,00 50
Sumber: Hasil pengolahan data primer, 2009
Berdasarkan Tabel 4.19 di atas, dapat dilihat bahwa sebelum standar nasional pendidikan diterapkan, kurikulum yang cukup sesuai menghasilkan 17,39% lulusan yang bekerja dan 6,52% lagi menghasilkan lulusan yang membuka usaha sendiri. Sedangkan kurikulum yang sesuai menghasilkan 43,48% lulusan yang bekerja dan 2,17% membuka usaha sendiri. Kemudian kurikulum yang sangat sesuai menghasilkan sama sekali tidak menghasilkan lulusan yang bekerja.
Jika dibandingkan dengan sesudah penerapan standar nasional pendidikan diterapkan, kurikulum yang kurang sesuai menghasilkan 4% lulusan yang membuka usaha sendiri, kurikulum yang cukup sesuai menghasilkan 26% lulusan yang bekerja dan 6% membuka usaha sendiri. Berikutnya kurikulum yang sesuai menghasilkan
32% lulusan yang bekerja dan 2% membuka usaha sendiri, dan yang terakhir kurikulum yang sangat sesuai menghasilkan 8% lulusan yang bekerja.
Dengan uji Statistik Chi Square diperoleh ÷²hitung sebelum = 9.874 lebih besar dari ÷²tabel 0,05 = 9.488 maka Ho ditolak. Dengan ditolaknya Ho berarti terdapat hubungan yang signifikan antara kurikulum dengan kesempatan kerja lulusan. Sedangkan ÷²hitung sesudah = 22.507 lebih besar dari ÷²tabel 0,001 = 22.457, maka Ho ditolak. Sehingga dengan ditolaknya Ho berarti terdapat hubungan yang signifikan antara kurikulum dengan kesempatan kerja lulusan. Artinya kurikulum berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesempatan kerja lulusan baik sebelum penerapan maupun sesudah penerapan standar nasional pendidikan.
Selanjutnya pengaruh sarana dan prasarana terhadap kesempatan kerja lulusan dapat dibandingkan sebelum dan sesudah penerapan seperti terlihat pada Tabel 4.20 di bawah ini:
Tabel 4.20. Crosstab Sarana dan Prasarana* Lulusan Sebelum dan Sesudah Penerapan Standar Nasional Pendidikan (Persentase)
Lulusan Sebelum Penerapan
Belum bekerja Bekerja Usaha Sendiri Total Kurang memadai 0 2,17 0 2,17 Cukup memadai 4,35 21,74 6,52 32.61 Memadai 19,57 28,26 2,17 50,00 Sarana & Prasarana Sangat memadai 6,52 8,70 0 15,22 Total 30,44 60,87 8,69
Lanjutan Tabel 4.20.
Lulusan Setelah Penerapan
Belum Bekerja Bekerja Usaha Sendiri Total Kurang memadai 0 2,00 6,00 8,00 Cukup Memadai 2,00 42,00 2,00 46,00 Memadai 20,00 14,00 4,00 38,00 Sarana & Prasarana Sangat Memadai 0 8,00 0 8,00 Total 22,00 66,00 12,00 50
Sumber: Hasil pengolahan data primer, 2009
Berdasarkan Tabel 4.20 di atas, dapat dilihat bahwa sebelum standar nasional pendidikan diterapkan, sarana dan prasarana yang kurang memadai menghasilkan 2,17% lulusan yang bekerja. Sedangkan sarana dan prasarana yang cukup memadai menghasilkan 21,74% lulusan yang bekerja dan 6,52% membuka usaha sendiri. Kemudian kurikulum yang memadai menghasilkan 28,26% lulusan yang bekerja dan 2,17% membuka usaha sendiri, yang terakhir sarana dan prasarana yang sangat memadai menghasilkan 8,70% lulusan yang bekerja.
Jika dibandingkan dengan sesudah penerapan standar nasional pendidikan diterapkan, sarana dan prasarana yang kurang memadai menghasilkan 2% lulusan yang bekerja dan 6% membuka usaha sendiri, sarana dan prasarana yang cukup memadai menghasilkan 42% lulusan yang bekerja dan 2% membuka usaha sendiri. Berikutnya kurikulum yang memadai menghasilkan 14% lulusan yang bekerja dan 4% membuka usaha sendiri, dan yang terakhir kurikulum yang sangat memadai menghasilkan 8% lulusan yang bekerja.
Dengan uji Statistik Chi Squere diperoleh ÷²hitung sebelum = 6.494 lebih kecil dari ÷²tabel 0,05 = 12.592 maka Ho diterima. Dengan diterimanya Ho berarti
tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sarana dan prasarana dengan kesempatan kerja lulusan. Sedangkan ÷²hitung sesudah = 34.386 lebih besar dari
÷²tabel 0,001 = 22.457, maka Ho ditolak. Sehingga dengan ditolaknya Ho berarti terdapat hubungan yang signifikan antara sarana dan prasarana dengan kesempatan kerja lulusan. Artinya sebelum penerapan ada pengaruh antara sarana dan prasarana dengan kesempatan kerja lulusan tetapi tidak signifikan tetapi sesudah penerapan standar nasional pendidikan terdapat pengaruh yang sangat signifikan antara sarana dan prasarana dengan kesempatan kerja lulusan.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan standar nasional pendidikan pada variabel guru sebagai tenaga pendidik ada pengaruhnya sebelum dan sesudah penerapan dengan kesempatan kerja lulusan dan tidak ada hubungan yang signifikan antara keduanya tetapi tidak signifikan, begitu juga dengan variabel kurikulum namun pada kurikulum terdapat hubungan yang signifikan dengan kesempatan kerja lulusan. Sementara pada variabel sarana dan prasarana sebelum penerapan terdapat hubungan dengan kesempatan kerja lulusan tetapi tidak signifikan, sedangkan sesudah penerapan pengaruh antara sarana dan prasarana sangat signifikan terhadap kesempatan kerja lulusan dengan signifikansinya pada taraf 99 persen (á = 0,001).
Dengan demikian dapat digambarkan bahwa sarana dan prasarana adalah faktor yang sangat menentukan bagi siswa untuk memperoleh pekerjaan, karena dengan sarana dan prasarana yang lengkap siswa dapat lebih terampil dan kompetensi pada bidang keahliannya.
4.7. Perencanaan SMK Negeri Kota Medan di Masa yang Akan Datang