HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.4 Analisis Regresi Linier Sederhana
4.5.1 Pengaruh Penjualan Kredit Terhadap Penjualan
Variabel penjualan kredit pada penelitian ini hanya mampu menjelaskan melalui variabel tersebut sebesar 54,6% dan sisanya 45,4% dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti pada penelitian ini. Faktor lain seperti kondisi pasar, modal, kondisi organisasi perusahaan, periklanan, pemberian hadiah kepada konsumen, dan kampanye ataupun event. Dalam pelaksanaan faktor-faktor lain tersebut diperlukan dana yang tidak sedikit, sebab kegiatan tersebut dilakukan untuk merangsang daya tarik konsumen untuk membeli barang/jasa yang ditawarkan.
Variabel penjualan kredit juga secara serempak adalah signifikan terhadap penjualan. Berdasarkan kriteria pengujian hipotesis jika Fhitung > Ftabel dan tingkat signifikansinya (0,000) < 0,05 dimana 25.494 > 3,94 menunjukkan bahwa pengaruh variabel independen (penjualan kredit) secara serempak adalah signifikan terhadap penjualan.
Jika dilihat dari jawaban responden, mayoritas responden menyatakan setuju dalam menanggapi pernyataan-pernyataan mengenai penjualan kredit
berpengaruh terhadap penjualan. Pada distribusi tanggapan responden mengenai pernyataan-pernyataan variabel (X) penjualan kredit pada pernyataan kedua yang menjelaskan pernyataan bahwa syarat kredit yang ditawarkan mudah, konsumen menanggapi hal tersebut karena memang syarat yang ditawarkan untuk kredit pada PT Capella Dinamik Nusantara memang mudah yaitu seperti fotocopy KTP, fotocopy kartu keluarga, dan rekening listrik 2 bulan terakhir atau sebulan terakhir. Rata-rata konsumen memiliki syarat tersebut. Pada pernyataan ketiga yaitu jangka waktu proses kredit yang dilakukan cepat, dan pada pernyataan keempat yaitu harga sepeda motor yang ditawarkan dapat dijangkau oleh konsumen, jangka waktu paling lama dalam kredit yang dilakukan oleh PT Capella Dinamik Nusantara Kutacane adalah 3 tahun, konsumen merasa jangka waktu tersebut tidak terlalu lama dalam melakukan proses kredit sepeda motor. Pada pernyataan-pernyataan tersebut responden menanggapi pada jawaban yang dominan pada pernyataan setuju. Dari distribusi tanggapan responden terhadap variabel penjualan kredit dapat disimpulkan bahwa penjualan kredit berpengaruh terhadap penjualan.
Jika dilihat pada distribusi tanggapan responden mengenai pernyataan-pernyataan variabel (Y) penjualan pada pernyataan-pernyataan kedua yaitu peningkatan kualitas layanan yang lebih baik dapat membuat konsumen melakukan pembelian, layanan yang diberikan oleh PT Capella Dinamik Nusantara Kutacane dirasakan konsumen sudah baik dalam hal transaksi pembayaran yang mudah, pelayanan yang cepat, dan prosedur yang baik. Pernyataan ketiga dengan adanya promosi penjualan secara kredit dapat menarik perhatian konsumen, promosi dapat
merangsang konsumen untuk melakukan pembelian secara kredit. PT Capella Dinamik Nusantara Kutacane melakukan event yang sering menawarkan promosi dengan uang muka yang lebih terjangkau, sepeda motor terbaru, dan promosi yang lainnya. Pada pernyataan-pernyataan tersebut responden menanggapi pada jawaban yang dominan pada pernyataan setuju. Dari distribusi tanggapan responden terhadap variabel penjualan kredit dapat disimpulkan bahwa penjualan kredit berpengaruh terhadap penjualan.
Kegiatan penjualan merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan oleh perusahaan dengan memasarkan produknya baik berupa barang atau jasa. Kegiatan pejualan yang dilaksanakan oleh perusahaan bertujuan untuk mencapai volume penjualan yang diharapkan dan menguntungkan untuk mencapai laba maksimum bagi perusahaan.
Didukung oleh teori Swastha (2005 : 404), kemampuan perusahaan dalam menjual produknya menentukan keberhasilan dalam mencari keuntungan, apabila perusahaan tidak mampu menjual maka perusahaan akan mengalami kerugian. Menurut Swastha (2005 : 404) tujuan umum penjualan dalam perusahaan yaitu :
1. Mencapai volume penjualan 2. Mendapatkan laba tertentu
3. Menunjang pertumbuhan perusahaan
Sesuai dalam teori Kasmir (2008 : 100) dalam bahasa latin kredit disebut ‘credere’ yang artinya percaya, karena itu dasar dari kredit adalah kepercayaan. Dengan demikian pihak pemberi kredit percaya kepada pihak penerima kredit,
sedangkan bagi pihak penerima kredit berarti menerima kepercayaan sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar kembali pinjaman tersebut sesuai dengan jangka waktunya.
Sesuai pernyataan menurut Wibowo (2002:53) penjualan kredit adalah penjualan barang dagangan dengan kesepakatan antara pembeli dan penjual pada saat transaksi yaitu pembayaran akan dilakukan pada waktu akan datang. Penjualan kredit memungkinkan perusahaan menambah volume penjualan dengan memberi kesempatan kepada pembeli membelanjakan sekarang penghasilan yang akan diterima dimasa yang akan datang. Piutang dagang timbul karena adanya penjualan secara kredit. Syarat penjualan lebih menarik sipembeli karena pembayarannya bisa dilakukan beberapa waktu kemudian. Dewasa ini kegiatan transaksi kredit sukar untuk dihindari oleh para pelaku bisnis. Para pelaku bisnis tersebut melakukan transaksi kredit dengan beberapa alasan dan tujuan. Alasan dan tujuan tersebut akan berbeda diantara pihak-pihak pelaku transaksi kredit yang bersangkutan. Adapun pihak yang berkepentingan dalam transaksi kredit yaitu pemberi kredit (kreditur) dan penerima kredit (debitur).
Perusahaan dagang memberikan kredit dengan tujuan untuk meningkatkan penjualan dan mengimbangi pesaing. Lembaga perbankan atau yang sejenis memberikan kredit dengan tujuan untuk memperoleh bunga dari pokok pinjamannya. Sedangkan pihak debitur atau pelanggan melakukan transaksi kredit dengan alasan tidak mempunyai kas yang cukup untuk membeli dan membayar suatu produk atau terpaksa meminjam sejumlah uang untuk modal dan diharapkan dengan modal pinjaman tersebut diperoleh suatu penghasilan yang nantinya dapat
mengembalikan pinjamannya tersebut serta memperoleh nilai lebih atau keuntungan.
Hal tersebut juga didukung oleh penelitian Hariyanto (2012), hasil penelitian yang diperoleh adalah pemaparan mengenai pengaruh sistem penjualan kredit dan peningkatan omzet penjualan sudah dijalankan dengan baik, tetapi masih kurang tersusun secara sistematis. Karena tidak adanya pemisahan fungsi dan tugas yang tepat dari bagian-bagian yang terlibat dalam aktivitas penjualan yang merupakan unsur penting dalam mecapai suatu laba perusahaan. sistem penjualan kredit masih kurang baik sehingga berpengaruh terhadap peningkatan omzet penjualan. Maka perlu adanya memperbaiki sistem penjualan kredit yang efektif dan didukung pengendalian intern yang memadai. Terutama fungsi yang terkait dengan penjualan harus berfungsi lebih efesien sebagaimana mestinya untuk mempermudah peningkatan omzet penjualan. Hal tersebut terkait pada kredit macet yang terjadi, maka dapat diatasi dengan survey analisis konsumen dengan lebih baik. Maka penjualan kredit berpengaruh terhadap penjualan tetapi harus didukung dengan prosedur kredit yang tepat.
BAB V