• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA Sifat Fisik dan Kimia Benih Kedela

Percobaan 3 Pengaruh Periode Simpan Benih terhadap Viabilitas dan Vigor Benih Kedela

Pada percobaan ini, benih 23 varietas kedelai (Krakatau, Kaba, Anjasmoro, Pangrango, Seulawah, Lawit, Dempo, Wilis, Malabar, Sinabung, Dieng, Panderman, Sindoro, Burangrang, Grobogan, Lokon, Tidar, Tanggamus, Rajabasa, Ijen, Ratai, Kawi dan Argopuro) disimpan selama 0, 2 4, 6, 8 dan 10 minggu pada ruang simpan tertutup dengan pengaturan suhu dan kelembaban udara menggunakan larutan garam jenuh. Larutan garam jenuh yang digunakan ialah KCl pada kesetimbangan kelembaban udara 83-85% dengan suhu ruang simpan 28-32 oC.

Data pada percobaan ini dianalisis menggunakan pendekatan analisis regresi linier sederhana. Pendekatan analisis regresi linier bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan hubungan antara berbagai peubah viabilitas dan vigor benih dengan peubah waktu penyimpanan benih. Persamaan regresi linier yang diperoleh yaitu,

y = a + bx Dimana,

y : Peubah viabilitas dan vigor benih (peubah tak bebas) a : Titik potong garis dengan sumbu y

b : Kemiringan garis

x : Waktu penyimpanan benih (peubah bebas)

Pendekatan dengan analisis korelasi juga dilakukan antara berbagai peubah viabilitas dan vigor benih dengan waktu penyimpanan benih, dimana sumbu x ialah waktu penyimpanan benih dan sumbu y ialah peubah viabilitas dan vigor benih. Nilai koefisien korelasi (r) digunakan untuk melihat keeratan hubungan kedua peubah (Walpole 1997). Nilai koefisien korelasi yang mendekati 1 (r ≈ 1) menggambarkan adanya keeratan hubungan antara berbagai peubah viabilitas dan vigor benih dengan waktu penyimpanan benih.

Berdasarkan hasil analisis regresi linier yang menggambarkan hubungan antara waktu penyimpanan (sumbu x) dengan variabel viabilitas dan vigor benih (sumbu y), akan diperoleh sudut kemiringan garis regresi (α). Selanjutnya

dilakukan analisis nilai vigor daya simpan (VDS) yang merupakan fungsi nilai dari vigor awal (VA) benih dibagi dengan sudut kemiringan garis regresi (α).

Vigor daya simpan VDS Sudut kemiringan garis regresi linier Vigor awal VA

Nilai vigor daya simpan (VDS) 23 varietas kedelai tersebut selanjutnya akan dikelompokkan menjadi dua kelompok benih yang memiliki nilai vigor daya simpan (VDS) tinggi (diatas rata-rata) dan kelompok benih dengan nilai vigor daya simpan (VDS) rendah (dibawah rata-rata) pada masing-masing variabel pengamatan.

Prosedur Pelaksanaan

Lot benih 23 varietas kedelai (Krakatau, Kaba, Anjasmoro, Pangrango, Seulawah, Lawit, Dempo, Wilis, Malabar, Sinabung, Dieng, Panderman, Sindoro, Burangrang, Grobogan, Lokon, Tidar, Tanggamus, Rajabasa, Ijen, Ratai, Kawi, Argopuro) terlebih dahulu diukur kadar airnya, kemudian disortir untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam kemasan kantung plastik PP. Benih 23 varietas kedelai dalam kemasan tersebut kemudian disimpan selama 0 (kontrol), 2, 4, 6, 8 dan 10 minggu pada ruang simpan tertutup dengan pengaturan suhu dan kelembaban udara menggunakan larutan garam jenuh KCl pada kesetimbangan kelembaban udara 83-85% dengan suhu ruang simpan 28-32 oC (Hall 1957).

Setelah benih disimpan, benih kemudian dikecambahkan dengan metode Uji Kertas Digulung dalam Plastik (UKDdP) pada alat pengecambah benih tipe IPB 72-1. Jumlah benih setiap perlakuan pada setiap ulangan yaitu 50 butir untuk masing-masing variabel pengamatan viabilitas dan vigor benih yang meliputi kadar air awal benih, daya berkecambah, indeks vigor, kecepatan tumbuh, bobot kering kecambah normal dan daya hantar listrik.

Analisis Perbandingan Hasil Penapisan Beberapa Varietas Benih Kedelai berdasarkan Vigor Daya Simpan secara Buatan (VDS-buatan) dengan Vigor

Daya Simpan Benih secara Alami (VDS-alami)

Berdasarkan data hasil penapisan 23 varietas benih kedelai berdasarkan vigor daya simpannya melalui metode pengusangan cepat benih menggunakan MPC IPB 77-1 MM (VDS-buatan) dengan hasil penapisan 23 varietas benih kedelai

25

x 100%

berdasarkan vigor daya simpan alami benih (VDS-alami), selanjutnya dilakukan analisis tingkat kesesuaian. Analisis tingkat kesesuaian penapisan berdasarkan VDS-buatan dengan VDS-alami dilakukan dengan cara menghitung persentase kesesuaian hasil penapisan 23 varietas benih kedelai pada masing-masing variabel pengamatan sesuai dengan rumus sebagai berikut,

∑ varietas dalam kelompok VDS-alami dan buatan yang sama

%KS variabel x = x100%

∑ varietas yang dibandingkan Keterangan,

%KS variabel x: Persentase kesesuaian penapisan varietas berdasarkan nilai vigor daya simpan pada variabel x

Pengamatan

Pengamatan dilakukan untuk menganalisis viabilitas dan vigor benih. Pengamatan yang dilakukan dalam penelitian meliputi beberapa variabel pengamatan sebagai berikut :

1. Kadar Air (%)

Pengukuran kadar air benih dilakukan dengan menggunakan metode oven suhu rendah konstan (103±2 oC) selama (17±1) jam. Kadar air benih dihitung dengan rumus:

(M2 – M1) (M2 – M3) Keterangan :

M1 : Berat cawan + tutup

M2 : Berat benih + M1 sebelum dioven M3 : Berat benih + M1 setelah dioven 2. Daya Berkecambah (%)

Uji daya berkecambah dilakukan dengan metode UKDdp (Uji Kertas Didirikan dalam Plastik). Daya berkecambah (DB) benih dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Daya Berkecambah % Jumlah benih yang dikecambahkan x KN I KN II %

Keterangan :

KN I : Jumlah kecambah normal pada hari hitung pertama (hari ke-3) KN II : Jumlah kecambah normal pada hari hitung kedua (hari ke-5) 3. Indeks Vigor (%)

Persentase kecambah normal pada hitungan pertama pengujian daya berkecambah menunjukkan persentase benih yang mampu berkecambah dalam kondisi optimum dan sub optimum, serta menunjukkan nilai indeks vigor benih tersebut. Nilai indeks vigor benih kedelai diperoleh pada hari ketiga pengamatan daya berkecambah.

Indeks Vigor % Jumlah benih yang dikecambahkan x KN I %

Keterangan :

KN I : Jumlah kecambah normal pada hitungan pertama (hari ke-3) 4. Kecepatan tumbuh (% kecambah normal/etmal)

Pengujian kecepatan tumbuh dilakukan dengan mengambil dan menghitung jumlah kecambah normal setiap etmal (24 jam) dimulai sejak hari pertama pengecambahan hingga hari ke-5. Nilai kecepatan tumbuh menunjukkan persentase rerata kecambah yang tumbuh setiap hari. Nilai kecepatan tumbuh benih dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

KCT= d

t

Keterangan :

KCT : Kecepatan tumbuh (% kecambah normal/etmal) t : Kurun waktu perkecambahan

d : Persentase kumulatif kecambah normal per etmal 5. Bobot Kering Kecambah Normal (g)

Seluruh bagian kecambah normal dibungkus dengan menggunakan kertas, kemudian dioven pada suhu 60 oC selama 3x24 jam. Kecambah

27

yang telah dioven kemudian dimasukkan ke dalam desikator selama ±30 menit dan kemudian ditimbang.

6. P50 (menit)

P50 merupakan pengukuran waktu pada saat perkecambahan menurun hingga 50% dari total perkecambahan benih. Satuan yang digunakan adalah menit.

7. Daya Hantar Listrik (µS cm-1 g-1)

Pengujian daya hantar listrik (conductivity test) merupakan metode pengujian untuk mengetahui tingkat kebocoran zat metabolik dalam benih yang berasal dari adanya kerusakan membran kulit benih akibat deraan. Lot benih kedelai diambil sebanyak 50 butir secara acak, kemudian dimasukkan ke dalam glassjar, kemudian di tambahkan 250 ml air bebas ion. Glassjar ditutup dengan alumunium foil kemudian diletakkan pada kondisi suhu 20±2 oC selama 24 jam. Kemudian benih disaring dan air hasil perendaman benih diukur daya hantar listriknya menggunakan conductivity meter. Perhitungan konduktivitas benih menggunakan rumus sebagai berikut:

konduktivitas sampel blanko μs. cm berat benih g

Dokumen terkait