Persiapan Lahan
Lahan terbebas gulma, varietas lain dari pertanaman sebelumnya dan tanaman voluntir serta terisolasi dari tanaman jagung lain. Tanah diolah sempurna.
15 Pembuatan Petak Percobaan
Petak percobaan dibuat berdasarkan populasi tanaman. Panjang petak sesuai dengan populasi tanaman, lebar petak 3 m dan jarak petak antar ulangan 1 m. (Lampiran 1).
Penanaman
Benih dicampur dengan insektisida sebelum tanam. Tetua jantan dan betina ditanam dalam baris berselang seling. Rasio tetua 1 : 4; ditanam 1 baris tetua jantan dan 4 baris tetua betina, rasio tetua 1 : 5; 1 baris jantan dan 5 baris betina dan rasio tetua 2 : 6; 2 baris jantan dan 6 baris betina. Tetua jagung ditanam sesuai perlakuan populasi tanaman, yaitu 66 667 tanaman/ha dengan jarak tanam 75 cm x 20 cm, 83 333 tanaman/ha (60 cm x 20 cm) dan 90 000 tanaman/ha (70 cm x 20 cm) dan baris ganda untuk tetua jantan dengan jarak antar baris dan jarak dalam barisan 20 cm). Setiap rasio tetua dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali (Lampiran 2).
Benih ditanam secara tugal dengan 1 butir per lubang. Tetua jantan Bima 3 ditanam 4 hari lebih awal dibanding dengan tetua betina, sedangkan tetua jantan STJ-01 ditanam lebih lambat 4 hari dibanding tetua betina. Hal ini dilakukan untuk sinkronisasi waktu keluar dan mekarnya bunga jantan pada tetua jantan dan rambut (silking) pada tetua betina sehingga penyerbukan berlangsung secara optimal.
Pemeliharaan
Pupuk organik sebanyak 2 ton/ha diberikan pada saat tanam sebagai penutup benih atau lubang tanam. Pemupukan anorganik dengan dosis 300 kg urea/ha dan 350 kg NPK/ha. Pemberian pupuk dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pada umur 7 hari setelah tanam (HST), dengan dosis 150 kg urea dan 175 kg NPK/ha dan umur 40 HST dengan dosis 150 kg urea dan 175 kg NPK/ha.
Penyiangan dilakukan sebanyak 2 kali. Penyiangan pertama dilakukan segera jika terdapat gulma setelah tanaman tumbuh. Penyiangan kedua dilakukan pada umur 30-40 HST. Pembumbunan dilakukan setelah pemupukan kedua (30 HST). Pemberian Carbofuran 3G pada saat tanam dengan dosis 10 kg/ha atau berkisar 3-4 butir/lubang tanam dan bila ada tanda-tanda serangan hama dan penyakit pada masa pertumbuhan akan diberikan melalui pucuk.
Pemberian air dilakukan pada awal tanam, 3 minggu setelah tanam, menjelang berbunga, dan saat pengisian biji.
Roguing/Seleksi
Roguing dilakukan dengan membuang varietas lain (tipe simpang), tanaman spesies lain dan gulma untuk menjaga kemurnian genetik benih yang dihasilkan. Roguing dilakukan pada fase vegetatif yaitu pada umur 3 minggu setelah tanam sekaligus sebagai penjarangan. Roguing tidak dilakukan pada saat pembunggan atau menjelang panen karena mengurangi populasi yang mengakibatkan perbedaan hasil akibat perbedaan jumlah tanaman yang diroguing.
Detasseling
Detasseling merupakan yang paling kritis dan sulit dalam produksi hibrida jagung. Semua tassel (bunga jantan) dari baris tanaman tetua betina harus dibuang sebelum serbuk sarinya (pollen) pecah dan rambut tongkol (silk) muncul untuk menjaga kemurnian genetik. Fase tasseling (berbunga jantan) biasanya berkisar antara 45-60 HST, ditandai oleh adanya cabang terakhir dari bunga jantan sebelum kemunculan bunga betina. Tahap fase tasseling dimulai 2-3 hari sebelum rambut tongkol muncul. Saat periode ini tinggi tanaman hampir mencapai maksimum dan tetua jantan mulai menyebarkan serbuk sari.
Detasseling umumnya berlangsung selama 2 minggu tapi kadang sampai 5 minggu atau lebih. Lama detasseling di lapangan ditentukan oleh keseragaman pertumbuhan, variasi kesuburan tanah, genangan air pada stadia awal, stress air sebelum pembungaan, serangan hama yang berat yang menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan tingginya infeksi penyakit. Terikutnya daun bagian atas tongkol perlu diminimalisasi saat dilakukan detasseling.
Panen
Panen dilakukan saat tanaman mencapai masak fisiologis, ditandai dengan bintik hitam (black layer) pada biji dengan cara memotong tongkol jagung pada bagian tengah dan apabila seluruh biji pada bagian tengah terdapat black layer maka tanaman jagung sudah siap dipanen.
17 Pengamatan
Variabel yang diamati adalah : a. Daya tumbuh tetua (%)
Pengamatan dilakukan pada saat tanaman berumur 7 HST. Jumlah tanaman yang tumbuh dihitung untuk mengetahui persentase tumbuh dengan membagi jumlah tanaman tumbuh dengan jumlah benih yang ditanam pada setiap petak. b. Umur berbunga jantan dan betina (hari)
Pengamatan dilakukan pada saat tanaman dalam unit percobaan berbunga lebih dari 50%. Umur berbunga jantan dihitung pada saat anthesis. Umur berbunga betina (silking, keluar rambut) dicatat bila rambut telah keluar panjang lebih dari 2 cm.
c. Tinggi tanaman (cm)
Tingggi tanaman diukur dari pangkal batang sampai ujung batang keluarnya daun atau pangkal terakhir bunga jantan pada saat masak fisiologis. Jumlah sampel yang diukur adalah 10 tanaman yang dipilih secara acak.
d. Tinggi letak tongkol (cm)
Tinggi letak tongkol diukur pada pangkal batang sampai dasar kedudukan tongkol pada saat masak fisiologis. Bila tanaman mempunyai dua tongkol, maka yang diambil adalah tongkol yang teratas/tongkol yang lebih normal perkembangannya. Jumlah sampel yang diukur adalah 10 tanaman yang dipilih secara acak.
e. Indeks luas daun
Pengamatan dilakukan pada saat masak fisiologis dihitung dengan membandingkan luas daun per tanaman atau per rumpun dengan luas tanah yang ditutupi per tanaman atau per rumpun (jarak tanam) dengan rumus : ILD = LD ; LD = luas daun, A= jarak tanam
A
Luas daun jagung yang diukur adalah daun ke-8 dengan menggunakan rumus (Pearce et al. 1975) :
LD = panjang daun x lebar daun maksimum x 0.75 x 9.39
f. Jumlah tongkol panen
Jumlah seluruh tongkol yang dipanen pada setiap petak percobaan, kecuali tongkol-tongkol yang sangat kecil dan hanya mempunyai beberapa biji. g. Bobot tongkol tanpa kelobot (g)
Tongkol-tongkol yang telah dipanen per petak, dikupas kelobotnya kemudian dilakukan penimbangan.
h. Berat kering brangkasan tanaman (g)
Pengamatan bobot kering tanaman dilakukan dengan cara menimbang bobot kering tanaman sampel yang telah dikeringkan dalam oven dengan suhu 60 °C selama 3 x 24 jam.
i. Panjang tongkol (cm)
Panjang tongkol diukur dari pangkal sampai ke ujung tongkol dari 10 sampel setiap baris pada petak percobaan.
j. Diameter tongkol (cm)
Diameter tongkol (mm) diukur di pertengahan tongkol dengan menggunakan jangka sorong dari 10 sampel setiap baris pada petak percobaan
k. Jumlah biji per tongkol (butir)
Jumlah biji dari 10 sampel tongkol pada setiap petak percobaan. l. Rendemen/rasio biji-tongkol (%)
Rendemen = Bobot biji 10 sampel tongkol yang telah dipipil x 100% Bobot 10 sampel tongkol yang belum dipipil
m.Hasil benih (kg/ha)
Hasil benih = 10000 m2 x (100-KA) x B x R JB x JAB x 3 m (100-12)
Keterangan :
KA : Kadar air panen (%)
B : Bobot tongkol tanpa kelobot (kg) R : Rendemen
JB : Jumlah baris
19 Percobaan 2. Evaluasi Mutu Benih Varietas Bima 3 dan STJ-01
Pengujian Viabilitas dan Vigor Benih
Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan satu faktor (varietas). Sebanyak 25 butir benih dari setiap ulangan pada masing-masing varietas ditanam pada boks plastik yang berisi media campuran pasir dan pupuk organik berbanding 1 : 1. Percobaan dilakukan sebanyak empat ulangan. Variabel viabilitas yang diamati adalah berkecambah (DB) dan potensi tumbuh maksimum (PTM) dan variabel vigor yang diamati adalah indeks vigor (IV), kecepatan tumbuh (KCT) dan keserempakan tumbuh (KST).
Pengujian Vigor Benih terhadap Kekeringan
Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor (varietas dan tekanan osmotik PEG 6000). Tekanan osmotik PEG 6000 terdiri atas empat level yaitu 0 bar, -0.04 bar, -00.6 bar, -0.08 bar dan -0.1 bar. Rumus perhitungan tekanan osmotik PEG 6000 menurut Michel & Kaufmann (1973) adalah sebagai berikut:
Ψs = – (1.18 x 10-2) C – (1.18 x 10-4) C2 + (2.67 x 10-4) CT + (8.39 x 10-7) C2T Keterangan :
Ψs = tekanan osmotik larutan (bar)
C = konsentrasi PEG 6000 dalam gram PEG/kg H2O T = suhu ruangan (oC)
Berdasarkan pendekatan rumus Michel & Kaufmann (1973) dengan suhu ruangan 28 oC diperoleh tekanan osmotik -0.04 bar, -00.6 bar, -0.08 bar dan -0.1 bar masing-masing setara dengan 7.89 g PEG/kg H2O, 11.16 g PEG/kg H2O, 14.13 g PEG/kg H2O dan 16.89 g PEG/kg H2O. Metode pengujian menggunakan metode uji kertas digulung didirikan dalam plastik (UKDdp) dengan substrat kertas merang. Setiap perlakuan terdiri atas empat ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 25 butir benih pada masing-masing varietas. Variabel yang diamati adalah DB, IV, PTM, KCT, panjang akar (PA) dan bobot kering akar (BKA). Pengujian Vigor Benih terhadap Salinitas
Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor (varietas dan konsentrasi NaCl). Konsentrasi larutan NaCl terdiri atas 0 ppm dan 4000 ppm (Bintoro 1989). Sebanyak 25 butir benih dari setiap ulangan pada
masing-masing varietas ditanam pada boks plastik media campuran pasir dan pupuk organik berbanding 1 : 1. Percobaan dilakukan sebanyak empat ulangan. Pemberian larutan NaCl 0 ppm dan 4000 ppm dilakukan setiap hari setelah tanaman berumur 2 minggu sampai 4 minggu. Variabel yang diamati adalah tinggi bibit (TB), jumlah daun hijau (JD), PA dan BKA.
Data hasil percobaan laboratorium dianalisis menggunakan analisis ragam (Anova). Apabila hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh nyata terhadap variabel yang diamati, maka dilakukan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf uji α=5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian di Desa Dutohe Kecamatan Kabila dan di Desa Ulanta Kecamatan Suwawa Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo dengan ketinggian 10-25 km dari permukaan laut (BPS Provinsi Gorontalo 2011). Curah hujan rata-rata selama penelitian 81.6 mm/bulan dengan rata-rata hari hujan 7.6 hari. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Juli mencapai 276 mm dengan hari hujan 20 hari, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan September. Suhu udara rata-rata selama penelitian berkisar 26.8-27.5 oC dan kelembaban udara rata-rata 77.6-84.5%. Lama penyinaran matahari berkisar 54-90% (Lampiran 3).
Berdasarkan hasil analisis tanah menunjukkan bahwa kedua lokasi penelitian memiliki tekstur tanah yang berbeda, unsur hara dan kandungan bahan organik yang sama. Tanah di Desa Dutohe memiliki tekstur lempung liat berdebu, kandungan hara N tergolong sangat rendah, P2O5 rendah, K2O rendah dan kandungan bahan organik rendah. Di Desa Ulanta memiliki memiliki tekstur lempung, kandungan hara N tergolong sangat rendah, P2O5 sangat rendah, K2O sedang dan kandungan bahan organik rendah. Hasil analisis tanah di lokasi penelitian secara lengkap disajikan pada Lampiran 4.
Produksi jagung di lokasi penelitian tahun 2011 yaitu Kecamatan Kabila hanya mencapai produksi 420 ton dengan produktivitas 4.0 t/ha dan Kecamatan Suwawa mencapai produksi 1 008 ton dengan produktivitas 4.2 t/ha (BPS Kabupaten Bone Bolango 2011).
Sistem tanam jagung di lokasi penelitian umumnya dilakukan secara monokultur dengan pola tanam jagung-jagung-jagung dan jagung-bera-jagung. Jagung dipanen muda (umur 3 bulan) untuk pakan ternak, sehingga memungkinkan pola tanam jagung selama satu tahun. Pola tanam jagung-bera-jagung dilakukan untuk produksi jagung-bera-jagung pipilan. Jagung juga ditanam dengan sistem tumpang sari dengan kacang tanah, jagung dengan cabai dan jagung di bawah naungan kelapa.
Varietas jagung hibrida dari perusahaan multinasional yang banyak digunakan di lokasi penelitian. Penanaman jagung komposit, jagung manis dan jagung lokal juga dilakukan oleh petani tetapi tidak seluas lahan yang digunakan untuk varietas jagung hibrida.
Ketersediaan pupuk organik di lokasi penelitian cukup besar karena petani juga memelihara hewan ternak di samping usahatani jagung. Potensi ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh petani. Penggunaan bahan organik pada lahan masih belum diterapkan oleh sebagian besar petani, bahkan masih ada yang tidak menggunakan pupuk dalam usahatani jagung.
Kegiatan usahatani jagung di lokasi penelitian masih tergantung pada air hujan sehingga air menjadi kendala. Musim kedua pertanaman jagung (bulan Mei sampai September) merupakan musim kemarau sehingga curah hujan sangat rendah. Penundaan waktu tanam sering dilakukan oleh petani sampai turun hujan walaupun lahan sudah siap tanam. Pemberian air menggunakan mesin pengisap air menjadi solusi alternatif jika hujan tidak turun selama masa petumbuhan tanaman sampai masa pembungaan. Terbatasnya ketersediaan sumber air menjadi masalah lain karena sumber air dari parit dan kolam yang terbentuk oleh genangan air hujan di sekitar lahan memiliki debit air yang terbatas. Kondisi ini hampir dialami setiap tahun pada musim kemarau oleh petani jagung di lokasi penelitian.
Percobaan 1. Pengaruh Perlakuan Populasi Tanaman dan Rasio Tetua terhadap Pertumbuhan Tanaman dan Produktivitas Benih
Analisis Ragam Variabel Agronomis
Hasil analisis ragam pada berbagai variabel pengamatan agronomis menunjukkan bahwa perlakuan rasio tetua pada produksi benih varietas Bima 3 memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman tetua betina, tinggi letak tongkol, indeks luas daun, jumlah tongkol panen, bobot tongkol tanpa kelobot dan hasil benih, sedangkan populasi tanaman hanya berpengaruh nyata terhadap indeks luas daun (Tabel 1). Perlakuan rasio tetua pada STJ-01 memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah tongkol panen, bobot tongkol tanpa kelobot dan hasil benih, sedangkan populasi tanaman memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah tongkol panen dan bobot tongkol tanpa kelobot.
23
Interaksi antara rasio tetua dengan populasi tanaman tidak memberikan pengaruh nyata terhadap semua variabel yang diamati (Tabel 1).
Tabel 1 Analisis ragam variabel agronomis tetua Bima 3 dan STJ-01 Variabel Pengamatan Tetua Bima 3 Tetua STJ-01
R P RxP R P RxP
Daya tumbuh tetua
Jantan tn tn tn tn tn tn Betina tn tn tn tn tn tn Umur berbunga Jantan tn tn tn tn tn tn Betina tn tn tn tn tn tn Tinggi tanaman Jantan tn tn tn tn tn tn Betina * tn tn tn tn tn
Tinggi letak tongkol * tn tn tn tn tn
Indeks luas daun * * tn tn tn tn
Jumlah tongkol panen * tn tn * * tn
Bobot tongkol tanpa
kelobot * tn tn * * tn
Berat kering brangkasan
tanaman tn tn tn tn tn tn
Panjang tongkol tn tn tn tn tn tn
Diameter tongkol tn tn tn tn tn tn
Jumlah biji per tongkol tn tn tn tn tn tn
Hasil benih * tn tn * tn tn
Keterangan : R=Rasio tetua , P=Populasi tanaman, RxP=interaksi antara rasio tetua dan populasi tanaman, tn= tidak berpengaruh nyata pada uji DMRT taraf 5%, * = berpengaruh nyata pada uji DMRT taraf 5%.
Tinggi Tanaman
Analisis ragam terhadap variabel tinggi tanaman menunjukkan bahwa perlakuan rasio tetua memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman tetua betina Bima 3, sedangkan perlakuan populasi tanaman tidak memberikan pengaruh nyata pada kedua tetua Bima 3 dan STJ-01 (Tabel 2).
Tabel 2 menunjukkan bahwa tinggi tanaman tetua betina Bima 3 pada perlakuan rasio tetua berkisar 80.10 - 92.49 cm dan tanaman tertinggi terdapat pada R2. Tinggi tanaman tetua betina Bima 3 lebih rendah dibandingkan dengan tetua jantan, sedangkan tanaman tetua betina STJ-01 lebih tinggi daripada tetua
jantan. Tinggi tanaman tetua Bima 3 dan STJ-01 ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan tinggi tanaman tetua dalam deskripsinya (DEPTAN 2007). Berdasarkan deskripsi tetua jantan Bima 3 (galur Mr14), tinggi tanaman mencapai tinggi 170 cm, sedangkan tinggi tanaman tetua betina Bima3 (galur Nei9008) hanya mencapai kurang lebih 140 cm. Berbeda dengan tetua STJ-01, tinggi tanaman tetua betina STJ-01 yaitu varietas Bima 5 mencapai tinggi kurang lebih 200 cm dibandingkan dengan tinggi tanaman tetua jantan STJ-01 (galur Nei9008) hanya kurang lebih 140 cm (DEPTAN 2007, 2008).
Tabel 2 Pengaruh rasio tetua dan populasi tanaman terhadap tinggi tanaman
Perlakuan Tetua Bima 3 Tetua STJ-01
Jantan Betina Jantan Betina
...Tinggi tanaman (cm) ... Rasio tetua R1 98.30 a 80.10 c 134.93 a 166.80 a R2 95.38 a 92.49 a 124.66 a 152.40 a R3 95.41 a 86.40 b 137.83 a 158.97 a Populasi tanaman P1 95.98 a 86.58 a 131.97 a 160.36 a P2 94.17 a 83.67 a 128.15 a 156.09 a P3 98.94 a 88.74 a 137.30 a 161.72 a
Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama masing-masing perlakuan tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5%. R1 = Rasio tetua 1 : 4,
R2 = Rasio tetua 1 : 5, R3 = Rasio tetua 2 : 6 (tetua jantan baris ganda), P1 = 66 667 tanaman/ha, P2 = 83 333 tanaman/ha, P3 = 90 000 tanaman/ha.
Perbedaan tinggi tanaman disebabkan faktor genetik dan lingkungan tempat tumbuh masing-masing tetua. Banyaknya tanaman kelapa di sekitar lokasi pertanaman STJ-01 menyebabkan tanaman tetua STJ-01 ternaungi sehingga tanaman tetua mengalami etiolasi. Hal ini menyebabkan tanaman tetua STJ-01 lebih tinggi daripada tanaman tetua Bima 3. Lakitan (1996) menyatakan bahwa laju pemanjangan batang berbeda antara spesies dan dipengaruhi oleh lingkungan di mana tanaman tersebut tumbuh. Faktor lingkungan yang besar pengaruhnya terhadap pemanjangan batang adalah suhu dan intensitas cahaya. Suhu optimum untuk pemanjangan batang bervariasi tergantung jenis tanaman. Laju pemanjangan batang berbanding terbalik dengan intensitas cahaya. Pemanjangan batang lebih terpacu jika tanaman ditumbuhkan pada tempat dengan intensitas cahaya rendah.
25
Perbedaan tinggi tanaman tetua jantan dan betina juga berpengaruh terhadap efisiensi penyerbukan. Polen yang dihasilkan oleh tanaman tetua jantan akan lebih mudah menyerbuki bunga betina dari tanaman tetua betina jika tanaman tetua jantan lebih tinggi daripada tanaman tetua betina.
Populasi tanaman tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman tetua Bima 3 dan STJ-01, tetapi cenderung semakin tinggi populasi tanaman maka pertumbuhan tanaman juga semakin tinggi. Menurut Sitaniapessy (1985), besarnya populasi tanaman tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman maksimum, namun pada awal pertumbuhan populasi tanaman berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan pengaruhnya akan berkurang dengan bertambahnya umur tanaman.
Tinggi Letak Tongkol
Analisis ragam terhadap variabel tinggi letak tongkol menunjukkan bahwa perlakuan rasio tetua hanya memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi letak tongkol tetua betina Bima 3, sedangkan populasi tanaman tidak berpengaruh nyata terhadap tetua betina Bima 3 dan STJ-01 (Tabel 3).
Tabel 3 Pengaruh rasio tetua dan populasi tanaman terhadap tinggi letak tongkol Perlakuan Tetua betina Bima 3 Tetua betina STJ-01
...Tinggi letak tongkol (cm) ... Rasio tetua R1 27.16 c 89.80 a R2 36.14 a 81.57 a R3 31.56 b 86.92 a Populasi tanaman P1 31.31 a 88.04 a P2 29.98 a 83.94 a P3 33.57 a 86.30 a
Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama masing-masing perlakuan tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5%. R1 = Rasio tetua 1 : 4,
R2 = Rasio tetua 1 : 5, R3 = Rasio tetua 2 : 6 (tetua jantan baris ganda), P1 = 66 667 tanaman/ha, P2 = 83 333 tanaman/ha, P3 = 90 000 tanaman/ha.
Tabel 3 menunjukkan bahwa letak tongkol tetua betina Bima 3 tertinggi pada R2 yaitu 36.14 cm, diikuti oleh R3 (31.56 cm) dan R1 (27.16). Tinggi letak tongkol ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan tinggi letak tongkol galur
Nei9008 dalam deskripsinya. Berdasarkan deskripsi tetua betina Bima 3 (Nei9008), letak tongkol mencapai tinggi kurang lebih 45 cm (DEPTAN 2007).
Perbedaan tinggi letak tongkol antara kedua tetua betina juga terlihat pada Tabel 3. Letak tongkol tetua betina STJ-01 lebih tinggi dibandingkan dengan tetua betina Bima 3. Hal ini disebabkan oleh perbedaan genotip kedua tetua. Tetua betina STJ-01 (varietas Bima 5) adalah tanaman F1 dari persilangan tunggal (single cross), sedangkan tetua betina Bima 3 (Nei9008) adalah galur murni. Tinggi letak tongkol tetua betina STJ-01 lebih rendah dibandingkan dengan varietas Bima 5 dalam deskripsinya yang mencapai tinggi kurang lebih 115 cm (DEPTAN 2008).
Secara umum tinggi letak tongkol tanaman tetua Bima 3 dan STJ-01 cenderung mengikuti pertumbuhan tinggi tanaman. Tanaman tetua Bima 3 dan STJ-01 yang tinggi (Tabel 2) cenderung memiliki letak tongkol yang tinggi pula (Tabel 3).
Indeks Luas Daun
Analisis ragam terhadap variabel indeks luas daun menunjukkan bahwa perlakuan rasio tetua dan populasi tanaman memberikan pengaruh nyata terhadap indeks luas daun tetua betina Bima 3, tetapi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tetua betina STJ-01 (Tabel 4).
Tabel 4 Pengaruh rasio tetua dan populasi tanaman terhadap indeks luas daun Perlakuan Tetua betina Bima 3 Tetua betina STJ-01 Rasio tetua R1 1.82 b 4.10 a R2 2.39 a 4.25 a R3 1.90 b 3.94 a Populasi tanaman P1 1.83 b 4.02 a P2 2.20 a 4.42 a P3 2.08 a 3.86 a
Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama masing-masing perlakuan tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5%. R1 = Rasio tetua 1 : 4,
R2 = Rasio tetua 1 : 5, R3 = Rasio tetua 2 : 6 (tetua jantan baris ganda), P1 = 66 667 tanaman/ha, P2 = 83 333 tanaman/ha, P3 = 90 000 tanaman/ha.
Tabel 4 menunjukkan bahwa nilai indeks luas daun tetua betina Bima 3 pada perlakuan rasio tetua dan populasi tanaman masing-masing berkisar 1.82 - 2.39
27
dan 1.83 - 2.20. Indeks luas daun tertinggi masing-masing terdapat pada R2 dan P2.
Menurut Stoskops (1981) varietas hibrida mempunyai indeks luas daun optimal 3.3-4.0. Apabila populasi yang tinggi dan sistem tanam mempunyai indeks luas daun di atas 4.5 mengakibatkan daun saling menutupi dan daun bagian bawah tidak mendapatkan radiasi surya yang memadai. Hal tersebut menyebabkan sirkulasi O2 dan CO2 yang rendah dan unsur hara tidak seimbang karena hara lebih banyak digunakan untuk pertumbuhan vegetatif tanaman akibatnya menurunkan hasil biji jagung.
Muhadjir (1988) menunjukkan bahwa indeks luas daun jagung yang lebih besar dari 3.0 maka 95% cahaya matahari diserap. Ditambahkan oleh Fischer dan Palmer (1996), bahwa indeks luas daun optimum untuk hasil biji jauh lebih rendah daripada untuk laju pertumbuhan tanaman maksimum bernilai antara 2.5 sampai 5.0. Jika indeks luas daun lebih besar daripada nilai tersebut, tambahan bahan kering yang dihasilkan terutama tertimbun dalam batang.
Perbedaan indeks luas daun pada perlakuan rasio tetua dan populasi tanaman menunjukkan perbedaan kemampuan tanaman dalam mengintersepsi cahaya matahari untuk memproduksi fotosintat. Fotosintat tersebut yang akan digunakan dalam proses metabolisme tanaman, pembentukan sel/organ tanaman serta pengisian biji (Gardner et al. 2008).
Jumlah Tongkol Panen
Analisis ragam terhadap variabel jumlah tongkol panen menunjukkan bahwa perlakuan rasio tetua memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah tongkol panen tetua betina Bima 3 dan STJ-01, sedangkan populasi tanaman hanya memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah tongkol panen tetua betina STJ-01 (Tabel 5).
Jumlah tongkol panen tetua betina Bima 3 paling banyak dihasilkan pada R3 yaitu 109.67 tongkol, namun tidak berbeda nyata dengan R2 (101.89) dan paling sedikit pada R1 (78.22). Populasi tanaman tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah tongkol panen tetua betina Bima 3 tetapi populasi tanaman yang rapat cenderung menghasilkan tongkol yang banyak (Tabel 5).
Tabel 5 Pengaruh rasio tetua dan populasi tanaman terhadap jumlah tongkol panen
Perlakuan Tetua betina Bima 3 Tetua Betina STJ-01 ... Jumlah tongkol panen... Rasio tetua R1 78.22 b 96.89 a R2 101.89 ab 65.67 b*) R3 109.67 a 107.11 a Populasi tanaman P1 94.33 a 82.33 b P2 86.44 a 81.56 b P3 109.00 a 105.78 a
Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama masing-masing perlakuan tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5%. R1 = Rasio tetua 1 : 4,
R2 = Rasio tetua 1 : 5, R3 = Rasio tetua 2 : 6 (tetua jantan baris ganda), P1 = 66 667 tanaman/ha, P2 = 83 333 tanaman/ha, P3 = 90 000 tanaman/ha.
*)
Tanaman terserang hama pada fase menjelang panen.
Tabel 5 menunjukkan jumlah tongkol panen tetua betina STJ-01 terbanyak pada R3 (107.11 tongkol) tetapi tidak berbeda nyata dengan R1 (96.89) dan R2 (65.67). Pengaruh populasi tanaman menghasilkan tongkol terbanyak pada P3 (105.78 tongkol), tetapi tidak berbeda nyata dengan P1 (82.33) dan P2 (81.56). Rasio tetua 2 : 6 dan populasi 90 000 tanaman/ha cenderung menghasilkan tongkol terbanyak dibandingkan dengan rasio tetua (R1 dan R2) dan populasi tanaman (P1 dan P2).
Perbedaan jumlah tongkol yang dihasilkan oleh tetua betina Bima 3 dan