Laju respirasi merupakan petunjuk yang baik untuk daya simpan buah sesudah dipanen. Buah manggis yang telah dipanen tetap menunjukkan aktivitas hidup walaupun telah dipisahkan dari inangnya. Energi yang digunakan untuk menjaga komponen sistem metabolisme bekerja dengan baik dan yang diperoleh merupakan hasil dari kegiatan respirasi. Intensitas respirasi dianggap sebagai ukuran laju jalannya metabolisme oleh sebab itu, sering dianggap sebagai petunjuk mengenai potensi daya simpan buah. Laju respirasi yang tinggi biasanya disertai dengan umur simpan yang pendek (Pantastico 1997).
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap laju respirasi buah pada tiap kemasan untuk masing- masing pola pengaturan (Tabel 18), diperoleh bahwa rataan laju produksi CO2 terendah dihasilkan pada buah yang dikemas dengan
kapasitas 15 kg menggunakan pola fcc (K15Pf) yaitu sebesar 26.302 ml/kg jam.
Laju produksi CO2 tertinggi dihasilkan pada buah yang dikemas dengan kapasitas
8 kg menggunakan pola jumble (K8Pj) yaitu sebesar 31.007 ml/kg jam. Pola yang
sama juga ditunjukkan untuk nilai laju konsumsi O2. Seperti halnya pada laju
produksi CO2, laju konsumsi O2 terendah juga dihasilkan oleh buah yang dikemas
berkapasitas 15 kg dengan pola fcc (K15Pf) yaitu sebesar 66.737 ml/kg jam. Laju
konsumsi O2 tertinggi dihasilkan oleh buah yang dikemas berkapasitas 8 kg
dengan pola jumble.
Tabel 18 Nilai laju respirasi masing- masing perlakuan. Perlakuan Laju respirasi CO2
(ml/kg jam) Laju respirasi O2 (ml/kg jam) Kapasitas 8 Jumble (K8Pj) Kapasitas 8 Fcc (K8Pf) Kapasitas 15Jumble (K15Pj) Kapasitas 15Fcc (K15Pf) 31.007 29.484 29.032 26.302 69.561 68.984 67.519 66.737
Laju produksi CO2 terendah pada perlakuan K15Pf yaitu buah yang
dikemas berkapasitas 15 kg dengan pola fcc dapat diartikan bahwa buah pada perlakuan tersebut mengalami tingkat kerusakan yang rendah. Sebaliknya laju produksi CO2 tertinggi yang dihasilkan pada perlakuan K8Pj yaitu buah yang
perlakuan tersebut mengalami tingkat kerusakan tertinggi dibandingkan dengan pelakuan lainnya. Pantastico (1997) menyatakan bahwa parahnya kerusakan yang terjadi dapat memacu respirasi sebagai pengaruh dihasilkan gas etilen. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi tingkat kerusakan yang terjadi pada suatu produk, maka laju respirasi yang terjadi pada produk tersebut juga akan tinggi. Tingginya laju respirasi pada buah manggis pasca transportasi diduga akibat dari kerusakan mekanis yang disebabkan oleh benturan dan gesekan antar buah dalam kemasan.
Rendahnya laju respirasi yang terjadi pada buah yang dikemas dengan kapasitas 15 kg berpola fcc (K15Pf ) dikarenakan pada pola fcc memiliki susunan
buah yang kompak. Kondisi kompak tersebut diartikan bahwa buah di dalam kemasan memiliki kedudukan tetap dan tidak berubah. Dengan kondisi buah yang kompak, maka gesekan yang terjadi sela ma produk ditransportasikan dapat dihindari. Kondisi sebaliknya diperoleh pada buah yang dikemas berkapasitas 8 kg dengan cara jumble. Laju respirasi yang tinggi pada perlakuan K8Pj
dikarenakan pada pola jumble, buah dalam kemasan memiliki kedudukan yang tidak kompak akibatnya intensitas gesekan dan benturan antara buah menjadi lebih tinggi. Goncangan yang terjadi selama produk ditransportasikan merupakan penyebab dari gesekan dan benturan tersebut.
Tingkat kekompakan isi kemasan dapat ditunjukkan oleh persentase kepadatan kemasan. Dari hasil perhitungan diperoleh bahwa perlakuan K15Pf
memiliki persentase kepadatan tertinggi yaitu sebesar 66%. Peleg (1985) menyatakan bahwa persentase kepadatan kemasan maksimum yang dapat dicapai pada pola fcc untuk jumlah buah (N) yang berada dalam kisaran 50 < N < 300 adalah antara 55% sampai 68%. Selanjutnya dinyatakan bahwa persentase kepadatan kemasan maksimum yang dapat dicapai pada buah yang dikemas dengan pola jumble hanya mampu mendekati 50%. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan buah yang dikemas dengan pola jumble akan memberikan lebih banyak ruang kosong dibandingkan pola fcc. Adanya ruang kosong yang lebih banyak pada buah berpola jumble memungkinkan tingkat kerusakan akibat goncangan akan menjadi lebih besar pada perlakuan tersebut.
Perubahan laju respirasi dalam satuan waktu selama pengamatan ditunjukkan oleh Gambar 26 grafik a dan grafik b. Pada grafik a diketahui bahwa setiap perlakuan memiliki pola yang hampir sama dari waktu ke waktu kecuali perlakuan kemasan berkapasitas 8 kg dengan pola jumble. Perlakuan K8Pj
berdasarkan grafik menunjukkan perbedaan pola pada kondisi awal, dimana saat perlakuan lainnya cenderung mengalami penurunan laju respirasi, perlakuan K8Pj
menunjukkan peningkatan. Dilihat dari perubahan produksi CO2 dan O2 perlakuan
K8Pj memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan perlakuan lainnya.
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 9) menunjukkan bahwa perlakuan pola pengaturan, kapasitas kemasan dan interaksinya berpengaruh nyata terhadap laju respirasi produksi CO2. Selanjutnya setelah dilakukan uji lanjut interaksi
antar perlakuan (Tabel 19) dihasilkan bahwa perlakuan K8Pj berbeda nyata dengan
tiga perlakuan lainnya; perlakuan K8Pf tidakberbeda nyata dengan perlakuan K15Pj
namun berbeda dengan dua perlakuan lainnya dan perlakuan K15Pf yang
memproduksi CO2 terkecil berbeda nyata dengan tiga perlakuan lainnya. Ini
berarti bahwa perlakuan K8Pf dan perlakuan K15Pj memberikan pengaruh yang
sama dan tidak berbeda terhadap laju produksi CO2 walaupun besarannya
menunjukkan angka yang berbeda.
Berdasarkan analisis sidik ragam, pengaruh masing- masing perlakuan terhadap laju respirasi konsumsi O2 (Lampiran 10) diketahui bahwa perlakuan
pola pengaturan, kapasitas kemasan dan interaksinya tidak berpengaruh nyata terhadap laju respirasi produksi O2. Kondisi ini diduga akibat dari sistem
pengukuran analog pada alat portable oxygen tester POT 101, sehingga tingkat ketelitian yang ditunjukkan alat tersebut tidak sebaik alat continous gas analyzer
yang menggunakan sistem digital. Winarno (2002) menyatakan jumlah oksigen yang digunakan dalam proses respirasi relatif sangat sedikit sehingga dibutuhkan alat ukur yang memiliki kepekaan yang sangat tinggi. Penyebab lainnya juga diduga akibat dari pengkondisian wadah toples yang selalu dibuka setiap kali selesai dilakukannnya pengukuran laju respirasi, dan hal ini menyebabkan oksigen selalu tersedia dalam kondisi normal.
(a)
(b)
Gambar 26 Grafik pola laju respirasi (a) produksi CO2; (b) konsumsi O2
Tabel 19 Hasil uji lanjut pengaruh interaksi terhadap laju respirasi Perlakuan Laju respirasi CO2
(ml/kg jam) Laju respirasi O2 (ml/kg jam) Kapasitas 8 Jumble (K8Pj) Kapasitas 8 Fcc (K8Pf) Kapasitas 15 Jumble (K15Pj) Kapasitas 15 Fcc (K15Pf) 31.007 a 29.484 b 29.032 b 26.302 c 69.561 a 68.984 a 67.519 a 66.737 a
Keterangan: angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf kepercayaan 5%
15,0 25,0 35,0 45,0 55,0 65,0 0 50 100 150 200 250 Konsentrasi CO2 (ml/Kg) Waktu (Jam) FCC,8 Kg Jumble,8 Kg Fcc, 15 Jumble,15 0 50 100 150 200 250 300 350 0 50 100 150 200 250 Konsentrasi O2 (ml/Kg) Waktu (Jam) FCC,8 Kg Jumble,8 Kg Fcc, 15 Jumble,15