1.
Bobot jenis
Bobot jenis suatu minyak dipengaruhi oleh perbandingan komponen-komponen penyusun minyak, seperti jenis dan komposisi kimia dari minyak tersebut. Apabila komponen yang menyusun minyak tersebut memiliki bobot molekul yang tinggi dan terdapat dalam jumlah yang lebih besar maka nilai bobot jenis dari minyak tersebut akan semakin tinggi. Fraksi berat komponen minyak dipengaruhi oleh panjang rantai molekul yang menyusun. Semakin panjang rantai yang tersusun maka bobot molekul komponen tersebut semakin besar pula.
Berdasarkan hasil penelitian Sitorus (2004), pada biji pala bejo (muda) senyawa aromatik seperti eugenol, miristisin, dan isoeugenol sebesar 22.08 %, sedangkan pada biji pala polong sebesar 27.65 % dan biji pala tua sebesar 35.32 %. Komponen penyusun minyak pala pada biji pala muda didominasi oleh komponen yang memiliki bobot molekul rendah, sedangkan pada biji pala tua komponen yang memiliki bobot molekul tinggi terdapat dalam jumlah besar sehingga minyak pala yang dihasilkan pada biji pala tua lebih tinggi bobot jenisnya dibandingkan biji pala muda dan polong. Hal tersebut disebabkan oleh kandungan lemak yang dikandung biji pala tua lebih tinggi dibandingkan biji pala muda dan polong. Kandungan senyawa aromatik yang memiliki bobot molekul tinggi adalah miristisin, eugenol, dan isoeugenol.
Berdasarkan hasil analisis ragam perlakuan perendaman dan lama penyimpanan tidak menghasilkan nilai yang berbeda nyata, serta tidak ada interaksi yang significant antara perlakuan perendaman dan lama penyimpanan. Meskipun begitu nilai rata-rata bobot jenis
32 yang dihasilkan dari seluruh sample minyak yang diuji sesuai dengan standar nasional, yaitu sekitar 0.89-0.92, kecuali rata-rata sample minyak pada perlakuan perendaman 3 dengan lama penyimpanan 3 minggu (lihat Gambar 19). Hal tersebut mungkin diakibatkan komposisi biji pala medium pada sample lebih banyak dibanding komposisi biji pala muda.
Gambar 19. Rata-rata bobot jenis dari hasil pengujian dari setiap perlakuan yang diberikan Dari hasil penelitian Suprihati et al. (2007), penambahan garam (NaCl) ke dalam sistem ketika proses distilasi dapat meningkatkan titik didih air karena garam hanya akan larut dalam air sedangkan minyak tidak dapat larut. Dengan peningkatan tersebut, maka ada kesempatan bagi senyawa ringan minyak untuk menguap lebih lama lagi. Hasilnya akan semakin meningkatkan kadar dan konsentrasi miristisin dalam kandungan fraksi yang diperoleh.
Hal ini berarti, kandungan garam pada perlakuan 3 dengan lama penyimpanan 3 minggu lebih tinggi dibandingkan pada perlakuan yang sama dengan lama penyimpanan 1 dan 2 minggu (lihat pada Gambar 19).
2.
Indeks bias
Indeks bias suatu cairan merupakan perbandingan kecepatan cahaya dalam cairan tersebut dengan kecepatan cahaya di udara pada suhu tertentu. Indeks bias dipengaruhi oleh komposisi penyusun minyak atsiri. Semakin muda umur biji pala maka kadar minyak atsiri semakin tinggi dan kandungan lemaknya rendah sehingga indeks biasnya semakin tinggi. Indeks bias juga dipengaruhi oleh jumlah komponen per satuan volume, semakin banyak jumlah komponen dalam minyak pala, kerapatan minyak akan semakin tinggi sehingga lebih sulit membiaskan cahaya yang datang, dan menyebabkan nilai indeks bias akan semakin besar. Indeks bias suatu minyak cenderung terkait dengan nilai bobot jenis minyak tersebur karena kedua parameter tersebut dipengaruhi oleh komponen yang terdapat dalam minyak (Wibowo et al. 2011). Oleh karena itu, peningkatan bobot jenis akan meningkatkan indeks bias minyak pala. Minyak pala dengan nilai indeks bias yang besar lebih bagus
Batas SNI
33 dibandingkan dengan nilai indeks bias yang kecil. Nilai indeks bias yang kecil dipengaruhi oleh banyaknya kandungan air dalam minyak.
Berdasarkan hasil analisis ragam semua perlakuan baik perlakuan perendaman maupun lama penyimpanan yang diberikan memberikan respon yang sama (tidak berbeda nyata) dan tidak ada interaksi antara perlakuan perendaman dan lama penyimpanan tidak menghasilkan nilai yang signifikan. Oleh karena itu, nilai indeks bias yang dihasilkan dari setiap perlakuan tidak berbeda jauh, yaitu bernilai antara 1.47-1.48 dan nilai tersebut sesuai dengan standar nasional. Hasil rata-rata indeks bias yang dihasilkan dari setiap perlakuan dapat dilihat pada Gambar 20.
Gambar 20. Indeks bias rata-rata yang dihasilkan dari setiap perlakuan
3.
Putaran optik
Minyak atsiri merupakan media optik aktif sehingga jika ditempatkan pada sinar atau cahaya terpolarisasi akan memutar arah sinar. Putaran optik minyak atsiri dipengaruhi oleh jenis dan konsentrasi komposisi kimia minyak, panjang tabung yang dilalui sinar, suhu pengukuran, dan gelombang cahaya yang digunakan. Besar putaran optik minyak merupakan gabungan nilai optik senyawa kimia penyusunnya (Sitorus 2004).
Komponen-komponen dalam minyak ada yang memutar bidang polarisasi ke kanan, kiri, dan ada yang tidak memutar. Komponen minyak pala yang memutar bidang polarisasi ke kanan, seperti kamfen (+ 36o), sedangkan polarisasi ke kiri, seperti linalool (- 12 o), α- pinen (- 8 o), dan α-terpineol (- 2 o). Komponen minyak pala yang tidak memutar bidang, seperti fernsol (Sitorus 2004).
Berdasarkan hasil analisis ragam, perlakuan perendaman menghasilkan nilai yang berbeda nyata yang berarti perlakuan perendaman tidak mempengaruhi putaran optik. Sedangkan untuk perlakuan lama penyimpanan tidak menghasilkan nilai yang beda nyata. Namun ada interaksi yang signifikan antara perlakuan perendaman dengan lama penyimpanan. Interaksi yang signifikan terjadi pada perlakuan perendaman 1 dengan perlakuan perendaman 3 pada lama penyimpanan 2 minggu (lihat Lampiran 15).
(minggu) Batas SNI
34 Selain itu juga ada korelasi yang signifikan antara putaran optik dengan kadar air biji pala sebelum penyimpanan sebesar 0.99o dan kadar air biji pala setelah penyimpanan dengan nilai korelasi sebesar 0.68o. Hal ini menunjukkan hubungan kedua variabel sangat kuat dan searah (positif) seperti dapat dilihat pada Lampiran 15.
Putaran optik yang dihasilkan dari sample minyak dari seluruh perlakuan berkisar antara (+) 6.18o hingga (+) 25.62o, dimana nilai tersebut masih sesuai dengan standar nasional. Meskipun ada beberapa nilai yang berada dibawah dan melebihi batas maksimal standar yang telah ditentukan (lihat Gambar 21). Hal tersebut disebabkan adanya pengaruh kadar air dari bahan tersebut, dengan semakin rendah kadar air biji pala yang disuling maka putaran optik semakin rendah dan begitu pula sebaliknya. Rata-rata kadar air setelah penyimpanan pada perlakuan perendaman 1 dengan lama penyimpanan 2 minggu, yaitu sebesar 10.30 % dan menghasilkan rata-rata putaran optik sebesar (+) 25.62o. Sedangkan rata-rata kadar air yang dihasilkan pada perlakuan perendaman 3 dengan lama penyimpanan 2 minggu, yaitu sebesar 7.34 % dan menghasilkan rata-rata putaran optik sebesar (+) 6.18o.
Gambar 21. Rata-rata putaran optik yang dihasilkan dari setiap perlakuan
Putaran optik yang tinggi disebabkan karena minyak mengandung bahan lain seperti mineral dan lemak, sedangkan putaran optik yang rendah dapat disebabkan karena kandungan eugenol pada minyak rendah. Rendahnya kandungan eugenol dipengaruhi oleh lama pengeringan (Maryami 1994). Lama pengeringan pada perlakuan 3 lebih lama 2 hari jika dibandingkan dengan perlakuan 1 dan 2, yaitu 8-9 hari. Oleh karena itu, putaran optik pada perlakuan 3 lebih rendah jika dibandingkan dengan perlakuan 1 dan 2.
4.
Kelarutan dalam alkohol 90 %
Penentuan kelarutan minyak dalam alkohol dilakukan untuk mengetahui jumlah dan konsentrasi alkohol yang dibutuhkan untuk melarutkan secara sempurna minyak tersebut. Kelarutan minyak tersebut dipengaruhi pada kecepatan daya larut dan kualitas minyak (Wibowo et al. 2011). Selain itu juga kelarutan dipengaruhi oleh jenis dan komposisi
(minggu) Batas SNI
35 komponen kimia minyak tersebut. Golongan hidrokarbon yang teroksigenasi mempunyai kemampuan lebih larut dalam etanol dibandingkan dengan golongan hidrokarbon. Hal ini disebabkan hidrogen teroksigenasi merupakan senyawa polar. Oleh karena itu kelarutan dalam alkohol dan menunjukkan kepolaran minyak tersebut (Sitorus 2004).
Berdasarkan hasil analisa ragam diperoleh hasil yang tidak berbeda nyata untuk perlakuan perendaman dan lama penyimpanan, serta tidak ada interaksi antara perlakuan perendaman dan lama penyimpanan dengan nilai yang dihasilkan tidak signifikan (lihat Lampiran 14). Kelarutan dalam alkohol rata-rata yang diperoleh berkisar antara 1.00 hingga 1.34. Data hasil analisa kelarutan dalam alkohol 90 % dapat dilihat pada Lampiran 5. Dari perlakuan yang diberikan, rata-rata kelarutan dalam alkohol 90 % sesuai dengan standar nasional (lihat Gambar 22) dengan warna hasil kelarutan jernih hingga jernih agak kekuningan.
Gambar 22. Rata-rata kelarutan dalam alkohol 90 % terhadap perlakuan yang diberikan
Menurut Feryanto (2007), telah diketahui bahwa alkohol merupakan gugus OH. Karena alkohol dapat larut dengan minyak atsiri maka pada komposisi minyak atsiri yang dihasilkan tersebut terdapat komponen-komponen terpen teroksigenasi. Oleh karena itu kelarutan minyak dalam alkohol ditentukan oleh jenis komponen kimia yang terkandung dalam minyak. Pada umumnya minyak atsiri yang mengandung persenyawaan terpen teroksigenasi lebih mudah larut daripada yang mengandung terpen. Makin tinggi kandungan terpen makin rendah daya larutnya atau makin sukar larut, karena senyawa terpen tak teroksigenasi merupakan senyawa nonpolar yang tidak mempunyai gugus fungsional. Hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin kecil kelarutan dalam alkohol 90 % maka kualitas minyak atsiri semakin baik. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa kelarutan minyak pala dalam alkohol 90 % untuk semua jenis perlakuan perendaman dan lama penyimpanan memiliki kualitas yang sangat baik karena nilai kelarutannya rata-rata pada batas minimum SNI.
(minggu) Batas SNI
36