HASIL PENELITIAN 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
5.1. Pengaruh Faktor Konsumen dan Penyedia Pelayanan Kesehatan terhadap Pemanfaatan Rumah Sakit Khusus Mata Sumatera Kota Medan Pemanfaatan Rumah Sakit Khusus Mata Sumatera Kota Medan
5.1.1. Pengaruh Persepsi tentang Penyakit terhadap Pemanfaatan
Hasil penelitian persepsi tentang penyakit 53,0% pada kategori tidak baik. Retina adalah jaringan kertas tipis yang melapisi bagian belakang mata dan mengirimkan sinyal visual ke otak. Pengertian operasi vitreoretinal adalah operasi mata untuk mengatasi kelainan retina (selaput saraf mata) atau vitreus (jaringan jernih berbentuk agar yang mengisi bola mata). Tujuan utama dokter mata melakukan tindakan operasi mata vitreoretinal yang semakin meningkat pada masyarakat untuk untuk memperlambat perkembangan kehilangan penglihatan dan melestarikan penglihatan serta memenuhi keperluan kemajuan teknologi di bidang pengobatan mata yang memerlukan tindakan bedah. Banyak penyakit mata retina dengan berbagai gejala yang unik apabila tidak diobati maka penyakit mata retina dapat mengilangkan penglihatan bahkan merusak mata.
Menurut Zastrow et al. (2004) persepsi merupakan suatu proses yang timbul akibat adanya aktivitas (pelayanan yang diterima) yang dapat dirasakan oleh suatu objek. Persepsi setiap orang terhadap suatu objek akan berbeda-beda karena persepsi
memiliki sifat subjektif yang merupakan suatu rasa puas atau tidak oleh adanya pelayanan.
Hasil uji secara bivariat ditemukan bahwa responden yang memiliki persepsi tidak baik tentang penyakit lebih banyak tidak memanfaatkan. Hasil uji statistik secara multivariat menunjukan variabel persepsi tentang penyakit berpengaruh positif dan signifikan terhadap pemanfaatan dengan nilai probabilitas p=0,010<p=0,05 dan nilai Exp (B) sebesar 7,391. Hal ini berarti responden yang memiliki persepsi baik tentang penyakit mempunyai peluang 7 kali memanfaatkan dibandingkan dengan responden yang memiliki persepsi tidak baik.
Hasil wawancara menunjukkan 51,8% responden menyatakan datang berobat ke Rumah Sakit Khusus Mata Sumatera karena keluhan pada sakit mata retina, sebanyak 53,0%, menyatakan karena yakin bahwa penyakit mata retina yang diderita dapat sembuh dan sebanyak 69,9%, menyatakan sakit mata retina belum mengganggu aktivitas sehari-hari. Berdasarkan hasil wawancara dapat diambil suatu makna bahwa pasien datang berobat ke Rumah Sakit Khusus Mata Sumatera Medan memiliki persepsi ; (a) penyakit mata retina bukan merupakan penyakit yang berbahaya dan tidak sampai mematikan, (b) penyakit mata retina yang diderita belum mengganggu aktivitas sehari-hari, dan (c) datang ke dokter mata dengan rasa sakit yang begitu parah.
Hal ini juga terkait dengan karakteristik pasien bahwa sebagian besar responden pada kelompok umur 34-50 tahun dan >50 tahun, yaitu sebanyak 69,9% dengan tingkat pendidikan sebagian besar SLTP-SLTA sebanyak 79,5%. Insiden
penyakit mata retina pada umumnya rentan terjadi pada kelompok dewasa tua dan kritis terhadap pelayanan kesehatan, hal ini merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kunjungan ulang terhadap pemanfaatan Rumah Sakit Khusus Mata Sumatera Medan.
Menurut AMDF (American Macular Degeneration Foundation) penyakit mata retina juga terkait dengan usia akibat degenerasi makular. Degenerasi makular merupakan kondisi medis kronik yang tidak dapat diperbaiki, yang menyebabkan hilangnya penglihatan sentral karena kerusakan macula, atau bagian tengah retina. Degenerasi Makular Terkait Usia (Age-related Macular Degeneration - AMD) adalah penyebab utama kebutaan pada usia 50 tahun ke atas. Kondisi ini berdampak kesulitan dalam membaca atau mengenali wajah, meskipun penglihatan perifer (sekeliling pinggir luar) yang cukup baik walaupun memungkinkan untuk melakukan aktivitas harian lainnya. Namun, mengemudikan kendaraan dan membaca akan terpengaruh.
Beberapa ciri-ciri seseorang menderita degenerasi makular yang berhubungan dengan usia, seperti: (a) penglihatan sentral memburam secara bertahap atau dengan cepat, (b) terlihat bayang-bayang gelap atau ada daerah yang tidak terlihat (c) distorsi penglihatan, contohnya garis lurus tampak bergelombang dan ada bagian yang tampak kosong, (d) problem membedakan warna, khususnya satu warna gelap dari warna gelap lainnya dan satu warna terang dari warna terang lainnya, (e) Setelah melihat cahaya terang, fungsi penglihatan lambat untuk pulih, dan (f) kehilangan
sensitivitas kontras (kemampuan untuk membedakan berbagai tingkat kecerahan cahaya).
Persepsi tentang sakit antara pasien dan petugas kesehatan berbeda, disebabkan konsep sehat-sakit yang tidak sejalan atau bertentangan dengan konsep sehat-sakit yang diberikan oleh pihak penyelenggara pelayanan kesehatan. Menurut
Notoatmodjo (2005), sakit dapat dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu; (1) seseorang tidak mempunyai atau menderita penyakit dan juga tidak merasa sakit
(no disease and no illness) dalam keadaan ini orang tersebut sehat menurut petugas kesehatan, (2) secara klinis apabila seseorang mendapat serangan penyakit namun orang itu tidak merasakan sakit (disease but no illness), oleh karena itu mereka tetap menjalankan kegiatannya sehari-hari sebagaimana orang sehat. Konsep sehat menurut masyarakat bila seseorang dikatakan sakit apabila sudah tidak dapat bangkit dari tempat tidur, sehingga tidak dapat menjalankan pekerjaannya sehari-hari, (3) tidak ada penyakit pada seseorang tetapi orang tersebut merasa sakit (illness but no disease), pada kenyataannya kondisi seperti ini jarang ditemui pada masyarakat, dan (4) seseorang memang menderita sakit dan iapun merasa sakit juga (illness with disease). Kondisi inilah sebenarnya yang dikatakan bahwa orang tersebut benar-benar sakit dan dalam kondisi seperti inilah pasien baru datang berobat atau mencari pengobatan. Persepsi pasien tentang sakit ini akan memengaruhi perilaku mereka tentang pemanfaatan pelayanan kesehatan.
Hal ini sejalan dengan teori Donabedian dalam Dever (1984), menyatakan bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan merupakan interaksi antara konsumen
dengan provider (penyedia pelayanan). Tingkat kesakitan atau kebutuhan yang dirasakan oleh konsumen berhubungan langsung dengan pengunaan atau permintaan terhadap pelayanan kesehatan. Kebutuhan, terdiri atas kebutuhan yang dirasakan (perceived need) dan diagnosa klinis (evaluated need). Kebutuhan yang dirasakan (perceived need) ini dipengaruhi oleh faktor sosio demografis dan faktor sosio psikologis terdiri dari persepsi, dan kepercayaan terhadap pelayanan medis atau dokter.
Hasil penelitian ini didukung hasil penelitian Elfemi (2003) pada penderita tuberculosis, persepsi atau adanya anggapan bahwa penyakit tersebut bukanlah penyakit berbahaya, mengakibatkan sebagian besar masyarakat tidak melakukan perawatan secara serius. Disisi lain, ada juga kepercayaan bahwa penyakit itu tidak bisa disembuhkan, sehingga tidak mempunyai semangat untuk berobat.
5.1.2. Pengaruh Persepsi tentang Pelayanan Kesehatan terhadap Pemanfaatan