• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Pembahasan (Interpretasi)

6. Pengaruh preferensi risiko terhadap hubungan antara korupsi dengan

Korupsi menjadi salah satu permasalahan yang telah ada sejak jaman dulu hingga sekarang.Dalam ilmu akuntansi, korupsi adalah bagian dari kecurangan namun secara operasional istilah korupsi lebih terkenal dibandingkan kecurangan. Di Indonesia korupsi oknum pajak terkenal sejak adanya kasus Gayus Tambunan tahun 2011. Pada saat citra perpajakan Indonesia telah diperbaiki untuk meningkatkan penerimaan pajak, kasus Gayus membuat buruk citra perpajakna Indonesia. Dalam penelitian ini bukan hanya menguji pengaruk korupsi terhadap kepatuhan pajak namun menambahkan preferensi risiko

sebagai variabel pemoderasi yang dapat memperkuat atau memperlemah hubungan antara korupsi oknum pajak dengan kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak.

Penelitin terdahulu mengenai korupsi oknum pajak ini pernah diteliti oleh (Christianto & Suyanto, 2014) dan Suciaty dkk., (2014) yang menjelaskan pemahaman tindak pidana Korupsi berpengaruh signifikan terhadap tingkat kepatuhan pajak. Namun penelitian (Susanto, 2013) yang menyatakan variabel pengetahuan korupsi tidak mempengaruhi kepatuhan. Karena hasil penelitian berbeda-beda maka dalam penelitian ini diberi variabel moderasi preferensi risiko yang dapat memperlemah atau memperkuat hubungan antara variabel independen dan dependen.

Penelitian terdahulu dari (Alabede, Affrin, & Idris, 2011) menggunakan teori prospek untuk meneliti pengaruh preferensi risiko terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Hasil penelitian (Alabede, Affrin, & Idris, 2011) menunjukkan bahwa preferensi risiko berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak orang pibadi. Namun dalam penelitian (Aryobimo & Cahyonowati, 2012) (Syamsudin, 2014) dan (Suntono & Kartika, 2015) mengungkapkan bahwa preferensi risiko tidak dapat memodersi hubungan antara kualitas pelayanan fiskus dengan kepatuhan wajib pajak.

Peneliti menduga apabila hubungan antara variabel korupsi oknum pajak terhadap variabel kepatuhan wajib pajak dimoderasi oleh

tingkat preferensi risiko yang tinggi, dari uraian diatas dijelaskan bahwa preferensi risiko berpengaruh positif terhadap kepatuhan pajak, maka preferensi risiko dalam memoderasi hubungan negatif korupsi dengan kepatuhan pajak akan memperlemah. Hal tersebut mendasari dirumuskan nya hipotesis sebagai berikut :

H6: Preferensi Risiko memperlemah hubungan antara korupsi oknum pajak dengan kepatuhan wajib pajak

C. Model Penelitian (+) (-) (-) (+) (+) (+) GAMBAR 2.1. Model Penelitian Kesadaran Wajib Pajak Kesempatan Menggelapkan Pajak Korupsi Oknum Pajak Kepatuhan Wajib Pajak Preferensi Risiko

26

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Obyek Penelitian

Objek penelitian yang digunakan adalah Kantor Pelayanan Pajak yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Objek penelitian ini sebagai wilayah penyebaran kuesioner dalam mengetahui pengaruh mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan membayar pajak

B. Subyek Penelitian

Dalam penelitian ini subjek yang digunakan adalah Wajib Pajak yang melaporkan pajak di KPP yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) seperti KPP Pratama Bantul, KPP Pratama Sleman, KPP Prtama Wonosari dan KPP Pratama Wates.. Subjek pajak yaitu Wajib Pajak Orang Pribadi yang dapat memberikan pendapat tentang kesadaran membayar pajak, kesempatan untuk menggelapkan pajak, korupsi oknum pajak dan preferensi risiko

C. Jenis Data

Jenis data yang digunakan adalah data primer dengan jenis penelitian kuantitatif. Data primer berasal dari survei penyebaran kuesioner pada Wajib Pajak Orang Pribadi yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dikumpulkan dari responden kemudian

akan diseleksi terlebih dahulu untuk melihat kelengkapan jawaban kuesioner sesuai yang dikehendaki peneliti untuk kepentingan analisis.

D. Teknik Pengambilan Sampel

Pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, yang menentukan sampel dari populasi yang ada dengan menggunakan kriteria tertentu. Adapun kriteria- kriteria tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Responden merupakan Wajib Pajak Orang Pribadi.

2. Responden merupakan wajib pajak yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sampel dalam penelitian ini adalah teknik incidental sampling.Incidental sampling adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan yaitu siapa saja yang secara incidental bertemu dengan peneliti dan dianggap sesuai kriteria yang sudah ditentukan oleh peneliti dapat digunakan sebagai sampel. Sampel dijadikan responden karena dapat didapatkan dengan cara meminta bantuan Wajib pajak Orang Pribadi yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

E. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data berupa survei. Dalam melakukan pendekatan data survei dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data dengan memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan secara tertulis yang nantinya akan disebarkan atau

diberikan kepada reponden untuk dijawab sehingga peneliti tahu apa yang diharapkan dari responden. Penyebaran kuesioner ini merupakan salah satu bentuk komunikasi tertulis antara responden dan peneliti yang mana hasil dari pengisian kuesioner oleh responden akan dikumpulkan dan diteliti.

F. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1. Variabel Dependen

Variabel dependen adalah variabel terikat yang dipengaruhi oleh variabel lain (Nazaruddin & Basuki, 2016). Menurut Sekaran & Bouge (2010) berpendapat bahwa variabel dependen merupakan variabel yang menjadi perhatian utama penelitian, dimana pemahaman, penggambaran, serta penjelasan variabilitas atas variabel ini merupakan tujuan utaman peneliti.

Dalam penelitian ini variabel dependen yang diuji adalah Kepatuhan wajib pajak. Kepatuhan wajib pajak merupakan kondisi dimana Wajib Pajak memiliki sifat patuh terhadap aturan perpajakan dalam hal membayar pajak kepada negara atas objek perpajakan.

Variabel kepatuhan pajak ini diukur dengan 4 pertanyaan diadopsi dari penelitian (Handayani I. G., 2009). Pengukuran dilakukan dengan menggunakan 5 basis poin skala Likert dengan alternatif jawaban, yaitu: STS = Sangat Tidak Setuju, TS = Tidak Setuju, N = Netral, S = Setuju, dan SS = Sangat Setuju.

2. Variabel Independen

Variabel independen adalah variabel bebas yang mempengaruhi variabel lain (Nazaruddin & Basuki, 2016). Menurut Sekaran & Bougie (2010) variabel independen merupakan variabel yang membantu menjelaskan varians dalam variabel terikat. Variabel independen dalam penelitian ini adalah;

a. Kesadaran Wajib Pajak

Kesadaran membayar pajak adalah suatu bentuk moral atau sikap yang memberikan kontribusi terhadap negara guna untuk menunjang pembangunan negara dan berusaha untuk mentaati semua peraturan yang telah ditetapkan oleh negara serta dapat dipaksakan oleh Wajib Pajak (Muslimawati, 2015). Variabel ini diukur melalui 4 pertanyaan yang diadopsi dari penelitian (Handayani I. G., 2009). Pengukuran pada setiap item menggunakan 5 poin skala Likert dengan alternatif jawaban, yaitu: STS = Sangat Tidak Setuju, TS = Tidak Setuju, N = Netral, S = Setuju, dan SS = Sangat Setuju.

b. Kesempatan untuk menggelapkan pajak

Kesempatan untuk menggelapkan pajak terjadi karena sistem pepajakan Indonesia menggunakan Self Assesment system. Sitem ini memungkinkn wajib pajak menghitung besar pajaknya sendiri. Sehingga ada kesempatan untuk wajib pajak menggelapkan pajak. kesempatan menggelapkan pajak adalah celah bagi

seseorang untuk menggelapkan pajak akibat kurangnya pengawasan pihak pihak terkait. Variabel ini diukur melalui 5 pertanyaan yang diadopsi dari penelitian (Nzioki & Peter, 2014). Pengukuran pada setiap item menggunakan 5 poin skala Likert dengan alternatif jawaban, yaitu: STS = Sangat Tidak Setuju, TS = Tidak Setuju, N = Netral, S = Setuju, dan SS = Sangat Setuju. c. Korupsi

Menurut Byrne, A, & F (2010) korupsi adalah suatu kejadian yang tengah menjadi topik mengenai pelaku atas perusakan dalam suatu aturan dan kelembagaan melalui media sehingga mengorbankan kepentingan yang lebih luas dibandingkan menganalisis kejadian sosial, latar belakang politik, dan ekonomi. Variabel ini diukur melalaui 4 pertanyaan yang diadopsi dari penelitian (Martini, 2012). Pengukuran pada setiap item menggunakan 5 poin skala Likert dengan alternatif jawaban, yaitu: STS = Sangat Tidak Setuju, TS = Tidak Setuju, N = Netral, S = Setuju, dan SS = Sangat Setuju.

3. Variabel Moderasi

Variabel Moderasi adalah variabel yang memperkuat dan memperlemah hubungn antara variabel independen dan dependen (Sugiyono, 2007). Variabel ini disebut juga sebagai variabel independen kedua.

Variabel moderasi dalam penelitian ini adalah Preferensi Risiko. Preferensi risiko adalah salah satu karakteristik seseorang dimana akan mempengaruhi perilakunya. Sedangkan preferensi risiko orang adalah salah satu komponen beberapa teori yang berhubungan dengan pengambil keputusan termasuk teori kepatuhan pajak yaitu teori rasionalitas dan teori prospek. Variabel ini diukur melalaui 11 pertanyaan yang diadopsi dari penelitian (Yulianty, 2015) Pengukuran variabel moderasi komitmen organisasional menggunakan 5 poin skala Likert dengan alternatif jawaban, yaitu: STS = Sangat Tidak Setuju, TS = Tidak Setuju, N = Netral, S = Setuju, dan SS = Sangat Setuju.

G. Uji Kualitas Instrumen dan Data

Kualitas hipotesis akan dipengaruhi oleh kualitas data dalam suatu pengujian hipotesis (Ghozali, 2009). Dalam penelitian ini, uji reliabilitas dan uji validitas dilakukan untuk mengevaluasi kualitas data yang dihasilkan dari penggunaan instrument yang digunakan.

1. Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid-tidaknya suatu kuesioner (Nazaruddin & Basuki, 2016). Uji validitas ditujukan untuk mengetahui apakah pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Pada penelitian ini, uji validitas dilakukan dengan menggunakan Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy (KMO MSA) dengan ketentuan suatu instrumen

dikatakan valid apabila nilai KMO > dari 0,5 dan memiliki nilai factor loading > 0,4.

2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk (Nazaruddin & Basuki, 2016). Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal apabila jawaban responden terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Pada penelitian ini, uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan Cronback’s Alpha. Taraf signifikansi yang digunakan adalah sebesar 5%. Suatu instrumen dikatakan reliabel apabila r hitung (r alpha) > r table.

3. Uji Asumsi Klasik

Analisis data perlu dilakukan sebelum melakukan pengujian hipotesis. Data yang digunakan terlebih dahulu perlu dilakukan uji asumsi klasik. Uji asumsi klasik ini dilakukan untuk memenuhi asumsi dalam analisis regresi, tujuannya uji asumsi klasik agar hasil uji tidak terdapat bias pada nilai estimator dari model yang digunakan dalam penelitian. Uji asumsi klasik ini terdiri dari :

a. Uji Normalitas

Tujuan dari uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah data dalam penelitian berdistribusi normal atau tidak. Dengan distribusi data normal atau mendekati normal akan menghasilkan regresi baik dan layak digunakan dalam penelitian. Uji yang

digunakan untuk pengujian normalitas data dalam penelitian ini adalah uji Kolmogorov-Smirnov. Apabila asymptotic significance lebih besar dari 5 persen, maka data berdistribusi normal (Ghozali, 2009)

b. Uji Heteroskedastisitas

Tujuan dari uji heteroskedastisitas adalah untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Untuk mendapat model regresi yang baik, maka varian dari satu pengamatan ke pengamatan lain harus tetap (homoskedastisitas), dan tidak dikehendaki terjadinya heteroskedastisitas. Untuk menganalisa terjadinya heteroskedastisitas maka pada penelitian ini mengunakan metode Gletser. Penilaian dengan melihat nilai signifikan apabila lebih dari nilai signifikan 0,05 maka tidak terjadi heteroskedastisitas, sebaliknya apabila nilai signifikan kurang dari 0,05 maka terjadi gejala heteroskedastisitas (Nazaruddin & Basuki, 2016)

c. Uji Multikolinearitas

Tujuan dari uji multikolinearitas adalah untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel independen. Penelitian ini menggunakan nilai Varianec Inflaction Factor (VIF) dan nilai Tolerance untuk

mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas atau korelasi antar variabel dalam penelitian. Jika nilai VIF kurang dari 10 dan nilai Tolerance lebih dari 0,1, maka antar variabel independen tidak terjadi multikolinearitas (Ghozali, 2009).

H. Analisis Data dan Uji Hipotesis 1. Uji Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif dilakukan untuk memberikan deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata (mean), dan standar deviasi (standard deviation), range, sum (Ghozali, 2009). Analisis deskriptif juga digunakan untuk mengetahui gambaran mengenai demografi responden. Gambaran tersebut meliputi jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, dan lama memiliki NPWP

2. Metode Analisis Data

Metode analisis data yaitu cara untuk mengolah data yang terkumpul sehingga hasilnya dapat diinterpretasikan dan dapat menjawab rumusan masalah. Teknik analisis pada penelitian ini menggunakan Moderated Regression Analysis (MRA), yaitu aplikasi khusus regresi linier berganda di mana dalam persamaan regresinya terdapat unsur interaksi (Ghozali, 2009)

Berdasarkan hipotesis yang diajukan pada bagian sebelumnya, maka penelitian ini akan mengestimasikan persamaan regresi.

a. Menguji hubungan kesadaran wajib pajak, kesempatan untuk menggelapkan pajak, dan korupsi oknum pajak dengan kepatuhan wajib pajak secara langsung,

b. Menguji pengaruh variabel moderasi preferensi risiko pada kesadaran wajib pajak, kesempatan untuk menggelapkan pajak, korupsi oknum pajak dengan kepatuhan wajib pajak

Adapun formula dari model persamaan regresi yang akan diuji dalam penelitian adalah sebagai berikut:

KP = α + β1KWP + ́ ...(1) KP = α + β1KMP + ́ ...(2) KP = α + β1K + ́ ......(3) KP = α + β1KWP + β2PR + β3KWP*PR + ́...(4) KP = α + β1KMP+ β2PR + β3KMP*PR + ́...(5) KP = α + β1K+ β2PR + β3K*PR + ́......(6) Keterangan: KP : Kepatuhan Pajak

β1 –β3 : Koefisien dari tiap variabel KWP : Kesadaran Wajib Pajak

KMP : Kesempatan Menggelapkan Pajak K : Korupsi

PR : Preverensi Risiko ́ : Error term

3. Uji Hipotesis

a. Uji Koefisien Determinasi (��)

Koefisien determinasi diperlukan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan variabel independen menjelaskan variabel dependen (Nazaruddin & Basuki, 2016). Pada uji ini dilakukan dengan melihat pada hasil dari analisis regresi linear dalam bentuk R2 (R Square). Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Semakin kecil nilai R2 maka kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen semakin terbatas (Nazaruddin & Basuki, 2016). Koefisien determinasi mempunyai kemampuan untuk menunjukkan hubungan fungsional antara variabel bebas dan terikat.

b. Uji Nilai T

Uji nilai T digunakan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menjelaskan variasi variabel dependen (Ghozali, 2009). Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan tingkat signifikansi dengan koefisien beta yang ditetapkan. Dengan uji t ini, hipotesis 1 diterima apabila nilai sig. kurang dari alpha (5%) dan menunjukkan arah koefisien yang sama dengan hipotesis yang diprekdisikan maka suatu variabel independen mampu menjelaskan variabel dependen secara signifikan berarti hipotesis diterima. Sementara itu, hipotesis 1 ditolak apabila nilai sig. lebih besar dari alpha (5%)

atau menunjukkan arah koefisien yang berlawanan dengan hipotesis yang diprediksikan.

c. Regresi Moderasi (Moderated Regression Analysis)

Analisis regresi moderasi bertujuan untuk mengetahui apakah variabel moderasi akan memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen (Ghozali, 2009). Dalam penelitian ini akan dilakukan uji interaksi MRA, di mana hipotesis moderasi akan diterima apabila variabel moderasi mempunyai pengaruh signifikan terhadap perilaku kepatuhan wajib pajak. Uji interaksi ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana interaksi variabel preferensi risiko dapat memengaruhi hubungan kesadaran wajib pajak, kesempatan untuk menggelapkan pajak, korupsi oknum pajak dengan kepatuhan wajib pajak.

4. Kriteria Penerimaan Hipotesis a. Hipotesis 1,

Ha : Kesadaran memiliki pengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak

b. Hipotesis 4

Ha : Preferensi risiko memperkuat hubungan positif antara kesadaran wajib pajak dengan kepatuhan wajib pajak

c. Hipotesis 5

Ha : Preferensi Risiko memperlemah hubungan negatif antara kesempatan untuk menggelapkan pajak dengan kepatuhan wajib pajak

d. Hipotesis 6

Ha : Preferensi Risiko memperlemah hubungan negatif antara korupsi oknum pajak dengan kepatuhan wajib pajak

Kriteria:

a) Ha diterima apabila nilai sig. ≤ alpha (0,05) dan koefisien regresi β1 > 0.

b) Ha ditolak apabila nilai sig. > alpha (0,05) dan koefisien regresi β1 ≤ 0

e. Hipotesis 2

Ha : Kesempataan untuk menggelapkan pajak memiliki pengaruh negatif terhadap kepatuhan wajib pajak.

f. Hipotesis 3

Ha : Korupsi memiliki pengaruh negatif terhadap kepatuhan wajib pajak

Kriteria:

a) Ha diterima apabila nilai sig. ≤ alpha (0,05) dan koefisien regresi β1 < 0.

b) Ha ditolak apabila nilai sig. > alpha (0,05) dan koefisien regresi β1 ≥ 0

39

A. Gambaran Umum Obyek/ Subyek Penelitian

Bab ini memaparkan hasil penelitian yang telah dilakukan melalui perhitungan statistik berupa uji statistic deskriptif, uji validitas dan reliabilitas, uji asumsi klasik serta pengujian hipotesis. Selain itu bab ini juga diuraikan pembahasan analisis data yang berkaitan dengan hasil penelitian yang didasarkan pada teori.

Penelitian menggunakan data primer melalui survei kuesioner yang dikirimkan langsung kepada responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Obyek penelitian ini adalah 4 KPP di Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu KPP Pratama Sleman, KPP Pratama Bantul, KPP Pratama Wonosari, dan KPP Pratama Wates. Sedangkan subyek penelitiannya yaitu Wajib Pajak orang pribadi di 4 KPP tersebut. Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan bulan Oktober sampai dengan November tahun 2016, peneliti berhasil mengumpulkan 150 kuesioner. Setelah dilakukan pengolahan data terdapat 138 kuesioner yang dapat diolah sedangkan 12 kuesioner tidak dapat diolah karena responden tidak melengkapi kuesioner dan tidak sesuai kriteria. Dari hasil penerimaan kuesioner tersebut dapat dilakukan analisis data sehingga diperoleh hasil beserta presentase pada tabel :

TABEL 4.1.

Karakteristik Responden Berdasarkan Pengisian Kuesioner No. Dasar Klarifikasi Jumlah Keterangan

1. Jumlah kuesioner yang disebar 150 100% 2. Kuesioner yang tidak dapat

diolah

12 8%

3. Jumlah kuesioner yang dapat diolah

138 92%

Sumber: data primer yang diolah, 2016

1. Analisis Karakteristik Responden

Pada bagian ini memaparkan data-data deskriptif yang diperoleh dari responden. Data deskripif yang menggambarkan keadaan atau kondisi responden perlu diperhatikan sebagai informasi tambahan untuk memahami hasil-hasil penelitian.

Karakteristik responden yang diamati dalam penelitian ini meliputi: jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, dan lama memiliki NPWP. Berikut merupakan hasil distribusi frekuensi setiap karakteristik responden.

a. Responden Berdasarkan Jenis Kelamin TABEL 4.2.

Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

No. Jenis Kelamin Frekuensi Persentase

1. Laki-Laki 53 38,4%

2. Perempuan 85 61,6%

Total 138 100%

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Berdasarkan Tabel 4.2. diatas diketahui bahwa responden yang banyak berpartisipasi dalam pengisian kuesioner berjenis kelamin

perempuan yaitu sebanyak 85 responden atau 61,6%. Sedangkan responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 53 dengan presentase 38,4%.

b. Responden Berdasarkan Usia

TABEL 4.3.

Responden Berdasarkan Usia

No. Usia (tahun) Frekuensi Persentase

1. 20 – 30 42 30,4%

2. 31 – 40 28 20,3%

3. 41 – 50 28 20,3%

4. > 50 40 29,0%

Total 138 100%

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Berdasarkan usia responden seperti yang disajikan pada Tabel 4.3. di atas, dapat diketahui bahwa responden yang paling banyak mengisi kuesioner adalah responden yang berusia 20 – 30 tahun, yaitu ada sebanyak 42 atau 30,4%, kemudian responden yang berusia di atas 50 tahun ada sebanyak 40 responden atau sebanyak 29,0% dari total responden, sementara responden berusia 31 – 40 tahun dan 41 – 50 tahun ada sebanyak 28 atau 20,3%.

c. Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir TABEL 4.4.

Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

No. Pendidikan Terakhir Frekuensi Persentase

1. SMA 30 21,7%

2. Diploma 11 8,0%

3. Sarjana 90 65,2%

4. Lainnya 7 5,1%

Total 138 100%

Berdasarkan pendidikan terakhir seperti disajikan pada Tabel 4.4. menjelaskan bahwa responden yang paling banyak berparisipasi dalam mengisi kuesioner adalah responden yang berjenjang pendidikan Sarjana yaitu berjumlah 90 responden atau sekitar 65,2%. Selanjutnya diikuti dengan responden yang berjenjang pendidikan SMA sejumlah 30 orang atau 21,7%. Kemudian urutan ketiga adalah responden yang berjenjang diploma yaitu sebanyak 11 atau 8,0%. Sedangkan, responden yang berpartisipasi paling sedikit adalah yang berjenjang pendidikan lain-lain yaitu berjumlah 7 responden atau 5,1%.

d. Responden Berdasarkan Lama Memiliki NPWP TABEL 4.5.

Responden Berdasarkan Lama Memiliki NPWP

No. Jabatan/Posisi Frekuensi Persentase

1. < 1 46 33,3%

2. 1-5 29 21,0%

3. 6-10 21 15,2%

4. > 10 42 30,4%

Total 138 100%

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Berdasarkan Tabel 4.5. di atas, dapat diketahui bahwa dari 138 responden Wajip Pajak Orang Pribadi wilayah DIY yang paling banyak berpartisipasi adalah Wajib Pajak yang memiliki NPWP kurang dari 1 tahun yaitu sebanyak 46 atau 33,3%. Kemudian urutan berikutnya adalah Wajib Pajak yang memiliki NPWP lebih dari 10 tahun bejumlah 42 atau 30,4%. Selanjutnya adalah Wajib Pajak yang memiliki NPWP 1-5 tahun sebanyak 29 responden atau sebanyak

21,0%. Terakhir adalah responden yang memiliki NPWP 6-10 yaitu sebanyak 21 responden atau 15,2%.

2. Analisis Statistik Deskriptif

Analisis deskriptif dijelaskan agar dapat memberikan gambaran terhadap variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian. Statistik deskriptif pada penelitian ini menyajikan perbandingan antara kisaran teoritis dan kisaran aktual. Kemudian pada kisaran aktual dijelaskan jumlah data, nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata (mean) dan simpangan baku (standar deviation) dari satu variabel dependen yaitu kepatuhan pajak. Serta tiga variabel independen yaitu perilaku kesadaran wajib pajak, kesempatan untuk menggelapkan pajak dan korupsi oknum pajak. Serta satu variabel moderasi yaitu preferensi risiko

Berdasarkan hasil pengolahan data dengan software SPSS (Statistical Product And Service Solutions) versi 23 diperoleh hasil statistik deskriptif sebagai berikut.

TABEL 4.6. Uji Statistik Deskriptif

Variabel N Kisaran Teoritis Kisaran Aktual Min Max Mean Min Max Mean Std.

Deviation KP_TOTAL 138 4 20 12 4 20 17,43 2,158 KWP_TOTAL 138 4 20 12 12 20 16,65 2,039 KMP_TOTAL 138 5 25 15 5 22 10,90 3,256 K_TOTAL 138 4 20 12 4 20 8,15 2,117 PR_TOTAL 138 11 55 33 17 49 37,44 5,102 Sumber: data primer yang diolah, 2016

Dari Tabel 4.6. di atas diperoleh hasil uji statistik deskriptif dengan jumlah data yang dapat diolah sebanyak 138 responden, adapun hasil statistik deskriptif sebagai berikut:

a. Variabel Kepatuhan Pajak (Y) memiliki mean pada kisaran aktual lebih tinggi daripada mean pada kisaran teoritis (17,43>12). Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata responden yang diteliti memiliki tingkat kepatuhan pajak yang tinggi.

b. Variabel Kesadaran Wajib Pajak (X1) memiliki mean pada kisaran aktual lebih tinggi daripada mean pada kisaran teoritis (16,65>12). Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata responden yang diteliti memiliki tingkat kesadaran wajib pajak tinggi.

c. Variabel Kesempatan Menggelapkan Pajak (X2) memiliki mean pada kisaran aktual lebih rendah daripada mean pada kisaran teoritis (10,90<15). Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata responden yang diteliti memiliki tingkat kesempatan menggelapkan pajak rendah.

d. Variabel Korupsi Oknum Pajak (X3) memiliki mean pada kisaran aktual lebih rendah daripada mean pada kisaran teoritis (8,15<12). Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata responden yang diteliti memiliki tingkat persepsi terhadap korupsi oknum pajak rendah. e. Variabel Preferensi Risiko (M) memiliki mean pada kisaran aktual

mengindikasikan bahwa rata-rata responden yang diteliti memiliki tingkat preferensi risiko tinggi.

B. Uji Kualitas Instrumen dan Data

1. Uji Validitas Data

Uji validitas dilakukan untuk mengukur sejauh mana instrumen dapat mengukur sah/kecermatan alat ukur dari instrument/kuesioner (Ghozali, 2016). Pada penelitian ini, uji validitas dilakukan dengan menggunakan analisis factor korelas. Validitas setiap pernyataan dalam kuesioner diketahui dengan melihat nilai Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy (KMO MSA) dengan ketentuan suatu instrumen dikatakan valid apabila nilai KMO > dari 0,5 dan memiliki nilai loading

Dokumen terkait