BAB IV HASIL PENELITIAN
C. Pengaruh problematika keluarga terhadap
Berbicara kehidupan manusia sebagai individu memang tidak akan pernah keluar dari kerangka mengenai kepribadian. Kepribadian merupakan konsep dasar psikologis yang berusaha menjelaskan keunikan manusia.
Kepribadian mempengaruhi dan menjadi kerangka acuan dari pola pikir, perasaan, perilaku, serta bertindak sebagai aspek fundamental dari setiap individu.
Dalam dunia anak, pembentukkan kepribadian sangat penting di mulai dari dalam lingkungan keluarganya. Hal ini di sebabkan karena begitu pentingnya kedudukan orang tua sebagai peletak utama dasar kepribadian seorang anak dalam hidupnya. Benak seorang anak akan selalu berharap dan menatap orang-orang yang sukses diluar sana. Kehidupan manusia akan selalu dibarengi dengan proses interaksi dan komunikasi, yang merupakan manusia sebagai makhluk sosial. Seorang anak dalam hal ini misalnya mereka butuh dorongan dari dalam lingkungan sekitarnya terutama dalam lingkungan keluarga, anak belum dapat membentuk bagaimana kepribadian tanpa adanya interaksi yang bersifat mendidik.
Oleh karena itu, sebagai orang tua perlu adanya motivasi yang harus diberikan kepada anak-anaknya untuk belajar dalam bersikap dan bertingkah laku baik di dalam lingkungan keluarganya maupun di luar lingkungan keluarganya. Hasil belajar akan menjadi optimal, bila disertai motivasi. Orang tua merupakan titik sentral dalam membentuk karakter anak-anak. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pembentukan kepribadian yang baik untuk anak-anaknya.
Berbeda halnya dengan lingkungan keluarga yang sering mengalami masalah, yang anak-anaknya sering menyaksikan permasalahan itu secara langsung, tentunya hal ini membuat anak-anak tersebut akan mengalami
masalah dengan perkembangan kepribadiannya. Keadaan suatu keluarga yang sering mengalami masalah yang secara langsung di saksikan oleh anak-anaknya dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel VII
Frekuensi anak-anak yang menyaksikan masalah keluarga secara langsung responden anak-anak, 9 orang atau 47% mengatakan bahwa sering melihat masalah di dalam keluarganya terjadi, sedangkan 6 orang atau 32%
responden mengatakan kadang-kadang menyaksikan permasalahan yang terjadi di dalam keluarganya secara langsung dan 4 orang lagi atau 21% lagi responden mengatakan tidak pernah menyaksikan permasalahan yang terjadi di dalam keluarganya.
Adapun hasil wawancara dengan anak-anak terkait tingkat permasalahan yang terjadi di dalam keluarga, seoarang anak bernama Wulan, mengatakan bahwa :
”saya tidak tahu kenapa mama dan bapakku selalu bertengkar, bahkan sering mereka baku marah di hadapanku”.(wawancara 30 Juli 2014).
Begitu juga dengan hasil wawancara dengan bapak La Celi, beliau mengatakan :
”bahwa jika sedang bertengkar dengan istrinya sering anak-anakku ada di situ. Malu-malu sebenarnya saya tapi mau bagaimana lagi”.(Wawancara 01 Agustusl 2014).
Problematika keluarga memang akan selalu ada dalam setiap rumah tangga namun akan sangat berdampak buruk terhadap psikologis anak-anak apabila masalah itu melibatkan buah hati mereka dan kenyataan ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel VIII
Perasaan anak ketika melihat masalah yang terjadi dalam keluarganya
No Tanggapan responden anak-anak, 12 orang atau 63% mengatakan sedih apabila melihat orang tuanya bertengkar, yang menjawab takut 7 orang atau 37%, dan yang menjawab biasa-biasa saja tidak ada. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan data yang ada, anak-anak yang menyaksikan secara
langsung permasalahan yang terjadi antara ayah dan ibunya akan berdampak pada tekanan psikologis timbulnya rasa sedih dan takut pada anak-anaknya.
Munculnya tekanan psikologis pada anak-anak akibat dari kondisi lingkungan yang tidak nyaman akan menimbulkan berbagai macam reaksi negatif tergantung dari sejauh mana anak-anak itu memiliki ketahanan diri dalam menghadapi berbagai macam masalah. Pada dasarnya anak-anak yang terguncang psikologisnya akan mencari tempat persembunyian untuk mengamankan dirinya dari lingkungan yang membuatnya takut, sedih dan hal-hal buruk yang lainnya.
Untuk mengetahui perilaku yang muncul pada anak-anak di Desa Bahari 3 ketika mengalami perasaan takut dan sedih yang disebabkan oleh problematika keluarganya, maka dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel IX
Perilaku anak setelah melihat orang tuanya bertengkar No Tanggapan Responden Frekuensi Presentase
1 Lari dari rumah 8 orang 42%
2 Mengurung diri di kamar 11 orang 58%
3 Melerainya - -
Jumlah 19 orang 100 %
Sumber data: Angket no 3
Dari uraian tabel diatas dapat disimpulkan bahwa dari 19 orang responden anak-anak, 8 orang atau 42% responden mengatakan lari dari rumah, sedangkan 11 orang atau 58% responden mengatakan mengurung diri di kamar dan yang melakukan tindakan melerai orang tuanya dalam kasus ini tidak ada. Jadi di Desa Bahari 3 dalam hal perilaku anak yang muncul ketika menyaksikan orang tuanya sedang bertengkar adalah sebagian besar memilih untuk pergi dari rumah dan sebagian lagi memilih untuk berdiam diri di kamar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengaruh yang timbul dari konflik sesama orang tua terhadap anak adalah lahirnya perilaku-perilaku yang membuat anak ketakutan, sedih sehingga membuat kondisi psikologisnya terganggu lalu si anak memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah, mengurung diri di kamar. Hal ini tentunya tidak baik untuk perkembangan kepribadian anak-anak.
Setiap keluarga yang terikat akan perkawinan semuanya memiliki konsekuensi yang harus dilalui, apakah suka atau pun dalam keadaan duka.
Akan tetapi itu bukan berarti harus berujung pada hal yang buruk bagi masa depan anak dalam proses pembentukan karakter anak adalah, sebagai anggota agent of social control terhadap anak-anaknya.
Sejalan dengan itu, baik buruknya kedudukan orang tua dalam keluarga akan sangat berpengaruh terhadap para anggotanya. Tidak jarang kita temui
seorang anak ketika bergaul dengan teman-temannya merasa kurang ceria, hal ini karena anak dalam masa-masa pertumbuhan ingin kasih sayang, justru yang dihadapkan dengan mereka adalah masalah-masalah keluarga yang belum saatnya mereka dapatkan. Mereka tidak tahu kemana ia harus mengadu dan berkeluh kesah terhadap dirinya, sementara orang tua yang diharapkan membimbingnya hanya sibuk dengan urusan masalahnya masing-masing. Dapat kita lihat dari tabel berikut ini :
Tabel X
Keadaan kepedulian orang tua terhadap anak-anaknya No Tanggapan Responden Frekuensi Presentase
1 Peduli 5 orang 26% sering peduli terhadap keadaan anak-anaknya, sedangkan 8 orang atau 42%
responden mengatakan orang tuanya kurang peduli terhadap anak-anaknya dan untuk tingkat orang tua yang tidak peduli sama sekali terhadap anak-anaknya 6 orang atau 32% responden. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat kepedulian orang tua terhadap anak-anaknya di Desa Bahari 3 masih jauh dari yang seharusnya dan ini di sebabkan oleh minimnya tingkat pendidikan orang tua sehingga mengakibatkan kurangnya pemahaman
orang tua atas apa yang mau diberikan kepada anak-anaknya dalam membangun sikap dan perilaku yang terpuji.
Pendidikan bukanlah semata-mata merupakan tuntutan bagi dunia formalitas saja, dengan kata lain hanya didapatkan melalui bangku sekolah akan tetapi, yang perlu difahami oleh orang tua bahwa pendidikan yang akan didapat dan bisa direalisasikan oleh seorang anak adalah pendidikan dalam lingkup keluarga itu sendiri.
Keluarga merupakan guru pertama dalam mendidik anak hingga nantinya berhasil tidaknya masa depan anak itu sangat dipengaruhi oleh motivasi dari keluarga itu sendiri. Menurut sebuah penelitian yang dikutip oleh Zakiah Darajat, bahwa :
“Perilaku manusia itu 80% dapat dipengaruhi oleh apa yang dilihat, 11% apa yang didengar dan 6% sisanya oleh berbagai stimulus campuran”
Perspektif ini menggambarkan bahwa nasehat orang tua hanya dapat berpengaruh 11%, sementara anak lebih cenderung melihat bagaimana contoh tauladan dalam kehidupan seharinya.
Menurut Muh. Fajar (orang tua anak), mengemukakan bahwa :
“Pada dasarnya anak-anak yang terbiasa dengan pendidikan agama dalam keluarga serta tauladan dari orang tua jauh lebih berpengaruh dibandingkan hanya sebatas mendengar atau mendapatkan dari luar (wawancara 02 Agustus 2014)”
Salah satu yang menjadi faktor penghambat dan merosotnya nilai-nilai penting dalam menjalani keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah adalah kembali kepada pandangan orang tua tentang minimnya pendidikan yang pernah ditempuhnya sehingga mereka seolah-olah tidak perduli. Peran penting sosok orang tua terhadap anak-anaknya seharusnya menjadi motivator pengantar pembentukan karakter anak dan ini dapat dilihat dari hasil responden di bawah ini :
Tabel XI
Frekuensi motivasi yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya
No Tanggapan
responden mengatakan kadang-kadang mendapatkan motivasi karena kontrol dari orang tua sangat jarang, dan 7 orang atau 37% menyatakan tidak pernah mendapatkan motivasi karena orang tuanya sangat sibuk dengan pekerjaannya ketimbang harus memperhatikan kondisi sang anak.
Orang tua merupakan sandaran bagi anak-anak bila baik sandaran itu maka baik pula anggotanya. Orang tua yang bijak dan peduli akan masa depan anak maka akan waktunya yang lebih bersama anak-anaknya.
Sebagaimana diketahui bahwa lingkungan memiliki peran utama dalam pendidikan, maka anak yang hidup dilingkungan yang baik akan tumbuh menjadi orang berguna bagi dirinya, keluarga, dan tanah airnya, akan tetapi sebaliknya ketika seorang anak berada dilingkungan yang tidak baik, tidak adanya kerukunan dalam keluarga maka dia akan menjadi orang yang tidak berguna dan cenderung mendapat teguran dari lingkungan sekitar bahwa meresahkan orang lain.
Tidak dapat dipungkiri diantara anak-anak yang ada di Desa bahari 3 kec. Sampolawa Kab. Buton Memiliki kepribadian yang sangat kurang memuaskan semuanya dapat dilihat dari 2 faktor yang mempengaruhi pertumbuhan daya psikis anak-anak, yaitu :
1. Faktor internal yakni dipengaruhi oleh individu itu sendiri dan lingkungan keluarganya sendiri.
2. Faktor eksternal yakni pengalaman-pengalaman yang didapat dari lingkungan luar seperti masyarakat atau bahkan seiring dengan kemajuan IPTEK. Yang mana disamping membawa hal yang positif
juga membawa dampak yang negatif bagi anak-anak. Mereka bercermin pada gaya hidup dan pola pikir yang tidak sehat.
Apapun kondisi anak semua tercermin pada apa yang didapatnya.
Banyak orang yang dalam kehidupannya memiliki motivasi untuk banyak berbuat sesuatu demi kesenangan orang lain. Harga diri seseorang dapat dinilai dari berhasil tidaknya usaha memberikan kesenangan orang lain. Hal itu sudah tentu merupakan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri bagi orang yang melakukan kegiatan tersebut.
Masa remaja (adolescense) sedang berada dipersimpangan jalan antara dunia anak-anak didunia dewasa, oleh sebab itu, pada masa ini merupakan masa yang penuh kesukaran dan persoalan, bukan hanya bagi remaja itu sendiri, tetapi juga bagi orang tua, guru dan masyarakat.
Penanaman nilai dan kode etik dalam menempu kedewasaan. Sangat memegang peranan penting untuk menstabilkan kejiwaan anak yang masih sangat labil.
Tanggung jawab keluarga untuk mendidik anak-anaknya sebagian besar atau mungkin bahkan seluruhnya telah diambil oleh lembaga pendidikan formal maupun nonformal. Oleh karena itu akan muncul fungsi laten pendidikan terhadap anak, yaitu melemahnya pengawasan dari orang tua.
Muh Ishak (orang tua) mengemukakan bahwa :
“Otoritas orang tua terhadap anak lebih didominasi oleh pihak sekolah, tak jarang seorang anak lebih memilih sekolah sebagai tempat shearing pada masalah yang dihadapinya seorang anak. (wawancara 03 Agustus 2014).
Semua penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa Problematika keluarga yang berada di Desa Bahari 3 Kec. Sampolawa Kab. Buton memiliki hubungan yang kuat untuk mempengaruhi perkembangan kepribadian anak-anak. Pada dasarnya anak-anak yang masih labil sangat rentan sekali dengan berbagai peristiwa-peristiwa atau kejadian yang dengannya anak belajar meniru apa yang dilihat dan dialaminya secara langsung.
Tabel XII
Pengaruh problematika keluarga terhadap perkembangan kepribadian anak
No Tanggapan
Responden
Frekuensi Presentase
1 Berpengaruh 14 orang 74%
2 Kurang berpengaruh 5 orang 26%
3 Tidak berpengaruh - -
Jumlah 19 orang 100 %
Hasil penelitian
71
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Pada umumnya problematika yang terjadi di Desa Bahari 3 itu disebabkan oleh berbagai faktor yang di antaranya adalah faktor ekonomi dan pendidikan. Berbagai macam persoalan itu hadir, dari keadaan perekonomian keluarga yang minim dalam hal ini adalah pendapatan keluarga yang di bawah dari cukup serta keadaan tingkat pendidikan orang tua yang masih tertinggal, sehingga menimbulkan keadaan keluarga itu kacau.
2. Dampak yang ditimbulkan oleh problematika keluarga yang terjadi di Desa Bahari 3 terhadap perkembangan kepribadian anak adalah ditemukannya anak yang memiliki kepribadian yang pendiam, pemalu, pemarah dan hal-hal lainnya yang merugikan orang tua, keluarga dan lebih khususnya anak-anaknya. Hal itu dapat dilihat ketika anak yang tinggal bersama orang tuanya yang di dalam keluarga yang sering bermasalah dan cara penyelesaian masalahnya hampir dianggap tidak
ada memiliki perbedaan yang sangat jauh dengan anak-anak yang hidup di dalam lingkungan keluarga yang harmonis.
B. Saran
1. Diharapkan kepada seluruh orangtua kiranya dapat menyelesaikan setiap permasalahan yang ada. Masalah adalah sesuatu yang alamiah dan hal itu pasti setiap keluarga mengalaminya. Namun pertengkaran bukanlah jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah, menjaga kerukunan dan keharmonisan itulah yang terpenting.
2. Diharapkan kepada seluruh orangtua agar tidak melibatkan anak-anaknya di dalam suatu masalah keluarga dalam arti bahwa ketika orang tua sedang mengalami ketegangan antara satu sama lain, agar kiranya anak-anaknya tidak menyaksikan pertengkaran orang tuanya.
Sebab hal ini dapat mengganggu perkembangan kepribadian anak-anaknya.
3. Diharapkan kepada segenap pemerintah, orangtua dan tokoh masyarakat memberikan perhatian lebih terhadap anak-anak sebagai harapan dimasa depan bangsa pada umumnya dan dalam jenjang pendidikan pada khususnya. Sebab pada dasarnya anak itu belajar dari apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan secara langsung dari lingkungannya.
73
Agus Sujanto (1986). Psikologi Kepribadian, Jakarta: Aksara Baru.
Agustiani, Hendriati. (2009). Psikologi Perkembangan: Pendekatan ekologi kaitannya dengan konsep diri dan penyesuaian diri pada remaja, Cet.
Ke-2. Bandung: Refika Aditama.
Ahmad Fauzi (1997). Psikologi Umum, Bandung: Pustaka Setia.
Ahmad D. Marimba. (1989). Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Cet. Ke-8 Bandung: PT. Al-Ma'arif.
Amir Daien Indrakusuma. (1973) Pengantar Ilmu Pendidikan, Surabaya:
Usaha Nasional.
Anonim, 2012. Keluarga dan fungsi keluarga pada tanggal 21 oktober 2012 http://unsilster.com/pengertian-keluarga-dan fungsi-keluarga
Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta
Mutiah, Diana. ( 2010). Psikologi Bermain Anak Usia Dini, Jakarta: Kencana.
Hamalik, Oemar. (2004). Psikologi Belajar dan Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Lestari, Sri. (2012). Psikologi Keluarga: Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik Dalam Keluarga, Jakarta: kencana Prenada Media Group.
M. Athiyah Al-Abrasy. (1990). Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta:
Bulan Bintang.
Mahfudz, Syaikh Muhammad. (2003). Psikologi Anak dan Remaja Muslim, Jakarta: Pustaka Al-kautsar.
Margono. (1997). Metodologi Penelitian Pendidikan, Cet. Ke-1. Jakarta:
Rineka Cipta
Ngalim Purwanto. (1990). Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Poerwardaminta, W.J.S. (1976). Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta:
Balai Pustaka.
Singgih D. Gunarsa. (2000). Psikologi Praksis: Anak, Remaja dan Keluarga, Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Soelaeman, M.i. (1978). Pendidikan Dalam Keluarga, Bandung:
: Gunung Mulia.
Syah, M. (2000). Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, Bandung:
Remaja Rosda karya.
Susanto, Ahmad. (2011). Perkembangan Anak Usia Dini, Cet. Ke-1. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
Syah, M. (1996). Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Yusuf, Syamsu. LN. (2011). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Cet.
Ke-12. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Uhbiyati, Nur. (1997). Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia.
W.F. Maramis.(1990). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Surabaya: Airlangga University Press.
Zulkifli. (1986). Psikologi Perkembangan, Jakarta: PT. Raja Rosda Karya
Hari/tanggal pengisian : No. Responden : 1.Pendidikan orang tua : 2.Status dalam keluarga :
Petunjuk pengisian kuesioner: Berilah tanda silang ( X ) pada pilihan yang sesuai dengan
pilihan anda.
Metode
Kuesioner (angket) untuk responden anak-anak
1. Pernakah anda menyaksikan permasalahan keluarga secara langsung?
a. Sering
b. Kadang-kadang c. Tidak pernah
2. Bagaimanakah perasaan anda ketika melihat masalah itu?
a. Sedih b. Takut
c. Biasa-biasa saja
3. Apa yang kamu lakukan setelah melihat orang tuamu bertengkar?
a. Lari dari rumah
b. Mengurung diri di kamar c. Melerainya
4. Apakah orang tua anda peduli dengan anda?
a. Peduli
a. Sering
b. Kadang-kadang c. Tidak pernah
No. Responden : ……….
Nama Responden : ……….
Alamat : ……….
Identitas keluarga : ……….
Petunjuk pengisian
Jawablah semua pertanyaan-pertanyaan berikut ini sesuai dengan kebiasaan yang Bapak/Ibu alami dan perlakukan pada anak-anak anda dan berilah tanda silang (X) pada jawaban yang anda anggap benar.
Kuesioner untuk responden orang tua
1. Apakah keluarga bapak/ibu pernah mengalami masalah?
a. Sering
b. Kadang-kadang c. Tidak pernah
2. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan timbulnya permasalahan dalam keluarga Bapak/Ibu?
a. Faktor ekonomi
b. Minimnya tingkat Pendidikan
c. Faktor minimnya komunikasi terhadap sesama anggota keluarga 3. Apakah masalah yang terjadi dalam keluarga sering disaksikan
anak-anak bapak/ibu secara langsung?
a. sering
anak atas masalah itu?
a. Berpengaruh
b. Kurang berpengaruh c. Tidak berpengaruh
Tenggara. Anak ke-3 dari 6 bersaudara buah cinta dan kasih sayang dari pasangan suami istri La pamana (Almarhum) dengan Wa amhia.
Penulis mulai memasuki dunia pendidikan tingkat dasar pada tahun 1998 di SD Negeri Wamouse Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara dan tamat pada tahun 2004.
Kemudian penulis melanjutkan pendidikan tingkat menengah di MTs.S Bahari Kecamatan Sampolawa kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2004 dan tamat pada tahun 2007. Kemudian pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di MAN 1 Bau-Bau Kota Bau-Bau Provinsi Sulawesi Tenggara selama tiga tahun dan berhasil menamatkan studinya di sekolah tersebut pada tahun 2010.
Pada tahun 2010 penulis melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), dan diterima di Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar program studi Strata 1.
Pada tahun 2015, penulis menyelesaikan studi dengan menyusun karya ilmiah yang berjudul “ Problematika Keluarga Dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Kepribadian Anak Di Desa Bahari 3 Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton.