BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.6 Pengaruh Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan
Sudut pandang investor meramalkan masa depan adalah hakikat dari analisis laporan keuangan, sedangkan sudut pandang manajemen analisis laporan keuangan bermanfaat baik untuk membantu mengantisipasi kondisi-kondisi di masa depan maupun, sebagai titik awal untuk melakukan perencanaan langkah-langkah yang akan meningkatkan kinerja perusahaan di masa mendatang.
Brigham dan Houston (2001) menyatakan jika menajemen ingin memaksimalkan nilai sebuah perusahaan dan memperbaiki kelemahan-kelemahannya. Analisis laporan keuangan akan melibatkan dan membandingkan kinerja perusahaan dengan kinerja perusahaan-perusahaan lain dalam industri
35
yang sama dan mengevaluasi tren posisi keuangan dari waktu ke waktu. Studi-strudi ini akan membantu manajemen mengidentifikasi berbagai kekurangan yang mereka miliki dan kemudian mengambil tindakan untuk meningkatkan kinerjanya.
Profitabilitas merupakan gambaran dari kinerja manajemen dalam mengelola perusahaan. Salah satu rasio profitabilitas yaitu pengembalian atas ekuitas (Return on equity/ROE) yang merupakan tingkat pengembalian atas ekuitas pemilik perusahaan. Rasio ini mengukur pengembalian nilai buku kepada pemilik saham. Suatu angka pengembalian atas ekuitas yang tinggi akan membawa keberhasilan bagi perusahaan yang mengakibatkan tingginya harga saham dan membuat perusahaan dengan mudah menarik dana baru, memungkinkan perusahaan untuk berkembang, menciptakan kondisi pasar yang sesuai, dan pada gilirannya akan memberikan laba yang lebih besar.
Signalling Theory, Bhattacarya (1979) mengemukakan bahwa profitabilitas yang tinggi menunjukkan prospek perusahaan yang bagus sehinggga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Pembayaran dividen yang semakin meningkat menunjukkan prospek perusahaan yang semakin bagus sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Soliha dan Taswan (2002) berpendapat bahwa profit yang tinggi memberikan indikasi prospek perusahaan yang baik sehingga dapat mendorong investor untuk meningkatkan permintaan saham. Permintaan saham yang meningkat menyebabkan nilai perusahaan meningkat. Apabila suatu perusahaan dapat menciptakan profitabilitas yang baik, maka perusahaan tersebut akan
memiliki prospek yang baik pada masa yang akan datang. Perusahaan yang dapat menghasilkan profit yang tinggi akan menunjukkan prospek perusahaan yang bagus, hal ini akan direspon positif oleh investor yang akan dapat meningkatkan nilai perusahaan. Laba perusahaan yang semakin meningkat menunjukkan prospek perusahaan yang bagus pada masa mendatang (Sujoko dan Soebiantoro, 2007). Prospek yang bagus tersebut akan direspon positif oleh investor. Respon positif dari investor akan meningkatkan harga saham untuk selanjutnya akan meningkatkan nilai perusahaan.
Leverage keuangan merupakan penggunaan dana yang menyebabkan perusahaan harus menanggung beban tetap dengan tujuan untuk meningkatkan atau mengoptimalkan pendapatan per lembar saham. Apabila hasil pengembalian atas aktiva lebih besar daripada biaya utang, maka leverage tersebut menguntungkan dan hasil pengembalian atas modal dengan pengembalian ini juga meningkat. Kondisi sebaliknya akan terjadi apabila hasil pengembalian atas aktiva lebih kecil dari biaya utang, maka leverage akan mengurangi hasil pengembalian modal (Irawati, 2006). Dari pendapat tersebut, bisa dinyatakan bahwa leverage dapat meningkatkan hasil pengembalian pemegang saham. Nilai suatu perusahaan selain diukur dari tinggi rendahnya harga jual saham di pasar, juga dapat diukur dari tingkat kemampuan perusahaan dalam memperoleh profitabilitas, yang selanjutnya dibandingkan dengan tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor. Hal ini menunjukkan kemampuan suatu perusahaan dalam membagikan laba yang diperoleh kepada para pemegang saham (pemilik perusahaan). Tingkat profitabilitas tersebut dapat mencerminkan nilai dividen yang akan dibagikan
37
kepada pemegang saham, sesuai dengan tujuan perusahaan yaitu meningkatkan kemakmuran pemegang saham melalui peningkatan dividen. Peningkatan dividen dapat meminimumkan biaya modal.
Penelitian Hermuningsih (2013) mengenai Pengaruh Profitabilitas, Growth Opportunity, Struktur Modal terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Publik di Indonesia yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini mendukung teori yang dikemukakan Moddogliani dan Miller bahwa nilai perusahaan ditentukan oleh laba dari aktiva perusahaan. Hasil positif menunjukkan bahwa semakin tinggi laba maka semakin efisien perputaran aktiva atau semakin tinggi profit margin yang diperoleh perusahaan dan berdampak pada peningkatan nilai perusahaan.
3.1. Kerangka Berpikir dan Konseptual 3.1.1 Kerangka Berpikir
Perkembangan sektor properti dan real estate yang cukup tinggi ditunjukkan oleh capital gain saham properti dan real estate yang melesat 187%
dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Keluarnya peraturan BI per 30 September 2013 yang merevisi aturan pembatasan besaran kredit untuk kredit kepemilikan properti maupun kredit konsumsi beragun properti membuat para pengembang properti dan real estate harus mengatur kembali struktur modal mereka demi meningkatkan laba sehingga dapat memaksimumkan nilai perusahaan.
Laba perusahaan selain merupakan indikator kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban terhadap penyandang dana juga merupakan elemen penciptaan nilai perusahaan yang menunjukkan prospek perusahaan pada masa yang akan datang. Berdasarkan signalling theory, profitabilitas dimasukkan sebagai variabel intervening, karena profitabilitas dianggap mampu memediasi pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan.
Kajian teoritis yang dilakukan bersama dengan kajian temuan studi empiris memberikan gambaran mengenai variabel dan keterkaitan antarvariabel yang kemudian membantu perumusan hipotesis. Berdasarkan proses berpikir ini dapat dihasilkan sebuah kajian tesis yang diharapkan mampu memberikan
39
kontribusi teoritis maupun praktis terkait pengaruh langsung struktur modal terhadap nilai perusahaan maupun pengaruh tidak langsung struktur modal terhadap nilai perusahaan melalui profitabilitas.
3.1.2 Kerangka Konseptual
Berdasarkan kerangka berpikir tersebut, maka kerangka konseptual yang mendasari penelitian ini dapat digambarkan dalam bagan berikut :
Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian 3.2. Hipotesis
3.2.1 Pengaruh Struktur Modal Terhadap Profitabilitas
Sartono (2001) menjelaskan bahwa pengembalian atas ekuitas atau return on net worth yaitu mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham perusahaan. Rasio ini dipengaruhi besar kecilnya hutang perusahaan, apabila proporsi utang semakin besar maka rasio pengembalian atas ekuitas juga semakin besar. Jika rasio pengembalian atas ekuitas besar maka menunjukkan struktur modal (penggunaan utang) perusahaan lebih besar untuk menghasilkan laba perusahaan, maka bagian laba yang akan dibagikan kepada pemegang saham lebih besar karena tidak ada tambahan
pemegang saham baru. Kondisi ini menunjukkan bahwa semakin banyak penggunaan sumber pendanaan utang akan semakin besar profitabilitas perusahaan dihubungkan dengan kemakmuran pemegang saham. Semakin tinggi rasio utang terhadap ekuitas maka semakin besar resiko yang dihadapi dan investor akan meminta tingkat keuntungan yang semakin tinggi (Sartono, 2001).
Penelitian yang dilakukan oleh Hartono (2001) yang menyatakan bahwa semakin besar penggunaan utang dalam struktur modal maka semakin meningkat pengembalian atas ekuitas dalam profitabilitas suatu perusahaan. Senada dengan Hartono, Velnampy dan Niresh (2012) yang melakukan penelitian di Sri Lanka menyatakan bahwa struktur modal berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap profitabilitas. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Chisti et al. (2013) menyatakan hal yang sama yaitu, struktur modal berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas.
H1 : Struktur modal berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas.
3.2.2 Pengaruh Struktur Modal Terhadap Nilai Perusahaan
Trade-off theory menjelaskan bahwa jika struktur modal berada di bawah titik optimal maka setiap penambahan utang akan meningkatkan nilai perusahaan, sebaliknya, jika posisi struktur modal berada di atas titik optimal maka setiap penambahan utang akan menurunkan nilai perusahaan. Penggunaan asumsi bahwa titik target struktur modal optimal belum tercapai, maka berdasarkan trade-off theory memprediksikan adanya hubungan yang positif terhadap nilai perusahaan (Kusumajaya, 2011).
41
Driffield (2007) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan untuk struktur kepemilikan terhadap utang dan nilai perusahaan (Tobin’sQ) di Indonesia, Korea, Malaysia dan tidak signifikan di Thailand. Jika pendekatan ini Moddigliani Miller dalam kondisi ada pajak penghasilan perusahaan benar, maka nilai perusahaan akan terus meningkat karena penggunaan utang yang semakin besar. Dapat disimpulkan bahwa struktur modal yang optimal dapat dicapai dengan menyeimbangkan keuntungan perlindungan pajak dengan beban biaya sebagai akibat penggunaan utang yang semakin besar, dengan kata lain terdapat trade-off biaya dan manfaat biaya atas penggunaan utang.
Penelitian yang dilakukan oleh Santika dan Ratnawati (2002) membuktikan bahwa struktur modal berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Soliha dan Taswan (2002) memperkuat penelitian Santika dan Ratnawati dengan menyatakan bahwa kebijakan utang berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap nilai perusahaan.
Penelitian Masulis (1983) menyatakan bahwa struktur modal berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan, peryataan ini juga diperkuat oleh penelitian Chowdhury dan Chowdhury (2010) yang melakukan penelitian pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan pada empat sektor perusahaan unggul di Bangladesh. Antwi et al. (2012) yang melakukan penelitian di Ghana juga menyatakan bahwa struktur modal berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
H2 : Struktur modal berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
3.2.3 Pengaruh Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan
Signalling Theory, Bhattacarya (1979) mengemukakan bahwa profitabilitas yang tinggi menunjukkan prospek perusahaan yang bagus sehinggga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Pembayaran dividen yang semakin meningkat menunjukkan prospek perusahaan yang semakin bagus sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat.
Penelitian yang dilakukan Suharli (2006) dengan judul Studi Empiris terhadap Faktor yang Mempengaruhi Nilai Perusahaan pada Perusahaan Go Public di Indonesia. Variabel independen yang digunakan adalah umur perusahaan, penanaman modal asing, skala perusahaan dan profitabilitas dalam mempengaruhi nilai perusahaan. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa pada tahun 2002 variabel independen skala perusahaan, penanaman modal asing dan profitabilitas mempengaruhi nilai perusahaan secara signifikan.
Hermuningsih (2013) mengenai Pengaruh Profitabilitas, Growth Opportunity, Struktur Modal terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Publik di Indonesia yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini mendukung teori yang dikemukakan Moddigliani Millier bahwa nilai perusahaan ditentukan oleh laba dari aktiva perusahaan. Hasil positif menunjukkan bahwa semakin tinggi laba semakin efisien perputaran aktiva atau semakin tinggi profit margin yang
43
diperoleh perusahaan dan berdampak pada peningkatan nilai perusahaan.
Penelitian tersebut konsisten dengan penelitian yang dilalukan oleh Soepriyanto dan Suwarti (2004) mengatakan bahwa struktur kepemilikan, ukuran perusahaan, profitabilitas, dan total utang terhadap total ekuitas berpengaruh secara parsial terhadap nilai perusahaan.
Ben-Naceur dan Goaied (2002), Ghosh dan Ghosh (2008), serta Chen dan Chen (2011) menyatakan hal yang sama, yaitu profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
H3 : Profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
4.1 Rancangan dan Ruang Lingkup Penelitian 4.1.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kausalitas dimana terdapat hubungan antara tiga variabel. Hubungan dalam penelitian ini merupakan hubungan kausal yaitu sebab akibat, dimana ada variabel eksogen (bebas) yaitu variabel yang mempengaruhi variabel endogen (terikat) yaitu variabel yang dipengaruhi.
4.1.2 Ruang Lingkup Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Bursa Efek Indonesia dengan pengambilan data melalui ICMD (Indonesian Capital Market Directory) Tahun 2009-2013, dan situs internet www.idx.co.id.
4.2 Variabel Penelitian 4.2.1 Identifikasi Variabel
Identifikasi variabel perlu dilakukan untuk memberikan gambaran dan acuan dalam penelitian. Berdasarkan rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan, variabel-variabel dalam penelitian ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1) Variabel Eksogen
Variabel eksogen dalam model jalur ialah semua variabel yang tidak ada penyebab-penyebab eksplisitnya atau dalam diagram tidak ada anak-anak panah menuju ke arahnya, selain pada bagian kesalahan pengukuran
45
(Sarwono dan Suhayati, 2010). Sruktur Modal (X1) adalah variabel eksogen dari penelitian ini.
2) Variabel Endogen
Variabel endogen yang mencakup di dalam penelitian adalah variabel perantara dan tergantung/terikat. Variabel perantara endogen adalah variabel yang dipengaruhi dan mempengaruhi dalam suatu model diagram jalur, dalam penelitian ini variabel perantara adalah Profitabilitas (X2), sedangkan variabel tergantung/terikat yaitu variabel yang merupakan akibat dari variabel yang mempengaruhi, yang dijadikan variabel tergantung/terikat adalah Nilai Perusahaan (Y) (Sarwono dan Suharyati, 2010).
4.2.2 Definisi Operasional Variabel
Operasional variabel dalam penelitian in didefinisikan sebagai berikut:
1) Nilai Perusahaan (Y)
Nilai perusahaan diukur dengan price book value (PBV) yang merupakan rasio antara harga perlembar saham dengan nilai buku perlembar saham pada perusahaan properti dan real estate di BEI periode Tahun 2008-2012. Rasio ini digunakan untuk menilai suatu ekuitas berdasarkan nilai bukunya. Satuan pengukuran PBV adalah dalam rasio.
PBV Ps
BVS ... (4.1) 2) Struktur Modal (X1)
Struktur modal diukur dengan debt to equity value (DER) yang meruapakan perbandingan total utang yang dimiliki perusahaan dengan total ekuitas
perusahaan properti dan real estate di BEI periode Tahun 2008-2012. Satuan pengukuran DER adalah dalam rasio.
... (4.2) 3) Profitabilitas (X2)
Profitabilitas diukur dengan return on equity (ROE) yang merupakan rasio antara laba bersih setelah pajak terhadap penyertaan modal sendiri pada perusahaan properti dan real estate di BEI periode Tahun 2008-2012. ROE menunjukkan seberapa banyak perusahaan telah memperoleh laba atas ekuitas yang diinvestasikan oleh pemegang saham. Satuan pengukuran ROE adalah dalam rasio.
... (4.3)
4.3 Prosedur Pengumpulan Data 4.3.1 Jenis Data
Data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung melalui buku-buku dan jurnal ilmiah, serta media. Data sekunder dalam penelitian ini berupa debt to equity ratio (DER), return on equity (ROE) dan price book value (PBV), dimana data-data tersebut bersumber dari data laporan keuangan perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode Tahun 2008-2012 yang termuat dalam Indonesian Capital Market Directory (ICMD) periode Tahun 2009-2013.
47
4.3.2 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak pada sektor properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2008-2012 berdasarkan yang termuat dalam ICMD periode Tahun 2009-2013.
Penarikan sampel yang dilakukan adalah dengan menggunakan desain sampel non probabilitas dengan metode judgment sampling. Judgment sampling adalah salah satu jenis purposive sampling dimana dilakukan pemilihan sampel berdasarkan penilaian terhadap beberapa karakteristik anggota populasi yang disesuaikan dengan maksud penelitian (Kuncoro, 2003:119). Kriteria penarikan sampel yang digunakan oleh peneliti adalah :
1) Perusahaan properti dan real estate yang terdaftar secara terus-menerus di Bursa Efek Indonesia selama periode Tahun 2008-2012.
2) Perusahaan properti dan real estate yang memiliki laporan keuangan lengkap selama periode Tahun 2008-2012.
Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut maka jumlah sampel dalam penelitian ini dapat dijelaskan pada tabel berikut:
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa jumlah sampel dari penelitian ini adalah sebanyak 23 perusahaan properti dan real estate. Sampel sasaran penelitian ditunjukkan oleh Tabel 4.2.
4.3.3 Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi non partisipan, yaitu dengan cara mengumpulkan, mencatat dan mengkaji data
sekunder yang berupa laporan keuangan perusahaan properti dan real estate yang dipublikasikan oleh BEI melalui Indonesian Capital Market Directory (ICMD) yang diterbitkan periode Tahun 2009-2013.
Tabel 4.1
Jumlah Sampel Berdasarkan Kriteria Penarikan Sampel
No. Kriteria Jumlah
1. Perusahaan yang bergerak pada sektor properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
49 laporan keuangan lengkap selama periode Tahun 2008-2012
14
Jumlah Sampel 23
Sumber : Indonesian Capital Market Directory Tahun 2009-2013
4.4 Metode Analisis Data
Fokus penelitian berdasarkan rumusan masalah dan hipotesis penelitian adalah hubungan antar variabel, dimana menunjukkan hubungan kausal kompleks dan berjenjang. Hubungan ini melibatkan variabel endogen yaitu profitabilitas dan nilai perusahaan; variabel eksogen yaitu struktur modal. Permasalahan yang memiliki karakteristik hubungan berjenjang dan jenis variabel semacam ini memerlukan teknik analisis yang dapat menggunakan persamaan silmutanus dengan teknik estimasi path analysis (Hair et al., 2006). Program aplikasi SPSS (Stastical Product and Service Solutions) versi 16 digunakan untuk membantu dalam menganalisis data yang digunakan dalam penelitian. Dalam analisis jalur, ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam pengujian. Pertama, pengembangan
49
model berbasis konsep dan teori, didapat persamaan model sebagai berikut:
Persamaan Struktur :
... 4.4 Persamaan Sub Struktur 1 (pengaruh struktur modal terhadap profitabilitas) :
... 4.5 Persamaan Sub Sturkutr 2 (pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan) :
... 4.6 Persamaan Sub Struktur 3 (pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan) :
... 4.7 Langkah kedua, menggambarkan model tersebut dalam bentuk diagram path; ketiga, uji terhadap asumsi klasik. Uji asumsi klasik yang melandasi analisis jalur yaitu:
1) Uji Normalitas, uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah distribusi sebuah data mengikuti atau mendekati normal, yakni distribusi data dengan bentuk lonceng. Data yang baik adalah data yang mempunyai pola seperti distribusi normal yakni distribusi data tersebut tidak menceng ke kiri atau menceng ke kanan (Situmorang, 2010). Uji ini dilakukan dengan melalui pendekatan Kolmogorv-Smirnov dan probability plot.
2) Uji Heteroskedastisitas, uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah grup mempunyai varians yang sama diantara anggota grup tersebut, jika varians sama dan ini yang harusnya terjadi maka dikatakan ada homoskedastisitas, sedangkan jika varians tidak sama dikatakan terjadi heteroskedastisitas (Situmorang, 2010). Model regresi yang baik adalah yang X2 b3X1 e1
Y b4X1 e2 Y b1X1 b2X2 e
Y b5X2 e3
homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Pengujian heteroskedastisitas data dilakukan dengan Uji Glejser.
3) Uji Autokorelasi, uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya (Situmorang, 2010).
Model regresi yang baik adalah model regresi yang bebas dari autokorelasi.
Gejala autokorelasi dideteksi dengan pendekatan Durbin-Watson.
4) Uji Multikolinieritas, uji ini digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Jika terdapat korelasi antar variabel independen maka dikatakan terdapat masalah multikolinieritas. Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinieritas dapat dilakukan dengan melihat nilai toleransi variabel dan Variance Inflation Factor (VIF).
Langkah keempat dalam analisis jalur adalah pendugaan parameter atau koefisien jalur. Dalam analisis jalur terdapat pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung serta pengaruh total. Koefisien beta sebagai koefisien jalur merupakan pengaruh langsung, sedangkan pengaruh tidak langsung dilakukan dengan mengalikan koefisien beta dari variabel yang dilalui. Pengaruh total dihitung dengan menjumlahkan pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung.
Langkah terakhir adalah melakukan interpretasi hasil analisis, yaitu menentukan jalur-jalur pengaruh yang signifikan dan mengidentifikasi jalur yang pengaruhnya lebih kuat, yaitu dengan membandingkan koefisien jalur yang terstandar.
51
Tabel 4.2 Sampel Penelitian
No Kode Perusahaan Nama Perusahaan
1 ASRI PT. Alam Sutera Realty Tbk.
2 ELTY PT. Bakrieland Development Tbk.
3 BAPA PT. Bekasi Asri Pemula Tbk.
4 BSDE PT. Bumi Serpong Damai Tbk.
5 CTRA PT. Ciputra Development Tbk.
6 CTRP PT. Ciputra Property Tbk.
7 CTRS PT. Ciputra Surya Tbk.
8 DART PT. Duta Anggada Realty Tbk.
9 DUTI PT. Duta Pertiwi Tbk.
10 GMTD PT. Gowa Makassar Tourism Development Tbk.
11 DILD PT. Intiland Development Tbk.
12 JRPT PT. Jaya Real Property Tbk.
13 LAMI PT. Lamicitra Nusantara Tbk.
14 LPCK PT. Lippo Cikarang Tbk.
15 LPKR PT. Lippo Karawaci Tbk.
16 MAMI PT. Mas Murni Indonesia Tbk.
17 MDLN PT. Modernland Realty Tbk.
18 PJAA PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk.
19 GPRA PT. Perdana Gapura Prima Tbk.
20 PNSE PT. Pudjiadi & Son Estate Tbk.
21 PUDP PT. Pudjiadi Prestige Tbk.
22 RBMS PT. Ristia Bintang Mahkota Sejati Tbk.
23 SMRA PT. Summarecon Agung Tbk.
Sumber : Indonesian Capital Market Directory periode Tahun 2009-2013
5.1 Hasil Penelitian 5.1.1 Deskripsi Statistik
Deskripsi statistik memberikan gambaran umum tentang variabel penelitian. Deskripsi statistik difokuskan kepada nilai maksimum, nilai minimum, nilai rata-rata (mean) dan nilai standar deviasi. Data statistik selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1
Deskripsi Statistik Variabel Nilai Perusahaan, Struktur Modal dan Profitabilitas Sampel Perusahaan Properti dan Real Estate di Bursa Efek
Indonesia Tahun 2008-2012
N Minimum Maximum Mean
Std.
Deviation Struktur Modal
115 .05 3.83 .9384 .70236
Profitabilitas 115 .1 36.71 9.1376 7.56246
Nilai
Perusahaan 115 .11 5.84 1.1279 .97299
Valid N
(listwise) 115
Sumber : Lampiran 4
Nilai perusahaan yang diukur dengan PBV (price book value) merupakan rasio harga perlembar saham dengan nilai buku perlembar saham. Nilai rata-rata (mean) dari nilai perusahaan pada perusahaan sektor properti dan real estate di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2012 sebesar 1.1279% dengan standar deviasi sebesar 0.97299%, dengan nilai standar deviasi yang lebih kecil dari nilai rata-rata
53
nilai perusahaan, dapat disimpulkan bahwa tidak adanya fluktuasi nilai perusahaan yang besar pada perusahaan sektor properti dan real estate yang menjadi sampel. Nilai minimum dari nilai perusahaan sebesar 0.11% dan nilai maksimumnya sebesar 5.64%, ini menunjukkan sebagian besar perusahaan sektor properti dan real estate di Bursa Efek Indonesia memiliki nilai perusahaan yang positif pada periode Tahun 2008-2012 yang diukur dengan PBV.
Struktur modal yag diukur dengan DER (debt to equity ratio) merupakan perbandingan antara total utang terhadap modal sendiri. Rata-rata struktur modal pada perusahaan sektor properti dan real estate di Bursa Efek Indonesia periode Tahun 2008-2012 sebesar 0.9384% dengan standar deviasi 0.70236%, sehingga dapat dinyatakan bahwa fluktuasi nilai struktur modal pada perusahaan sektor properti dan real estate di Bursa Efek Indonesia periode Tahun 2008-2012 kecil, dilihat dari nilai standar deviasinya yang lebih kecil dari nilai rata-rata. Nilai minimum struktur modal sebesar 0.05% dan nilai maksimum sebesar 3.83%
dengan nilai rata-rata 0.9384% menyatakan bahwa sebagian besar perusahaaan sampel memiliki utang yang lebih kecil dari nilai ekuitasnya.
Profitabilitas diukur dengan ROE (return to equity) merupakan rasio perbandingan antara laba bersih dengan modal sendiri. Nilai rata-rata ROE sebesar 9.1376% dimana standar deviasi sebesar 7.56246%, karena nilai standar deviasi yang lebih kecil daripada nilai rata-rata dapat disimpulkan bahwa tidak ada fluktuasi yang besar dari profitabilitas perusahaan sektor properti dan real estate di Bursa Efek Indonesia periode Tahun 2008-2012. Nilai minimum sebesar
Profitabilitas diukur dengan ROE (return to equity) merupakan rasio perbandingan antara laba bersih dengan modal sendiri. Nilai rata-rata ROE sebesar 9.1376% dimana standar deviasi sebesar 7.56246%, karena nilai standar deviasi yang lebih kecil daripada nilai rata-rata dapat disimpulkan bahwa tidak ada fluktuasi yang besar dari profitabilitas perusahaan sektor properti dan real estate di Bursa Efek Indonesia periode Tahun 2008-2012. Nilai minimum sebesar