PARTISIPASI JAMIN MILENIAL DALAM KONTESTASI PILPRES 2019 DI KOTA MEDAN
3.2 PENGARUH RELAWAN JAMIN MILENIAL DALAM MEMENANGKAN PASANGAN JOKO WIDODO DAN MA’RUF
AMIN DI KOTA MEDAN PADA PILPRES 2019
Peran relawan politik dalam konstelasi politik Indonesia seolah telah menjadi pilar utama pelembagaan demokrasi. Dengan cara masing-masing, para relawan politik tidak jarang bergerak tanpa koordinasi dan terstruktur, tetapi dapat bergerak sendiri untuk mendukung calon presiden pilihannya. Tanpa disadari relawan politik, telah mampu membangun pelembagaan budaya partisipatif—
60
bahkan kemudian muncul istilah ‘Museumkan Pilpres’. Relawan politik dalam konteks dinamika politik Indonesia dapat dikategorikan sebagai new social movement yang dihuni oleh kelas menengah. Kehadiran new social movement, yang bersamaan dengan kehadiran politik media sosial dapat dilihat sebagai bagian popular culture yang menitikberatkan pada penokohan. Heryanto (2012), menilai jika budaya populer dalam lanskap sosial politik Indonesia merupakan arena pertentangan representasi dan rekognisi terhadap satu tokoh tertentu. Peran, figur dapat menjadi sebuah biopolitic publik berwatak konfl iktual sekaligus menjadi afi liasitas publik.
Jika mengacu pada tulisan Lane (2008) dan Aspinal (2013 a, b) fenomena ini menunjukkan tengah terjadi peningkatan partisipasi gerakan sosial, meskipun pada realitasnya masih terbatas dan terfragmentasi. Hal senada juga dikemukan Nina Eliasoph dalam buku The Politics of Volunteering (2013), relawan terbukti mampu meningkatkan partisipasi publik. Namun, menurut Samah dan Susanti (2014) tidak semua komunitas relawan politik memiliki visi dan misi yang sama. Berdasarkan aktivis kegiatan, ada tiga kategori relawan politik yaitu; Pertama, relawan narsis adalah mereka yang sekedar mencari popularitas. Seperti membuat spanduk dukungan untuk Jokowi disertai foto dirinya sendiri. Kedua, relawan rente, yakni relawan yang sering membuat berbagai kegiatan dan aktivitas dukungan terhadap Jokowi, namun dengan tujuan dan target mencari keuntungan semata. Para relawan ini biasanya menjadi event organizer dalam suatu acara dukungan dan mengedarkan proposal untuk pelaksanaan acara tersebut, yang tujuan akhirnya mendapatkan laba dari acara tersebut. Ketiga, relawan fans club, adalah mereka yang yang aktivitasnya hanya memuji-muji apapun yang dilakukan Jokowi dan marah-marah jika ada yang memojokkan Jokowi. Para relawan ini tidak akan segan-segan membela Jokowi jika dihina di media sosial. Biasanya jenis relawan politik ini berasal dari anak-anak muda dan artis.
Gejala peningkatan partisipasi publik semenjak kehadiran relawan politik dapat menandai skema baru meningkatnya partisipasi publik yang pada dasarnya
61
merupakan bagian partisipasi pada umumnya. Charles Andrian dan James Smith (dalam Marijan, 2010) mengelompokkan tiga bentuk partisipasi. Pertama, adalah partisipasi yang lebih pasif. Partisipasi dilihat dari keterlibatan politik seseorang, yakni sejauh mana orang itu melihat politik sebagai sesuatu yang penting, memiliki minat terhadap politik, dan sering berdiskusi mengenai isu-isu politik dengan teman. Kedua, adalah partisipasi yang lebih aktif, yakni sejauh mana orang itu terlibat di organisasi-organisasi atau asosiasi-asosiasi sukarela (voluntary associations), seperti kelompok-kelompok keagamaan, olahraga, pencinta lingkungan, organisasi profesi, dan organisasi buruh. Ketiga, adalah partisipasi yang berupa kegiatankegiatan protes, seperti ikut menandatangani petisi, memboikot, dan berdemonstrasi. Di sistem demokrasi seperti yang dianut di Indonesia, partisipasi publik atau khalayak lebih dilihat ke sejauh mana publik turut serta dalam setiap pemilu atau pemilihan kepala daerah (Pilkada).
Selain itu, meningkatnya partisipasi publik juga dipengaruhi oleh peran media sosial yang mampu mengkomunikasikan program-program tersebut di tingkat rakyat. Dalam konteks ini relawan politik biasanya bergerak melalui dua strategi yakni secara offline dan online. Alhasil, perpaduan dua gerakan yang melibatkan kelas menengah, mampu membangun fungsi lingkage antara rakyat dan pemimpin (Utomo, 2013). Apalagi, netizen dan dunia nyata bukanlah dua dunia yang terpisah. Interaksi keduanya bersifat komplementer, sehingga membuat peran media sosial tidak dapat menggantikan peran dunia nyata. Namun, interaksi dan komunikasi digital dapat berkembang sekaligus menjadi pertimbangan (deliberasi) publik (Priyono, 2014: 166). Artinya, relawan politik terlahir berkat sokongan media sosial yang berperan besar mendorong dalam dunia nyata. Mulai dari membangun diskursus seputar dinamika politik, hingga berkembang menjadi berbagai aksi nyata dan jalanan baik disemua lini baik tingkat lokal maupun nasional.
Fenomena relawan politik telah menjadi penanda kelahiran berbagai aktor demokrasi yang mampu meruntuhkan model politik Indonesia yang berbasis patronase. Hal ini mengkonfi rmasi hasil temuan dari penelitian lanjutanyang
62
digelar oleh Power, Welfare and Democracy (PWD) Jurusan Politik dan Pemerintahan (JPP) Fisipol Universitas Gadjah Mada. Dalam penelitian ini dikenal beberapa indikator pelembagaan demokrasi. Pertama, menguatnya institusi masyarakat sipil dan melemahnya institusi tata pemerintahan demokratis terhadap praktek tigabelas (13) jenis institusi demokrasi. Kedua, menguatnya politik berbasis individual sebagai aktor demokrasi. Dari temuan ini ada kecenderungan bahwa politik saat ini berbasis pada individual atau fi gure-based politics. Ketiga, adanya relasi antara aktor dan institusi demokrasi.
Hasil survei PWD ini menunjukkan bahwa para aktor utama, baik aktor dominan maupun aktor alternatif cenderung mempromosikan demokrasi daripada menyalahgunakannya. Keempat, keinginan publik untuk terwujudnya negara kesejahteraan (welfare state)—yang mampu mengurusi pelayanan dasar warganegara. Survei tersebut menegaskan terjadinya perbaikan iklim demokrasi setelah sekalian lama kekecewaan publik meluas—terhadap pola-pola praktik oligarki-partokratik, di mana mekanisme politik elektoral hanya memproduksi relasi-relasi kuasa lama. Pada akhirnya, relawan politik sebagai saluran partisipatoris baru telah menandai arusbalik politik yang penting dalam proses demokratisasi—sekaligus penanda awal civic engagement bagi tampilnya figur yang sama sekali berbeda. Itulah arus-balik pertama politik demokratisasi dalam konteks Indonesia. Namun, kita perlu menguji kedepan apakah saluran partisipatoris ini mampu mengawal pemerintahan Jokowi agar tetap mampu menjanjikan kepemimpinan transformatif bagi trayektori baru demokrasi partisipatoris. Namun, perlu digarisbawahi bahwa trayektori demokrasi partisipatoris dapat saja terlahir bila budaya politik partisipatif dapat tumbuh dengan dinamis—meskipun cengkraman patronase politik masih tetap mendominasi.
Dalam proses yang dijalani, relawan Jamin Millenial juga sudah melakukan hal maksimal dalam melakukan proses kampanye di Kota Medan mulai dari merekrut generasi millennial dan pemilih pemula untuk ikut berpartisipasi dalam proses pemilihan meskipun pada akhirnya mereka juga sudah
63
bisa memprediksi kekalahan Jokowi – Maaruf Amin di kota Medan hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Pembina JAMIN Sumatera Utara yaitu bapak H. Erwan Rosadi :
“Sudah kita perhitungkan dan sudah kita coba antisipasi, terkhusus pada jamin milenial kota medan yang sudah bergerak dari awal terbentuknya jamin sumut juga sama sama untuk menggedor hati rakyat bagaimana ketika pak jokowi bisa menjadi presiden akan berdampak baik untuk negara ini, dari segi milenial banyak cobaan yang sudah kita lewati salah satu yang terparah adalah bagaimana menyadarkan milenial kota medan agar melek politik agar mau berpartisipasi untuk menjadi pemilih di kota medan atau ikut menjadi pelaku politik di kota medan, itu menjadi salah satu tantangan kita di jamin milenial sumut, karena rasa ketidak pedulian kaum milenial ini. Sulit juga bagi kita untuk merangkul mereka karena banyak yang menyadari dari kebelakangan ini tidak ada presiden yang berpihak kepada kaum milenial, yang membuat mereka harus berbuat untuk negara, kita juga mencoba menjadi pendengar gimana ketika mereka terlibat di politik praktis dan apa dampaknya buat milenial jika mereka memilih atau ikut menjadi relawan di jamin ini” Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Erwan Rosadi (PEMBINA JAMIN) pada 20 Oktober 2021 pukul 16.00 Wib.
Dalam peranannya, Jamin melakukan berbagai hal secara optimal dan maksimal dalam melakukan proses kampanye yang dijalani. Meskipun relawan pemenangan di Sumatera Utara khususnya Medan tidak hanya Jamin, namun mereka menunjukkan semangat yang tinggi agar dapat menjadi barometer dalam pergerakan mendukung pasangan Jokowi-Maaruf Amin di Kota Medan.
“Satu sisi lagi pemilih untuk kota medan itu sangat rendah bukan hanya dari milenial saja, dari berbagai kalangan juga sangat malas untuk datang ke dpt menggunakan hak suaranya, banyak hal yang mempengaruhi masyarakat kota medan salah satunya polemik pemilihan yang sangat besar, belum lagi kekecewaan masyarakat kota medan terhadap beberapa pemimpin sebelumnya yang sampai di tangkap dan itu menjadi penyebab paling banyak kita temui di
64
lapangan namun itu jadi penyemangat buat kita dan bisa jadi barometer dan contoh untuk para relawan Jokowi-Maaruf Amin di Kota Medan”.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Erwan Rosadi (PEMBINA JAMIN) pada 20 Oktober 2021 pukul 16.00 Wib.
Melihat hal tersebut, dapat disimpulkan dengan beberapa tantangan dan kendala yang mereka hadapi, Jamin tetap berupaya maksimal dalam mendukung pasangan Jokowi-Maaruf Amin. Para Relawan juga berharap partai pendukung dapat berkerja maksimal meskipun masyarakat khususnya di Kota Medan memiliki sentiment anti partai mereka yang dianggap bahwa partai politik hanya hadir disaat moment-moment tertentu dan tidak menjalankan tugas dan fungsi nya dengan baik. Berangkat dari hal tersebut, para relawan berusaha maksimal untuk mendorong semangat masyarakat dalam memilih pemimpin dan ikut berpartisipasi didalamnya sehingga tujuan mereka dapat terlaksana dan tercapai dengan baik dengan menjelaskan Visi dan Misi dari Jokowi – Maaruf Amin serta kinerja dari Jokowi di pemerintahan sebelumnya.
65
BAB IV PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa Jamin Milenial didirikan berdasarkan asas kekeluargaan serta kesadaran, bukan hanya ujuk-ujuk timbul kepermukaan menjadi pesaing bagi relawan lainnya. Lahirnya Jamin Milenial pada pilpres 2019 juga dikarenakan lemahnya peran dari partai politik yang menjadi kapal bagi para calon kontestan politik. Partai politik hanya menjadikan diri sebagai kapal saja namun tidak dengan edukasi yang diberikan kepada masyarakat.
Jamin Milenial menjadi wadah bagi kaum pemuda atau pemilih pemula untuk dapat belajar berpolitik dengan akal sehat dan memahami apa itu politik sehingga dapat menimbulkam rasa untuk ikut berpartisipasi dalam kontestasi politik. Mengingat bahwa di sumut terdapat 40% suara itu berasal dari kaum pemuda. Pemilih Milenial merupakan individu-individu yang baru pertama kali memberikan hak suaranya dalam Pemilihan umum. Sesuai aturan yang berlaku bahwa pemilih yang mendapatkan hak pertama kali dalam mengikuti pesta demokrasi yaitu sudah berumur 17 tahun.
Jika dilihat berdasarkan minat generasi milenial, sebagian generasi ini masih apatis dalam berpatisipasi kedalam hal yang berhubungan dengan ranah politik, tingkat kedewasaan dan pengalaman dalam hal-hal yang berkaitan dengan dunia politik menjadi salah satu kunci keterlibatan generasi ini untuk aktif atau tidak dalam ranah politik. Dapat dilihat dari perkembangan informasi atau berita yang membahas tentang buruknya dunia politik yang terjadi di daerah maupun pusat, baik melalui media massa hingga media cetak telah mempengaruhi kepekaan kaum pemuda untuk mau melek pada politk.
66 4.2 SARAN
Penelitian mengenai Partisipasi relawan dalam ranah politik masih jarang dilakukan. Penulis berharap dengan adanya peneltian ini dapat menjadi acuan bagi penelitian-penelitian selanjutnya dengan tema terkait. Disisi lain Jamin Milenial dihararapkan dapat melanjutkan kegiatan-kegiatan positif dalam mengedukasi kaum milenial untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya partisipasi.
67
DAFTAR PUSTAKA