BAB 5. PEMBAHASAN
5.4 Pengaruh Sikap terhadap Pemanfaatan Puskesmas Pancur Batu
Sikap merupakan kelompok keyakinan dan perasaaan yang melekat tentang objek tertentu Chave, Bogardus, LaPierre, Mead dan Gordon Allport dalam Azwar (2007) sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Kesiapan yang dimaksud merupakan kecenderungan yang potensial untuk bereaksi atau merespon dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon.
Sikap responden terhadap JKN dan BPJS leboh banyak kategori kurang baik.
Mengacu pada hasil penelitian sebagian besar responden dalam era JKN belum dapat mersepon dengan baik tentang : a) pengertian JKN dan BPJS, (b) tujuan JKN, (c) kepesertaan JKN, (d) premi JKN, (e) paket pelayanan kesehatan dalam Program JKN, (f) manfaat pelayanan JKN.
Hasil penelitian ini didukung hasil penelitian Djuhaeni dkk (2010) yang mengungkapkan bahwa masih ada responden beralasan iuran JKN dibayarkan jika peserta membutuhkan pelayanan kesehatan saja dan kepesertaan JKN tidak bersifat wajib, hal ini terkait dengan ketidaksiapan masyarakat karena sebagian besar belum memiliki tabungan kesehatan dan ada juga responden menyatakan mau ikut asuransi kesehatan dengan pelayanan kesehatan lengkap sampai ke tingkat rumah sakit.
Hasil wawancara dengan responden yang memanfaatkan Puskesmas Pancur Batu dalam era JKN, beralasan bahwa pernah mendapat informasi tentang JKN dan BPJS dari tetangga dan keluarga, sehingga pertanyaan tentang sikap ada sebagian dapat dijawab responden dengan baik dan responden yang tidak memanfaatkan beralasan bahwa belum pernah mendengar tentang JKN dan dalam satu tahun terakhir
tidak mengalami sakit yang berat, sehingga tidak dapat menjawab sebagian pertanyaan tentang JKN.
Berdasarkan temuan dilapangan didapatkan bahwa walaupun secara geografis masyarakat Kecamatan Pancur Batu relatif dekat dan mudah mengakses puskemas namun tidak sepenuhnya memanfaatkan puskesmas karena kadang-kadang masih menggunakan obat yang dibeli dari warung atau toko obat di sekitar rumahnya dan menyatakan bahwa sakit yang dialami belum dirasakan berat, sehingga tidak bisa merespon dengan baik pemanfaatan puskesmas dan berdampak terhadap pemanfaatan puskesmas dalam era JKN.
Sikap responden yang belum baik tentang JKN ini juga dapat dilihat dari persentase responden yang memanfaatkan puskesmas Pancur Batu, yakni lebih banyak menggunakan fasilitas KTP dan sebanyak lebih sedikit yang memanfaatkan sebagai peserta JKN. Hasil wawancara dengan responden yang menggunakan fasilitas KTP dalam memanfaatkan puskesmas sebagian besar beralasan; (a) kalaupun menjadi peserta JKN tempat mendaftar di Lubuk Pakam jauh dari Pancur Batu, (b) harus menunggu minimal 14 hari baru dapat menerima kartu JKN, (c) iuran sebagai peserta JKN tetap dibayar walaupun tidak sakit, dan (d) Puskesmas Pancur Batu belum tersedia petugas BPJS. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dilihat bahwa pengetahuan dan sikap responden tentang JKN tidak sepenuhnya saling berinteraksi.
Salah satu kendala dalam pelaksanaan JKN adalah munculnya masalah kontradiksi ketidakseimbangan pengelolaan dana, selayaknya JKN ini menetapkan iuran yang lebih besar daripada pengeluarannya, toh nantinya dana yang berlebih
akan digunakan pada tahun berikutnya; di sisi lain justru masyarakat sendiri masih keberatan untuk membayar iuran. Hal inilah yang memunculkan berita bahwa terjadi tunggakan pembayaran /BPJS berhutang pada beberapa fasilitas kesehatan. Pihak BPJS kesehatan juga harus memonitor masalah kepesertaan karena karyawan yang bekerja pada perusahaan swasta menggunakan asuransi swasta dan kepesertaan sebagai JKN hanya sekedar formalitas.
Menurut Thabrany (2009) jumlah anggota keluarga juga dapat mempengaruhi ability to pay. Rumah tangga dengan jumlah keluarga lebih dari 4 orang memiliki risiko pemiskinan lebih tinggi. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka akan semakin banyak pula kebutuhan untuk memenuhi kesehatannya. Menurut Varley (1995) kemampuan membayar adalah penilaian subjektif didasarkan pada beberapa asumsi seperti apa orang harus membayar. Klien berpenghasilan rendah dikatakan memiliki kemampuan lebih rendah untuk membayar dari berpenghasilan menengah, terlepas dari apakah mereka membeli barang/jasa.
Kemampuan membayar ini didukung pendapat Anderson (1973), menyatakan bahwa ada lima faktor yang memengaruhi permintaan untuk jasa kesehatan adalah:
1) persepsi; 2) permintaan aktual (harapan, kenyakinan, pengalaman sebelumnya, adat istiadat, agama). 3) kemampuan untuk membayar; 4) motivasi untuk memperoleh jasa kesehatan; 5) lingkungan (ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan). Pemanfaatan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh status sosial ekonomi pasien seperti pendidikan, pendapatan, dan demografi karakteristik seperti jenis kelamin, usia dan etnis.
Jika dilihat dari alasan responden, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa sebagian besar masyarakat khususnya di Kecamatan Pancur Batu belum sepenuhnya merespon tentang prinsip JKN yang diselenggarakan BPJS Kesehatan. Oleh karena itu perlu adanya upaya pemberian informasi yang tepat dan massive untuk meminimalisasi alasan sikap tentang JKN dan menganggap prosedur kepesertaan terlalu rumit. Berdasarkan karakteristik penduduk wilayah kerja Puskesmas Pancur Batu mayoritas suku Batak Karo, suku Batak Karo pada umumnya tidak suka dengan urusan yang ribet (rumit).
Respon (sikap) masyarakat tentang premi JKN di Wilayah kerja Puskesmas Pancur Batu masih rendah, karena sebagian besar masyarakat yang belum menjadi peserta JKN adalah masyarakat tidak mampu (bekerja sebagai petani) mengeluhkan pembayaran iuran JKN, yaitu iuran sebagai peserta JKN tetap dibayar walaupun tidak sakit. Salah satu keberatan masyarakat menjadi peserta JKN adalah masalah pembayaran premi, sesuai dengan ketentuan JKN adalah per orang bukan per kepala keluarga serta rumitnya mengusrus menjadi peserta dan jauhnya tempat pembayaran premi. Pihak BPJS kesehatan harus memikirkan bagaimana upaya agar pendaftaran menjadi peserta dan membayar premi lebih mudah, misalnya bekerjasama dengan pihak ketiga dalam hal pembayaran premi dan pendagtaran menajdi peserta.
Berdasarkan tingkat pendapatan responden lebih banyak dengan tingkat pendapatan ≥ Rp 1.305.000. Pendapatan kepala keluarga masih mampu membayar premi JKN dan dalam penelitian ini belum ditanya tentang pengeluaran responden per bulan, namun jika premi JKN dibebankan berdasarkan kepala keluarga, layaknya
masih mampu membayar premi JKN. Berdasarkan hal tersebut maka dapat diketahui bahwa sebenarnya responden mampu untuk membayar iuran namun tidak bersedia menjadi peserta JKN karena belum sepenuhnya merespon dengan baik atas produk yang ditawarkan, kualitas dan kuantitas pelayanan yang diberikan, serta tujuan pengguna JKN, hal ini dapat menjadi masukan pada pihak penyelenggara program JKN untuk mempertimbangkan teknis pembayaran premi peserta JKN berdasarkan kepala keluarga.
Terkait hal tersebut, Basyaid (2005) menjelaskan bahwa pertimbangan merupakan aspek kognitif dari proses pembuatan keputusan. Pembuatan keputusan sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas informasi yang diperoleh pembuat keputusan. Oleh karena itu, keputusan dari sikap yang diambil oleh responden terkait JKN maupun jaminan kesehatan dalam keluarganya hanya dipengaruhi oleh informasi yang mereka terima, baik dari segi kuantitas dan kualitas informasinya.
Sikap yang diambil oleh responden tersebut akan menjadi dasar untuk membuat keputusan untuk menjadi peserta JKN atau tidak. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa respon memiliki sikap yang positif terhadap JKN, namun karena alasan prosedur yang rumit akhirnya keputusan mereka berubah menjadi negatif, yakni menolak untuk mengikuti JKN.
Menurut Kimani et al. (2012) upaya untuk menerapkan program asuransi kesehatan sosial oleh banyak negara Afrika, termasuk Kenya terhambat oleh kurang mekanisme berkelanjutan pembiayaan kesehatan. Pemerintah Kenya bergerak ke arah program jaminan kesehatan universal, untuk memanfaatkan kesempatan unit platform
keuangan mikro informal, meningkatkan kapasitas pelayanan kesehatan dengan mempertimbangkan mereka sebagai pembiayaan yang layak dalam kerangka kebijakan pembiayaan kesehatan nasional yang komprehensif. Pemerintah harus mempercepat rencana untuk menerapkan program cakupan kesehatan universal dengan memfasilitasi peningkatan akses ke pelayanan kesehatan berkualitas dan terjangkau.
Menurut Linda (2012) Negara Amerika Serikat (AS) setelah lebih dari satu abad upaya untuk membangun sistem asuransi kesehatan nasional di mana semua orang Amerika memiliki akses pelayanan terjangkau, reformasi yang komprehensif disahkan oleh Kongres AS dan ditandatangani menjadi undang-undang oleh Presiden Obama di Maret 2010. Undang-undang Pelayanan terjangkau memperkenalkan monumental perubahan untuk meningkatkan akses, mengurangi ketidakadilan, kontrol biaya, meningkatkan kualitas, dan penyesuaian kembali insentif. Pada 2014 batas waktu untuk implementasi penuh, konsumen kesehatan, asuransi, dan pembayar pajak semua akan terpengaruh. Ada 32 juta orang Amerika tambahan akan memiliki cakupan asuransi kesehatan sebagai efek dari reformasi total secara bertahap, mengurangi yang tidak diasuransikan dari 18 persen menjadi 6 persen dari populasi.
Berdasarkan pengalaman di Kenya, Ghana, Tanzania, Amerika untuk dapat mencapai universal health coverage harus membuat kebijakan khusus mengalokasikan dana secara terencana dan berkomitmen untuk membiayai masyarakat miskin dan tidak mampu, bersumber dari dana APBN, APBD, dan CSR (Corporate Social Responsibility).
Menurut Notoatmodjo (2003) sikap bukan dibawa sejak lahir, pada interaksi sosial terjadi saling mempengaruhi. Interaksi sosial ini meliputi hubungan antara individu dengan lingkungannya. Sikap merupakan kesiapan atau respons untuk bertindak. Sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) akan tetapi merupakan predisposisi perilaku atau tindakan (reaksi tertutup), sehingga sikap tidak selamanya berinteraksi dengan pengetahuan dalam bertindak
Salah satu upaya merubah sikap adalah perlu peningkatan sosialisasi dan promosi kesehatan terkait layanan program JKN-BPJS Kesehatan secara terus menerus kepada seluruh masyarakat dengan menyebarkan leaflet atau poster tentang Program JKN- BPJS Kesehatan.
Berdasarkan uji statistik korelasi Pearson menunjukkan ada hubungan kategori sedang dan signifikan antara sikap dengan pemanfaatan (p<0,05) dan hasil uji statistik secara multivariat sikap berpengaruh positif dan signifikan terhadap pemanfaatan Puskesmas Pancur Batu (p<0,05). Hal ini memberikan makna bahwa semakin baik sikap responden tentang JKN maka pemanfaatan puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan semakin meningkat dalam era JKN.
Hasil penelitian ini didukung hasil penelitian Lukiono (2010) menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh sikap ibu hamil miskin terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dengan lengkap menggunakan pembiayaan Jamkesmas. Demikain juiga dengan hasil penelitian Sihombing (2014) menyimpulkan sebanyak 72 responden mempunyai persepsi baik terhadap asuransi kesehatan dan terdapat pengaruh yang bermakna antara persepsi responden dengan kemauan menjadi peserta JKN.
Hasil penelitian ini relevan dengan pendapat Walgito (2003) bahwa sikap dipengeruhi pengetahuan. Sehingga individu mempunyai dorongan untuk mengerti dengan pengalamannya untuk memperoleh pengetahuan. Sikap seseorang terhadap suatu objek menunjukkan pengetahuan tersebut mengenai objek bersangkutan.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sikap sangat menentukan seseorang ke arah lebih baik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membentuk sikap tersebut dapat diwujudkan melalui pemberdayaan tenaga kesehatan dan BPJS Kesehatan untuk memberi pemahaman tentang JKN. Sikap positif akan memunculkan perilaku dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan. Hasil penelitian ini didukung teori Green dalam Notoatmodjo (2007) yang menyatakan bahwa sikap merupakan bagian dari faktor predisposisi yang berpengaruh dalam membentuk perilaku seseorang.
Berdasarkan hasil penelitian tentang pengetahuan dan sikap responden terhadap pemanfaatan puskesmas dalam era JKN, secara umum dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama dalam era JKN belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh masyarakat dengan optimal. Program JKN telah berjalan sekitar 16 bulan sementara puskesmas sebagai tumpuan kesehatan wilayah belum maksimal menjalankan fungsinya terutama di era JKN.
Faktor lain belum optimalnya pemanfaatan puskesmas pada era JKN dalam hal ini adalah fungsi puskesmas masih ditujukan untuk upaya kuratif dan belum sepenuhnya melaksanakan upaya promotif, preventif tanpa mengesampingkan upaya rehabilitatif. Puskesmas dalam era JKN sebagai Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM) akan terdesak. Pembayaran kapitasi dan non-kapitasi oleh BPJS Kesehatan dilakukan
berdasarkan Pay for Performance (Pembayaran untuk kinerja), yaitu peningkatan kompensasi yang variabelnya berdasarkan kinerja yang ditetapkan bukan peningkatan gaji. Fungsinya untuk meningkatkan motivasi kerja SDM, meningkatkan kinerja lembaga dan meningkatkan akuntabilitas lembaga. Indikator kinerja pelayanan primernya, yaitu keramahan petugas, jam buka pelayanan, angka rujukan yang baik, berjalannya kegiatan, kunjungan masyarakat. Hal ini akan sangat berat bagi Puskesmas karena beban petugas sudah tinggi, sehingga puskesmas akan sibuk.
Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah inovasi Program UKM di Puskesmas agar terlaksana pada era JKN, mempertimbangkan secara pelan-pelan agar sebagian kegiatan UKM dikerjakan secara kontrak keluar dengan alasan; (a) program puskesmas sebagian besar merupakan pekerjaan luar gedung, (b) membutuhkan kemampuan khusus, dan (3) sampai sekarang daya serap kemenkes dan dinas kesehatan masih rendah.