• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH SOCIAL IDENTITY PADA FENOMENA PINDAH AGAMA DI ERA POST-TRUTH

Dalam dokumen ISBN: (Halaman 120-123)

Oleh: Elisa Kusumawardhani1*)

1Mahasiswi Magister Ilmu Politik Konsentrasi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Padjajaran, Bandung

*)e-mail: [email protected]

ABSTRAK

Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman ras, suku dan agama.

Namun, intoleransi dan hal-hal yang menyangkut mengenai keberagaman masih sangat rentan dan sensitif sehingga dapat memecah belah bangsa Indonesia. Apalagi di era post-truth dimana keyakinan dan keterikatan emosi antara satu sama lain lebih dapat dipercaya dibandingkan dengan fakta dan data yang valid. Penelitian ini membahas mengenai bagaimana identitas sosial ikut berpengaruh dalam fenomena pindah agama di Indonesia.

Terlebih dengan pemberitaan media khususnya media online dalam menyampaikan informasi mengenai fenomena pindah agama di Indonesia. Perbedaan pemilahan kata dan kalimat dalam memberitakan mengenai public figure yang berpindah agama di Indonesia dapat mendorong munculnya stigma negatif dan memecah belah masyarakat dalam keberagaman.

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan konsep identitas sosial.

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh dari identitas sosial dalam pemberitaan media online dan mengakibatkan munculnya perilaku negatif di media sosial pada public figure yang menjadi obyek pemberitaan.

Kata Kunci: identitas social, pindah agama, media online, post-truth

ABSTRACT

Indonesia is a country that has a diversity of races, ethnicities and religions.

However, intolerance and matters concerning diversity are still very vulnerable and sensitive so as to divide the Indonesian nation. Especially in the post-truth era where beliefs and emotional attachments to one another are more reliable than valid facts and data. This study discusses how social identity has an influence in the phenomenon of conversion to religion in Indonesia. Especially with the media coverage, especially online media in conveying information about the phenomenon of conversion to religion in Indonesia. Differences in the separation of words and sentences in preaching about public figures who convert to religion in Indonesia can encourage the emergence of negative stigma and divide people in diversity.

This study uses qualitative research approach to the concept of social identity. The results of this study indicate the influence of social identity in online media reporting and lead to the emergence of negative behavior on social media in public figures that are the object of reporting.

Prosiding Seminar Nasional Universitas Negeri Malang 2019

114

Keywords: social identity, convert, online media, post-truth

PENDAHULUAN

Banjir informasi pada perkembangan revolusi digital membuat kita sangat sulit untuk mengontrolnya. Permasalahan ini bukan lagi dalam ranah bagaimana mendapatkan informasi namun bagaimana masyarakat mencerna berita dan informasi dengan benar. Keterbatasan untuk membendung banyaknya informasi yang beredar membuat kita tidak memiliki pilihan untuk menghadapinya. Penyesuaian dengan arus ini tidak membuat kita hanya menjadi manusia yang hanya menerima keadaan tanpa harus adanya adaptasi. Fenomena ini merupakan efek dari perubahan pola komunikasi dari cara konvensional menuju digitalisasi dengan menggunakan berbagai kanal media online.

Tentu saja fenomena ini diikuti oleh pengguna internet yang begitu masifnya. Dari data tercatat bahwa pengguna internet di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2018 lalu.

Berdasarkan hasil penelitian Polling Indonesia dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia tumbuh 10,12 persen. Total ada sebanyak 171,17 juta jiwa atau sekitar 64,8 persen dari 264 juta jiwa penduduk Indonesia yang menggunakan internet (Pratomo, 2019). Hal ini tentunya membawa sejumlah dampak sosial didalamnya. Pergeseran karakter para pengguna internet sebagai audience, bukan lagi sebagai obyek pasif namun juga berperan menjadi produsen informasi dan berita (citizen journalism). Sehingga masyarakat pun dapat berperan menjadi produsen berita dan membentuk opini publik.

Kemudahan yang didapat masyarakat dalam era digitalisasi termasuk kemudahan mendapatkan informasi dan berita dimanapun dan kapanpun. Media online menggantikan media konservatif sehingga dapat diakses dimanapun menggunakan teknologi dan internet tanpa terbatas ruang dan waktu. Melalui media online pula kita dapat selalu mengetahui berita-berita terupdate langsung pada hari yang sama dengan kejadian tertentu hanya dalam hitungan jam. Itulah mengapa media online menjadi salah satu stakeholder dalam pembentukan opini publik.

Memasuki era post-truth, dimana arus berita dan informasi yang sangat banyak di masyarakat membuat potensi penyebaran hoax dan hate speech sangat cepat terjadi. Menurut Green (1995) dan Besserman (1998), post-truth merupakan periodisasi konsep berdasarkan kecemasan masyarakat mengenai klaim atas kebenaran publik dan hak untuk menjadikan kebenaran publik sah. Post-truth menjadi hal yang berpotensi menyesatkan masyarakat. Hal ini didasarkan dengan dua alasan utama. Pertama, post-truth memiliki kaitan dengan dua bentuk kebenaran yang berbeda namun saling berhubungan, yaitu kejujuran dan keyakinan yang dibenarkan. Alasan utama lainnya adalah post-truth menjelaskan definisi yang mirip dengan konsep periodisasi besar lainnya, seperti industri dan postindustrial. Dimana terkadang hal ini ditafsirkan sebagai momen yang tidak bisa lebih baik dari kebenaran. Post-truth dapat terlihat dari obsesi dalam pemikiran yang konstan, kebohongan, kecemasan serta ketidakpercayaan publik dari akibat yang ditimbulkan post-truth (Harsin, 2018, p. 3).

Prosiding Seminar Nasional Universitas Negeri Malang 2019

115

Rendahnya literasi dan kesadaran fast checking atau saring before sharing membuat hoax dan hate speech semakin mudah tersebar. Bahkan beberapa media online memanfaatkan hal ini untuk keuntungan click bait dalam memberitakan suatu isu ataupun fenomena. Hal ini tentunya dapat membentuk opini publik mengenai suatu isu. Fenomena berubah menjadi negatif atau positif serta mengesampingkan aspek lainnya.

Penelitian ini menggunakan konsep identitas sosial dalam menganalisa fenomena.

Menurut Michael A Hogg dan Dominic Abrams (1998), identitas sosial didefinisikan sebagai pengetahuan individu bahwa ia milik kelompok sosial tertentu dengan makna emosional dan nilai dari keanggotaan kelompok (Tajfel 1972a:31). Kelompok sosial adalah dua atau lebih individu yang berbagi identitas sosial baik umum maupun pribadi atau yang hampir sama, artinya menganggap diri mereka sebagai anggota dari kategori sosial yang sama (Turner 1982:15) (Absari, 2013). Pendapat lain dari Ellemers (1993) mendifinisikan teori identitas sosial sebagai identifikasi ingroup yang merupakan sumber penyebab terjadinya konflik antar kelompok. Selain itu, Ellemers, Kortekaas & Ouwerkerk (1999) juga menjelaskan bahwa ada tiga komponen yang membentuk identitas sosial. Pertama adalah cognitive yaitu kesadaran kognitif seseorang mengenai keanggotaannya dalam sebuah kelompok (self categorization).

Kedua adalah evaluative component merupakan nilai konotasi positif atau negatif yang melekat pada keanggotaan kelompok (group self esteem). Serta yang terakhir adalah emotional component yaitu rasa keterlibatan emosional dengan kelompok (affective commitment) (Fanny, 2013/2014).

Setiap individu memiliki serangkaian identitas sosial yang berbeda termasuk yang berasal dari kelompok yang identik serta merujuk pada kategori sosial yang lebih abstrak dan mungkin cenderung ambigu. Konseskuensi dari hal ini adalah perbedaan persepsi tentang diri dan orang lain dapat muncul berdasarkan pada identitas yang paling menonjol (Crisp &

Hewstone 2001, Haslam & Turner 1992, Mussweiler et al. 2000, Spears 2001, Van Rijswijk

& Ellemers 2001). Oleh karena itu, bagaimana identitas sosial mempengaruhi karakteristik kelompok dan proses kelompok dapat berbeda satu sama lain bergantung pada sejauh mana kelompok tersebut menganggap diri mereka dalam hal keanggotaan kelompok tertentu (Ellemers et al. 1999c) (Ellemers, Spears, & Doosje, 2002).

Fenomena pindah agama yang marak terjadi saat ini membuat pembelajaran mengenai agama sangat mudah didapatkan. Entah dari media sosial, youtube atau aplikasi-aplikasi digital lainnya untuk menunjang berbibadah secara efisien. Masyarakat dapat mempelajari dan mendapatkan informasi mengenai agama dengan mudah nya tanpa harus datang pada tempat tertentu. Fenomena pindah agama yang terjadi di masyarakat, dimana seharusnya setiap indovidu memiliki hak yang sama untuk memeluk agamanya masing-masing entah itu agama bawaan dari lahir atau disaat memiliki hak untuk memilih dan berpindah dari satu agama ke agama lain.

Negara pun harusnya hadir untuk melindungi hak tersebut. Namun yang terjadi di Indonesia, fenomena pindah agama dari agama mayoritas ke minoritas selalu mendapat respon negatif termausk dalam pem bullyan khususnya di media sosial. Tapi hal tersebut tidak berlaku ketika hal sebaliknya terjadi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk

Prosiding Seminar Nasional Universitas Negeri Malang 2019

116

meneliti bagaimana identitas sosial mempengaruhi respon masyarakat terhadap fenomena pindah agama di era post-truth. Hingga pada akhir penilitian didapatkan jawaban dari permasalahan diatas dan dapat menemukan solusi yang tepat bagi semua pihak.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Metode penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu masyarakat atau suatu kelompok orang tertentu atau gambaran tentang suatu gejala atau hubungan antara dua gejala atau lebih (Soehartono, 2011). Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menunjukkan kualitas atau mutu dari suatu fenomena (keadaan, proses, kejadian/peristiwa, dan lain-lain) yang dinyatakan dalam bentuk perkataan. Untuk itu diperlukan ukuran berupa mutu standar atau mutu seharusnya atau yang ideal sebagai pembanding terhadap fenomena (Endi Haryono, 2005). Metode analisis data yang digunakan oleh penulis adalah studi pustaka. Data yang diperoleh penulis adalah data sekunder yang berasal dari buku–buku di perpustakaan, jurnal, working paper, e-journal, data dari media elektronik, skripsi, thesis serta tulisan ilmiah yang isi nya dapat dipertanggung jawabkan.

Teknik dan alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumentasi. Studi dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian (Soehartono, 2011). Metode ini merupakan cara yang digunakan untuk mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis, terutama berupa arsip termasuk buku tentang pendapat, teori, hukum, koran, majalah dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penyelidikan (Nawawi, 1987).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen ISBN: (Halaman 120-123)