• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

F. Pembahasan

4. Pengaruh Ukuran Pemerintah Daerah terhadap Kinerja

Ukuran pemerintah daerah adalah salah satu variabel dalam besar atau kecilnya pemerintahan suatu daerah yang dapat diukur dengan total aset, jumlah pegawai, total pendapatan dan tingkat produktifitas Damanpour (1991) dalam (Puspasri, 2016). Ukuran pemerintah daerah menunjukkan seberapa besar pemerintahan daerah. Dengan jumlah aset/pegawai/

produktifitas yang lebih besar sehingga diharapkan memiliki kinerja keuangan yang lebih baik daripada daerah yang lebih kecil aset yang dimiliki pemerintah daerah dapat mendukung kinerja pemerintah daerah (Agen).

Aset yang besar diharapkan mampu memberikan kontribusi kinerja yang besar. Pemerintah daerah dengan aset besar diasumsikan memiliki potensi untuk memberikan pelayanan yang lebih terhadap masyarakat (prinsipal). Tuntutan dalam kinerjanya secara otomatis akan meningkat sesuai dengan nilai aset yang dimiliki.

Penelitian Aziz (2016) dengan hasil variabel ukuran pemerintah daerah berpengaruh positif terhadap variabel dependen (kinerja keuangan).

Didukung penelitian (Retnowaty, 2016) ukuran pemerintah daerah berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Berdasarkan uraian tersebut, maka untuk penelitian ini dapat diturunkan hipotesis sebagai berikut:

H4. Ukuran Pemerintah Daerah berpengaruh positif terhadap Kinerja Keuangan.

25

D. Model penelitian

H1(+)

H3(+)

H4 (+)

Gambar 2.1 Model penelitian Kekayaan Daerah (KD)

Dana Perimbangan (DP)

Belanja Daerah(BD)

Ukuran Pemerintahan(UP)

Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah(KKPD) H2(-)

26 BAB III

METODE PENELITIAN A. Populasi dan sampel

Pengertian populasi menurut Sugiyono (2011) adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemerintah daerah yang berada di Provinsi Jawa Tengah yaitu sebanyak 35 kabupaten/kota.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan purposive sampling, yaitu metode yang dilakukan dengan mengambil sampel dari populasi berdasarkan kriteria-kriteria tertentu.

Kriteria dapat berdasarkan pertimbangan tertentu atau jatah tertentu (Jogiyanto 2011). Penelitian ini menggunakan kriteria pengambilan sampel seperti berikut ini:

1. Laporan keuangan pemerintah daerah kabupaten/ kota di Jawa Tengah 2016 dari situs resmi melalui www.djpk.kemenkeu.go.id

2. Pemerintah daerah yang memiliki Laporan Keuangan Pemerintah Daerah yang telah diaudit oleh BPK RI.

3. Pemerintah daerah yang memiliki Laporan Keuangan Pemerintah Daerah yang mencantumkan Laporan Realisasi Anggaran dan Neraca

27

B. Data Penelitian

1. Jenis dan sumber data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah tahun 2013-2016 yang diperoleh dari situs resmi Provinsi Jawa Tengah Melalui www.djpk.kemenkeu.go.id . Alasan penggunaan data sekunder dengan pertimbangan bahwa data ini mempunyai validitas data yang dijamin oleh pihak lain (yaitu pemerintah) sehingga handal untuk digunakan dalam penelitian.

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode dokumentasi. Metode dokumentasi yaitu peneliti mengumpulkan data yang dibutuhkan secara langsung melalui dokumen yang berupa Laporan Keuangan Pemerintah Daerah pada Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah.

C. Variabel dan Pengukuran variabel

Tabel 3.1 Definisi dan Pengukuran

Variabel Definisi Operasional Pengukuran Kekayaan

Daerah

Kemampuan suatu daerah dalam mencukupi kebutuhan, UU No.33 Tahun 2004

Kekayaan Daerah = Jumlah Pendapatan Asli Daerah

Dana

Perimbangan

Sejumlah transfer dana dari pusat yang sengaja dibuat

28

Tabel 3.1

Definisi dan Pengukuran Lanjutan

Variabel Definisi Operasional Pengukuran Belanja Daerah Semua pengeluaran dari

Rekening Kas Umum

Sumber: data penelitian terdahulu diolah, 2017 D. Metode Analisis Data

1. Analisis Statistik Diskriptif

Teknik analisis data penelitian secara deskriptif dilakukan melalui statistika deskriptif, yaitu statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat generalisasi hasil penelitian. Termasuk dalam teknik analisis data deskriptif antara lain penyajian data melalui tabel, grafik, diagram, persentase, frekuensi, perhitungan mean, median atau modus.

29

2. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas

Menurut Sugiyono (2011) Penggunaan Statistik Parametris mensyaratkan bahwa data setiap variabel yang akan dianalisis harus berdistribusi normal. Oleh karena itu sebelum pengujian hipotesis dilakukan, maka terlebih dulu akan dilakukan pengujian normalitas data. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui normal tidaknya suatu distribusi data.Seperti diketahui bahwa uji t dan f mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distibusi nomal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil (Ghozali 2011:160).

Untuk menguji data yang berdistribusi normal digunakan alat uji normalitas, yaitu Kolmogorov-Sminov Test. Adapun dasar pengambilan keputusan uji statistik Kolmogorov-Sminov Test menurut (Ghozali 2011:161) yaitu:

1) Jika nilai Asymp Sig (2 tailed) < 0,05 maka H0 ditolak. Hal ini berarti data tidak berdistribusi normal.

2) Jika nilai Asymp Sig (2 tailed) > 0,05 maka H0 diterima. Hal ini berarti data berdistribusi normal

b. Uji Autokorelasi

Maksud dari dilakukan uji autokorelasi adalah untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu

30

pada periode t-1 (sebelumnya).Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model regresi yang baik adalah model regresi yang bebas dari autokorelasi (Ghozali 2011:110).

Untuk mengetahui apakah data yang digunakan dalam model terdapat autokorelasi atau tidak, pada penelitian ini menggunakan alat uji Durbin Waston (DW) dengan ketentuan sebagi berikut:

1) Terjadi korelasi positif, jika nilai DW dibawah -2 (DW < -2)

2) Tidak terjadi autokorelasi, jika nilai DW berada diantara -2 dan + 2 atau -2 < DW < +2

c. Uji Heteroskedastisitas

Adapun tujuan dari pengujian heteroskedastisitas adalah untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang Homoskedastisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas (Ghozali 2011: 139).

Salah satu metode yang digunakan untuk menguji heteroskedastisitas dalam model regresi adalah dengan uji Glejser.

Metode uji Glejser meregresikan nilai absolute residual dengan variabel bebas. Kriteria yang digunakan menurut (Ghozali 2011:142) adalah apabila nilai p-value<0,05, maka model tersebut terdapat

31

heteroskedastisitas. Namun jika p-value>0,05 maka tidak terdapat heteroskedastisitas.

d. Uji Multikolinieritas

Uji Multikolonieritas ini bertujuan untuk menguji apakah model regesi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel ini tidak ortogonal (variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol (Ghozali 2011)

Untuk mengukur multikolineritas dapat dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jika nilai tolerance≤0,1 dan VIF≥10, mengartikan bahwa data tersebut terjadi multikolinearitas. Jika nilai tolerance≥0,1 dan VIF≤10, dapat diartikan tidak terdapat multikolinearitas dalam data penelitian tersebut (Ghozali 2011:106).

3. Analisis Regresi Berganda

Regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh beberapa variabel independen terhadap variabel dependen.Tujuan analisis regresi taitu mengukur hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen (Ghozali, 2013). Penelitian ini untuk menguji keseluruhan hipotesis digunakan model regresi sebagai berikut:

32

KK = ß1 KD + ß2 DP + ß3 BDv + ß4 UP + e Keterangan :

KK = Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah KD = Kekayaan Daerah

DP = Dana Perimbangan BD = Belanja Daerah UP = Ukuran pemerintah ß1,..ß4 = Koefisien Regresi e = Error / Variabel Gangguan E. Pengujian Hipotesis

1. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinan merupakan nilai yang menunjukkan seberapa besar variabel independen dapat menjelaskan variabel dependennya. Nilai koefisien determinan dilihat pada hasil pengujian regresi berganda untuk variabel independen berupa Kekayaan daerah, Dana perimbangan, Belanja daerah, dan Ukuran Pemerintah Daerah serta variabel dependen berupa kinerja keuangan pemerintah daerah.

Penelitian ini menggunakan AdjustedR2 berkisar antara 0 dan 1. Nilai Adjusted R2 yang semakin mendekati 1 maka kemampuan model tersebut dalam menjelaskan variabel dependen semakin baik. Sebaliknya, bila nilai Adjusted R2 menjauh dari 1 maka kemampuan model tersebut dalam menjelaskan variabel dependen kurang baik (Ghozali 2011:190).

33

2. Uji F (Goodness of Fit Test)

Ghozali (2013), uji statistik F pada dasarnya digunakan untuk mengukur ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual (Goodness of fit). Uji F menguji apakah variabel independen mampu menjelaskan variabel dependen secara baik atau untuk menguji apakah model yang digunakan telah fit atau tidak. Menentukan F tabel digunakan tingkat signifikansi 5% dengan derajat kebebasan pembilang (df) = k dan derajat kebebasan penyebut (df) = n-k-l dimana k adalah jumlah variabel bebas. Pengujian dilakukan dengan membandingkan dengan kriteria:

a) Jika Fhitung>Ftabel, Pvalue<ɑ= 0,05 maka Ho ditolak atau Ha diterima, artinya model yang digunakan bagus (fit).

b) Jika Fhitung<Ftabel, Pvalue>ɑ= 0,05 maka Ho diterima atau Ha tidak dapat diterima, artinya model yang digunakan tidak bagus (tidak fit).

Gambar 3.1 Penerimaan Uji F 3. Uji Statistik t

Uji t digunakan mengukur signifikansi pengaruh pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan perbandingan nilai t hitung masing-masing koefisien regresi dengan t tabel (nilai kritis) sesuai dengan tingkat

ɑ = 5%

F

F tabel Ho tidak ditolak

34

signifikansi yang digunakan.Pengujian dilakukan dengan menggunakan tingkat signifikan 0,05 (α=5%). Kriteria penerimaan positif :

a) Jika t hitung > t tabel atau p value<ɑ=0,05, maka Ho ditolak atau Ha diterima, artinya variabel independen mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen.

b) Jika t hitung < t tabel atau p value>ɑ=0,05, maka Ho diterima atau Ha tidak dapat diterima, artinya variabel independen tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen.

Gambar 3.2 Penerimaan Uji t positif Kriteria penerimaan negatif:

a) Jika –t hitung < -t tabel maka Ho ditolak atau Ha diterima artinya tidak terdapat pengaruh antara variabel independen terhdap dependen b) Jika –t hitung > -t tabel maka Ho diterima atau Ha ditolak artinya

terdapat pengaruh antara variabel independen dan dependen

Gambar 3.3 Penerimaan Uji t negatif ɑ = 5%

Ho ditolak

Ho tidak ditolak

-t tabel 0

ɑ = 5%

Ho ditolak Ho tidak ditolak

55 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kekayaan daerah, dana perimbangan, belanja daerah, dan ukuran pemerintah daerah terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah. Objek penelitian ini adalah pemerintah kota dan kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Sampel yang diambil dengan metode purposive sampling diperoleh sampel seanyak 17 (tujuh belas) kabupaten dan kota dalam 1 Provinsi.

Hasil Adjusted R2 menunjukkan bahwa variabel independen yang terdiri dari kekayaan daerah, dana perimbangan, belanja daerah, dan ukuran pemerintah daerah mampu menjelaskan variabel dependen kinerja keuangan pemerintah daerah sebesar 32,6 %, sedangkan sisanya 67,4% dipengaruhi atau dijelaskan oleh faktor-faktor lain diluar model penelitian. Hasil Uji F menunjukkan bahwa F hitung lebih besar dari F tabel. Artinya, kekayaan daerah, dana perimbangan, belanja daerah, dan ukuran pemerintah daerah mampu menjelaskan kinerja keuangan pemerintah secara baik dan model yang digunakan dalam model ini sudah fit.

Hasil uji t menunjukkan bahwa hasil analisis menunjukkan bahwa belanja daerah mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah. Sedangkan kekayaan daerah, dana perimbangan, dan ukuran pemerintah tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah.

56

B. Keterbatasan Penelitian

1. Penelitian ini hanya menggunakan empat variabel dependen yaitu kekayaan daerah, dana perimbangan, belanja daerah, dan ukuran pemerintah daerah yang hanya mampu menjelaskan 32,6% faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan daerah. Sehingga hasil penelitian ini belum dapat menjelaskan semua variabel yang mempengaruhi kinerja keuangan daerah.

2. Sampel dalam penelitian ini dibatasi pada Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah. Hal ini menyebabkan hasil penelitian hanya berlaku untuk Kabupaten/Kota yang menjadi sampel penelitian, sehingga belum dapat digeneralisasi untuk seluruh Kabupaten/Kota di Indonesia.

3. Rentang waktu yang digunakan selama 4 tahun yaitu dari tahun 2013-2016 sehingga belum dapat digeneralisasi.

C. Saran

1. Penelitian selanjutnya diharapkan menambah variabel-variabel lain seperti rasio keuangan seperti rasio efektivitas, karena semakin tinggi rasio efektivitas maka semakin baik kinerja keuangan pemerintah daerah (Rahmayati, 2016).

2. Penelitian selanjutnya dapat meneliti Provinsi lain agar dapat memperbandingkan dengan Kabupaten/Kota yang berbeda.

3. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah periode penelitian agar lebih mampu dilakukan generalisasi atas data penelitian tersebut.

57

DAFTAR PUSTAKA

Armaja, Ridwan Ibrahim, and Aliamin. 2015. “Pengaruh Kekayaan Daerah, Dana Perimbangan Dan Belanja Daerah Terhadap Kinerja Keuangan (Studi Pada Kabupaten/Kota Di Aceh).” PERSPEKTIF EKONOMI DARUSSALAM 3(September):168–81.

Ayuningsih, Diah. 2016. “Pengaruh Size, Wealth, Leverage, Belanja Daerah Dan Intergovernmental Revenue Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Di Jawa Tengah.” 1–123.

Aziz, Asmaul. 2016. “Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah ( Studi Pada Pemerintah Daerah Kabupaten / Kota Di Jawa Timur ).” EKSIS XI(1):86–101.

Bastian, Indra. 2006. Akuntansi Sektor Publik Di Indonesia. Yogyakarta: BPFE.

Ghozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis Multivariat Dengan Program IBM SPSS 19. Semarang: Universitas Diponegoro.

Ghozali, Imam. 2016. Aplikasi Analisis Multivariat Dengan Program IBM SPSS 23. Semarang: Universitas Diponegoro.

Halim, Abdul. (2012). Akuntansi sektor Publik Akuntansi Keuangan Daerah.

Jakarta: Salemba Empat

Hartono, R, A. Mahmud dan N.S. Utaminingsih. 2014. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kelemahan Pengendalian Internal Pemerintah Daerah.

Proceeding Simposium Nasional Akuntansi XVII. Mataram. Lombok; 1-13.

Humas Jateng. 2017. “Portal Berita Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemprov Jateng Raih WTP Ketujuh.” Ul, Diskominfo Jateng. Retrieved Mei 28, 2017 (https://jatengprov.go.id/publik/pemprov-jateng-raih-wtp-ketujuh/).

Jensen, M. C dan Meckling, W. H. 1976. “Theory of the Firm: Managerial Behavior, Agency Costs and Owenership Structure.” Journal of Financial Economics.

Jogiyanto. 2011. Metodologi Penelitian Bisnis. Yogyakarta: BPFE.

Juwita, Rahmini. 2016. "Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Terhadap Kinerja Keuangan Daerah" (Studi Kasus Pada Kabupaten/Kota di Propinsi Banten Tahun 2012 - 2015). SEMNAS FEKON 2016

58

Mardiasmo. 2009. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi.

Masdiantini, Putu Riesty and Ni Made Adi Erawati. 2016. “Pengaruh Ukuran Pemerintah Daerah , Pengaruh Ukuran Pemerintah Daerah, Kemakmuran, Intergovernmental Revenue, Temuan Dan Opini Audit Bpk Pada Kinerja Keuangan.” Akuntansi Universitas Udayana 1150–82.

Marfiana, N dan Kurniasih, L. (2013). Pengaruh karakteristik pemerintah daerah dan hasil pemeriksaan audit BPK terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah kabupaten/kota. Jurnal. Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Pemerintah, Indonesia. 2010. Standart AKuntansi Pemerintah Berbasis Akrual.

Indonesia: Lampiran I.01.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.

Rahmayati, Anim. 2016. " Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Sukoharjo Tahun Anggaran 2011-2013". Jurnal EKA CIDA Vol.

1 No. 1 Maret 2016. ISSN: 2503-3565 e-ISSN: 2503-3689.

Retnowaty, Renny. 2016. “Analisis Pengaruh Tingkat Kekayaan Daerah, Belanja Daerah, Ukuran Pemerintah Daerah, Leverage Dan Intergovernmental Revenue Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah.” Naskah Publikasi 1–14.

Rochmah, Siti Nur. 2015. “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah (Studi Empiris Pada Kota Dan Kabupaten Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009-2012).” Naskah Publikasi 1–17.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. 8th ed.

Bandung: Alfabeta.

Sunyoto, Danang. 2016. Metodologi Penelitian Akuntansi . Bandung: Refika Aditama, ISBN 978-602-8650-0-68

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Dokumen terkait