• Tidak ada hasil yang ditemukan

malam varietas Dian Arum yang digunakan berasal dari tanaman yang berumur 26 bulan dari daerah Cianjur. Percobaan ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor. Faktor pertama adalah ukuran umbi, yang terdiri atas umbi kecil (0.5 < Ø < 1.5 cm), umbi sedang (1.5 < Ø < 2.5 cm) dan umbi besar (Ø > 2.5 cm). Faktor ke dua adalah teknik induksi, yaitu dengan kering angin dan pengasapan selama 6 hari. Setiap perlakuan diulang empat kali, masing-masing satuan percobaan terdiri atas 20 umbi.

Percobaan 2. Pengaruh teknik induksi terhadap kecepatan, keserempakan

dan jumlah tunas pada umbi sedap malam. Umbi sedap malam yang digunakan berasal dari sumber yang sama dengan percobaan 1. Pada penelitian ini digunakan umbi berukuran sedang. Pada percobaan ini digunakan tiga perlakuan induksi pertunasan, yaitu menggunakan BAP, GA3 dan pengasapan, yang masing-masing merupakan percobaan terpisah. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap satu faktor. Perlakuan BAP terdiri atas empat konsentrasi yaitu 0, 100, 200 dan 300 ppm. Perlakuan GA3 terdiri atas lima konsentrasi yaitu 0, 50,100, 150 dan 200 ppm. Perlakuan pengasapan dilakukan dengan empat lama pengasapan yaitu 0, 2, 4 dan 6 hari. Masing-masing percobaan ini diulang empat kali, dengan masing-masing satuan percobaan terdiri atas 15 umbi. Peubah yang diamati adalah jumlah tunas samping, panjang tunas samping, persentase umbi bertunas samping dan panjang tunas utama.

Hasil uji F pada percobaan pertama menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara teknik induksi dengan ukuran umbi terhadap jumlah tunas samping. Ukuran umbi lebih kuat pengaruhnya terhadap jumlah tunas samping mulai pada 2 - 10 MSP. Teknik induksi mulai terlihat pengaruhnya pada 9 dan 10 MSP. Pengaruh interaksi antara teknik induksi dengan ukuran umbi nyata pada parameter panjang tunas samping, persentase umbi bertunas samping dan panjang tunas utama. Semakin besar ukuran umbi, semakin meningkat jumlah tunas samping, panjang tunas samping maupun persentase umbi bertunas samping.

Pada umbi berukuran besar, umbi bertunas 50% dicapai pada 3 MSP, lebih cepat dibandingkan umbi ukuran kecil. Untuk meningkatkan keserempakan umbi bertunas samping, pada umbi ukuran besar maupun umbi ukuran kecil dapat dilakukan dengan pengasapan maupun kering-angin, sedangkan untuk umbi ukuran sedang, lebih baik digunakan pengasapan.

Hasil penelitian pada percobaan ke dua, menunjukkan bahwa pemberian BAP maupun GA3 memberikan respon yang bervariasi terhadap beberapa peubah yang diamati. BAP memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah tunas samping dan persentase umbi bertunas samping. Perlakuan beberapa konsentrasi GA3 memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah tunas samping, panjang tunas samping dan panjang tunas utama, sedangkan lama pengasapan tidak memberikan pengaruh nyata pada semua peubah yang diamati. Penggunaan BAP efektif meningkatkan jumlah tunas samping maupun persentase umbi bertunas samping.

Konsentrasi BAP 300 ppm, menghasilkan jumlah tunas samping 6.8 tunas/umbi, dengan panjang tunas samping 3.5 mm dan keserempakan umbi bertunas telah diperoleh 100% pada 1 MSP lebih tinggi dari konsentrasi 100 ppm, yang menghasilkan jumlah tunas samping 3 tunas/umbi dan panjang tunas samping 2.2 mm serta keserempakan bertunas 71.7% pada 1 MSP. Konsentrasi 100 ppm GA3, menghasilkan jumlah tunas samping 2.6 tunas/umbi lebih banyak, tunas samping sepanjang 4.2 mm diperoleh pada 1 MSP, keserempakan bertunas 50% diperoleh antara minggu 3 - 4 lebih cepat dibanding pada pemberian konsentrasi 150, 50 ppm maupun kontrol. Lama pengasapan 4 dan 6 hari cenderung meningkatkan panjang dan persentase umbi bertunas samping. Lama pengasapan 6 hari mempercepat keserempakan bertunas 50% pada 5 MSP, jika dibandingkan dengan lama pengasapan 2 dan 4 hari maupun kontrol (7 – 8 MSP). Lama pengasapan 0, 2, 4 hari, lebih memacu pemanjangan tunas utama.

Kata kunci: BAP, GA3, pengasapan, Polianthes tuberosa L.

@ Hak cipta milik IPB, Tahun 2012 Hak cipta dilindungi Undang-Undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruhnya karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber.

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.

b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar bagi Institut Pertanian Bogor.

2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh hasil karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.

(Polianthes tuberosa L.) DENGAN PENGASAPAN DAN APLIKASI ZAT PENGATUR TUMBUH

EMI SUGIARTINI

Tugas Akhir

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesional pada

Program Studi Magister Profesional Perbenihan

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tugas Akhir: Dr. Ir. Endang Murniati, MS

Nama : Emi Sugiartini

NRP : A254090175

Disetujui Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Endah Retno Palupi, M.Sc Ketua

Dr. Ir. Eny Widajati, M.S.

Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Magister Profesional Perbenihan

Prof. Dr. Ir. Satriyas Ilyas, M.S.

Dekan Sekolah Pascasarjana IPB

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr

Tanggal Ujian: 1 Desember 2011 Tanggal Lulus: 1 Februari 2012

PRAKATA

Syukur Alhamdulillah, kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Tugas Akhir dengan judul “Induksi Pertunasan pada Umbi Tanaman Sedap Malam (Polianthes tuberosa L.) dengan Pengasapan dan Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh”.

Penulisan tugas akhir ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesional pada Program Magister Profesional Perbenihan, Sekolah Pascasarjana IPB.

Ucapan terimakasih dan penghargaan yang setinggi tingginya penulis sampaikan kepada:

1. Dr. Ir. Endah Retno Palupi, M.Sc sebagai ketua komisi pembimbing dan Dr.

Ir. Eny Widajati, M.S sebagai anggota komisi pembimbing, yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penulisan tugas akhir.

2. Badan Litbang Pertanian yang telah memberikan beasiswa Studi Pascasarjana dan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta, yang telah memberikan kesempatan untuk mengikuti pendidikan di Pascasarjana IPB.

3. Rektor IPB dan Pimpinan Sekolah Pasacasarjana IPB, Dekan Fakultas Pertanian IPB, Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura dan Ketua Program dan Pendidikan yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti Studi Program Magister Profesional Perbenihan di IPB.

4. Bapak dan Ibu Dosen pengajar yang telah memberikan ilmu dengan iklas mudah-mudahan bermanfaat untuk menambah bekal ilmu yang dapat kami terapkan di lingkungan kerja selanjutnya.

5. Teman-teman seangkatan Magister Professional Perbenihan tahun 2009 yang telah banyak membantu, memotivasi dan memberikan dorongan untuk selalu semangat.

6. Staf dan karyawan Laboratorium Benih - Leuwikopo IPB.

7. Keluarga tercinta, suamiku Hasto Subagio, anak-anakku Ananda Fitri Karimah, Adinda Lutfiyah Nabila dan si kecil Adelia Putri Salsabila, yang tetap setia dan sabar mendampingi penulis. Juga adikku Erna Wibawati, Endro Sugiantoro, serta kakak-kakakku yang dengan iklas telah banyak memberikan dukungan moril maupun materiil, semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua.

8. Adik-adik alumni Mahasiswi IPB, mbak Ika, mbak Nazla, mbak Tiwi, mbak Popy, Nida di Wisma Nuradi - Babakan Doneng, Darmaga - Bogor, yang banyak memberi dukungan dan semangat.

9. Semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu, semoga Allah SWT memberikan balasan yang setimpal.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Januari 2012 Emi Sugiartini

Penulis dilahirkan di Lawang - Malang, Jawa Timur, pada tanggal 25 April 1967, dari Bapak Soewarso (Alm) dan Ibu Soertina (Almh). Penulis anak ke lima dari tujuh bersaudara.

Penulis menamatkan SMP dan SMA di Lawang. Pada tahun 1990, penulis menamatkan S1, di Fakultas Pertanian Jurusan Agronomi pada Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Surabaya. Penulis mulai bekerja pada bulan Juli 1991 disalah satu perusahaan perkebunan swasta di Batu - Malang. Pada tahun 1994 penulis mengikuti ujian dan diterima sebagai PNS di Sub Balihorti - Malang (sekarang BPTP - Jawa Timur). Tahun 2000 sampai dengan sekarang penulis bertugas di BPTP - DKI Jakarta.

Pada tahun 2009, penulis mendapatkan kesempatan beasiswa dari Badan Litbang Pertanian untuk mengikuti pendidikan Pascasarjana S2 pada Program Studi Magister Profesional Perbenihan, Sekolah Pascasarjana IPB.

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang... .. 1

Tujuan Penelitian ... 3

Hipotesis Penelitian……… 3

TINJAUAN PUSTAKA ... 5

Tanaman Sedap Malam ... 5

Budidaya Tanaman Sedap Malam………. ... 6

Perbanyakan Tanaman Sedap Malam ... 8

Zat Pengatur Tumbuh ... 10

METODOLOGI PENELITIAN ... 13

Waktu dan Tempat Penelitian ... 13

Bahan Penelitian ... 13

Metode Penelitian ... 13

Percobaan 1 ... 13

Percobaan 2 ... 15

Pelaksanaan Penelitian dan Pengamatan ... 17

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 19

Kondisi Umum ... 19

Percobaan 1. Pengaruh Ukuran Umbi dan Teknik Induksi terhadap Kecepatan, Keserempakan dan Jumlah Tunas pada Umbi Tanaman Sedap Malam... 20

Percobaan 2. Pengaruh Teknik Induksi dan Taraf Perlakuan terhadap Kecepatan, Keserempakan dan Jumlah Tunas pada Umbi Tanaman Sedap Malam... 29

KESIMPULAN DAN SARAN ... 39

DAFTAR PUSTAKA ... 41

LAMPIRAN ... 45

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1 Rekapitulasi analisis ragam pengaruh teknik induksi dan ukuran umbi terhadap jumlah tunas samping, panjang tunas samping, persentase umbi bertunas samping, panjang tunas utama…...

2 Pengaruh ukuran umbi dan teknik induksi terhadap jumlah tunas samping (tunas/umbi) pada 0 – 10 MSP .………...

3 Pengaruh interaksi teknik induksi dan ukuran umbi sedap malam terhadap panjang tunas samping (mm) yang diamati pada 0 - 10 MSP………..………

4 Pengaruh ukuran umbi dan teknik induksi terhadap persentase umbi bertunas samping (%) pada 0 – 10 MSP……….

5 Pengaruh interaksi ukuran umbi dan teknik induksi terhadap persentase umbi bertunas samping (%) pada 2, 3, 5, 6 & 8 MSP………..

6 Pengaruh interaksi ukuran umbi dan teknik induksi terhadap panjang tunas utama (%) pada 0 – 10 MSP……….

7 Rekapitulasi hasil analisis ragam pengaruh konsentrasi BAP, GA3 dan lama pengasapan terhadap jumlah tunas samping, panjang tunas samping, persentase umbi bertunas samping dan panjang tunas utama………..………

8 Pengaruh konsentrasi BAP terhadap jumlah tunas samping (tunas/umbi), panjang tunas samping (mm), persentase umbi bertunas samping (%) dan panjang tunas utama (mm) pada 0 - 10 MSP……….

9 Pengaruh konsentrasi GA3 terhadap jumlah tunas samping (tunas/umbi), panjang tunas samping (mm), persentase umbi bertunas samping (%) dan panjang tunas utama (mm) pada 0 - 10 MSP……….………

10 Pengaruh lama pengasapan terhadap jumlah tunas samping (tunas/umbi), panjang tunas samping (mm), persentase umbi bertunas samping (%) dan panjang tunas utama (mm) pada 0 - 10 MSP………...……….

22

23 21

25

26

27

29 7

32

34

37

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1 Umbi sedap malam pada saat dikering-anginkan dan diasap……..

2 Umbi sedap malam yang terserang kutu putih pada 6 MSP..……

3 Umbi sedap malam ukuran sedang dengan BAP konsentrasi 0, , 100, 200 dan 300 ppm pada 2 MSP.………..

14

31 20

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1 Diskripsi tanaman sedap malam var. Dian Arum………..…………

2 Analisis ragam pengaruh tehnik induksi dan ukuran umbi terhadap jumlah tunas samping pada 1 - 10 MSP…………...

3 Analisis ragam pengaruh tehnik induksi dan ukuran umbi terhadap panjang tunas samping pada 1 - 10 MSP…..…….……….

4 Analisis ragam pengaruh tehnik induksi dan ukuran umbi terhadap persentase umbi tunas samping pada 1 - 10 MSP…………..……..

5 Analisis ragam pengaruh tehnik induksi dan ukuran umbi terhadap panjang tunas utama pada 1 - 10 MSP……….………

6 Analisis ragam pengaruh konsentrasi BAP terhadap jumlah tunas samping pada 1 - 10 MSP…………..……..……….………

7 Analisis ragam pengaruh konsentrasi BAP terhadap panjang tunas samping pada 1 - 10 MSP……….………...………

8 Analisis ragam pengaruh konsentrasi BAP terhadap persentase umbi bertunas samping pada 1 - 10 MSP……..………..….

9 Analisis ragam pengaruh konsentrasi BAP terhadap panjang tunas utama pada 1 - 10 MSP……..………..….………

10 Analisis ragam pengaruh konsentrasi GA3 terhadap jumlah tunas samping pada 1 - 10 MSP…………....………..…

11 Analisis ragam pengaruh konsentrasi GA3 terhadap panjang tunas samping pada 1 - 10 MSP……..….………..………

12 Analisis ragam pengaruh konsentrasi GA3 terhadap persentase umbi bertunas samping pada 1 – 10 MSP...……….

13 Analisis ragam pengaruh konsentrasi GA3 terhadap panjang tunas utama pada 1 - 10 MSP………..………..……….…

14 Analisis ragam pengaruh lama pengasapan terhadap jumlah tunas samping pada 1 - 10 MSP……….….………..

45 46

48

50

52

53

54

55

57

58

60

61

63

64

15 Analisis ragam pengaruh lama pengasapan terhadap panjang tunas samping pada 1 - 10 MSP……….………..

16 Analisis ragam pengaruh lama pengasapan terhadap persentase umbi bertunas samping pada 1 - 10 MSP……..………..

17 Analisis ragam pengaruh lama pengasapan terhadap panjang tunas utama pada 1 - 10 MSP…….……….……….

65

67

68

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanaman hias bunga potong merupakan salah satu jenis komoditas agribisnis yang mempunyai masa depan yang cerah bagi perkembangan pertanian di masa mendatang. Salah satu tanaman hias bunga potong yang potensial dikembangkan oleh petani adalah tanaman bunga sedap malam (Polianthes tuberosa L). Bunga sedap malam banyak diminati oleh masyarakat, selain karena aromanya yang harum dan memberikan ketenangan, bunga sedap malam juga mempunyai struktur bunga yang menarik dan mempunyai kesegaran yang lebih lama.

Permintaan bunga potong sedap malam di dalam negeri pada umumnya meningkat pada saat hari-hari besar, baik dari konsumen individu maupun permintaaan hotel dan pusat keramaian. Perkembangan pasar bunga sedap malam belum sebesar komoditas tanaman hias yang lain, akan tetapi sedap malam banyak ditanam di daerah sentra produksi bunga potong, antara lain di Brastagi, Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, Bandungan, Malang dan Pasuruan [BALITHI 2004]. Tanaman sedap malam telah diusahakan oleh petani di 29 propinsi di Indonesia [KEMENTAN 2009]. Jumlah petani dan pengusaha bunga sedap malam di Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah lebih banyak dari pada provinsi lainnya di Indonesia, dengan luas areal pertanaman masing-masing 144 ha, 105 ha dan 27 ha (Effendi & Sutater 1994). Produksi tanaman sedap malam di Indonesia mencapai 12.45% dengan luas panen sebesar 6.40% dari produksi dan luas panen seluruh tanaman hias nasional. Pada tahun 2007 luas panen tanaman sedap malam sekitar 61.4 ha, dengan produksi 21.687.493 tangkai. Pada tahun 2008, luas panen sedikit meningkat menjadi sekitar 69.9 ha dengan produksi 25.598.314 tangkai [KEMENTAN 2009]. Tahun 2009 terjadi peningkatan luas panen menjadi 81.57 ha dengan produksi meningkat hampir 100 persen, yaitu menjadi 51.047.807 tangkai. Peningkatan produksi ini karena terjadi peningkatan produktivitas, pada tahun 2008 produktivitasnya adalah sebesar 6.30

2

tangkai/m2, sedangkan pada tahun 2009 meningkat menjadi 20.62 tangkai/m2 [KEMENTAN 2010].

Tanaman sedap malam umumnya diperbanyak dengan umbi. Umbi sedap malam dengan kualitas tinggi, dapat diperoleh dari tanaman yang telah berumur 2 tahun (Nagar 1995). Sampai saat ini ketersediaan umbi sedap malam seluruhnya dipenuhi dari produksi dalam negeri. Sentra produksi umbi sedap malam adalah di Kabupaten Sukabumi, Cianjur (Jawa Barat) dan Kabupaten Pasuruan - Jawa Timur [Dirjen Hortikultura 2008]. Umbi yang baru dipanen umumnya tidak langsung ditanam oleh petani, tetapi diberi perlakuan pengasapan di atas tungku masak sekitar 1 - 3 bulan, sebagaimana yang dilakukan pada subang gladiol yang menunjukkan bahwa subang gladiol yang disimpan pada tempat perapian lebih banyak bertunas dibandingkan dengan yang disimpan di gudang (Asgar & Sutater 1993). Tujuan pengasapan adalah untuk mempercepat dan menyerempakkan pertunasan pada permukaan umbi sedap malam. Umbi yang siap ditanam adalah umbi yang telah bertunas satu atau lebih (Prahardini & Yuniarti 2002), dengan panjang tunas samping kira-kira 3 - 4 mm.

Pengembangan teknologi untuk mempercepat dan menyerempakkan pertunasan pada umbi sedap malam masih diperlukan sebagai alternatif lain dari perlakuan pengasapan yang memerlukan waktu 1 - 3 bulan. Teknologi lain yang sudah diteliti adalah penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT). Perendaman umbi sedap malam dengan GA3 100 ppm selama 24 jam dapat meningkatkan jumlah tunas samping tetapi tidak meningkatkan persentase umbi bertunas dan panjang tunas utama (Santi et al. 2004).

Beberapa perlakuan yang digunakan untuk pematahan dormansi pada subang utuh gladiol adalah IBA (100 ppm), GA3 (25 ppm) dan NAA (50 ppm) yang dapat mempercepat waktu bertunas lebih 50 hari dibandingkan dengan kontrol. Persentase subang utuh bertunas meningkat sekitar 53% dengan perlakuan IBA (100 ppm), GA3 (25 ppm) dan sekitar 22% dari perlakuan NAA (Herlina et al. 1995). Sampai saat ini belum tersedia teknik untuk mempercepat dan menyerempakkan pertunasan umbi sedap malam yang dapat diaplikasikan di tingkat petani, sehingga penelitian ini dilakukan.

Tujuan Penelitian

1. Mempelajari pengaruh ukuran umbi dan teknik induksi terhadap kecepatan, keserempakan dan jumlah tunas pada umbi tanaman sedap malam.

2. Mempelajari pengaruh perlakuan induksi pertunasan terhadap kecepatan, keserempakan dan jumlah tunas pada umbi tanaman sedap malam.

Hipotesis

1. Umbi sedap malam dengan ukuran besar akan menghasilkan jumlah tunas yang lebih banyak, lebih cepat dan lebih serempak.

2. Terdapat konsentrasi BAP dan GA3 serta lama pengasapan yang dapat mempercepat pertunasan pada umbi sedap malam.

TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman Sedap Malam

Tanaman sedap malam (Poliantes tuberosa L.) adalah salah satu jenis flora introduksi dari Meksiko (Amerika) yang telah menyebar luas dan beradaptasi dengan baik di daerah beriklim tropis. Di Indonesia tanaman ini menunjukkan kemampuan beradaptasi di daerah dataran menengah sampai dataran tinggi.

Kultivar yang sudah dikembangkan di Indonesia ada dua jenis yaitu bunga dengan kelopak tunggal atau semi ganda dan ganda. Kultivar sedap malam berbunga semi ganda yang telah dilepas sebagai varietas unggul nasional berasal dari Pasuruan dengan nama Roro Anteng. Pelepasan varietas ini diajukan oleh BPTP Jawa Timur bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Pasuruan. Bunga sedap malam ini lebih cocok ditanam di dataran rendah dengan ketinggian di bawah 50 m dpl. Sedap malam berbunga ganda asal Cianjur telah dilepas sebagai varietas unggul dengan nama Dian Arum. Pelepasan varietas ini diusulkan oleh Balai Penelitian Tanaman Hias bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Cianjur. Bunga sedap malam ini cocok ditanam di daerah dengan ketinggian di atas 100 - 600 m dpl (Sihombing & Handayati 2008).

Sedap malam tergolong famili bakung-bakungan (Amarillidaceae). Jenis dalam famili ini cukup banyak diantaranya, bakung biru (Agapanthus aprikanus L.), bakung laut (Crinum astatikum), bunga September (Euriclus alba) dan bunga lili (Lilium longiforum). Struktur tanaman sedap malam terdiri atas akar, batang (discus), umbi (batang semu), daun dan tangkai bunga lengkap dengan kuntum bunganya. Sistem perakaran sedap malam menyebar ke segala arah dengan radius kedalaman 40 – 60 cm, akarnya bersifat serabut yang keluar dari batang sebenarnya/discus (Rukmana 1995).

Umbi sedap malam merupakan batang semu yang berubah bentuk dan berfungsi sebagai tempat cadangan makanan. Tiap rumpun tanaman sedap malam terdiri atas beberapa umbi atau satu umbi induk dan juga sekumpulan umbi anakan. Biasanya umbi induk berukuran lebih besar, lapisan umbinya (bulbus) tidak begitu jelas, warna dagingnya putih bersih. Umbi-umbi inilah yang digunakan sebagai bahan perbanyakan secara vegetatif (Rukmana 1995).

Daun tanaman sedap malam bentuknya pipih, panjang dan berwarna hijau mengkilap pada permukaan atas dan hijau muda pada permukaan bawah daun, pada pangkal daun terdapat bintik berwarna kemerah-merahan. Siklus hidup tanaman sedap malam termasuk tanaman semusim atau setahun tetapi dapat tumbuh lebih dari setahun (Rukmana 1995).

Bunga sedap malam termasuk bunga yang cantik dan menarik, warnanya putih bersih, baunya harum, serta dapat membawa ketenangan (Rismunandar 1991). Varietas Roro Anteng mempunyai warna bunga putih dengan ujung kemerahan dengan diameter 3.3 cm, jumlah bunga/tangkai 53 kuntum, aromanya sangat harum dan setiap satu tangkai bunga dapat tetap segar selama 6 - 8 hari (Dirjen Hortikultura 2007).

Bunga sedap malam varietas Dian Arum kuntumnya berwarna putih dengan ujung bunga berwarna merah jambu. Setelah bunga mekar, warna merah jambu menjadi pudar. Susunan bunga terdiri atas sembilan helai mahkota bunga yang membentuk dua lapis lingkaran, lapisan luar berjumlah enam helai dan lapis kedua tiga helai. Ukuran mahkota lapisan luar lebih panjang dari pada mahkota lapisan dalam (Tisnawati 2007). Diameter bunga saat mekar berkisar 2.5 – 5.4 cm. Jumlah bunga pertangkai berkisar 54 - 67 kuntum. Lama kesegaran bunga setelah dipotong, sekitar 4 - 6 hari. Produksi umbi/rumpun/tahun berkisar 19.5 - 22.7 umbi. Ujung umbi bewarna putih sedangkan pangkalnya berwarna coklat.

Diameter umbi berkisar 0.5 sampai 5.1 cm (Plasma Nutfah Indonesia 2008).

Sedap malam termasuk tanaman yang banyak mengandung air atau sukulen (herbaceaus). Selama siklus hidupnya mengalami beberapa fase pertumbuhan. Pada umur 3 - 5 minggu setelah tanam, daunnya mulai tumbuh, kemudian pada umur 16 - 20 minggu, pertumbuhan vegetative telah mencapai maksimal. Umur 24 - 26 minggu, sudah mengeluarkan tangkai bunga. Umbi anakan terbentuk setelah tanaman menghasilkan bunga (Rukmana 1995).

Budidaya Tanaman Sedap Malam

Budidaya tanaman sedap malam dapat dilakukan di lahan sawah, lahan kering atau tegalan dengan pengairan yang cukup. Tanaman sedap malam ditanam pada bedengan dengan lebar 100 cm, tinggi 20 - 30 cm, jarak antar bedengan 30 - 40 cm. Penanaman umbi sedap malam umumnya dilakukan 3

7

bulan sebelum panen. Waktu panen disesuaikan dengan kebutuhan pasar, khususnya untuk menghadapi hari-hari besar keagamaan maupun hari-hari besar nasional. Waktu yang baik untuk penanaman adalah pagi dan sore hari. Sebelum penanaman, lahan perlu diberi pupuk kandang secara merata sebanyak 20 – 30 ton. Umbi ditanam pada setiap lubang tanam 1 - 2 umbi dengan posisi tegak dan tunas menghadap keatas, dengan kedalaman umbi 3 - 6 cm kemudian ditutup dengan lapisan tanah setebal 3.5 cm. Jarak tanam yang digunakan adalah 20 x 20 cm atau 30 x 30 cm, sehingga kebutuhan satu hektar sekitar 3 - 4 ton umbi sedap malam.

Pengairan pada fase awal pertumbuhan dilakukan dengan digenangi secara rutin 2 kali seminggu atau tergantung pada kedaan tanah dan iklim. Pengairan diatur agar tanah tidak kekeringan atau terlalu basah. Pengairan dapat dilakukan dengan cara digenangi atau dengan disiram pada pagi hari atau sore hari.

Penyulaman umbi sedap malam harus dilakukan sedini mungkin, ± umur 30 hari setelah tanam, agar benih tumbuh dengan seragam. Penyulaman dilakukan dengan menanam 1 umbi benih pada bekas lubang tanam.

Pemupukan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara bertahap dan sekaligus. Jenis pupuk yang diberikan adalah campuran Urea 350 kg/ha dan TSP 350 kg/ha atau NPK 700 kg/ha. Pemberian pupuk secara bertahap dilakukan saat tanaman berumur 1 bulan setelah tanam. Pemupukan susulan berikutnya dilakukan setiap bulan. Aplikasi pupuk dilakukan dengan membenamkan ± 5 - 10 cm dari tanaman, kemudian ditutup dengan tanah dan disiram. Aplikasi pupuk dapat juga dilakukan dengan melarutkan pupuk Urea dan TSP masing-masing 5 kg dalam 200 liter air dan disiramkan di antara barisan tanaman sedap malam.

Pemupukan sekaligus, dilakukan dengan menyebar pupuk secara merata pada larikan diantara barisan tanaman sedalam ± 10 cm, kemudian ditutup dengan tanah. (Dirjen Hortikultura 2008).

Saat berbunga tanaman sedap malam tergantung dari ukuran umbi yang ditanam. Umbi besar menghasilkan bunga lebih cepat dari umbi sedang dan umbi kecil (Tejasarwana 2004). Petani memanen bunga yang berasal dari umbi besar saat tanaman berumur 4 - 5 bulan, pada umbi sedang saat tanaman berumur 6 - 8

Saat berbunga tanaman sedap malam tergantung dari ukuran umbi yang ditanam. Umbi besar menghasilkan bunga lebih cepat dari umbi sedang dan umbi kecil (Tejasarwana 2004). Petani memanen bunga yang berasal dari umbi besar saat tanaman berumur 4 - 5 bulan, pada umbi sedang saat tanaman berumur 6 - 8

Dokumen terkait