BAB II SEKULARISASI POLITIK
B. Ulama dan Politik
2. Pengaruh Ulama dalam Politik
Ulama menjadi aktor penting yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Persoalan keterlibatan ulama dalam berpolitik harus dilihat dalam perspektif relasi antara Islam dan politik sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaiamana seharusnya ulama bersikap dalam politik?
Terlepas dari perdebatan konseptual interpretasi terhadap relasi Islam dan politik, sesuatu yang niscaya adalah bahwa seharusnya ulama tetap mengemban misi Amar ma’ruf nahi mungkar. Ulama dalam konteks sosial merupakan sosok panutan yang tidak hanya sarat dan lekat dengan atribut religius tetapi juga yang bernuansa
34 Sayfa Auliya Achidsti, Kiai dan Pembangunan Institusi Sosial, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), h.
politik. Misi amar ma’ruf nahi mungkar tersebut merupakan tugas yang paling utama bagi seorang ulama dalam melakukan transformasi sosial.
Ulama dalam sejarah Islam, memiliki posisi yang penting dalam berjalannya negara. Ulama sebagai satu-satunya yang diyakini mampu menafsirkan ajaran-ajaran Islam dan hukum-hukumnya menjadikan posisinya sangat tinggi. Ulama bukanlah sebuah jabatan tertentu yang diangkat secara resmi, namun jabatan yang disematkan atasnya atas capaian keilmuan yang didapatkannya. Dalam negara Islam masa lalu, ulama menjadi balance of power penyeimbang kekuasaan pemerintah. Keberadaan ulama dalam negara menjadi pengontrol penguasa dalam menjalankan kekuasaannya.
Penguasa dalam negara Islam wajib untuk menjalankan aturan Islam dalam setiap kebijakannya, ulama menjamin supaya penguasa tetap berada dijalan tersebut. Ulama memang tidak memiliki kekuatan untuk menjatuhkan penguasa jika penguasa melenceng dari ajaran Islam, namun posisi ulama sebagai panutan bagi masyarakat dan simbol pengikat bagi masyarakat menjadikan ulama mampu mengubah rezim yang berkuasa dengan cara mempengaruhi ketaatan masyarakat terhadap penguasa melalui fatwa dan ajaran-ajarannya. Fungsi ulama disini menurut Hatina adalah pengendali opini publik dan perwakilan informal bagi masyarakat. Disamping fungsi kontrol terhadap pelaksanaan ajaran penguasa ulama juga memiliki kemampuan sebagai stabilisator dan kekuatan penengah dalam masyarakat termasuk antara penguasa dan rakyat.35
Kyai sebagai elite agama di tingkat apapun, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga tingkat pusat pemerintahan negara terlibat dalam kegiatan politik.
Istilah terlibat menggambarkan bahwa kyai sesungguhnya mungkin tidak aktif dan tidak sengaja ikut mengambil bagian, akan tetapi karena posisinya sebagai pihak yang memiliki pengaruh, maka dilibatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mendapatkan
35 Hasbi Aswar, Pengaruh Ulama dalam Politik di Negara Muslim: Studi Kasus Arab Saudi, Jurnal: Ilmu Sosial Indonesia, Vol.2, No.1, Maret 2015, hal 6
keuntungan politik, sebab kyai sebagai pemimpin memerlukan otoritas dan terlibat dalam peran sosial untuk kepentingan.36
Di kalangan umat Islam, terdapat perbedaan menarik, apakah ulama yang berfungsi sebagai pembimbing sepiritual agama diperbolehkan terjun dalam ranah politik sebagai pemimpin politik? penganut sekularisme berpandangan bahwa urusan politik/negara adalah urusan dunia sehingga tidak boleh dicampur adukkan dengan urusan agama yang bersifat sakral Ilahiyah. Oleh sebab itu, ulama hanya mempunyai tugas sebagai pembimbing sepiritual agama tanpa harus menjadi pemimpin politik.
peranan ini dipraktikkan oleh para ulama pada masa orde baru, dimana ulama jarang yang berkiprah dalam politik praktis sehingga benar-benar concern terhadap perjuangan cultulral dalam membimbing umat. Sebaliknya, penganut yang mendukung keterlibatannya seorang ulama dalam hal umum dan sosial, seperti masuk dalam partai politik praktis agar bisa dapat menduduki kursi pemerintahn, agar mudah dalam mengontrol jalannya sebuah kenegaraan. Mengingat urusan politik merupakan sesuatu yang sudah jelas perintah wajibnya, maka dari itu setiap umat Islam mempunyai kewajiban untuk menegakkan sistem politik Islam seperti yang telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam negara Madinah.
Paling tidak ada tiga alasan mengapa ulama sebagai pemuka (elite) agama terlibat dalam persoalan politik. Pertama, bisa ditelusuri dari sumber ajaran agama Islam sendiri, yang memiliki lingkup tidak hanya pada aspek ritual dan aspek moral, tetapi juga pada nilai-nilai di semua sisi kehidupan, baik dalam ilmu pengetahuan, ekonomi, hukum, sosial, maupun persoalan politik. Kedua, dilihat dari sisi sejarahnya, keterlibatan ulama dalam politik sejak lama terlihat. Paling tidak dimulai sejak zaman kesultanan Mataram II di Jawa. Keterlibatan para ulama dalam politik bangsa ini tidak saja dapat dilihat pada masa perlawanan fisik mengusir penjajah, melainkan juga dalam kegiatan yang berbentuk diplomasi, baik ketika menjelang maupun setelah kemerdekaan diproklamasikan.
36 Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Kyai dan Politik Membaca Citra Politik Kyai, (Malang: UIN Malang Press, 2009), h. 44-45
Bahkan ulama tercatat ikut ambil bagian dalam merintis dan mengembangkan organisasi politik Islam di atanah air seperti Masyumi, MIAI, PSII, dll. Maka wajar kalau banyak ulama dikenal sebagai pejuang, seperti misalnya KH. Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan, yang kemudian keduanya dikenal sebagai perintis organisasi Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Pandangan bahwa peran Politik juga terbentuk oleh faktor sejarah juga diakui oleh M. Dawam Rahardjo. Ia menjelaskan bahwa pada zaman kerajaan Islam di Jawa secara tidak resmi diadakan pemisahan antara urusan negara yang dipegang oleh para sultan dan urusan agama yang dipegang oleh para ulama. Ulama dapat dipahami sebagai pusat kekuatan sosial politik yang perannya tidak bisa diabaikan dalam sejarah republik ini sebagai pahlawan nasional.
Ketiga, posisi ulama sebagai elite agama yang memiliki pengikut (jamaah) dan pengaruh yang kadangkala begitu luas di tengah-tengah masyarakat. Menjadikan mereka terlibat dalam persoalan pengambilan keputusan bersama, kepemimpinan, penyelesaian problem sosial, pengembangan pendidikan dan kemasyarakatan. Lebih jauh dari itu, ulama dalam mengembangkan dakwah atau misinya membutuhkan pengaruh penguasa. Dakwah akan mudah dan berhasil jika didukung atau paling tidak memperoleh izin atau legitimasi dari pihak pemegang kekuasaan. 37
Indonesia sendiri sebagai muslim terbesar di dunia, pengaruh ulama sangat kuat di kalangan masyarakat dari tutur bicara dan prilaku sangat diperhatikan oleh masyarakat itu sendiri. Karena hidup keseharian ulama yang tidak menunjukkan kezuhudan maupun kesederhanaan, akan memunculkan adanya krisis keteladanan, masyarakat kehilangan tokoh panutan. Sampai saat ini masyarakat masih meyakini bahwa ulama merupakan tokoh yang memadai untuk direpresentasikan sebagai individu yang menjadi pewaris Nabi. Ulama mewarisi sifat zuhud Nabi, biasanya akan menjauhi cinta pada hal-hal keduniawian secara berlebihan, sederhana dan tidak terpengaruh persoalan duniawi. Ulama yang bersikap seperti ini mungkin hidup
37 Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Kyai dan Politik Membaca Citra Politik Kyai, h. 2-4
dalam kekurangan materi dan jauh dari kemegahan. Namun ulama ini biasanya memiliki pengaruh yang luar biasa besar. Semua nasihat, bahkan isyaratnya saja akan selalu menjadi rujukan masyarakat dan kemungkinan juga termasuk dalam menentukan pilihan politik. seperti halnya Alm. KH. Syahid, beliau adalah ulama tarekat yang tidak mau aktif dalam politik meskipun sering kali didatangi oleh partai politik untuk dijadikan juru bicara bahkan diberi kedudukan dalam partai politik tertentu. Dapat dipahami ulama diatas tidak mau terlalu aktif dalam perpolitikan yang praktis yang ada, hanya ingin menjadi rujukan untuk masyarakat.38
Ada juga ulama di Indonesia yang aktif atau turut serta dalam perpolitikan yang praktis, namun masyarakat Indonesia memiliki pandangan yang berbeda, membuat pro dan kontra terhadap ulama yang aktif dalam pepolitikan praktis.
MaSayarakat yang pro mengatakan ulama merupakan salah satu sosok yang kuat karna memiliki pengikut yang setia, lalu karena memenuhi tuntutan kebutuhan maSayarakat yang akan haus religiusitas, karena sosok ulama adalah pewaris Nabi jika diberikan kebebasan dalam politik praktis akan lebih mudah dalam berdakwah untuk masyarakat Indonesia lebih luas. Ulama yang pernah aktif dalam politik praktis, salah satunya yakni Alm. KH. Zainuddin MZ, ia pernah menjabat sebagai ketua Partai Bintang Revolusi (PBR) yang sekarang menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Beda halnya masyarakat yang kontra terhadap ulama yang masuk dalam politik praktis. Memandang politik praktis di yakini kotor, penuh kemunafikan dan hanya mencari kepentingan diri sendiri. Maka dari itu banyak hal negatif jika ulama terjun dalam ranah politik praktis dan diyakini dapat mengurangi derajat, membuat pudar kharisma seorang ulama dan menjadikan ulama materialis.39
38 Puji Qomariyah, Respong Masyarakat Terhadap Peran Politik Kiyai, Jurnal: Sosiologi Refelktif, Vol 9, No. 1, Oktober 2014, h. 7
39 Anuri Furqon Hadi, Ulama dalam Pandangan Masyarakat Jakarta: Sebuah Pemaknaan Berdasarkan Ruang, Jurnal: Karsa, Pusat Kajian Representasi Sosial Indonesia, Vol. 20, No.1, 2012, h.
12-13
Dengan ini dapat dipahami, masyarakat Indonesia memiliki ketergantungan terhadap sosok ulama dalam bergama, bersoial dan maupun arah dalam politik. Pro dan kontra juga mewarnai pandangan masyarakat Indonesia terhadap ulama yang memiliki kekuasaan dalam pemerintahan dan masuk dalam partai politik yang praktis ataupun ulama yang seharusnya menjaga kezuhudan, kesederhanaan dan tidak bermewah-mewahan. Meski begitu ulama tetaplah ulama yang harus di hormati, dipatuhi dan dijunjung, karna ulama adalah seorang yang di yakini pewaris Nabi.
33 BAB III
ULAMA BETAWI DI JAKARTA A. Jakarta dan Etnis Betawi
1. Kondisi Geografis Jakarta
Provinsi DKI Jakarta berkedudukan sebagai ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kedudukan ini ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang pemerintahan provinsi daerah khusus ibu kota Jakarta sebagai ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebagai daerah khusus, DKI Jakarta memliki kekhususan tugas, hak, dan kewajiban, serta tanggung jawab tertentu dalam penyelenggaraan pemerintah. Selain itu, provinsi DKI Jakarta juga sebagai tempat kedudukan perwakilan negara asing serta pusat perwakilan lembaga Internasional.
Apabila dilihat dalam peta, letak geografis Provinsi DKI Jakarta berada di bagian Barat Laut Pulau Jawa, posisinya kurang lebih 5°19′ 12″ – 6°23′ 54″ Lintang Selatan (LS) dan 106°22` 42″ – 106°58′ 18″ Bujur Timur (BT). Di antara provinsi-provinsi lain di Indonesia, DKI Jakarta merupakan provinsi-provinsi yang wilayahnya paling sempit.1 Luas daratannya kurang lebh 666,52 km persegi dan luas lautnya kurang lebih 6,977 km persegi. Bila dilihat dari peta di atas, Provinsi DKI Jakarta juga terbagi menjadi 5 bagian wilayah kota administrasi dan 1 kabupaten administrasi serta batas-batasnya yang ditetapkan oleh Peraturan Pemerintahan Nomor 55 Tahun 2010, yakni: Jakarta Pusat dengan luas 47,90 km persegi, Jakarta Utara dengan luas 142,20 km persegi yang berbatasan dengan laut Jawa, Jakarta Timur dengan luas 187,73 km persegi yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat, Jakarta Selatan dengan luas 145,73 km persegi berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat dan Banten, Jakarta Barat dengan luas 126,15 km persegi berbatasan dengan Provinsi Banten, dan Kepulauan Seribu sebagai Kabupaten satu-satunya di provinsi DKI Jakarta dengan luas 11,81 km persegi.2
Berdasarkan batas geografis secara umum dan sejarah, dapat dikatakan bahwa orang Betawi menempati wilayah yang disebut oleh Schoonheyt dengan Batavia en Ommelanden. Menurut Colenbrander, nama Batavia sendiri pada awalnya hanya digunakan untuk menunjuk daerah dimana benteng VOC berdiri, yaitu di Muara sungai Ciliwung. Sementara itu, daerah yang lebih luas hingga ke Banten di Barat dan ke Cirebon di Timur disebut oleh orang-orang VOC dengan Jacatra dan didaku oleh para Direktur VOC (Heeren XVI) sejak tahun 1620 sebagai batas wilayah kekuasaan VOC.
1 http://www.sejarah-negara.com/980/letak-geografis-dki-jakarta/ , diakses pada tanggal 17 Januari 2020
2 https://jakarta.go.id/artikel/konten/55/geografis-jakarta Portal Resmi Provinsi DKI Jakarta, diakses pada tanggal 17 Januari 2020
Semasa masih bernama Sunda Kelapa maupun sesudah bernama Jayakarta, batas-batas geografis kota pelabuhan ini tidak diketahui secara tepat.
Pembumihangusan Jayakarta oleh J.P. Coen telah menghilangkan petunjuk sejarah mengenai batas-batas kota tua ini dan wilayah pemukiman penduduknya. Namun dari sebuah peta lama, dapat diketahui perkembangan Jayakarta hingga tahun 1618, yang diperkirakan terbentang antara daerah Pasar Ikan dengan Glodok sekarang. Menurut rekrontruksi tersebut, kota Jayakarta yang terletak di dekat Muara Ciliwung, diapit sebelah timur oleh sungai dan sebelah Barat.3
2. Budaya Betawi
Pembentukan suatu kominutas etnis secara umum bergantung pada ketersediaan sejumlah faktor yang menjadi sumber pembentukan identitas yang membedakannya dengan komunitas lain. Faktor-faktor tersebut dapat berupa kesamaan geografis, ciri khusus, kesamaan adat istiadat, mitos-mitos, atau asal-usul sejarah yang unik. Dalam prosesnya, pembentukan kelompok etnis itu dapat tumbuh akibat tekanan faktor luar yang mendorong anggotanya mengaksentuasikan kekhasan mereka dan mengembangkan lebih jauh perbedaan itu dengan melibtakan suatu agama, bahasa, mitos, adat atau faktor lainnya.
Sebagai sebuah komunitas etnis, penduduk asli Jakarta yang lazim disebut sebagai orang Betawi lahir melalui proses yang memperlihatkan kecenderungan relatif sejalan dengan pola pembentukan etnis sebagaimana telah diruaikan di atas.
Etnis Betawi yang terbentuk relatif baru, yaitu pada sekitar permulaan abad ke-19, merupakan hasil percampuran antar berbagai unsur suku bangsa, baik yang berasal dari dalam maupun luar wilayah Nusantara. Secara luas telah diketahui bahwa penggunaan istilah Betawi merujuk kepada Batavia, yaitu nama yang digunakan penjajah Belanda untuk kota Jakarta di masa lalu. Di bawah tekanan kekuasaan Belanda yang menempatkan masyarakat non-Barat, terutama pribumi pada lapisan
3 Abdul Aziz, Islam dan Masyarakat Betawi, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 2002), h. 20-21
bawah dari struktur sosial kota Batavia, kelompok etnis Betawi lahir dan berkembang menjadi sebuah komunitas yang memiliki identitas tersendiri. Tekanan kekuasaan itu bukan hanya melalui perlakuan sosial yang tidak adil, melainkan juga penguasaan wilayah dan sumber-sumber penetrasi kebudayaan semakin menguat, terutama setelah Batavia tumbuh menjadi kota metropolis dan ditetapkan sebagai pusat pemerintahan kolonial bagi seluruh wilayah Hindia Belanda. Namun demikian, etnis Betawi tetap tumbuh dan mempertahankan keberadaannya. 4
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa etnis Betawi dikenal sebagai penduduk asli Kota Jakarta. Namum demikian, bila dibandingkan etnis Betawi di Jakarta dengan etnis lainnya di berbagai kota di Indonesia atau pulau Jawa tentu sangat berbeda. Misalnya di Jawa Barat, sebagai penduduk asli etnis Sunda masih terlihat mendominasi, begitu juga dengan etnis Jawa di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Di Jakarta sebagai penduduk asli, etnis Betawi tidaklah dominan baik dari segi jumlah maupun perannya. Wilayah DKI yang ditempati oleh etnis Betawi juga sangat kecil, etnis bermukim secara tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Kerawang, dan Tangerang.
Parsudi Suparlan menyatakan bahwa kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis ini pun belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari mereka lebih sering mengenalkan diri berdasar lokalitas tempat tinggal, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong. Pada sisi yang lain, pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda. Pada tahun 1923, Husni Thamrin tokoh masyarakat Betawi yang mendirikan
“Perkoempulan Kaoem Betawi”, baru waktu pada pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.
Menurut Ridwan Saidi, sesungguhnya nama Betawi dipergunakan sebagai nama suku bangsa, tentunya setelah J.P. Coen (Gubernur Jenderal VOC) menaklukan
4 Abdul Aziz, , Islam dan Masyarakat Betawi , h. 1-2
Kraton Jayakarta (1619) dan memberi nama kota ini Batavia. Secara tertulis sebutan orang Betawi pertama kali terdapat dalam dokumen 1644 berupa testamen Nyai Inqua, janda tuan tanah Souw Beng Kong, Kapiten Tionghoa pertama di Batavia.
Nyai Inqua menyebut seorang pembantunya perempuannya adalah orang Betawi.
Lalu juga di dapatkan istilah “Orang Melayu Jawa”, apakah yang dimaksud adalah orang yang bermukim di Nusa Jawa (Kalapa) yang berbahasa Melayu, orang dan suku bangsa Melayu (Sumatera Timur, Riau, Jambi, Kalimantan Barat) yang tinggal di Nusa Jawa (Kalapa), tampaknya yang benar bahwa sebutan “Orang Melayu Jawa”
itu untuk komunitas penduduk di Jawa (Nusa Kalapa) yang berbahasa Melayu dan kelompok suku bangsa ini kemudian hari disebut sebagai orang Betawi. Sebutan lainnya mengacu pada agama yang dianutnya, dimana mereka dulu disebut sebagai orang Selam, orang Jakerta, orag Melayu Jawa. Selanjutnya, tampaknya sulit untuk mengetahui sebutan lain di luar yakni sudah diuraikan ini.5
Betawi merupakan etnis yang kaya akan keragaman budaya, bahasa, dan kultur. Warna-warni ini membawa aneka persepsi, tafsiran, dan pemahaman tentang Betawi, baik dari segi penduduk asli, kultur, maupun kebudayaan. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa penduduk Betawi itu majemuk. Artinya, mereka berasal dari percampuran darah berbagai suku bangsa dan bangsa asing. Beberapa penelitian tentang masyarakat Betawi mengatakan bahwa kebudayaan Betawi sarat akan pengaruh dari Belanda, Cina, Arab, India, Portugis, dan Sunda. Dikatakan pula bahwa baju pengantin Betawi yang berwarna merah mengadopsi budaya Cina, sedangkan yang hijau mendapat pengaruh Islam (Arab). Sepintas, kata-kata dalam dialek Betawi berkesan dialek Tionghoa, tapi bila diteliti lebih lanjut, maka banyak terdapat bahasa Belanda dan Arab yang diIndonesiakan.6
Sejarah terbentuknya masyarakat Betawi di Jakarta berjalan sangat panjang, sepanjang perjalanan sejarah terbentuknya kota Jakarta. Pada umumnya orang Betawi
5 Heru Erwantoro, Etnis Betawi: Kajian Historis, Jurnal : Paturjala, Vol. 6, No.1, 2014, h. 2-5
6Mita Purbasari, Indahnya Betawi, Jurnal: Humaniora, Vol. 1, No. 1, April 2010, h. 2
sendiri tidak mengetahui mite atau legenda yang menceritakan asal-usul tentang diri mereka. Sejarah asal-usul orang Betawi menarik perhatian para peneliti Van der Aa, Milonne dan L. Castle. Van der Aa melihat munculnya orang Betawi dari segi bahasa, hasil penelitiannya menunjukan bahasa pergaulan pada abad ke-18 adalah dialek Portugis, yang tidak lagi dikenal pada abad ke-19, dan sebagai gantinya timbul semacam bahasa Melayu Betawi. Menurutnya, dalam Nederlands Oost-Indie Jilid II, orang yang menggunakan bahasa inilah ynag kemudian disebut orang Betawi.
Millone dan L. Castle mengemukakan, memiliki titik tolak yang sama dalam mencari asal-usul orang Betawi. Millone dalam disertasinya Queen of the East: The Metamorphosis of a Colonial Capital, mengatakan orang Betawi terbentuk dari beberapa kelompok etnik yang percampurannya dimulai sejak zaman kerajaan Sunda, Pajajaran, dan pengaruh yang dimulai dengan ekspansi kerajaan Demak.
Percampuran etnik tersebut dilanjutkan dengan pengaruh yang masuk setelah abad ke-16, dimana VOC turut mempunyai andil dalam proses terbentuknya identitas orang Betawi.
Wilayah budaya Betawi dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu Betawi Tengah atau Kota dan Betawi Pinggiran. Yang termasuk Betawi Tengah atau Kota meliputi wilayah Gemeente Batavia atau yang dahulu dinamakan keresidenan Batavia (Jakarta Pusat – Urban), kecuali beberapa tempat seperti Tanjung priok dan sekitarnya. Sedangkan daerah di luar kawasan tersebut, baik yang termasuk wilayah DKI Jakarta apalagi daerah di sekitarnya merupakan wilayah Betawi Pinggiran atau sering disebut “Betawi Ora/Udik”.
Timbulnya dua wilayah budaya Betawi disebabkan berbagai hal, antara lain karena perebedaan perkembangan historis, ekonomi, sosiologi, perbedaan kadar dan unsur-unsur etnis yang menjadi cikal bakal penduduk setempat, termasuk kadar budaya asal suku masing-masing yang mempengaruhi kehidupan budaya mereka selanjutnya seperti halnya pendidikan. Di wilayah Betawi Tengah sudah sejak awal abad ke-19 terdapat prasarana pendidikan formal seperti sekolah-sekolah, demikian juga untuk pendidikan keagamaan. Apalagi sejak awal abad ke-20, setelah jajahan
pemerintahan Belanda melaksanakan apa yang disebut politik etis yang penyelenggaraannya banyak ditunjang oleh pemerintahan Gemeente (Kota Praja) Batavia.7
Betawi Tengah mendapat pengaruh kuat kebudayan Melayu (Islam), menganut gaya hidup tempo lama, misalnya perayaan upacara perkawinan, khitanan, tradisi lebaran, dan memegang teguh agama serta adat istiadat (mengaji). Orang Betawi yang tinggal di Jakarta Pusat mengalami tingkat arus urbanisasi dan modernisasi dalam skala paling tinggi, juga mengalami tingkat kawin campuran paling tinggi. Dalam bidang kesenian, mereka menikmati keroncong tugu, musik Gambur, Qasidah, orkes Rebana, dan menggemari cerita bernafaskan Islam seperti cerita Seribu Satu Malam. Mereka memiliki dialek yang disebut dialek Betawi Kota, bervokal akhiran e pada beberapa kata yang dalam bahasa Indonesia berupa a atau ah, misalnya: kenapa menjadi kenape.8
Berbeda dengan penduduk wilayah Betawi Tengah merupakan wilayah Gemeente Batavia pada akhir penjajahan Belanda, sampai masa kemerdekaan Indonesia di wilayah Betawi Pinggiran hampir tidak terdapat prasarana pendidikan formal. Hal ini disebabkan hampir seluruh daerah itu pada zaman yang lalu sampai masa penduduk balatentara Jepang, merupakan tanah partekelir yang dikuasai oleh tuan-tuan tanah. Tuan tanah itu sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap kemajuan penduduk yang menggarap tanahnya. Yang penting bagi mereka hanya masuknya cukai hasil pertanian yang dipungut dari penggarap tanah. Kemajuan penduduk bahkan dianggap ancaman bagi kedudukan dan keuntungan mereka.9
Betawi Pinggiran biasa disebut Betawi udik/ora, terdiri atas dua kelompok:
pertama, kelompok dari bagian Utara dan Barat Jakarta serta Tangerang, yang
7 Yayasan Untuk Indonesia, Ensiklopedi Jakarta Culture & Heritage (Budaya & Warisan Sejarah, (Jakarta: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, 2001), h. Iii – ix
8 Mita Purbasari, Indahnya Betawi, h. 3
9 Yayasan Untuk Indonesia, Ensiklopedi Jakarta Culture & Heritage (Budaya & Warisan Sejarah, h. ix
dipengaruhi ole kebudyaan Cina; kedua, kelompok dari bagian Timur Jakarta, Selatan
dipengaruhi ole kebudyaan Cina; kedua, kelompok dari bagian Timur Jakarta, Selatan