• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

5.3 Pengaruh Faktor Pendorong (Reinforcing Factor) Terhadap Kepatuhan

5.3.2 Pengaruh Variabel Dukungan Komunitas Sebaya Terhadap

Sumber dukungan lainnya yang didapatkan ODHA adalah dari teman, kelompok sebaya maupun tenaga kesehatan. Teman merupakan orang terdekat setelah keluarga yang memberikan dukungan kepada ODHA sebagai sumber dukungan sosial karena dapat memberikan rasa senang dan dukungan selama mengalami suatu permasalahan. Bahkan ada beberapa orang yang pengambilan obat ARV-nya diwakilkan oleh teman mereka. Khususnya untuk ODHA yang pergaulannya sangat baik dengan teman-teman sesama.

Berdasarkan hasil analisis bivarat menunjukkan nilai p=0,114 (p>0,05) artinya yaitu tidak terdapat hubungan antara dukungan komunitas sebaya dengan kepatuhan pasien HIV/AIDS dalam menjalani terapi ARV di RSU Haji Medan dan hasil multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik berganda diperoleh hasil p=0,921 (p>0,05) yang berarti tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel dukungan komunitas sebaya dengan kepatuhan pasien HIV/AIDS di RSU Haji Medan dalam menjalani terapi ARV.

Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa pasien HIV/AIDS di RSU Haji Medan tidak ingin status HIV nya diketahui banyak orang dan merasa tidak membutuhkan dukungan komunitas sebaya dalam menjalani terapi ARV sehingga memilih untuk tidak bergabung dalam komunitas sebaya.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian di Kabupaten Mimika Papua, hampir separuh pasien HIV yang menerima pengobatan ARV di RS Mitra Masyarakat Papua berpendapat tidak memerlukan tenaga pendukung pengobatan berbasis komunitas sebaya. Hal ini dibuktikan dari 25 orang yang mengikuti post test pada penelitian intervensi peningkatan kepatuhan, 11 orang (44%) yang terdiri dari responden laki-laki dan 9 orang responden perempuan mengaku tidak membutuhkan tenaga pendamping pengobatan ARV berbasis komunitas sebaya. Hal ini terjadi karena kekhawatiran responden akan status HIV-nya diketahui orang lain yang tidak tinggal bersama atau berlatar belakang budaya yang berbeda (Ubra, 2012).

5.4 Kepatuhan Responden

Kepatuhan berasal dari kata dasar patuh, yang berarti disiplin dan taat. Kepatuhan pasien didefinisikan sebagai sejauh mana perilaku pasien sesuai

dengan ketentuan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Kepatuhan responden dalam menjalani pengobatan ARV pada tabel 4.11 dapat diketahui bahwa responden memiliki kepatuhan kurang baik yaitu sebanyak 57.1 % dan responden yang memiliki kepatuhan baik sebanyak 42,9%.

Hal ini sejalan dengan penelitian Syafrizal (2011) yaitu adanya hubungan bermakna antara kepatuhan dengan keberhasilan terapi antiretroviral kepada 32 ODHA mengenai hubungan kepatuhan ODHA dengan keberhasilan terapi antiretroviral (ARV) di Lantera Minangkabau Support Padang. Dimana sebagian besar responden patuh dalam menjalankan terapi antiretroviral yaitu 23 orang (71.9%) dengan keberhasilan terapi mencapai 75%.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebanyak (82,9%) responden mematuhi petunjuk/aturan yang diberikan oleh petugas kesehatan, sebanyak (85,7%) responden merasa lebih baik kondisi fisiknya (seperti berat badan naik, dapat beraktivitas dan keluhan menurun). Hal ini mungkin disebabkan oleh keinginan responden yang ingin memacu dirinya untuk sembuh dari penyakit tersebut dan tersedianya obat yang diperlukan pasien, fasilitas yang lumayan lengkap dan petugas kesehatan selalu ada di Rumah Sakit tersebut.

Sebanyak (61,4%) merasa keberatan dengan jadwal aturan konsumsi obat yang dianjurkan, hal ini dikarenakan tuntutan dalam konsumsi obat yang harus tepat waktu sedangkan responden memiliki kesibukan yang lain yang harus dikerjakan. Banyak dari responden yang mengaku bahwa dirinya tidak selalu tepat waktu untuk minum obat terlihat dari hasil penelitian sebanyak (65,7%) responden mengatakan pernah tidak mengonsumsi obat ARV dalam 24 jam terakhir hal ini terjadi karena sebagian besar responden berada di usia produktif

yang melakukan pekerjaan setiap harinya. Dan saat sibuk bekerja mereka lalai untuk mengonsumsi obat mereka.

Responden merasa mengalami kesulitan saat memperoleh obat di Rumah Sakit sebanyak (58,6%) dengan alasan penyebab sehingga responden merasa sulit memperoleh obat dikarenakan tidak bisa meninggalkan pekerjaan sebanyak (61,4%), (20%) responden menjawab karena ketidakpedulian keluarga, dan sebanyak (14,3%) responden menjawab prasangka responden terhadap obat ARV tidak positif, sebanyak (58,6%) responden meminum obat tersebut saat tidak bersama seseorang, hal ini dikarenakan ketakutan dari responden akan status penyakitnya dan takut adanya diskriminasi dari lingkungan sekitar. Hal – hal tersebut diatas yang menyebabkan ketidakpatuhan responden dalam mengonsumsi obat ARV yang nantinya berdampak pada tingkat resistensi virus HIV.

Hal ini sejalan dengan penelitian Wasti, dkk (2012) mengenai factors influencing adherence to antiretroviral treatment in nepal: a mixed-methods study

kepada 300 pasien dimana (85,5%) responden menyatakan bahwa mereka tidak melewatkan dosis dalam empat minggu tetapi 62% responden tidak meminum obat ketika sedang bersama orang lain karena masih adanya stigma dan diskriminasi. Mayoritas responden merasa lebih baik (95,2%) setelah mendapatkan pengobatan antiretroviral.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pasien HIV/AIDS dalam menjalani terapi antiretroviral di RSU Haji Medan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Variabel pengetahuan dan pelayanan konseling kepatuhan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepatuhan pasien HIV/AIDS dalam menjalani terapi ARV di RSU Haji Medan.

2. Variabel persepsi, akses layanan kesehatan, dukungan keluarga dan dukungan komunitas sebaya tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepatuhan pasien HIV/AIDS dalam menjalani terapi ARV di RSU Haji Medan.

3. Variabel pengetahuan merupakan variabel yang paling berpengaruh atau model terbaik dalam menetukan faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pasien HIV/AIDS dalam menjalani terapi antiretroviral di Rumah Sakit Umum Haji Medan.

4. Hasil analisis multivariat dengan menggunakan regresi logistik

menunjukkan bahwa variabel pengetahuan dengan pengetahuan kurang baik memiliki risiko tidak patuh (kepatuhan kurang) 16,144 kali lebih besar dalam menjalani terapi ARV di Rumah Sakit Umum Haji Medan dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan baik.

6.2Saran

Adapun saran yang dapat peneliti berikan berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Penderita HIV/AIDS

Kepada pasien HIV/AIDS agar lebih percaya diri dan semangat dalam menjalani pengobatan sehingga diharapkan untuk terus patuh dan melakukan banyak kegiatan yang positif untuk membantu sesama penderita HIV/AIDS.

b. Kepada Pihak Rumah Sakit

Perlunya penilaian tingkat kepatuhan konsumsi obat ARV di Rumah Sakit agar dapat terlihat gambaran tingkat kepatuhan dari pasien HIV/AIDS dalam menjalani terapi ARV.

Dalam meningkatkan kepatuhan saat menjalani terapi ARV pada pasien yang memiliki pengetahuan kurang baik, disarankan agar lebih ditingkatkan kualitas pelayanan konseling pra ARV kepada pasien HIV agar merubah persepsinya dengan tujuan untuk mengubah perilaku untuk menjadi lebih patuh dalam menjalani pengobatan ARV. c. Keluarga dan Komunitas Sebaya

Perlunya keterlibatan dari keluarga dalam menjalani terapi ARV karena keluarga merupakan bagian inti yang paling dekat dengan penderita HIV/AIDS untuk memantau dan mengawasi pola konsumsi obat ARV, memberikan perhatian penuh berupa materi ataupun perhatian moril untuk bertukar pikiran agar penderita HIV/AIDS tidak

merasa di diskriminasi ataupun di jauhi. Sehingga mereka tetap nyaman dan terus patuh menjalani pengobatan.

Kepada komunitas sebaya agar dapat mengembangkan strategi dukungan yang lebih kuat dimana pendukung sebaya tidak hanya berdasarkan status HIV tetapi juga berdasarkan populasi risiko.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 HIV/AIDS

2.1.1 Definisi HIV/AIDS

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus yang termasuk dalam golongan virus RNA, yaitu virus yang menggunakan RNA sebagai molekul pembawa genetik. Sebagai retrovitus, HIV memiliki sifat khas karena memiliki enzim reverse transcriptase, yaitu enzim yang memungkinkan virus merubah informasi genetiknya yang berada dalam RNA ke dalam bentuk DNA yang kemudian diintegrasikan ke dalam informasi genetik sel limfosit yang di serang. Dengan demikian HIV dapat memanfaatkan mekanisme sel limfosit untuk menggandakan dirinya menjadi virus baru yang memiliki ciri-ciri HIV (Depkes, 2006).

HIV dapat ditemukan dan diisolasikan dari sel limfosit T, limfosit B, sel makrofag (di otak dan di paru) dan berbagai cairan tubuh. Akan tetapi sampai saat ini hanya darah dan air mani yang jelas terbukti sebagai sumber penularan serta ASI yang mampu menularkan HIV dari ibu ke bayinya (Depkes, 2006).

Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebakan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). HIV ditemukan dalam cairan tubuh terutama pada darah, cairan sperma, cairan vagina, dan air susu ibu. Virus tersebut mengakibatkan turunnya atau hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit infeksi (Depkes, 2006).

HIV cenderung menyerang jenis sel tertentu, terutama sekali sel darah putih limfosit T4 yang memegang peranan penting dalam mengatur dan mempertahankan sistem kekebalan tubuh. Selain limfosit T4, HIV dapat juga

menginfeksi sel Langerhans pada kulit, menginfeksi kelenjar limfe, alveoli paru, retina, serviks uteri dan otak. Virus yang masuk Limfosit T4 kemudian mengadakan diri sehingga banyak dan akhirnya menghancurkan sel limfosit itu sendiri.

HIV juga memiliki tat, yaitu salah satu dari sejumlah gen yang dapat mengatur replikasi maupun pertumbuhan sel yang baru. Tat dapat mempercepat replikasi virus sedemikian hebatnya sehingga terjadi penghancuran limfosit T4 secara besar-besaran yang pada akhirnya menyebabkan sistem kekebalan tubuh menjadi turun atau lemah. Penurunan sistem kekebalan tubuh ini menyebabkan timbulnya berbagai infeksi dan keganasan. Kondisi ini disebut AIDS (Pinem, 2009).

2.1.2 Etiologi dan Perjalanan Infeksi HIV/AIDS

AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu

Human T-lymphotropic (HTL II), Lymphadenopathy Associated Virus (LAV),

Rapid Assessment Of Vulnerability (RAV). Yang nama ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang berupa agent viral yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan melalui darah dan punya afinitas yang kuat terhadap limfosit T.

Pada hakikatnya perjalanan alamiah infeksi HIV berlangsung sebagai berikut setelah melalui proses transmisi virus, 2 – 3 minggu kemudian muncul kejadian awal yang timbul setelah terinfeksi HIV disebut sindroma retrovirus akut atau Acute Retrovira Syndrome. Dua-tiga minggu berikutnya disusul perbaikan dan serokonversi, beberapa saat kemudian memasuki fase infeksi kronis asimtomatis (Nasronudin dan Margarita 2007).

Sindrom retroviral akan diikuti oleh penurunan CD4 dan peningkatan kadar RNA-HIV dalam plasma. Hitung CD4 secara perlahan akan menurun dalam waktu beberapa tahun dalam laju penurunan CD4 yang lebih cepat pada 1,5 – 2,5 tahun sebelum pasien jatuh dalam keadaan AIDS. Viral load atau jumlah virus akan meningkat dengan cepat pada awal infeksi dan kemudian turun sampai suatu titik tertentu. Dengan berlanjutnya infeksi, viral load secara perlahan akan meningkat (Depkes, 2006).

Menurut Pinem (2009), perjalanan infeksi HIV dibagi dalam dua fase yaitu :

1. Fase tanpa gejala

Seseorang yang terinfeksi HIV biasanya tidak menunjukkan gejala selama beberapa tahun. Mereka merasa sehat-sehat saja tetapi mereka akan menjadi pembawa dan penular HIV bagi orang lain melalui tindakan dan perilaku berisiko terhadap penularan AIDS. Kelompok yang sudah terinfeksi HIV tanpa gejala ini dibagi menjadi 2 kelompok yaitu : kelompok yang tanpa gejala dan tes darahnya negatif karena anti-bodi terhadap HIV belum terbentuk. Waktu antara masuknya kuman HIV ke dalam peredaran darah dan terbentuknya antibodi terhadap HIV disebut

window period (periode jendela) yang memerlukan waktu 15 hari sampai 3 bulan. Pada umumnya tes HIV baru positif setelah 3 bulan sejak terinfeksi. Pada masa ini virus berkembang secara aktif dengan menurunnya limfosit T4. Kelompok yang sudah terinfeksi HIV tanpa gejala, tetapi tes darah positif. Keadaan tanpa gejala ini dapat berjalan sampai 5 tahun atau lebih, namun dapat berkisar 2-10 tahun sesudah terinfeksi bahkan dapat lebih

lama. Sekitar 89% penderita HIV akan berkembang menjadi AIDS. Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya infeksi HIV menjadi AIDS belum diketahui dengan jelas, tetapi diperkirakan akibat infeksi HIV secara berulang dan pemaparan terhadap infeksi-infeksi lain mempengaruhi perkembangan ke arah AIDS. Tes HIV umumnya baru positif setelah 3 bulan sejak terinfeksi, namun penderita telah dapat menularkan penyakit melalui tindakan dan perilaku berisiko terhadap penularan AIDS.

2. Fase dengan gejala

Pada fase ini gejala penyakit mulai timbul dengan jelas. Gejala yang sering timbul antara lain :

a. Rasa lelah berkepanjangan

b. Demam lebih dari 38 derajat Celcius c. Sesak nafas dan batuk berkepanjangan

d. Diare lebih dari satu bulan tanpa sebab yang jelas e. Keringat malam tanpa sebab yang jelas

f. Berat badan menurun secara drastis g. Kandidiasis pada mulut

h. Pembesaran kelenjar di leher, ketiak, lipatan paha tanpa sebab yang jelas.

Dengan berlalunya waktu, gejala penyakit menjadi semakin berat. Keadaan penyakit tergantung pada kuman yang menyerang tubuh. Penyakit yang sering ditemukan adalah :

a. Radang paru (Pneumonia) yang disebabkan oleh Pneumocystis Carinii Pneumonia (PCP)

b. Tuberculosis (TBC)

c. Infeksi saluran pencernaan oleh berbagai jenis kuman yang menyebabkan infeksi sehingga berat badan menurun

d. Kanker kulit (sarkoma kaposi); kandidiasis pada mulut, paru dan tenggorokan karena infeksi jamur dan infeksi Cyto Megalo Virus

(CMV), Herpes dan Toksoplasma

e. Gangguan susunan saraf yang mengakibatkan gangguan mental dan koordinasi gerakan, serta kerusakan jaringan otak.

Bila sudah masuk ke dalam fase ini biasanya pasien tidak dapat bertahan lagi dan meninggal karena berbagai jenis infeksi. Tetapi bila pasien mendapat pengobatan untuk memperlambat perkembangbiakan virus HIV, pasien biasanya dapat bertahan selama 2-4 tahun.

2.1.3 Penularan HIV/AIDS

Menurut Pinem (2009), Virus HIV hanya dapat ditemukan dalam :

1. Cairan tubuh yaitu dalam darah termasuk darah haid dan darah plasenta pada wanita

2. Air mani/cairan lain yang keluar dari alat kelamin laki-laki, kecuali air seni

3. Cairan vagina dan cairan serviks uteri. HIV dapat ditularkan melalui :

1. Hubungan seksual (homoseksual, biseksual dan heteroseksual). Diperkirakan sekitar 95% penularan terjadi melalui hubungan seksual,

baik melalui vagina, dubur maupun mulut. Pada saat hubungan seks, mungkin terjadi mikrolesi akibat gesekan dan melalui lesi tadi virus yang terdapat dalam cairan tubuh pasangan seks yang mengidap HIV dengan mudah akan ditularkan kepada pasangannya.

2. Parentral

Penularan secara parentral terjadi melalui penggunaan jarum suntik, transfusi darah dan alat-alat tusuk lain seperti alat tindik, pisau cukur, alat tato dan alat khitan yang terinfeksi HIV.

a. Transfusi darah yang tercemar HIV

Risiko tertular HIV melalui darah lebih dari 90%, artinya hampir dapat dipastikan bahwa orang yang mendapat darah yang terkontaminasi HIV akan terinfeksi HIV. Diperkirakan penularan cara ini sekitar 1- 2%. Hal ini dapat terjadi bila pengambilan darah dilakukan tanpa melalui skrining terhadap HIV/AIDS.

b. Penularan melalui jarum suntik atau alat kedokteran yang tidak steril. HIV/AIDS dapat ditularkan melalui jarum suntik bekas pengidap HIV, melalui alat pemeriksaan kandungan seperti spekulum dll, alat pemeriksaan gigi, pisau bedah, alat khitan dan alat lain yang terkontaminasi darah, air mani/cairan vagina pengidap HIV. Sekitar 1% pengidap HIV tertular melalui cara ini.

c. Penularan melalui alat-alat tusuk lainnya.

Pengidap HIV dapat tertular melalui alat tindik/tato, dan pisau cukur yang terkontaminasi HIV/AIDS.

3. Penularan Perinatal

Penularan perinatal adalah penularan dari ibu yang terinfeksi HIV kepada bayi yang dilahirkannya yang dapat terjadi selama kehamilan berkisar sekitar 5-10%, pada saat persalinan sekitar 10-20% dan pada masa nifas (saat menyusui) sekitar 10-20%. Bila ibunya pengidap HIV, dan ibu telah menunjukkan gejala AIDS, kemungkinan bayi yang dilahirkannya tertular HIV menjadi 50%. Pada proses persalinan, penularan HIV dari ibu ke bayi terjadi karena kontak antara darah ibu maupun lendir ibu yang mengandung virus masuk ke dalam darah bayi. Makin lama proses persalinan berlangsung, makin lama kontak antara bayi dengan cairan tubuh ibu, maka semakin tinggi risiko bayi untuk tertular HIV. Penularan HIV melalui ASI kemungkinannya relatif kecil. ASI dari ibu yang terinfeksi HIV terbukti mengandung HIV dalam konsentrasi yang lebih rendah dari yang ditemukan dalam darah. Sekitar 10-20% bayi akan terinfeksi HIV bila disusui sampai 18 bulan atau lebih.

Pada umumnya virus HIV tidak ditularkan melalui kulit, kecuali bila terdapat luka atau lecet pada kulit tersebut. Sedangkan selaput lendir seperti yang terdapat pada vagina, penis, dubur dan mulut mudah dimasuki virus tersebut terutama bila lecet akibat gesekan, maka virus akan masuk ke dalam mukosa yang tipis dan selanjutnya disebarkan ke seluruh tubuh melalui aliran darah (Pinem, 2009).

2.1.4 Diagnosis HIV/AIDS

Pada tahun 2006 WHO telah menetapkan Stadium Klinis HIV/AIDS untuk dewasa maupun anak. Untuk dewasa maupun anak, stadium klinis HIV/AIDS

masing-masing terdiri dari 4stadium. Jika dilihat dari gejala yang terjadi pembagian stadium klinis HIV/AIDS adalah sebagai berikut :

Tabel 2.1 : Klasifikasi infeksi HIV dengan gradasi klinis

Gejala terkait HIV Stadium Kinis

Asimptomatik 1

Gejala ringan 2

Gejala lanjut 3

Gejala berat / sangat lanjut 4

Sumber : Depkes RI, 2006

Manifestasi klinis penderita HIV/AIDS dewasa dibagi menjadi empat stadium, yaitu :

1. HIV Stadium I : Asimtomatis atau terjadi PGl (Persistent Generalized Lymphadenopath) dengan penampilan klinis derajat I : asimtomatis dan aktivitasnormal.

2. HIV Stadium II : Berat badan menurun > 10%, manifestasi mukokutaneus (dermatitis seborreic, infeksi jamur pada kuku, ulserasi pada mulut berlubang), menderita herpes zoster 5 tahun terakhir, infeksi saluran nafas atas berulang (misalnya : sinusitis bakterial) dengan atau penampilan klinis derajat II : simptomatis, aktivitas normal.

3. HIV Stadium III : Berat badan menurun >10%, diare kronis dan demam dengan sebab yang tidak jelas lebih dari 1 bulan, kandidiasis oral, TB paru dalam 1 tahun terakhir dan terinfeksi bakteri berat (pneumonia, piomiositis) dengan penampilan klinis derajat III : berbaring di tempat tidur >50% sehari dalam 1 bulan terakhir.

4. HIV Stadium IV : HIV wasting syndrome, infeksi toksoplasmosis di otak, gejala-gejala infeksi pneumositosis, infeksi herpes simpleks, maupun mukokutaneus >1 bulan, dan infeksi lainnya sebagai komplikasi turunnya sistem imun dengan penampilan klinis derajat IV : berada di tempat tidur, > 50% hari dalam bulan-bulan terakhir (Nasronudin dan Margarita, 2007).

2.2 Komponen Layanan HIV

2.2.1 Layanan Kesehatan Bagi ODHA

Mengacu pada SK Menkes no 832/X/2006, maka strata pelayanan kesehatan bagi ODHA di sarana kesehatan di Indonesia dibagi menjadi 3 strata yaitu :

1) Sarana Layanan Kesehatan Strata III

Sarana layanan kesehatan strata III atau rumah sakit rujukan tertier, merupakan rumah sakit rujukan yang berupa pusat rujukan nasional, regional atau provinsi. Rumah sakit tersebut memiliki klinis yang pakar di bidang tatalaksana HIV-AIDS dan mampu melakukan diagnosis dan terapi yang lebih canggih. Para pakar di rumah sakit rujukan strata III diharapkan juga mampu memberikan konsultasi, pelatihan atau bimbingan klinis bagi tenaga di layanan kesehatan strata II yang pada umumnya berupa rumah sakit di kabupaten/kota. Layanan yang ditawarkan dapat berupa layanan rawat jalan maupun layanan rawat inap.

2) Sarana Layanan Kesehatan Strata II

Sarana layanan kesehatan strata II atau seringkali disebut juga sebagai rumah sakit rujukan sekunder atau tingkat menengah, yang biasanya merupakan rumah sakit kabupaten/kota sebagai Pusat PDP HIV-AIDS Strata II.

3) Sarana Layanan Kesehatan Strata I

Layanan kesehatan strata I merupakan layanan kesehatan dasar yang biasanya diselenggarakan oleh puskesmas dan atau layanan kesehatan berbasis masyarakat. Biasanya terkait dengan perawatan berbasis masyarakat atau perawatan berbasis rumah.

2.2.2 Konseling dan Tes HIV

Konseling dan tes HIV adalah dialog antara klien/pasien dan konselor/tenaga kesehatan dengan tujuan meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan berkaitan dengan tes HIV (Ubra, 2012). Dalam proses konseling dan tes HIV dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu :

1. Konseling dan tes HIV sukarela (KTS - VCT = Voluntary Counseling and Testing / Client Initiated Counseling and Testing = CICT)

Konseling dan tes HIV atas inisiasi klien ini bertujuan untuk :

a. Pencegahan penularan HIV dengan menyediakan informasi tentang perilaku beresiko (seperti seks aman atau penggunaan jarum bersama) dan membantu orang dalam mengembangkan keterampilan pribadi yang diperlakukan untuk perubahan perilaku dan negoisasi praktek lebih aman.

b. Menyediakan dukungan psikologis, sosial, dan spiritual seseorang yang terinfeksi virus HIV atau virus lainnya.

c. Memastikan efektivitas rujukan kesehatan, terapi dan perawatan melalui pemecahan masalah kepatuhan berobat.

2. Tes HIV dan konseling atas inisiatif tenaga kesehatan (KTIP – PITC =

Tes HIV dilakukan oleh tenaga kesehatan ketika pasien datang berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan dan terindikasi terkait infeksi HIV. Inisiasi HIV oleh tenaga kesehatan harus selalu didasarkan atas kepentingan kesehatan dan pengobatan pasien. Untuk itu perlu memberikan informasi yang cukup sehingga pasien mengerti dan mampu mengambil keputusan menjalani tes HIV secara sukarela, bahwa konfidensialitas terjaga terhubung dengan rujukan konseling pasca tes oleh konselor sesuai dengan kebutuhan klien dan menyediakan rujukan konseling ke pelayanan dukungan dan perawatan yang memadai.

Penerapan konseling dan tes atas inisiasi tenaga kesehatan (KTIP) bukan berarti menerapkan tes HIV secara mendatori atau wajib. Kegiatan memberikan anjuran dan pemeriksaan tes HIV perlu disesuaikan dengan prinsip bahwa pasien sudah mendapatkan informasi yang cukup dan menyetujui untuk tes HIV dan semua pihak menjaga kerahasiaan (prinsip

Counseling, Consent, Confidentiality – 3C) dan (Reporting dan Recording

Tabel 2.2 Perbandingan Metode Pendekatan KTIP dan KTS Konseling Tes atas Inisiatif Petugas

Kesehatan (KTIP)

Konseling Tes HIV Sukarela (KTS)

Konselinga dan tes disarankan dan dilakukan oleh tenaga medis sebagai bagian dari pelayanan medis.

Klien yang memilih untuk menjalani konseling dan tes.

Dokumen terkait