BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Landasan Teori
2.2.6. Pengaruh Variabel Informasi Keuangan terhadap Laba
Saham
2.2.6.1. Perubahan Laba Bersih( X1 )
2.2.6.1.1.Pengertian Perubahan Laba Bersih
Menurut Kieso (2005: 153) laba berasal dari transaksi pendapatan,
beban, keuntungan, dan kerugian.
Istilah laba bersih adalah laba operasi setelah pajak penghasilan,
(Hansen dan Mowen, 2006: 278). Laba bersih (net income) untuk
menyatakan laba operasi dikurangi pajak penghasilan (Hansen dan
Mowen , 2006: 275)
Menurut Baridwan (2000:31) laba adalah kenaikan modal (aktiva
bersih) yang berasal dari transaksi sampingan atau transaksi yang terjadi
mempengaruhi badan usaha selama satu periode kecuali yang timbul
pendapatan (revenue) atau investasi oleh pemilik.
Jadi dapat disimpulkan perubahan laba bersih adalah selisih laba
bersih tahun berjalan dikurangi laba bersih tahun sebelumnya.
2.2.6.1.2.Pengaruh perubahan Laba Bersih Terhadap Laba Per Lembar
Saham
Laba Memiliki potensi terhadap pengaruh keputusan investasi,
dimana investor tertarik pada tingkat keuntungan yang didapatkan untuk
masa – masa mendatang berupa deviden atau gain. Investor lebih tertarik
lagi pada perusahaan yang memiliki tingkat keuntungan besar dan
mempunyai tingkat risiko yang cenderung rendah. Informasi laba
menjadi penting bagi investor di pasar modal dapat diketahui melalui
besarnya laba per lembar saham (earnings per share), karena laba per
lembar saham mencerminkan kinerja perusahaan (Parawiyati, JRAI,
2000: 217).
Jumlah lembar saham yang dimaksud disini adalah jumlah lembar
saham biasa. Hal ini berarti pendapatan per lembar saham memberi
ukuran tingkat hasil pengembalian investasi bagi investor. Semakin
tinggi pendapatan per lembar saham yang dihasilkan menunjukkan
adanya kemungkinan akan memperbesar tingkat hasil pengembalian
2.2.6.2. Perubahan Piutang ( X2 ) 2.2.6.2.1.Pengertian Perubahan Piutang
Menurut Baridwan (2000: 124), piutang adalah tagihan yang
timbul dari penjualan barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan.
Dalam kegiatan perusahaan yang normal, biasanya piutang akan dilunasi
dalam jangka waktu kurang dari satu tahun, sehingga dikelompokkan
dalam aktiva lancar.
Menurut Kieso (2005: 386), piutang adalah klaim uang, barang
atau jasa kepada pelanggan atau pihak – pihak lainnya. Untuk tujuan
pelaporan keuangan, piutang diklasifikasikan sebagai piutang lancar
(jangka pendek) atau piutang tidak lancar (jangka panjang).
Banyak perusahaan menjual secara kredit agar dapat menjual lebih
banyak produk atau jasa sehingga ada tenggang waktu sejak penyerahan
barang atau jasa sampai saat diterimanya uang, dalam tenggang waktu
tersebut penjual mempunyai tagihan kepada pembeli, bila perusahaan
membeli secara kredit, harus dihitung piutang yang ditimbulkan yang
merupakan unsur penting dalam aktiva lancar.
Perubahan piutang adalah selisih piutang tahun berjalan dikurangi
piutang tahun sebelumnya.
2.2.6.2.2.Pengaruh Perubahan Piutang Terhadap Laba Per Lembar Saham Piutang dapat berpengaruh terhadap laba, kalau hari rata – rata
penagihan piutang lebih dari 60 hari menunjukkan perusahaan tersebut
semakin besar pula resiko kemungkinan tidak tertagihnya piutang dan
kalau perusahaan tidak membuat cadangan terhadap kemungkinan
kerugian yang timbul karena tidak tertagihnya piutang ( allowance for
bad debt ) berarti perusahaan bukannya mendapat laba, melainkan
kerugian yang didapat. (Munawir, 2002: 76)
Piutang dagang mengalami peningkatan, maka akan dapat timbul
masalah dalam peningkatan kredit, sehigga kemungkinan laba di masa
mendatang menurun, hal ini akibat semakin besarnya kerugian piutang
yang dibebankan.(Parawiyati dkk, 2000: 221).
2.2.6.3. Perubahan Persediaan (X3)
2.2.6.3.1. Pengertian Perubahan Persediaan
Menurut Baridwan (2000: 149), persediaan adalah istilah untuk
menunjukkan barang – barang yang dimiliki oleh suatu perusahaan,
untuk perusahaan dagang yaitu perusahaan yang membeli barang dan
menjualnya kembali tanpa mengadakan perubahan bentuk barang
sedangkan perusahaan manufaktur yaitu membeli bahan dan mengubah
bentuknya untuk kemudian dapat dijual penilaian persedian barang
adalah menentukan nilai persedian yang dicantumkan dalam neraca.
Menurut Munawir (2002: 16), persediaan adalah semua barang –
barang yang diperdagangkan yang sampai tanggal neraca masih
digudang / belum laku dijual, sedangkan untuk perusahaan manufaktur,
maka persediaan yang dimiliki adalah :
2. Persediaan barang dalam proses
3. Persediaan barang jadi
Perubahan piutang adalah selisih piutang tahun berjalan dikurangi
piutang tahun sebelumnya.
2.2.6.3.2.Pengaruh Perubahan Persediaan Terhadap Laba Per Lembar Saham
Persediaan barang baik dalam usaha dagang maupun dalam
perusahaan manufaktur merupakan jumlah yang akan mempengaruhi
neraca maupun laporan laba rugi (Baridwan, 2000: 150), oleh karena itu
persediaan barang yang dimiliki selama satu periode harus dapat
dipisahkan mana yang sudah dapat dibebankan sebagai biaya (harga
pokok penjualan) yang mempengaruhi besarnya laba yang akan
dilaporkan dalam laporan laba rugi dan mana yang belum terjual yang
akan menjadi persediaan dalam neraca.
Apabila terjadi peningkatan atau perubahan persediaan yang tidak
sesuai dengan realisasi dimana apabila persediaan semakin meningkat
tetapi tidak disertai peningkatan penjualan, maka tidak menutup
kemungkinan akan mempengaruhi laba dimasa mendatang. Hal ini dapat
terjadi karena kemungkinan terjadi ketidakseimbangan laba, peningkatan
persediaan dapat menimbulkan keusangan persediaan dimasa
2.2.6.4. Pengaruh Informasi Keuangan (Perubahan Laba Bersih, Perubahan Piutang, Perubahan Persediaan) Terhadap Laba Per Lembar Saham.
Informasi keuangan dalam penelitian ini antara lain : perubahan
laba bersih, perubahan piutang, dan perubahan persediaan. Informasi
keuangan merupakan bagian dalam laporan keuangan, didukung oleh
(Baridwan, 2000: 4) bahwa informasi keuangan dikomunikasikan kepada
pihak diluar perusahaan.
Penelitian Lev dan Thiagarajan seperti yang terdapat dalam
referensi Parawiyati, dkk (2000), telah dilakukan pengujian terhadap
pemicu nilai kunci (key value – drivers) seperti laba, resiko,
pertumbuhan dan posisi persaingan dengan mengasumsikan hubungan
nilai variabelinformasi keuangan atas estimasi laba di masa mendatang.
Laporan keuangan akan memberikan informasi keuangan yang
membantu para pemakai laporan di dalam mengestimasikan potensi
perusahaan dalam pemakai laporan di dalam mengestimasi potensi
perusahaan dalam menghasilkan laba. (Baridwan, 2000: 4)
Munawir (2002: 2) menilai sukses tidaknya manajer dalam
memimpin perusahaanya dan kesuksesan seorang manajer biasanya
dinilai atau diukur dengan laba yang diperoleh perusahaan.
Munawir (2002: 3) untuk para investor analisis laporan keuangan
digunakan untuk menilai keuntungan menilai keuntungan yang akan
datang dan mengetahui jaminan investasinya. Munawir (2002: 5),
untuk memenuhi kewajiban – kewajiban jangka pendek, struktur modal
perusahaan, distribusi daripada aktivanya, keefektifan penggunaan
aktiva, hasil usaha atau pendapatan yang telah dicapai, beban – beban
tetap yang harus dibayar serta nilai – nilai buku tiap lembar saham
perusahaan perusahaan yang bersangkutan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa informasi mengenai perubahan laba
bersih, perubahan piutang, dan perubahan persediaan akan menjadi
indikator di dalam laporan keuangan yang kemudian dapat digunakan
untuk mengestimasi potensi menghasilkan laba.