• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

8. Pengaruh Antar Variabel

a. Pengaruh antara Variabel Investment Opportunity Set terhadap Nilai Perusahaan

Keputusan investasi akan menentukan Investment Opportunity Set

(IOS), yaitu pilihan kesempatan investasi masa depan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan aktiva perusahaan atau proyek yang memiliki net present value positif. Shintawati (2011:6) menyatakan bahwa rasio nilai pasar ekuitas terhadap nilai buku (MVE/BVE) dapat mencerminkan adanya IOS bagi suatu perusahaan. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa IOS yang diproksikan dengan MVE/BVE berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Semakin tinggi angka rasio MVE/BVE semakin tinggi pula nilai perusahaan. Oleh karena itu,

pengungkapan Sustainability Report memiliki peranan penting dalam meningkatkan nilai perusahaan dengan didorong tingginya set kesempatan investasi dalam suatu perusahaan (Gunawan dan Mayangsari, 2015:5).

Investment opportunity set dapat mengimplikasikan nilai aset dan nilai kesempatan perusahaan untuk bertumbuh dimasa akan datang. Perusahaan dengan tingkat investment opportunity set tinggi cenderung akan memiliki prospek pertumbuhan perusahaan yang tinggi dimasa depan. Adanya kesem-patan bertumbuh yang ditandai dengan adanya kesempatan investasi (investment opportunity set) menyebabkan laba perusahaan dimasa depan akan meningkat. Se-hingga pasar akan memberi respon yang lebih besar terhadap perusahaan yang mempunyai kesempatan bertumbuh (inve-stment opportunity set). Tingginya respon pasar terhadap laba akan menyebabkan semakin besar reaksi harga pasar suatu sekuritas. Perusahaan dengan investment opportunity set yang tinggi akan memiliki earnings response coefficients yang tinggi. Dengan demikian semakin tinggi earnings response coefficients maka semakin ber-kualitas laba perusahaan (Wulansari, 2013:11).

b. Pengaruh antara Variabel Kebijakan Deviden terhadap Nilai

Perusahaan

Rasio antara dividen dan laba bersih sering disebut sebagai

dividend payout ratio (DPR). Dengan kebijakan ini perusahaan kurang dapat memperkirakan jumlah pembayaran deviden yang akan dilakukan setiap periode. Jumlah pembayaran deviden dengan persentase tetap dari

EPS akan mempengaruhi posisi harga saham dio pasar. Pada saat laba menurun maka pembayaran deviden juga menurun dan hal ini akan menyebabkan harga saham menurun juga (Astuti, 2004:146). Sepintas, para pemegang saham akan merasa senang apabila bagian dari laba bersih yang dibagikan sebagai dividen ini semakin besar. Akan tetapi, apabila DPR ini semakin besar, berarti laba ditahan semakin menciut. Dengan demikian, keputusan dividen akan mengacu pada suatu kebijakan dividen (dividend policy) yang optimal terutama disesuaikan dengan konsep tujuan memaksimumkan nilai perusahaan. Rodoni dan Ali (2010:125) menyatakan setiap perubahan dalam kebijakan pembayaran dividen akan memiliki dua dampak yang berlawanan yaitu apabila dividen akan dibayarkan semua, maka keputusan cadangan terabaikan dan sebaliknya apabila laba akan ditahan semua kepentingan pemegang saham akan uang kas akan terabaikan.

Rodoni dan Ali (2010:125) mengatakan bahwa kebijakan dividen yang optimal (optimal dividend policy) perusahan adalah kebijakan yang menciptakan keseimbangan di antara dividen saat ini dan pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang yang memaksimalkan nilai perusahaan.

c. Pengaruh antara Variabel Firm Size terhadap Nilai Perusahaan

Suatu perusahaan besar yang sudah mapan akan memiliki akses yang mudah menuju pasar modal, sementara perusahaan yang baru dan yang masih kecil akan mengalami banyak kesulitan untuk memilki akses

ke pasar modal. Karena kemudahan akses ke pasar modal cukup berarti untuk fleksibilitas dan kemampuannya untuk memperoleh dana yang lebih besar, sehingga perusahaan mampu memiliki rasio pembayaran deviden yang lebih tinggi daripada perusahaan kecil.

Size merupakan simbol ukuran suatu perusahaan. Suatu perusahaan yang sudah mapan akan memiliki akses yang mudah menuju pasar modal untuk meningkatkan dana dengan biaya yang lebih rendah, sementara perusahaan yang baru dan yang masih kecil akan mengalami banyak kesulitan untuk memiliki akses ke pasar modal. Size adalah salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat ukuran perusahaan adalah net sales yang dimiliki. Sebuah perusahaan besar akan lebih mudah mengakses ke pasar modal, sedangkan perusahaan kecil lebih sulit untuk mengaksesnya. Kemudahan akses ke pasar modal dapat diartikan adanya fleksibilitas dan kemampuan perusahaan untuk menciptakan hutang atau menarik investor untuk menanamkan modalnya. Dengan adanya dana baru perusahaan dapat membayarkan kewajibanya termasuk juga membayar deviden kepada pemegang saham (Marietta dan Sampurno, 2013:3).

Perusahaan yang besar akan membagikan deviden yang tinggi demi menjaga reputasi di kalangan investor, sedangkan ukuran perusahaan yang kecil akan mengalokasikan laba ke laba ditahan demi menambah asset perusahaan sehingga perusahaan cenderung membagikan deviden yang kecil. Hasil dalam penelitiannya menunjukkan bahwa adanya pengaruh ukuran perusahaan terhadap

d. Pengaruh antara Variabel Return On Equity terhadap Nilai Perusahaan

Profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Intinya bahwa penggunaan rasio ini menunjukkan efisiensi perusahaan (Kasmir dan Jakfar, 2010:115). Jika memiliki profitabilitas yang tinggi, tetapi mempunyai likuiditas yang rendah, perusahaan menghadapi masalah, yaitu dapat dipailitkan karena tidak mampu membayar hutangnya. Maka semakin tinggi profitabilitas perusahaan, maka semakin besar pula tersedianya dana internal untuk investasi, sehingga penggunaan hutang akan lebih kecil. Pada tingkat profitabilitas rendah, perusahaan menggunakan hutang untuk membiayai operasionalnya (Sugiono, 2009:66). Ukuran kinerja finansial memberikan petunjuk apakah strategi perusahaan, implementasi dan pelaksanaannya memberikan kontribusi atau tidak kepada peningkatan laba perusahaan (Kaplan dan Norton, 2000:23).

Salah satu rasio profitabilitas adalah return on equity, ROE menunjukkan sejauh mana perusahaan mampu mengelola modal sendiri secara efektif, mengukur tingkat keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemilik modal sendiri atau memegang saham perusahaan (Sawir, 2004:34). ROE memberikan informasi pada para investor tentang seberapa besar tingkat pengembalian modal dari perusahaan yang berasal dari kinerja perusahaan menghasilkan laba.

Semakin besar nilai ROE maka tingkat pengembalian yang di harapkan investor juga besar. Semakin besar nilai ROE maka perusahaan dianggap semakin menguntungkan. Sehingga perusahaan yang memiliki

profitable investment opportunities, maka pasar akan memberikan reward berupa PER yang tinggi (Sartono, 2001:52).

Dokumen terkait