HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
3. Pengaruh Yuridis Penetapan Perppu
Bagaimana dampak Perppu terhadap ketentuan-ketentuan hukum yang terkait dapat dilihat dari bunyi ketentuan perundang-undangan sebagai berikut :
a. Ketentuan Pasal 22 ayat (2) dan ayat (3) UUD 1945 (naskah asli):
Ayat (1) dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti Undang-Undang Ayat (2) Peraturan Pemerintah itu harus mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidangan yang berikut; kemudian dalam ayat (3), Jika tidak mendapatkan persetujuan, maka Peraturan Pemerintah harus dicabut.
b. Ketentuan Pasal pasal 140 Konstitusi RIS tahun 1949 ayat (1) berbunyi : Peraturan-peraturan yang termaktub dalam undang-undang darurat, segera sesudah ditetapkan,
48
disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat yang merundingkan peraturan itu menurut yang ditentukan tentang merundingkan usul undang-undang pemerintah, ayat (2) Jika suatu peraturan yang menurut ayat yang lalu, waktu dirundingkan sesuai dengan ketentuan-ketentuan bagian ini, ditolak oleh Dewan Perwakilan Rakyat, maka peraturan itu tidak berlaku lagi karena hukum, ayat (3) Jika undang-undang darurat yang menurut ayat yang lalu tidak berlaku lagi, tidak mengatur segala akibat yang timbul dari peraturanya baik yang dapat dibetulkan atau maupun yang tidak, maka undang-undang federal mengadakan tindakan-tindakan yang perlu tentang itu, ayat (4) Jika peraturan yang termaktub dalam undang-undang darurat itu diubah dan ditetapkan sebagai undang-undang federal, maka akibat-akibat perubahannya diatur pula sesuai dengan yang ditetapkan dalam ayat yang lalu. c. Ketentuan Pasal Dalam pasal 97 paragrap (1) “Peraturan-peraturan yang termaktub
dalam undang-undang darurat, sesudah ditetapkan disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat selambat-lambatnya pada sidang berikut yang merundingkan peraturan ini menurut yang ditentukan tentang usul undang-undang Pemerintah”, aragraph (2) “Jika suatu peraturan yang dimaksud dalam ayat yang lalu, waktu dirundingkan sesuai dengan ketentuan-ketentuan bagian ini, ditolak oleh Dewan Perwakilan Rakyat, maka peraturan ini tidak berlaku lagi, karena hukum”, 48aragraph (3) Jika undang-undang darurat yang menurut ayat lalu tidak berlaku lagi, tidak mengatur segala akibat yang timbul dari peraturannya-baik yang dapat dipulihkan maupun yang tidak, maka undang-undang mengadakan tindakan-tindakan yang perlu tentang itu”, 48aragraph (4) “Jika perturan yang termaktub dalam undang-undang darurat ini diubah dan ditetapkan sebagai undang-undang, maka akibat-akibat perubahannya diatur pula sesuai dengan yang ditetapkan dalam ayat yang lalu”.
49
d. Ketentuan Pasal 22 UUD 1945 pasca amandemen dalam pasal 22 ayat (1) menjelaskan dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti Undang-Undang; dalam ayat (2), Peraturan Pemerintah itu harus mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidangan yang berikut; kemudian dalam ayat (3), Jika tidak mendapatkan persetujuan, maka Peraturan Pemerintah harus dicabut.
B. Pembahasan.
1. Kedudukan Perppu.
Memperhatikan materi-materi dari 4(empat) ketentuan hukum dalam hasil penelitian tersebut diatas, di dalamnya telah mengatur tentang keberadaan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) sebagai suatu kaidah atau norma yang merupakan bagian dari hirarki perundang-undangan Indonesia. Walaupun kedudukannya terkadang berada sama dengan Undang-Undang pada sisi lain terkadang berada di bawah Undang-Undang.
Isi muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) uraian dan penjelasannya dapat dilihat di dalam ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
a. Tap. MPRS No. XX/MPRS/1966 Tentang Tertib Hukum dan Tata Urutan Perundang-undangan. Yaitu berbunyi:
Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa. Presiden berhak menetapkan peraturan-peraturan sebagai pengganti Undang-undang.
1. Peraturan Pemerintah itu harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidangan berikutnya.
2. Jika tidak mendapat persetujuan, maka peraturan Pemerintah itu harus dicabut. b. Tap. MPR No. III/MPR/2000 Tentang Tertib Hukum dan Tata Urutan
50
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu), dibuat oleh Presiden dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Perppu harus diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat dalam sidang berikutnya. 2. DPR dapat menerima atau menolak Perppu dengan tidak mengadakan
perubahan.
3. Jika ditolak DPR, Perppu tersebut harus dicabut.
c. Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 Pembentukan Perundang-undangan. Yaitu berbunyi:
Materi muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang, sama dengan muatan Undang-undang
d. Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Perundang-undangan. Yaitu berbunyi :
Materi muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sama dengan materi muatan Undang-Undang.
Begitu juga dengan memperhatikan muatan-muatan dari 4(empat) ketentuan hukum tersebut di atas, di dalamnya telah mengatur tentang muatan-muatan dari Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) sebagai suatu kaidah atau norma yang merupakan bagian dari hirarki perundang-undangan Indonesia. Walaupun muatan-muatannya terkadang dijelaskan sama dengan Undang-Undang pada sisi lain terkadang berbeda dengan Undang-Undang.
Perppu mempunyai kesederajatan dengan undang-undang. Pada dasarnya Perppu adalah sebuah Peraturan Pemerintah yang disederajatkan dengan undang-undang. Pemberian kesederajatan ini, karena materi muatannya semestinya diatur dengan undang-undang. Tetapi karena kegentingan yang memaksa terpaksa dengan Peraturan Pemerintah
51
sebagai pengganti undang-undang.36 Yang membedakan terletak pada pembuatnya dan
tatacara pembuatannya. Serta Perppu hanya dapat ditetapkan dalam hal ikhwal
kegentingan yang memaksa.37
Suatu Perppu harus memenuhi criteria sebagai berikut :38
1. Hanya dikeluarkan dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa (UUD 1945, Pasal 22). Dalam praktek ketatanegaraan yang berlaku sekarang, pemahaman mengenai “hal ikhwal kegentingan yang memaksa” diartikan juga dengan “kepentingan yang mendesak”. Berdasarkan pemahaman luas tersebut, ditemukan pembenaran penetapan penundaan berlakunya undang-undang tentang Pajak Pertambahan Nilai 1984 (Perppu No. 1 Tahun 1984).
2. Perppu tidak boleh mengatur mengenai hal-hal yang diatur dalam UUD 1945 atau Tap MPR
3. Perppu tidak boleh mengatur mengenai keberadaan dan tugas wewenang Lembaga Negara. Tidak boleh ada Perppu yang dapat menunda atau menghapuskan kewenangan Lembaga Negara.
4. Perppu hanya boleh mengatur ketentuan undang-undang yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan.
2. Dasar Pertimbangan Perppu.
Jika dirujukan antara ke 3(tiga) istilah tersebutsebagaimana yang diuraikan dalam hasil penelitian tersebut diatas, maka terdapat sisi-sisi kesamaan dan sisi perbedaaan. Sisi persamaan dapat dilihat dari bagaimana keadaan tersebut berpengaruh terhadap keadaan negara, namun dari sisi perbedaan hanya terdapat pada bobot urgensi penyelesaiannya.
36 Opcit. Bagir Manan Et.All
37 Soehino. Hukum Tata Negara, Teknik Perundang-undangan. Liberty Yogyakarta 1990. Hal 33
52
Selanjutnya yang dapat dijadikan dasar untuk menunjukan keadaan dalam keadaan yang bahaya, genting, memaksa, sebagai mana yang di sampaikan Jimlly Ashidiqy dapat dilihat sebagai berikut :39
1. Terdapat suatu kondisi atau keadaan yang sangat genting, berbahaya;
2. Situasi dimaksud dapat mengancam keselamatan bangsa dan 52aragr jika pemerintah tidak mengambil tindakan konkrit;
3. Keadaan dimaksud membutuhkan penanganan secara cepat. Jadi ada semacam “paksaan”untuk diselesaikan dengan segera;
4. Tidak ada 52aragraph52e sdebagai sarana lain sebagaimana lazimnya dalam kondisi normal yang mampu untuk menyelesaikan keadaan genting dimaksud
5. Dilakukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan hukum dalam masyarakat. Dari ke 5 (lima) ukuran yang menjadi dasar diterbitkannya dekrit ataupun perppu jika relevansikan dengan pertimbangan Dekrit tanggal 5 Juli 1959, Dekrit tanggal 23 Juli 2001 dan dengan Perppu No. 1 Tahun 2014, maka pertimbangan Dekrit tanggal 5 Juli 1959 sangat relevan dengan ke 5(lima) ukuran dimaksud. Hal ini dapat dilihat dalam konsideran Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 sebagai berikut :
Paragrap pertama,
Bahwa anjuran Presiden dari Pemerintah untuk kembali kepada Undang-Undang dasar 1945, yang disampaikan kepada segenap rakyat Indonesia dengan Amanat Presiden pada tanggal 22 April 1959, tidak memperoleh keputusan dari Konstitusnte sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Dasar Sementara
Paragrap kedua,
53
Bahwa berhubung dengan pertanyaan sebagian terbesar anggota-anggota Sidang Pembuat Undang-Undang Dasar untuk tidak menghadiri lagi sidang, Konstituante tidak mungkin lagi menyelesaikan tugas yang dipercayakan oleh rakyat kepadanya.
Paragrap ketiga,
Bahwa hal yang demikian menimbulkan keadaan ketatanegaraan yang membahayakan persatuan dari keselamatan 53aragr, nusa dan bangsa, serta merintangi pembangunan semesta untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur.
Paragrap keempat.
Bahwa dengan dukungan bagian terbesar rakyat Indonesia dan didorong oleh keyakinan kami sendiri, kami terpaksa menempuh satu-satunya jalan untuk menyelamatkan 53aragr proklamasi.
Paragrap kelima.
Bahwa kami berkeyakinan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.
Sementara itu jika melihat dasar pertimbangan Dekrit Presiden tanggal 23 Juli 2001 maupun Perppu Nomor : 1 Tahun 2014 yang telah ditetapkan oleh pemerintah, tidak memiliki kuatan yang didukung oleh aspek-aspek yang kuat (filosofis, politis, sosiologis, ekonomis), sebatas oleh aspek-aspek kepentingan politik. Dekrit Presiden tanggal 23 Juli 2001 pada akhirnya tidak berlaku efektif dan akhirnya secara keseluruhan masyarakat Indonesia tidak mendukung dekrit itu. Kemudian Perppu No, 1 Tahun 2014 saat ini selain menunggu pembahasan oleh DPR, juga saat ini sedang menunggu pengujian materi undang-undang di Mahkamah Konstitusi.
54
Bahkan sampai saat ini masih menjadi perdebatan (pro & kontra) diberbagai sector masyarakat maupun pemerintahan.
3. Pengaruh Yuridis Perppu.
Memperhatikan isi dari ke 4 (empat) ketentuan di atas, di dalam uraian hasil penelitian, penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberlakuan suatu ketentuan yang sedang berlaku. Pengaruh mana dapat dilihat dari berbagai sisi :
a. Pada saat Perppu hanya mengubah beberapa ketentuan/pasal dari suatu Undang-undang. Maka ketentuan-ketentuan pasal dari Undang-undang dimaksud dinyatakan tidak berlaku, sampai dengan adanya pembahasan pada sidang DPR. b. Pada saat Perppu telah mengubah seluruh ketentuan/dari suatu Undang-undang.
Maka seluruh ketentuan-ketentuan dari Undang-undang dimaksud dinyatakan tidak berlaku, sampai dengan adanya pembahasan pada sidang DPR.
c. Pada saat Perppu setelah dibahas pada sidang DPR dan diterima menjadi Undang-undang. Maka ketentuan-ketentuan Undang-undang dimaksud sebagian maupun secara keseluruhan tetap berlaku.
d. Pada saat Perppu setelah dibahas pada sidang DPR dan ditolak menjadi Undang-undang. Maka ketentuan-ketentuan Undang-undang dimaksud sebagian maupun secara keseluruhan menjadi tidak berlaku. Dan ketentuan yang berlaku adalah ketentuan yang lama, sampai ada Undang-undang baru yang dibuat oleh DPR.
55 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) memiliki landasar konstitutional, selain telah memiliki kedudukan sebagai norma yang setara dengan undang-undang sebagaimana yang diatur dalam Tap MPRS No. XX/MPRS/1966, Tap MPR No. III/MPR/2000, Undang No. 10 Tahun 2004 dan Undang-Undang No. 12 Tahun 2011. Termasuk Perppu No. 1 Tahun 2014 walaupun sangat melekat keputusan yang sangat subyektif dengan seorang Presiden.
2. Secara akademik dasar-dasar atau ukuran-ukuran ikhwal kegentingan yang memaksa sebagai dasar diterbitkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) telah dapat dirumuskan. Karena itu dengan memperhatikan rumusan-rumusan akademik dimaksud dan jika dihubungkan dengan rumusan-rumusan konsideran Perpu No. 1 Tahun 2014 tidaklah kuat.
3. Dalam ketentuan Undang-Undang Dasar 1945 maupun Undang-Undang Dasar lainnya, hanya manyebutkan bahwa Perppu yang ditetapkan oleh Presiden harus mendapatkan persetujuan DPR pada sidang berikutnya. Namun demikian tidak disebutkan batas waktu pada yang mana.
B. Saran
1. Kedudukan Perppu walaupun isi dan muatannya sama dengan Undang-Undang, dalam hirarki perundang-undangan ditempatkan di bawah kedudukan Undang-Undang.
56
2. Rumusan akademik tentang dasar-dasar atau ukuran-ukuran hal ikhwal kegentingan yang memaksa, agar dijelaskan dalam Undang-Undang, hal ini dilakukan agar hak subyektif yang melekat kepada seorang presiden tidak disalah gunakan.
3. Harus ditetapkan kepastian waktu dalam persidangan kapan Perppu tersebut dapat disetujui atau ditolak oleh DPR.
57