BAB II : PENGATURAN KONSEP ASAS KEPENTINGAN TERBAIK
D. Pengaturan Hak Anak Dalam Perundangan Nasional
1. Undang-UndangDasar 1945 Hasil Amandemen
Amandemen Undang-Undang Dasar RI 1945 menyatakan secara tegas telah memberikan jaminan bagi kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang anak sebagaimana tercantum dalam pasal 28 B ayat (2) Undang-Undang Dasar RI 1945 yang berbunyi : ” Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Hal ini merupakan jaminan konstitusi yang menjamin perlindungan bagi anak, namun hal tersebut tidak banyak berarti bila tidak ada perhatian dan keinginan yang kuat dari semua pihak (stakeholder) untuk melindungi anak. Sangat jelas pengaruh KHA pada pasal ini, yaitu pada kalimat ”setiap anak berhak atas kelangsungan
hidup, tumbuh dan berkembang” sebagai hak-hak dasar, sedangkan ”perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi” merupakan perlindungan khusus. 59
Peradilan Anak merupakan peradilan khusus, merupakan spesialisasi dan diferensiasinya di bawah peradilan umum. Peradilan anak diatur dalam Undang-Undang No.3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Dalam pasal 2 menentukan bahwa Pengadilan Anak adalah pelaksanaan kekuasaan
2. Undang-Undang No.3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak
Penyimpangan tingkah laku atau perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh anak, disebabkan oleh faktor eksternal antara lain adanya dampak negatif dari perkembangan pembangunan yang cepat, arus globalisasi dibidang komunikasi dan imformasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta perubahan gaya dan cara hidup sebagian orang dewasa/tua telah membawa perubahan sosial yang mendasar dalam kehidupan masyarakat yang sangat berpengaruh terhadap nilai dan prilaku anak.
Selain itu, anak yang kurang atau tidak memperoleh kasih sayang, asuhan, bimbingan dan pembinaan dalam perkembangan sikap, prilaku, penyesuaian diri, serta pengawasan dari orang tua, wali atau orang tua asuh akan mudah terseret dalam arus pergaulan masyarakat dan lingkungan yang kurang sehat dan merugikan perkembangan pribadinya.
Demi pertumbuhan dan perkembangan mental anak, perlu ditentukan perbedaan perlakuan di dalam hukum (perlakuan khusus), baik hukum acara dan ancaman pidananya. Hal ini dimaksud untuk lebih melindungi dan mengayomi anak tersebut agar dapat menyongsong masa depannya yang masih panjang.
kehakiman yang berada dilingkungan peradilan umum. Di Indonesia belum ada tempat bagi suatu Peradilan Anak yang berdiri sendiri sebagai peradilan yang khusus. Peradilan anak bertujuan memberikan yang paling baik bagi anak, tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat dan tegaknya keadilan.60
1. Batas usia anak yang diatur dalam pengadilan anak adalah 8 hingga kurang dari 18. Pelaku tindak pidana anak dibawah usia 8 tahun akan diproses penyidikannya namun dapat diserahkan kembali pada orang tuanya atau bila tidak dapat dibina lagi diserahkan pada departemen sosial.
Bentuk perlindungan yang berkaitan dengan asas kepentinan terbaik baik anak, yang diberikan kepada Anak Berhadapan Hukum (ABH) pada Undang- Undang No.3 Tahun 1997 antara lain :
61
2. Aparat hukum yang menjalankan proses peradilan anak adalah aparat yang mengerti masalah anak terdiri dari penyidik anak, penuntut umum anak, hakim anak, hakim banding anak, dan hakim kasasi anak.
3. Orang tua/ wali dan petugas kemasyarakatan yang berwenang dapat mendampingi anak selama proses pemeriksaan anak dipersidangan.
4. Petugas Pembimbing Kemasyarakatan (BAPAS) adalah petugas yang berwenang untuk memberikan hasil penelitian kemasyarakatan (LITMAS), Dan hakim wajib menjadikan bahan pertimbangan untuk memberikan putusan yang terbaik bagi anak.
60
Maidin Gultom, Op, Cit Hal.75
61
Jika merujuk kepada Putusan Makamah Konstitusi No.1/PPU-VIII/2010 maka usia yang dapat dipidana minimal 12 tahun dan masimal 18 tahun. Dalam amar pertimbangannya Makamah Konstitusi menilai batas umur 12 tahun sebagai ambang batas usia pertanggungjawaban hukum bagi anak dan hal ini juga telah diterima dalam praktek sebagian negara-negara didunia.
5. Penjatuhan pidana penjara pada anak adalah setengah dari ancaman maksimal orang dewasa.
6. Pidana pokok yang dapat dijatuhkan a) pidana penjara b) pidana kurungan, c) pidana denda, d) pidana pengawasan. Sedangkan berupa tindakan yang dapat dijatuhkan ialah a) mengembalikan kepada orang tua, wali atau orang tua asuh, b) Menyerahkan kepada negara, untuk mengikuti pendidikan, pembinaan dan latihan kerja c) Menyerahkan kepada Departmen Sosial.
7. Masa penahanan anak lebih singkat dari masa penahanan orang dewasa. 8. Sidang anak ialah sidang tertutup untuk umum dengan putusan terbuka untuk
umum.
Namun demikian Hadi Supeno berpendapat, tahun 1997 pemerintah mengintroduksi Undang-Undang No.3 tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak yang dengan segala kelemahannya, untuk masanya, undang-undang ini dipandang sebagai bagian dari Perhatian negara terhadap anak.62 Namun Undang-Undang No.3 tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak bertentangan dengan pasal 28B Ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 dan lebih-lebih dengan Undang-Undang Perlindungan Anak .63
Istilah anak nakal dalam UU Pengadilan Anak, istilah anak nakal sangat tidak tepat sebab merugikan anak secara moral karena label anak nakal tidak serta merta hilang walaupun pengadilan membebaskannya dari segala tuduhan.
.
62
Defenisi anak dalam Undang-Undang No.3 Tahun 1997 (Pasal 1 ayat (1) dan (2) ) sejak awal telah mengkriminalisasikan anak64
a) Bertentangan dengan mandat UUD 1945 yang menyatakan bahwa semua warga negara berhak memperoleh pendidikan. Ketika anak- anak berusia 8 tahun, tetapi sudah harus berurusan degan hukum, dia tidak bisa lagi memperoleh hak pendidikan sebagaimana tercantum dalam konstitusi dasar.
Dari tinjauan hak pendidikan dapat disimpulkan bahwa usia pertanggungjawaban hukum seorang anak pada Undang Undang Pengadilan Anak (Pasal 4)
b) Bertentangan dengan Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, karena tidaklah mungkin seorang anak yang berada dalam tahanan atau penjara bisa menikmati pendidikan yang berkualitas.
c) Bertentangan dengan Undang-Undang No.23 Tahun 2002 Tentang perlindungan anak yang mengharuskan agar setiap anak berhak memproleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai minat dan bakatnya. Demikian juga tidak mungkin amanat pasal 50 Undang Undang Perlindungan Anak akan terpenuhi karena usia 8 tahun yang sudah harus berhadapan dengan hukum akan sangat menganggu tumbuh kembang anak. Betapapun baik dan hebatnya sebuah penjara anak, itu tetaplah penjara yang mendegradasi kepribadian seorang anak bahkan menghancurkan sama sekali masa depannya.
d) Bahwa berdasarkan Pasal 4 Beijing Rules, ditentukan bahwa usia anak pertanggungjawaban pidana anak/remaja tidak dapat ditetapkan pada usia terlalu rendah, mengingat kenyataan emosional, mental dan intlektual anak /remaja.65
Disamping itu yang paling mendasar juga bahwa penanganan anak yang berhadapan dengan hukum mekanisme dan hukum acaranya masih diserahkan pada sistem peradilan umum, sebagaimana yang dimaksud pada pasal 2 ”Peradilan Anak adalah pelaksana kekuasaan kehakiman yang berada di lingkungan peradilan umum”. Kebiasaan dari pada peradilan umum adalah
64
Ibid hal. 146
65
menghukum pelaku (retributive justice), sehingga kebiasaan ini juga berpengaruh terhadap penanganan kepada anak, dan berakibat pada putusan terhadap anak adalah hukuman (dipenjarakan), sehingga sudah saatnya ada peradilan yang khusus (terpisah dari peradilan umum) dengan mekanisme dan acaranya menggunakan keadilan restoratif atau diversi.
3. Undang-Undang No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
Manusia dianugerahkan oleh Allah SWT akal budi dan nurani sehingga mampu membedakan yang baik dan yang buruk dengan demikian dapat membimbing dan mengarahkan sikap dan prilaku dalam menjalani kehidupannya. Dengan akal budi dan nurani tersebut pula maka manusia memiliki kebebasan untuk memutuskan sendiri prilaku atau perbuatannya. Disamping itu, untuk mengimbangi kebebasan tersebut manusia memiliki kemampuan untuk bertanggungjawab atas semua tindakan yang dilakukannya.
Kebebasan dasar dan hak-hak tersebut yang disebut hak asasi manusia yang melekat pada manusia secara kodrati sebagai anugrah Allah SWT. Hak-hak ini tidak dapat diingkari. Pengingkaran terhadap hak tersebut berarti mengingkari martabat kemanusiaan. Oleh karena itu, negara, pemerintah, atau organisasi apapun mengemban kewajiban untuk mengakui dan melindungi hak asasi manusia pada setiap manusia tanpa kecuali. Ini berari bahwa hak asasi manusia harus selalu menjadi titik tolak dan tujuan dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan hak-hak yang melekat pada manusia yang mencerminkan martabatnya, yang harus memperoleh jaminan hukum, sebab hak-haknya hanya dapat efektif apabila hak-hak itu dapat dilindungi hukum. Hukum pada dasarnya pencerminan dari HAM, sehingga hukum itu mengandung keadilan atau tidak, ditentukan oleh HAM yang dikandung dan diatur atau dijamin oleh hukum itu.66 Hukum tidak lagi dilihat sebagai refleksi kekuasaan semata-mata, tetapi juga harus memancarkan perlindungan terhadap, hak-hak warga negara.67
Pasal 66 ayat (1) Setiap anak berhak untuk tidak dijadikan sasaran penganiayaan, penyiksaan atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi. Ayat (3) Setiap anak berhak untuk tidak dirampas kebebasannya secara melawan hukum. Ayat (4) Penangkapan, penahanan atau pidana penjara anak hanya boleh dilakukan sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilaksanakan sebagai upaya terakhir. Ayat (6) Setiap anak yang dirampas kebebesannya berhak memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku. Ayat (7) Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk membela diri dan memperoleh keadilan di depan Pengadilan Anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang yang tertutup untuk umum.
Undang Undang No.39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia pada bagian kesepuluh mengatur tentang hak anak mulai Pasal 52 sampai dengan Pasal 66. Pada Pasal 52 ayat (1) Setiap anak berhak atas perlindungan oleh orang tua, keluarga, masyarakat dan negara. Pasal 52 ayat (2) Hak anak adalah hak asasi manusia dan untuk kepentingan hak anak itu diakui dan dilindungi oleh hukum bahkan sejak dalam kandungan.
66
Maidin Gultom, op cit, hal. 7
67
Muladi, Kapita Selekta Sistim Peradilan Pidana, 1995, Badan Penerbit Universitas Dipengoro, hlm.45
4. Undang-Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
Pembentukan undang-undang ini didasarkan pada pertimbangan bahwa perlindungan anak dalam segala aspeknya merupakan bagian dari kegiatan pembangunan nasional khususnya dalam mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara. 68
Undang-Undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UUPA) pada asas dan tujuan, pasal 2 penyelenggaraan perlindungan anak berasaskan Pancasila dan berdasarkan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta prinsip-prinsip dasa Konvensi Hak Hak Anak meliputi :
Oang tua, keluarga dan masyarakat bertanggungjawab untuk menjaga dan memelihara hak asasi tersebut sesuai dengan kewajiban yang dibebankan oleh hukum. Demikian pula dalam rangka penyelenggaraan perlindungan anak, negara dan pemerintah bertanggungjawab menyediakan fasilitas dan aksesibilitas bagi anak, terutama dalam menjamin pertumbuhan dan perkembangan secara optimal dan terarah. Hal ini dilakukan secara terus-menerus demi terlindunginya hak-hak anak.
Rangkaian kegiatan tersebut harus berkelanjutan dan terarah guna menjamin pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik, mental, spritual maupun sosial, untuk mewujudkan kehidupan terbaik bagi anak yang diharapkan sebagai penerus bangsa yang potensial, tangguh, memiliki nasionalisme yang dijiwai oleh akhlak mulia.
68
a. non diskriminasi
b. kepentingan yang terbaik bagi anak
c. hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan dan d. penghargaan terhadap pendapat anak 69
Pasal 64 Ayat (1) Perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan degan hukum merupakan kewajiban dan tanggungjawab pemerintah dan masyarakat, Pasal 16 Ayat (1) Setiap anak berhak memproleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi. Ayat (2). Setiap anak berhak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum. Ayat (3). Penangkapan, penahanan, atau tindak pidana penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir.
Pasal 17 ayat (1). Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk : mendapat perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa.
Pasal 59. Pemerintah dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan bertanggungjawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak yang berhadapan dengan hukum (ABH)
69
Asas perlindungan anak sesuai dengan prinsip-prinsip pokok yang terkadung dalam Konvensi Hak-Hak Anak.Yang dimaksud dengan asas kepentingan yang terbaik bagi anak adalah bahwa dalam semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, badan legislatif, dan badan yudikatif maka kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama.Yang dimaksud dengan asas hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan adalah hak asasi yang paling mendasar bagi anak yang dilindungi oleh negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua.Yang dimaksud dengan asas penghargaan terhadap pendapat anak adalah penghormatan atas hak-hak anak untuk berpartisipasi dan menyatakan pendapatnya dalam pengambilan keptusan terutama jika menyangkut hal-hal yang mempengaruhi kehidupannya.
pada Ayat (2) Perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan melalui :
a. perlakuan atas anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak-hak anak
b. penyediaan petugas pendampingan khusus anak sejak dini. c. Penyediaan sarana dan prasarana khusus
d. Penjatuhan sanksi yang tepat untuk kepentingan terbaik bagi anak.
e. Pemantauan dan pencatatan terus menerus terhadap perkembangan anak yang berhadapan dengan hukum
f. Perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan untuk menghidari labelisasi.
Pasal 67 Ayat (1) Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya napza) sebagaimana dimaksud Pasal 59, dan terlibat dalam produksi dan distribusinya, dilakukan melalui pengawasan, pencegahan, perawatan, dan rehabilitasi oleh pemerintah dan masyarakat.
Identifikasi pasal-pasal anak yang berkomplik dengan hukum tersebut diatas bahwa Undang-Undang Perlindungan Anak dapat dikatakan memenuhi maksud dan tujuan dari KHA dan ketentuan hukum internasional lainnya. Namun demikian UUPA masih mempunyai kelemahan dan bertentangan dengan perlindungan anak itu sendiri, dalam hal anak berkomplik dengan hukum yaitu BAB XII tentang ketentuan Pidana, penggunaan istilah ”setiap orang” sangat
tidak tepat, sehingga jika yang menjadi pelakunya adalah yang tergolong anak (yang belum berumur 18 tahun). Maka ancaman hukuman dan denda yang termuat dalam UUPA tersebut terlalu berat dan sangat bertentangan dengan asas kepentingan terbaik bagi anak (sebaiknya diatur jika anak sebagai pelaku).
Misalnya pada Pasal 81 Ayat (1) Setiap orang yang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas tahun) dan paling singkat 3 (tiga tahun) dan denda paling banyak Rp.300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp.60.000.000.00 (enam puluh juta rupiah). Walaupun Undang Undang No. 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak, Pasal 26 Ayat (1) mengatur ancaman pidana bagi anak nakal adalah ½ (satu per dua) dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa namun ancaman tersebut masih juga terlalu kejam jika anak sebagai pelaku.
Pasal tersebut diatas yang menyebutkan kata setiap orang, termasuk anak (anak remaja) dari data yang ada pada BAPAS Klas I Medan, banyak juga yang menimpa mereka yang sudah mengenal pacaran (menyintai lawan jenis) dengan usia sekitar 15 (lima belas tahun) sampai dengan 18 (delapan belas tahun), mereka saling jatuh cinta, akibat faktor internal, masa puberitas (kebutuhan biologis yang tidak terkendalikan) dan pengaruh faktor eksternal yang terlalu kuat yang
dilakukan oleh orang dewasa yang tidak bertanggungjawab hanya tujuan untuk meraup materi/keuntungan pribadi/perusahaan belaka.70
Demikian juga halnya dengan ketentuan pidana menurut Undang Undang No.35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, juga menggunakan kata setiap orang, dan tidak ada perlakuan khusus bagi anak. Walaupun anak ditemukan sebagai pelaku, dan kalau mau dipahami lebih jauh, sesungguhnya dalam hal ini anak adalah sebagai korban dari orang dewasa yang ingin mencari keuntungan pribadi,
Peredaran gambar dan film porno, film/senetron yang sangat tidak mendidik ditayangkan hampir setiap malam di TV, mulai sinetron anak SD, SMP dan SMA ditayangkan tentang cerita anak remaja pacaran/percintaan remaja, film porno dengan mudah pula diakses/diperoleh diinternet (melalui warnet dan juga Hand Phone/HP), faktor banyaknya peredaran narkoba, sehingga anak remaja mengkonsumsinya, faktor banyaknya tempat-tempat hiburan malam yang membebaskan anak remaja masuk didalamnya dan lain sebagainya, yang pada akhirnya dapat berpengaruh besar terhadap anak remaja dalam perlakuan pelecehan seksual dan lain sebagainya. Dan jika anak tersebut oleh penegak hukum dikenakan pasal tersebut diatas akibatnya anak dihukum/dipenjara dengan waktu yang lama sehingga anak harus pula putus sekolah, setelah anak bebas dari penjara anak sudah malu melanjutkan sekolah karena usianya sudah tidak sesuai lagi (terlalu lama dipenjara).
kelompok kecil atau besar (mafia) yang tidak jarang pula mendapatkan perlindungan dari penegak hukum yang tidak bertanggungjawab.
5.Keputusan Bersama Tentang Penanganan Anak Yang Berhadapan Dengan
Hukum
Terbitnya Surat Keputusan Bersama (SKB) yang di tandatangani oleh Ketua Makamah Agung, Jaksa Agung, Kepala Kepolisian Negara, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Sosial, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada tanggal 22 Desember 2009 tentang Penanganan Anak yang Berhadapan Hukum, tepatnya pada acara puncak Peringatan Hari ibu ke-81, merupakan terobosan hukum yang bersejarah dalam penanganan ABH di Indonesia. Dikeluarkannya SKB ini dilatarbelakangi oleh keinginan pihak-pihak tersebut untuk memperbaiki situasi dan kondisi anak yang berhadapan dengan hukum dengan menggunakan prinsip –prinsip keadilan restoratif yang tidak hanya
legal justice tetapi juga mempertimbangkan social justice dan moral justice. Hal ini dikarenakan hasil kajian dan pemetaan fakta diberbagai Lapas Anak di lapangan menunjukkan situasi dan kondisi ABH sangat memprihatinkan, lebih kurang 90% ABH dijatuhi hukuman pidana penjara.71
71
DS.Dewi dan Fatahillah A,Syukur, Mediasi Penal: Penerapan Restorative Justice di Pengadilan Anak, Indie Publising Jakarta, 2011 hal.45-46
a. Penanganan ABH oleh aparat penegak hukum belum menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam perlindungannya sesuai dengan peraturan perundang undangan.
b. Sehingga perlu adanya kerjasama yang terpadu antara penegak hukum dalam pelaksanaan sistem peradilan pidana terpadu untuk pemenuhan kepentingan terbaik bagi anak
Surat Keputusan Bersama ini lahir mempunyai tujuan, yaitu :
a. Terwujudnya persamaan persepsi di antara jejaring kerja dalam penanganan anak yang berhadapan dengan hukum.
b. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama dalam upaya menjamin perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum.
c. Meningkatnya efektivitas penanganan anak yang berhadapan dengan hukum secara sistimatis, komprehensif, berkesinambungan dan terpadu.
Menteri Hukum dan HAM dorong penerapan keadilan Restoratif, Banyak kasus pidana yang kerap mengusik rasa keadilan selalu menjadi perhatian masyarakat. Salah satunya yang menimpa seorang bocah yang berinisial AAL yang dituduh mencuri sandal seorang anggota polisi.
Sebenarnya pemerintah telah membuat kesepakatan bersama dalam penanganan kasus anak bermasalah hukum (ABH) melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) antara menteri Hukum dan HAM, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Menteri Sosial, Jaksa Agung RI dan Kepolisian RI, serta Makamah Agung tentang penanganan Anak Bermasalah
Hukum. Tujuan keputusan ini adalah terwujudnya persamaan persepsi dalam penanganan anak bermasalah hukum. SKB juga lahir untuk meningkatkan koordinasi dan kerjasama dalam upaya menjamin perlindungan khusus bagi anak bermasalah hukum. Selain itu, SKB juga bertujuan meningkatkan efektifitas penanganan anak yang berhadapan dengan hukum secara sistimatis komprehensif, berkesinambungan dan terpadu.72
6.Peraturan Makamah Agung RI No.02 tahun 2012 Tentang Peyesuaian
Batasan Tindakan Pidana Ringan Dan Jumlah Denda Dalam KUHP
Bab I Tindak Pidana Ringan Pasal 1, Kata kata ”dua ratus lima puluh rupiah” dalam pasal 364, 373, 379, 384, 407 dan pasal 482 KUHP dibaca menjadi Rp.2.500.000 (dua juta lima ratus rupiah).
Banyaknya perkara-perkara pencurian dengan nilai barang yang kecil yang kini diadili di pengadilan cukup mendapatkan sorotan masyarakat. Masyarakat umumnya menilai bahwa sangatlah tidak adil jika perkara tersebut diancam dengan ancaman hukuman 5 (lima) tahun sebagaimana diatur dalam pasal 362 KUHP dan karena tidak sebanding dengan nilai barang dicurinya.
Makamah Agung memahami mengapa Penuntut Umum saat ini mendakwa para terdakwa dalam perkara-perkara tersebut dengan menggunakan Pasal 362 KUHP, oleh karena batasan pencurian ringan yang diatur dalam pasal 364 KUHP saat ini adalah barang atau uang yang nilainya dibawa Rp.250,00 (dua ratus lima puluh rupiah), Nilai tersebut tentunya sudah tidak sesuai dengan saat ini, sudah
72
hampir tidak ada barang yang nilainya dibawah Rp.250.00,- tersebut. Bahwa angka Rp.250.00,- tersebut merupakan angka yang ditetapkan oleh Pemerintah dan DPR pada tahun 1960 melalui Perpu No.16 Tahun 1960 tentang Beberapa Perubahan Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang kemudian disahkan menjadi Undang-Undang melalui UU No.1 Tahun 1961 tentang Pengesahan Semua Undang-Undang Darurat dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Menjadi Undang-Undang.
Bahwa dengan dilakukannya seluruh nilai uang yang ada dalam KUHP baik terhadap pasal-pasal tindak pidana ringan maupun terhadap denda diharapkan kepada seluruh pengadilan untuk memperhatikan implikasi terhadap penyesuaian ini dan sejauh mungkin mensosialisasikan hal ini kepada Kejaksaan Negeri yang ada diwilayahnya agar apabila terdapat perkara-perkara pencurian ringan maupun tindak pidana lainnya tidak lagi mengajukan dakwaan dengan menggunakan pasal 362, 372, 378, 383, 406 maupun 480 KUHP namun pasal-pasal yang sesuai dengan mengacu pada Peraturan Makamah Agung ini. Selain itu jika Pengadilan menemukan terdapat terdakwa tindak pidana ringan yang dikenakan penahanan agar segera membebaskan terdakwa tersebut dari tahanan oleh karena tidak lagi memenuhi sebagaimana diatur dalam pasal 21 KUHAP. Para ketua Pengadilan