• Tidak ada hasil yang ditemukan

DASAR PERLINDUNGAN HAKI

E. Pengaturan HAKI dalam TRIPs

39 Bussines News.Edisi Juni 2000. World Trade Organization. Hlm.7

40 Sudargo Gautama. 1994. Hak Milik Intelektual Indonesia dan Perjanjian Internasional

TRIPs, GATT, Putaran Uruguay. Bandung. Citra Aditya Bakti. Hlm.20

bentuk transnational, diperlukan perangkat hukum untuk meningkatkan dan melindungi kepentingan investasi industri, budaya, dan pasar.

Tahun 1980-an negara-negara yang tergabung dalam GATT/WTO bersepakat tentang aturan main IPR atau HAKI. Lebih-lebih dalam tahun 2002, Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya yang menjadi anggota AFTA, dituntut untuk mempersiapkan perangkat-perangkat aturannya, antara lain tentang masalah peraturan HAKI dan implementasinya.

E.

Pengaturan HAKI dalam TRIPs

Lahirnya persetujuan TRIPs dalam Putaran Uruguay (GATT) pada dasarnya merupakan dampak dari kondisi perdagangan dan ekonomi internasional yang dirasa semakin meluas, yang tidak lagi mengenal batas-batas negara.

Negara yang pertama kali mengemukakan lahirnya TRIPs adalah Amerika, sebagai antisipasi yang menilai bahwa WIPO (World

Intellectual Property Organization) yang bernaung di bawah PBB,

tidak mampu melindungi HAKI mereka di pasar internasional, yang mengakibatkan neraca perdagangan mereka menjadi negatif.

Argumentasi Amerika mengenai kelemahan WIPO adalah sebagai berikut :

1.

WIPO merupakan suatu organisasi yang anggotanya terbatas (tidak banyak), sehingga ketentuan- ketentuannya tidak dapat diberlakukan terhadap non anggota;

2.

WIPO tidak memiliki mekanisme untuk menyelesaikan dan menghukum setiap pelanggaran HAKI. Di samping itu, WIPO dianggap juga tidak mampu mengadaptasi perubahan struktur perdagangan internasionala dan perubahan tingkat invasi teknologi. Sejak tahun 1982 , Amerika berusaha memasukkan permasalahan HAKI ke forum perdagangan GATT. Pemasukan HAKI ini pada mulanya ditentang oleh negara-negara berkembang dengan alasan bahwa pembicaraan HAKI dalam GATT tidaklah tepat (kompeten). GATT merupakan forum perdagangan multilateral, sedangkan HAKI tidak ada kaitannya

dengan perdagangan. Namun, akhirnya mereka bisa menerimanya setelah dengan argumenyasi bahwa kemajuan perdagangan internasional suatu negara bergantung pada kemajuan atau keunggulan teknologi, termasuk perlindungan HAKI- nya.

Dengan masuknya HAKI, GATT yang semula hanya mengatur 12 permasalahan, kini telah ada 15 permasalahan, 3 diantaranya merupakan kelompok New Issues, yaitu TRIPs (Masalah HAKI), TRIMs (masalah investasi), dan Trade is Service (Masalah perdagangan yang berkaitan dengan sektor jasa).

Tujuan dari TRIPs ini sendiri adalah untuk melindungi dan menegakkan hukum hak milik intelektual guna mendorong timbulnya inovasi, pengalihan, penyebaran teknologi, serta diperolehnya manfaat bersama antara pembuat dan pemakai pengetahuan teknologi, dengan cara menciptakan kesejahteraan sosial dan ekonomi serta berkeseimbangan antara hak dan kewajiban (Pasal 7 TRIPs).

Untuk itu perlu dikurangi gangguan dan hambatan dalam perdagangan internasional, dengan mengingat kebutuhan untuk meningkatkan perlindungan yang efektif dan memadai terhadap hak milik intelektual, serta untuk menjamin agar tindakan dan prosedur untuk menegakkan hak milik intelektual tidak kemudian menjadi penghalang bagi perdagangan yang sah.

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang mempunyai kepentingan spesifik untuk berperan serta secara aktif dalam perundingan Putaran Uruguay, untuk mengakomodasi TRIPs dalam perangkat hukum nasional di bidang HAKI. Kepentingan spesifik tersebut adalah :

1.

Pembangunan nasional secara menyeluruh merupakan tujuan utama Pemerintah Indonesia.

2.

Di bidang ekonomi, tujuan pembangunan hanya dapat tercapai bila Indonesia dapat mencapai dan mempertahankan laju pertumbuhan yang cukup tinggi dengan tingkat inflasi yang terkendali.

3.

Dalam upaya untuk mencapai laju pertumbuhan yang cukup tinggi tersebut, sektor luar negeri telah memegang peranan

dengan perdagangan. Namun, akhirnya mereka bisa menerimanya setelah dengan argumenyasi bahwa kemajuan perdagangan internasional suatu negara bergantung pada kemajuan atau keunggulan teknologi, termasuk perlindungan HAKI- nya.

Dengan masuknya HAKI, GATT yang semula hanya mengatur 12 permasalahan, kini telah ada 15 permasalahan, 3 diantaranya merupakan kelompok New Issues, yaitu TRIPs (Masalah HAKI), TRIMs (masalah investasi), dan Trade is Service (Masalah perdagangan yang berkaitan dengan sektor jasa).

Tujuan dari TRIPs ini sendiri adalah untuk melindungi dan menegakkan hukum hak milik intelektual guna mendorong timbulnya inovasi, pengalihan, penyebaran teknologi, serta diperolehnya manfaat bersama antara pembuat dan pemakai pengetahuan teknologi, dengan cara menciptakan kesejahteraan sosial dan ekonomi serta berkeseimbangan antara hak dan kewajiban (Pasal 7 TRIPs).

Untuk itu perlu dikurangi gangguan dan hambatan dalam perdagangan internasional, dengan mengingat kebutuhan untuk meningkatkan perlindungan yang efektif dan memadai terhadap hak milik intelektual, serta untuk menjamin agar tindakan dan prosedur untuk menegakkan hak milik intelektual tidak kemudian menjadi penghalang bagi perdagangan yang sah.

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang mempunyai kepentingan spesifik untuk berperan serta secara aktif dalam perundingan Putaran Uruguay, untuk mengakomodasi TRIPs dalam perangkat hukum nasional di bidang HAKI. Kepentingan spesifik tersebut adalah :

1.

Pembangunan nasional secara menyeluruh merupakan tujuan utama Pemerintah Indonesia.

2.

Di bidang ekonomi, tujuan pembangunan hanya dapat tercapai bila Indonesia dapat mencapai dan mempertahankan laju pertumbuhan yang cukup tinggi dengan tingkat inflasi yang terkendali.

3.

Dalam upaya untuk mencapai laju pertumbuhan yang cukup tinggi tersebut, sektor luar negeri telah memegang peranan

penting. Hal ini akan tetap berlaku pada tahun- tahun mendatang karena pasar dalam negeri dengan tingkat pendapatan nasional perkapita yang relatif masih terlalu rendah, tidak dapat menjadi motor pendorong laju pertumbuhan nasional yang cukup tinggi.

4.

Berbeda pada tahun 1970-an, ketika penghasilan dari sektor migas menjadi andalan dari program pembangunan, sejak tahun 1980-an Indonesia memusatkan perhatian terutama pada sektor nonmigas.

5.

Agar sektor nonmigas dapat terus berkembang dengan pesat maka pemerintah telah mengambil serangkaian langkah deregulasi dan debirokrasi untuk meningkatkan efisiensi dalam bidang perekonomian. Program tersebut akan terus dilakukan karena kepentingan nasional menunjukkan bahwa langkah-langkah tersebut merupakan suatu hal yang strategis dan sangat tepat untuk mencapai tujuan pembangunan jangka panjang yang telah ditentukan oleh pihak Indonesia sendiri.

6.

Di luar negeri, upaya pengamanan ekspor non migas tergantung pada keterbukaan pasar. Untuk mencapai tujuan tersebut, Indonesia bersama negara anggota lainnya berupaya untuk menjaga agar keterbukaan sistem perdagangan internasional yang hingga sekarang masih dapat dipertahankan melalui GATT dapat terjamin.

Bertolak dari kepentingan diatas, Indonesia sesuai dengan tingkat kemampuan di bidang HAKI berupaya membuat standar pengaturan dalam pelaksanaan atau penegakan hukum di bidang HAKI agar mampu mengakomodasi isu TRIPs, melalui tindakan berikut :

1.

Penyesuaian Perangkat Hukum Nasional di Bidang HAKI

2.

Tindak Lanjut ketentuan TRIPs dalam peraturan perundang-undangan Nasional di Bidang HAKI