• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGATURAN HUKUM NASIONAL TERHADAP ILLEGAL FISHING OLEH NELAYAN ASING DI ZONA EKONOMI EKSLUSIF INDONESIA

A. Wilayah perairan laut dan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia sebagai Wilayah Negara

Pengaturan masalah kelautan semakin disadari keperluannya dalam pelayaran internasional, dimaksudkan untuk memberikan kesatuan pandangan dan penafsiran dalam memanfaatkan kepentingan laut. Masalah kelautan ini hampir disetiap negara khususnya bagi negara pantai telah menerbitkan ketentuannya yang bersifat sepihak yaitu dengan menekankan segi kepentingan negara yang bersangkutan.

Menghadapi keadaan diatas, negara lain di luar negara tersebut Sudah barang tentu akan timbul penafsiran masing-masing, bahkan secara khusus perlu perhatian bagi negara yang hendak melintasi laut. Dengan kehadiran hukum laut yang bersifat internasional, maka manfaat yang dapat dirasakan antara lain:

1. Menghilangkan penafsiran masing-masing negara tentang masalah kelautan; 2. Menghilangkan bentuk-bentuk peraturan yang semata-mata untuk

kepentingan negara tertentu;

3. Timbulnya keseragaman dalam peraturan masalah kelautan dengan pedoman pada hukum internasional yang berlaku secara umum;

4. Bagi negara pemakai fasilitas lautan dapat berpegang pada pedoman hukum internasional yang ada; dan

5. Timbul hak-hak dan kewajiban-kewajiban baru.

Manfaat ini semakin dirasakan bagi negara pemakai manfaat fasilitas lautan apabila setiap negara pemakai telah menerapkan konvensi PBB tersebut dalam praktik ketatanegaraannya, yaitu melalui ratifikasinya. Di Indonesia hukum laut telah diratifikasi melalui UU Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Convention On The Law Of The Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut).

Sebagaimana tertuang dalam UU No. 17 Tahun 1985 bahwa Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut ditinjau dari isinya dapat dirincikan sebagai berikut:39

1. Sebagian merupakan kodifikasi ketentuan-ketentuan hukum di laut lepas dan hak lintas damai laut internasional;

2. Sebagian merupakan pengembangan hukum laut yang sudah ada, misalnya ketentuan mengenai lebar laut teritorial menjadi maksimum 12 mil laut dengan kriteria landas kontinen; dan

3. Sebagian merupakan rejim-rejim hukum baru, seperti asas Negara Kepulauan, Zona Ekonomi Eksklusif dan penambangan di dasar laut internasional.

Konvensi ini digunakan sebagai landasan bagi setiap negara pantai dalam mengatur kelautannya. Dan konvensi ini mengikat bagi negara pantai maupun negara yang memanfaatkan fasilitas pantai.

Bagi Indonesia dengan konvensi tersebut merupakan pengakuan sah secara internasional sebagai negara kepulauan, yang dimaksud negara kepulauan

39

menurut konvensi ini adalah suatu negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau lebih gugusan kepulauan dan dapat mencakup pulau-pulau lain.

Dengan kepulauan dapat menarik garis dasar/ pangkal lurus kepulauan yang menghubungkan titik-titik terluar pulau-pulau dan karang kering terluar kepulauan ini, dengan ketentuan bahwa:40

1. Di dalam garis dasar/ pangkal demikian termasuk pulau-pulau utama dan suatu daerah daratan di mana perbandingan antara daerah perairan dan daerah daratan, termasuk atol adalah antara satu banding satu (1:1) dan sembilan berbanding satu (9:1).

2. Panjang garis dasar/ pangkal demikian tidak boleh melebihi 100 mil laut, kecuali hingga 3% dari jumlah garis dasar/ pangkal yang mengelilingi setiap kepulauan dapat melebihi kepanjangan tersebut, hingga pada suatu kepanjangan maksimum 125 mil laut.

3. Penarikan garis dasar/ pangkal demikian tidak boleh menyimpang dari konfigurasi umum negara kepulauan.

Negara kepulauan berkewajiban menetapkan garis-garis dasar/ pangkal kepulauan pada peta dengan skala yang dapat menggambarkan posisinya, dan salinannya dikirim pada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Secara material konvensi hukum laut tahun 1982 dengan konvensi sebelumnya di Jenewa tahun 1958 ada beberapa perbedaan:

Pertama: tentang Landas Kontinen

40

Dimana pada Konvensi Hukum Laut di Jenewa tahun 1958 dalam penentuan Landas Kontinen adalah kedalaman air 200 M atau kemampuan dalam melakukan ekplorasi, sedang pada Konvensi Hukum Laut tahun 1982 dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:41

1. Jarak 200 (dua ratus) mil laut, jika tepian luar kontinen tidak mencapai jarak 200 mil laut.

2. Kelanjutan alamiah wilayah daratan di bawah laut hingga tepian luar kontinen yang lebarnya tidak boleh melebihi 350 (tiga ratus lima puluh) mil laut, diukur dari garis laut teritorial jika diluar 200 (dua ratus) mil laut masih terdapat daerah dasar laut yang merupakan kelanjutan alamiah dari wilayah daratan. Dan jika memenuhi kriteria kedalaman sendimentasi yang ditetapkan dalam konvensi.

3. Tidak boleh melebihi 100 (seratus) mil laut dari garis kedalaman (isobat) 2500 (dua ribu lima ratus) meter atau dengan kata lain, kelanjutan alamiah wilayah daratan suatu negara hingga pinggiran laut tepian kontinennya (natural prolorgation of its land territory of the odge of the continenal margin) atau jarak 200 (dua ratus) mil laut dihitung dari garis dasar untuk mengukur laut teritorial, jika pinggiran luar tepian kontinen tidak mencapai jarak 200 (dua ratus) mil laut.42

Kedua, tentang Laut Teritorial

Dalam Konvensi Hukum Laut tahun 1958 dan tahun 1960 tidak dapat memecahkan persoalan lebar Laut Teritorial yang dapat digunakan sebagai

41

Ibid, hal 60. 42

patokan secara umum karena tidak ada keseragaman tentang penentuan lebar Laut Teritorial dan masing-masing negara memperhatikan kepentingannya sendiri, sedang dalam Konvensi Hukum Laut Tahun 1982 ditentukan lebar laut teritorial maksimum 12 mil laut dan untuk Zona Tambahan maksimum 24 mil laut yang diukur dari garis dasar Laut Teritorial.

Ketiga, tentang Laut Lepas

Dalam Konvensi Jenewa Tahun 1958 wilayah Laut Lepas dimulai dari batas terluar Laut Teritorial, sedangkan dalam Konvensi tahun 1982 bahwa Laut Lepas tidak mencakup Zona Ekonomi Eksklusif, Laut Teritorial Perairan Pedalaman dan Perairan Kepulauan. Dalam konvensi tahun 1958 masalah akses negara tanpa pantai diatur dalam satu pasal, sedangkan dalam Konvensi tahun 1982 diatur lebih rinci dalam satu bab tersendiri.

Dengan adanya Konvensi Hukum Laut III Tahun 1982 selain mempunyai dampak positif terutama bagi negara-negara yang memperoleh kepentingan dari konvensi tersebut, juga mempunyai dampak negatif bagi negara yang berunding dengan konvensi tersebut, terutama untuk negara-negara yang tidak berpantai. Mengingat konvensi ini bersifat internasional, keberadaan maupun berlakuya telah menjadi kesepakatan oleh negara-negara yang hadir pada konvensi itu, maka segala konsekuensi yang timbul dengan segala dampaknya menjadi tanggung jawab bersama.

Selat yang merupakan bagian dari laut lepas yang berfungsi sebagai jalur pelayaran internasional, dalam perkembangannya setelah konvensi tersebut merupakan bagian dari Laut Teritorial masih terjamin fungsinya sebagai jalur

pelayaran internasional. Dan bagi negara selat tersebut berhak membuat ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan lalu lintas melalui selat tersebut, dengan tetap memperhatikan ketentuan konvensi, yaitu:43

1. Keselamatan pelayaran dan pengaturan lintas laut;

2. Pencegahan, pengurangan dan pengendalian pencemaran;

3. Pencegahan penangkapan ikan, termasuk penyimpanan alat penangkapan ikan dalam palka; dan

4. Memuat atau membongkar losmudite, maka uang atau orang-orang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan bea cukai, fiskal, imigrasi dan kesehatan.

Pengaturan yang ada berupa batasan-batasan untuk tetap menjaga keseimbangan laut dari segi fungsi maupun kondisinya. Fasilitas pelayaran internasional tetap ada sebagaimana Laut Lepas, namun tetap terkendali sepanjang masih berada pada kepentingan bersama.

B. Permasalahan Hukum Kasus Illegal Fishing di Indonesia (Perbuatan Illegal Fishing Oleh NelayanAsing)

Suatu keadaan yang dimungkinkan terjadi dalam menentukan batas Zona Ekonomi Ekslusif antara negara Indonesia dengan negara lain bertetangga, pantai satu dan lainnya berhdap hadapan serta berbatasan, maka dalam penentuan batasnya dilakukan dengan melalui pembicaraan/perundingan. Selama persetujuan dimaksud belum/tidak dilakukan ataupun tidak terdapat keadaan khusus yang perlu diperhatikan/ dipertimbangkan seperti misalnya dalam penjelasan Pasal 3

43

UU No.5/1983, terdapat pulau dari negara lain yang terletak dalam jarak kurang dari 200 mil laut dari garis pangkal untuk menetapkan lebarnya ZEE Indonesia, batas tersebut ditentukan dengan menarik garis tengah antara wilayah Indonesia yang merupakan daerah terluar dengan teritorial laut atau daratan terluar sesuai dengan ketentuan yang berlaku di negara yang bersangkutan.

Namun tidak menutup kemungkinan sebelum dilakukan perjanjian yang berisi tentang pengaturan seperti yang dimaksud dapat pula dilakukan perjanjian yang berisi tentang pengaturan sementara, sehingga masih diperlukan pembicaraan lebih lanjut untuk menetapkan yang final. Adanya pembicaraan yang selaras dalam menyelesaikan masalah kelautan akan mencegah timpangnya kewenangan dalam suatu areal dengan objek yang sama terutama setelah hadirnya konvensi hukum laut bagi masyarakat luas pada umumnya dan negara pantai pada khususnya.

Bagi negara pantai dengan konvensi hukum laut ketiga cenderung memperluas wilayah lautnya baik wilayah Laut Teritorial dalam batas yang telah ditentukan (maksimal 12 mil laut) atau hanya wilayah ekonomi ekslusif dengan segala konsekuensi yang melekat. Dan bagi negara pantai bahwa dengan perubahan wilayah laut khususnya wilayah ekonomi akan membawa dampak tersendiri.44

Dengan memperhatikan keadaan tersebut diatas pada Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia mempunyai dan melaksanakan:

44

1. Hak berdaulat untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi pengelolaan dan berupaya untuk melindungi, melestarikan sumber daya alam yaitu menjaga dan memelihara keutuhan ekosistem laut. Hak berdaulat dalam hal ini tidak sama dengan kedaulatan penuh yang dimiliki dan dilaksanakan atas laut wilayah maupun perairan pedalaman.

2. Hak untuk melaksanakan penegakan hukum dilakukan oleh aparat yang menangani secara langsung, dalam upaya untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan perdamaian. Mengingat adanya hak berdaulat yang melekat seperti tersebut dalam poin 1 diatas, maka sanksi-sanksi yang diancamkan diperairan yang berada dibawah kedaulatan penuh negara.

3. Hak untuk melaksanakan hot persuit (pengejaran seketika) terhadap kapal-kapal asing yang melakukan pelanggaran atas ketentuan-ketentuan ZEEI. 4. Hak ekslusif untuk membangun, mengizinkan dan mengatur pembangunan,

pengoperasian dan penggunaan pulau-pulau buatan, instalasi-instalasi dan bangunan-bangunannya. Disamping itu, mempunyai yurisdiksi, namun tidak berakibat atas batas Laut Teritorial.

5. Hak untuk menentukan kegiatan-kegiatan ilmiah berupa penelitian-penelitian dengan diterima/tidaknya permohonan yng diajukan pada pemerintah, kemudian atas permohonannya pemerintah dapat menyatakan:

a. tidak menolak permohonan yang diajukan

b. bahwa keterangan yang diberikan oleh pemohon tidak sesuai dengan kenyataan atau kurang lengkap.

c. bahwa permohonan belum memenuhi kewajiban atas proyek penelitiannya, kecuali apabila dinyatakan sebaliknya.

Segala kegiatan berupa hak-hak melekat diareal laut tersebut merupakan perwujudan dari perlindungan dan pengawasan negara pantai dibidang pertahanan dan keamanan, dan memberikan peluang sebesar-besarnya bagi negara pantai dalam membenahi serta memelihara lingkungan laut sebagai sumber daya alam semesta. Hak-hak tersebut timbul bukan merupakan tindakan sepihak dari pemerintah negara pantai, melainkan dengan memperhatikan lingkungan maupun geografi wilayah, juga tidak adanya pertentangan dengan hukum internasional yang melandasi hukum nasional suatu negara. Keadaan tersebut semakin nampak nyata setelah dihasilkannya konvensi hukum laut ketiga.

Negara pantai diwilayah dimaksud tidak dapat semena-mena menerapkan hukum nasionalnya, kecuali tidak bertentangan dengan hukum internasional baik yang berasal dari perjanjian/traktat, konvensi dan sebagainya. Bagi negara pantai seperti halnya Indonesia, ZEEI merupakan wilayah yang mempunyai kedaulatan penuh dalam kaitannya masalah ekonomi dan sangat memperhatikan segala kewajibannya yang berupa kewajiban hukum internasional, antara lain:45

1. Menghormati hak-hak negara lain dalam melakukan pelayaran maupun penerbangan, yang merupakan kebebasan dari negara-negara dalam melintasi wilayah dimaksud, dan kebebasan dalam melakukan pemasangan kabel-kabel, pipa-pipa dibawah laut.

45

diakses 23 Juni 2013

2. Dalam pengelolaan salah satu jenis sumber daya alam yang terdapat di ZEE Indonesia, seperti halnya ikan. Kewajiban bagi pemerintah Indonesia untuk menentukan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (total allowable catch), sehingga diketahui secara pasti berapa jumlah tangkapan secara keseluruhan dan kemampuan negara Indonesia mengusahakan lingkungannya dan tangkapan. Misalnya: upaya pemerintah untuk meningkatkan kemampuan usaha perikanan dilingkungannya kemudian dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 1984 tentang pengelolaan sumber daya alam hayati di ZEE Indonesia, telah memberikan segala kemungkinan untuk melakukan penangkapan ikan oleh orang atau badan hukum asing yang diawali dengan persetujuan antara pemerintah negara asing dimana orang atau badan hukum tersebut berasal. Keadaan demikian telah direalisir dengan memberikan izin pada Taiwan dan Thailand untuk melakukan penangkapan ikan di ZEE Indonesia dengan perjanjian bahwa, kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan tersebut selama satu tahun dengan menggunakan kapal sebanyak 14 buah berbendera Taiwan masing-masing berbobot 100-200 gross ton (GT). Penangkapan yang dilakukan oleh negara asing tersebut dimungkinkan, meningat Untuk ZEE Indonesia dapat dioperasikan kapal sebanyak 400 (empat ratus) buah guna memanfaatkan potensi yang terkandung di ZEEI sebesar 2,7 ton ikan pertahun.46

46

Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan, Kemetrian Kelautan dan Perikanan RI

Dengan potensi tersebut Indonesia baru dapat memanfaatkan ikan sebanyak 1.8% dan selebihnya dapat dimanfaatkan orang atau badan hukum asing dimaksud.

3. Sebagai konsekuensi bagi negara asing yang ikut serta memanfaatkan sumber daya alam dilaut, mempunyai kewajiban memikul tanggungjawab pada keadaan disekelilingnya untuk melestarikan keserasian dan keseimbangan dan membayar ganti rugi bagi rehabilitasi lingkungan atau sumber daya alam dalam jumlah yang dimungkinkan. Mengingat pula bahwa keadaan tersebut juga merupakan tanggungjawab negara pantai untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan lautnya. Dengan kata lain bahwa kewajiban tersebut ditetapkan pada setiap orang/badan hukum atau barangsiapa yang melakukan yang membiarkan terjadinya pencemaran lingkungan laut dan atau kerusakan sumber daya alam. Hal ini merupakan tanggung jawab mutlak (strict liability), maksudnya bahwa perbuatan yang tidak dapat dielakkan dan secara prosedural tidak diperlukan upaya pembuktian lagi.

Wewenang melindungi dan melestarikan sumber daya alam di ZEE Indonesia, secara internasional didasarkan pada praktik negara yang tidak bertentangan dengan hukum internasional. Sedangkan secara nasional landasannya terdapat dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Secara mendasar dan universal pelestarian lingkungan hidup menjadi tanggung jawab bangsa Indonesia, dengan ditunjang adanya kewajiban pemerintah untuk menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran masyarakat akan tanggung jawabnya dalam mengelola lingkungan hidup dilakukan melalui penyuluhan, bimbingan, pendidikan maupun penelitian tentang lingkungan hidup. Dalam Pasal 2-nya (UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan

Lingkungan Hidup) disebutkan asas dari perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup bertujuan:

a. Melindungi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup;

b. Menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia;

c. Menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian ekosistem; d. Menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup;

e. Mencapai keserasian, keselarasan, dan keseimbangan lingkungan hidup; f. Menjamin terpenuhinya keadilan generasi masa kini dan generasi masa depan; g. Menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan hidup sebagai bagian dari hak asasi manusia;

h. mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana; i. mewujudkan pembangunan berkelanjutan; dan

j. mengantisipasi isu lingkungan global.

Adanya tujuan yang berarti pemeliharaan lingkungan hidup dan pencegahannya serta penanggulangannya atas kerusakan dan pencemaran, menjadi kewajiban setiap orang, sehingga haknya pun atas lingkungan hidup baik dan sehat akan dapat dirasakan.

Hal-hal tersebut dapat/ perlu diperhatikan sebagai pertimbangan di dalam menentukan langkah-langkah untuk memanfaatkan kekayaan baik orang/ badan hukum Indonesia atau orang/ badan hukum asing, dalam kaitannya dengan pemberian izin operasional. Izin yang diberikan oleh pemerintah Indonesia selain berdasarkan kepentingan-kepentingan nasional dengan mencantumkan

syarat-syarat seperlunya dalam perizinan juga memperhatikan hukum internasional yang berupa persetujuan internasional dengan pemerintah Indonesia dalam pelaksanaannya harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:47

1. Dalam melakukan eksplorasi dan atau eksploitasi sumber daya alam hayati mentaati ketentuan tentang pengelolaan dan konvervasi atau upaya perlindungan dan pelestarian yang telah ditetapkan.

2. Dalam melakukan eksplorasi dan atau eksploitasi sumber daya alam hayati di daerah tertentu di ZEE Indonesia mmperhatikan jumlah tangkapan yang diizinkan.

Syarat-syarat dimaksud di atas merupakan alat kontrol dalam menentukan kebijakan selanjutnya, yang sekaligus bagi aparat penegak hukum dengan kompetensinya merupakan fondasi cakrawala. Dan kemungkinan adanya penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di laut maupun tindakan-tindakan yang dianggap mengganggu stabilitas nasional dapat diambil langkah lebih dini.

Permasalahan hukum kasus illegal fishing di Indonesia

Bahwa pada tanggal 26 Januari 2012, Kyaw Shin-12 yang dinakhodai oleh terdakwa dengan 10 (sepuluh) orang ABK berangkat dari Kantang Trang Thailand menuju laut untuk menangkap ikan dan pada tanggal 27 Januari 2012 KM Kyaw Shin-12 sampai dilaut dan terdakwa memerintahkan para ABK menurunkan jaring kedalam laut untuk menangkap ikan didaerah pulau Kotong Thailand selanjutnya terdakwa membawa haluan kapal untuk melanjutkan penangkapan ikan hingga memasuki wilayah perairan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia, dan pada tanggal

47

29 Maret 2012 bertempat diperairan Indonesia Selat Malaka Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) pada posisi 05 ͦ -16’-539” LU/ 098 ͦ - 14’ -237” BT saat KM. Kyaw Shin – 12 perbuatan tersebut telah dipergoki oleh kapal KP HIU 010 dari Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan dan langsung melakukan pengejaran namun terdakwa telah mengetahui keberadaan petugas KP HIU 010 sehingga terdakwa selaku nakhoda berusaha lari dengan memutus jaring yang masih berada di dalam laut. Namun belum sempat terdakwa melarikan diri, terdakwa berhasil ditangkap, kemudian nakhoda dan seluruh ABK KM. Kyaw Shin-12 diperintahkan untuk naik keatas kapal, lalu diperlihatkan GPS dan kordinat penangkapan pada posisi 05 ͦ -16’-539” LU/ 098 ͦ - 14’ -237” BT yang termasuk dalam wilayah perairan Indonesia (ZEEI) dan didapati didalam kapal, ikan hasil tangkapan sebanyak 1.000 kg dan telah dijual seharga Rp. 1.300.000,- sedangkan uang hasil penjualan ikan dijadikan sebagai barang bukti

Terhadap permasalahan hukum yang dialami oleh warga Negara Thailand tersebut pihak Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan selaku pihak yang melakukan pengangkapan dan penyidikan terhadap Terdakwa Ael, maka pihak Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan menyurati Konsulat Jenderal Thailand di Medan guna pemberitahuan keberadaan tersangka An. MR. Ael serta menyurati Duta Besar Myanmar di Jakarta guna pemberitahuan keberadaan ABK Warga Negara Myanmar sebanyak 10 (sepuluh) orang yang dijadikan sebagai Saksi untuk kepentingan penyidikan tindak pidana perikanan di wilayah perairan Indonesia Selat Malaka (ZEEI).

C. Pengaturan Hukum Nasional terhadap Illegal Fishing

Ketentuan yang berkaitan dengan penggunaan kapal asing yang menangkap ikan di laut Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah, sebab kenyataan menunjukkan bahwa seringkali kapal asing melakukan penangkapan di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, dikarenakan belum optimalnya pengawasan yang dilakukan oleh aparat keamanan kita. Walaupun pada dasarnya telah ada rambu-rambu yang menjadi dasar dalam melakukan penataan terhadap penangkapan ikan di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif, yaitu Keputusan Menteri Perikanan dan Kelautan Nomor: Kep. 60/Men/2001 tentang Penataan Penggunaan Kapal Perikanan Asing di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.

Upaya pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya ikan secara maksimal di wilayah perikanan Indonesia, tidak terlepas dari usaha perikanan yang dilakukan oleh perorangan dan badan hukum. Namun demikian, usaha perikanan yang dilakukan perseorangan seringkali masih terbentur dengan masalah permodalan, sementara usaha perikanan yang dilakukan oleh badan hukum sudah dapat dipastikan memiliki modal yang sangat besar. Oleh karena itu, peraturan perikanan yang baru, yakni UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan telah mengatur keterlibatan perseorangan dan badan hukum dalam melakukan usaha perikanan. Hal ini sesuai dalam Pasal 29 ayat (1) UU No. 31 Tahun 2004, bahwa usaha perikanan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia hanya boleh dilakukan oleh warga negara Republik Indonesia atau badan hukum Indonesia. Pengecualiaan terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

diberikan kepada orang atau badan hukum asing yang melakukan usaha penangkapan ikan di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), sepanjang hal tersebut menyangkut kewajiban Negara Republik Indonesia berdasarkan persetujuan internasional atau ketentuan hukum internasional yang berlaku.48

Pengecualian terhadap badan hukum asing yang melakukan penangkapan ikan di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dapat dimaklumi, karena kemampuan para pengusaha yang menanamkan modalnya masih sangat terbatas, baik dari segi permodalan, tenaga ahli dan kapal penangkap ikan yang belum berteknologi canggih. Untuk menghindari kesalahahaman yang terjadi dikemudian hari, sebelum memberi izin kepada badan hukum asing yang melakukan usaha perikanan, maka terlebih dahulu membuat perjanjian perikanan dengan instansi pemerintah. Dalam Pasal 30 ayat (1) UU No. 31 Tahun 2004 dinyatakan bahwa pemberian surat izin usaha perikanan kepada orang dan/ atau badan hukum asing yang beroperasi Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) harus didahului dengan perjanjian perikanan, pengaturan akses, atau pengaturan lainnya antara pemerintah Republik Indonesia dan pemerintah negara bendera kapal. Perjanjian perikanan yang dibuat antara Pemerintah Republik Indonesia pemerintah negara bendera kapal sebagaimana dimaksud ayat 1, harus mencantumkan kewajiban pemerintah negara bendera kapal untuk bertanggungjawab atas kepatuhan orang atau badan hukum negara bendera kapal untuk memenuhi perjanjian perikanan tersebut49

48

Pasal 29 ayat 2 UU No. 31 tahun 2004.

. Pemerintah menetapkan mengenai pemberian izin usaha perikanan kepada orang atau badan hukum asing yang beroperasi di ZEE, perjanjian perikanan, pengaturan

49

akses, atau pengaturan lainnya antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah negara bendera kapal50

Pada sisi lain, walaupun telah mendapat izin untuk melakukan penangkapan ikan di Zona Ekonomi Ekslusif , maka upaya yang perlu dilakukan adalah mengurus Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI). Hal ini sesuai ketentuan dalam

Dokumen terkait