Pasal 71 ayat 4 dari rancangan pasal-pasal Komisi Hukum Internasional yang pada akhirnya menjadi Pasal 5
D. Pengaturan Internasional di Luar Konvensi Hukum Laut
Walaupun konvensi-konvensi mengenai “Dumping” tidak bertujuan untuk mengatur masalah pembongkaran instalasi, namun memuat beberapa ketentuan yang relevan mengenai masalah ini, antara lain adalah “the Oslo Convention on the
Control of Marine Polution by Dumping from Ships and Aircraft”
yang dibuat di Oslo pada 15 Februari 1972 (selanjutnya disebut “Oslo Convention” atau Konvensi Oslo) dan “the
London Convention on the Prevention of Marine Pollution by Dumping of Wastes and Other Matter" yang dibuat di London
pada 29 Desember 1972 (selanjutnya disebut Konvensi London)93
Konvensi Oslo pada dasarnya berlaku dalam hal pembuangan (dumping) yang dilakukan oleh kapal (atau pesawat udara) dan bukan dalam hal terjadi pembuangan instalasi. Namun demikian di dalam Konvensi ini terdapat beberapa ketentuan yang berlaku secara umum, misalnya pasal-pasal 1, 6 dan 19 dari Konvensi Oslo.
Pasal 1 menyatakan bahwa negara-negara peserta berikrar untuk mengambil semua tindakan yang dapat dila-kukan untuk mencegah pencemaran laut yang disebabkan oleh substansi-substansi yang dapat merusak fasilitas mau-pun mengganggu penggunaan laut lainnya yang sah.94
Ketentuan Pasal 6 dari konvensi yang sama menetap- kan bahwa buangan atau limbah yang mengandung zat-zat dan bahan-bahan berbahaya tidak boleh dibuang tanpa izin dari pejabat negara yang berwenang. Annex II menyebut secara rinci bahan-bahan yang terdiri dari besi tua (scrap
93 James Barros and Douglas M. Johnston, "The International Law of Pollution". 1974, hlm. 242.
metal) serta buangan-buangan lain dalam jumlah besar yang
dapat menimbulkan rintangan hebat terhadap kegiatan penangkapan ikan maupun pelayaran. Apabila dianggap perlu menyimpan dan meletakkan buangan-buangan tersebut, maka seharusnya dilakukan pada kedalaman air tidak kurang dari 2000 meter serta jaraknya dari daratan tidak kurang dari 150 mil laut.
Pasal 19 dari Konvensi Olso menyatakan bahwa "Dumping" adalah setiap pernbuangan zat-zat dan bahan- bahan yang dilakukan dengan sengaja ke dalam laut oleh ataupun dari kapal-kapal . . . . kecuali pembuangan yang bersifat insidentil bagi atau yang berasal dari pengoperasian kapal-kapal yang bersifat normal . . . dan peralatannya.
Walaupun pernbuangan instalasi lepas pantai tidak ditegaskan dalam Konvensi Oslo, namun dengan adanya Ketentuan 1imbah dalam jumlah besar (bulky wastes) dapat dianggap mencakup pula pengertian pembuangan instalasi.95
Akan tetapi pembuangan instalasi yang dimaksudkan di sini adalah pernbuangan instalasi di perairan dalam (deep water
provision) dan bukan pembuangan instalasi dalam pengertian
meningga1kan insta1asi (abandonment) maupun merebah-kannya di tempat (toppling down).96
95 M. Nauke, Op.Cit., hlm. 8-9.
96 Mr. Alte B. Fretheim, "The Legal Framework ofRemoval andDisposal od Disued Offshore Platforms; the 1972 London Dumping Convention and the 1972 Oslo Dumping Convention” Seminar on Removal and Disposal of of Obsolete offshore
Meskipun ketentuan-ketentuan Konvensi Oslo tidak dianggap berlaku dalam hal meninggalkan maupun merebahkan suatu instalasi di tempatnya serta hanya berlaku pada kegiatan-kegiatan pembuangan (dumping) yang bersifat normal (misalnya membawa instalasi serta menenggelamkan-nya), namun negara-negara peserta Konvensi Oslo dalam sidang Komisi Oslo pada bulan Juni 1991 sepakat untuk menerapkan pedoman-pedoman baru juga pada pembuangan instalasi di tempat baik dalam pengertian "abandonment" maupun "toppling down”.97 Dengan demikian pembuangan instalasi baik dengan cara membuangnya ke perairan dalam maupun dengan cara "abandonment" serta "toppling down" sudah merupakan larangan bagi negara-negara peserta Konvensi Oslo, walaupun kedua cara terakhir (abandonment dan toppling down) tidak mempunyai kekuatan mengikat karena hanya didasarkan atas "Guidelines".
Di dalam "Guidelines" tersebut antara lain dikemukakan bahwa pada prinsipnya alternatif-alternatif (options) yang bisa dilakukan apabila suatu instalasi permanen sudah tidak digunakan lagi adalah meninggalkan dan membiarkan instalasi tersebut di lokasinya (leaving In place) atau pun memborigkar dan memindahkannya secara keseluruhan atau
Installations and Structures in the Exclusive Economic Zone and on the Continental Shelf . Jakarta. 25-28 May 1992. hlm. 9
97 Pedoman baru yang dimaksud adalah " The Oslo
Commission Guidelines for the Disposal of offshore Installation at Sea”. Ibid, hlm, 10.
sebagian (complete or partial removal). Apabila instalasi tersebut dibongkar dan dipindahkan, maka kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan adalah instalasi tersebut dapat digunakan kembali atau diskraping di daratan (reuse or
scrapping on land). Kemungkinan lain adalah instalasi
tersebut dibuang di tempatnya (disposal in situ) maupun membuangnya ke tempat lain di laut (disposal at sea
elsewhere).98
“IMO Guidelines and Standards" berlaku dan mengatur
setiap alternatif tersebut di atas. sementara "Guidelines" dari Komisi Oslo hanya berlaku dan mengatur masalah pembuangan instalasi di laut (disposal at sea) dan dengan demikian dapat meniadi pelengkap bagi “IMO Guidelines" yang
menghendaki supaya setiap alternatif yang diambil terhadap instalasi yang ditingalkan, khususnya pembongkaran instalasi senantiasa tetap mengutamakan keselamatan pelayaran.
Konvensi London atau "the London Dumping Convention" mengatur 1arangan pembuangan (dumping) bahan-bahan yang berasal dari bangunan maupun pembuangan bangunan-bangunan demikian di mana hal ini berlaku pada lautan di seluruh dunia kecuali perairan pedalaman.
Menurut Pasal III (a) dari “the London Dumping Convention", "Dumping" berarti :
98 Annex III (Oslo Commission Guidelines for the Disposal
i. any deliberate disposal at sea of wastes or other matter from vessels, aircraft, platforms or other man-made structurs at sea;
ii. any deliberate disposal of vessels, aircraft, platforms or other man-made structures at sea:
Excluded from this definition is :99
i. the disposal at sea of wastes or other matter incidental to or derived form the normal operations of vessels, aircraft; platforms or other man-made structures at sea and their-equipment, other than wastes or other matter transported by or to vessels, aircraft, platforms or other man-made sturctures at sea, operating for the purpose of disposal of such wastes or other matter on such vessels, aircraft, platforms or structures;
ii. placement of matter for a purpose other than the mere disposal thereof, provided that such placement is not contrary to the aims of this Convention.
Berdasarkan definisi ini, semua negara peserta sepakat bahwa pembuangan Instalasi maupun bagian-bagiannya dengan menggunakan kapal yang dilengkapi secara khusus untuk memotong kaki-kaki bangunan atau Instalasi dan membuangnya di laut jauh dari lokasinya jelas tercakup oleh ketentuan-ketentuan Konvensi London. Akan tetapi apakah meninggalkan suatu instalasi yang sudah tidak digunakan lagi, memotong kaki-kaki instalasi dan merebahkan bagian
atasnya pada lokasinya .juga dianggap sebagai "dumping" adalah merupakan masalah kontroversial selama bertahun-tahun. Namun masalah ini telah diselesaikan oleh negara-negara pesertanya dalam sidang konsultasi ke 13 pada bulan November 1990, di rnana meninggalkan instalasi dan merebahkannya dengan tujuan untuk membuangnya semata-mata harus dianggap sebagai "dumping" dalam pengertian Konvensi London. Kebanyakan delegasi berpendapat bahwa meninggalkan instalasi (abandonment) dianggap sama dengan "leaving in place", yang artinya membiarkan instalasi yang sudah tidak digunakan lagi tetap berada di lokasinya, di mana negara-negara pesertanya dilarang melakukannya. Dengan demikian negara-negara peserta mempunyai kewajiban untuk tidak meninggalkan instalasi (abandonment), merebahkan (toppling down) sebab kedua-duanya dianggap sebagai "dumping"100 yang dilarang oleh Konvensi London mengingat tindakan-tindakan tadi dapat membawa implikasi baik terhadap lingkungan laut maupun keselamatan pelayaran. Akan tetapi penempatan instalasi di dasar laut dengan tujuan bukan untuk melakukan pembuangan (disposal) semata-mata. misalnya memanfaatkan instalasi tersebut sebagai karang buatan (artificial reef) tidak merupakan “dumping"
sebab hal ini tidak bertentangan dengan tujuan-tujuan konvensi.101
100 Mr. Atle B. Fretheim, Op.Cit., hlm. 5
Dengan demikian Konvensi London maupun Konvensi Oslo dikemukakan dalam hubungan dengan pengaturan internasional pembongkaran instalasi didasarkan atas kenyataan bahwa ketentuan-ketentuan dalam kedua konvensi ini mempunyai relevansi dengan masalah pembongkaran instalasi, di mana limbah yang berasal dari instalasi setelah kegiatan pembongkaran dapat menimbulkan bukan hanya bahaya terhadap lingkungan laut tetapi juga dan terutama terhadap keselamatan pelayaran. Di samping itu relevansinya juga dapat dilihat ketika negara-negara peserta Konvensi London (the London Dumping Convention) juga turut memper- oleh kesempatan yang diberikan oleh Organisasi Maritim Internasional untuk memberikan komentar atas rancangan resolusi dari organisasi tersebut, yaitu mengenai Pedoman dan Standar Pembongkaran Instalasi dan Bangunan Lepas Pantai (IMO Guidelines and Standards) yang telah disahkan menjadi resolusi oleh Majelis pada tahun 1989.102
102 Resolution A. 672 (16), Adopted on 19 October 1939, Agenda item 10.
BAB IV