• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaturan Kembali Kontrak Tahun Jamak (Multiyears Contract)

BPJS KESEHATAN DAN BPJS KETENAGAKERJAAN

14. Pengaturan Kembali Kontrak Tahun Jamak (Multiyears Contract)

Pedoman operasional mengenai Kontrak Tahun Jamak (Multiyears Contract

berupa Peraturan Menteri Keuangan (PMK) mulai ditetapkan pada tahun 2010, yakni  melalui  PMK  Nomor 56/PMK.02/2010. Dalam  perkembangannya,  guna pelaksanaan  ketentuan Pasal 16 ayat (1) Keppres 42/2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN  sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Perpres Nomor 53/2010 dan 

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)  Direktorat Jenderal Anggaran 2013 

 

53 

ketentuan Pasal 52 ayat (2) Perpres Nomor 54/2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa  pemerintah, maka PMK Nomor 56/PMK.02/2010 perlu disesuaikan. Selanjutnya keluarlah  PMK Nomor 194/PMK.02/2011 sebagai pengganti PMK Nomor 56/PMK.02/2010. 

Dalam perkembangan selanjutnya, Pemerintah menetapkan  PP Nomor 45 Tahun  2013 tentang Pelaksanaan APBN dan Perpres Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan  Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa  Pemerintah  sebagai  norma  hukum  yang  didalamnya  mengatur  ketentuan  umum  mengenai Kontrak Tahun Jamak. Oleh karena itu, aturan operasional berupa PMK juga  perlu diselaraskan dengan ketentuan baru dimaksud, sehingga untuk menindaklanjuti  ketentuan Pasal 61 ayat (2) dan (3) PP Nomor 45 Tahun 2013 dan Perpres Nomor 70  Tahun 2012, ditetapkanlah PMK Nomor 157/PMK.02/2013 sebagai perangkat peraturan  teknis operasional terkini yang mengatur tata cara pengajuan persetujuan Kontrak Tahun  Jamak (Multi Years Contract) dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. PMK inilah yang 

sampai sekarang harus dipedomani oleh DJA maupun Kementerian/Lembaga dalam  rangka proses Kontrak Tahun Jamak.   

Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 PMK Nomor 157/PMK.02/2013, yang  dimaksud dengan Kontrak adalah perjanjian tertulis antara Pejabat Pembuat Komitmen  (PPK) dengan penyedia barang/jasa atau pelaksana swakelola. Sedangkan Kontrak Tahun  Jamak merupakan kontrak yang pelaksanaan pekerjaannya membebani dana Anggaran  Pendapatan  dan  Belanja  Negara  (APBN)  lebih  dari  1  (satu)  Tahun  Anggaran.  Kewenangan dan ruang lingkup pemberian persetujuan pelaksanaan pekerjaan yang  dilakukan secara Kontrak Tahun Jamak diatur dalam Pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan  Nomor 157/PMK.02/2013 sebagai berikut: 

(1) Kontrak  Tahun  Jamak  untuk  kegiatan  yang  nilai  kontraknya  sampai  dengan  Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) bagi kegiatan penanaman benih/bibit,  penghijauan, pelayanan perintis darat/ laut/ udara, makanan dan obat di rumah  sakit, makanan untuk narapidana di Lembaga Pemasyarakatan, pengadaan pita cukai,  layanan pembuangan sampah, dan pengadaan jasa cleaning service dilakukan setelah 

mendapat persetujuan Menteri/Pimpinan Lembaga yang bersangkutan. 

(2) Kontrak Tahun Jamak untuk kegiatan yang nilainya di atas Rp10.000.000.000,00  (sepuluh  miliar  rupiah)  dan  kegiatan  yang  nilainya  sampai  dengan  Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) yang tidak termasuk dalam kriteria  kegiatan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  dilakukan  setelah  mendapat  persetujuan Menteri Keuangan. 

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)  Direktorat Jenderal Anggaran 2013 

 

54 

Sedangkan untuk Kontrak Tahun Jamak yang sebagian atau seluruhnya dibiayai  dari Pinjaman/Hibah Luar Negeri (PHLN) tidak mengikuti aturan di atas, yang berarti tidak  perlu terlebih dahulu mendapat persetujuan. Secara substansi hal tersebut bisa dipahami  apabila melihat karakteristik pembiayaan PHLN itu sendiri yang didasari sebuah naskah  perjanjian, yang notabene di dalamnya terdapat kesepakatan tentang jangka waktu PHLN. 

Hal tersebut bisa diartikan bahwa dalam jangka waktu tersebut (termasuk yang berjangka  waktu lebih dari satu tahun) ada jaminan ketersediaan dana dari lembaga/Negara donor  untuk menunjang pelaksanaan kegiatan. 

Selanjutnya Pasal 3 PMK Nomor 157/PMK.02/2013 mengatur mengenai syarat‐ syarat  pengajuan  permohonan  persetujuan  Kontrak  Tahun  Jamak  kepada  Menteri  Keuangan, yaitu  permohonan persetujuan Kontrak Tahun Jamak tersebut harus diajukan  oleh  Menteri/Pimpinan  Lembaga  kepada  Menteri  Keuangan  bersamaan  dengan  penyampaian Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA‐KL) Tahun  Anggaran bersangkutan, dan dilengkapi dengan dokumen‐dokumen: 

a. Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) dari Pengguna Anggaran yang  menyatakan bahwa: 

1) pekerjaan  Kontrak  Tahun  Jamak  yang akan  dilaksanakan  telah  memenuhi  kelayakan teknis berdasarkan penilaian/rekomendasi dari instansi/ tim teknis  fungsional yang kompeten. 

2) ketersediaan  dana  bagi  pelaksanaan  Kontrak  Tahun  Jamak  yang  bukan  merupakan tambahan pagu (on top

b. surat pernyataan dari Pengguna Anggaran yang menyatakan bahwa: 

1) sisa dana yang tidak terserap dalam tahun bersangkutan tidak akan direvisi  untuk digunakan pada Tahun Anggaran yang sama. 

2) pengadaan/pembebasan  lahan/tanah  yang  diperlukan  untuk  mendukung  pembangunan infrastruktur sudah dituntaskan. 

Selain kedua dokumen tersebut di atas, permohonan persetujuan Kontrak Tahun  Jamak kepada Menteri Keuangan juga harus dilengkapi dengan cakupan jenis dan tahapan  kegiatan/pekerjaan secara keseluruhan, jangka waktu pekerjaan akan diselesaikan, dan  ringkasan perkiraan kebutuhan anggaran per tahun, namun tidak diperbolehkan terdapat  dokumen yang menunjukkan nama calon peserta dan/atau calon pemenang lelang.     Meskipun  dalam  Pasal  3  ayat  (1)  Peraturan  Menteri  Keuangan  Nomor  157/PMK.02/2013 dinyatakan bahwa permohonan persetujuan Kontrak Tahun Jamak  diajukan oleh Menteri/Pimpinan Lembaga kepada Menteri Keuangan bersamaan dengan  penyampaian RKA‐KL Tahun Anggaran bersangkutan, namun dalam keadaan tertentu 

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)  Direktorat Jenderal Anggaran 2013 

 

55 

permohonan tersebut boleh diajukan tidak bersamaan dengan penyampaian RKA‐KL  Tahun Anggaran bersangkutan asal memenuhi persyaratan sesuai Pasal 3 ayat (3), yaitu:  • terjadi keadaan kahar 

• dalam rangka melaksanakan kebijakan Pemerintah Pusat  • untuk memenuhi amanat peraturan perundang‐undangan 

• menjalankan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap 

Beberapa Kontrak Tahun Jamak yang dilakasanakan oleh K/L mungkin memiliki  kompleksitas  dalam  pengadaan/pembebasan  lahan/tanah,  seperti  pekerjaan  pembangunan infrastruktur untuk bandara, pelabuhan, jalan, irigasi, transmisi listrik, dan  rel  kereta  api.  Oleh  karena  itu,  dalam  Peraturan  Menteri  Keuangan  Nomor  157/PMK.02/2013 Pasal 4 diatur bahwa pengadaan/pembebasan lahan/tanah tersebut  boleh dilakukan secara bersamaan dengan pekerjaan pembangunan infrastruktur dalam  periode Kontrak Tahun Jamak, yang  artinya pekerjaan sudah  bisa mulai dilakukan  meskipun proses pengadaan/pembebasan lahan/tanah belum selesai sepenuhnya.  

Untuk  tetap menjaga  good governance, maka  apabila hal  tersebut terjadi, 

Pengguna  Anggaran  harus  melampirkan  Surat Pernyataan  Tanggung Jawab Mutlak  (SPTJM) yang menyatakan: 

a. Pengguna  Anggaran  akan  menyelesaikan  pengadaan/  pembebasan  lahan/tanah  secara  simultan  dengan  pekerjaan  pembangunan  infrastruktur  dalam  periode  Kontrak Tahun Jamak; 

b. Pengguna Anggaran akan menjaga pelaksanaan kegiatan sesuai rencana; dan 

c. segala biaya yang timbul sebagai akibat dari keterlambatan penyelesaian pekerjaan  yang  disebabkan  oleh  keterlambatan  penyelesaian  pengadaan/pembebasan  lahan/tanah  tidak  dapat  dibebankan pada APBN, kecuali  berdasarkan  putusan  pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. 

Pemrosesan  penyelesaian  persetujuan Kontrak Tahun Jamak dilakukan  oleh  Direktorat Jenderal Anggaran, dan dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak  dokumen diterima secara lengkap. 

Dalam kondisi tertentu, jangka waktu multiyears contract yang disebutkan dalam 

surat persetujuan dapat diperpanjang oleh Menteri Keuangan. Kondisi tertentu yang  dimaksud  disini  adalah  sebagaimana  disebutkan  dalam  Pasal  6  PMK  Nomor  157/PMK.02/2013, yakni: 

a. keadaan kahar, meliputi bencana alam, bencana non alam, pemogokan, kebakaran,  dan/atau  gangguan  industri  lainnya  sebagaimana  dinyatakan  melalui  keputusan  bersama Menteri Keuangan dan menteri teknis terkait. 

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)  Direktorat Jenderal Anggaran 2013 

 

56 

b. keadaan non kahar, meliputi antara lain perubahan desain karena faktor yang tidak  dapat  diperkirakan  sebelumnya (unforeseen  conditions/factors), dan penyesuaian 

ketentuan yang berlaku di negara lain. 

Substansi pengaturan KONTRAK TAHUN JAMAK yang masih tetap dipertahankan  dari PMK sebelumnya di dalam PMK 157/PMK.02/2013 adalah hal‐hal yang mengatur  mengenai: 

a. Perubahan komposisi pendanaan antar tahun. 

b. Menteri/Pimpinan Lembaga bertanggung jawab penuh atas kebenaran formil dan  materil atas segala sesuatu yang terkait dengan permohonan persetujuan Kontrak  Tahun Jamak kepada Menteri Keuangan. 

c. Persetujuan  Kontrak  Tahun  Jamak  oleh  Menteri  Keuangan  bukan  merupakan  pengakuan/pengesahan  (endorsement)  atas  kebenaran  dan  keabsahan  proses 

pengadaan barang/jasa dan/atau penunjukan pemenang penyedia barang/jasa.  d. Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna Anggaran bertanggung jawab penuh 

terhadap  pekerjaan  yang  dikontrakkan  secara  tahun  jamak,  termasuk  dalam  menyediakan alokasi anggaran pada tiap‐tiap tahun dari masa kontrak, berdasarkan  pagu  belanja  yang  telah  ditetapkan  dalam  Bagian  Anggaran  Kementerian  Negara/Lembaga yang bersangkutan. 

e. Sisa anggaran pekerjaan Kontrak Tahun Jamak pada Tahun Anggaran tertentu tidak  dapat diluncurkan pada Tahun Anggaran berikutnya dan tidak dapat dijadikan sebagai  usulan anggaran belanja tambahan pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja  Negara‐Perubahan (APBN‐P) pada Tahun Anggaran tersebut. 

f. Dalam  rangka  menjaga  kesinambungan  kualitas,  efisiensi,  dan  efektivitas  serta  menjaga kesatuan proses dan akuntabilitas pelaksanaan pekerjaan, Menteri Keuangan  dapat menetapkan persetujuan Kontrak Tahun Jamak terhadap pekerjaan‐pekerjaan  antara lain pengadaan layanan informasi, penjualan surat berharga, layanan/lisensi  perangkat lunak/keras, pengembangan perangkat lunak, dan sewa jaringan/bandwith. 

g. Menteri Keuangan dapat mempertimbangkan untuk memberikan persetujuan Kontrak  Tahun Jamak atas pekerjaan yang telah dituangkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran  Kementerian  Negara/Lembaga  (RKA‐KL)  dan  merupakan  kebijakan  prioritas  Pemerintah,  yang  karena  kondisi  tertentu  dalam  pelaksanaannya  tidak  dapat  diselesaikan dalam 1 (satu) Tahun Anggaran. 

h. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran menyampaikan laporan prestasi kerja  secara berkala setiap 6 (enam) bulan sekali kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur 

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)  Direktorat Jenderal Anggaran 2013 

 

57 

Jenderal Anggaran untuk persetujuan Kontrak Tahun Jamak yang ditetapkan oleh  Menteri Keuangan dan/atau Menteri/Pimpinan Lembaga. 

Akankah PMK 157/PMK.02/2013 dapat memenuhi harapan semua pihak dan  tidak menimbulkan kendala/persoalan dalam proses Kontrak Tahun Jamak. Jawaban atas  pertanyaan  tersebut  masih  harus  dilihat  pada  saat  PMK  tersebut  sudah  diimplementasikan dan umpan balik atas kondisi dimaksud nantinya dan seharusnya  menjadi bahan evaluasi bagi upaya perbaikan kedepan.  

 

15.Pemberian Tunjangan Kinerja pada Kementerian Negara/Lembaga dalam rangka 

Dokumen terkait