ANALISIS HASIL PENELITIAN
A. Data Penelitian
4. Pengawasan Internal di Pemkab. Karo Terhadap Retribusi
a. Pengawasan Internal oleh Badan Pengawasan Pemerintahan Kab. Karo Pengawasan internal yang dilakukan pemerintah kabupaten karo terhadap penrimaan pendapatan retribusi dilakukan oleh Badan Pengawas Pemerintah Karo (Bawasda). Bawasda melakukan pengasan terhadap dinas-dinas yang mengelola pnerimaan retribusi. Selain bawasda, pada masing-masing dinas juga dilakukan pengawasan. Dimana didalam pengawasan ini dilakukan oleh masing-masing kepala Dinas, pengawasan yang dilakukan oleh kepala Dinas tersebutnya ialah Pengawasan Melekat (Waskat). Namun Pengawasan yang paling utama dilakukan oleh Bawasda.
Didalam pelaksanaan tugasnya Bawasda mela memeriksa penerimaan dan juga kegiatan operasional masing-masing Dinas dalam pengelolaan retribusi. Pengawsan yang dilakukan oleh Pengawas Pemerintah Kabupaten karo terhadap retribusi ialah apakah retribusi telah sesuai dengan tarif yang ditetapkan, bagaimana pemungutan retribusi yang dilakukan oleh masing-masing Dinas, dan pelaporan pendapatan retribusi yang dibuat oleh masing-masing dinas dan apakah telah sesuai dengan Standar Akuntasni Pemerintahan. Selain di dinas badan pengawasan pemerintah karo juga melakukan pengawasan ke Bagian KeuanganSekretariat Daerah terhadap laopran Realisasi pendapatan retribusi yang diserahkan oleh masing masing Dinas.
b. Hubungan Hirarki Badan Pengawas Pemerintah Karo dengan masing-masing Dinas
Dalam melakukan pengawasan yang dilakukan oleh Badan Pengawas Pemerintah Karo, hubungan hirarkinya denga Dinas-dinas yang ada pada pemerintah Kab. Karo adalah sejajar. Karena baik Bawasda maupun Dinas-dinas yang ada di pemerintah Kabupaten Karo, sama-sama berada di bawah Sekretariat Daerah Kabupaten (Sekda). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Bawasda memiliki kedudukan yang sama di dalam pemerintahan dengan kantor-kantor Dinas yang lain, namun peran bawasda ialah untuk melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap kegiatan yang dilakukan oleh Dinas-dinas dalam melakukan kegiatannya terutama terhadap penerimaan pendapatan yang dikelola oleh masing-masing Dinas.
c. Dasar Hukum Badan Pengawas Pemerintah Kabupaten Karo (BAWASDA) dalam Melakuakan Pengawasan.
Didalam melakukan tugasnya sebagai badan yang melakukan pengawasan pada Pemerintah Kabupaten Karo, Bawasda memiliki dasar hukum didalam melakukan tugasnya. Dasar Hukum Bawasda dalam melakukan tugasnya yakni:
Keppres No. 74 Tahun 2001
Peraturan Pemerintah (PP) No. 79 tahun 2005
B. Analisis Hasil Penelitian 1. Analisis Penerimaan Retribusi a. Pengakuan Retribusi
Retribusi merupakan salah satu jenis dari Pendapatan Daerah yang dikelola oleh pemerintah daerah. Dalam penrimaannya, retribusi yang merupakan salah satu Pendapatan Asli Daerah diakui pada saat retribusi tersebut diterima pada Rekening Kas Umum Daerah. Apabila retribusi telah diterima oleh Bagiaan Kas Umum Daerah maka retribusi telah diakui menjadi Pendapatan Asli Daerah. b. Tarif Retribusi
Dalam penentuan tarif retribusi yang dipungut, pemerintah mengatur besarnya tarif didalam Peraturan daerah sebagai dasar hukum didalam besarnya tarif yang dipungut. Sehingga dengan adanya Perda untuk masing-masing retribusi, maka retribusi akan dipungut sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk masing-masing retribusi.
c. Pengukuran retribusi
Dalam melakukan pengukuran retribusi yang dipungut oleh pemerintah Kabupaten karo, besarnya retribusi yang terutang oleh pribadi atau badan yang menggunakan jasa atau perizinan atau fasilitas tertentu, maka pemerintah kabupaten karo mengalikan teaif dengan tingkat jasa yang digunakan oleh pribadi atau badan tersebut.
d. Pemungutan Retribusi
Pemungutan yang dilakukan oleh Pemerintah Kab. Karo dilakukan Oleh Dinas-dinas yang mengelola masing-masing retribusi. Dinas melakukan pemungutan
sesuai dengan objeknya dan tarif serta pengukuran yang telah diatur di dalam Perda masing-masing untuk tiap-tiap retribusi. Namun didalam hal pemungutannya ada retribusi yang tidak dipungut langsung olehdinas melainkan oleh pihak ketiga, dimana pihak ketiga tersebut memperoleh hak pungutannya dengan melakukan tender kepada dinas yang mengelola retribusi tersebut. Retribusi yang dipungut oleh pihak ketiga adalah Retribusi Jasa Usaha Pemakaian Kekayaan daerah ( Tempat rekreasi) dimana dalam hal ini ialah gerbang masuk ke daerah tempat wisata yang akan dituju oleh para pengunjung. Sedangkan Retribusi yang lain yang juga di pungut oleh pihak ketiga ialah Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum. Pelaporan atas penerimaan kedua retribusi ini dilaporkan kepada masing-masing Dinas yang mengelola retribusi tersebut. Sedangkan untuk retribusi yang lain, pemungutannya dilakukan oleh Masing-masing Dinas yang bertanggung jawab terhadap retribusi tersebut.
e. Penyetoran Penerimaan Retribusi
Pelaporan dan penyetoran yang dilakukan oleh masing-masing Dinas terhadap hasil penerimaan retribusi yaitu pada saat retribusi itu diterima atau pada hari itu yang samaa saaat penerimaan. Dinasa akan menyerahkan uang atau penerimaan retribusi ke Bank Daerah melalui rekening Kas umum Daerah dan selanjutnya Bank akan memberikan buti setoran yang akan diserahkan oeh Masing-masing dinas yang mengelola Retrtibusi untuk diserahkan kepada Dispenda dan dicatat serta diakui sebagai pendapatan Daerah setelah dilaporkan ke bendahara Umum Daerah pada Kas umum Daerah.
f. Pencatatan Retribusi
Karena Retribusi merupakan bagian dari pendapatan asli daerah, sehingga di dalam pencatatannya retribusi tersebut dilakukan dengan menggunakan sistem tata buku berpasangan atau double entry dan dasar pencatatan Cash Basic. Dimana pendapatan atas retribusi diakui pada saat retribusi diterima pada Rekening Kas Umum Daerah. Dalam pencatatannya masing-masing retribusi dicatat dengan nomor-nomor perkiraan untuk masing-masing retribusi. Pencatatn perkiraan-perkiraan buku besar pendapatan dimulai sejak Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), alokasi anggaran, realisasi sampai dengan penutupan pada akhir tahun anggaran. Jurnal-jurnal berikut ini untuk mencatat transaksi pendapatan, sejak anggaran disetujui oleh DPRD sampai pada Jurnal penutup:
i. Pada saat anggaran pendapatan disetujui/ disahkan oleh DPRD Nama Perkiraan
Estimasi Pendapatan xxx
Surplus/Defisit Tahun Pelaporan xxx
ii. Dengan diterbitkannya alokasi anggaran maka anggaran pendapatan dialokasikan kepada dinas terkait dengan jurnal
Nama Perkiraan
Estimasi Pendapatan yang dialokasikan (Dinas) xxx
iii. Pada saaat realisasi yaitu pada saat kas diterima dan dibukukan olehBendaharawan Umum Daerah (Kas Daerah) sebagai berikut
Nama Perkiraan
Kas di Kas Daerah xxx
Pendapatan xxx
iv. Pada saat terjadi pengembalian pendapatan yang terjadi baik pada tahun anggaran berjalan maupun periode tahun anggaran berikutnya, seperti adanya restitusi pajak daerah, maka Dinas Pendapatan akan menjurnal sebagai berikut:
Nama Perkiraan
Pendapatan xxx
Kas di Kas aerah xxx
v. Jurnal Penutup Perkiraan pendapatan pada akhir tahun anggaran dilakukan sebagai berikut:
aa. Bila Realisasi pendapatan melampaui estimasi anggaran Nama Perkiraan
Pendapatan xxx
Estimasi Pendapatan yang dialokasikan xxx (Dinas atau Unit Organisasi Setingkat)
Surplus/Defisit Tahun Pelaporan xxx Alokasi Estimasi Pendapatan xxx
Estimasi Pendapatan
ab. Bila realisasi pendapatan lebih rendah dari estimasi/anggaran Nama Perkiraan
Estimasi Pendaptan xxx
Surplus /Defisit Tahun Pelaporan xxx
Estimasi pendapatan yang dialokasikan xxx Alokasi Estimasi Pendapatan xxx
Estimasi Pendapatan xxx
g. Pelaporan Retribusi
Pendapatan disajikan sebesar nilai anggaran dan realisasnya dalam Realisasi Anggaran. Pendapatan dinilai berdasarkan nilai realisasinya yaitu sejumlah uang yang diterima oleh Bendarawan Umum Daerah dalam tahun anggaran berjalan. Didalam melakukan pembukuan pendapatan, harus dilaksanakan berdasarkan azas bruto dan tidak diperbolehkan mencatat jumlah nettonya. Secara spesifik tujuan dari pelaporan keuangan pemerintah adalah untuk menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan juga untuk menunjukkan akuntabilitas pelaporan atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya dengan
i. Menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah.
ii. Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, ekuitas dana pemerintah
iii. Menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi dan penggunaan sumber daya ekonomi.
iv. Menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan mendanai aktivitasnya dan memenuhi kebutuhan kasnya.
v. Menyediakaninformasi mengenai potensi pemerintah untuk membiayai penyelenggaraan kegiatan pemerintahan.
vi. Menyediakan Informasi yang berguna untuk mengevaluasi kemampuan entitas pelaporan dalam mendanai aktivitasnya.
2. Analisis Peranan Pengawasan Internal Dalam Penerimaan Pendapatan Retribusi.
a. Prosedur yang dilakukan Bawasda dalam melakukan pengawasan Prosedur yang dilakukan Bawasda didalam melakukan pengawasan terhadap dinas ialah, hal pertama yang dilakukan Bawasda sebelum melakukan pemeriksaan , auditor Bawasda melapor kepada Dinas-dinas yang akan diperiksa. Setelah auditor Bawasda melapor, maka akan ditetapkan kapan pemerikasaan akan dilakukan. Setelah tanggal pemeriksaan atau pengawasan ditetapkan maka peneriksaan akan segera dilaksanakan sesuai dengan tanggal tersebut. Setelah bawasda melakukan pemeriksaan maka Bawada akan Melaporkan hasil dari temuan-temuan yang mereka berikan dan selanjutnya memberikan saran-saran perbaikan atas kelemahan atau kekurangan yang ada pada masing-masing dinas didalam melakukan tugas nya untuk mengelola pendapatan yang mereka terima.
b. Pengawasan Bawasda terhadap Penenerimaan Pendapatan Retribusi Pengawasan internal yang dilakukan bawsda terhadap penerimaan pendapatan retribusi dilakukan pada masing-masing Dinas yang mengelola retribusi tersebut. Bawasda juga melakukan pengawasan pada Bagian Keuangan Serkretariat Daerah terhadap Laporan Realisasi Anggaran terhadap Retribusi yang dilaporkan masing-masing Dinas ke bagian Keuangan Sekretariat daerah telah sesuai dengan yang ada pada masing-masing dinas.
Didalam melakukan tugasnya Bawasda memeriksa apakah penerimaan retribusi yang dilakukan oleh masing-masing Dinas telah sesuai dengan tarif, pengukuran yang telah diatur dalma Perda untuk masing-masing retribusi. Bawasda juga memriksa bagaimana kegiatan operasional pemungutan retribusi, apakah kinerja yang dilakukan oleh masing-masing dinas efektif,efisien dan ekonomis didalam memperoleh pendapatan retribusi sebagai Pendapatan Asli Derah dapat diperoleh secara maksimal dan menghasilkan surplus dari apa yang telah dianggarkan. Agar pendapatan daerah yang diharpkan untuk diterima tidak berkurang. Pengawasan internal yang diliakukan oleh bawasda juga memeriksa bagaimana anggaran yang telah dibuat terhadap penerimaan pendapatan retribusi dengan realisasi penerimaan pendapatan retribusi. Jika terjadi defisit maka bawqasda akan memeriksa lebih detail apa yang menyebabkan sehingga terjadinya defisit didalam penerimaan pendapatan retribusi yang dilaksanakan oleh dinas yang mengelolanya. Dan apa yang membuat sehingga terjadi defisit didalam penerimaan pendapatan retribusi tersebut.
c. Pengaruh Badan Pengawasan Internal dalam Melakukan Pengawasan terhadap Penerimaan Pendapatan Reribusi
Pengawasan yang dilakukan oleh Badan Pengawasan Pemerintah Kab. Karo memiliki peran yang sangat penting didalam penerimaan pendaptan retribusi, melalui pengawasan internal yang dilakukan oleh Bawasda Dinas mendapatkan saran-saran perbaikan atas kelemahan ataupun kekurangan mereka didalam mengelola pendapatan retribusi. Agar untuk kedepannya dinas yang mengelola retribusi atau pendapatan daerah yang lainnya dapat memperbaharui atau memperbaiki kinerja mereka didalam mengelola pendapatan pajak dan retribusi. Agar pendapatan daerah yang diharapkan untuk diterima tidak berkurang.
d. Hasil Pengawasan Internal yang Dilakukan Bawasda Terhadap Penerimaan Pendapatan Retribusi
Setelah Bawasda melakukan pengawasan atau pemeriksaaan ke Dinas-dinas , hasil yang diberikan Bawasda kepada Sekretariat Daerah atau Sekda ialah Laporan Hasil Pemeriksaan. Didalam laporan tersebut Bawasda akan memberikan tentang apa saja temuan yang mereka peroleh didalam melakukan pemeriksaaan dan apa saja kelemahan apa saja yang mereka temukan. Pengawasan internal yang dilakukan oleh bawasda juga memeriksa bagaimana anggaran yang telah dibuat terhadap penerimaan pendapatan retribusi dengan realisasi penerimaan pendapatan retribusi. Jika terjadi defisit maka bawasda akan menelusuri apa yang menyebabkan hingga terjadi defisit, dimana kelemahan-kelemahan yang ada dan
selanjutnya mereka memberikan saran untuk memperbaiki kelemahan yang telah mereka lakukan didalam pemungutan.
Contoh Kasus
Pada Tanggal 6 Januari 2006, Pemda Kabupaten Karo telah mengesahkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten karo untuk Tahun anggaran 2006 dengan Perda Nomor. 001/1/KR/200X tanggal 6 Januari 2006 dengan Mencantumkan angka APBD sebesar Rp. 30.000.000,00. Pada Tanggal 9 Januari 2006 diterbitkan alokasi anggaran pendapatan bagi Dinas Pendapatan Kabupaten Karo. Anggaran pendapatan yang dialokasikan kepada Dinas Pendapatan Kabupaten Karo sebesar Rp. 2.000.000,00. Pada Tanggal 9 Februari 2006 diterima setoran melalui kas Daerah dari Dinas Pendapatan Karo atas retribusi Pelayanan Pasar sebesar Rp.300.000, dan pada saat realisasi pendapatan akhir periode sebesar Rp. 1.500.000,00. Dalam hal ini Dinas Pendapatan mengalami Defisit atas alokasi anggaran yang telah diterbitkan Pemerintah Kabupaten karo.
Diminta:
Buat Jurnal untuk kejadian tersebutdan jurnal penutup Bagaimana penngawasan internal untuk kejadian tersebut Penyelesaian:
a) Jurnal pada saat Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah disetujui/disahkan dan jurnal penutup
6 Jan 2006 Estimasi Pendapatan Rp. 30.000.000
Surplus/ Defisit Tahun Pelaporan Rp. 30.000.000 Jurnal Pada saat anggaran pendapatan dialokasikan kepada Dinas Pendapatan
9 Jan 2006 Estimasi Pendapatan yang dialoksikan Rp. 2.000.000 (Dinas Pendapatan)
Alokasi Estimasi Pendapatan Rp. 2.000.000
Pada Saat realisasi yaitu pada saat kas diterima dari dinas Pendapatan Kab. Karo dan dibukukan oleh Bendaharawan Umum Kas Daerah (Kas Daerah) dijurnalsebagai berikut:
9 Feb 2006 Kas di Kas Daerah Rp. 300.000
Retribusi Pelayanan Pasar Rp. 300.000
Jurnal Penutup pada saat realisasi pendapatan pada akhir periode Rp.1.500.000
31 Des 2006 Pendapatan Rp.1.500.000 Defisit tahun Pelaporan 500.000
Estimasi Pendapatan yang dialokasikan Rp.2.000.000
Alokasi Estimasi Pendapatan Rp. 2.000.000
b) Pengawasan Internal Yang dilakukan terhadap Kejadian tersebut ialah: Badan Pengawas Pemerintah memeriksa Pendapatan retribusi yang dikelola oleh Dinas Pendapatan pada akhir periode, kemudian Bawasda meemeriksa laporan pendapatan atas retribusi yang mereka kelola. Bawasada memeriksa Laporan realisai pendapatan retribusi apakah trjadi surplus atau defisit dari yang telah dianggarkan dalam estimasi pendapatan.Bawasda juga memriksa apakah didalam kegiatan operasional yang dilakukan Dinas Pendapatan telah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Daerah terhadap retribusi. Dimana dalamPerda tersebut telah ditetpkan tentang tari, pengukuran, pemungutan terhadap retribusi dan bagaimana kinerja yang dilakukan oleh Dinas Penda[atan Dalam Melakukan Pemungutan Retribusi Pelayanan Pasar. Jika terjadi Defisit seperti pada kasusu di atas Badan pengawas akan membuat laporan tas termuan yang mereka dapatkan dalam laporan Hasil Pemeriksaan dan selanjutnya Bawasda akan memberikan saran-saran untuk perbaikan atas kelemehan atau kelemehan yang ada pada Dinas Pendapatan dalam melakukan pemungutan retribusi. Agar kedepannya nanti didalam melakukan Pemungutan retribusi, Penerimaan Pendapatan retribusi yang dikelola oleh Dinas Pendapatan terhadap Retribusi Pelayanan Pasar yang merupakan salah satu bagian dari pendapatan retribusi dan juga bagian dari Pendapatan Asli Daerah tidak lagi defisit melainkan menjadi surplus.
BAB V