A. Pengertian dan Ruang Lingkup
Aset merupakan sumber daya yang mutlak diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Aset merupakan sumber daya ekonomi yang dimiliki dan/atau dikuasai oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.
Aset yang berada dalam pengelolaan pemerintah tidak hanya yang dimiliki oleh pemerintah saja, tetapi juga termasuk aset pihak lain yang dikuasai pemerintah dalam rangka pelayanan ataupun pelaksanaan tugas dan fungsi pemerintah. Aset pemerintah bukanlah sebagai sumber daya untuk memperoleh pendapatan, namun mencerminkan potensi pelayanan bagi masyarakat. Oleh karena itu dalam mengukur kemampuan keuangan pemerintah tidaklah tepat jika dilakukan dengan membandingkan antara pendapatan dan total aset yang tersedia. Kecukupan tersedianya aset dapat diukur dengan membandingkan antara aset yang tersedia dengan kebutuhan dalam pelayanan, yang pada umumnya ditentukan dalam rasio-rasio yang relevan sesuai dengan fungsinya dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Definisi aset di atas mencerminkan bahwa ruang lingkup aset pemerintah sangatlah luas. Aset pemerintah dapat diklasifikasikan sebagai aset keuangan dan aset non keuangan. Aset keuangan mencakup kas, piutang, dan investasi. Dalam
BAB VI PENGELOLAAN ASET DAN UTANG non keuangan ada yang dapat diidentifikasi dan ada yang tidak dapat diidentifikasi. Aset non keuangan yang dapat diidentifikasi berupa aset berwujud dan aset tidak berwujud. Aset berwujud berupa persediaan dan aset tetap, yang dalam peraturan perundang-undangan lebih dikenal dengan nama barang milik negara. Aset yang tidak teridentifikasi dapat berupa sumber daya alam dan sumber daya manusia. Bagan aset pemerintah dapat dilihat pada gambar berikut:
ASET PEMERINTAH Aset Keuangan & Utang Aset Non keuangan Kas & Setara kas Piutang & Utang Investasi Dapat Diidentifikasi Tidak dapat diidentifikasi Berwujud Tidak Berwujud SDM dll Persediaan Aset Tetap SDA B. Pengelolaan Kas
Kas merupakan sumber daya yang mutlak diperlukan untuk menjalankan pemerintahan. Kas seringkali dikatakan bagaikan darah bagi suatu organisasi. Tanpa kas suatu organisasi tidak akan berjalan dengan baik. Oleh karena itu Pemerintah dituntut melakukan pengelolaan kas dengan baik.
Pengelolaan kas di pemerintah terutama bertujuan untuk dapat melaksanakan anggaran secara efisien serta melakukan manajemen sumber daya keuangan yang baik. Pengelolaan kas yang baik dapat menghasilkan pengendalian pengeluaran secara efisien, meminimumkan biaya pinjaman, dan memaksimumkan hasil yang
BAB VI PENGELOLAAN ASET DAN UTANG diperoleh dari penempatan kas. Hal ini dilakukan melalui:
1. Perencanaan kas (cash planning ) dan perencanaan kebutuhan kas (cash forecasting );
2. Memperpendek waktu yang diperlukan untuk penagihan dan pembayaran dilakukan secara tepat waktu (float management );
3. Manajemen rekening bank dengan melakukan pemusatan saldo kas (Treasury Single Account/TSA) ;
4. Pembentukan dana kas kecil dengan sistem dana tetap (imprest fund ) untuk membiayai keperluan sehari-hari perkantoran;
5. Penempatan saldo kas yang belum digunakan dalam bentuk setara kas atau penanaman sementara (temporary investment).
Hal ini telah diatur dalam Undang-Undang No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara. Pada prinsipnya pemerintah harus dapat menjamin ketersediaan dana yang diperlukan secara tepat waktu dan aman dalam rangka pelaksanaan anggaran. Agar kas tersedia pada saat diperlukan maka perlu adanya rencana penarikan dana dan rencana penerimaan dari pengguna anggaran. Dari rencana ini dapat disusun budget kas sehingga dapat diketahui jumlah arus masuk dan arus keluar kas untuk suatu periode serta surplus/defisit kas yang terjadi. Dengan informasi demikian maka Bendahara Umum Negara dapat mengatur penempatan saldo kas yang menganggur serta menerapkan strategi pinjaman untuk menutup defisit kas.
C. Pengelolaan Piutang
Piutang merupakan hak pemerintah untuk menagih pada pihak lain Piutang ini dapat terjadi karena hubungan perdata, seperti adanya jual beli atau pinjam meminjam, namun bisa juga terjadi karena ketentuan perundang-undangan, seperti piutang pajak.
Dalam Undang-undang diatur bahwa Kementerian Negara/Lembaga yang mempunyai piutang wajib mengupayakan penerimaannya kembali secara tepat
BAB VI PENGELOLAAN ASET DAN UTANG Dalam rangka menjaga agar piutang dapat diterima kembali secara tepat waktu, Kementerian Negara/Lembaga dituntut untuk mengatur berbagai hal yang terkait dengan piutang secara seksama. Hal-hal seperti perencanaan, pemberian pinjaman atau penjualan secara kredit atau penerbitan surat ketetapan, pencatatan, pelaporan, penilaian, penagihan, dan penghapusan piutang harus diatur secara tegas. Pengendalian intern harus tercermin dan melekat sejak proses timbulnya piutang sampai dengan berakhirnya, karena pembayaran atau penghapusan.
Piutang pemerintah jenis tertentu, seperti piutang pajak, mempunyai hak mendahului. Penyelesaian piutang yang terjadi karena hubungan keperdataan dapat dilakukan melalui perdamaian kecuali untuk piutang yang penyelesaiannya diatur sendiri dalam undang-undang. Penyelesaian piutang yang demikian ditetapkan oleh Menteri Keuangan untuk jumlah sampai dengan Rp 10 milyar, oleh Presiden untuk jumlah diatasnya sampai dengan Rp 100 milyar, dan jumlah diatasnya oleh Presiden dengan persetujuan DPR.
Dalam hal terdapat piutang tak tertagih dapat dihapuskan secara mutlak atau bersyarat dari pembukuan. Penghapusan piutang tak tertagih sampai dengan Rp 10 milyar dapat dilakukan oleh Menteri Keuangan. Penghapusan piutang di atas Rp 10 milyar sampai dengan Rp 100 milyar dilakukan oleh Presiden, sedangkan di atas Rp 100 milyar oleh Presiden dengan persetujuan DPR.
D. Pengelolaan Utang
Sehubungan diberlakukannya anggaran defisit (I Account ) berarti anggaran pendapatan tidak harus sama dengan anggaran belanja. Dalam UU No.17 Tahun 2003 ditekankan bahwa dalam memanfaatkan surplus anggaran atau membiayai defisit anggaran harus mempertimbangkan keseimbangan generasi. Defisit anggaran antara lain dapat dibiayai dari pinjaman. Berdasarkan No.17 Tahun 2003 defisit anggaran dalam suatu tahun anggaran maksimum sebesar 3 (tiga) persen dari Pendapatan Domestik Bruto, dan akumulasi utang maksimum sebesar 60 (enam puluh) persen dari Pendapatan Domestik Bruto. Dalam rangka pengendalian defisit anggaran dan akumulasi pinjaman secara nasional, Menteri
BAB VI PENGELOLAAN ASET DAN UTANG Keuangan mempunyai kewenangan untuk mengaturnya. Ketentuan tentang besarnya defisit serta jumlah utang yang dapat dimiliki oleh suatu pemerintah daerah diatur setiap tahun dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Dalam melakukan pengelolaan utang harus diperhatikan struktur portofolio utang berikut biaya serta risikonya. Risiko-risiko yang perlu dipertimbangkan antara lain risiko pasar, risiko pendanaan kembali, risiko likuiditas, risiko kredit, risiko penyelesaian, dan risiko operasional. Hal ini perlu dilakukan untuk memperoleh pinjaman yang paling efisien dan untuk meyakini bahwa pemerintah mampu membayar bunga dan angsuran secara tepat waktu.
Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara mempunyai kewenangan untuk mengadakan pinjaman. Pinjaman dapat berupa pinjaman yang dilakukan secara bilateral atau multilateral. Pinjaman ini dapat diteruspinjamkan kepada pemerintah daerah/BUMN/BUMD. Pinjaman ini dituangkan dalam suatu naskah perjanjian pinjaman. Sejalan dengan azas bruto maka biaya yang terjadi karena penarikan pinjaman dibebankan pada anggaran belanja. Disamping itu pemerintah juga dapat menerbitkan surat utang negara.
Disamping ada utang yang berasal dari pinjaman, pemerintah juga bisa mempunyai utang karena kegiatan operasional atau utang perhitungan pihak ketiga (PFK). Utang operasional antara lain timbul sehubungan dengan adanya pengadaan barang/jasa yang telah diterima tetapi pada akhir tahun anggaran belum dibayar. Dengan demikian utang yang berasal dari kegiatan operasional ini dapat terjadi di kementerian negara/lembaga. Utang PFK timbul karena adanya uang yang dipungut oleh pemerintah untuk kepentingan pihak lain dan belum disampaikan kepada pihak tersebut.Terhadap utang-utang ini, pengguna anggaran atau kuasa pengguna anggaran juga wajib menatausahakan dan melaporkannya dalam laporan keuangan. Pengguna Anggaran atau Kuasanya berkewajiban mengelola utang dalam kepengurusannya dan menguji setiap klaim sebelum memerintahkan pembayaran atas beban anggaran
BAB VI PENGELOLAAN ASET DAN UTANG BAB VI PENGELOLAAN ASET DAN UTANG jatuh
jatuh tempo, tempo, kecuali kecuali ditetapkan ditetapkan lain lain dalam dalam undang-undang. undang-undang. Kedaluwarsa Kedaluwarsa ini ini akanakan tertunda jika pihak yang berpiutang mengajukan tagihan kepada negara sebelum tertunda jika pihak yang berpiutang mengajukan tagihan kepada negara sebelum berakhirnya masa kedaluwarsa. Ketentuan kedaluwarsa ini tidak berlaku untuk berakhirnya masa kedaluwarsa. Ketentuan kedaluwarsa ini tidak berlaku untuk pembayaran bunga dan pokok utang yang t
pembayaran bunga dan pokok utang yang timbul karena pinjaman.imbul karena pinjaman.
E.
E. Pengelolaan InvestasiPengelolaan Investasi
Pemerintah dapat melakukan investasi karena berbagai alasan, antara lain Pemerintah dapat melakukan investasi karena berbagai alasan, antara lain memanfaatkan surplus anggaran untuk memperoleh pendapatan atau memanfaatkan surplus anggaran untuk memperoleh pendapatan atau memanfaatkan dana yang belum digunakan dalam bentuk invetasi jangka pendek memanfaatkan dana yang belum digunakan dalam bentuk invetasi jangka pendek dalam rangka manajemen kas. Investasi jangka pendek yang dilakukan pemerintah dalam rangka manajemen kas. Investasi jangka pendek yang dilakukan pemerintah harus memenuhi karakteristik dapat segera dicairkan, ditujukan dalam rangka harus memenuhi karakteristik dapat segera dicairkan, ditujukan dalam rangka manajemen kas, dan berisiko rendah.
manajemen kas, dan berisiko rendah.
Investasi jangka panjang dapat berupa investasi permanen dan investasi non Investasi jangka panjang dapat berupa investasi permanen dan investasi non permanen. Investasi ini dapat dilakukan oleh pemerintah melalui pasar modal atau permanen. Investasi ini dapat dilakukan oleh pemerintah melalui pasar modal atau investasi langsung pada bidang usaha tertentu. Investasi melalui pasar modal investasi langsung pada bidang usaha tertentu. Investasi melalui pasar modal dapat dilakukan dengan membeli saham atau surat utang. Investasi yang dilakukan dapat dilakukan dengan membeli saham atau surat utang. Investasi yang dilakukan oleh pemerintah tidak semata-mata bertujuan untuk memperoleh manfaat oleh pemerintah tidak semata-mata bertujuan untuk memperoleh manfaat ekonomi, seperti diperolehnya keuntungan, tetapi bisa juga karena diperolehnya ekonomi, seperti diperolehnya keuntungan, tetapi bisa juga karena diperolehnya manfaat sosial, atau manfaat lainnya.
manfaat sosial, atau manfaat lainnya.
Investasi permanen merupakan investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk Investasi permanen merupakan investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan, misalnya penyertaan modal pemerintah pada
dimiliki secara berkelanjutan, misalnya penyertaan modal pemerintah pada BUMN.BUMN. Investasi nonpermanen adalah investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk Investasi nonpermanen adalah investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan. Dengan demikian investasi nonpermanen ini dimiliki secara tidak berkelanjutan. Dengan demikian investasi nonpermanen ini dimaksudkan akan dicairkan kembali suatu saat, misalnya dana bergulir.
dimaksudkan akan dicairkan kembali suatu saat, misalnya dana bergulir.
F.
F. Pengelolaan Barang Milik NegaraPengelolaan Barang Milik Negara
Barang milik negara mencakup semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban Barang milik negara mencakup semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Perolehan ini antara lain dapat APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Perolehan ini antara lain dapat dilakukan melalui pembelian, pembangunan, pertukaran, kerja sama, hibah/donasi, dilakukan melalui pembelian, pembangunan, pertukaran, kerja sama, hibah/donasi, dan rampasan.
BAB VI PENGELOLAAN ASET DAN UTANG BAB VI PENGELOLAAN ASET DAN UTANG Dalam rangka menertibkan pengelolaan barang milik negara, maka dilakukan Dalam rangka menertibkan pengelolaan barang milik negara, maka dilakukan pembagian kewenangan yang jelas atas barang milik negara. Menteri Keuangan pembagian kewenangan yang jelas atas barang milik negara. Menteri Keuangan adalah sebagai pengelola barang berwenang mengatur pengelolaan barang milik adalah sebagai pengelola barang berwenang mengatur pengelolaan barang milik negara berdasarkan peraturan perundang-undangan. Menteri/pimpinan lembaga negara berdasarkan peraturan perundang-undangan. Menteri/pimpinan lembaga berkedudukan sebagai pengguna barang pada instansi yang dipimpinnya. Para berkedudukan sebagai pengguna barang pada instansi yang dipimpinnya. Para pengguna barang wajib mengelola dan menatausahakan barang milik negara yang pengguna barang wajib mengelola dan menatausahakan barang milik negara yang berada dalam penguasaannya dengan sebaik-baiknya.
berada dalam penguasaannya dengan sebaik-baiknya.
Pengelolaan barang milik negara dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Pengelolaan barang milik negara dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Pada suatu negara yang masih menganut line item budgeting, pada umumnya belum Pada suatu negara yang masih menganut line item budgeting, pada umumnya belum memperhatikan kebutuhan barang untuk melaksanakan fungsinya secara efisien. memperhatikan kebutuhan barang untuk melaksanakan fungsinya secara efisien. Hal ini dikarenakan belum di
Hal ini dikarenakan belum dilakukan perhitungan biaya layanan secara benar dalamlakukan perhitungan biaya layanan secara benar dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan pengukuran kinerjanya belum memberikan pelayanan kepada masyarakat dan pengukuran kinerjanya belum dilakukan secara utuh dengan menerapkan full costing. Di negara yang telah dilakukan secara utuh dengan menerapkan full costing. Di negara yang telah menerapkan anggaran berbasis kinerja, pengelolaan barang pada umumnya menerapkan anggaran berbasis kinerja, pengelolaan barang pada umumnya dilakukan dengan cara lebih efisien karena seluruh komponen biaya dimasukkan dilakukan dengan cara lebih efisien karena seluruh komponen biaya dimasukkan sebagai unsur biaya layanan. Dengan demikian maka barang yang diminta dan sebagai unsur biaya layanan. Dengan demikian maka barang yang diminta dan digunakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan.
digunakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan.
Dalam rangka menjaga kesinambungan pelayanan kepada masyarakat, dilakukan Dalam rangka menjaga kesinambungan pelayanan kepada masyarakat, dilakukan pengaturan atas penghapusan serta pemindahtanganan barang milik negara. pengaturan atas penghapusan serta pemindahtanganan barang milik negara. Barang milik negara yang diperlukan dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan Barang milik negara yang diperlukan dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan tidak dapat dipindahtangankan. Pengahapusan barang milik negara pada prinsipnya tidak dapat dipindahtangankan. Pengahapusan barang milik negara pada prinsipnya harus mendapat persetujuan DPR. Pemindahtangan dapat dilakukan setelah harus mendapat persetujuan DPR. Pemindahtangan dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan DPR.
mendapat persetujuan DPR.
Dengan memperhatikan bahwa tanah dan bangunan merupakan kekayaan negara Dengan memperhatikan bahwa tanah dan bangunan merupakan kekayaan negara yang
yang sangat sangat penting penting artinya artinya serta serta nilainya nilainya signifikan signifikan maka maka pemindahtangananpemindahtanganan tanah dan bangunan harus mendapat persetujuan DPR kecuali untuk tanah dan tanah dan bangunan harus mendapat persetujuan DPR kecuali untuk tanah dan bangunan yang tidak sesuai lagi dengan tata ruang wilayah atau penataan kota. bangunan yang tidak sesuai lagi dengan tata ruang wilayah atau penataan kota. Demikian pula untuk bangunan yang sudah memperoleh alokasi anggaran untuk Demikian pula untuk bangunan yang sudah memperoleh alokasi anggaran untuk
BAB VI PENGELOLAAN ASET DAN UTANG BAB VI PENGELOLAAN ASET DAN UTANG ekonomis.Hal in terjadi karena pada dasarnya DPR telah menyetujuinya pada saat ekonomis.Hal in terjadi karena pada dasarnya DPR telah menyetujuinya pada saat pembahasan tata ruang ataupun pembahasan APBN.
pembahasan tata ruang ataupun pembahasan APBN.
Dalam rangka efisiensi pengelolaan barang selain tanah dan bangunan, proses Dalam rangka efisiensi pengelolaan barang selain tanah dan bangunan, proses penghapusan dan pemindahtangannya dapat dilakukan dengan cara yang lebih penghapusan dan pemindahtangannya dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana. Pemindahtanganan barang milik negara selain tanah dan bangunan sederhana. Pemindahtanganan barang milik negara selain tanah dan bangunan dengan nilai sampai dengan Rp 10 milyar dilakukan oleh Menteri Keuangan, di atas dengan nilai sampai dengan Rp 10 milyar dilakukan oleh Menteri Keuangan, di atas Rp 10 milyar sampai dengan Rp 100 milyar oleh
Rp 10 milyar sampai dengan Rp 100 milyar oleh Presiden, sedangkan di atas Rp 100Presiden, sedangkan di atas Rp 100 milyar oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Apabila pemindahtanganan ini milyar oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Apabila pemindahtanganan ini dilakukan dengan penjualan maka harus dilakukan dengan lelang. Dengan dilakukan dengan penjualan maka harus dilakukan dengan lelang. Dengan pengaturan demikian diharapkan pengelolaan barang dapat dilakukan dengan lebih pengaturan demikian diharapkan pengelolaan barang dapat dilakukan dengan lebih efisien.
efisien.
Pengamanan barang milik negara merupakan salah satu sasaran pengendalian Pengamanan barang milik negara merupakan salah satu sasaran pengendalian intern, baik dari aspek fisik, administrasi, maupun hukum. Oleh karena tanah dan intern, baik dari aspek fisik, administrasi, maupun hukum. Oleh karena tanah dan bangunan harus dilengkapi dengan bukti kepemilikan dan ditatausahakan dengan bangunan harus dilengkapi dengan bukti kepemilikan dan ditatausahakan dengan tertib. Tanah harus disertifikatkan atas nama Pemerintah RI. Tanah dan tertib. Tanah harus disertifikatkan atas nama Pemerintah RI. Tanah dan bangunan yang tidak lagi digunakan untuk menjalankan tugas dan fungsi bangunan yang tidak lagi digunakan untuk menjalankan tugas dan fungsi pemerintahan wajib dikembalikan kepada Menteri Keuangan. Barang milik negara pemerintahan wajib dikembalikan kepada Menteri Keuangan. Barang milik negara tidak diperkenankan untuk digadaikan atau digunakan sebagai jaminan dan tidak tidak diperkenankan untuk digadaikan atau digunakan sebagai jaminan dan tidak boleh diserahkan kepada pihak lain sebagai pembayaran utang. Disamping itu boleh diserahkan kepada pihak lain sebagai pembayaran utang. Disamping itu barang milik negara atau barang pihak lain yang dikuasai negara yang diperlukan barang milik negara atau barang pihak lain yang dikuasai negara yang diperlukan untuk penyelenggaraan tugas pemerintahan tidak dapat disita.
untuk penyelenggaraan tugas pemerintahan tidak dapat disita.
G.
G. Pengelolaan Keuangan Badan Layanan UmumPengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum
Dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan Dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, Pemerintah dapat membentuk Badan Layanan Umum (BLU). Kekayaan BLU bangsa, Pemerintah dapat membentuk Badan Layanan Umum (BLU). Kekayaan BLU merupakan
merupakan kekayaan kekayaan negara negara yang yang tidak tidak dipisahkan dipisahkan serta serta dapat dapat dikeloladikelola sepenuhnya untuk pelayanan kepada masyarakat, Oleh karena itu BLU tetap sepenuhnya untuk pelayanan kepada masyarakat, Oleh karena itu BLU tetap menyusuna anggaran sebagaimana instansi pemerintah pada umumnya untuk menyusuna anggaran sebagaimana instansi pemerintah pada umumnya untuk digabungkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian negara/lembaga digabungkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian negara/lembaga maupun APBN. Pendapatan dan belanja yang dilakukan dilaprkan dalam laporan maupun APBN. Pendapatan dan belanja yang dilakukan dilaprkan dalam laporan
BAB VI PENGELOLAAN ASET DAN UTANG keuangan kementerian negara/lembaga yang membawahinya dan dikonsolidasikan dalam laporan Keuangan Pemerintah Pusat.
Upaya peningkatan kinerja pelayanan maupun kinerja keuangan dilakukan dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan.
Pendapatan BLU dapat bersumber dari APBN, jasa layanan, hibah atau sumbangan dari masyarakat. Pendapatan BLU dapat digunakan secara langsung untuk membiayai belanjanya. Dalam pelaksanaan anggaran belanja, BLU juga diberikan pengecualian untuk tidak mengikuti ketentuan pengadaan barang/jasa sebagaimana yang berlaku di pemerintahan karena alasan efisiensi dan produktivitas. Di samping itu BLU juga diperkenankan memperoleh pinjaman untuk mendanai kegiatannya.
Untuk menjaga kinerja pelayanan dan kinerja keuanga BLU maka diperlukan adanya pembinaan. Pembinaan keuangan BLU dilakukan oleh Menteri Keuangan sedangkan pembinaan teknis dilakukan oleh kementerian teknis yang membawahinya.
BAB VII PERTANGGUNGJAWABAN ATAS PELAKSANAAN APBN