• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2.2 Pengelolaan dan pemeliharaan labi-labi

Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan oleh pihak pengelola penangkaran menentukan kualitas hidup dan kesejahteraan satwa dalam penangkaran. Aspek pemeliharaan seperti pemeliharaan habitat buatan, pengelolaan pakan, pencegahan dan pemeliharaan terhadap penyakit serta pengelolaan reproduksi baik dewasa dan pemeliharaan terhadap hasil reproduksi merupakan aspek utama dalam penangkaran yang harus diperhatikan secara seksama oleh pihak pengelola penangkaran. Tingginya tingkat kesejahteraan dan kualitas hidup satwa di dalam penangkaran harus diprioritaskan oleh pihak penangkaran. Terjaminnya kesejahteraan satwa serta kualitas hidupnya selama di penangkaran, maka satwa tersebut akan hidup secara alami seperti habitat aslinya di alam.

Kandang merupakan habitat buatan yang umum dipakai di dalam penangkaran dan harus memenuhi semua kebutuhan hidup dan perkembangan satwa. Kandang dan tempat pemeliharaan yang baik harus memenuhi kebutuhan akan luas untuk pergerakan satwa, suhu dan kelembapan serta sirkulasi udara yang cukup. Sebagai satwa yang menghabiskan hidupnya lebih banyak di air, labi-labi memerlukan air yang cukup dan sesuai sebagai media hidupnya. Selain tersedianya kandang beserta komponen pelengkapnya secara lengkap seperti pasir untuk bertelur dan tempat naik ke permukaan air, ketersediaan kolam dan pengelolaan pengairan dan sanitasi air di kolam tersebut juga harus selalu diperhatikan.

Kandang labi-labi dewasa yang terletak di penangkaran PT. Ekanindya Karsa secara umum telah memenuhi syarat kandang yang baik. Hal ini dapat disimpulkan karena kandang yang tersedia telah dianggap mampu memenuhi kebutuhan hidup labi-labi. Komponen umum yang telah ada di dalam kandang ini adalah kolam sebagai tempat hidup dan berlindung, dan daratan berpasir sebagai tempat bertelur. Labi-labi yang berjumlah 9 ekor ditempatkan di kandang yang cukup luas yaitu kurang lebih seluas total 136 m² yang terbagi atas daratan berpasir dan kolam. Daratan berpasir kurang lebih seluas 88 m² dan kolam air seluas 48 m². Luasan kandang dan kolam ini dinilai telah memadai untuk pergerakan dan pertumbuhan labi-labi dewasa yang diperkirakan memerlukan luas minimum untuk bergerak sebesar 10 m² (Amri & Khairumman 2002). Luasan kandang dan kolam ini memungkinkan untuk ditambahnya bibit labi-labi untuk memaksimalkan kegiatan reproduksi.

Berbeda dengan dewasa, anakan labi-labi ditempatkan di bak pemeliharaan sesuai dengan kelompok telur dan waktu menetasnya. Anakan tidak disatukan dengan alasan untuk memaksimalkan aspek perawatan dan pemantauan terhadap perkembangan tubuhnya. Anakan labi-labi ditempatkan dalam bak pemeliharaan seluas 1,064 m² yang diisi sebanyak 8 – 15 anakan sesuai dengan kelompok dan waktu penetasan yang sama. Bak pemeliharaan ini digunakan pihak penangkaran untuk menggantikan tempat pendederan dan pembesaran anakan, karena tempat pemeliharaan yang permanen belum tersedia. Bak pemeliharaan ini dianggap telah memenuhi syarat tempat pemeliharaan dan pendederan yang menurut Amri dan Khairumman (2002) setidaknya harus seluas 6 m² untuk menampung kurang lebih 400 larva anakan. Anakan labi-labi yang berada di penangkaran tidak dipelihara dengan dewasa karena dikhawatirkan terjadi kanibalisme dan intimidasi dari individu dewasa. Pemisahan ini juga dilakukan untuk memaksimalkan pemeliharaan anakan dikarenakan jenis pakan dan cara pemberian pakan dewasa dan anakan berbeda.

Habitat yang mamadai dan memenuhi kriteria pemeliharaan tentunya harus didukung dengan pemeliharaan serta pengelolaan habitat, baik itu perawatan kandang dan kolam, sanitasi, pengolahan limbah serta bentuk sistem pengairan air yang baik. Lokasi penelitian yang terletak diperbatasan Tanggerang

dan Serang telah banyak dipadati oleh industri skala besar (pabrik). Setiap kegiatan produksi tentunya menghasilkan limbah yang dapat mencemari lingkungan sekitar dan menurunkan kualitas kehidupan masyarakat sekitar. PT. Ekanindya Karsa merupakan salah satu perusahaan yang telah memperhatikan dampak limbah air bagi kondisi lingkungan sekitar. Oleh karena itu dibuatlah sistem “daur ulang” air limbah sehingga tidak ada air limbah yang dihasilkan (zero waste system).

Zero waste system adalah sebuah sistem daur ulang air yang bertujuan untuk meminimalisir penggunaan air dan jumlah air limbah yang dihasilkan dengan menggunakan sistem saring. Sistem ini baik digunakan terutama untuk lokasi penangkaran yang memiliki akses sumber air yang terbatas dan penangkaran skala besar yang menghasilkan limbah air kotoran dalam jumlah banyak. Sebagai penangkaran yang berlokasi di perbatasan Tanggerang dan Serang yang cukup sulit air dan menghasilkan limbah air kotoran yang banyak,

zero waste system ini dinilai sudah sesuai dengan kondisi penangkaran PT. Ekanindya Karsa. Setelah melalui setiap tahap, untuk memastikan air telah aman dan memiliki pH air yang normal, sampel air hasil saringan tersebut dialirkan terlebih dahulu ke kolam ikan. Apabila ikan tetap hidup maka air bersih hasil saringan tersebut telah dianggap aman dan dapat didistribusikan kembali ke kolam-kolam satwa. Limbah hasil endapan dan saringan tersebut dikeringkan dan dicetak menjadi batu bata.

Lokasi kandang dan kolam labi-labi dewasa berada di belakang lokasi penangkaran yang agak jauh dari aktivitas pabrik produksi kulit buaya sehingga dianggap telah ideal untuk habitat labi-labi. Sama halnya dengan labi-labi dewasa, lokasi pemeliharaan anakan labi-labi juga dibuat setenang mungkin dan terisolasi dari kegiatan manusia di penangkaran . Tempat bak pemeliharaan labi-labi terletak di wilayah anakan buaya dan tempat rehabilitasi anakan buaya yang sakit atau tidak mau makan. Dalam wilayah rehabilitasi ini telah ada aturan jelas mengenai keluar-masuknya pegawai atau animal keeper.

Pakan merupakan aspek penting dan esensial dalam kegiatan penangkaran satwa. Pemilihan jenis pakan untuk satwa yang berada di dalam penangkaran hendaknya disesuaikan dengan jenis pakan alami satwa di alam. Selain itu, pakan

yang diberikan harus memiliki komposisi dan kecukupan gizi yang baik bagi pertumbuhan dan kesehatan satwa. Berdasarkan hasil penelusuran literatur, labi-labi tergolong satwa omnivora yang lebih cenderung menyenangi daging (dominan karnivora) sebagai pilihan pakannya. Oleh karena itu PT. Ekanindya Karsa memberikan pakan berupa kepala ayam. Pemilihan jenis pakan ini awalnya dilatarbelakangi oleh ketersediaan jenis pakan di dalam penangkaran, yaitu jenis pakan kepala ayam merupakan pakan yang diberikan kepada buaya. Oleh karena itu penangkaran menyamakan jenis pakan buaya dan labi labi dengan alasan efisiensi biaya dan kemudahan dalam pengelolaan serta proses pemberian pakan. Pemberian kepala ayam sebagai pakan ini terkadang diselingi dengan pemberian ikan hidup yang dilepaskan di dalam kolam oleh animal keeper. Hal ini dilakukan untuk variasi makanan agar labi-labi tidak bosan dengan jenis pakan kepala ayam. Pemberian jenis pakan kepala ayam dan ikan ini sejatinya telah sesuai dengan jenis pakan labi-labi di alam seperti yang diungkapkan oleh Ernst dan Barbour (1989) yang menyebutkan bahwa labi-labi merupakan dominan satwa karnivora dengan pakan utama ikan. Selain pakan ini, sebaiknya pihak penangkaran memberikan pakan lain berupa pakan tambahan untuk memaksimalkan pertumbuhan dan menjamin kondisi tubuh labi-labi. Pakan tambahan yang baiknya diberikan adalah campuran antara tumbuhan, daging dan ikan yang sudah tak layak konsumsi untuk manusia serta pelet untuk memaksimalkan asupan gizi yang diperoleh oleh labi-labi. Pemberian pelet sebagai pakan tambahan bagi labi-labi ini juga baik untuk dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan labi-labi sebagaimana yang diungkapkan oleh Amri dan Khairumman (2002).

Jumlah pakan yang diberikan kepada labi-labi dewasa ini berkisar antara 3 - 5 kg dengan frekuensi pemberian pakan dua kali seminggu. Pemberian pakan kepada labi-labi dewasa ini dinilai masih kurang dikarenakan menurut Amri dan Khairumman (2002), pemberian pakan seharusnya dilakukan sebanyak dua kali sehari dengan jumlah pakan 1/10 hingga 1/5 dari berat badan rataan individu. Sesuai perhitungan rataan bobot tubuh labi-labi dewasa yaitu 10,11 kg (Tabel 3), maka pemberian pakan yang sesuai yaitu antara 1,01 – 2,022 kg untuk setiap ekor dengan frekuensi pemberian pakan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore.

Berdasarkan wawancara dan pengamatan langsung di lapangan, sisa pakan yang diberikan tidak diambil dan dibiarkan sampai habis dengan sendirinya. Hal ini sudah sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa labi-labi juga menyenangi bangkai sebagai pakannnya (Lim & Das 1999). Namun dengan membiarkan bangkai kepala ayam di dalam kolam hingga habis dengan sendirinya diduga dapat mencemari air kolam apabila tidak dilakukan pembersihan secara teratur. Berbeda halnya dengan labi-labi dewasa, pakan yang diberikan untuk anakan lebih variatif dan tergolong masih dalam tahap percobaan pemberian pakan. Selama penelitian berlangsung, pemberian pakan dilakukan sebanyak 55 kali dengan pemberian 4 jenis pakan yang berbeda yaitu cacahan siput sebanyak 1 kali pemberian, cacahan daging sapi sebanyak 19 kali pemberian, cacing darah sebanyak 10 kali pemberian dan cacahan udang sebanyak 25 kali pemberian. Persen frekuensi dan intensitas pemberian terbanyak adalah pemberian cacahan udang halus sebesar 45 persen. Intensitas pemberian udang ini besar dikarenakan selama 55 kali pemberian pakan, jenis pakan udang merupakan jenis pakan yang disukai oleh anakan. Selain disukai anakan, pemberian pakan dengan cacahan udang ini juga dilatarbelakangi efisiensi biaya pemberian pakan karena cacahan udang juga diberikan kepada hatchling (anakan) buaya yang baru menetas. Udang merupakan jenis pakan pengganti daging sapi yang dahulu diberikan oleh pengelola penangkaran kepada anakan buaya dan anakan labi-labi. Hal ini karena harga daging sapi yang mahal.

Pengelolaan dan pemberian pakan kepada labi-labi dilakukan terlebih dahulu dengan mencuci dan membersihkan bahan pakan yang akan diberikan kepada labi-labi. Pakan yang telah dibersihkan lalu dihancurkan dengan menggunakan cara menual untuk memudahkan anakan memakan pakannya. Tidak seperti anakan, pemberian pakan kepada labi-labi dewasa lebih sederhana yaitu dengan memberikan kepala ayam secara utuh dan hanya dibelah dua. Cara pemberian pakan kepada dewasa dan anakan labi-labi ini dilakukan secara langsung ke dalam kolam dan bak pemeliharaan labi-labi secara bersama-sama, yaitu tidak memisahkan pakan untuk tiap individu labi-labi. Hal ini dianggap dapat merangsang keinginan labi-labi untuk bersaing dan aktif dalam meraih pakannya. Namun, sistem pemberian pakan secara bersama-sama ini dapat

menimbulkan persaingan yang tidak sehat antara individu yang dominan dan yang tidak.

Kesehatan merupakan salah satu faktor penentu seberapa besar tingkat kesejahteraan satwa dalam penangkaran. Labi-labi merupakan satwa yang lebih banyak menghabiskan waktu hidupnya di dalam air dibandingkan dengan di daratan. Pemantauan kesehatan pada satwa ini hendaknya dilakukan dengan pengangkatan dan penegecekan secara berkala melalui kegiatan pengangkatan satwa ke daratan. Hal ini tidak dilakukan penangkaran PT. Ekanindya Karsa dikarenakan belum cukupnya pengetahuan mengenai hal ini serta kurangnya tenaga pekerja.

Menurut hasil wawancara dengan animal keeper, pemantauan kesehatan terhadap labi-labi tidak pernah dilakukan secara khusus sehingga labi-labi yang sakit atau terluka tidak diketahui secara pasti. Kematian lima ekor labi-labi pada tahun-tahun pertama kegiatan pemeliharaan di penangkaran ini tidak diketahui sebabnya. Diketahuinya kematian kelima ekor labi-labi ini mati oleh pihak penangkaran ketika bangkai tubuh labi-labi tersebut sudah mengapung di permukaan kolam.

Air keruh dan berwarna hijau pekat juga menjadi permasalahan dalam pengelolaan pemeliharaan kesehatan labi-labi di dalam penangkaran. Air yang keruh ini mengakibatkan terbatasnya upaya pengamatan dan observasi terhadap kesehatan labi-labi yang dilakukan dari permukaan air. Jalan satu-satunya adalah menguras dan membersihkan air dan kolam labi-labi serta mengganti lumpur secara berkala serta mengangkat labi-labi dewasa ke darat untuk diamati kondisi kesehatan dan tubuhnya.

Umumnya yang terserang penyakit adalah labi-labi dewasa. Penyakit yang ditemukan selama penelitian adalah bercak jamur putih (white spot), terkelupasnya kulit karapas, daging tumbuh (kutil) yang umunya ditemukan pada bagian plastron, luka akibat perkelahian atau gigitan individu labi-labi lainnya serta kematian yang tidak diketahui sebabnya. Ciri-ciri labi-labi yang terkena penyakit adalah gerakannya yang lemah, hilang keseimbangan, nafsu makan berkurang serta seringkali terlihat menggosok-gosokan bagian tubuhnya pada benda yang keras. Kegiatan menggosok-gosokkan tubuhnya ini dapat

mengakibatkan kulit dan bagian badannya yang digosokan terlihat berwarna pucat dan berbintik putih (Amri & Khairumman 2002).

Salah satu penyakit yang terlihat ditemui pada beberapa dewasa labi labi adalah infeksi jamur. Jamur putih (white spot) umumnya ditemukan di daerah bagian karapas labi-labi. Jamur ini berbentuk bercak-bercak putih menyerupai bulatan-bulatan yang menyebar atu terlihat mengelompok di salah satu sisi karapas. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Amri dan Khiarumman (2002), jamur ini disebabkan oleh parasit Ichiyopthrius multifis. Sejauh ini, labi-labi yang terinfeksi penyakit bercak jamur putih ini tidak dipisahkan dari komunitas labi-labi lain. Penyatuan individu yang terinfeksi dengan individu lainnya yang sehat tidak dibenarkan karena infeksi jamur putih ini dapat menular dengan cepat kepada individu labi-labi lainnya.

Berdasarkan penelitian Sunyoto (2012) yaitu melalui pengujian laboratorium yang dilakukan di Stasiun Karantina Ikan, Pengendali Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Cirebon, jenis jamur yang biasanya menyerang labi-labi di Desa Belawa Kabupaten Cirebon adalah serangan jamur Saprolegniaceae

serta bakteri Citrobacter freundii dan Aeromonas hydrophila. Gejala terhadap infeksi jamur ini adalah adanya luka-luka di tubuhnya, luka berlendir dengan luka warna putih dan kemerahan, aktivitas lemah dan sering berada di darat. Jenis jamur ini sepertinya tidak menginfeksi induk labi-labi di penangkaran PT. Ekanindya Karsa dikarenakan tidak samanya gejala yang timbul.

Upaya penyembuhan dan penanggulangan yang dapat dilakukan dari gangguan jamur ini adalah dengan cara membersihkan kolam dengan teratur serta kolam dikeringkan hingga lumpur dan tanah yang berada di dasar kolam labi-labi kering sehingga hama dan jamur di dalam kolam tersebut mati. Apabila individu labi-labi telah terinfeksi jamur ini maka menurut Amri dan Khairumman (2002), pengobatan yang sesuai adalah dengan cara mengangkat labi-labi dari kolam dan merendam labi-labi tersebut (diusahakan bagian yang terkena jamur terkena dengan sempurna) ke dalam larutan Malachite Green sebanyak 0,1 miligram yang telah diencerkan sebanyak 1 liter air selama kurang lebih 24 jam. Selanjutnya apabila labi-labi telah sembuh, labi-labi tersebut tidak boleh langsung dikembalikan dulu ke dalam kolam bersama labi-labi lainnya. Labi-labi ini harus

dikarantina dulu beberapa minggu dalam kolam atau tempat pemeliharaan yang berbeda agar sisa-sisa infeksi jamur tidak menyebar ke individu lain.

Daging tumbuh atau kutil pada labi-labi ditemukan umumnya pada bagian plastron. Keberadaan daging tumbuh ini diduga disebabkan oleh faktor dalam tubuh labi-labi sendiri. Selama tidak mengganggu aktivitas dan pergerakan harian labi-labi, keberadaan daging tumbuh atau kutil ini masih dapat di toleransi. Apabila daging tumbuh ini mempengaruhi pergerakan labi-labi, maka sepertinya harus diambil tindakan medis seperti operasi ringan yaitu pembedahan penghilangan daging tumbuh. Hal ini tampaknya sulit dilakukan karena terbatasnya biaya dan tenaga medis untuk satwa seperti labi-labi di sekitar wilayah penangkaran. Guna mencegah timbulnya daging tumbuh ini pengelola penangkaan seharusnya memperhatikan asupan gizi yang diberikan kepada labi-labi dan kebersihan kolam serta airnya dengan seksama.

Gangguan kesehatan lainnya yang terlihat adalah adanya luka yang terdapat pada bagian karapas labi-labi. Luka ini harus diobati karena dapat menyebabkan infeksi dan jalan masuknya bakteri, virus atau jamur yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang lebih parah. Luka yang terdapat pada tubuh labi-labi ini diduga akibat gigitan individu lain dan akibat terkena benda tajam saat di dalam kolam. Pada salah satu individu terlihat luka robekan yang cukup besar pada bagian plastron bagian bawah dekat ekor. Diduga luka ini diakibatkan tersangkutnya tagger yang dahulu dimiliki labi-labi dan menyebabkan daging karapas terkoyak. Untuk penyebab luka lainnya selain akibat perkelahian dan gigitan individu lain, diduga luka diakibatkan adanya batu atau bagian dasar kolam yang tajam dan melukai labi-labi.

Luka-luka yang terdapat pada labi-labi ini hendaknya diobati terlebih dahulu oleh pihak penangkaran dengan cara mengangkat labi-labi kedarat, membersihkan luka labi-labi dengan atntiseptik atau dicuci dengan bersih dan segera memberikan obat penyembuh luka luar seperti betadine atau obat merah untuk mencegah infeksi lebih buruk. Selain itu juga dapat dilakukan pergantian air kolam dengan air yang lebih bersih dan lebih jernih, karena air yang kotor dan keruh akan memperburuk keadaan luka yang dimiliki oleh labi-labi.

Kematian yang terjadi terhadap lima individu bibit labi-labi dewasa pada tahun-tahun pertama pemeliharaan di penangkaran disebabkan oleh gagalnya labi-labi beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Selain itu menurut hasil wawancara pula, kematian juga disebabkan oleh terinfeksinya labi-labi oleh jamur merah (red spot) yang ditemukan animal keeper pada satu atau dua bangkai labi-labi pada bagian plastronnya. Menurut Amri dan Kahirumman (2002), bintik merah ini seringkali menyerang labi-labi pada bagian ventral (plastron) yang disebabkan oleh jamur, kutu air dan penangkapan labi-labi menggunakan setrum listrik. Penggunaan setrum listrik pada penangkapan labi-labi ini cukup berbahaya da dapat menyakiti labi-labi, disarankan penangkapan satwa ini dilakukan dengan penangkapan secara manual. Animal keeper yang akan menangkap labi-labi disarankan memakai pengaman seperti sarung tangan kulit tebal dan sepatu boot

agar terhindar dari gigitan serta cakaran kuku labi-labi yang tajam dikarenakan labi-labi tergolong satwa yang agresif menyerang apabila terganggu (Cox et al.

1998)

Kesehatan dan penyakit berhubungan dengan dua faktor utama yaitu kondisi kebersihan habitat (kolam dan kandang) serta kondisi fisiologis satwa itu sendiri (Novriyanti 2011). Maka apabila memperhatikan dari dua faktor tersebut perlu dilakukan kegiatan pencegahan penyakit secara teratur dan konsisten sedini mungkin. Seperti yang telah disebutkan dalam Gregory (1998), kesejahteraan satwa terkait akan pencegahan atau diagnosa yang cepat terhadap penyakit dan terbebasnya satwa dari luka, penyakit atau parasit.

Keberhasilan reproduksi merupakan salah satu indikator keberhasilan budidaya satwa dalam penangkaran. Pengaturan dan pengeloaan reproduksi labi-labi sangat penting untuk dilakukan demi meningkatkan besarnya potensi kawin dan bertelurnya labi-labi. Sejauh ini, penangkaran PT. Ekanindya Karsa belum mengatur reproduksi labi-labi secara khusus, semua labi-labi jantan dan betina yang ada di penangkaran di satukan tempat pemeliharaannya. Penyatuan kandang dan kolam ini telah berlangsung sejak labi-labi didatangkan dari Kalimantan sampai saat ini.

Pengelolaan reproduksi labi-labi di dalam penangkaran yang ideal meliputi pembentukan pasangan sekaligus teknik mengawinkan labi-labi,

pemantauan perkembangan reproduksi, pengkoleksian telur labi-labi, upaya penetasan telur labi-labi dan pemeliharaan anakan paska menetas. Pengelolaan reproduksi labi-labi di PT. Ekanindya Karsa ini dirasa belum optimal dikarenakan belum adanya kegiatan pengaturan reproduksi induk yang meliputi pembentukan pasangan serta teknik mengawinkan labi-labi. Setelah dilakukan observasi terhadap jenis kelamin labi-labi dewasa yang berada di penangkaran, labi-labi yang berada di penangkaran memiliki nisbah kelamin sebesar 1 : 2 yaitu terdapat 3 induk jantan dan 6 induk betina. Hal ini kebetulan sudah sesuai dikarenakan jumlah betina lebih banyak daripada jantan untuk meningkatkan potensi memperoleh keturunan yang dihasilkan oleh individu betina.

Berdasarkan data hasil peneluran (Tabel 4), labi-labi dewasa bertelur dalam rentang bulan Oktober hingga Mei. Hal ini dapat terjadi dikarenakan labi-labi betina memiliki mekanisme untuk menyimpan sel sperma dalam saluran perkembangbiakannya. Sel sperma di dalam tersebut dapat bertahan hingga satu tahun dalam kondisi yang fertil (Iskandar 2000). Disimpannya sperma ini memungkinnya labi-labi untuk bertelur lebih dari satu kali dalam setahun.

Penetasan telur di PT. Ekanindya Karsa menggunakan media penetasan dengan menggunakan inkubator. Suhu inkubator sangat menentukan jenis kelamin anakan yang ditetaskan. Penetasan telur dilakukan dengan suhu diatas 29°C maka jenis kelamin anakan yang ditetaskan adalah betina. Menurut Iskandar (2000), suhu pengeraman sebagian besar ordo Testudinata dibawah 25°C akan menghasilkan anakan jantan dan diatas 30°C akan menghasilkan betina dan suhu diantara 25 - 30°C akan menghasilkan kedua jenis kelamin dengan perbandingan tertentu. Suhu inkubator di PT. Ekanindya Karsa dijaga suhunya yaitu berkisar 29 - 30°C dengan menggunakan pengatur suhu yaitu thermostat. Melihat kisaran suhu di dalam inkubator ini maka jenis kelamin anakan hasil tetasan dominan jantan dan campuran betina dengan komposisi tertentu.

Menurut hasil wawancara dengan animal keeper, labi-labi dewasa bertelur pada saat dini hari yaitu pukul 02.00 – 04.00 WIB. Labi-labi dewasa ini akan menggali tanah dengan kaki belakangnya dan membentuk lubang sedalam kurang lebih 20 cm untuk meletakaan telurnya. Pada saat proses ini, labi-labi dewasa tidak boleh diganggu atau menimbulkan suara gaduh karena akan dapat