HASIL DAN PEMBAHASAN
4.8 Pengelolaan Irigasi Berbasis Subak
Demi terwujudnya tertib dan lancar pelaksanaan pengelolaan irigasi berbasis pada sistem subak di Kabupaten Gianyar, berdasarkan pada hasil kajian analisis dan observasi yang dilakukan pada saat pengumpulan data lapangan serta merujuk kepada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.20 tahun 2006 tentang Irigasi dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.31/PRT/M/2007 tentang Pedoman Mengenai Komisi Irigasi, maka dapat direkomendasikan pengelolaan irigasi berbasis pada sistem subak di Kabupaten Gianyar adalah sebagai berikut:
1. Membentuk Wadah Koordinasi Pengelola Irigasi
Peluang konflik didalam pemanfaatan sumber air di masa mendatang sangat berpotensi untuk terjadi, mengingat semakin banyaknya stakeholder yang terlibat didalam pemanfaatan tersebut. Penggunaan sumber air untuk berbagai kebutuhan diluar irigasi subak, seperti kebutuhan industri, kebutuhan air minum PDAM dan pemanfaatan air permukaan untuk usaha wisata seperti rafting akan berdampak pada menurunnya pasokan air untuk irigasi. Ketika ketersediaan air untuk irigasi sangat terbatas, maka konflik internal subak akan mengawali terjadinya konflik antar pengguna air. Potensi konflik antar wilayah kabupaten juga berpeluang terjadi apabila potensi sumber daya air ini tidak dikelola dengan manajemen koordinasi yang baik antar wilayah administratif. Untuk itu, perlu dibentuk wadah koordinasi irigasi di tingkat kabupaten/kota untuk mengantisipasi terjadinya konflik antar pengguna air dan konflik antar wilayah.
Didalam mewujudkan keterpaduan pengelolaan sistem irigasi, maka sesuai dengan amanah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 20 tahun 2006 tentang Irigasi, perlu dibentuk suatu wadah koordinasi yang disebut dengan Komisi Irigasi ditingkat provinsi dan ditingkat kabupaten/kota. Komisi irigasi Provinsi adalah lembaga koordinasi dan komunikasi antara wakil pemerintah provinsi, wakil perkumpulan petani pemakai air tingkat daerah irigasi, wakil pengguna jaringan irigasi pada provinsi, dan wakil komisi irigasi kabupaten/kota yang terkait Sedangkan komisi irigasi Kabupaten/kota adalah lembaga koordinasi dan komunikasi antara wakil pemerintah kabupaten/kota, wakil perkumpulan petani pemakai air tingkat daerah irigasi, dan wakil pengguna jaringan irigasi pada kabupaten/kota.
Permen Pekerjaan Umum No.31/PRT/M/2007 tentang pedoman mengenai Komisi Irigasi (Komir), mengatur tentang struktur organisasi Komisi Irigasi baik Komir Provinsi maupun Komir Kabupaten/kota. Komisi Irigasi Kabupaten/kota dibentuk oleh bupati/walikota yang terdiri dari ketua yang dijabat oleh kepala Bappeda kabupaten/kota. Keanggotaan dari Komisi Irigasi Kabupaten/kota terdiri dari wakil pemerintah kabupaten/kota dan wakil non pemerintah yang meliputi wakil perkumpulan petani pemakai air dan atau wakil kelompok pengguna jaringan irigasi dengan prinsip keanggotaan proporsional dan keterwakilan. Komisi irigasi Kabupaten/kota mempunyai tugas membantu bupati/walikota merumuskan kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi dan fungsi irigasi, merumuskan pola dan rencana tata tanam pada daerah irigasi dalam kabupaten/kota, merumuskan rencana tahunan penyediaan air irigasi, merumuskan
rencana tahunan pembagian dan pemberian air irigasi bagi pertanian dan keperluan lainnya, merekomendasikan prioritas alokasi dana pengelolaan irigasi dan memberikan pertimbangan mengenai izin alih fungsi lahan beririgasi.
Komisi Irigasi Provinsi dibentuk oleh gubernur yang terdiri dari ketua yang dijabat oleh kepala Bappeda provinsi. Keanggotaan Komisi Irigasi Provinsi beranggotakan wakil Komisi Irigasi Kabupaten/kota yang terkait, wakil perkumpulan petani pemakai air, wakil pemerintah provinsi, dan wakil kelompok pengguna jaringan irigasi dengan prinsip keanggotaan proporsional dan keterwakilan. Komisi Irigasi Provinsi membantu gubernur dengan tugas merumuskan kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi dan fungsi irigasi, merumuskan rencana tahunan penyediaan air irigasi, merumuskan rencana tahunan pembagian dan pemberian air irigasi bagi pertanian dan keperluan lainnya dan merekomendasikan prioritas alokasi dana pengelolaan irigasi.
Didalam keanggotaan Komisi Irigasi baik Komisi Irigasi Provinsi maupun Komisi Irigasi Kabupaten/kota, dengan diposisikannya wakil subak dalam wadah koordinasi Komisi Irigasi diharapkan terjadi koordinasi yang lebih efektif baik secara horisontal antar subak, subak gede dan koordinasi vertikal dengan pemerintah. Dengan demikian, permasalahan yang berhubungan dengan sistem irigasi yang dihadapi oleh subak saat ini di Kabupaten Gianyar seperti terbatasnya pasokan air irigasi, kerusakan jaringan irigasi, terbatasnya pendanaan pengelolaan irigasi, meningkatnya alih fungsi lahan dan masalah lain yang berhubungan dengan irigasi, lebih cepat dapat diatasi.
Didalam pembentukan wadah Komisi Irigasi baik Komisi Irigasi Provinsi maupun Komisi Irigasi Kabupaten/kota, pemerintah wajib mengadopsi kearifan lokal subak, dimana eksistensi lembaga Sedahan Agung merupakan salah satu komponen penting yang sangat menentukan keberlanjutan sistem subak. Lembaga Komisi Irigasi yang dibentuk, dalam operasionalnya selain melaksanakan tugas pokok dan fungsinya seperti diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 2006 tentang Irigasi dan Permen Pekerjaan Umum No.31/PRT/M/2007 tentang pedoman mengenai Komisi Irigasi, juga harus disinergikan dengan tugas-tugas lembaga Sedahan Agung agar sejalan dengan ide pembentukan lembaga Komisi Irigasi yang berbasiskan pada kearifan lokal subak. Bentuk struktur organisasi, nama organisasi, pengurus dan keanggotaan serta tugas pokok dan fungsi Komisi Irigasi harus disinergikan dengan tradisi subak yang sudah berjalan dengan baik selama ini, dan sudah diyakini keunggulannya oleh masyarakat secara luas baik dalam lingkup nasional maupun internasional.
2. Mengembalikan Eksistensi Lembaga Sedahan Agung
Pemotongan jalur koordinasi antara subak dengan pihak pemerintah dengan menghapus keberadaan lembaga Sedahan Agung dipandang terlalu dini dilakukan, karena berdampak pada tersumbatnya jalur koordinasi vertikal antara subak dengan pihak pemerintah. Adanya Undang-Undang Otonomi Daerah membuat lembaga Sedahan Agung yang awalnya berfungsi sebagai mediator dalam penyampaian informasi lapangan sudah tidak lagi difungsikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Gianyar, sedangkan alternatif solusi yang menjembatani komunikasi belum ditetapkan secara efektif. Sedahan Agung seperti disebutkan
dalam Perda No.02/PD/DPRD/1972 tentang irigasi di Provinsi Bali adalah lembaga yang dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten yang bertugas untuk mengawasi pemakaian dan pemeliharaan prasarana irigasi, mengatur pembagian air, menyelesaikan perselisihan, mengajukan usulan kepada Pemerintah Daerah dalam hal pembukaan sawah dan pendirian subak baru, perluasan areal sawah, perubahan jaringan irigasi dan pembuatan prasarana irigasi baru Didalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Dinas PU, Dinas Pertanian, badan-badan dan petugas-petugas di kabupaten yang ditentukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten.
Saat ini, hilangnya eksistensi lembaga Sedahan Agung sangat dirasakan oleh organisasi subak. Sedahan Agung merupakan induk dari organisasi subak yang bertugas mengayomi serta membina organisasi subak di Bali. Setiap permasalahan yang dihadapi oleh subak, baik menyangkut pengaturan distribusi air irigasi, rencana tata tanam maupun konflik pemanfaatan air irigasi, akan dapat terselesaikan dengan baik melalui lembaga Sedahan Agung. Namun realitanya sekarang, lembaga Sedahan Agung sudah tidak ada lagi dan melebur menjadi subordinat dari dinas-dinas yang ada. Hal ini berdampak pada peranan lembaga Sedahan Agung dalam hal membina serta mengayomi subak saat ini sudah tidak efektif lagi, sehingga subak semakin dihadapkan dengan berbagai tantangan khusunya dalam hal pengelolaan irigasi karena terkesan tercerai-berai dari induk yang mengayomi.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada saat pengumpulan data di lapangan, semua responden sependapat bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten
Gianyar harus segera mengembalikan lagi eksistensi lembaga Sedahan Agung seperti dulu, mengingat begitu besarnya peran dan fungsi lembaga Sedahan Agung bagi keberadaan subak di Kabupaten Gianyar sebagai pengelola irigasi. Sedahan Agung yang dimaksud dalam hal ini adalah lembaga Sedahan Agung yang berdiri sendiri dan bukan subordinat dari dinas lainnya. Pendapat ini juga didukung oleh beberapa hasil studi yang dilakukan sebelumnya, menurut hasil studi JICA (The Comprehensive Study On Water Resources Development and
Management in Bali Province, 2006) yang menyebutkan bahwa hampir semua
pekaseh subak di Kabupaten Gianyar berkeinginan agar Pemerintah Daerah merefungsikan kembali peran dan fungsi lembaga Sedahan Agung seperti dulu lagi. Begitu besar peran serta fungsi dari lembaga Sedahan Agung didalam pengelolaan air khususnya irigasi di Kabupaten Gianyar, maka sudah seharusnya keberadaan lembaga Sedahan Agung dihidupkan kembali dan sedapat mungkin fungsinya dikembalikan sebagai pembina subak dan berdiri sendiri dibawah tanggung jawab Pemerintah Kabupaten/Kota.