• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

H. Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan

I. Kerangka Pikir

Kerangka pemikiran teoritis dalam penelitian ini adalah pada era otonomi daerah yang dimulai pada awal tahun 2001 dapat memberdayakan daerah untuk mengembangkan sumberdaya yang dimiliki, sehingga dapat berkembang dan mandiri dalam menentukan arah kebijakan yang diambil oleh daerah tetapi masih dalam koridor Neraga Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Untuk mewujudkan kemandirian daerah, pemerintah daerah harus mampu menggali potensi daerah guna menunjang PAD, dan mencari faktor–faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap PAD. Sebagai upaya peningkatan PAD perlu diambil langkah kebijakan efisiensi di dalam pelaksanaan anggaran yang tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sehinga ada saving yang dapat dimanfaatkan untuk investasi daerah yang dialokasikan pada badan usaha baik milik daerah sendiri maupun swasta yang mau diajak bekerjasama agar mendapatkan hasil yang lebih bermanfaat untuk menambah penerimaan daerah selain dari sektor pajak dan retribusi daerah serta dari transfer pemerintah pusat melalui pengalokasian DAU atau dana perimbangan.

untuk memastikan apakah DAU yang selama ini diterima oleh daerah memang signifikan/dipengaruhi oleh variabel-variabel dalam penelitian, maka perlu dilakukan analisis realokasi anggaran. Adapun variabel-variabel yang digunakan yaitu :

1. Kebutuhan daerah, yang diwakill oleh jumlah penduduk daerah yang bersangkutan (Lains, 1985, 53), Semakin banyak penduduk suatu daerah, makin besar pula jumlah dana yang diterima untuk pembiayaan terhadap jasa-jasa lokal dan jasa-jasa teknis yang diperlukan penduduk setempat. Hal ini dapat digambarkan pada alokasi transfer dari pemerintah pusat yang diterima dengan total belanja daerah dalam APBD.

2. Berapa besar penerimaan dari sektor pajak, khususnya pajak kendaraan bermotor yang merupakan sumber penerimaan yang sangat dominan.

3. Seberapa besar pengaruh di investasi Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dapat menunjang peningkatan PAD, serta sektor lain yang mungkin berpengaruh terhadap PAD Provinsi Nusa Tenggara Timur

Adapun kerangka pikir dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar beikut ini:

Gambar 1: Bagan Kerangka Pikir

J. Definisi Operasional

Variabel Dependen dalam penelitian ini yang masuk dalam variable dependen adalah pendapatan asli daerah ( PAD ). PAD adalah merupakan suatu pendapatan yang menunjukkan kemampuan suatu daerah untuk menghimpun sumber– sumber dana untuk membiayai kegiatan daerah. Jadi pengertian PAD dapat dikatakan sebagai pendapatan rutin dari usaha – usaha pemerintah daerah

Analisis Kemampuan Keuangan Daerah Terhadap Pembangunan Daerah Pada Pemerintahan Provinsi Nusa

Tenggara Timur

Kemampuan Keuangan Daerah

1. Kemampuan terhadap pembangunan infrastrutur 2. Kemampuan pembangunan suprastruktur

3. Kemampuan membiayai kebutuhan Rutin

Faktor-faktor 1. Transfer Pusat

2. Jumlah Kendaraan Roda 2 3. Jumlah Kendaraan Roda 4/lebih 4. Investasi Daerah

Keuangan Daerah

dalam memanfaatkan potensi-potensi sumber-sumber keuangan untuk membiayai tugas– tugas dan tanggung jawabnya ( Sutrisno PH, 1982 ).

Pendapatan Asli Daerah merupakan salah satu komponen penting dalam pembangunan ekonomi daerah, karena pendapatan asli daerah digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pembangunan ekonomi di suatu daerah, oleh karena itu pendapatan asli daerah sangat diperlukan dalam pembangunan ekonomi daerah, jika pendapatan asli daerah meningkat maka dapat pula mempengaruhi produksi nasional, pendapatan asli daerah diperoleh dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Bagian Laba dari BUMD (Hasil Investasi)

Variabel pendapatan asli daerah dinotasikan dengan simbol ( Y ).

Variabel-variabel independen yang dipakai dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan suluruh penerimaan daerah yang masuk ke Kas Daerah baik yang bersumber dari pajak daerah maupun retribusi daerah, sumbangan pihak ketiga dan hasil usaha daerah serta penerimaan lainnya yang menjadi hak daerah dan merupakan potensi daerah.

2. Transfer dari pemerintah pusat yaitu penerimaan yang bersumber dari pemerintah pusat guna pelaksanaan pemerintahan di daerah sebagai perpanjangan tangan dalam melaksanakan sebagian urusan pemerintah pusat yang diserahkan kepada daerah. Transfer dari pemerintah pusat terdiri dari : Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak serta penerimaan lainnya yang sah (Dana Penyeimbang).

Transfer dari pemerintah pusat atau disebut juga dengan perimbangan keuangan ini merupakan suatu sistem pembiayaan dalam kerangka negara kesatuan yang mencakup pembagian keuangan pemerintah pusat dan daerah.

Selain itu juga merupakan pemerataan antar daerah secara proporsional, demokratis, adil dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah sejalan dengan kewajiban dan pembagian kewenangan serta tata cara penyelenggaraan kewenangan tersebut.

3. Yang dimaksud dengan Jumlah kendaraan roda 4 atau lebih yaitu jumlah kendaraan roda 4 atau lebih yang domisili pemiliknya berada di wilayah otonomi Pemerintah Provins Nusa Tenggara Timur. Hal ini terkait dengan pajak atas kepemilikan kendaraan roda 4 atau lebih yang dipungut oleh pemerintah daerah dan masuk ke Kas Daerah baik yang bersumber dari pajak kendaraan bermotor, pajak bea balik nama kendaraan bermotor atau pajak bahan bakar kendaraan bermotor dan sumbangan pihak ketiga dealer atas kendaraan roda 4 atau lebih yang baru.

4. Yang dimaksud dengan jumlah kendaraan roda 2 yaitu jumlah kendaraan roda 2 yang domisili pemiliknya berada di wilayah otonomi Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hal ini terkait dengan pajak atas kepemilikan kendaraan roda 2 yang dipungut oleh pemerintah daerah dan masuk ke Kas Daerah baik yang bersumber dari pajak kendaraan bermotor, pajak bea balik nama kendaraan bermotor atau pajak bahan bakar kendaraan bermotor dan sumbangan pihak ketiga dealer atas kendaraan roda 2 yang baru.

5. Penyertaan Modal Pemerintah Daerah yaitu dana pemerintah daerah yang dialokasikan kepada badan usaha baik milik pemerintah maupun swasta yang diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pemerintah daerah melalui bagian labanya

45

Penelitian dilakukan kurang lebih selama satu bulan, yaitu bulan Maret-April 2015

b. Lokasi penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Pemerintahan Provinsi Nusa Tenggara Timur

B. Jenis dan Tipe Penelitian a. Jenis penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Deskriptif komparatif adalah suatu jenis metode penelitian yang ingin mencari jawab secara mendasar tentang sebab akibat dengan menganalisis faktor-faktor terjadinya atau munculnya fenomena tertentu (Mohammad Nazir, 2003:58).

b. Tipe penelitian

Untuk mengumpulkan data dalam pembahasan penulisan karya ilmiah (skripsi) ini, maka ada dua jenis data yang dipakai oleh penulis yaitu :

1. Data kuantitatif: yakni data yang diperoleh penulis dalam bentuk angka misalnya data penerimaan pendapatan daerah maupun laporan keuangan.

2. Data kualitatif: yakni data yang diperoleh penulis berupa referensi baik lisan maupun literature yang menunjang penelitian.

Sumber data yang dipakai oleh penulis dalam penelitian ini adalah : 1) Primary Data (Data Primer)

Data primer adalah data yang diproleh langsung dari lapangan (objek) penelitian pengelolaan keuangan daerah terhadap pembangunan daerah.

Data primer merupakan hasil dari berbagai wawancara yang dilakukan oleh penulis dengan pejabat di bagian pendapatan dan pengelola asset daerah yang tentunya berhubungan pengelolaan keuangan daerah.

2) Secondary Data (Data sekunder)

Data sekunder adalah data yang merupakan hasil penelitian pustaka berupa buku-buku yang berkaitan dengan judul ini.

C. Informan Penelitian

Dalam penelitian ini terlebih dahulu dijelaskan mengenai informan penelitian yang akan diteliti di Pemerintahan Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu:

a. Pegawai Biro Keuangan Sekretariat daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 3 orang

b. Pegawai Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 4 orang

c. Pegawai Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 2 orang

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Metode wawancara (interview) adalah suatu proses interaksi dan komunikasi.

Penelitian ini menggunakan interview bebas terpimpin, di mana peneliti membawa kerangka pertanyaan untuk disajikan dan bersifat longgar tanpa keluar dari pedomaan yang dipakai. Wawancara tidak terstruktur yaitu hanya memuat garis-garis besar yang ingin dipertanyakan.

2. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan studi kepustakaan. Studi pustaka adalah metode pengumpulan data yang dapat dilakukan dengan cara melakukan pengamatan data dari literatur – literatur dan buku – buku yang mendukung. Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara :

a. Data diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS)

b. Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2008 – 2013.

c. Data atau infomasi yang diperoleh dari buku referensi, jurnal, majalah, surat kabar yang berkaitan dengan penelitian ini.

E. Teknik Analisis Data

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif kuantitatif (mixed). Metode kualitatif dan kuantitaf dapat digabungkan bahkan mempunyai kelebihan-kelebihan jika dibandingkan dengan menggunaka satu metode saja.

Peneliti dapat menggunakan kekuatan-kekuatan metode tambahan untuk mengatasi kelemahan metode lainnya. Selain itu menggunakan metode lebih dari

satu dimaksudkan sebagai sarana konfirmasi , jika hanya dengan satu metode peneliti menganggap temuan riset kurrang valid, maka perlu ada metode lain untuk konformasi lebih lanjut sehingga menghasilakan temuan-temuan riset yang lebih valid.

Bryman dan Brannen (1996), menjelaskan sejumlah cara penggabungan penelitian kualitatif dan kuantitatif yang telah dilakukan diperolah kesimpulan tentang pendekatan-pendekatan yang terindentifikasi, yaitu:

a. Logika ‘triangulasi’. Temuan-temuan dari suatu jenis studi dapat dicek pada temuan-temuan yang diperoleh dari jenis studi yang lain, misalnya hasil-hasil penelitian kuanlitatif dapat dicek pada studi kuantitatif. Tujuannya secara umum adalah untuk memperkuat kesahian temuan-temuan.

b. Penelitian kualitatif membantu penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif dapat membantu memberikan informasi dasar tentang konteks dan subyek dan membantu konstruksi skala.

c. Penelitian kuantitatif membantu penelitian kualitatif. Biasa ini berarti penelitian kuantitaif membantu dalam hal pemilihan subyek bagi penelitian kualitatif.

d. Penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif digabungkan untuk memberikan gambaran umum. Penelitian kuantitatif dapat digunakan untuk mengisi kesenjangan-kesenjangan yang muncul dalam studi kualitatif.

e. Struktur dan proses. Penelitian kuantitatif terutama efisien pada penelusuran ciri-ciri ‘struktural’ kehidupan sosial, sementara studi kualitatif biasanya lebih

kuat dalam aspek-aspek operasional. Kekuatan ini dapat dihadirkan bersama-sama dalam satu studi.

f. Masalah kegeneralisasian. Kelebihan beberapa fakta kuantitatif dalam membantu menyederhanakan fakta ketika seringkali tidak ada kemungkinan untuk menggeneralisasi (dalam arti statistik) temuan-temuan yang diperoleh dari penelitian kualitatif.

g. Penelitian kualitatif dapat membantu interpretasi hubungan antara variabel.

Penelitian kuantitatif dengan mudah memberi jalan bagi peneliti untuk menentukakn hubungan antara variabel, tetapi sering kali lemah ketika ia hadir untuk mengungkapkan alasan-alasan bagi hubungan-hubungan itu. Studi kuantitatif dapat digunakan untuk membantu menjelaskan faktor-fakor yang mendasari hubungan terbangun.

Data-data yang diperoleh dilapangan kemudian dianalisis dengan menggunakan rasio keuangan daerah yang diukur dengan menggunakan rumus perhitungan sebagai berikut :

1. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Rasio Kemandirian Keuangan Daerah menunjukkan tingkat kemampuan suatu daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah. Rasio kemandirian ditunjukkan oleh besarnya pendapatan asli daerah dibandingkan dibandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal dari sumber lain (pihak

ekstern) antara lain : Bagi hasil pajak, Bagi hasil Bukan Pajak Sumber Daya Alam, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus, Dana Darurat (Widodo, 2001 : 262).

Rumus yang digunakan untuk menghitung Rasio Kemandirian adalah:

Rasio kemandirian : Pendapatan Asli Daerah

Sumber Pendapatan Pihak Ekstern

Rasio kemandirian menggambarkan ketergantungan daerah terhadap sumber dana ekstern. Semakin tinggi resiko kemandirian mengandung arti bahwa tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak ekstern semakin rendah dan demikian pula sebaliknya. Rasio kemandirian juga menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah. Semakin tinggi rasio kemandirian, semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah yang merupakan komponen utama pendapatan asli daerah. Semakin tinggi masyarakat membayar pajak dan retribusi daerah menggambarkan bahwa timgkat kesejahteraan masyarakat semakin tinggi.

2. Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal

Derajat Desentralisasi Fiskal atau otonomi Fiskal Daerah adalah kemampuan pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah guna membiayai pembangunan. Derajat Desentralisasi Fiskal, khususnya komponen PAD dibandingkan dengan TPD, menurut hasil

penelitian Tim Fisipol UGM menggunakan skala interval sebagaimana terlihat dalam tabel adalah sebagai berikut (Adhidian Fajar Sakti, 2007:23):

Tabel 1.1

Sumber : Adhidian fajar sakti (2007: 22)

Derajat Desentralisasi Fiskal dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

DDF : Derajat Desentralisasi Fiskal PADt : Total PAD Tahun t

TPDt : Total Pendapatan Daerah Tahun t 3. Rasio Indeks Kemampuan Rutin

Indeks Kemampuan Rutin yaitu : Proporsi antara PAD dengan pengeluaran rutin tanpa transfer dari pemerintah pusat (kuncoro, 1997 : 9).

Sedangkan dalam menilai menilai Indeks Kemampuan Rutin (IKR) dengan

menggunakan skala menurut Tumilar (1997 : 15) sebagaimana yang terlihat dalam table sebagai berikut (Anita W, 2001 : 22)

Tabel 1.2

Sumber : Anita Wulandari (2001: 22)

Indeks Kemampuan Rutin dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Keserasian ini menggambarkan bagaimana pemerintah daerah memprioritaskan alokasi dananya pada belanja rutin dan belanja pembangunan secara optimal. Semakin tinggi presentase dana yang dialokasikan untuk belanja rutin berarti presentase belanja pembangunan yang

digunakan untuk menyediakan sarana prasarana ekonomi masyarakat cenderung semakin kecil. Secara`sederhana rasio keserasian ini dapat diformulasikan sebagai berikut (Widodo, 2001 : 262) :

Rasio Belanja Rutin :TotalBelanja APBD Rutin Belanja Total

Rasio Belanja Pembangunan : TotalBelanjaAPBD n Pembanguna Belanja

Total

5. Rasio Pertumbuhan

Rasio pertumbuhan menggambarkan seberapa besar kemampuan pemerintah daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan keberhasilan yang dicapai dari periode ke periode lainnya. Pertumbuhan APBD dilihat dari berbagai komponen penyusun APBD yang terdiri dari Pendapatan Asli Daerah, total pendapatan, belanja rutin dan belanja pembangunan (Widodo, 2001 : 270) :

Pn : Data yang dihitung pada tahun ke-n Po : Data yang dihitung pada tahun ke-0 r : Pertumbuhan

Apabila semakin tinggi nilai PAD , TPD dan Belanja Pembangunan yang diikuti oleh semakin rendahnya Belanja Rutin, maka pertumbuhannya adalah

positif. Artinya bahwa daerah yang bersangkutan telah mampu mempertahankan dan meningkatkan pertumbuhannya dari periode satu ke periode yang berikutnya. Selanjutnya jika semakin tinggi nilai PAD, TPD, dan Belanja Rutin yang diikuti oleh semakin rendahnya Belanja Pembangunan, maka pertumbuhannya adalah negatif. Artinya bahwa daerah yang bersangkutan belum mampu mempertahankan dan meningkatkan pertumbuhannya dari periode yang satu ke periode yang berikutnya.

55

instrument kebijakan fiskal yang utama bagi pemerintah daerah. Dalam APBD termuat prioritas-prioritas pembangunan, terutama prioritas kebijakan dan target yang akan dicapai melalui pelaksanaan belanja daerah sesuai sumber daya yang tersedia baik yang didapatkan melalui skema transfer maupun perpajakan daerah dan retribusi daerah.

Penetapan prioritas-prioritas tersebut beserta upaya pencapaiannya merupakan konsekuensi dari meningkatnya peran dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam mengelola pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Dengan demikian, daerah bertanggungjawab sepenuhnya agar pengelolaan sumber daya dapat dilaksanakan sebaik-baiknya sehingga dapat mendorong penigkatan kualitas belanja daerah (quality spending), dengan memastikan dana tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk program dan kegiatan yang memiliki nilai tambah besar bagi masyarakat.

Salah satu faktor yang mempengaruhi pelaksanaan otonomi daerah adalah faktor keuangan yang baik. Istilah keuangan disini mengandung arti setiap hak yang berhubungan dengan masalah uang, yang antara lain berupa sumber pendapatan, jumlah uang yang cukup, dan pengelolaan keuangan yang sesuai dengan tujuan dan peraturan yang berlaku.

Faktor keuangan penting dalam setiap kegiatan pemerintahan, karena hampir tidak ada kegiatan pemerintahan yang tidak membutuhkan biaya. Makin besar jumlah uang yang tersedia, makin banyak pula kemungkinan kegiatan atau pekerjaan yang dapat dilakasanakan. Demikian juga semakin baik pengelolaannya semakin berdaya guna pemakaian uang tersebut.

Perwujudan pelayanan publik di daerah tentunya berkorelasi erat dengan kebijakan belanja daerah. Belanja daerah merupakan seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mendanai seluruh program/kegiatan yang berdampak langsung atau tidak langsung terhadap pelayanan publik di daerah.

a. Perkembangan APBD Provinsi Nusa Tenggara Timur

Pertumbuhan APBD Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun anggaran 2008 sampai dengan tahun 2013 mengalami peningkatan setiap tahun rata-rata sebesar 15,52% yaitu dari Rp.946.026,75 juta pada tahun 2008 meningkat menjadi Rp.2.393.070,44 juta pada tahun 2013. Dilihat dari pertumbuhannya APBD Provinsi Nusa Tenggara Timur selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada tahun 2009 sebesar Rp.62.044,7 juta; tahun 2010 sebesar Rp.15.434,23 juta; tahun 2011 sebesar Rp.301.255,45 juta, tahun 2012 sebesar Rp.916.780,92 juta dan tahun 2013 sebesar Rp.151.528,33 juta.

Meskipun pertumbuhan masing-masing tahun tidak sama, namun kecenderungannya selalu meningkat. Gambaran tentang perkembangan rata-rata pertumbuhan APBD Provinsi Nusa Tenggara Timur dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2013 dapat dilihat pada tabel 1.3:

Tabel 1.3

Pertumbuhan APBD Provinsi Nusa Tenggara Timur 2008-2013 (dalam jutaan Rupiah)

No. TA Jumlah APBD (Jutaan Rupiah) Pertumbuhan Persentase

1. 2008 946. 026,75

-2. 2009 1 .008. 071,45 62.044,7 6,15

3. 2010 1 .023. 505,68 15.434,23 1,51

4. 2011 1.324.761,13 301.255,45 22,75

5. 2012 2.241.542,05 916.780,92 40,90

6. 2013 2.393.070,44 151.528,33 6,33

Rata-rata pertumbuhan 289.408,72 15,52 Sumber: Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Data diolah 2015

b. Kontribusi PAD Terhadap APBD Provinsi Nusa TenggaraTimur

Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan salah satu sumber utama keuangan daerah untuk membiayai pembanngunan daerah, dan diharapkan selalu meningkat tiap tahunnnya. Hal ini penting artinya apalagi setelah otonomi daerah diberlakukan, maka daerah harus mampu membiayai pelaksanaan pembangunan daerahnya sendiri dan tidak mengharapkan bantuan dari pemerintah pusat, sehingga daerah membangun daerahnya sendiri dengan mengutamakan potensi unggulan daerah.

Adapun besarnya kontribusi PAD terhadap APBD Provinsi Nusa Tenggara Timur dapat dilihat pada tabel 1.4 berikut:

Tabel 1.4

Kontribusi PAD terhadap APBD Provinsi Nusa Tenggara Timur

No Tahun Jumlah APBD (Jutaan Rp) Jumlah PAD (Jutaan Rp) Kontribusi PAD(%)

1. 2008 946. 026,75 237. 286,16 25,08%

2. 2009 1.008.071.45 298.154,33 29,57%

3. 2010 1.023,505,58 255.674,61 24,98%

4. 2011 1.324.761,13 392.119,69 29,59%

5. 2012 2.241.542,05 459.657,18 20,50%

6. 2013 2.393.070,44 528.832,13 22,09%

Sumber: Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, data diolah, 2015

Dari tabel 1.4 di atas dapat diketahui bahwa selama kurun waktu 6 tahun terakhir sejak tahun 2008 sampai tahun 2013 kontribusi PAD terhadap APBD rata-rata 25,30 atau sumber PAD mampu membiayai sebesar 25,30 dari pelaksanaan APBD.

HLE (Kepala Biro Keuangan Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur) mengatakan bahwa:

“Kontribusi sudah cukup baik tetapi apabila dibandingkan dengan Provinsi lain, kontribusi PAD Provinsi Nusa Tenggara Timur masih kalah atau masih lebih rendah, sehingga untuk menjaga supaya disparatis pembangunan antar provinsi di Indonesia tidak terlalu besar maka pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur harus lebih mampu meningkatkan PADnya untuk mengejar ketertinggalan tersebut” (Wawancara HLE, 22 April 2015).

c. Kontribusi Transfer Terhadap APBD Provinsi Nusa Tenggara Timur Transfer dalam penerimaan daerah yang bersumber dari pemerintah pusat antara lain dari Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak. Adapun kontribusi transfer dari pemerintah pusat

yang dialokasikan ke Provinsi Nusa Tenggara Timur dapat dilihat pada tabel 1.5 berikut ini:

Tabel 1.5

Kontribusi Transfer Pemerintah Pusat Terhadap APBD Provinsi Nusa Tenggara Timur 2008-2013(dalam jutaan rupiah)

No Tahun Jumlah APBD JumlahTransfer Kontribusi Transfer (%)

1. 2008 946. 026,75 708.740,58 74,91

2. 2009 1 .008. 071,45 773.795,61 76,75

3. 2010 1.023.505.68 767.566,61 74,99

4. 2011 1.324.761,13 887.291,43 66,97

5. 2012 2.241.542,05 1.098.619,86 49,01

6. 2013 2.393.070,44 1.165.848,62 48,71

Sumber: Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur

Dari tabel 1.5 di atas bahwa selama kurun waktu 6 tahun terakhir sejak tahun 2008 sampai dengan 2013 kontribusi Transfer terhadap APBD rata-rata sebesar 65,22%. Dilihat dari prosentase kontribusi tersebut menggambarkan bahwa dalam menjalankan pemerintahan dan melaksanakan pembangunan daerah, provinsi Nusa Tenggara Timur masih membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat sebesar 65,22%. Transfer dari pemerintah pusat harus ada dan selalu ada, karena hal ini dimaksudkan untuk menjaga adanya ketergantungan daerah terhadap pemerintah pusat guna menghindari perpecahan daerah (disintegrasi) dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan NKRI.

JAM (Kepala Sub Bagian Akuntansi pada Biro Keuangan Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur) mengungkapkan bahwa:

“Apabila daerah diberi kebebasan untuk memanfaatkan potensi daerah secara keseluruhan dan tidak ada ketentuan mengenai perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, hal ini dimungkinkan bagi daerah yang sumber daya alamnya besar dan mampu membiayai kebutuhan di dalam penyelenggaraan pembangunan daerahnya, dapat diprediksi daerah tersebut akan memisahkan diri dan menjadi Negara sendiri (disintegrasi). Oleh karena itu walaupun otonomi daerah yang mana daerah diberi kewenangan besar untuk mengurus rumah tangganya sendiri, tetapi tetap ada keterkaitan dengan pemerintah pusat melalui perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah” (Wawancara JAM, 23 April 2015).

B. Kemampuan Fiskal Daerah Dalam Mendukung Pembangunan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur

Analisis rasio keuangan terhadap realisasi APBD dilakukan untuk meningkatkan kemampuan keuangan daerah. Disamping meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan daerah, analisis rasio terhadap realisasi APBD juga dapat digunakan sebagai alat untuk menilai efektifitas pelaksanaan otonomi daerah.

Sebab kebijkan ini yang memberikan keleluasan bagi pemerintah daerah untuk mengelolah daerahnya yang seharusnya dapat meningkatakn kemampuan dan kinerja keuangan daerah yang bersangkutan.

Rasio yang digunakan dalam pembahasan ini adalah rasio-rasio yang merupakan penjabaran dari indeks kemampuan keuangan (Bappenas:2003), yang terdiri atas , rasio kemandirian keuangan daerah, rasio derajat desentralisasi fiskal, rasio indeks kemampuan rutin, rasio keserasian dan rasio pertumbuhan keuangan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun anggaran 2008-2013, sehingga

dapat diketahui bagaiman kecendrungan yang terjadi tiap tahunnya dalam kurun waktu enam tahun terakhir.

Data yang digunakan adalah data yang berasal dari arsip dokumen pada bagian verifikasi dan pembukuan kantor Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berupa Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD), Laporan Realisasi Anggaran (LRA), untuk tahun anggaran 2008-2013. Dari hasil APBD dan LRA tersebut nantinya akan diketahui bagaimana kinerja dan kemampuan keuangan daerah Provinsi Nusa Tenggara Timurrselama enam tahun terkahir.

APBD merupakan rencana pelaksanaan semua pendapatan dan semua

APBD merupakan rencana pelaksanaan semua pendapatan dan semua

Dokumen terkait