BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5. Pengelolaan Keuangan Desa
Pengelolaan Keuangan Desa adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan dan pertanggungjawaban keuangan desa. Penyelenggaraan kewenangan desa berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala desa didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDEsa).
Penyelenggaraan kewenangan lokal berskala desa selain didanai oleh APBDesa, juga dapat didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan APBD. (Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 Pasal 1).
a. Perencanaan Keuangan Desa
Perencanaan keuangan desa dilakukan dengan cara menyusun Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa berdasarkan RKPDesa tahun berkenaan yang disusun oleh Sekretaris Desa. Kemudian Sekretaris Desa menyampaikan Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa tersebut kepada Kepala Desa. Setelah itu, Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa disampaikan oleh Kepala Desa kepada BPD untuk dibahas dan disepakati bersama. Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa tersebut disepakati bersama paling lambat bulan Oktober tahun berjalan. Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa yang telah disepakati bersama disampaikan oleh Kepala Desa kepada Bupati/Walikota melalui camat atau sebutan lain paling lambat 3 (tiga) hari sejak disepakati untuk dievaluasi. Kemudian Bupati/Walikota menetapkan hasil evaluasi Rancangan APBDesa paling lama 20 (dua puluh) hari kerja sejak diterimanya Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa. Apabila Bupati/Walikota tidak memberikan hasil evaluasi dalam 20 (dua puluh) hari kerja maka Peraturan Desa tersebut berlaku dengan sendirinya. Dalam hal Bupati/Walikota menyatakan hasil evaluasi
Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundangan-undangan yang lebih tinggi, Kepala Desa melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Kepala Desa dan Kepala Desa tetap menetapkan Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa menjadi Peraturan Desa, maka Bupati/Walikota membatalkan Peraturan Desa dengan Keputusan Bupati/Walikota. Pembatalan Peraturan Desa tersebut sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBDesa tahun anggaran sebelumnya. Dalam hal pembatalan Peraturan Desa Kepala Desa hanya dapat melakukan pengeluaran terhadap operasional penyelenggaraan Pemerintah Desa. Kepala Desa memberhentikan pelaksanaan Peraturan Desa paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah pembatalan Peraturan Desa tersebut dan selanjutnya Kepala Desa bersama Badan Pemerintah Desa mencabut Peraturan Desa dimaksud. (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 Pasal 20-22).
Bupati/Walikota dapat mendelegasikan evaluasi Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa kepada camat atau sebutan lain. Kemudian Camat menetapkan hasil evaluasi Rancangan APBDesa paling lama 20 (dua puluh) hari kerja sejak diterimanya Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa. Apabila Camat tidak memberikan hasil evaluasi dalam batas waktu 20 (dua puluh) hari kerja maka
Peraturan Desa tersebut berlaku dengan sendirinya. Dalam hal camat menyatakan hasil evaluasi Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, Kepala Desa melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Kepala Desa dan Kepala Desa tetap menetapkan Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa menjadi Peraturan Desa, maka Camat menyampaikan usulan pembatalan Peraturan Desa kepada Bupati/Walikota. Ketentuan lebih lanjut mengenai pendelegasian evaluasi Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa kepada Camat diatur dalam Peraturan Bupati/Walikota. (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 Pasal 23).
b. Pelaksanaan Keuangan Desa
Semua penerimaan dan pengeluaran desa dalam rangka pelaksanaan kewenangan desa dilaksanakan melalui rekening kas desa. Kasus bagi desa yang belum memiliki pelayanan perbankan di wilayahnya maka pengaturannya ditetapkan oleh pemerintah kabupaten/Kota. Semua penerimaan dan pengeluaran desa dalam rangka pelaksanaan kewenangan desa tersebut harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah. (Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 Pasal 24).
Pemerintah desa dilarang melakukan pungutan sebagai penerimaan desa selain yang ditetapkan dalam peraturan desa. Bendahara dapat menyimpan uang dalam kas desa pada jumlah tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan operasional pemerintahan desa. Pengaturan jumlah uang dalam kas desa tersebut ditetapkan dalam peraturan bupati/walikota. (Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 Pasal 25).
Pengeluaran desa yang mengakibatkan beban APBDesa tidak dapat dilakukan sebelum rancangan peraturan desa tentang APBDesa ditetapkan menjadi peraturan desa. Pengeluaran desa tersebut tidak termasuk untuk belanja pegawai yang bersifat mengikat dan operasional perkantoran yang ditetapkan dalam peraturan kepala desa. Penggunaaan biaya tak terduga terlebih dahulu harus dibuat Rincian Anggaran Biaya (RAB) yang telah disahkan oleh kepala desa. (Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 Pasal 26).
Pelaksanaan kegiatan mengajukan pendanaan untuk melaksanakan kegiatan harus disertai dengan dokumen, antara lain RAB. RAB kemudian diverifikasi oleh Sekretaris Desa dan disahkan oleh Kepala Desa. Pelaksanakan kegiatan bertanggungjawab terhadap tindakan pengeluaran yang menyebabkan atas beban anggaran belanja kegiatan dengan mempergunakan buku pembantu kas kegiatan sebagai pertanggunjawaban pelaksanaan kegiatan di desa. Berdasarkan RAB tersebut, pelaksana kegiatan mengajukan
Surat Permintaan Pembayaran (SPP) kepada Kepala Desa. SPP tersebut tidak boleh dilakukan sebelum barang dan atau jasa diterima. Pengajuan SPP untuk pelaksanaan kegiatan terdiri atas SPP, pernyataan tanggung jawab belanja dan lampiran bukti transaksi. Dalam pengajuan pelaksanaan pembayaran untuk pelaksanaan kegiatan, Sekretaris desa berkewajiban untuk meneliti kelengkapan permintaan pembayaran diajukan oleh pelaksanaan kegiatan, menguji kebenaran perhitungan tagihan atas beban APBDes yang tercantum dalam permintaan pembayaran, menguji ketersedian dana untuk kegiatan dimaksud dan menolak pengajuan permintaan pembayaran oleh pelaksanaan kegiatan apabila tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Berdasarkan SPP yang telah diverifikasi Sekretaris Desa dalam pengajuan pelaksanaan pembayaran untuk pelaksanaan kegiatan, Kepala Desa menyetujui permintaan pembayaran dan Bendahara melakukan pembayaran. Setelah pembayaran dilakukan selanjutnya Bendahara melakukan pencatatan pengeluaran. (Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 Pasal 27-30).
Bendahara Desa sebagai wajib pungut pajak penghasilan (PPh) dan pajak lainnya, kemudian wajib menyetorkan seluruh penerimaan potongan dan pajak yang dipungut ke rekening kas negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 Pasal 31). Sedangkan pengadaan barang dan
jasa di desa diatur dengan Peraturan Bupati/Walikota dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan. (Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 Pasal 32).
Perubahan tentang Peraturan Desa dapat dilakukan apabila terjadi keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran antar jenis belanja, keadaan yang menyebabkan SilPA tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun berjalan, terjadi penambahan dan/atau pengurangan dalam pendapatan desa pada tahun berjalan, dan/atau terjadi peristiwa khusus, seperti bencana alam, krisis politik, krisis ekonomi, dan/atau kerusuhan sosial yang berkepanjangan dan perubahan mendasar atas kebijakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Perubahan APBDesa tersebut hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun anggaran. Tata cara pengajuan perubahan APBDesa adalah sama dengan tata cara penetapan APBDesa. (Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 Pasal 33).
Bantuan keuangan dari APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota serta hibah dan bantuan pihak ketiga yang tidak mengikat ke desa disalurkan setelah ditetapkannya Peraturan Desa tentang perubahan APB Desa, perubahan diatur dengan peraturan kepala desa tentang perubahan APBDesa. Perubahan APBDesa tersebut diinformasikan kepada BPD. (Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 Pasal 34).
c. Penatausahaan Keuangan Desa
Penatausahaan dilakukan oleh Bendahara Desa. Bendahara desa wajib melakukan pencatatatan setiap penerimaan dan pengeluaran serta tutup buku setiap akhir bulan secara tertib. Bendahara Desa wajib mempertanggungjawabkan uang melalui laporan pertanggungjawaban. Laporan pertanggungjawaban tersebut disampaikan setiap bulan kepada Kepala Desa paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Penatausahaan penerimaan dan pengeluaran melakukan tutup buku setiap akhir bulan dengan menggunakan buku kas umum, buku kas pembantu pajak dan buku Bank. (Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 Pasal 35-36).
d. Pelaporan Keuangan Desa
Kepala Desa menyampaikan laporan realisasi pelaksanaan APBDesa kepada Bupati/Walikota berupa laporan semester pertama dan laporan semester akhir tahun. Laporan semester pertama berupa laporan realisasi APBDesa. Laporan realisasi pelaksanaan APBDesa semester pertama disampaikan paling lambat pada akhir bulan Juli tahun berjalan. Laporan semester akhir tahun disampaikan paling lambat pada akhir bulan Januari tahun berikutnya. (Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 Pasal 37).
e. Pertanggungjawaban Keuangan Desa
Kepala Desa menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Bupati/Walikota setiap akhir tahun anggaran. Laporan
pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa tersebut terdiri dari pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Laporan pertangungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa tersebut ditetapkan dengan Peraturan Desa. Peraturan Desa tentang laporan petanggungjawaban pelaksanaan APBDesa tersebut dilampiri format Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APBDesa tahun anggaran berkenaan, format Laporan Kekayaan Milik Desa per 31 Desember tahun anggaran berkenaan dan format Laporan Program Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang masuk ke desa. Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APBDesa tersebut merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan penyelenggaraan Pemerintah Desa. Laporan realisasi dan laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa diinformasikan kepada masyarakat secara tertulis dan dengan media informasi yang mudah diakses oleh masyarakat. Media informasi tersebut antara lain papan pengumuman, radio komunitas, dan media informasi lainnya. Laporan realisasi dan laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa disampaikan kepada Bupati/Walikota melalui Camat atau sebutan lain. Laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa tersebut disampaikan paling lambat 1 (satu) bulan setelah akhir tahun anggaran berkenaan. (Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 Pasal 38-41).
B. Hasil Penelitian Terdahulu
Di bawah ini adalah beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini sebagai berikut:
Tabel 1
Identitas Peneliti Aspek
Wahyu Tustila Intan R. F A03140032
Politeknik Negeri Banjarmasin
Lina Nasihatun Nafidah STIE PGRI Dewantara Jombang
1. Judul Implementasi Peraturan
Menteri Dalam Negeri No. 113
Tahun 2014 Dalam
Pengelolaan Keuangan Desa di Desa Anjir Muara Kabupaten Barito Kuala Pada Tahun 2015 dan Tahun 2016.
Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa dalam Upaya Meningkatkan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. 2. Institusi/Perusahaan yang diteliti
Desa Anjir Muara Kabupaten Barito Kuala.
Desa Dapurkejambon Kabupaten Jombang. 3. Permasalahan Bagaimana Implementasi
Permendagri No. 113 Tahun 2014 dalam pengelolaan keuaangan desa di Desa Anjir Muara Kota pada tahun 2015 dan bagaimana implementasi Permendagri No. 113 Tahun 2014 dalam pengelolaan keuangan desa di Desa Anjir Muara Kota pada tahun 2015.
Bagaimana Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa dalam Upaya Meningkatkan
Pembangunan dan Pemberdayaan
Masyarakat.
4. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui implementasi Permendagri No. 113 Tahun 2014 dalam pengelolaan keuangan desa di Desa Anjir Muara Kota pada tahun 2015 dan untuk mengetahui implementasi Permendagri No. 113 Tahun 2014 dalam pengelolaan keuangan desa di Desa Anjir Muara Kota pada tahun 2015.
Untuk mengetahui dan menjelaskan Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa dalam Upaya Meningkatkan
Pembangunan dan Pemberdayaan
Masyarakat.
5. Metode Penelitian Wawancara dan Dokumentasi. Survei, wawancara dan dokumentasi.
Lanjutan.
6. Hasil Penelitian Implementasi Permendagri No. 113 Tahun 2014 masih banyak mengalami kendala, seperti pemerintah desa tidak mengarsipkan beberapa data pengelolaan keuangan desa pada tahun 2015, kurangnya pemahaman perangkat desa anjir Muara Kota mengenai aplikasi siskeudes yang diterapkan oleh pemerintah pusat dan wajib digunakan oleh pemerintah desa dalam pengelolaan keuangan desa.
Pertanggungjawaban ADD baik secara teknis maupun administrasi sudah berjalan dengan baik sesuai peraturan yang berlaku dengan bukti adanya pertanggungjawaban secara akuntabel pada pemerintah Desa Dapurkejambon.
Sumber: Diolah oleh penulis
Penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Tustila Intan Ringgiani Fitri bertujuan untuk mengetahui Implementasi Permendagri No. 113 Tahun 2014 dalam Pengelolaan Keuangan Desa Di Desa Anjir Muara Kota. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Tustila Intan Ringgiani Fitri menyebutkan bahwa Implementasi Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 masih banyak mengalami kendala, seperti pemerintah desa tidak mengarsipkan beberapa data pengelolaan keuangan desa pada tahun 2015, kurangnya pemahaman perangkat desa anjir Muara Kota mengenai aplikasi siskeudes yang diterapkan oleh pemerintah pusat dan wajib digunakan oleh pemerintah desa dalam pengelolaan keuangan desa.
Penelitian yang dilakukan oleh Lina Nasihatun Nafidah bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa dalam Upaya Meningkatkan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lina Nasihatun Nafidah menyebutkan bahwa pertanggungjawaban ADD baik secara teknis maupun administrasi
sudah berjalan dengan baik sesuai peraturan yang berlaku dengan bukti adanya pertanggungjawaban secara akuntabel pada pemerintah Desa Dapurkejambon.
Penelitian yang dilakukan oleh penulis bertujuan untuk mengetahui bagaimana perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan serta pertanggungjawaban pengelolaan keuangan desa di Desa Lok Baintan pada Tahun 2015, 2016 dan 2017. Hasil penelitian penulis menyebutkan bahwa pengelolaan keuangan desa di Desa Lok Baintan sudah cukup baik, hanya perlu meningkatkan kinerja perangkat desa agar bertugas sesuai dengan tugas dan fungsi yang sudah diberikan.
22