• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VIII PENGELOLAAN LINGKUNGAN

8.1 Pengelolaan Limbah

Pada dasarnya pengelolaan limbah bertujuan untuk mencegah, menanggulangi pencemaran dan kerusakan lingkungan, memulihkan kualitas lingkungan tercemar, dan meningkatan kemampuan dan fungsi kualitas lingkungan. PROPER adalah akronim dari Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan, yaitu suatu program yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja perusahaan dalam mengelola dan mengatasi limbah yang timbul serta melakukan upaya tanggung jawab sosial melalui penyebaran informasi mengenai ketaatan dan kinerja perusahaan dalam pengelo laan lingkungan. PROPER terdiri dari lima tingkatan peringkat dari yang terbaik hingga terburuk, yaitu emas, hijau, biru, merah, dan hitam. PT. ANTAM (Persero) Tbk. UBPE Pongkor merupakan salah satu industri yang menerapkan PROPER. PROPER yang didapat atas pengelolaan limbah yang timbul, dengan pencapaian seperti yang ditampilkan pada Tabel 8.2.

Tabel 8. 2 Tingkatan PROPER PT. ANTAM (Persero) Tbk. UBPE Pongkor

Tahun Tingakatan PROPER

84

Pengelolaan Limbah meliputi unit thickening treatment, detoksifikasi, backfill silo, tailing dam dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

8.1.1 Thickening Treatment

Thickening treatment dilakukan untuk memisahkan solid dan solution dengan cara mengendapkan lumpur secara gravitasi di dalam thickener tank.

Slurry dari tangki CIL terakhir yang telah diambil kandungan logam Au dan Ag- nya dipompa ke dalam dua buah thickener yang tersusun secara seri. Thickener merupakan suatu unit pengendapan slurry sehingga overflow-nya diharapkan memiliki kandungan solid sangat rendah. Overflow merupakan fraksi ringan yang mengandung lebih banyak padatan halus, sedangkan underflow merupakan fraksi berat yang mengandung lebih banyak padatan kasar. Pada proses di thickener, diharapkan persen solid pada underflow akan meningkat dan akan dimanfaatkan untuk proses backfill dan juga bertujuan untuk mengurangi konsentrasi sianida yang terbawa bersama limbah. Konsentrasi sianida tinggi jika underflow masih memiliki persen solid yang rendah. Overflow dari tangki 7 (plant 2) dan tangki 8 (plant 2) yang berupa slurry masuk ke sump tank yang sebelumnya melewati safety carbon screen untuk menyaring karbon aktif yang terbawa aliran overflow.

Pada unit thickener ini dilakukan penambahan flokulan dengan konsentrasi 0,02%

yang akan mempercepat pengendapan partikel-partikel padatan dengan membentuk flok-flok.

Thickener dilengkapi dengan rake arms yang berfungsi untuk menyapu dasar thickener, mengarahkan partikel padatan menuju saluran pembuangan lumpur pada bagian tengah dasar tangki. Kerja rake arms dibantu oleh shaft yang terhubung pada reduction gearbox yang digerakkan oleh motor hydraulic.

Kapasitas slurry thickener 1 dan thickener 2 adalah sebesar 500 ton/hari untuk plant 1 dan 700 ton/ hari untuk plant 2. Diagram alir proses thickening treatment ditampilkan pada Gambar 8.1.

85

Last CIL Tank Thickener 2

Detox Tank 1

Gambar 8. 1 Diagram Alir Proses Thickening Treatment

Terdapat beberapa parameter yang mengindikasikan bahwa slurry di dalam tangki thickener telah penuh, diantaranya :

1. Bed Level, menunjukkan level lumpur dalam cairan. Batas maksimal bed level yang diijinkan sebesar 50%. Apabila nilai bed level melebihi 50%, maka media pengendapan menjadi terbatas. Untuk menurunkan nilai bed level dapat dilakukan dengan cara menambahkan flokulan atau mengurangi solid feed.

2. Bed mass, menunjukkan massa slurry keseluruhan. Batas maksimal bed mass yang diijinkan sebesar 50%. Apabila nilai bed mass melebihi 50%, maka media pengendapan menjadi terbatas. Untuk menurunkan nilai bed mass dapat dilakukan dengan cara menambahkan flokulan atau mengurangi solid feed.

3. Torque, menunjukkan kemungkinan tangki penuh oleh slurry atau terlalu kental sehingga menyebabkan beban pada motor hidrolik yang menggerakkan rake. Batas maksimal torque yang diijinkan sebesar 50%. Untuk menurunkan nilai torque dapat dilakukan dengan cara mengurangi flokulan.

86

Komponen·komponen tahap ini adalah:

1. Thickener 1

Thickener 1 berfungsi untuk mengendapkan slurry dari overflow tangki CIL terakhir. Thickener 1 bertipe high rate dengan lifting system automatic hydraulic.

Umpan thickener I merupakan slurry tangki CIL 7 pada plant 1 dengan kandungan sianida 200-300 ppm, pH 9-10, persen solid 30-35%, kadar Au dan Ag pada solution berturut-turut lebih kecil dari 0,02 ppm dan lebih kecil dari 1 ppm dan tangki CIL 8 pada plant 2 dengan kandungan sianida 200-300 ppm, pH 9-10, Au lebih kecil dari 0,02 ppm dan Ag lebih kecil dari 2 ppm. Pada thickener 1 ditambahkan z.at flokulan jenis anionic floculant dengan konsentrasi 0,02%.

Kuantitas penambahan z.at flokulan disesuaikan dengan karakteristik limbah yang akan diolah. Overflow thickener 1 dengan kandungan SS 500 ppm, menjadi feed untuk thic kener 2 melalui thickener overflow tank, sedangkan underflownya dengan 50 -60% solid masuk ke tangki detoksifikasi 1.

2. Thickener 2

Thickener 2 berfungsi untuk mengendapkan slurry dari overflow thickener 1 serta untuk recovery sianida. Thickener 2 bertipe sama seperti thickener 1, yaitu high rate dengan lifting system automatic hydraulic. Umpan berasal dari overflow thickener 1 dengan karakteristik SS 500 ppm, kadar Au sangat rendah higga tidak dapat terdeteksi alat dan kadar Ag lebih kecil dari 2 ppm. Pada thickener 2 ditambahkan koagulan dan flokulan untuk mempercepat pengendapan partikel- partikel padatan. Koagulan yang digunakan jenisnya anionic coagulant dengan penambahan 5kg/200L, sedangkan flokulan yang digunakan berjenis anionic floculant dengan konsentrasi 0,02%. Dosis penambahan zat flokulan disesuaikan dengan karakteristik limbah yang akan diolah. Overflow thickener 2 dengan kandungan SS 100 ppm, pH 9-10, konsentrasi sianida 200-300 ppm dialirkan ke ballmill sebagai spray water untuk me-recovery sianida sehingga mengurangi beban proses detoksifikasi, sedangkan aliran underflow dengan 50-60 % solid masuk ke tangki detoksifikasi 1 melalui thickener underflow sump sebagai distributor.

87

3. Detoksifikasi

Umpan untuk proses detoksifikasi merupakan underflow dari thickener 1 secara continue dan underflow dari thickener 2 secara periodik. Underflow tersebut dipompa menuju tangki detox 1 kemudian ke tangki detox 2. Tembaga sulfat, SMBS (sodium metabisulfit) dan oksigen dari udara bebas diinjeksikan ke dalam tangki. Tembaga sulfat berfungsi sebagai katalis sedangkan SMBS dibantu oksigen adalah oksidator yang akan mengoksidasi sianida (CN-) menjadi sianat (CNO-) yang lebih stabil di lingkungan. Dosis SMBS yang digunakan 0,25%

sebanyak 2,5 kg/ton ore sedangkan CuSO4 0,025% sebanyak 1,2 kg/ton ore. Feed berupa slurry 50-60% solid mengandung sianida sekitar 200-300 ppm akan dikurangi menjadi lebih kecil dari 1 ppm. Dari tangki detox 2, slurry dialirkan ke backfill silo. Degradasi sianida dengan SMBS disebut sebagai INCO process.

Reaksi yang terjadi, yaitu:

Na2S2O5 + H2O  2SO2(g) + 2NaOH (8-1)

CN- + SO2 + H2O + O2  CNO- + H2SO4 (8-2) 4. Backfill Silo

Backfill Silo berfungsi untuk menampung tailing yang sudah mencapai kondisi sekitar 70% solid dengan konsentrasi sianida lebih kecil dari l ppm. Dari backfill silo, tailing dipompakan kembali ke dalam tambang. Akan tetapi jika tidak diperlukan filling di dalam tambang, maka tailing dari backfill silo akan dialirkan melalui pipa ke tailing sump lalu ke tailing dam namun pada akhimya tetap akan dipompakan ke dalam tambang.

5. Tailing Dam

Tailing dam adalah tempat pembuangan akhir tailing (slurry yang telah diambil Au dan Ag-nya). Sebelum tailing dengan dialirkan ke tailing dam, tailing akan melewati beberapa bak sedimentasi tanpa melibatkan reaksi kimia. Overflow bak sedimentasi akan langsung dialirkan ke tailing dam, sedangkan lumpumya disimpan di bagian pinggir bak kemudian diangkut oleh dump truck untuk disimpan di backfill dam.

88

Tailing dam dilengkapi dengan Seepage Collection Dam (SCD) yang terletak dibawah tanggul dam tersebut. SCD berfungsi sebagai penampung resapan air limbah tailing dam, dilengkapi sumur pantau sebanyak tiga buah berfungsi memantau pengaruh cemaran tailing terhadap air tanah. Kualitas air dipantau setiap shift dan dianalisa di laboratorium Sucofindo setiap 3 bulan. Pada tailing dam terdapat 5 buah pompa, yaitu 2 pompa untuk memompakan air kembali ke proses, 1 pompa sebagai cadangan , dan 2 pompa untuk memompakan lumpur ke backflll dam.

8.1.2 Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)

Limbah cair yang dihasilkan dari aktivitas pertambangan dan proses pengolahan bijih emas akan diolah dan dikelola di lnstalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). IPAL terdiri dari dua unit, yaitu IPAL Tambang dan IPAL Cikaret.

1. IPAL Tambang

IPAL tambang merupakan unit pengolahan air limbah yang berasal dari proses penambangan. Hasil dari proses pengolahan air limbah di IPAL tambang adalah fresh water yang digunakan kembali pada proses pengolahan dan pembersihan pabrik, seperti penyemprotan conveyor dan spray water di crushing. Limbah cair yang berasal dari kegiatan pertambangan akan masuk ke settling pond dimana material yang kasar dapat mengendap. Hal ini bertujuan agar mengurangi beban di effluent treatment tank. Overflow settling pond dialirkan ke effluent treatmet tank melalui dua pipa dengan debit 5 m3/menit. Aliran Underflow ditambahkan koagulan dan flokulan yang berfungsi untuk mempercepat proses pengendapan padatan terlarut. Proses yang terjadi pada tangki effluent (juga pada lPAL Cikaret) dilakukan dengan tujuan mencapai standar yang telah ditetapkan berdasarkan KEPMEN LH No.202 Tahun 2004.

Pada IPAL tambang ditambahkan hidrogen peroksida (H2O2) untuk mengoksidasi sianida agar membentuk sianat yang lebih aman dan stabil di lingkungan dengan katalis tembaga sulfat (CuSO4) untuk mempercepat reaksi serta koagulan dan flokulan untuk membantu proses pengendapan lumpur. IPAL tambang juga melayani pengolahan limbah domestik pabrik misalnya kegiatan

89

Fine Pond ST 12

dapur, mandi dan laboratorium. Air limbah dialirkan melalui paritan di sekeliling pabrik. Outlet effluent treatment tank dialirkan ke decant pond yang kemudian overflow-nya dialirkan ke sungai Cikaniki dan sebagian dialirkan ke pabrik sebagai fresh water, sedangkan underflow-nya masih mengandung Au dan Ag dengan kadar tinggi dimasukan ke fine pond ST 12 lalu ke FST thickener.

Diagram alir IPAL tambang ditampilkan pada Gambar 8.2

Air dari Tambang

Settling Pond

Effluent Treatment Tank

Decant Pond

Sungai

Cikaniki Fresh Water

FST Thickener

2. IPAL Cikaret

Gambar 8. 2 Diagram Alir IPAL Tambang

Fungsi lPAL Cikaret yaitu sebagai tempat penghancur sianida (cyanide destruction plant) secara kimiawi dengan menggunakan proses Degussa (penggunaan H2O2 dan CuSO4.5H2O). Aliran masuk IPAL Cikaret memiliki konsentrasi sianida yang cukup tinggi, hal ini dikarenakan sumber air limbah yang diolah di IPAL Cikaret sebagian besar berasal dari proses pengolahan bijih emas, selain itu pH yang tinggi (sekitar 8) harus diatur hingga menjadi netral atau basa.

Diagram alir IPAL Cikaret ditampilkan pada Gambar 8.3. Aliran masuk IPAL Cikaret berasal dari overflow tailing dam, air limbah dimasukkan ke effluent treatment tank dimana terjadi proses degradasi sianida dengan penambahan H2O2

90

6%, CuSO4 0,4%, flokulan 0,3% dan koagulan curah 1%. Setelah ditambahkan reagent diatas maka air limbah yang telah diolah akan dialirkan ke decant pond dan overflownya dialirkan ke Sungai Cikaniki sedangkan underflownya diangkut dengan dump truck kepinggiran pond.

Reaksi pada proses ini :

CN- + H2O2  CNO- + H2O (8-3) CN- + 2H2O2 + Cu2+  CNO- + Cu(OH)2 + H2O (8-4) 5CN- + 5H2O2 + 2Cu2+ + 4OH-  5CNO- + 2Cu(OH)2 + H2O (8-5)

Tailing Dam

Effluent Treatment Tank

Decant Pond

O/F U/F

Sungai

Cikaniki Dump Truck

Gambar 8. 3 Diagram Alir IPAL Cikaret