• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Pengelolaan Pelelangan Ikan

Aktivitas pelelangan ikan di TPI PPN Palabuhanratu pada Tahun 1993-2003 dikelola oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sukabumi. Pelelangan berjalan dengan baik sesuai dengan praktek lelang yang seharusnya. Aktivitas penjualan ikan dilakukan di depan khalayak umum, penawar dengan harga tertinggi dinyatakan sebagai pemenang lelang. Nelayan merasakan fungsi adanya TPI dan proses lelang yang dijalankan. Nelayan dan bakul merasa puas atas pelayanan pemasaran yang diberikan karena saling mengetahui harga jual yang berlaku di pasaran sehingga memperoleh manfaat dengan adanya pelelangan tersebut.

Tahun 2004 hingga sekarang, pengelolaan mekanisme pelelangan beralih kepada KUD Mina Mandiri Sinar Laut. Sampai saat ini pelelangan ikan belum terlaksana kembali, meskipun retribusi pelelangan ikan tetap diberlakukan. Mekanisme pemasaran yang terjadi adalah setelah ikan didaratkan di dermaga, ikan langsung ditangani oleh bakul untuk dilakukan proses penimbangan di lapak masing-masing. Bakul membayar uang retribusi kepada TPI setelah proses penimbangan selesai. Hal tersebut membuat nelayan kurang bersemangat dan berinisiatif untuk memasarkan ikan melalui TPI karena telah ditangani oleh bakul. Jumlah produksi maupun raman (nilai produksi) ikan hasil tangkapan yang tercatat di TPI (fish by retribusi) ketika dikelola oleh KUD mengalami perkembangan fluktuatif. Raman ikan diperoleh dari nilai transaksi ikan yang berhasil tercatat melalui TPI dan tanpa melalui TPI. Raman ikan yang tercatat tanpa melalui TPI (fish by landing) merupakan ikan tujuan ekspor seperti hasil tangkapan tuna dan layur. Tabel dan grafik dibawah menyajikan perkembangan produksi beserta raman TPI PPN Palabuhanratu sejak Tahun 2000 hingga 2008.

Tabel 7 Jumlah produksi ikan dan nilai raman TPI Palabuhanratu, 2000- 2008

Ckl Tn Cct Jgl Tkl Lyr Tbg Lain-Lain prod raman (kg) (Rp1000) 2000 284.211 41.740 58.475 27.011 128.802 1.240 0 30.321 571.800 1.409.690 2001 210.849 59.853 43.011 20.886 46.700 1.463 0 45.265 428.027 901.200 2002 439.344 107.474 61.848 35.989 238.372 11.065 0 184.063 1.078.155 2.305.902 2003 286.050 381.404 56.575 129.084 22.234 16.226 0 118.464 1.010.037 2.296.462 2004 331.105 353.386 20.166 25.884 31.882 28.745 0 30.072 821.240 2.233.378 2005 310.414 1.025.318 49.025 52.956 38.825 35.093 0 70.654 1.582.285 4.972.514 2006 178.860 288.745 117.381 26.284 46.897 0 22.426 19.493 700.086 2.497.876 2007 74.953 395.535 20.083 0 26.275 4.209 3.234 8.640 532.929 3.158.513 2008 84.003 507.405 6.797 0 9.746 8.532 35.701 43.759 695.943 5.386.046 2.199.789 3.160.860 433.361 318.094 589.733 106.573 61.361 550.731 7.420.502 25.161.581 Rataan 244.421 351.207 48.151 35.344 65.526 11.841 6.818 61.192 824.500 2.795.731 Sumber: TPI PPN Palabuhanratu, 2009

Keterangan:

Ckl: Cakalang, Tn: Tuna, Cct: Cucut, Jgl: Jangilus Tkl: Tongkol, Lyr: Layur, Tbg: Tembang

Hubungan antara produksi hasil tangkapan sejak Tahun 2000 hingga 2008 tidak selalu berkorelasi positif terhadap raman yang dihasilkan (Tabel 7). Faktor-faktor yang berpengaruh dikarenakan harga jual hasil tangkapan nelayan yang termasuk kategori ikan ekonomis rendah. Musim penangkapan ikan juga berpengaruh terhadap jenis dan produksi hasil tangkapan nelayan sehingga nilai produksi tidak terlalu tinggi.

Gambar 9 Perkembangan raman TPI PPNP, 2000-2008

Produksi terendah terjadi pada Tahun 2001 sebesar 428,02 ton dengan raman sebesar Rp901.200.000,00 dan produksi tertinggi terjadi pada Tahun 2005 yaitu 1.582,2 ton dengan raman sebesar Rp4.308.640.752,00. Raman (nilai produksi) tertinggi terjadi pada Tahun 2008 sebesar Rp5.386.045.679,00 dan raman terendah pada Tahun 2001 hanya sebesar Rp901.200.000,00.

Tahun 2001 adalah tahun dengan produksi hasil tangkapan terendah yaitu hanya 428,02 ton, hal ini berdampak pula terhadap raman yang pada saat itu merupakan raman paling rendah karena hanya menghasilkan raman sebesar Rp901.200.000,00. Nilai raman terendah tersebut antara lain disebabkan pada Tahun 2001 produksi jenis hasil tangkapan ikan ekonomis tinggi yaitu tuna hanya sebesar 59,853 ton, sedangkan sebagian besar merupakan jenis ikan ekonomis rendah. Produksi tertinggi terjadi pada Tahun 2005 yaitu sebesar 1.582,2 ton, namun pada saat itu tidak menghasilkan raman terbesar. Tahun 2005 menghasilkan raman sebesar Rp4.308.640.752,00 hal ini tidak sebanding dengan raman pada Tahun 2008 yang mencapai angka raman tertinggi yaitu Rp5.386.045.679,00 namun saat itu produksinya hanya sebesar 695,94 ton. Hubungan yang tidak berbanding lurus tersebut dapat dikarenakan antara lain harga per kilogram menurut jenis ikan yang berlaku pada tahun tersebut berubah-ubah sehingga berpengaruh terhadap nilai produksi hasil tangkapan.

Sebagian besar nelayan belum memanfaatkan sarana yang sudah ada, yaitu TPI untuk memasarkan ikan hasil tangkapannya. Nelayan lebih banyak yang terikat oleh pemilik modal atau terikat oleh pedagang pengumpul. Beberapa faktor yang memungkinkan rendahnya keikutsertaan nelayan dalam menjual ikannya di TPI diantaranya yaitu pendaratan ikan yang umumnya dilakukan pada malam hari, sedangkan pelelangan dilakukan pada siang hari. Rendahnya jumlah produksi hasil tangkapan ikan dan pemilik kapal yang merangkap sebagai bakul atau tengkulak menyebabkan hal tersebut turut berpengaruh terhadap penurunan nilai produksi di TPI.

Kenyataannya tidak semua nelayan merasakan fungsi dari TPI. Sebagian nelayan merasa bahwa TPI tidak menguntungkan. Salah satunya disebabkan oleh adanya wajib pajak atau retribusi yang dikenakan pada nelayan tanpa diimbangi fasilitas yang disediakan bagi nelayan seperti air bersih dan pengelolaan pemasaran yang optimal, sementara itu hasil tangkapan nelayan relatif sedikit dan apabila dikenakan biaya retribusi maka keuntungan yang diperoleh sangat kecil. Kerugian lainnya adalah pada saat hasil tangkapan para nelayan dalam kondisi baik, nelayan tidak dapat menentukan harga sendiri.

Perkembangan jumlah produksi dan nilai raman hasil tangkapan di TPI yang dikelola oleh KUD Mina per tahun tertera dalam Gambar 10-27. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa trend perkembangan jumlah produksi tertinggi terjadi pada Tahun 2002 mengalami peningkatan sebesar 22,03%, sedangkan perkembangan jumlah produksi terendah terjadi Tahun 2005 yaitu minus 15,60%. Trend perkembangan jumlah nilai raman tertinggi pada Tahun 2002 dengan peningkatan sebesar 47,32% dan terendah pada Tahun 2005 dengan perkembangan minus 47,23%. Hal tersebut berbanding lurus karena semakin banyak jumlah produksi di TPI maka nilai raman yang dihasilkan juga semakin tinggi. Kemungkinan hal tersebut tidak selamanya berbanding lurus apabila jumlah hasil tangkapan ekonomis penting lebih sedikit dibandingkan ikan bukan ekonomis penting maka nilai raman tidak terlalu besar.

Gambar 10 Perkembangan produksi, 2000 Gambar 11 Perkembangan produksi, 2001

Gambar 12 Perkembangan produksi, 2002 Gambar 13 Perkembangan produksi, 2003

Gambar 14 Perkembangan produksi, 2004 Gambar 15 Perkembangan produksi, 2005

Gambar 16 Perkembangan produksi, 2006 Gambar 17 Perkembangan produksi, 2007

Gambar 19 Perkembangan raman, 2000 Gambar 20 Perkembangan raman, 2001

Gambar 21 Perkembangan raman, 2002 Gambar 22 Perkembangan raman, 2003

Gambar 23 Perkembangan raman, 2004 Gambar 24 Perkembangan raman, 2005

Gambar 25 Perkembangan raman, 2006 Gambar 26 Perkembangan raman, 2007

Gambar 27 Perkembangan raman, 2008

Dokumen terkait