C. Model Pembelajaran Kecakapan Hidup dalam Perspektif Rehabilitasi bagi Meningkatkan Kemandirian Anak Tunalaras
2. Pengelolaan Pembelajaran Anak Tunalaras
Instruktur, atau pamong, atau pelatih anak tunalaras, tugas utamanya adalah bagaimana mereka menyampaikan materi pembelajaran agar dapat diserap oleh warga belajar dengan utuh. Dengan kata lain instrktur harus memiliki keterampilan dalam mengelola pembelajaran bagi anak tunalaras, agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai seoptimal mungkin.
Sehubungan dengan pengelolaan pembelajaran anak tunalaras terdapat keragaman, namun paling tidak ada lima pandangan yang dapat dikelompokkan dalam pengelolaan pembelajaran bagi anak tunalaras, yaitu:
a. Pengelolaan pembelajaran dimaksudkan untuk mengontrol tingkah laku warga belajar. Pandangan tersebut bersifat otokratif, dalam hal ini tugas instruktur adalah menciptakan dan memelihara ketertiban dalam proses pembelajaran dengan mengutamakan kedisiplinan. Menurut pandangan ini tugas instruktur adalah menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedisiplinan serta
b. Pandangan yang menyatakan tugas instruktur membantu warga belajar untuk merasa bebas melakukan apa yang ingin dilakukannya. Pandangan ini lebih bersifat permisif, mengingat tugas instruktur dalam hal ini mengoptimalkan perwujudan kebebasan warga belajar.
c. Pandangan yang menyatakan bahwa tugas instruktur dalam pengelolaan pembelajaran anak tunalaras adalah membantu warga belajar utuk mengubah tingkah lakunya. Pandangan tersebut dilandasi oleh prinsip-prinsip behavior modification, yaitu tugas utama instruktur adalah mengembangkan tingkah laku yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan.
d. Pandangan yang menyatakan bahwa tugas instruktur dalam pengelolaan pembelajaran anak tunalaras adalah membantu warga belajar untuk menciptakan iklim sosio-emosional yang positif. Pandangan ini dilandasi oleh asumsi bahwa proses pembelajaran akan berkembang secara optimal kalau berlangsung dalam iklim yang positif, yaitu terciptanya suasana hubungan interpersonal antar warga belajar dengan instruktur/pamong maupun antar sesama warga belajar, sehinga yang menjadi tugas instruktur itu adalah bagaimana menciptakan iklim sosio-emosional yang positif, serta dapat mengembangkan hubungan interpersonal yang baik
e. Pandangan yang menyatakan bahwa tugas instruktur dalam pengelolaan pembelajaran anak tunalaras adalah membantu warga belajar untuk menumbuhkan dan mengembangkan serta mempertahankan organisasi kelas
Pandangan pertama dan kedua (a dan b) sudah mulai ditinggalkan, karena sulit dipertanggungjawabkan keefektifannya. Pandangan otokratif cenderung menimbulkan masalah, seperti menjadikan warga belajar takut, tertekan, cemas dan lain-lain, yang dapat menghambat terhadap proses pembelajaran. Pandangan permisif dianggap tidak realistik, karena kebebasan yang diberikan dapat menimbulkan masalah, karena yang namanya anak pada dasarnya belum mampu mengembangkan perasaan, tugas dan tanggung jawab, sehingga dapat menimbulkan kekacauan dan menjadikan perkembangan anak tidak terarah.
Pandangan yang ketiga, keempat dan kelima, apabila kita padukan dalam melakukan pembelajaran anak tunalaras diharapkan dapat memperoleh suatu manfaat yang optimal, sehingga instruktur/pamong memiliki tugas untuk mengembangkan tingkah laku yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosio-emosional yang positif, serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan produktif.
Masalah yang sering dialami oleh instruktur/pamong belajar dalam memberikan pelatihan pada anak tunalaras adalah “bagaimana mengelola kelas agar pembelajaran dalam suatu pelatihan dapat berjalan secara optimal?”. Instruktur/pamong belajar yang tidak mampu mendidik/mengajar/melatih warga belajar dikarenakan mereka tidak mampu dalam mengelola kelas. Oleh karena itu, instruktur/pamong belajar dituntut untuk memiliki sejumlah keterampilan dalam mengatasi berbagai masalah yang muncul saat melakukan pembelajaran terhadap
Keterampilan yang harus dikuasai oleh instruktur/pamong belajar bagi anak tunalaras minimal harus mampu (1) mengenali secara tepat berbagai jenis pengelolaan kelas, (2) memahami berbagai pendekatan-pendekatan penanganan anak tunalaras yang tepat sesuai dengan jenis masalahnya, (3) memilih, menetapkan dan menerapkan pendekatan yang dianggap paling tepat sesuai dengan masalahnya.
Umumnya masalah yang sering muncul dalam pembelajaran anak tunalaras adalah masalah yang bersifat individual/perorangan dan masalah kelompok. Masalah Individual/perorangan berangkat dari asumsi bahwa manusia berperilaku untuk memenuhi kebutuhannya. Bila individu mengalami hambatan atau kegagalan dalam memenuhi kebutuhannya maka cenderung berperilaku menyimpang. Berdasarkan motifnya masalah-masalah pengelolaan kelas yang bersifat individual dikelompokkan menjadi empat bagian, yaitu:
a. Motif mencari perhatian
Bentuk perilakunya seperti : bikin onar, suka pamer, bertanya terus, melawak, rewel, malas, dsb. Biasanya dilakukan anak tunalaras yang gagal dalam menemukan kedudukan diri dalam hubungan sosialnya.
b. Motif mencari kekuasaan
Bentuk perilakunya seperti : secara terbuka dalam arti aktif misalnya menentang, mendebat, membohong, tidak patuh terang-terangan dsb. Secara pasif atau tertutup misalnya keras kepala, tidak patuh, susah tidur dsb. Perilaku tersebut biasanya dilakukan anak tunalaras yang gagal dalam
menemukan kedudukan diri dalam hubungan sosial yang lebih parah, sehingga ingin menemukannya melalui penguasaan terhadap orang lain. c. Motif menuntut balas
Bentuk perilakunya seperti menampakkan perilaku keganasan, penyerangan, secara psikis mapun fisik, misalnya menghina, mencela, menendang, mencakar, memukul dsb. Perbuatan itu dilakukan anak tunalaras yang mengalami frustrasi yang amat dalam serta ingin mencari sukses dengan cara menyakiti orang lain.
d. Motif ketidakmampuan
Bentuk perilakunya adalah memperlihatkan perilaku ketidakberdayaan, seperti pasrah apa adanya. Perbuatan itu dilakukan anak tunalaras yang mengalami frustrasi yang amat sangat dan terus menerus yang akhirnya menyerah terhadap tantangan yang dihadapinya, merasa tidak berdaya atau menghindar dari tuntutan/tanggung jawab.
Seorang instruktur/pamong belajar harus benar-benar memahami ke empat kategori tersebut di atas. Bila seorang instruktur/pamong belajar merasa terganggu dengan perilaku anak, artinya ada kaitan dengan masalah motif mencari perhatian, Bila seorang instruktur/pamong belajar merasa terancam/dikalahkan, maka masalahnya berkaitan dengan motif mencari kekuasaan. Bila seorang instruktur/pamong belajar merasa disakiti, masalahnya berkaitan dengan motif menuntut balas. Bila seorang instruktur/pamong belajar merasa tidak mampu menolong lagi, maka masalahnya berhubungan dengan motif ketidakmampuan.
Masalah-masalah yang bersifat kelompok sering dijumpai pada anak tunalaras, perilaku yang sering muncul misalnya seperti:
a. Adanya ketidakkompakan, ditandai adanya konflik diantara anggota kelompok.
b. Ketidakmampuan mentaati aturan kelompok, ditandai dengan ketidakpatuhan terhadap aturan kelompok yang berlaku.
c. Munculnya reaksi negatif terhadap anggota kelompok minoritas yang ditolak. d. Penerimaan kelompok atas tingkah laku anggota kelompok yang menyimpang, ditandai dengan pemberian dukungan terhadap anggota kelompok yang menyimpang.
e. Sensitivitas kelompok terhadap masalah yang kecil atau sederhana, ditandai dengan penolakan terhadap kegiatan yang dianjurkan atau bahkan protes dan mogok belajar.
f. Ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, ditandai dengan reaksi yang berlebihan terhadap peraturan baru yang diberlakukan. g. Kekurangmampuan memahami suatu persoalan bersama, ditandai dengan
kesalah pahaman dalam menerima suatu informasi.
Antara masalah perorangan dan masalah kelompok kadang sulit untuk dibedakan bahkan adakalanya menyatu.