BAB 4 PEMBAHASAN
4.1 Pengelolaan Perbekalan Farmasi oleh IFRS
Instalasi farmasi RSUP Fatmawati memiliki tugas untuk melaksanakan pengelolaan kegiatan pelayanan kefarmasian khususnya perbekalan farmasi. Struktur organisasi Instalasi Farmasi yaitu Instalasi farmasi dipimpin oleh Kepala instalasi farmasi yang dalam melaksanakan tugasnya berkoordinasi dengan Kepala Satuan Farmasi Fungsional dan Tim Pengendalian Farmasi serta membawahi Wakil Kepala Pelayanan Farmasi dan Wakil Kepala Perbekalan Farmasi.. Satuan Farmasi Fungsional berkonsentrasi terhadap kegiatan farmasi klinik, sedangkan Tim Pengendalian Farmasi lebih berkonsetrasi terhadap formularium rumah sakit.
Obat dan alat kesehatan yang terdapat di Instalasi Farmasi didistribusikan ke depo-depo farmasi yang terdapat di RSUP Fatmawati seperti Depo ASKES, Depo Rawat Jalan, Depo Instalasi Rawat Inap, Depo Instalasi Gawat Darurat, Depo Griya Husada, Depo Gedung Profesor Soelarto dan Depo Instalasi Bedah Sentral. Sistem pendistribusian obat dan alat kesehatan yang di terapkan ini disebut desentralisasi yang memiliki keuntungan agar distribusi obat lebih dekat ke pasien dan memudahkan petugas kesehatan lain memperoleh obat dan alat kesehatan yang dibutuhkan. Sistem satu pintu juga diterapkan dalam pendistribusian obat dan alat kesehatan, karena dengan sistem ini hanya terdapat satu kebijakan dalam proses pendistribusian yang akan berdampak pada penggunaan dan pengawasan yang lebih terkontrol.
4.1.1.Tata Usaha
Tata usaha (TU) berada di bawah Wakil Kepala Perbekalan dan dalam struktur organisasi disebut bagian penyelia pencatatan dan pelaporan. Tata usaha memiliki tiga tugas utama yaitu adminstrasi, pengarsipan, dan pelaporan yang dilakukan perbulan, setiap tiga bulan, semester, atau tahunan. Kegiatan administrasi dilakukan terhadap surat masuk dan keluar. Proses administrasi surat
masuk dimulai dengan pemberian nomor surat, kemudian penyampaian surat ke Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) untuk diketahui dan ditanda tangani. Surat yang telah ditanda tangani akan melalui proses pendisposisian untuk kemudian surat tersebut diarsipkan. Proses adminitrasi surat keluar dibagi menjadi surat keluar untuk wilayah didalam RSUP Fatmawati dan diluar RSUP Fatmawati. Surat keluar untuk wilayah diluar RSUP Fatmawati akan diproses melalui Sub Bagian Tata Usaha Rumah Sakit. Surat keluar untuk wilayah di dalam RSUP Fatmawati dimulai dengan pemberian nomor surat, setelah itu surat akan ditandatangani oleh Kepala IFRS.Surat yang telah ditandatangani tersebut akan digandakan minimal 2 rangkap untuk dikirim dan diarsipkan.
Berbagai depo farmasi yang terdapat di RSUP Fatmawati melakukan berbagai pelaporan yang akan di rekapitulasi dan diarsipkan kembali oleh bagian TU seperti jumlah pemesanan dan penggunaan psikotropika dan narkotika tiap bulan, data permintaan barang floorstock atau pemakaian perbekalan farmasi untuk pembuatan laporan keuangan, data jumlah penulisan resep obat generik dan non generik tiap bulan, data penagihan obat tiap pasien,data lembar dan jumlah R/ untuk pasien rawat jalan dan rawat inap, serta data permintaan obat dan alkes dari depo farmasi ke gudang sebagai laporan pengeluaran perbekalan farmasi. Kegiatan pencatatan dan pelaporan bulanan yang dilakukan oleh TU seperti penyusunan laporan pengeluaran perbekalan farmasi, laporan tagihan pasien, laporan penulisan obat generik dan non generik dilaporkan sebelum tanggal 20, sedangkan pelaporan penggunaan psikotropika dan narkotika dilakukan sebelum tanggal 10. Laporan selain pemakaian psikotropika dan narkotika akan ditujukan kepada Direktur Medik dan Keperawatan dan Kepala Instalasi Rekam Medik dan Informasi Kesehatan (IRMIK), sedangkan laporan pemakaian psikotropik dan narkotik dikirimkan oleh TU ke Bagian Umum Rumah Sakit untuk dibuatkan surat pengantar yang ditandatangani oleh Direktur Medik dan Keperawatan dan dikirim ke Dinas Kesehatan Jakarta Selatan.
Arsip yang disimpan terlebuh dahulu disusun berdasarkan bulan dan diurutkan dari tanggal yang termuda. Arsip inikemudian disimpan di dalam kardus yang diberi label berisi nama kelompok, asal,serta bulan dan tahunnya. Arsip-arsip seperti surat masuk dan keluar, kepegawaian, laporan bulanan, serta
48
SK Direktur Rumah sakit disimpan selama lima tahun sedangkan arsip resep disimpan selama tiga tahun. Pemusnahan arsipdilakukan pada arsip yang sudah lewat masa penyimpanannya, sebelum dimusnahkan terlebih dahulu arsip didata, dipisahkan, dibuat surat permohonan pemusnahan ke Bagian Umum RSUP Fatmawati dengan dilampirkan Laporan Pemusnahan Arsip. Arsip-arsip tersebut kemudian dikirim ke Bagian Umum untuk dimusnahkan.
Selama ini, proses pelaporan rutin yang diserahkan dari tiap Depo Farmasi hanya dilakukan dalam bentuk hard copy. Sebaiknya pelaporan juga diserahkan dalam bentuk file (soft copy) kepada TU. Hal ini perlu dilakukan agar TU lebih mudah melakukan pengolahan atau rekapitulasi data-data yang diperoleh dari tiap Depo Farmasi.
4.1.2. Depo Instalasi Gawat Darurat (IGD)
Depo Instalasi Gawat Darurat memberikan pelayanan untuk pasien rawat jalan dan pasien rawat inap di IGD. Pelayanan rawat jalan diberikan di Poli IGD dan Rawat Darurat sedangkan pelayanan untuk rawat inap diberikan untuk ruang ICCU, ICU, NICU, dan PICU. Poli IGD memiliki dua loket untuk memberikan pelayanan pengobatan di rawat jalan yaitu loket untuk rawat darurat dan Poli IGD. Poli IGD ini melayani pasien yang menjalani pemeriksaan umum di IGD sedangkan rawat darurat untuk penolongan pertama pada pasien yang membutuhkan penanganan segera. Pendistribusian obat untuk pasien-pasien rawat inap dilakukan dengan sistem unit dose. Diruang rawatdarurat terdapat lemari emergency yang selalu diperiksa tiga kali sehari sedangkan di ruang rawat inap lemari emergency di periksa satu kali sehari.
Proses permintaan obat dan alat kesehatan di depo IGD terutama di rawat darurat dimulai dari permintaan obat dan alat kesehatan yang sudah dipaketkan oleh perawat, kemudian perawat mencatat nama pasien yang menggunakan paket tersebut, setelah selesai digunakan pakettersebut dikembalikan dan dibuat perincian penagihan untuk obat dan alat yang telah dipakai oleh pasien, paket yang sudah digunakan kemudian akan diisi kembali untuk penggunaan selanjutnya.
kesehatan; sediaan padat, semi padat dan cair; obat generik dan non generik; suhu penyimpanan; alfabetis; narkotika dan psikotropika. Pada tempat penyimpanan tersebut telah ditempel tanda Look a Like Sound a Like (LASA) berwarna kuning dan High Alert berwarna merah. Obat-obat yang dikategorikan LASA adalah obat-obat yang memiliki nama, dosis, pelafalan, dan bentuk yang serupa seperti Amdixal 5 dan Amdixal 10, Furosemid dan Diazepam. Kategori obat High Alert adalah obat yang dapat menyebabkan kerusakan secara serius apabila terjadi kesalahan dalam penanganan dan penggunaannya, seperti kalium klorida dan kalsium glukonat. Penyimpanan yang terdapat di Depo IGD kurang rapi meskipun telah disusun sedemikian rupa, mungkin dikarenakan tempatnya yang cukup sempit disertai mobilitas yang tinggi.
Pelaporan yang dilakukan adalah pelaporan obat generi, narkotika dan psikotropika, analisa penjualan, dan daftar pelunasan pasien kredit.
4.1.3. Depo Farmasi Instalasi Rawat Inap dan Depo Teratai
Instalasi rawat inap di RSUP Fatmawati terdapat di Depo Teratai, Depo Profesor Soelarto, dan Depo IGD. Sistem pendistribusian yang dilakukan di Depo Teratai adalah sistem unit dose, floor stock, dan individual prescription. Sistem unit dose yaitu sistem pendistribusian obat untuk pasien rawat inap dalam kemasan sekali pakai dalam waktu 24 jam. Pembuatan kemasan sistem unit dose dimulai dengan pemberian formulir instruksi obat dari dokter, kemudian obat tersebut diperiksa oleh petugas lantai dan dicek ketersediaan dan kerasionalan obatnya jika terdapat hal-hal yang tidak sesuai akan dikonfirmasikan ke dokter. Petugas lantai menyiapkan obat dalam kemasan sekali pakai yang disertai keterangan waktu minum obat (pagi/siang/sore/malam), untuk obat-obat tertentu seperti simvastatin dan rifampisin dipisahkan karena penggunaannya khusus seperti simvastatin hanya diminum pada malam hari rifampisin diminum satu jam sebelum makan. Setiap kemasan sekali pakai itu dibuat untuk satu hari dan diantarkan ke kamar pasien setiap siang untuk mulai diminum di waktu sore hari. Kemasan ini kemudian diletakkan di kereta obat yang sudah dituliskan nama semua pasien yang akan diberikan obatnya. Penggunaan sistem unit dose ini beranfaat bagi pasien karena pasien hanya membayar obat dan alat kesehatan yang
50
digunakan saja,namun kekurangannya membutuhkan sumber daya manusia yang banyak, bahan pendukung seperti kemasan obat yang banyak sehingga lebih mahal. Peran apoteker dalam sistem unit dose masih dirasakan kurang karena hampir keseluruhan proses lebih banyak dikerjakan oleh asistem apoteker, sehingga monitoring efek terapi belum dirasakan maksimal.
Sistem floor stock dilakukan untuk sediaan farmasi dan alat kesehatan yang digunakan untuk pemakian bersama seperti sarung tangan, alkohol, masker, dan lainnya. Permintaan barang floor stock dilakukan langsung ke gudang induk. Distribusi obat sistem individual prescription diberikan untuk obat yang akan dibawa pulang atau resep pulang dan untuk resep cito.
Secara umum alur permintaan obat dan alat kesehatan di Depo Farmasi Teratai adalah resep yang diterima kemudian dipisahkan antara yang cito dan unit dose. Resep unit dose kemudian akan dipisahkan antara obat oral dan injeksi. Resep cito diberikan kepada pasien yang membutuhkan obat dengan cepat, yang membawa resep cito adalah perawat atau keluarga pasien. Resep kemudian diserahkan ke petugas lantai, kemudian petugas lantai akan menyiapkan kemasan dan etiket yang akan digunakan. Petugas gudanglah yang akan memasukan obat dan alat kesehatan ke kantong, kemudian petugas lantai akan melakukan pengecekan obat dan alat kesehatan yang diberikan petugas gudang. Petugas akan menyerahkan obat dan alat kesehatan ke keluarga pasien atau perawat.
Penyimpanan obat dilakukan dengan memisahkan berdasarkan obat dan alat kesehatan, bentuk sediaan, generik dan non generik, suhu penyimpanan, alfabetis, narkotika dan psikotropika. Khusus untuk obat narkotika dan psikotropika disimpan dalam lemari tersendiri dan terkunci. Selain itu, terdapat lemari emergency yang berisi obat dan alat kesehatan yang dapat langsung digunakan sewaktu-waktu dibutuhkan tanpa meminta ke depo farmasi. Petugas farmasi juga secara rutin melakukan pemeriksaan rutin terhadap lemari emergency yang terdapatdi ruang High Care Unit (HCU) lantai 4 utara, 5 selatan dan 6 selatan. Petugas memeriksa penggunaan obat dan alat kesehatan yang digunakan oleh pasien dan mencatatnya dalam buku khusus. Depo Farmasi Teratai memiliki paket obat dan alat kesehatan untuk meahirkan agar mempercepat pelayanan. Paket tersebut terdiri dari partus normal, partus sectio, abortus/kuret, hamil kontraksi,
(Kehamilan Ektopik Terganggu), KPD (Ketuban Pecah Dini), PEB (Pre Eklampsia Berat), HPP (Haemoragic Post Partus).
Pada pasein rawat inap terdapat pelayanan konseling, dimulai dari pemberitahuan kepulangan pasien dari perawat ke depo farmasi. Petugas depo akan memberitahu kepada apoteker yang akan melakukan konseling. Obat yang akan di bawa pulang oleh pasien akan diserahkan perawat kepada apoteker untuk dapat diberikan konseling dan informasi obat yang dibutuhkan.
Laporan-laporan yang dikerjakan oleh depo farmasi rawat inap antara lain pelaporan obat generik dan non generik, narkotika dan psikotropika, analisa penjualan, serta daftar pelunasan.
Depo farmasi rawat inap setiap harinya menerima resep racikan lebih kurang 19 resep per hari, namun hanya tersedia1 motor blender dan 2 mangkok serta 1 pasang mortar alu. Jika resep racikan yang dibutuhkan banyak maka pembersihan blender hanya menggunakan kuas untuk mempercepatnya , sehingga akan lebih baik jika ditambahkan 1 hair dryer dan 1 motor blender untuk mempercepat pengerjaan dan proses pengeringan jika blender sedang dipakai.
4.1.4 Depo Farmasi Instalasi Rawat Jalan (IRJ)
Pelayanan rawat jalan RSUP Fatmawati dilakukan di dua tempat utama yaitu poliklinik dan Depo ASKES dan Pegawai. Poliklinik yang melayani rawat jalan terdapat di Instalasi Rawat Jalan dan Griya Husada. Depo Farmasi Rawat Jalan di Instalasi Rawat Jalan (IRJ) yang terdapat terdapat di Instalasi Rawat Jalan terdiri dari 3 lantai. Lantai 1 melayani pasien tunai, jaminan kantor, pasien asuransi kesehatan lain, dan pasien HIV/AIDS. Depo farmasi lantai 2 dan 3 melayani pasien ASKES, tunai, Jamkesmas, Jamkesda, Gakin, dan TMDKI. Depo farmasi rawat jalan menggunakan distribusi obat individual prescription.
Proses pelayanan resep di Depo IRJ diawali dengan pasien memberikan resep di dalam keranjang disertai dengan kartu pasien. Petugas kemudian akan memeriksa jenis pembayaran yang akan digunakan pasien, apabila menggunakan jaminan kantor atau asuransi lain diluar ASKES maka di periksa kelengkapannya seperti fotokopi kartu jaminan. Kemudian resep dihargai dan pasien akan dipanggil untuk diberitahu harga yang harus dibayar. Pasien yang telah
52
menyetujui harga yang ditentukan, kemudian pasien akan melakukan pembayaran dan mendapatkan nomor antrian. Resep diserahkan ke bagian pemberian etiket dan label melalui loket kecil di belakang kasir. Setelah pemberian etiket dan label, penyiapan obat akan dibedakan menjadi dua bagian yaitu untuk obat racik dan non racik. Obat yang tidak tersedia di depo farmasi manapun, akan diberikan copy resep oleh petugas untuk ditebus di apotek lain. Obat-obat yang telah selesai di siapkan ditaruh di keranjang di belakang loket penyerahan obat. Petugas bagian penyerahan akan mengambil obat di keranjang untuk diserahkan ke pasien. Saat penyerahan petugas akan memeriksa kesesuaian antara kuitansi dengan obat yang disiapkan baik dari jumlahnya maupun nama dan jenis obatnya. Pasien dimintai nomor telepon, tanda tangan, bukti pembayaran, serta diberikan informasi obat, dan saran untuk konseling jika diperlukan. Setelah penyerahan obat selesai, maka akan dilakukan pendataan dan pelaporan untuk dijadikan arsip. Pelaporan yang dilakukan adalah obat generik setiap bulan, narkotika dan psikotropika setiap bulan, daftar pelunasan dibuat harian, analisa penjualan setiap bulan,dan jumlah R/.
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses peracikan. Setiap harinya depo farmasi rawat jalan lantai 1 menerima resep racikan lebih kurang 15-25 R/ per hari. Tersedia 3 motor blender dengan 5 mangkok serta 1 pasang mortar dan alu. Motor blender yang digunakan dibagi untuk 3 jenis resep, yaitu resep dewasa, anak, dan HIV/AIDS. Saat proses peracikan berlangsung blender yang telah dipakai dibersihkan hanya dengan kuas untuk mempersingkat waktu, namun perlakuan ini dapat menyebabkan interaksi obat. Blender yang telah dipakai akan lebih baik bila dibersihkan dengan air terlebih dahulu, kemudian dikeringkan dengan alkohol atau hair dryer. Namun, karena jumlah blender yang digunakan terbatas serta mortar dan alu yang cenderung lama pengerjaannya maka terkadang hal tersebut sulit dilakukan. Pembersihan mortar dan stemper pun terkadang hanya menggunakan alkohol. Untuk menangani hal tersebut dapat dilakukan dengan menyediakan 2 motor blender dan 1 hair dryer, dimana 2 motor blender digunakan sebagai pengganti blender yang baru saja dicuci untuk resep anak dan dewasa serta meja racik lebih didedekatan dengan wastafel.
Di depo farmasi rawat jalan terdapat satu ruangan khusus untuk melaksanankan konseling. Pasien yang dikonseling adalah pasien dengan penyakit kronik, rujukan dokter, dan juga atas permintaan pasien. Pasien dalam hal ini dapat menghubungi petugas depo farmasi, petugas akan menghubungi apoteker farmasi klinik untuk melakukan konseling obat. Apoteker yang memberikan konseling akan mengisi kartu konseling yang berisi daftar obat yang digunakan pasien saat ini, untuk membantu apoteker memonitor penggunaan dan terapi obat yang dilakukan pasien.
Pada pasien HIV/AIDS mendapat kartu obat khusus yang berisi jenis obat yang telah dikonsumsi, dengan kartu ini dapat dilihat apakah terdapat penggantian obat atau tidak. Kartu ini juga berfungsi untuk mengendalikan obat HIV/AIDS karena obat ini mahal dan merupakan obat sumbangan dari Kementerian Kesehatan. Kartu ini selalu dibawa saat akan mengambil obat disertai resep. Pasien mengambil obat ini satu bulan sekali, apabila pengambilan ingin dilakukan lebih awal maka dilakukan sedikitnya satu minggu sebelum tanggal pengambilan ditetapkan. Saat penyerahan obat ini pasien menandatangani berkas registrasi pemberian obat untuk pengarsipan depo farmasi. Pasien HIV/AIDS memiliki nomor registrasi yang dapat dipakai di seluruh Indonesia, oleh RSUP Fatmawati nomor ini diterbitkan oleh Klinik Wijaya Kusuma. Pelaporan penggunaan obat ini di tangani oleh Tim khusus dari Klinik Wijaya Kusuma di RSUP Fatmawati untuk kemudian dilaporkan tiap bulan ke Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2MPL) di Kementrian Kesehatan khusus penanganan HIV/AIDS dan Dinas Kesehatan Jakarta Selatan. Pelaporan ini berisi penggunaan obat dari tanggal 26 sampai tanggal 25 bulan berikutnya, laporan ini dikirim ke pihak terkait sebelum tanggal 10. Permintaan obat HIV/AIDS ini didasarkan pada laporan penggunaan obat HIV/AIDS atau Rejimen Anti Retroviral Terapi (ART) setiap pasien per bulannya, rejimen yang dimaksudkan adalah kombinasi obat yang digunakan. Penghitungan penggunaan obat HIV/AIDS dan permintaan obat ini sudah menggunakan program dengan sistem otomatis.
Sistem penyimpanan obat di Depo IRJ dilakukan berdasarkan jenis sediaan, suhu, dan alfabetis. Alat kesehatan dan obat disimpan terpisah.
54
Penyimpanan obat psikotropika di lemari khusus, namun tidak selalu terkunci, sedangkan untuk obat narkotik disimpan di lemari yang di tempel di dinding yang selalu terkunci dan kuncinya dibawa oleh apoteker depo. Obat-obat yang mahal dan diatas Rp.10.000,00 per tabletnya disimpan didalam laci tersendiri. Pada penyimpanan beberapa obat terkadang tidak rapi, karena terdapat obat-obat yang digunakan untuk racikan setelah digunakan tidak dikembalikan ke tempatnya semula namun diletakkan di sebelah meja peracikan. Hal ini menyebabkan stok obat di tempat penyimpanan menjadi kosong.
4.1.5 Depo Farmasi ASKES dan Pegawai
Depo ASKES di RSUP Fatmawati terdapat di tiga tempat yaitu Depo ASKES lantai 1 di gedung farmasi, lantai 2, dan 3 di Gedung IRJ. Lantai 1 gedung farmasi merupakan depo ASKES dan pegawai yang melayani untuk pegawai negeri sipil ,TM-DKI, Gakin, Askes, Jamkesmas, Jamkesda. Lantai 2 dan 3 gedung poliklinik rawat jalan melayanai Tunai, Jamkesmas, Jamkesda, Askes, Gakin, dan TMDKI.
Alur pelayanan di depo ASKES dimulai dari pasien datang membawa resep disertai dengan kelengkapan administrasi sesuai dengan status jaminan pasien. Petugas depo kemudian akan melakukan penyortiran dan pemeriksaan sesuai dengan kelengkapan status penjamin pasien, apabila tidak lengkap pasien akan diminta untuk melengkapinya terlebih dahulu. Di depo ASKES lantai 1 penerimaan resep dibagi menjadi dua bagian yaitu untuk pegawai negeri sipil, TMDKI, Gakin dan Askes, Jamkesmas, Jamkesda. Pada tahap penyortiran diperiksa juga kesesuaian obat dengan buku standar ASKES adalah DPHO (Daftar Plafon Harga Obat) untuk pasien ASKES dan pegawai serta Formularium Jamkesmas untuk pasien TMLD. Persyaratan untuk pasien ASKES adalah Resep asli, SJP (Surat Jaminan Pelayanan) Merah dan Kuning, Surat rujukan asli dari puskesmas, Kartu berobat di RSUP Fatmawati, bila prosedur khusus dengan melampirkan formulir tindakan khusus rangkap 2 dan diagnosis rangkap 2. Persyaratan untuk pasien pegawai adalah resep asli dan 1 lembar foto copy resep, SJP Asli dan 1 lembar foto copy SJP, surat rujukan asli dari puskesmas, Kartu berobat di RSUP Fatmawati, foto copy kartu JPK 2 lembar, foto copy kartu
ASKES 2 lembar untuk yang sakit. Persyaratan untuk pasien TM-LD atau Jamkesda adalah resep asli dan 1 lembar foto copy resep, SJP asli dan 2 lembar foto copy SJP, foto copy 2 lembar surat pengantar dari Dinkes daerah, foto copy 2 lembar kartu Jamkesda, surat rujukan asli dari Puskesmas, kartu berobat di RSUP Fatmawati, foto copy 2 lembar Kartu Keluarga (KK), foto copy KTP, Akte untuk anak dibawah umur.
Tahapan selanjutnya akan dilakukan penghitungan obat generik dan generik, kemudian akan penginputan data resep untuk pemotongan stok barang farmasi dan penagihan ke PT ASKES. Resep kemudian diserahkan ke petugas pemberian etiket dan label, lalu dilakukan pengisian dan peracikan obat. Obat yang telah selesai disiapkan akan diambil oleh petugas penyerahan obat yang dilakukan oleh apoteker atau asisten apoteker, saat penyerahan dilakukan pengecekan dan pemberian informasi obat. Pada bagian tertentu terdapat petugas yang memisahkan berkas resep yang telah diinput untuk arsip depo farmasi dan untuk diberikan ke petugas IPP (Instalasi Penagihan Pasien) untuk diteruskan ke PT ASKES. Obat-obat di luar ASKES, pembayaran dilakukan setelah penyerahan dan untuk obat yang tidak tersedia akan diberikan salinan resep. Setiap harinya depo ASKES gedung farmasi menerima resep racikan lebih kurang 30 R/ per hari. Tersedia 1 motor blender dengan 3 mangkok serta 2 pasang mortar dan alu. Saat proses peracikan berlangsung blender yang telah dipakai dibersihkan hanya dengan kuas untuk mempersingkat waktu, namun perlakuan ini dapat menyebabkan interaksi obat. Blender yang telah dipakai akan lebih baik bila dibersihkan dengan air terlebih dahulu, kermudian dikeringkan dengan alkohol atau hair dryer. Namun karena jumlah blender yang digunakan terbatas serta mortar dan stemper yang cenderung lama pengerjaannya maka terkadang hal tersebut sulit dilakukan. Pembersihan mortar dan alupun terkadang hanya menggunakan alkohol. Untuk menangani hal tersebut dapat dilakuan dengan menyediakan 1 motor blender dan 1 hair dryer, dimana 1 motor blender digunakan sebagai pengganti blender yang baru saja dicuci dan meja racik lebih di