• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Perikanan dari Hasil Kajian EAFM

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

6.1.2. Pengelolaan Perikanan dari Hasil Kajian EAFM

Hasil analisis dengan metode EAFM terhadap Performa perikanan di KKPD Sultra secara umum termasuk dalam kriteria sedang.

Beberapa domain yang perlu mendapat perhatian yang serius untuk keberlanjutan status performa perikanan di KKPD Sultra yaitu; domain social, domain kelembagaan dan domain Teknik,

Beberapa indikator pada setiap domain masih menunjukan skor kriteria yang rendah atau buruk sehingga indicator ini yang menjadi focus rencana program berikutnya,

6.2. Rekomendasi

6.2.1. Metode dan Analisa Indikator EAFM

Perlu ada keseragaman penerapan metode dan anlisa indikator EAFM untuk semua kawasan konservasi didaerah lain sehingga keluar satu model EAFM untuk kawasan konservasi perairan.

Perlu uji coba indicator setiap domain pada kawasan konservasi yang telah di zonasi sehingga ada perlakuan yang berbeda antara setiap zonas serta kemungkinan ada perbedaan indicator antar zona KKPD

Perlu adanya perbaikan pendataan statistik perikanan yang dapat mendukung pelaksanaan analisis EAFM di kawasan KKPD

WWF - FPIK UHO | Penilaian Performa Perikanan Menggunakan Indikator EAFM di Kawasan KKPD Sultra

VI - 2 Perlu adanya penguatan sumberdaya manusia di lingkup DKP dan masyarakat

khususnya yang bersinggungan dnagn KKPD dalam pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem.

6.2.2. Pengelolaan Perikanan dari Hasil Kajian EAFM

Perlu adanya perbaikan pada domain sumberdaya ikan, habitat dan ekosistem dan domain kelembagaan

Skala prioritas perlu dilakukan segera terhadap domain teknik penangkapan ikan dan domain sosial

Rancangan perbaikan setiap indicator harus sudah tercover didalam perencanaan kegiatan DKP Provinsi maupun kabupaten

Danya monitoring secara berkala khususnya kegiatan-kegiatan penagkapan ikan maupun aktivitas lainnya yang ada di kawasan konservasi perairan daerah (KKPD)Sultra.

WWF - FPIK UHO | Penilaian Performa Perikanan Menggunakan Indikator EAFM di Kawasan KKPD Sultra

1

R e f e r e n s i

Anonim., 2014. Modul Penilaian Pendekatan Ekosistem dalam Pengelolaan Perikanan (EAFM). National Working Group on Ecosystem Approach to Fisheries Management, Direktorat Sumberdaya Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.Jakarta

Adrianto L, Arsyad AM, Ahhmad S, dan Dede IH., 2011. Konstruksi Lokal Pengelolaan Sumberdaya Perikanan di Indonesia. PT Penerbit IPB Press.

Anonim, 2006. Studi basline ekologi Kabupaten Wakatobi. CRITC-LIPI. Jakarta

Abdullah, 2011. Koosisi jenis ikan yang tertangkap dengan alat tangkap payang di perairan Teluk Staring Kabupaten Konawe Selatan. Skripsi Jurusan Periknan FPIK. Universitas Haluoleo. Kendari

Alfajar, 2013. Studi kesesuaian jenis untuk perencanaan Rehabilitasi ekosistem angrove di Desa Wawatu Kecamatan Moramo Utara Provinsi Sulawesi Tenggara. Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo. Kendari

Balai Taman Nasional Wakatobi, 2009. Buku Informasi Taman Nasional Wakatobi. Bau-Bau Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kab. Konawe. 2016. Statistik Perikanan 2015. DKP

Kab. Konawe.

DKP Kabupaten Konawe.2015. Laporan Tahunan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Konawe,Unaaha

DKP Kabupaten Konawe Selatan, 2016. Laporan Tahunan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Konawe Selaan, Andoolo

DKP Prov. Sultra, 2014. Rencana Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Provinsi Sulawesi Tenggara, Kendari

Bapped Konawe Selatan. 2011. Masterplan Kawasan Minapolitan Kabupaten Konawe Selatan. Andoolo.

DKP Propinsi Sulawesi Tenggara. 2016. Statistik Perikanan Tangkap Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2015. Kendari. Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sulawesi Tenggara.

DKP Provinsi Sultra, 2012. Identifikasi dan Penilaian Potensi Calon Kawasan Konservasi Perairan di Provinsi Sulawesi Tenggara. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara. Kendari

WWF - FPIK UHO | Penilaian Performa Perikanan Menggunakan Indikator EAFM di Kawasan KKPD Sultra

2 DKP Provinsi Sultra, 2014. Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Perairan

di Provinsi Sulawesi Tenggara. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara. Kendari

DKP Provinsi Sultra, 2015. Statistik Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara. Kendari

Fitria, 2013. Studi kelayakan lokasi karamba jaring apung (KJA) Dalam budidaya ikan kerapu (epinephelus spp.) Di Perairan Desa Wawatu Kabupaten Konawe Selatan. . Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo. Kendari

Siringiringo R. M., Palupi,R. D., Hadi, T. A., 2012. Biodiversitas Karang Batu (Scleractinia) di Perairan Kendari. Jurnal Ilmu Kelautan. LIPI. In Jakara

Plagányi,E., 2003. Models for an ecosystem approach to fisheries.. FAO Fisheries Technical Paper. University of Cape Town South Africa. Food And Agriculture Organization Of The United Nations. Rome.

FAO, 1997. Fisheries Management .Technical Guidelines for Responsible Fisheries. Food And Agriculture Organization Of The United Nations. Rome.

FAO, 2003. Fisheries Management . The ecosystem approach to fisheries. Technical Guidelines for Responsible Fisheries. Food And Agriculture Organization Of The United Nations. Rome.

Fletcher, R., 2008. A Guide to implementing an Ecosystem approach to fisheries management (EAFM) for tuna fisheries of the Western and Central Pacfic Region. Pacific Islands Forum Fisheries Agency Honiara. Solomon Islands.

Gracia, S.M. and Cochrane, K.L 2005. Ecosystem Approach to Fisheries : A Review of Implementation Guidelines. ICES Journal of Marine Sciences

Ram li M. 2012. Kontrib usi Ekosistem Mangrove sebagai Pemasok Makanan Ikan Belanak (Liza sub viridis) d i Perairan Panta i Utara Konawe Selata n Sulawesi Tenggar a. [Disertasi] t idak dipubl ikasikan. Bogor. Sekolah Pascasar jana IPB

WWF - FPIK UHO | Penilaian Performa Perikanan Menggunakan Indikator EAFM di Kawasan KKPD Sultra 1

L a m p i r a n

Lampiran 1. Tabel Hasil Analisis Domain Habitat dan Ekosistem

INDIKATOR DEFINISI/ PENJELASAN KRITERIA DATA ISIAN SKOR BOBOT (%) RANKING NILAI

1. Kualitas perairan

1= tercemar; Parameter kualitas air berada dibawah batas

ambang baku mutu perairan dalam KEPMEN No. 51/2004 tentang Baku Mutu Perairan. 57,4 % responden mengatakan daerah tempat tinggal tercemar sedang dan 42,6% tidak tercemar

2 20 1 33,3

2=tercemar sedang; 3= tidak tercemar

Tingkat kekeruhan (NTU) untuk mengetahui laju sedimentasi perairan

1= > 20 mg/m^3 konsentrasi tinggi 2= 10-20 mg/m^3 konsentrasi sedang; 3= <10 mg/m^3 konsentrasi rendah Satuan NTU

Nilai kekeruhan yang terukur di perairan Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara adalah 5,75 - 24,81 NTU yang termasuk dalam kategori sedang (BLH Prov Sultra, 2016).

1

Eutrofikasi 1= konsentrasi klorofil a < 2 µg/l; terjadi

eutrofikasi;

Hasil analisa data primer 2016 konsentrasi klorofil berkisar 2,91 - 6,93 mg/m3. Data DKP Prov, 2016 berkisar 0,68 - 2,72 mg/m3

2

2= konsentrasi klorofil a 2-5 µg/l; potensi terjadi eutrofikasi;

3= konsentrasi klorofil a > 5 µg/l tidak terjadi eutrofikasi

2. Status ekosistem lamun

Luasan tutupan lamun. 1=tutupan rendah, 29,9%; Nilai tutupan lamun dapat dilihat di kawasan

KKPD khususnya Teluk Staring berkisar 10 - 80% denagn rata-rata tutupan lamun =

33,18% (KKPD Prov. Sultra, 2016)

3 15 2 37,5

2=tutupan sedang, 30-49,9%; 3=tutupan tinggi, 50%

1=keanekaragaman rendah (H' < 3,2 atau H' < 1), jumlah spesies < 3

Nilai keanekaragaman atau jumlah spesies lamun di kawasan KKP Sultra sebanyak 5

jenis (KKPD Prov. Sultra, 2016)

2

2 = kanekaragaman sedang (3,20<H’<9,97 atau

1<H’<3), jumlah spesies 3-7

3 = keanekaragaman tinggi (H’>9,97 atau

H’>3), jumlah spesies > 7

3. Status ekosistem

Kerapatan, nilai penting, perubahan luasan dan jenis

1=tutupan rendah, < 50%; Kerapatan mangrove di pesisir wilayah

KKPD berkisar 1400-5000 ind/ha. (KKPD

WWF - FPIK UHO | Penilaian Performa Perikanan Menggunakan Indikator EAFM di Kawasan KKPD Sultra 2

INDIKATOR DEFINISI/ PENJELASAN KRITERIA DATA ISIAN SKOR BOBOT

(%) RANKING NILAI

mangrove mangrove 2=tutupan sedang, 50 - < 75%; Sultra, 2016

3=tutupan tinggi, 75 %

1=kerapatan rendah, <1000 pohon/ha, tutupan <50%;

Keanekaragam ekosistem mangrove mencapai yaitu pohon 1,7683 (KKPD Sultra,

2016). kriteria keanekaragaman mangrove mencapai kriteria sedang

2

2=kerapatan sedang 1000-1500 pohon/ha, tutupan 50-75%;

3=kerapatan tinggi, >1500 pohon/ha, tutupan >75%

4. Status ekosistem terumbu karang

> Persentase tutupan karang keras hidup (live hard coral cover).

1=tutupan rendah, <25%; Putupan karang hidup yang terukur di

kecaatan Laonti rata-rata berkisar 27% sedang di kecamatan Moramo = 25% (KKPD, 2012). Di pulau Lara tutupan karang hidup mencapai 64,82% (Adi, dkk 2012), Teluk Stairng = 29,6 - 70,48 (KKP, 2012)

2 15 4 26,5

2=tutupan sedang, 25-49,9%; 3=tutupan tinggi, >50%

1=keanekaragaman rendah (H' < 3,2 atau H' < 1);

nilai keanekaragaman di Teluk Wawatu 3,64 dengan jumlah jenis karang batu = 51 jenis. (Si ringiringo, 2012)

2

2 = kanekaragaman sedang (3,20<H’<9,97 atau 1<H’<3);

3 = keanekaragaman tinggi (H’>9,97 atau H’>3)

1= luasan mangrove berkurang dari data awal; 2= luasan mangrove tetap dari data awal; 3= luasan mangrove bertambah dari data awal

Informasi dari 90 % responden mengatakan bahwa luas mangrove di kawasan ini telah berkurang dari luas awal akibat di konversi dan sebagai bahan konstruksi

1

1 = INP rendah (< 100); 2 = INP sedang (100-200); 3 = INP tinggi (>200)

INP mangrove dari setiap jenis berkisar 17-300 (Muh.Ramli 2012) dan antara 16,84 - 300 (KKPD Sultra, 2016)

2

5. Habitat unik/khusus

Luasan, waktu, siklus, distribusi, dan kesuburan perairan, spawning ground, nursery ground, feeding ground, upwelling, nesting beach

1=tidak diketahui adanya habitat unik/khusus; Menurut informasi dari masyarakat hingga

saat ini telah di ketahui adanya habitat khusus tempat pemijahan lobster, rajungan

dan ikan kakap namun belum berdasarkan hasil kajian

1 15 4 15

2=diketahui adanya habitat unik/khusus tapi tidak dikelola dengan baik;

3 = diketahui adanya habitat unik/khusus dan dikelola dengan baik

WWF - FPIK UHO | Penilaian Performa Perikanan Menggunakan Indikator EAFM di Kawasan KKPD Sultra 3

INDIKATOR DEFINISI/ PENJELASAN KRITERIA DATA ISIAN SKOR BOBOT

(%) RANKING NILAI 2=produktivitas sedang; 3=produktivitas tinggi 6. Status dan produktivitas estuari dan perairan sekitarnya

Tingkat produktivitas perairan estuar

1=produktivitas rendah; 2=produktivitas sedang; 3=produktivitas tinggi

Produktivitas estuari berdasarkan

kelimpahan phytoplankton = 10.125 - 24.300 ind/l yang tergolong tinggi (KKPD Sultra, 2014) 3 10 5 30 7. Perubahan iklim terhadap kondisi perairan dan habitat

Untuk mengetahui dampak perubahan iklim terhadap kondisi perairan dan habitat

> State of knowledge level :

Berdasarkan pengamatan secara kualitatif dan informasi dari masyarakat bahwa di kawasan ini terkena dampak perubahan iklim

khsuusnya pada ekosistem pesisir namun hingga saat ini belum ada strategi dan mitigasi untuk mengaadapi hal teresebut

1 10 6 10

1= belum adanya kajian tentang dampak perubahan iklim;

2= diketahui adanya dampak perubahan iklim tapi tidak diikuti dengan strategi adaptasi dan mitigasi;

3 = diketahui adanya dampak perubahan iklim dan diikuti dengan strategi adaptasi dan mitigasi

> state of impact (key indicator menggunakan terumbu karang):

Infromasi dari responden mengatakan bahwa di kawasan terumbu karang mengalami pemutihan, kondisi ini diduga merupakan dampak dari perubahan iklim, khususnya pada kedalaman kurang dari 7 meter

1

1= habitat terkena dampak perubahan iklim (e.g coral bleaching >25%);

2= habitat terkena dampak perubahan iklim (e.g coral bleaching 5-25%);

3= habitat terkena dampak perubahan iklim (e.g coral bleaching <5%)

RERATA TOTAL TOTAL

1,9 100 197,08

WWF - FPIK UHO | Penilaian Performa Perikanan Menggunakan Indikator EAFM di Kawasan KKPD Sultra 4 Lampiran 2. Tabel Hasil Analisis Domain Sumberdaya Ikan

INDIKATOR KRITERIA DATA ISIAN IKAN KARANG

DATA ISIAN

IKAN KEMBUNG IKAN KUWE DATA ISIAN SKOR BOBOT (%) RKG NILAI

1. CPUE Baku 1 = menurun tajam (rerata

turun > 25% per tahun)

57,8% responden menyatakan bahwa hasil tangkapan per trip mengalami penurunan dibanding 5 tahun yang lalu, 42,2% menyatakan sama saja. CPUE rata2 saat ini 39 kg/trip/unit kapal. Kerapatan Ikan Karang di Labuan Beropa Menurun dari 1,9 ind/m2 tahun 2010 menjadi 0,76 ind/m2 tahun 2014 (menurun 20,8% per thn)

67,74% responden menyatakan bahwa hasil tangkapan per trip mengalami penurunan dibanding 5 tahun yang lalu, 32,26% menyatakan sama saja. CPUE rata-rata saat ini 37,35 kg/trip/unit kapal. Produksi ikan kembung menurun 56% antara tahun 2009 dan 2013 (DKP Provinsi 2014)

54,55% responden menyatakan bahwa hasil tangkapan per trip mengalami penurunan dibanding 5 tahun yang lalu, 45,45%

menyatakan sama saja. CPUE rata-rata saat ini 23,9 kg/trip/unit kapal. Produksi ikan kuweh meningkat 17% antara tahun 2009 dan 2013 (DKP Provinsi 2014) 2.0 40 1 (Killer Indica tor) 80 2 = menurun sedikit (rerata

turun < 25% per tahun) 3 = stabil atau meningkat

2. Tren Ukuran ikan

1 = trend ukuran rata-rata ikan yang ditangkap semakin kecil;

6,6 7% responden menyatakan ukuran hasil tangkapan cenderung lebih kcil dan dan 82,26% responden menyatakan ukuran ikan hasil tangkapan relatif sama saja

17,74% responden menyatakan trend ukuran ikan hasil tangkapan semakin kecil dan 82,26% responden menyatakan sama saja

100% responden menyatakan ukuran ikan hasil tangkapan relatif sama saja

1.3 20 2 26.67

2 = trend ukuran relatif tetap;

3 = trend ukuran semakin besar

3. Proporsi ikan yuwana (juvenile) yang ditangkap

1 = banyak sekali (> 60%) 100% responden tidak

mengetahui karakter ikan yang belum bertelur

59% % responden mengatakan bahwa 30 -40% ikan yang tertangkap belum bertelur, 31% respondentidak mengetahui dan 10% telah bertelur

89% responden mengatakan bahwa proporsi ikan yang belum bertelur dengan ikan dewasa berimbang, 11% responden sedikit ikan bertelur 1.7 15 3 25 2 = banyak (30 - 60%) 3 = sedikit (<30%) 4. Komposisi spesies

1 = proporsi target lebih sedikit (< 15% dari total volume)

88,89% responden menyatakan proporsi ikan target lebih banyak dan 6,67% menyatakan target lebih sedikit. Hasil penelitian di Labuan Beropa ikan target hanya 40,36% (Minsaris 2014)

91,94% responden menyatakan ikan target lebih banyak tertangkap, 8,06% menyatakan target lebih sedikit. Hasil penelitian di Tel.Staring pada alat tangkap payang 35,3 - 46,7 % merupakan ikan target (Abdullah, 2011)

84,85% responden menyatakan proporsi ikan target lebih banyak

3.0 10 4 30

2 = proporsi target sama dgn non-target (16-30% dari total volume) 3 = proporsi target lebih banyak (> 31 % dari total volume) 5. "Range Collapse" sumberdaya ikan 1 = semakin sulit, tergantung spesies target

57,78% responden menyatakan semakin sulit mencari lokasi penangkapan dan 42,22% lainnya

67,74% responden menyatakan semakin sulit medapatkan lokasi penangkapan ikan dan

54,55% responden menyatakan semakin sulit mencari lokasi penangkapan

1.0 5 5 5

2 = relatif tetap, tergantung spesies target

WWF - FPIK UHO | Penilaian Performa Perikanan Menggunakan Indikator EAFM di Kawasan KKPD Sultra 5

INDIKATOR KRITERIA DATA ISIAN IKAN KARANG

DATA ISIAN

IKAN KEMBUNG IKAN KUWE DATA ISIAN SKOR BOBOT (%) RKG NILAI

3 = semakin mudah, tergantung spesies target

menyatakan relatif sama saja 32,26% responden menyatakan relatif sama

dan 45,45% responden menyatakan relatif sama 1 = fishing ground menjadi

sangat jauh, terg. spesies target

75,5% responden menyatakan fishing ground semakin jauh dan

24,4 sisanya menganggap sama saja

69,35% responden menyatakan fishing ground semakin jauh

dan 30,65% responden menyatakan relatif sama saja

63,6% responden menyatakan fishing ground semakin jauh dalam beberapa tahun terakhir

dan 36,3% lainnya menyatakan sama saja

1.0 8

2= fishing ground jauh, terg. spesies target 3= fishing ground relatif tetap jaraknya, terg. spesies target

6. Spesies ETP 1= > 1 tangkapan spesies

ETP;

91,9 % responden menyatakan tidak ada spesies ETP yang tertangkap dan 8,89% responden

menyatakan ada 1 spesies. WWF,( 2015) ada 3 jenis soesies

ETP yang tertangkap

98,39 % responden menyatakan tidak ada spesies ETP yang

tertangkap dan 1,61% responden menyatakan ada 1 spesies. WWF,( 2015) ada 3

jenis soesies ETP yang tertangkap

93,94% menyatakan tidak ada Spesies ETP yang tertangkap dan 6,06% menyatakan 1 spesies) WWF,( 2015) ada 3 jenis spesies ETP yang tertangkap

1.3 5 6 6.66666

67 2 = 1 tangkapan spesies

ETP;

3 = tidak ada spesies ETP yang tertangkap

7. Densitas/ Biomassa untuk ikan karang & invertebrata

Kelimpahan ikan karang di Teluk stairng Kabupaten Konawe berkisar 0,4 - 2,9 ind/m3 1 2 RERATA TOT AL TOTA L 1.5 105 175.3 3

WWF - FPIK UHO | Penilaian Performa Perikanan Menggunakan Indikator EAFM di Kawasan KKPD Sultra 6 Lampiran 3. Tabel Hasil Analisis Domain Teknologi Penangkapan Ikan

INDIKATOR KRITERIA DATA ISIAN

IKAN KARANG

DATA ISIAN IKAN KEMBUNG

DATA ISIAN

IKAN KUWEH SKOR BOBOT

(%) RKG NILAI

1. Metode penangkapan ikan yang bersifat destruktif dan atau ilegal

1=frekuensi pelanggaran > 10 kasus per tahun;

2 = frekuensi pelanggaran 5-10 kasus per tahun ; 3 = frekuensi pelanggaran <5 kasus per tahun

Terdapat 8 orang (17,8%) responden menyatakan masih terjadi penggunaan bahan peledak

dengan kisaran 24-300 kali pertahun. Fishing ground meliputi

P.Hari, P.Saponda, P.Bokori, Tg.Tiram dan Tel. Staring

Terdapat 8 orang (12,9%) responden menyatakan terjadi

penggunaan bom dengan intensitas 3-100 kali pertahun.

Fishing Ground P.Hari, P.Saponda, Tambeanga, Tambolosu, P.Lemo dan

Tg.Tiram

Terdapat 4 orang (12,1%) responden menyatakan masih

terjadi penggunaan bahan peledak dengan intensitas 24-100 kali per tahun. Fishing Ground P. Hari, P.Saponda, Labuan Beropa

1.0 30 1 (Kill er Indic ator) 30 2. Modifikasi alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan.

1 = lebih dari 50% ukuran target spesies < Lm ;

81% ikan karang yang tertangkap telah mencapai ukuran pertama matang gonad (Minsaris, 2014)

84% ikan ukuran ikan yang tertangkap umunya berkisar 9 -17,4 cm sementara Lm ikan kembung 17,6 cm (www.fishbase.org) 84 % hasil tangkapan dibawah ukuran Lm (6 - 13,2 cm) sedangkan ukuran Lm = 13,8 cm utk jenis Sardinella

fimbriat (Abdullah, 2011) 1.7 25 2 41.7 2 = 25-50% ukuran target spesies < Lm 3 = <25% ukuran target spesies < Lm 3. Kapasitas Perikanan dan Upaya Penangkapan (Fishing Capacity and Effort)

1 = Rasio kapasitas penangkapan < 1;

Rasio Kapasitas Penangkapan adalah 0,71

Rasio Kapasitas Penangkapan adalah 0,96

Rasio Kapasitas

Penangkapan adalah 1,03 1.3 15 3 20.0

2 = Rasio kapasitas penangkapan = 1;

3 = Rasio kapasitas penangkapan > 1

4. Selektivitas penangkapan

1 = rendah (> 75%) ; Terdapat 4 jenis alat tangkap

ikan yang tidak selektif dari 6 jenis alat tangkap yang beroperasi

di KPPD Sultra sehinggga PS = 66,7% sehingga ektivitasnya kategori sedang (Data Primer,

2016)

Terdapat 4 jenis alat tangkap ikan yang tidak selektif dari 6

jenis alat tangkap yang beroperasi di KPPD Sultra

sehinggga PS = 66,7% sehingga ektivitasnya kategori

sedang (Data Primer, 2016)

Terdapat 4 jenis alat tangkap ikan yang tidak selektif dari 6

jenis alat tangkap yang beroperasi di KPPD Sultra

sehinggga PS = 66,7% sehingga ektivitasnya kategori sedang (Data

Primer, 2016)

2.0 15 4 30.0

2 = sedang (50-75%) ; 3 = tinggi (kurang dari 50%) penggunaan alat tangkap yang tidak selektif)

5. Kesesuaian fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legal

1 = kesesuaiannya rendah (lebih dari 50% sampel tidak sesuai dengan dokumen legal);

2 = kesesuaiannya sedang (30-50% sampel tidak sesuai dengan dokumen legal); 3 = kesesuaiannya tinggi (kurang dari 30%) sampel tidak sesuai dengan dokumen

Ukuran kapal relatif kecil dan tidak membutuhkan dokumen untuk kapal penangkapan ikan

karang

Semua sampel kapal penangkapan memiliki spesifikasi kapal penankapan

ikan sesuai dengan kelengkapan dokumennya

(Purse seine dan payang)

Semua sampel kapal penangkapan memiliki spesifikasi kapal penankapan

ikan sesuai dengan kelengkapan dokumennya

(Purse seine dan payang)

WWF - FPIK UHO | Penilaian Performa Perikanan Menggunakan Indikator EAFM di Kawasan KKPD Sultra 7

INDIKATOR KRITERIA DATA ISIAN

IKAN KARANG

DATA ISIAN IKAN KEMBUNG

DATA ISIAN

IKAN KUWEH SKOR BOBOT

(%) RKG NILAI legal 6. Sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan. 1 = Kepemilikan sertifikat <50%; 2 = Kepemilikan sertifikat 50-75%; 3 = Kepemilikan sertifikat >75%

Semua respoden tidak memiliki sertifikat kecakapan

Hanya Nahkoda yang memiliki sertifikasi kecakapan sedangkan anak buah yag lain

tidak memiliki sertifikasi kecakapan

Hanya Nahkoda yang memiliki sertifikasi kecakapan sedangkan anak buah yag lain tidak memiliki

sertifikasi kecakapan 1.0 5 6 5.0 RERATA 1.5 TOTAL 100 TOTAL 146,7

WWF - FPIK UHO | Penilaian Performa Perikanan Menggunakan Indikator EAFM di Kawasan KKPD Sultra 8 Lampiran 4. Tabel Hasil Analisis Domain Sosial

INDIKATOR DEFINISI/

PENJELASAN KRITERIA IKAN KARANG IKAN KEMBUNG IKAN KUWEH SKOR

BOBOT (%) RANKING NILAI 1. Partisipasi pemangku kepentingan Keterlibatan pemangku kepentingan

1 = kurang dari 50%; Pengelolaan perikanan tangkap masih merupakan Domain Bidang perikanan tangkap DKP sehingga partisipasi dan siklus pengelolaan sifatnya parial belum jelas, (DKP Sultra, 2016)

Partispasi pemangku kepentingan di tandai dengan keikutsetaan setiap kegiatan pelatiahn, workshop maupun bintek yang hanya berkaitan dengan tupoksi

masing-masing bidang Partispasi pemangku kepentingan di tandai dengan keikutsetaan setiap kegiatan pelatiahn, workshop maupun bintek yang hanya berkaitan dengan tupoksi masing-masing bidang 1.0 40 1 40.0 2 = 50-100%; 3 = 100 % 2. Konflik perikanan Resources conflict, policy conflict, fishing gear conflict, konflik antar sector. 1 = lebih dari 5 kali/tahun; Hasil wawancara 4,4 % responden mengatakan adanya konflik

pemanfaatan fising ground dan kebijakan khususnya nelayan yang

memanfaatkan bom, bius dengan frekuensi lebih dari 5 kali (DKP Prov, 2016)

20,97 % responden mengatakan adanya konflik pemanfaatan

fishing ground dan kebijakan khususnya

nelayan yang memanfaatkan bagan

rambo serta rumpon sebagai alat bantu lebih

dari 5 kali (DKP Prov, 2016)

6,1 % responden mengatakan adanya konflik pemanfaatan

fising ground dan kebijakan khususnya

nelayan yang memanfaatkan rumpon

sebagai alat bantu maupun bom lebih dari 5 kali (DKP Prov, 2016) 1,0 35 2 35 2 = 2-5 kali/tahun; 3 = kurang dari 2 kali/tahun 3. Pemanfaatan pengetahuan lokal dalam pengelolaan sumberdaya ikan (termasuk di dalamnya TEK, traditional ecological knowledge) Pemanfaatan pengetahuan lokal yang terkait dengan pengelolaan perikanan

1 = tidak ada; Semua responden di

lokasi survei mengatakan tidak memanfaatkan pengetahuan lokal dalam melakukan penangkapan ikan krn sdh sering ada penyuluhan dan menangkap ikan saat ini sdh semakin sulit

Semua responden di lokasi survei mengatakan

tidak memanfaatkan pengetahuan lokal dalam melakukan penangkapan ikan krn sdh sering ada

penyuluhan dan menangkap ikan saat ini

sdh semakin sulit Semua responden di lokasi survei mengatakan tidak memanfaatkan pengetahuan lokal dalam melakukan penangkapan ikan krn sdh sering ada penyuluhan dan menangkap ikan saat ini

sdh semakin sulit

1.0 25 3 25

2 = ada tapi tidak efektif; 3 = ada dan efektif digunakan

RERATA TOTAL TOTAL

1,0 100 100

WWF - FPIK UHO | Penilaian Performa Perikanan Menggunakan Indikator EAFM di Kawasan KKPD Sultra 9 Lampiran 5. Tabel Hasil Analisis Domain Ekonomi

INDIKATOR DEFINISI/

PENJELASAN KRITERIA IKAN KARANG IKAN KEMBUNG IKAN KUWEH SKOR

BOBOT

(%) RANKING NILAI

1. Kepemilikan Aset

Perubahan nilai/jumlah aset usaha RTP cat : aset usaha perikanan atau aset RT.

1 = nilai aset berkurang (lebih dari 50%) ;

Dalam 1 tahun terakhir seluruh responden menyatakan ada peningkatan aset usaha perikanan maupun aset rumah tangga, tetapi <50%

Mayoritas responden memiliki nilai aset tetap (kurang dari 50%)

Mayoritas responden memiliki nilai aset tetap (kurang dari 50%)

2,0 45 1 90

2 = nilai aset tetap (kurang dari 50%); 3 = nilai aset bertambah (di atas 50%)

2. Pendapatan rumah tangga (RTP)

Pendapatan total RTP yang dihasilkan dari usaha RTP

1= kurang dari rata-rata UMR,

100% responde memeiliki pendapatan diatas UMR (Rp 1.690.00 – Rp. 3.400.00)

Rata-rata pendapatan responden ( Rp. 3.215.000 per bulan) melebih UMR regional Sulawesi Tenggara 2016 ( Rp 1.850.000)

Rata-rata pendapatan responden (Rp. 4.415.000 per bulan) perbulan melebih UMR regional Sulawesi Tenggara

2016 ( Rp 1.850.000) 3,0 30 2 90 2= sama dengan rata-rata UMR, 3 = > rata-rata UMR 3. Rasio Tabungan (Saving ratio) menjelaskan tentang rasio tabungan terhadap pendapatan bersih

1 = kurang dari bunga kredit pinjaman;

SR= 46,33% - 72,79%. Besarnya bunga kredit pinjanman = 7,52 – 8,22%

per September 2013

Suku bunga kredit Sultra bulan Oktober s/d Desember 2016 sebesar 7,25 - 7,5% (BI Sultra, 2016), sedangkan ratio tabungan rata-rata responden nelayan penangkap ikan karang

=47,4%

Suku bunga kredit Sultra bulan Oktober s/d Desember 2016 sebesar 7,25 - 7,5% (BI Sultra,

2016), sedangkan ratio tabungan rata-rata responden

nelayan penangkap ikan kembung =66,5%

3,0 25 3 75

2 = sama dengan bunga kredit pinjaman; 3 = lebih dari bunga kredit pinjaman

TOTAL TOTAL RERATA 2,67 100 255

Dokumen terkait