• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Pengelolaan Program TEFA

Penerapan Tefa memerlukan perencanaan yang sistematis agar dapat berjalan sesuai dengan kebutuhan sekolah dan industri untuk mengarah pada tahapan-tahapan yang sesuai dengan prosedur pelaksanaan Tefa. Untuk membuat prioritas dalam perencanaan sebuah produk/jasa yang akan dilaksanakan dalam

Tefa di SMK dapat dilakukan melalui proses analisis kondisi

dan potensi sekolah saat ini dan yang akan datang. Analisis dan perancangan produk harus mengacu Kompetensi Dasar (KD) pada kurikulum yang akan dicapai pada proses pembelajaran dengan melibatkan seluruh elemen sekolah.

56

Hasil kajian Tefa terkait aspek perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, SDM, hubungan industri, dan produk, disampaikan sebagai berikut.

1. Perencanaan TEFA

Dalam perencanaan Tefa untuk menentukan sebuah produk/jasa di SMK pada masing-masing wilayah secara umum harus dilakukan identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan ke depan terhadap seluruh aspek pelaksanaan Tefa. Perencanaan Tefa di SMK kondisinya sangat variatif, hal ini terkait dengan pemahaman sekolah terhadap Tefa. Perencanaan dalam pelaksanaan Tefa umumnya tidak dari awal (nol) tetapi merupakan tindak lanjut dari keberadaan unit produksi yang sudah ada di sekolah sebelumnya, sehingga dalam perencanaannya sekolah tinggal menganalisis kekuatan dan kelemahan kondisi yang ada secara mendalam terkait dengan peralatan yang ada dan jenis produk/jasa yang akan dilaksanakan sesuai dengan program keahliannya.

Pelaksanaan Tefa di SMK di masing-masing wilayah baik dari jumlah program keahlian maupun pelaksanaannya cukup beragam, hal ini terkait dengan pilihan program keahlian yang dianggap unggul sesuai dengan kebutuhan, keberadaan SDM, mitra industri, dan fasilitas yang tersedia di masing-masing wilayah dan sekolah. Sebagai contoh untuk wilayah kota Padang ada dua SMK yang menjadi sasaran evaluasi yaitu SMKN 9 Kota Padang dan SMKN 6 Kota Padang. Untuk SMKN 9 Kota Padang hanya ada 2 program keahlian yang dipilih sebagai pelaksanaan Tefa. Hal ini berdasarkan hasil analisis bahwa dua program ini telah menjadi program unggulan sejak lama sebelum adanya

Hasil kajian Tefa terkait aspek perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, SDM, hubungan industri, dan produk, disampaikan sebagai berikut.

1. Perencanaan TEFA

Dalam perencanaan Tefa untuk menentukan sebuah produk/jasa di SMK pada masing-masing wilayah secara umum harus dilakukan identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan ke depan terhadap seluruh aspek pelaksanaan Tefa. Perencanaan Tefa di SMK kondisinya sangat variatif, hal ini terkait dengan pemahaman sekolah terhadap Tefa. Perencanaan dalam pelaksanaan Tefa umumnya tidak dari awal (nol) tetapi merupakan tindak lanjut dari keberadaan unit produksi yang sudah ada di sekolah sebelumnya, sehingga dalam perencanaannya sekolah tinggal menganalisis kekuatan dan kelemahan kondisi yang ada secara mendalam terkait dengan peralatan yang ada dan jenis produk/jasa yang akan dilaksanakan sesuai dengan program keahliannya.

Pelaksanaan Tefa di SMK di masing-masing wilayah baik dari jumlah program keahlian maupun pelaksanaannya cukup beragam, hal ini terkait dengan pilihan program keahlian yang dianggap unggul sesuai dengan kebutuhan, keberadaan SDM, mitra industri, dan fasilitas yang tersedia di masing-masing wilayah dan sekolah. Sebagai contoh untuk wilayah kota Padang ada dua SMK yang menjadi sasaran evaluasi yaitu SMKN 9 Kota Padang dan SMKN 6 Kota Padang. Untuk SMKN 9 Kota Padang hanya ada 2 program keahlian yang dipilih sebagai pelaksanaan Tefa. Hal ini berdasarkan hasil analisis bahwa dua program ini telah menjadi program unggulan sejak lama sebelum adanya

program Tefa dan telah dikenal oleh masyarakat yaitu edotel SMKN 9 dan katering jamaah haji SMKN 9. Sementara untuk SMKN 6 Kota Padang berdasarkan hasil identifikasi sekolah terdapat 4 program keahlian yang menjadi model Tefa yaitu, edotel Minangkabau SMKN 6 Edo dressmaking SMKN 6, Edocatering Cimpago, dan Edo mutiara salon SMKN 6. Wilayah lain di Kota Denpasar yaitu SMKN 5 Denpasar dan SMKN 3 Denpasar. Di SMKN 3 Denpasar terdapat 4 program studi yaitu akomodasi perhotelan, tata busana, tata kecantikan dan, tata boga. Dari empat program keahlian tersebut yang dipilih untuk menjadi Tefa adalah jasa laundry, salon, tata busana, dan tata boga.

Wilayah berikutnya kota Bandung, Kota Surakarta, dan Kota Malang, SMK-SMK yang dipilih dalam kajian, dalam menentukan program Tefa mempunyai kecenderungan yang sama yaitu berdasarkan pada program keahlian yang sudah mempunyai unit usaha. Program yang dipilih menjadi model

Tefa umumnya berdasarkan pada unit produksi yang sudah

ada disekolah, dan merupakan program unggulan sekolah. Sebagai contoh sekolah-sekolah yang sudah mempunyai edotel (education hotel) dengan jumlah kamar cukup dan fasilitas baik, dijadikan sebagai model Tefa. Demikian pula pada program keahlian tata boga, tata busana, tata kecantikan dan usaha perjalanan wisata.

Perencanaan program terkait dengan produk/jasa yang akan dihasilkan umumnya masih pada jenis produk berdasarkan pesanan, belum sampai pada inovasi produk, banyaknya produk yang akan diproduksi, dan keberlanjutan produk.

58

a. Struktur organisasi, Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Alur Kerja

Pada panduan Tefa disebutkan bahwa struktur organisasi

Tefa dikeluarkan oleh kepala sekolah sesuai standar industri

dan terintegrasi dengan struktur sekolah mencakup tugas/lingkup kerja. Struktur organisasi Tefa terkait dengan keberadaannya di sekolah, ada tiga versi yaitu di bawah pengelolaan koperasi, sekolah, dan bentuk Badan Layanan Umum daerah (BLUD). Struktur organisasi yang umumnya mempunyai kecenderungan yang sama, yaitu menggunakan struktur unit produksi yang sudah ada sebelumnya yang ditandatangani oleh kepala sekolah. Bentuk struktur organisasi pada masing-masing SMK bervariasi sesuai dengan kebutuhan dan pemahamannya masing-masing, secara umum terdiri dari penasehat, ketua, sekretaris, bendahara, dan koordinator unit produksi. Namun untuk SMK yang sudah BLUD maupun yang akan mengarah BLUD struktur organisasinya terdiri dari; kepala Tefa, manager produksi, manager pemasaran, manager keuangan dan administrasi, dan di bawahnya adalah koordinator masing-masing unit produksi. Untuk SMK BLUD saat kajian ini dibuat baru ditetapkan pada akhir September 2018, sehingga informasi lebih lanjut belum dapat diperoleh. SOP untuk masing-masing program keahlian di SMK umumnya sudah ada, tetapi belum semua SMK selalu menempelkan panduan pada tempat yang strategis. Untuk pola pekerjaan atau alur kerja umumnya sudah ada dilakukan berdasarkan kebiasaan saja belum dibuat prosedur tertulis sebagai pedoman pelaksanaan pekerjaan. Hanya ada satu program keahlian yang telah mengacu pada prosedur

a. Struktur organisasi, Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Alur Kerja

Pada panduan Tefa disebutkan bahwa struktur organisasi

Tefa dikeluarkan oleh kepala sekolah sesuai standar industri

dan terintegrasi dengan struktur sekolah mencakup tugas/lingkup kerja. Struktur organisasi Tefa terkait dengan keberadaannya di sekolah, ada tiga versi yaitu di bawah pengelolaan koperasi, sekolah, dan bentuk Badan Layanan Umum daerah (BLUD). Struktur organisasi yang umumnya mempunyai kecenderungan yang sama, yaitu menggunakan struktur unit produksi yang sudah ada sebelumnya yang ditandatangani oleh kepala sekolah. Bentuk struktur organisasi pada masing-masing SMK bervariasi sesuai dengan kebutuhan dan pemahamannya masing-masing, secara umum terdiri dari penasehat, ketua, sekretaris, bendahara, dan koordinator unit produksi. Namun untuk SMK yang sudah BLUD maupun yang akan mengarah BLUD struktur organisasinya terdiri dari; kepala Tefa, manager produksi, manager pemasaran, manager keuangan dan administrasi, dan di bawahnya adalah koordinator masing-masing unit produksi. Untuk SMK BLUD saat kajian ini dibuat baru ditetapkan pada akhir September 2018, sehingga informasi lebih lanjut belum dapat diperoleh. SOP untuk masing-masing program keahlian di SMK umumnya sudah ada, tetapi belum semua SMK selalu menempelkan panduan pada tempat yang strategis. Untuk pola pekerjaan atau alur kerja umumnya sudah ada dilakukan berdasarkan kebiasaan saja belum dibuat prosedur tertulis sebagai pedoman pelaksanaan pekerjaan. Hanya ada satu program keahlian yang telah mengacu pada prosedur

standar/ baku yaitu jasa katering haji yang telah mengacu pada standar PT Garuda Indonesia ACS.

b. Administrasi Keuangan

Pencatatan administrasi keuangan pelaksanaan Tefa di sekolah sasaran sebagian besar telah melaksanakan pencatatan keuangan dari hasil kegiatan Tefa sesuai dengan program keahliannya masing-masing, namun pencatatan transaksi pada masing-masing program keahlian belum sepenuhnya mengacu pada prosedur akuntansi yang standar. Sebagian kecil sekolah yang telah mencatat keuangan mengacu pada standar prosedur akuntansi, umumnya sekolah-sekolah yang Tefa-nya sudah berjalan baik dan telah berbentuk BLUD dan yang menuju BLUD. Pencatatan transaksi umumnya dilakukan oleh bendahara pada unit produksi masing-masing secara harian, selanjutnya dilaporkan pada bendahara unit produksi pusat (UP pusat). Pencatatan administrasi keuangan umumnya mempunyai kecenderungan yang sama yaitu dilakukan oleh unit produksi masing-masing terkait dengan hasil penjualan produk/jasa yang dilaporkan kepada UP pusat, selanjutnya UP pusat melaporkan kepada kepala sekolah. Hal ini dikarenakan manajemen Tefa belum berjalan dengan sesuai dengan panduan Tefa.

c. Pemahaman sekolah terhadap Tefa

Dari hasil DKT di lima wilayah sasaran evaluasi Tefa pemahaman kepala sekolah, guru, dan penanggung jawab

Tefa umumnya masih kurang, baik pada tataran konsep

maupun pelaksanaannya. Hal ini dikarenakan semua sekolah sasaran evaluasi belum mempunyai panduan dan belum

60

mendapatkan pelatihan tentang Tefa. Namun hal itu tidak mengurangi semangat mereka untuk mendapat pengetahuan tentang Tefa dengan mencari informasi sendiri agar dapat melaksanakannya. Banyak di antara mereka untuk menambah pengetahuan dalam memahami Tefa dengan diskusi di sekolah dengan mengundang narasumber secara mandiri.

2. Pelaksanaan Pembelajaran

Pembelajaran model Tefa diselenggarakan dalam bentuk pembelajaran berbasis produksi/jasa yang mengacu pada standar dan prosedur industri yang dilaksanakan dalam suasana dan budaya industri. Terkait dengan hal tersebut terdapat tiga komponen yang akan dianalisis yang terkait dengan pelaksanaan pembelajaran, yaitu kurikulum, rencana pelaksanaan pembelajaran, dan tenaga pendidik atau sumber daya yang terlibat.

a. Kurikulum

Pada panduan pelaksanaan Tefa kurikulum yang akan digunakan harus dilakukan sinkronisasi secara kontekstual terhadap tuntutan kebutuhan dan perkembangan industri. Hasil evaluasi di SMK sasaran penggunaan kurikulum dalam kegiatan pembelajaran model Tefa umumnya menggunakan Kurikulum 2013 dan sebagian besar belum melakukan sinkronisasi kurikulum sesuai tuntutan kebutuhan industri. Namun demikian terdapat beberapa sekolah yang dapat menjadi praktik baik yang telah melaksanakan sinkronisasi kurikulum dengan industri pasangan sesuai dengan tuntutan kompetensi yang akan dicapai. Sekolah-sekolah tersebut di antaranya adalah

mendapatkan pelatihan tentang Tefa. Namun hal itu tidak mengurangi semangat mereka untuk mendapat pengetahuan tentang Tefa dengan mencari informasi sendiri agar dapat melaksanakannya. Banyak di antara mereka untuk menambah pengetahuan dalam memahami Tefa dengan diskusi di sekolah dengan mengundang narasumber secara mandiri.

2. Pelaksanaan Pembelajaran

Pembelajaran model Tefa diselenggarakan dalam bentuk pembelajaran berbasis produksi/jasa yang mengacu pada standar dan prosedur industri yang dilaksanakan dalam suasana dan budaya industri. Terkait dengan hal tersebut terdapat tiga komponen yang akan dianalisis yang terkait dengan pelaksanaan pembelajaran, yaitu kurikulum, rencana pelaksanaan pembelajaran, dan tenaga pendidik atau sumber daya yang terlibat.

a. Kurikulum

Pada panduan pelaksanaan Tefa kurikulum yang akan digunakan harus dilakukan sinkronisasi secara kontekstual terhadap tuntutan kebutuhan dan perkembangan industri. Hasil evaluasi di SMK sasaran penggunaan kurikulum dalam kegiatan pembelajaran model Tefa umumnya menggunakan Kurikulum 2013 dan sebagian besar belum melakukan sinkronisasi kurikulum sesuai tuntutan kebutuhan industri. Namun demikian terdapat beberapa sekolah yang dapat menjadi praktik baik yang telah melaksanakan sinkronisasi kurikulum dengan industri pasangan sesuai dengan tuntutan kompetensi yang akan dicapai. Sekolah-sekolah tersebut di antaranya adalah

SMKN 9 Kota Padang, SMKN 2 dan SMKN 3 Kota Malang. Untuk SMKN 9 kota Padang sinkronisasi dengan melakukan

Memorandum of Understanding (MoU) dengan industri catering dengan anak perusahaan PT Garuda Indonesia,

sementara untuk SMKN 2 Malang sinkronisasi kurikulum juga dilakukan pada program keahlian akomodasi perhotelan, yang bekerja sama dengan Swiss Bellhotel dengan membuka SMK kelas industri, sehingga kurikulum yang digunakan hasil kerjasama antara Swiss Bellhotel dan SMK dan untuk SMKN 3 Malang pada program keahlian tata kecantikan yang telah bekerja sama dengan PT Loreal untuk penyusunan kurikulum dan mendatangkan guru pengajar.

Program keahlian akomodasi perhotelan yang bekerja sama dengan Swiss bellhotel menyelenggarakan pembelajaran dengan mendatangkan manager Swiss bell sebagai pengajarnya. Kurikulum yang digunakan adalah merupakan

sandwich curriculum level 1, yaitu broad based curriculum

yang mengedepankan sikap disiplin, karakter, grooming, dan sopan santun.

Dari hasil diskusi juga didapatkan salah satu kendala pelaksanaan Tefa terkait dengan kurikulum yakni banyak muatan kurikulum pada Kompetensi Inti (KI) dan KD yang tidak semua sesuai dengan kompetensi produk/jasa yang akan dilaksanakan. Di dalam kurikulum muatan KI dan KD jumlahnya banyak, sementara untuk membuat suatu produk/jasa hanya perlu kompetensi saja, hal ini membuat para guru bingung untuk memilih kompetensi yang mana. Apabila kegiatan pembelajaran mengikuti kompetensi berdasarkan produk yang akan dibuat, maka Kriteria

62

Ketuntasan Minimal (KKM) tidak tuntas dan dikhawatirkan akan berimbas pada hasil ujian, namun jika mengikuti kurikulum maka proses pembelajaran akan membutuhkan waktu lama.

b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Lingkup pelaksanaan pembelajaran yang dievaluasi dalam kajian ini meliputi; rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan lembar kerja sekolah (LKS) untuk kegiatan praktek, kewirausahaan, kegiatan pengajar, berbasis industri pada program keahlian akomodasi perhotelan, tata boga, tata busana, dan tata kecantikan.

Pelaksanaan model pembelajaran Tefa pada masing-masing SMK bidang pariwisata bervariasi sesuai dengan pemahaman masing-masing sekolah. Pelaksanaan pembelajaran pada program keahlian akomodasi perhotelan, tata boga, tata busana, dan tata kecantikan di SMK umumnya dilaksanakan dengan berpedoman pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah disusun oleh guru produktif. Dari hasil evaluasi ternyata belum semua guru merencanakan kegiatan model Tefa pembelajaran produktif yang terintegrasi dengan kompetensi pada produk yang akan dihasilkan. Penyusunan RPP masih mengacu pada KI dan KD pada Kurikulum 2013 yang tidak terkait langsung dengan kompetensi keahlian pada pelaksanaan praktik, atau dengan kata lain bahwa penyusunan RPP belum mengintegrasikan kompetensi yang akan diperoleh pada mata pelajaran produktif.

Untuk kegiatan praktik pembelajaran sebagian besar masih menggunakan jadwal pembelajaran biasa dan belum

Ketuntasan Minimal (KKM) tidak tuntas dan dikhawatirkan akan berimbas pada hasil ujian, namun jika mengikuti kurikulum maka proses pembelajaran akan membutuhkan waktu lama.

b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Lingkup pelaksanaan pembelajaran yang dievaluasi dalam kajian ini meliputi; rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan lembar kerja sekolah (LKS) untuk kegiatan praktek, kewirausahaan, kegiatan pengajar, berbasis industri pada program keahlian akomodasi perhotelan, tata boga, tata busana, dan tata kecantikan.

Pelaksanaan model pembelajaran Tefa pada masing-masing SMK bidang pariwisata bervariasi sesuai dengan pemahaman masing-masing sekolah. Pelaksanaan pembelajaran pada program keahlian akomodasi perhotelan, tata boga, tata busana, dan tata kecantikan di SMK umumnya dilaksanakan dengan berpedoman pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah disusun oleh guru produktif. Dari hasil evaluasi ternyata belum semua guru merencanakan kegiatan model Tefa pembelajaran produktif yang terintegrasi dengan kompetensi pada produk yang akan dihasilkan. Penyusunan RPP masih mengacu pada KI dan KD pada Kurikulum 2013 yang tidak terkait langsung dengan kompetensi keahlian pada pelaksanaan praktik, atau dengan kata lain bahwa penyusunan RPP belum mengintegrasikan kompetensi yang akan diperoleh pada mata pelajaran produktif.

Untuk kegiatan praktik pembelajaran sebagian besar masih menggunakan jadwal pembelajaran biasa dan belum

menggunakan jadwal pembelajaran yang dirancang khusus untuk Tefa dengan menggunakan sistem blok dan kontinu sebagaimana yang terdapat dalam panduan Tefa. Hanya sekitar 30% sekolah yang sudah menggunakan sistem blok dan kontinu dan umumnya sekolah yang telah melaksanakan

Tefa dan telah berbentuk BLUD atau menuju BLUD,

sementara sekolah yang baru mulai melaksanakan Tefa jadwal pelajaran masih menggunakan jadwal sebagaimana biasanya.

c. Sumber Daya Manusia

Kesesuaian antara kompetensi keahlian tenaga pendidik SMK bidang pariwisata di sekolah-sekolah sampel rata-rata sudah sesuai dengan bidang keahlian yang diampu, namun hampir semua sekolah menyatakan kekurangan guru-guru produktif. Pengadaan guru-guru produktif jumlahnya sangat terbatas, apalagi untuk program keahlian usaha perjalanan wisata (UPW) sudah beberapa tahun tidak ada tambahan guru-guru baru, hal ini dikarenakan untuk formasi yang diminta dari pemerintah daerah adalah S1 pendidikan pariwisata sedangkan untuk jurusan tersebut di perguruan tinggi untuk beberapa wilayah belum ada, sehingga formasi yang ada tidak terisi. Guru-guru honorer mata pelajaran UPW yang ada di SMK saat ini kebanyakan berpendidikan S1 pariwisata non pendidikan, sehingga tidak dapat mengisi formasi. Demikian pula untuk program keahlian akomodasi perhotelan, juga masih banyak yang kekurangan guru, karena formasi guru program keahlian ini sangat kurang, maka posisi ini banyak diisi oleh guru honorer dan untuk PNS-nya dari program keahlian ganda. Sementara untuk guru-guru tata boga, tata kecantikan dan tata busana jumlah

64

gurunya lebih banyak jika dibandingkan dengan guru-guru di program akomodasi perhotelan dan UPW.

Pengalaman kerja industri untuk guru-guru produktif pada seluruh program keahlian SMK bidang pariwisata rata-rata masih kurang, hal ini dikarenakan kesempatan untuk mendapatkan magang di industri juga terbatas. Kegiatan magang para guru di beberapa SMK sampel saat ini banyak yang sedang berlangsung. Guru-guru yang banyak mendapatkan peluang magang di industri umumnya dari program akomodasi dan perhotelan, sementara untuk program tata busana, tata boga, tata kecantikan dan UPW peluang untuk magang lebih sedikit. Hal ini dikarenakan jumlah industri yang berkaitan dengan program tersebut juga terbatas.

Dari sisi kompetensi seluruh tenaga pendidik yang terlibat dalam program Tefa telah memiliki kesesuaian kompetensi keahlian dengan unit produksi yang diampu. Namun untuk jumlah guru produktif umumnya masih kurang seperti pada unit produksi laundry.

Sementara SDM sebagai tenaga pendidik/pedampingan dari mitra industri pasangan juga sudah dilakukan di sekolah-sekolah sampel, hanya saja jumlahnya masih sedikit dan belum pada semua program keahlian mendapatkan guru dari industri.

gurunya lebih banyak jika dibandingkan dengan guru-guru di program akomodasi perhotelan dan UPW.

Pengalaman kerja industri untuk guru-guru produktif pada seluruh program keahlian SMK bidang pariwisata rata-rata masih kurang, hal ini dikarenakan kesempatan untuk mendapatkan magang di industri juga terbatas. Kegiatan magang para guru di beberapa SMK sampel saat ini banyak yang sedang berlangsung. Guru-guru yang banyak mendapatkan peluang magang di industri umumnya dari program akomodasi dan perhotelan, sementara untuk program tata busana, tata boga, tata kecantikan dan UPW peluang untuk magang lebih sedikit. Hal ini dikarenakan jumlah industri yang berkaitan dengan program tersebut juga terbatas.

Dari sisi kompetensi seluruh tenaga pendidik yang terlibat dalam program Tefa telah memiliki kesesuaian kompetensi keahlian dengan unit produksi yang diampu. Namun untuk jumlah guru produktif umumnya masih kurang seperti pada unit produksi laundry.

Sementara SDM sebagai tenaga pendidik/pedampingan dari mitra industri pasangan juga sudah dilakukan di sekolah-sekolah sampel, hanya saja jumlahnya masih sedikit dan belum pada semua program keahlian mendapatkan guru dari industri.

3. Kegiatan Produksi/Jasa

Inti dari pelaksanaan model pembelajaran Tefa adalah pembelajaran berbasis produksi/jasa yang mengacu pada prosedur dan standar yang industri. Dari hasil verifikasi lapangan melalui observasi kegiatan produksi/jasa pelaksanaan Tefa di SMK sampel kondisinya bervariasi, dari aspek peralatan (sarana prasarana), hasil produk/jasa, pemasaran, dan tata kelola keuangan. Lebih lanjut kondisi pada setiap aspek disampaikan sebagai berikut.

a. Sarana Prasarana

Hasil observasi keberadaan jumlah dan jenis peralatan untuk masing-masing kompetensi keahlian dalam pelaksanaan

Tefa di SMK bervariasi. Fasilitas dan peralatan praktik yang

digunakan untuk menunjang pelaksanaan Tefa di SMK sasaran, umumnya dalam kondisi yang baik dan layak pakai dengan kelengkapan yang cukup baik. Namun masih terdapat beberapa sekolah yang fasilitasnya masih kurang. Perawatan peralatan untuk mendukung pelaksanaan Tefa umumnya sudah baik dan dilakukan perawatan secara rutin dan terjadwal. Selain perawatan penggunaan alat juga dilakukan berdasarkan standar operasional yang berlaku sesuai dengan SOP yang disusun sekolah. Jumlah peralatan yang digunakan umumnya juga sudah memadai, tetapi untuk proporsi rasio siswa dan alat untuk beberapa program keahlian masih kurang. Kondisi sarana dan prasarana pada masing-masing program keahlian disampaikan sebagai berikut.

66

1) Sarana Praktik Akomodasi Perhotelan

Peralatan praktik untuk program keahlian akomodasi perhotelan rata-rata sudah cukup baik, utamanya untuk kamar, furnitur, pendingin ruangan, kamar mandi dan perlengkapan lainnya sudah standar hotel bintang 2, bahkan untuk beberapa edotel seperti di SMKN 3 Malang, SMKN 9 Bandung, SMKN 9 Padang sudah sangat baik. Kelengkapan sarana praktik yang ada sangat mendukung pelaksanaan pembelajaran, sehingga

Dokumen terkait