• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. Pelaksanaan Penelitian

5.10. Pengelolaan Resiko

Resiko Sumber Resiko Dampak Pengelolaan Resiko

Dukungan yang rendah dari pemangku kepentingan terhadap proses dan hasil penelitian Tidak terakomodasinya berbagai kepentingan dari para pemangku kepentingan di dalam ruang lingkup penelitian

Kurang terlibatnya para pemangku kepentingan dalam proses

penelitian

 Kurang lengkapnya cakupan dari penelitian  Sulitnya proses penelitian

dilakukan di tingkat operasional

 Tidak digunakannya hasil penelitian untuk

pengembangan kebijakan

 Pengembangan proses penelitian yang partisipatif  Memanfaatkan keahlian

dan pengalaman yang dimiliki oleh pemangku kepentingan terkait dengan tema penelitian melalui proses konsultasi  Melakukan update

perkembangan penelitian kepada kelompok

penasehat yang berasal dari pemangku kepentingan utama Pemahaman yang berbeda dari peneliti tentang fokus penelitian yang sedang dilaksanakan Ketidakjelasan protokol penelitian yang digunakan untuk memandu penelitian ini

 Perbedaan dalam data yang dikumpulkan, analisis data dan berbagai

rekomendasi penelitian sehingga tidak bisa diperbandingkan

 Pengembangan protokol dilakukan dengan

melibatkan perwakilan dari universitas dan

melaksanakan pelatihan kepada semua peneliti tentang protokol yang akan digunakan

Penyelesaian proses penelitian yang tidak tepat waktu

Lemahnya koordinasi kegiatan penelitian Kesibukan para peneliti

di luar kegiatan penelitian ini Kegiatan Pemilu

 Mundurnya rangkaian penelitian tahap kedua yang didasarkan pada hasil penelitian I

 Tertundanya masukan-masukan kepada pembuat

Mengembangkan

mekanisme koordinasi via mailing list peneliti dan kunjungan lapangan untuk supervisi pelaksanaan penelitian

penanggulangan AIDS pasca 2015

Memantau perkembangan politik lokal dan

penyusunan jadwal yang sesuai dengan kondisi lokal Menyusun Scop of work

(SOW) dan komitmen waktu yang jelas bagi para peneliti Informasi data primer yang didapatkan kurang berkualitas Responden kurang berkompeten dalam memberikan informasi keluasan dan kedalaman informasi yang akan digali dalam penelitian ini

Ketrampilan dari peneliti dalam menggali informasi dari informan Terbatasnya waktu

pengumpulan data

 Tujuan penelitian tidak bisa tercapai

 Munculnya bias dari informan atau fasilitator/interviewer  Sulitnya untuk melakukan

perbandingan hasil antar topik di daerah yang berbeda

Membuat kriteria inklusi bagi informan

Mengirimkan instrumen terlebih dahulu kepada informan untuk dipelajari sebelum warkshop atau wawancara dilakukan Melakukan latihan bagi

peneliti untuk mengadministrasi instrumen

Daftar Pustaka

1. Atun, R., Bataringaya, J. 2011. Building a durable response to HIV dan AIDS: Implications for health system. J. Acquir Immune Defic Syndr, 57:S91-S95.

2. Atun, R., de Jongh, T., Secci, F., Ohiri, K., Adeyi, O. 2010a. Integration of targeted health interventions into health systems: A conceptual framework for analysis. Health Policy and Planning, 25:104-111.

3. Atun, R., Lazarus, J.V., Van Damme, W., Coker, R. 2010b. Interactions between critical health system functions and HIV/AIDS, tuberculosis and malaria programmes. Health Policy and Planning, 25:i1-i3.

4. Butt, L., Morin, J., Numbery, G., Peyon, I., Goo, A. 2010. Stigma dan HIV/AIDS di Wilayah Pegunungan Papua. Jayapura: Universitas Cendrawasih dan University of Victoria. 5. BPS, JOTHI & UNDP. 2010. Socioeconomic Impact of HIV at the Individual and Household

Level in Indonesia: a seven-province study. Jakarta: BPS

6. Coker, R., Balen, J., Mounier-Jack, S., Shigayeva, A., Lazarus, JV., Rudge, J.W., Naik, N., Atun, R. 2010. A conceptual and analytical approach to comparative analysis of country case studies: HIV and TB control programmes and health systems integration. Health Policy and Planning, 25 (suppl 1): i21-i31 doi:10.1093/heapol/czq054

7. Conseil, A., Mounier-jack, S., Coker, A. 2010. Integration of health systems and priority health interventions: a case study of the integration of HIV and TB control programmes into the general health system in Vietnam. Health Policy and Planning, 25:i32-i36.

8. Creswell, J.W. 2003. Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

9. Desai, M., Rudge, J.M., Adisasmito, W., Mounier-Jack, S., Coker, R. 2010. Critical interactions between global fund-supported programmes & health systems: a case study in Indonesia. Health Policy and Planning, 25:i43-i47.

11. Dudley, L. and Garner, P. (2011). Strategies for Integrating Primary Health Services in Low- and Middle-income Countries at the Point of Delivery (Review). The Cochrane Collaboration, 7.

12. Gilson, L., Raphaely, N. 2008. The terrain of health policy behaviour take us? Health Policy and Planning, analysis in low- and middle-income countries: a review of published literature 1994–2007. Health Policy and Planning, 23(5):294–307.

13. Glaser, B. G., and A. L. Strauss. 1967. The Discovery of Grounded Theory: Strategies for Qualitative Research. Mill Valley, CA: Sociology Press.

14. Godwin, P. and Dickinson, C. (2012). HIV in Asia – Transforming the agenda for 2012 and beyond: Report of a Joint Strategic Assessment in ten countries. Canberra: AusAID Health Resource Facility.

15. Hannes K. Chapter 4: Critical appraisal of qualitative research. In: Noyes J, Booth A, Hannes K, Harden A, Harris J, Lewin S, Lockwood C (editors), Supplementary Guidance for Inclusion of Qualitative Research in Cochrane Systematic Reviews of Interventions. Version 1 (updated August 2011). Cochrane Collaboration Qualitative Methods Group, 2011. Available from URL http://cqrmg.cochrane.org/supplemental-handbook-guidance

16. Health Systems 20/20. 2012. The Health System Assessment Approach: A How-To Manual. Version 2.0. www.healthsystemassessment.org

17. International Committee of Medical Journal Editors (www.icmje.org)

18. Kawonga, M., Blaauw, D., Fonn, S. 2012. Aligning vertical interventions to health systems: a case study of the HIV monitoring and evaluation system in South Africa. Health Research Policy and Systems, 10:2 (26 January 2012)

19. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No: 21 tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS. Jakarta: Kemenkes RI Ditjen PP & PL.

20. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Laporan kasus HIV dan AIDS Triwulan III tahun 2013. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.

21. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2012a. Estimasi Epidemi HIV dan AIDS Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.

22. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Raker Litbangkes. Peraturan Presiden 72/2012. Sistem Kesehatan Nasional. 2012b. Jakarta: Litbangkes.

23. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 2012c. Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) 2011. Jakarta: Kemenkes RI Ditjen PP & PL.

24. Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. 2010. Strategi dan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS tahun 2010-2014. Jakarta: KPAN.

25. Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. 2011. Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia 2006-2011: Laporan 5 tahun pelaksanaan peraturan presiden No:75/2006 tentang Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. Jakarta: KPAN.

26. Nadjib, M., Megraini, A., Ishardini, L., Rosalina, R. 2013. National AIDS Spending Analysis 2011 – 2012. Jakarta: UNAIDS-NAC.

27. Shakarishvili G, Atun R, Berman P et al. 2010. Converging health systems frameworks: towards a concepts-to-actions roadmap for health systems strengthening in low and middle income countries. Global Health Governance Spring III: 2.

28. Strauss, A., & Corbin, J. 1998. Basics of qualitative research: Grounded theory procedures and techniques (2nd ed). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

29. Walt G et al. 2008. ‘Doing’ health policy analysis: methodological and conceptual reflections and challenges. Health Policy and Planning, 23(5):308-317.

30. World Health Organization. 2007. Everybody’s Business: Strengthening Health System to Improve Health Outcomes: WHO’s Framework for Action. Geneva: WHO.

31. Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS). Laporan epidemi AIDS di Indonesia, update. 2012. Geneva: UNAIDS.

32. Yayasan Spirita. 2005. Dokumentasi tentang pelanggaran hak asasi manusia terhadap orang dengan HIV dan AIDS di Indonesia. Jakarta: Spritia.

Lampiran 1.

Analisa Stakeholder Propinsi/Kota/Kabupaten_______________________

Stakeholder Perannya Kepentingan Resources

Tinggi Sedang Rendah Tinggi Sedang Rendah 1. Kepala daerah 2. Dinkes 3. Puskesmas 4. LSM 5. DPRD 6. KPAD 7. Polda 8. Ormas 9. Dll

Lampiran 2.

Daftar Dimensi dan Kata Kunci per Sub sistem

Sub sistem Dimensi Kata Kunci

1. Manajemen dan regulasi

kesehatan

1. Regulasi Perda AIDS Renstra APBD

2. Formulasi Kebijakan Sumber informasi data epidemi (prevalensi HIV)

Pemanfaatan data epidemi dalam perencanaan tingkat daerah

3. Akuntabilitas dan Daya Tanggap (Responsiveness)

Akses publik terhadap infomasi program HIV dan AIDS di daerah

Ketersediaan dana dari APBD (hibah, bansos, dan SKPD)

2. Pembiayaan 4. Jumlah, alokasi dan sumber pembiayaan

Sumber-sumber dana HIV dan AIDS yang ada (pemerintah dan donor lainnya)

5. Anggaran dan pengeluaran Jumlah dan komposisi anggaran dalam APBD per program

Laporan Penggunaan Anggaran APBD per program

6. Proporsi Proporsi dana pemerintah dan dana asing 7. Kesesuaian (termasuk kecukupan) Kesesuaian dana yang dikeluarkan untuk

program, personil, dan lainnya

8. Distribusi Jumlah dana per program berdasarkan wilayah

9. Keberlanjutan Dana HIV dan AIDS sudah dimasukan kedalam APBD

3. Penyediaan Layanan

10. Akses Layanan HIV ada di layanan dasar

11. Cakupan Target kesehatan di masukan ke dalam dinkes

12. Pemerataan Ketersediaan layanan mencangkup semua populasi kunci, layanan dan area geografi 13. Kualitas Tenaga kesehatan yang telah dilatih dan

disertifikasi 14. Layanan Jadual pelayanan 4. SDM 15. Kebijakan dan Sistem manajemen

(rekruitmen, penempatan, penggajian, rotasi & hubungan kerja)

Ketersediaan kebijakan yang mengatur tenaga dari luar dinas kesehatan yang di kontrak oleh dinas utk melakukan program penanggulangan AIDS (dapat dibuktikn

17. Pendidikan dan Pelatihan Ketersediaan kebijakan yang mengatur standarisasi kompetensi tenaga penanggulangan AIDS

18. Jumlah dan jenis Ketersediaan tenaga-tenaga upaya penanggulangan HIV dan AIDS sesuai dengan SRAN 2010-2014 5. Penyediaan Material Pencegahan dan Diagnostik dan Terapi

19. Regulasi (kebijakan terkait penyediaan material pencegahan, diagnostik dan terapi)

Pengadaan ARV Pengadaan Kondom Pengadaan LAJSS Pengadaan obat IO Pengadaan obat IMS Pengadaan metadon

Pengadaan Makanan Tambahan Pengadaan Reagensia diagnostic Pengadaan alat diagnostic CD4

Pengadaan Reagensia diagnostic efek samping ARV

20. Sumber Daya (Pengadaan, penyimpanan dan distribusi, ketersediaan, pembiayaan material pencegahan, diagnostik, dan terapi)

Proses pengadaan dari daftar yang disebutkan diatas

Sumber biaya pengadaan dari daftar yang disebutkan diatas

6. Informasi Strategis 21. Input Jenis sumber data

Mekanisme Pengumpulan Data Infra Struktur

22. Proses Mekanisme Pengolahan Data

23. Ouput Jenis dan frekuensi pelaporan per program 24. Pemanfaatan Diseminasi dan Pemanfaatan Data

7. Pemberdayaan Masyarakat

25. Partisipasi (perencanaan, implementasi, dan pemantauan layanan kesehatan)

Pertemuan-pertemuan koordinasi yang dilakukan oleh pemangku kepentingan dan masyarakat (e.g. perwakilan populasi kunci) Adanya dana yang dialokasikan bagi

masyarakat sipil dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS

Adanya pengembangan kapasitas (e.g. pelatihan dan bantuan tehnis)

26. Akses dan pemanfaat layanan Proporsi populasi kunci dan mengakses layanan HIV dan AIDS dari pemerintah Proposi populasi kunci yang dapat mengakses

Lampiran 3.

Instrumen Penelitian: Pengumpulan Data Primer

1. Sub sistem Manajemen dan Regulasi Kesehatan Penanggulangan HIV dan AIDS

Definisi: Pengelolaan yang menghimpun berbagai upaya kebijakan kesehatan, administrasi

kesehatan, pengaturan hukum kesehatan, pengelolaan data dan informasi kesehatan untuk menjamin adanya kerangka kebijakan strategis yang dikombinasikan dengan pengawasan, pengembangan kemitraan, akuntabilitas, peraturan, insentif dan kesesuaian dengan disain sistem kesehatan yang ada.

1. Berdasarkan regulasi yang ada (UU, PP, Permen, Perda), apakah peran dan tanggung jawab SKPD dan Organisasi Masyarakat Sipil dalam bidang penanggulangan AIDS didefinisikan secara jelas? Apakah secara umum sumber daya yang disediakan untuk melaksanakan peran dan tanggung jawab tersebut sudah mencukupi?

2. Apakah ada rencana strategis untuk penanggulangan AIDS? Jika Ya, apakah rencana strategis ini merefleksikan rencana strategis sektor kesehatan? Apakah ada review secara berkala atas rencana strategis ini? Apakah rencana strategis ini digunakan untuk menentukan keputusan, alokasi sumber daya manusia dan menentukan situasi epidemi di wilayah ini?

3. Apakah ada pengaruh kebijakan desentralisasi terhadap kebijakan AIDS di daerah ini? Jika Ya, apa dampaknya bagi upaya penanggulangan AIDS di daerah ini?

4. Apakah ada rencana pemerintah daerah dalam karangka pencapaian MDG untuk penanggulangan AIDS?

5. Apakah pernah ada asesmen tentang situasi epidemi di kabupaten ini?

6. Bagaimana perencanaan kegiatan dan pelayanan dalam rangka penanggulangan AIDS di wilayah ini dikembangkan? Seberapa jauh kebijakan ini didasarkan pada bukti-bukti kecenderungan epidemiologis atau evaluasi atas kegiatan pada masa sebelumnya? 7. Bagaimana masyarakat bisa mengetahui program HIV dan AIDS yang dilakukan di wilyah

ini sehingga memudahkan untuk mengaksesnya?

derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Unsur-unsur pembiayaan kesehatan terdiri dari dana, sumberdaya, dan pengelolaan dana kesehatan.

1. Apakah pernah dilakukan assessment tentang pembiayaan penanggulangan AIDS di wilayah ini? Jika ya, seberapa sering hal itu dilakukan?

2. Apakah ada perencanaan untuk meningkatkan besaran APBD di wilayah ini untuk penanggulangan AIDS? Bagaimana perencanaan tersebut disusun?

3. Dari mana sumber pendanaan penanggulangan AIDS di kabupaten ini? Apakah ada sumber dari pihak lain yang digunakan untuk membantu upaya penanggulangan AIDS? Jika Ya, apakah ada kesulitan di dalam mengelola sumber pembiayaan yang beragam ini?

4. Apakah tersedia jaminan kesehatan pemerintah (JKN atau Jamkesda) bagi kelompok yang terdampak oleh HIV dan AIDS?

5. Apakah kelompok yang terdampak oleh HIV dan AIDS selama ini perlu membayar baik secara formal atau informal atas pelayanan kesehatan terkait dengan AIDS yang mereka terima? Jika Ya, seberapa besar mereka harus membayar? Apakah ini telah menyebabkan hambatan bagi pasien untuk mengakses layanan tersebut?

3. Sub sistem Sumber Daya Manusia Kesehatan

Subsistem ini digunakan untuk memastikan bahwa sumber daya manusia yang terlibat dalam penanggulangan HIV dan AIDS responsif, efisien, kompeten, adil, dan terdistribusi merata sesuai dengan sumber daya yang tersedia dan situasi yang ada serta mencukupi jumlahnya.

1. Bagaimana kebijakan SDM untuk penanggulangan AIDS ini disusun? Bagaimana dengan pengembangan kapasitas dokter, perawat, bidan, tenaga kesehatan lannya dan petugas lapangan yang bekerja untuk populasi kunci atau kader? Apakah ada penguatan kapasitas secara berkelanjutan bagi mereka?

2. Apakah SDM yang dimiliki oleh penyedia layanan (pemerintah dan non pemerintah) mencukupi untuk melaksanakan beban tugas rutin termasuk memenuhi kebutuhan populasi kunci?

3. Apakah ada kebijakan yang mengatur tenaga non-pemerintah (dari swasta atau OMS) dikontrak atau digaji untuk melaksanakan penanggulangan AIDS? Jika Ya, sebutkan! 4. Jika kebutuhan SDM di kabupaten ini kurang mencukupi, apa langkah yang selama ini

5. Apa mekanisme dukungan untuk mempertahankan SDM yang bekerja di penanggulangan AIDS (pengembangan karier, supervisi, keamanan, mobilitas, kesejahteraan)? Apakah rotasi dan mutasi SDM dalam penanggulangan AIDS menjadi isu penting di bagi pelaksanaan program?

6. Apakah ada kebijakan yang mengatur tentang standardiasi kompetensi tenaga penanggulangan AIDS? Jika Ya, sebutkan!

7. Apakah perguruan tinggi mampu menyediakan SDM yang dibutuhkan untuk penanggulangan AIDS? Seberapa jauh perguruan tinggi terlibat dalam pengembangan kapasitas bagi SDM penanggulangan AIDS? Seberapa jauh perguruan tinggi dilibatkan dalam menjamin kualitas SDM penanggulangan AIDS?

4. Sub sistem Informasi Strategis

Definisi: Sistem yang digunakan untuk melakukan produksi, analisis, diseminasi dan

penggunaan informasi yang reliabel dan tepat waktu tentang determinan kesehatan, kinerja sistem kesehatan dan status kesehatan, dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan.

1. Apakah di wilayah Anda pernah dilakukan penelitian atau asesmen tentang penanggulangan HIV dan AIDS (e.g. penelitian/survey perilaku, evaluasi, pemetaan populasi kunci, surveilans terpadu perilaku dan biologi (STBP))?

2. Apakah ada sistem informasi terkait dengan upaya penanggulangan HIV dan AIDS yang digunakan untuk membantu pengambilan keputusan ?

3. Bagaimana hasil dari sistem informasi ini didiseminasikan dan dimanfaatkan?

4. Apakah ada data populasi kunci dan sasaran program penanggulangan HIV dan AIDS? Apa saja?

5. Seberapa jauh hasil-hasil penelitian yang disediakan oleh universitas dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan di tingkat daerah.

6. Apakah sistem informasi HIV dan AIDS sama dengan yang digunakan sistem kesehatan yang lain?

5. Sub sistem Penyediaan farmasi, alat kesehatan,dan makanan

Definisi: digunakan untuk melihat produk medis, teknologi yang dijamin kualitas, keamanan,

1. Bagaimana regulasi obat, reagen, perlengkapan pencegahan, alat medis habis pakai (AMHP), bahan medis habis pakai (BMHP), alat diagnostik, dan makanan tambahan tersebut?

2. Dari mana sumber pendanaan untuk obat, reagen, perlengkapan pencegahan, alat medis habis pakai, bahan medis habis pakai, alat diagnostik, dan makanan tambahan?

3. Bagaimana jaminan kualitas terhadap obat, reagen, perlengkapan pencegahan, alat medis habis pakai, bahan medis habis pakai, alat diagnostik dan makanan tambahan?

4. Apakah ada masalah khusus yang terkait dengan penyediaan, distribusi dan kualitas obat, reagen, atau perlengkapan pencegahan?

5. Bagaimana prosedur akses terhadap terketersediaan obat, reagen, perlengkapan pencegahan, alat medis habis pakai, bahan medis habis pakai, alat diagnostik, dan makanan tambahan?

6. Apakah ada kendala untuk proses akses tersebut? Apabila ada, apa saja kendala tersebut dan bagaimana penyelesaiannya?

7. Apakah ada sistem informasi manajemen logistik yang berjalan? Bagaimana ini dilakukan dan siapa yang bertanggung-jawab?

8. Apakah ada aturan tentang obat yang spesifik(e.g. ARV pediatrik, TB-HIV, Hepatitis, ibu hamil)?

9. Apakah ada Standard Operasional Procedure (SOP) untuk mengeluarkan, mendistribusikan, dan memberikan kepada unit pelayanan kesehatan di tingkat propinsi atau kabupaten/kota?

10. Apakah ada SOP untuk meminjamkan obat kepada unit layanan lain di tingkat propinsi/ kab/kota?

6. Sub sistem Upaya Kesehatan

Definisi: intervensi kesehatan personal maupun masyarakat yang efektif, aman dan berkualitas

yang disediakan bagi mereka yang membutuhkan di tempat dan waktu tertentu.

1. Bagaimana sistem penyediaan layanan kesehatan untuk penanggulangan HIV danAIDS di wilayah ini diorganisasikan?

2. Jelaskan secara singkat apa tanggung-jawab dari unit kesehatan dan apakah kapasitasnya sudah sesuai dengan tanggung-jawab saat ini?

3. Apakah jenis layanan kesehatan yang disediakan mencakup layanan pencegahan, pengobatan, paliatif dan rehabilitative, promosi kesehatan, dan dampak mitigasi? (check list jenis layanan)

4. Adakah layanan untuk dukungan kepatuhan berobat?

5. Adakah dukungan layanan pada kesejahteraan sosial dan bantuan hukum bagi ODHA yang miskin dan terkucilkan?

6. Apakah layanan pencegahan, diagnostik maupun pengobatan tersedia bagi semua orang (e.g. jarak, stigma dan diskriminasi, informasi layanan, biaya)?

7. Apakah di seluruh layanan HIV dan AIDS telah menyediakan dukungan gizi? kendala apa saja yang dihadapi?

8. Apakah di seluruh layanan telah mengupayakan menurunkan stigma dan diskriminasi (S&D) bagi ODHA? Apa saja upaya yang sudah dilakukan untuk menurunkan S&D?

9. Apakah sudah tersedia fasilitas dan peralatan medis untuk menerapkan kewaspadaan standar?

10. Bagaimana sistem jaminan kualitas unit pelayanan di sektor swasta, pemerintah dan LSM? Apakah supervisi disediakan untuk semua program atau program-program yang ada memiliki sistem supervisi yang berbeda? (apakah ada supervisi eksternal?)

11. Apakah penilaian kepuasan penerima manfaat dilakukan secara berkala? Bagaimana hasil tersebut digunakan?

12. Bagaimana sektor swasta dan LSM bisa secara bersama-sama terlibat dalam membangun jejaring layanan kesehatan di wilayah ini?

13. Bagaimana perencanaan untuk penyediaan layanan bagi wilayah terpencil (e.g. DTPK, DBK)? Bagaimana model penjangkauan untuk masyarakat di wilayah tersebut? (jika ada) 7. Sub sistem Pemberdayaan Masyarakat

Definisi: upaya penanggulangan HIV dan AIDS yang dilakukan pemerintah melalui

bentuk-bentuk kerjasama. Masyarakat dapat berupa LSM, perguruan tinggi, organisasi profesi bidang kesehatan, komunitas populasi kunci, dan dunia usaha. Definisi pemberdayaan masyarakat berdasarkan Perpres no:72 tahun 2012 tentang SKN adalah sebagai berikut “Subsistem pemberdayaan masyarakat adalah pengelolaan penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan,

1. Bagaimana bentuk kemitraan yang dilakukan pemerintah daerah dengan masyarakat (e.g. LSM, komunitas populasi kunci, organisasi profesi kesehatan, perguruan tinggi, dll)?

2. Bentuk keterlibatannya seperti apa saja dalam penanggulangan AIDS?

3. Apakah ada regulasi yang dikeluarkan pemerintah daerah yang berkaitan dengan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan AIDS?

4. Apakah pemerintah daerah mengalokasikan dana untuk program-program yang melibatkan peran aktif masyarakat? Contohnya: pelatihan kader kesehatan yang berasal dari masyarakat

5. Apakah di dalam kemitraan ini ada upaya pemerintah daerah ini untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam penanggulangan AIDS?

6. Apakah kendala-kendala yang paling anda rasakan selama bermitra dengan pemerintah? 7. Apakah peran perusahaan swasta dalam penanggulangan HIV dan AIDS (e.g. Corporate

Social Responsibility)

8. Apakah ada perawatan berbasis masyarakat di wilayah ini?

9. Apakah populasi kunci dan masyakarat dilibatkan dalam proses perencanaan, implementasi dan evaluasi dalam penanggulangan HIV dan AIDS?

10. Apakah ada komunikasi antara pembuat kebijakan dengan pelaksana di lapangan? Apakah ada pertemuan konsultasi berkala?

11. Khusus untuk mitigasi, bagaimana pemanfaatan bantuan tunai bersyarat dari dinas sosial? 12. Apakah masyarakat turut serta mengurangi dampak stigma dan diskriminasi terhadap orang

yang terinfeksi HIV dan keluarganya, serta terhadap komunitas populasi kunci?

13. Seberapa jauh peguruan tinggi sebagai bagian dari organisasi masyarakat sipil dilibatkan dalam perencanaan dan implementasi kebijakan dan program di daerah? Apa bentuk keterlibatannya?

Lampiran 4.

Instrumen Penelitian: Pengumpulan Data Sekunder

“Integrasi Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS dalam Kerangka Sistem Kesehatan Nasional” Data sekunder merupakan data tambahan yang dapat dikumpulkan dari laporan pelayanan dan program HIV dan AIDS di lokasi penelitian. Data-data bisa didapatkan dari berbagai sumber (e.g. Puskesmas, Rumah sakit, Dinkes kab/kota, KPAP, OBM/OBS, dll)

1. Sub sistem Manajemen dan Regulasi Kesehatan Penanggulangan HIV dan AIDS (KPAP,K; Dinkes ADP Yankes, P2PL, UPT Farmasi dan Alkes; Bapeda;perencanaan dan Kesra, Badan pemberdayaan, Dinsos RTS, Disnaker K3,perencanaan, pengawasan dan pengendalian tenakerja, dishub pengawasan AKDP, Organda, TNI POLRI)

Indikator Data terakhir yang tersedia Catatan atas kecenderungan dalam 3 tahun terakhir Keterangan/Sumber 2011 2012 2013

# lembaga (pemerintah & non

pemerintah) yang ada di wilayah ini yang memberikan layanan terkait dengan penanggulangan AIDS?

# lembaga yang memiliki rencana strategis pelayanan yang dikembangkan # jumlah SOP/Juklak, Juknis

- Pencegahan - PDP

- Mitigasi Dampak

# jumlah OMS/OBM yang terdaftar di KPA

2. Sub sistem Pembiayaan Kesehatan (KPAP/K, DInkes, UPTPJKD, BPJS)

Indikator Data terakhir yang

tersedia Catatan atas kecenderungan dalam 3 tahun terakhir Keterangan/Sumber 2011 2012 2013

# usulan anggaran ke APBD (KPAD, Dinkes, SKPD lain): 1. Pencegahan

2. PDP

3. Mitigasi Dampak

# dana yang disetujui dalam APBD

# serapan anggaran APBD # jumlah dana yang diterima berdasarkan sumber (donor, CSR, pemerintah pusat/provinsi, dana masyakarat)

# anggaran kesehatan untuk promosi dan pencegahan program penanggulangan AIDS # anggaran kesehatan untuk perawatan dan pengobatan # anggaran kesehatan untuk mitigasi dampak AIDS

Pengeluaran non pemerintah

Dokumen terkait